Citilink QG 145 dari Semarang (SMG) ke Jakarta (HLP)

<—-Kisah Sebelumnya

Rute penerbangan Citilink QG 145. Sumber: https://flightaware.com/

Titan mentraktirku makan siang sebelum tiba di hotel. Seporsi nasi pecel di dekat SMAN 1 Semarang. Kemudian dia juga membekaliku Bandeng Presto khas Semarang untuk dibawa pulang ke Jakarta. Wah, baik sekali teman saya yang satu ini.

Sebelum benar-benar check-out, Titan yang penasaran tentang bagaimana caraku memilih penginapan murah, ikut bersamaku ke ruangan dormitory. Diperhatikannya lekat-lekat ruangan dormitory beserta kapsul-kapsul tidurnya. “Hebat kamu Don, bisa tidur di kapsul seperti ini”, ungkapnya sambil tersenyum. “Di luar negeri aku juga melakukan hal yang sama, Titan. Itu mengapa aku bisa traveling dengan biaya yang murah”, jawabku sambil berbisik.

Toyota Calya berwarna orange metallic, menjemputku di Sleep & Sleep Capsule. Serentak aku berpamitan dengan Titan untuk meninggalkan Semarang. Terimakasih Titan.

Pukul 15:25 aku sudah tiba di bandara. Tanpa basa-basi dan eksplorasi, aku bergegas menuju ke konter check-in. Aku hanya berjarak empat puluh lima menit dari boarding time. Konter yang tak terlalu ramai membuatku bisa menyelesaikan proses check-in hanya dalam lima belas menit dan akhirnya boarding pass sudah digenggaman….Aman.

Aku terus fokus menuju ke waiting room dengan cepat. Kini aku hanya berjarak tiga puluh menit menuju penerbangan pulang. Dan tepat lima belas menit sebelum boarding, aku sudah mencapai waiting room dan duduk terengah. Tak lama menikmati keelokan ruangan tunggu itu, panggilan dari ground staff untuk bersiap terbang pun menggema. Aku kini bersiap di Gate 3A untuk memasuki kabin pesawat.

Tiket menuju Jakarta.
Interior kabin Citilink QG 145. Terduduk di bangku bernomor 10A.

Kini aku sudah duduk di bangku yang sesuai dengan nomornya di boarding pass. Aku bersiap menuju Halim Perdanakusuma International Airport yang berjarak 394 Km dari Ahmad Yani International Airport. Aku akan mengudara bersama selongsong terbang Airbus A320 dengan ketinggian maksimal 26.000 kaki, dengan kecepatan 520 mph dan waktu tempuh 53 menit.

Selama proses boarding, aku terus menikmati keindahan terminal penumpang baru milik Ahmad Yani International Airport dari jendela pesawat. Tampak pesawat hilir mudik datang dan pergi di sisi kiri pesawat yang kunaiki. Langit tampak mendung, pertanda aku harus siap mengalami sedikit guncangan sesaat setelah take-off nanti.

Waktu yang dinanti tiba, pesawat sudah bersiap di landas pacu dan menunggu izin untuk menggeber mesin jetnya menuju udara. Aku hanya sibuk membaca inflight magazine Linkers milik maskapai Citilink. Perlahan pesawat mulai melaju dan menampilan keseluruhan bentuk bandara dari ujung ke ujung. Cantik nian Ahmad Yani International Airport.

Pesawat ATR milik Wings Air.
Air Asia tujuan manakah itu?.
Bangunan terminal beserta ATC Ahmad Yani International Airport saat take-off.

Sebelum menembus gumpalan awan tebal diatas, penerbangan ini sempat secara cepat menampilkan keindahan pantai utara Semarang. Perpaduan awan gelap dengan sinar matahari berwarna oranye yang menembus sela-sela awan dipadu dengan birunya laut dengan rayapan-rayapan kapal di sekitar pelabuhan…Hmmhh, Semarang yang sangat otentik.

Getaran mulai terasa ketika pesawat ingin menstabilkan ketinggian terbangnya. Tetapi setelahnya langit kembali bersih dan menampakkan keindahan dari ketinggian. Sore itu aku tak mau memejamkan mata dan melewatkan pertunjukan langit yang menakjubkan itu.

Pesisir utara Semarang….Wouww aduhai.
Matahari versi langit dan Matahari versi laut….Indah bukan?.
Pilot sangat mahir menghindari kumpulan awan….Penerbangan yang mulus.

