Menuju Busan Central Bus Terminal: Mundur ke Belakang Tiga Stasiun

<—-Kisah Sebelumnya

Tatapanku hanya melakukan repetisi sedari tadi. Jam tangan-route board-jam tangan….begitu seterusnya. Kecemasan menghukumku dengan tak mampunya diri menikmati gerbong nyaman Humetro. Aku masih tak memilih duduk, kakiku tegak menopang badan di tiang gerbong dekat pintu keluar. Aku bersiap untuk turun di Stasiun Seomyeon untuk mengakhiri perjalanan di Humetro Line 2 (Green Line) demi berpindah ke Humetro Line 1 (Orange Line). Aku harus menggapai Stasiun Beomnaegol secepat mungkin demi mengambil backpack yang tertitip di meja resepsionis Kimchee Busan Guesthouse.

Akhirnya aku tiba. Melangkah cepat keluar gerbong, menaiki beberapa escalator, aku menggapai permukaan dengan cepat. Kemudian mulai berlari ringan menyusuri Hwangnyeong-daero Avenue menuju guesthouse.

Sedasa menit kemudian aku tersengal, mengatur nafas di halaman depan guesthouse, baru kemudian menuju ke meja resepsionis dengan nafas teratur.

Aku: “Sir, can I take my backpack which I entrusted to the receptionist this morning?”.

Resepsionis: “Can you show the label card which give to you?”.

Aku: “This, Sir

Resepsionis: “OK, follow me!

Setelah memeriksa label card itu, dia beranjak dari tempat duduk dan menuju ke halaman luar. Aku menguntitnya dari belakang hingga tiba di sisi container box besar. Rupanya backpack yang dititip setiap tamu guesthouse ditaruh di sini. Kini aku telah mendapatkan backpack biru ku.

Aku: “Thank you, Sir

Resepsionis: “You are welcome. Be carrefull on your way”.

Aku berpamitan dan melambaikan tangan sebelum balik badan meninggalkan guesthouse.

See you Kimchee Busan Guesthouse!….

Aku kembali turun di jalanan, menuju stasiun. Hari sudah mulai gelap. Waktu keberangkatan bus menuju Seoul semakin dekat. Berderap langkah selama 10 menit membuatku tiba di platform Stasiun Beomnaegol, menunggu Humetro Line1 (Orange Line). Pancaran cahaya itu semakin menerang menghantam sekat pembatas platform dan jalur Humetro. Rangkaian gerbong yang kutunggu telah tiba, aku memasuki gerbong belakang, menaruh backpack di sela kedua kaki dan berdiri menempel dinding gerbong persis disebelah pintu Humtero.

Kali ini aku sedikit tenang, karena tak perlu berpindah jalur untuk menuju Stasiun Nopo. Kereta perlahan meninggalkan Distrik Busanjin. Setiap stasiun yang terlewat membuatku semakin lega, membuatku semakin dekat dengan tujuan.

Empat puluh lima menit kemudian aku tiba di Stasiun Nopo. Tetapi sesuatu terjadi dengan perutku, tetiba melilit tak terbendung. Aku berinisiatif untuk mencari tengara menuju toilet di seantero Stasiun Nopo. Tapi dua titik toilet berbeda yang kutemukan ternyata jauh dari kata ideal….Pesing, becek dan penuh lalu lalang manusia. Ah….Parah.

Bagaimana bisa aku membiarkan keadaan ini, jika perjalanan ke Seoul akan memakan waktu empat jam, maka aku akan tersiksa dalam kondisi sakit perut seperti ini. Kulihat kembali jam tangan, masih ada waktu empat puluh lima menit sebelum bus berangkat. Aku kini berfikir sedikit gila….Aku akan mundur ke belakang sejauh dua atau tiga stasiun, mencari toilet yang lebih sepi dan ideal. Aku kembali melompat ke gerbong Humetro dan mengikuti lajunya. Kemudian turun di pemberhentian ketiga, Stasun Dusil.

Secepat kilat melangkah, aku melakukan pencarian toilet dan akhirnya aku menemukan toilet yang bersih, harum dan sepi. Ah….Ada-ada saja yang terjadi pada petualangan hari keduaaku di Korea.

Waktuku kini tersisa dua puluh menit. Aku sudah duduk lagi di gerbong Humetro, mengulang jalan menuju Stasiun Nopo. Sepuluh menit kemudian aku tiba dan segera berlari menuju Busan Central Bus Terminal yang terintegrasi dengan Stasiun Nopo.