Penerbangan yang benar-benar terasa sangat singkat. Citilink mulai merendahkan diri diatas langit ibukota. Mempertontokan daratan Bekasi yang sangat padat. Beberapa ikon kota tampak jelas terlihat dari atas. Stadion Patriot Candrabhaga yang pernah kusambangi saat pertandingan Piala Presiden antara Bali United dan Semen Padang FC hanya demi melihat sosok Irfan Bachdim lebih dekat.

Sedangkan pemandangan lain adalah jalur LRT yang sedang dibangun di sepanjang ruas tol Cikampek, terlihat sangat elok. Itulah jalur yang kulewati hampir setiap hari sepanjang profesiku menjadi tenaga penjual di Ibukota.

Stadion Patriot Chandrabhaga tampak dari ketinggian.
Konstruksi jalur LRT yang sedang dalam proses pengerjaan.

Citilink QG 145 mendarat di Halim Perdanakusuma International Airport dengan sangat mulus. Seperti biasa penumpang akan turun dan berjalan kali di area apron menuju ke bangunan utama terminal. Aku bergegas menuju conveyor belt untuk mengambil bagasi dan kemudian pulang menggunakan ojek onlie menuju rumah.

Menuruni pesawat di area apron.
Beberapa pemunpang menunggu kehadiran Apron Free Shuttle Bus. Aku lebih memilih berjalan kaki saja.

Pernerbangan indah kesekian kali bersama Citilink. Terimakasih Citilink.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Semarang ke Jakarta bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

TAMAT

Kisah Wafatnya Buddha di Pagoda Watugong

<—-Kisah Sebelumnya

Motor bebek itu digeber sekuat tenaga oleh Titan menuju ke selatan kota. 15 kilometer jauhnya, 30 menit lamanya. Katanya aku akan diajak menuju pagoda tertinggi di Indonesia, di daerah Pudakpayung. Hampir jam 12:00, aku dan Titan tiba disana, tepat di tepian Jalan Perintis Kemerdekaan. Memasuki gerbang, baru kusadari bahwa tempat itu adalah sebuah vihara atau kompleks peribadatan umat Buddha, bernama Vihara Buddhagaya Watugong.

Aku melewati sebuah bangunan dengan bentuk atap yang mirip dengan pucuk-pucuk atap di Grand Palace, Bangkok. Jika Grand Palace beratapkan warna emas maka bangunan yang ini berwarnakan merah bata. Bangunan ini bernama Vihara Dhammasala. Aku mulai mengeksplorasinya dari lantai atas yang digunakan sebagai aula serbaguna baru kemudian memasuki ruangan di lantai bawah.

Vihara Dhammasala.
Lantai pertama Vihara Dhammasala untuk ruang peribadatan, berhiaskan patung Buddha berwarna emas.

Meninggalkan Vihara Dhammasala, aku perlahan mendekati bagian utama kedua di vihara ini. Inilah yang dimaksud oleh Titan sedari tadi. Pagoda tujuh tingkat berjuluk Pagoda Avalokitesvara. Avalokitesvara sendiri berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta “Avalokita” yang berarti mendengar ke bawah dan “Isvara” yang bermakna suara. Sedangkan Avalokitesvara dalam bahasa Tiongkok disebut dengan dengan dua kata yaitu “Kwan Im”. Sedangkan “Kwan Im” sendiri adalah perwujudan welas asih dari Buddha.

Oleh karenanya Vihara ini juga dikenal dengan nama Pagoda Dewi Kwan Im. Beberapa khalayak menyebutnya Pagoda Metakaruna atau Pagoda Cinta Kasih karena keberadaannya untuk menghormati figur Kwan Sie Im Po Sat, Sang Dewi Cinta Kasih.

Patung Sidharta Gautama dibawah Pohon Bodhi pohon bodhi berusia 65 tahun.
Pagoda Avalokitesvara menjulang setinggi 45 meter.
Aku dan Titan.
Patung Dewi Kwan Im setinggi 5 meter terletak di dalam pagoda Avalokitesvara.

Selesai mengeliling pagoda Avalokitesvara yang dijaga oleh patung Dewa-Dewi yang diatur mengelilingi setiap sisi di lantai dasar, aku mulai mengeksplorasi bagian pelataran dan taman. Tampak gazebo kembar dengan dua lapis atap yang digunakan oleh para pengunjung untuk duduk dan beristirahat karena kelelahan mengelelingi area vihara yang sangat luas.

Sementara di sisi pelataran lain terdapat Patung Sleeping Buddha (Buddha Parinibbana), mengingatkanku ketika mengunjungi Pha That Luang di Vientiane tepat lima bulan sebelum kunjunganku ke vihara ini. Di sebelah Patung Buddha Tidur, berbaris Tugu Ariya Atthangika Magga yang melambangkan jalan utama berunsur delapan sebagai latihan untuk meraih kebahagiaan tertinggi (Nibbana).

Gazebo di sekitar pagoda.
Buddha Parinibbana yang menggambarkan wafatnya Sang Buddha di antara dua Pohon Sala.

Aku perlahan mulai meninggalkan Vihara Buddhagaya. Tampak pula kegagahan Tugu Ashoka setiinggi 7 meter. Sebuah tugu yang terbuat dari batu utuh dan diujungnya berkepala singa. Makna yang terkandung dari bentuk singa ini adalah sebuas apapun singa, ketika kita tahu karakternya maka akan mudah ditaklukkan.

Dan di bagian akhir aku melewati Gerbang Sanchi dan Monumen Watugong. Gerbang ini merupakan replika dari gapura yang berada di depan Stupa Sanchi, India. Gerbang yang dibangun sebagai simbol penghormatan saat masuk bangunan vihara.

Sedangkan Monumen Watugong dibangun untuk menunjukkan asal mula nama area “Watugong”. Nama yang diambil dari sebuah batu alam asli berbentuk gong.

Hampir selesai berkunjung.
Tugu Ashoka untuk mengenang Raja Ashoka dari India yang taat menganut ajaran Buddha.
Monumen Watugong dan Gerbang Sanchi.

Kunjunganku di Semarang telah benar-benar usai. Titan akan mengantarkanku menuju Sleep & Sleep Capsule untuk mengambil backpack dan perlengkapan. Setelahnya aku akan menuju Ahmad Yani International Airport dan kembali ke Jakarta.

Terimakasih Semarang.

Kisah Selanjutnya—->

Menyantap Mangut di Kampung Pelangi

<—-Kisah Sebelumya

Kampung Pelangi Kalisari berada tiga kilometer di selatan Sleep & Sleep Capsule yang menjadi tempat menginap pada masa extendku di Semarang. Jam sepuluh pagi, aku sudah merangsek melalui Jalan Imam Bonjol lalu bersambung ke Jalan Pemuda, menaiki ojek online, aku ingin menuntaskan rasa penasaran mengenai keindahan kampung wisata itu. Dengan mengunjungi Kampung Pelangi Kalisari ini, aku tak perlu bersikeras menuju Malang untuk menikmati keindahan yang sama di Kampung Jodipan dan Kampung Tridi, Kali Code di Yogyakarta atau Kampung Teluk Seribu di Balikpapan.

Semalam aku juga sudah menghubungi teman lama yang tinggal di Semarang, namanya Titan. Kebetulan dia meluangkan waktu untuk bertemu. Kita sepakat untuk bertemu di Kampung Pelangi saja. Dia akan mengajakku berkeliling Semarang menggunakan motornya. Lihat saja dalam tulisan selanjutnya, kemana aku akan diajak olehnya.

Tiba di tujuan, aku menyempatkan diri mencari sarapan di kompleks kios yang terletak memanjang mengikuti kontur Sungai Semarang yang memisahkan Jalan Dr. Sutomo dengan rumah-rumah di Kampung Pelangi. Aku menyantap Nasi Mangut (olahan ikan pari asap khas Pati) dengan sangat lahap.

Deretan kios di gerbang depan Kampung Pelangi Kalisari.
Masakan “Mangut” khas Pati.

Aku mulai memasuki Kampung Pelangi melewati sebuah jembatan kecil bermotif lengkung. Di Jembatan ini eksitensi Pasar Bunga dan Taman Kasmaran sudah diinformasikan kepada para wisatawan melalui sebuah papan penunjuk arah. Sedangkan Sungai Semarang tampak rapi dengan keberadaan turap bercat warna-warni, lengkap dengan trotoar tepat di sisi permukaan air sungai.