Yes…”, aku tiba di di platform bus yang dimaksud sepuluh menit sebelum keberangkatan.

Puufffttt….”, Perjalanan menegangkan dan melelahkan.

Bye BusanLove u.

Bertaruh Resiko di Busan Central Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Drama kamar mandi memang sering mewarnai cerita perjalanan, mengingat aku sering memilih dormitory sebagai tempat singgah selama berpetualang.

Malam pertama di Busan. Aku sedang sebal sekali, kloset duduk yang tertutup itu baru saja ku-flush, maksud hati yang tak ingin melihat “zonk” saat membukanya…..Eh, malah air itu tumpah mbeleber kemana-mana bersama muatannya.

Brengsek….Ini pasti  kelakuan lelaki asal Tiongkok yang beberapa menit lalu berpapasan denganku di pintu kamar mandi bersama.

Sontak aku menuju ke kamar mandi lain yang berada dua lantai di atasku. Aku sudah tak bernafsu mandi di kamar mandi itu walaupun masih tersedia beberapa shower room lagi. Di kamar mandi atas, kondisi lebih bersih, mungkin para tamu enggan bersusah payah naik ke atas. Gegara peristiwa tadi, sakit perutku mendadak hilang. Aku lebih memilih langsung menuju shower room untuk menyiram badan dengan air hangat.

Olala….Ternyata aku sama brengseknya…..

Seusai mandi, aku berlama-lama di depan wastafel untuk mengeringkan t-shirt dan kaos kaki dengan hair dryer, hingga betul-betul kering. “Ah, bodo amat. Ndak ada orang. Guwe kan juga bayar”, suara setan di batinku membisik. Maklum dalam petualangan kali ini, aku mulai menerapkan taktik membawa dua pasang kaos kaki. Aku akan membasuh dan mengeringkan kaos kaki yang tak terpakai untuk persiapan penggunaan berikutnya.

—-****—-

Pagi itu aku bangun tepat waktu. Seusai Shalat Subuh , aku tak lagi tertidur. Aku lebih memilih membuka lembaran itinerary sembari menunggu hari terang. Ketika matahari mulai hadir, aku mulai meninggalkan Kimchee Busan Guesthouse seusai mandi, mengingat penginapan ini tak menyediakan sarapan seala kadar untuk kelas dormitory.

Aku keluar dari gang penginapan, dan menyusur Jalan Hwangnyeong-daero menuju ke barat, ke Stasiun Beomnaegol untuk melanjutkan perjalanan. Tapi tentu aku harus bersarapan dulu sebelum menaiki Humetro. Aku berhenti pada CU minimarket untuk kemudian memasukinya dan berburu sarapan di dalamnya. Aku menemukan segenggam nasi berisikan jagung di sebuah rak khusus makanan, menuju kasir, membayarnya dan kemudian menyantapnya di sebuah bangku di sisi dalam minimarket.

Tak lama aku menyantapnya. AKu segera memasuki ruangan stasiun dan mencari keberadaan ticketing vending machine untuk membeli one day pass, lalu menuju platform usai menggenggam selembar one day pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Kali ini aku akan menuju ke Busan Central Bus Terminal demi mencari tiket bus menuju ke Seoul malam nanti. Humetro Line 1 (Orange Line) berdecit lembut menghentikan laju di platform. Aku segera duduk di salah satu bangku di gerbong setengah kosong untuk kemudian mengikuti arus kereta menuju Stasiun Nopo, yaitu stasiun dimana Busan Central Bus Terminal diintegrasikan. Aku tiba dalam 45 menit.

Keluar dari gerbong aku mencari petunjuk yang bisa mengarahkanku menuju terminal itu. Tak sulit menemukannya. Sebuah petunjuk yang kemudian menyambung dengan petunjuk selanjutnya mengarahkanku hingga tiba di Busan Central Bus Terminal.

Konter penjualan tiket Busan Central Bus Terminal.

Hello, Miss. How much is a ticket to Seoul? “Aku bertanya kepada staff penjualan tiket di deretan memanjang ticketing counter.

32,000 Won, Sir. The bus will depart on around 16:00 hours”.

Miss, What is the cheapest price and what time does the bus depart?”, aku blak-blakan mengingat kantongku mulai menipis.

23,000 won and bus will depart on 20:30, Sir”.

Okay, Wait Miss“.

Aku meninggalkannya dan duduk di kursi tunggu. Aku mulai berhitung, kalau aku berangkat cepat maka aku akan relatif aman karena akan tiba di Seoul sebelum malam. Tapi artinya aku harus menambah biaya untuk menyewa dormitory lebih cepat. Tentu akan mahal.