Aku mulai memasuki Kampung Wonosari (nama asli Kampung Pelangi) ini melalui sebuah gang landai beralaskan pavling block bercat warna-warni, berhiaskan payung penuh warna  yang menjadi peneduh dari terpaan sinar matahari, deretan pot-pot bunga membuat setiap gang menjadi asri serta papan informasi diletakkan pada jarak yang konsisten. Di beberapa titik tanjakan disediakan titik jeda berupa tempat duduk terbuat dari beton, memungkinkan beberapa penanjak yang kelelahan bisa beristirahat sementara.

Tangga sebelum memasuki Kampung Pelangi.
Sungai Semarang.
Jalur pejalan kaki.
Papan informasi beserta peta lokasi.

Ketika mencapai perbukitan paling atas, tepat di bawah papan nama raksasa “Kampung Pelangi”, terdapat kompleks pemakaman bernama “Taman Bahagia Wirawati Catur Panca”. Pemakaman umum inilah yang menjadi sejarah asal-usul Kampung Pelangi. Dikisahkan, awalnya area Kampung Pelangi ini diperuntukkan sebagi area pemakaman umum. Namun kemudian beberapa warga datang dan mendirikan pemukiman di sekitar pemakaman ini hingga menjadi ramai hingga saat ini.

Entah darimana ujung jalannya, tampak beberapa wisatawan turun dari kendaraannya di sebuah area parkir. Sementara beberapa warga yang sedang berbincang ringan di sebuah warung kopi, menunjukkan kepadaku letak titik pandang terbaik untuk melihat kota dari ketinggian. Tunjukan tangan para penikmat kopi itu berujung pada sebuah loteng terbuka milik warga yang ketika kunaiki membuat tatapanku dilenakan oleh pemandangan kota tanpa penghalang sama sekali.

Pemakaman “Taman Bahagia”.
Papan nama raksasa “Kampung Pelangi”.

Ketika sedang menikmati pemandangan kota yang apik tanpa sengatan sinar matahari, datanglah di loteng yang sama Pak Asep asal Bogor. Sama, beliau juga sedang extend di Semarang pasca tugas luar kotanya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil. Mendadak aku mendapatkan teman traveling dan percakapan hangat menjadi tak terelakkan. Aku mengaguminya sebagai orang yang berjiwa muda, memiliki kebiasaan yang sama denganku ternyata, hobby jalan-jalan dengan memanfaatkan setiap momen tugas ke luar kota.

Titan akhirnya memanggilku menggunakan smartphonenya. Dia menunggu di gerbang depan, tempat awalku memasuki Kampung Pelangi satu jam yang lalu. Segera, aku undur diri percakapan yang sedang seru-serunya itu. Tak kusangka, pak Asep lebih memilih turun bersamaku dan melanjutkan obrolan sembari kami berdua menuruni Kampung Pelangi.

Menuju sebuah loteng tertinggi di Kampung Pelangi.
Pemandangan manakjubkan dari atas Kampung Pelangi.
Sini mas Donny saya fotokan, buat kenang-kenangan!”, pak Asep menawarkan diri.

Aku sudah berada di bagian terbawah Kampung Pelangi. Berpamitan dengan Pak Asep, pandanganku mulai menyapu setiap sisi untuk menemukan Titan. “Sebelah sini, Don”, Titan memanggilku. Oh itu dia sedang duduk mengopi di sebuah warung. Pertemuan dengan teman lama kedua di Semarang setelah malam tadi aku juga bertemu dengan Ezra.

Kutinggalkan Kampung Pelangi di jok belakang motor si Titan. Aku bersiap menuju destinasi berikutnya.

Kisah Selanjutnya—->

Eksplorasi Tertahan di Air Mancur Jalan Pahlawan

<—-Kisah Sebelumnya

Selepas makan malam di warung makan Ayam Pak Supar Semarang, Ezra berpamitan untuk undur diri. Dia berujar membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumahnya. Sementara malam sudah menunjukkan pukul 22:30. Bahan percakapan kami juga sudah habis. Dia menawari untuk mengantarku balik ke Sleep & Sleep Capsule. Berfikir merepotkan, aku menolaknya halus. Akhirnya aku hanya meminta diturunkan di sebuah tempat yang masih ramai di arah pulangnya, dengan begitu aku tak akan merepotkannya.

Dengan cepat aku dibonceng dengan sepeda motor manual warna birunya. Beberapa saat kemudian, sepeda motor mulai melambat dan dia menurunkanku di sisi trotoar yang cukup lebar, penuh dengan muda-mudi yang duduk berkumpul di beberapa titik, diselingi para penjual kopi keliling di sepanjang trotoar.

Di sini nih Don, tempat teramai di arah pulangku. Gimana, mau turun di sini saja?”, ujar Ezra setelah menghentikan sepeda motornya.

OK, di sini saja. Saya ngopi dulu aja sebelum balik ke hotel, Zra”, aku meyakinkannya supaya dia bisa segera pulang. Lalu duduklah aku di sebuah beton pembatas taman, lalu memesan segelas kopi instan. Bagaimana rasanya, jika seorang penikmat kopi original, harus nongkrong dengan meminum kopi instan….Hahaha. tak apalah, yang penting aku bisa menikmati malam.

Kantor Telkomsel Semarang di daerah Mugassari.
Sebuah sisi Jalan Pahlawan.

Belum juga menghabiskan kopi dalam gelas dan sedang asyik-asyiknya menikmati aktivitas muda-mudi di depan Kantor Telkomsel Semarang, satu dua tetes air mulai jatuh dari langit. Pertanda bahwa kota akan segera tertumpah hujan.

Aku memandang sekitar untuk mencari tempat berteduh jika hujan benar-benar turun. Aku melihat di utara ada sebuah panggung yang beberapa orang tampak ramai berkumpul di dekatnya. Tanpa pikir panjang aku segera bergegas kesana.

Benar adanya, tetesan air langit telah naik tingkat menjadi gerimis lembut. Butuh waktu untuk memesan taksi online, sebelum basah kuyup lebih baik aku berteduh. Dengan cepat aku menaiki panggung itu untuk menyelamatkan diri dari hujan deras.

Ternyata panggung ini akan digunakan untuk menyambut Gubernur Jawa Tengah dalam acara Jalan Sehat dalam rangka memperingati HUT KORPRI ke-47. Akhirnya, hujan tertumpah sangat deras, walaupun berada di panggung beratap, tetap saja sebagian tubuhku basah karena air hujan itu disapu oleh angin kencang ke segala arah.

Genap 45 menit aku menunggu hujan tanpa bisa menunaikan niat awal untuk melakukan ekplorasi di sepanjang jalan protokol itu. Jalan utama di Semarang yang sangat terkenal dengan agenda Car Free Day kota itu. Aku hanya mendapatkan bonus menikmati pertunjukan warna pada sebuah air mancur di perempatan antara Jalan Pahlawan dan Jalan Imam Bardjo SH.

Panggung perayaan.
Bundaran di Jalan Pahlawan.
Air mancur di Jalan Pahlawan.
Air mancur di Jalan Pahlawan.

Menjelang tengah malam, Jalan Pahlawan sudah tak berdaya di hajar hujan. Segenap sisi menjadi sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk segera balik ke hotel untuk merehatkan diri. Inilah malam terakhirku di Semarang sebelum besok sore kembali ke Jakarta. Tetapi aku masih ada waktu eksplorasi hingga tengah hari di esok hari.

Pertunjukan Langit di Pantai Marina Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Sore, hari ketiga di Semarang, akhirnya aku mengkreasi peluang untuk menyaksikan pertunjukan bumi yang sering dicari oleh penggila warna langit….Yups, Sunset.

Aku meluncur cepat dari Sleep & Sleep Capsule di daerah Dadapsari pasca menaruh semua peralatan dan backpack. Menggunakan taksi online berjenis Calya warna orange maroon, aku dan Pak Muchlis menuju Pantai Marina di daerah Tawangsari. Pengemudi muda itu terus memamerkan spion tengahnya yang dimodifikasi fungsi menjadi kamera mundur dan kamera rekam jalan….Padahal itu hanyalah kamera buatan China harga 400 ribuan….Hahaha.

Menempuh jarak enam kilometer dalam lima belas menit, aku tiba di gerbang Pantai Marina. Melewati sebuah pos dan membayar tiket masuk sebesar lima ribu Rupiah, aku diturunkan tepat di area parkir pantai. Satu yang akan menjadi kendala adalah tidak tersangkutnya signal handphone di area pantai. “Wah, alamat, saat pulang nanti, aku mesti berjalan lumayan jauh ke luar area pantai untuk memesan ojek online”, batinku.