Kalau aku mengambil tiket malam, maka mau tidak mau, aku akan bermalam di terminal bus kota Seoul, sedikit beresiko, tetapi itu paling memungkinkan dengan keberadaan uangku yang semakin tergerus habis.

Bismillah…..aku beranjak dari tempat duduk dan kembali menghadap staff wanita tadi.

Yes, Ms. I take the night one”.

Ok, Sir

Aku menyerahkan uang kepadanya dan dia memberikan selembar tiket kepadaku untuk menuju Seoul.

Tiket bus Busan-Seoul seharga 23.000 Won (Rp. 290.000).

Okay, satu bagian penting telah kuselesaikan dengan cepat. Aku akan menghabiskan waktu tersisa di Busan hari ini.

Kisah Selanjutnya—->

Permainan Lampion di Gwangalli Beach

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir jam sembilan malam ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Busan International Film Festival (BIFF) Square di daerah Nampo-dong. Aku mulai melangkah meninggalkan konter resmi UNIQLO di bilangan BIFF Gwangjang-ro dan kemudia berlanjut di jalan utama, Gudeok-ro. Seratus lima puluh meter di depan sana adalah Gate 7 Stasiun Jagalchi yang menjadi target langkahku untuk segera meninggalkan Distrik Jung.

Aku sudah menuju bawah tanah sepuluh menit kemudian. Di ruangan bawah tanah yang hangat, aku tak perlu bersusah payah untuk mencari ticketing vending machine karena aku masih menggenggam potongan kecil One Day Pass yang sudah kubeli sore tadi setiba di Busan. Melenggang melewati automatic fare collection gate aku menunggu kedatangan  Humetro Line 1 (Orange Line) di patform stasiun.

One Day Pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Humetro itu cepat sekali tiba, membuka pintu otomatisnya dan aku segera memasuki gerbong tengah. Terduduk di sebuah bangku, aku terus memperhatikan kesibukan seusai kerja warga Busan. Humetro perlahan merayap melalui jalur bawah tanah, menurunkanku di Stasiun Seomyeon setelah melewati sembilan stasiun, untuk kemudian aku berganti menggunakan Humetro Line 2 (Green Line). Dan serupa, setelah melewati sembilan stasiun aku tiba di Stasiun Gwangan di Distrik Suyeong. Tak terasa perjalanan menuju stasiun ini memakan waktu yang cukup lama, empat puluh lima menit.

Aku bergegas menuruni gerbong dan kembali merangsek ke permukaan menggunakan escalator. Kemudian mengambil arah keluar di Gate 5 Stasiun Gwangan yang dihadapkan langsung pada Gwangan-ro Avenue. Suhu udara jalanan sudah berada di level satu derajat Celcius.  Aku terpaksa berjalan dengan tubuh sesekali bergetar sepanjang tujuh ratus meter ke arah pantai. Keberadaan beberapa rombongan turis yang menuju ke arah yang sama, membuatku sedikit tenang, mengingat malam sudah hampir mendekati jam sepuluh.

Aku tiba di pantai dua puluh menit kemudian setelah berjalan kaki hampir tujuh ratus meter. Berdiri di tepi pantai sejauh mata memandang, bentangan bercahaya jembatan terpanjang kedua di Negeri Ginseng itu sungguh mempesona….Yups, itulah Gwangandaegyo Bridge, suspension bridge sepanjang tujuh setengah kilometer yang menghubungkan Distrik Haeundae dan Distrik Suyeong.

Gwangandaegyo Bridge.
Lampu hias yang meriah.

Kini aku telah berbaur dengan turis dan warga lokal lainnya menikmati suasana malam nan meriah di Gwangalli Beach. Aku terus mengamati pertunjukan warga mengudarakan lampion-lampion berukuran mini. Orang tua, kaum muda dan anak kecil hampir semuanya terhanyut dalam kemeriahan permainan itu.

Sementara sebagian yang lain tampak menikmati hiasan lampu berwujud berbagai macam fauna yang enak dipandang mata. Disisi lain pantai tampak berjejal bangunan bertingkat yang memberikan kesan bahwa area pantai telah tersentuh teknologi. Tetapi semua tampak bersih dengan lingkungan yang terjaga dan tertata.

Beberapa bangunan hotel di tepian pantai.
Hotel Aqua Palace.