Arah asal masuk ke pantai.
Area parkir pantai.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17:30, tetapi pantai masih saja menyengat. Matahari masih menunjukkan keperkasaannya di area terbuka itu. Untuk mengurangi hawa panas, aku duduk di sebuah bangku di bawah pohon sambil menikmati es kelapa muda dari batok kelapanya langsung. Biarlah surya kecapaean bersinar dan aku akan mulai menikmatinya saat dia mulai langsir.

Masih menyengat.

Matahari yang sudah mulai turun, membuatku segera beranjak dan menapaki area tanggul beton sekaligus pedestrian yang masih diperkuat dengan keberadaan batu-batu raksasa pengurug bibir pantai. Menjadikan pantai ini tak bisa lagi menampakkan keindahan naturalnya.

Tampak muda-mudi duduk diatas batu-batu raksasa itu, berpacaran, berselfie ria, atau merenung meratapi nasib di tengah khasnya riak ombak. Sedangkan anak-anak kecil berlarian di sepanjang pedestrian beton.

Bebatuan besar penahan ombak.

Pemandangan lain adalah tertancap kokohnya bagan-bagan penangkap ikan di sepanjang pantai, sedangkan di arah lepas pantai, sebuah daratan mirip pulau berhiaskan kapal-kapal cepat yang terparkir rapi, area West Marina Beach.

Untuk menyaksikan sunset dengan sudut pandang sempurna maka aku merapat ke bagian pantai yang menghadap ke arah barat. Tampak deretan pemburu yang tetap fokus dengan mata pancingnya di sepanjang pedestrian hasil reklamasi yang pada sisi ini dilapisi dengan paving block yang membuat penampakan bibir pantai lebuh berseni. Sementara para pedagang minuman dan makanan tampak sibuk melayani pelanggannya yang menempati deretan bangku dan bersiap menikmati pertunjukan alam. Di bagian selatan sana, Marina Convention Center tampak gagah membiru, menyematkan kesan bahwa Pantai Marina telah terpapar teknologi dan modernisasi.

Disinilah spot terbaik menikmasi senja.

Aku mulai mengambil tripod, memangarahkan smartphoneku ke arah surya yang mulai membulat jelas dan perlahan berubah berwarna orange. Muda-mudi dari pantai sebelah utara mulai berpindah mengambil posisi maasing-masing di pantai barat. Sementra Pak Muchlis terlihat lebih santai, duduk menikmati seporsi lontong. Sedangkan aku duduk bersila saja tepat di bibir pantai, bersebelahan dengan kamera smartphoneku yang sedang bekerja mengabadikan momen special itu.

Pertunjukan yang luar biasa.
Dia mulai bersembunyi.
Selamat datang malam…..

Kisah Selanjutnya—->

Sleep & Sleep Capsule: Penginapan Murah di Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Selamat pagi….Fajar terakhir di The Azana Hotel Airport.

Sesuai jadwal business trip ini, aku seharusnya pulang ke ibukota sore nanti. Sudah barang tentu, jam 12 siang ini, aku harus melakukan check-out dari The Azana Hotel Airport. Karena pelatihan baru akan selesai pukul 14:00, maka sebelum aku berangkat ke kawasan Bukit Semarang Baru untuk mengawal jalannya pelatihan, aku segera menyerahkan kunci hotel sembari menitipkan semua barang-barang di reception desk.

Pelatihan hari kedua ini berjalan sangat lancar dan selesai tepat waktu. Semua peserta pelatihan pun satu persatu undur diri untuk kembali ke kotanya masing-masing. Aku pun segera kembali ke The Azana Hotel Airport, untuk mengambil barang yang tertitip.

Kamu tentu sudah tahu kelakuanku…Yups, aku sengaja memperpanjang masa kunjungku di Kota Atlas dengan biayaku sendiri. Kini aku bersiap berperilaku kembali layaknya seorang backpacker. Aku akan berpindah menuju sebuah hostel seharga Rp. 40.000 per malam. Dan karena Pak Muchlis yang masih akan kembali pada pukul 19:00 nanti, akhirnya mengikuti kemana kakiku melangkah.

Menumpang taksi online, aku menuju ke Sleep & Sleep Capsule di daerah Dadapsari. Pengemudi taksi online yang kutunggangi rupanya tahu perihal hotel kapsul murah itu, mampu membaca tujuanku tiba di Semarang, sehingga percakapanku dengannya pun otomatis menghangat di ranah backpacking.