Aku hanya mampu menahan dingin udara selama empat puluh lima menit. Pasti udara akan mendekat ke titik beku ketika malam mencapai puncaknya. Aku bergegas meninggalkan bibir pantai dan menuju ke stasiun kembali. Melangkah dengan cepat demi menghindari hawa dingin yang semakin menjadi, aku tiba di stasiun dengan nafas tersengal, lalu bergegas menuju platform dan beberapa menit kemudian Humetro membawaku, untuk kemudian menurunkanku di Stasiun Seomyeon. Humetro lantas mentransferku di Line 1 menuju Stasiun Beomnaegol, stasiun dimana hotel tempatku menginap berada….Yups, Kimchee Busan Guesthouse.

Kini tiba saatnya untuk beristirahat demi petualangan lanjutan esok hari.

Si Mungil….Busan Gimhae Light Rail Transit

<—-Kisah Sebelumnya

Yes….Okay….yes….Okay.

Hanya 2 jenis kata itu yang keluar dari mulutku, Aku tak benar-benar serius mendengarkan pramugari itu menjelaskan prosedur keamanan di pintu darurat. Justru Aku terpesona dengan kecantikan wajah khas Korea si pramugari. Hingga Dia selesai menjelaskan pun, Aku masih terbengong menikmati keelokannya sampai Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman….tentu Kubalas dengan senyuman semanis mungkin….hadeuhhhhhh.

Penerbangan selama 1 jam 30 menit menjadi perjalanan yang mendebarkan karena Aku terus berfirasat kurang baik ketika pemeriksaan imigrasi Busan nanti.

Aku tiba….

Dan benar apa adanya….Aku benar-benar dicuci oleh petugas imigrasi itu. Baca kisah menegangkan itu disini:

https://travelingpersecond.com/2018/02/05/imigrasi-busan/

Kejadian di imigrasi itu membuat lidahku terasa pahit ketika mengecap potong demi potong pie yang kudapatkan dari penerbangan Busan Air itu.

Kisah ini nantinya akan membuatku berubah 180 derajat dalam hal mempersiapkan dokumen ketika bertraveling. Aku di kemudian hari menjadi orang yang sangat perfeksionis dalam hal preparation.

Keluar dari Gimhae International Airport dengan muka kusut tapi kebahagiaan itu tak mampu kusembunyikan dalam-dalam. Inilah pertama kali kakiku menginjak di “negeri ginseng”.

Udara 2 derajat membuatku bergegas mencari keberadaan stasiun LRT. Dengan cepat Aku menemukannya di sisi kanan pintu keluar airport.

Kusentuh tombol-tombol di mesin atomatis itu untuk mendapatkan token Busan Gimhae Light Rail Transit.

Menunggu LRT datang dengan rasa penasaran yang tinggi tentang apa yang akan terjadi berikutnya dalam setiap detik petualanganku di Busan.

Tak lama menunggu LRT itu pun datang.

Tentu tujuan pertamaku adalah dormitory tempatku menginap di Busan. Aku akan menuju Kimchee Busan Guesthouse di bilangan jalan Hwangnyeong-daero.

Berhenti di stasiun Sasang yang merupakan stasiun akhir LRT , Aku beralih menggunakan Humetro (Nama panggilan untuk Busan Subway) jalur hijau.

Di dalam Humetro inilah Aku melihat satu wajah Indonesia, Sesekali dia melihatku, begitupun Aku. Sesekali Dia tersenyum, begitupun Aku….#apaan sih, orang dia laki-laki.

Kupaksakan diriku mendekatinya.

Percakapan pun tak terhindarkan. Ternyata benar, Dia seorang professional Indonesia yang sedang bekerja di Busan. Dari dirinya kuperoleh informasi bahwa warga Busan belumlah seterbuka seperti warga Seoul. Jadi Aku akan memaklumi saja apa yang akan terjadi dengan interaksiku dengan orang lokal selama di Busan nanti.

Percakapan pun terhenti ketika Aku harus turun di Stasiun Seomyeon untuk berganti ke Humetro jalur oranye. Hanya perlu jarak 1 stasiun saja kemudian aku turun di stasiun  Beomnaegol –stasiun dimana guesthouse tempat meninganapku terletak-.

Tak mudah menemukan lokasi guesthouse ini, sempat tersasar lebih dari setengah jam di tengah suhu udara yang sangat dingin hampir membuatku panik sebelum akhirnya Aku menemukannya setelah  bertanya kepada karyawan GS25 minimarket.

Akhirnya check-in juga ke Kimchee Busan Guesthouse.

Kisah Selanjutnya—->