Aku diturunkan di bilangan Jalan Imam Bonjol tepat di halaman Universitas AKI. Tak sulit menemukan Sleep & Sleep Capsule, karena tulisan namanya tertera sangat besar di tembok pembatas universitas itu. Lorong kecil berkanopi itu mengarahkanku menuju sebuah pintu seukuran gang yang langsung berhadapan dengan meja resepsionis.

Lorong masuk.
Reception desk.

Telah terbayarnya biaya hotel melalui Agoda, staff reception perempuan itu hanya meminta KTPku saja untuk mencocokkan data. Walaupun minimalis, hotel ini tampak didesain sangat rapi dan modern dengan mengambil konsep aktivitas di sebuah bandara. Interior dinding lobby itu didesain bak sisi jendela sebuah pesawat lengkap dengan kursi pesawatnya. Sedangkan alur lalu lintas tamu di area lobby dibatasi dengan desain lantai bak aspal bandara. Segenap lobby didominasi dengan warna kuning, coklat, putih dan abu-abu…..Ciamik banget.

Lobby.
Ruang bersama.
Ruang bersama.

Sedangkan setiap tamu akan mendapatkan sebuah loker yang diletakkan di ruang terpisah dengan kamar tidur. Aku perhatikan banyak tamu yang menaruh laptop dan beberapa berkas tugas sebuah institusi pendidikan di loker itu, aku kemudian menyimpulkan bahwa mereka adalah para mahasiswa yang sedang berkuliah. Entahlah, apakah mereka lebih memilih hotel jenis kapsul ini untuk tinggal atau memang mereka hanya sesekali menginap saja karena ada tugas lembur di kampus. Hal itu  mungkin saja karena memang hotel ini berlokasi bersebelahan dengan Universitas AKI.

Koridor loker.

Aku pun segera menaruh backpack di ruang kapsulku, bunk bed tingkat paling atas. Aku segera menaruh peralatan traveling di folding bag untuk kubawa ke destinasi berikutnya sore itu. Terus terang, aku baru kali ini tidur di sebuah ruangan kapsul. Biasanya aku memilih sebuah dormitory reguler.

Memang beda tipis antara kapsul dan dormitory. Kapsul berpembatas sedangkan dormitory cenderung lebih terasa lega karena tak berpembatas papan.

Karena jumlah kapsul dalam ruangan ini adalah 42 buah, tak hayal lagi ruangan kapsul ini sangat berisik ketika waktu tidur menjelang. Sudah dipastikan diantara 42 orang ini adalah para pengorok ulung yang mengganggu nyenyaknya malam. Keriuhan akan kembali terjadi di pagi hari karena disaat itulah orang saling berembut untuk mandi. Mereka tampak mengejar urusannya masing-masing sepagi mungkin. Begitu juga aku.

Kamar.
Pindah peraduan.

Sedangkan toilet berada di ujung ruangan kapsul. Wastafel, urinoir dan shower berada pada ruangan yang saling terpisah. Walaupun dipakai untuk 42 tamu dalam satu ruangan, kamar mandi itu tetap tampak bersih dan wangi. Sepertinya para tamu ini sudah berpengalaman tinggal di sini, mungkin para mahasiswa itu sudah berlangganan menginap di hotel kapsul ini.

Kamar mandi.
Kamar mandi.

Nah, Hayo siapa yang mau tinggal di hotel jenis kapsul sepertiku?……

Kisah Selanjutnya—->

Citilink QG 145 from Semarang (SMG) to Jakarta (HLP)

Citilink QG 145 flight route. Source: https://flightaware.com/

Titan treated me to lunch before arriving at hotel. A portion of Pecel 1* rice near Public Senior High School 1 Semarang. Then he also supplied me with typical Semarang Presto 2* Milkfish to take back to Jakarta. Wow, he was my kind friend.

Before actually checking out, Titan, who was curious about how I chose cheap lodging, he came with me to dormitory room. He paid close attention to dormitory room and its sleeping capsules. “Great Donny, can you sleep in a capsule like this?“, he said with a smile. “When abroad, I did the same thing, Titan. That’s why I can travel at a low cost”, I replied in a whisper.

Toyota Calya in orange metallic color, picked me up at Sleep & Sleep Capsule. Simultaneously, I said goodbye to Titan to leave Semarang. Thank you Titan.

On 15:25 hours, I arrived at the airport. Without further ado and exploration, I hurried over to check-in counter. I was only forty-five minutes from boarding time. Less crowded counters allowed me to finish check-in process in fifteen minutes and finally my boarding pass was in my hand….Nice.

I continued to focus on heading to waiting room quickly. I was only thirty minutes away from flight. And exactly fifteen minutes before boarding, I reached waiting room and sat down with gasping. Not long, after enjoying the beauty of waiting room, A call from ground staff to got ready to fly echoed. Now, I was preparing at Gate 3A to enter aircraft cabin.

Ticket to Jakarta.
Citilink QG 145’s cabin interior. Sat on seat number 10A.

Now I was sitting on seat which matched with its number on boarding pass. I was getting ready to go to Halim Perdanakusuma International Airport, which was 394 Km from Ahmad Yani International Airport. I would fly with Airbus A320’s flying casings with a maximum altitude of 26,000 feet, with a speed of 520 mph and a travel time of 53 minutes.

During boarding process, I continued to enjoy the beauty of Ahmad Yani International Airport’s new passenger terminal from plane window. Seen some planes were back and forth coming and going on left side of plane which I was riding. The sky was cloudy, a sign that I should be prepared for a little turbulence right after take-off.

The time when had been waiting arrived, the plane was already getting ready on runway and waiting for permission to spur its jet engine into air. I was just busy in reading Citilink’s inflight magazine, i.e Linkers. Plane slowly began to advance and showing overall shape of airport from end to end. Beautiful of Ahmad Yani International Airport.

Wings Air’s ATR aircraft.
Which destination was that Air Asia to ?.
Terminal building along with ATC of Ahmad Yani International Airport during take-off.

Before breaking through thick clouds above, this flight quickly showed the beauty of Semarang’s north coast. Combination of dark clouds with orange sunlight which penetrated between clouds, combined with blue sea with the creeping of ships around port….Hmmhh, a very authentic Semarang.

The vibrations began to be felt when plane wanted to stabilize its flying altitude. But after that, sky returned clean and revealed its beauty from a height. That afternoon, I didn’t want to close my eyes and mised that amazing sky show.

Semarang north coast….Wouww, awesome.
The sun version of sky and the sun version of sea …. Beautiful isn’t it ?.
Pilots were very adept in dodging clouds….Smooth flight.

Flight incredibly felt short. Citilink began to get down above capital sky. Land of Bekasi was very dense. Several city icons were clearly visible from above. Patriot Candrabhaga Stadium, which I visited during President Cup match between Bali United and Semen Padang FC, just for seeing Irfan Bachdim’s figure closer.

While another view was LRT line which was being built along Cikampek toll road, it looked very beautiful. That was the path which almost I have taken every day throughout my profession as a salesman in capital city.

Patriot Chandrabhaga Stadium was visible from a height.
LRT line which was currently under construction.

Citilink QG 145 landed at Halim Perdanakusuma International Airport very smoothly. As usual, passengers would get off and walked at apron area to main terminal building. I rushed to conveyor belt to pick up luggage and then went home using an online motorcycle taxi.

Get off the plane in apron area.
Several visitors were waiting for Apron Free Shuttle Bus. I prefered to walk..

Many beautiful flights with Citilink. Thank you Citilink.

Alternatives for flight tickets from Semarang to Jakarta can be searched on 12Go or the following link: https://12go.asia/?z=3283832

The Story of Buddha’s Death at Watugong Pagoda

The moped was lauched with all its might by Titan heading south of the city. 15 kilometers away, 30 minutes in length. He said that I would be brought to the highest pagoda in Indonesia, in Pudakpayung area. Almost 12:00 hours, Titan and I arrived there, right on the edge of Perintis Kemerdekaan Street. Entering the gate, I just realized that it was a Buddhist monastery or worship complex, named Vihara Buddhagaya Watugong.

I passed a building with a roof shape which was similar to roof top at Grand Palace, Bangkok. If Grand Palace has a golden roof, this building will be brick red. This building is called Dhammasala Vihara. I started exploring it from top floor which was used as a multipurpose hall then entered its room in downstairs.

Dhammasala Vihara.
The first floor of Dhammasala Vihara is a praying room, decorated with a golden Buddha statue.

Leaving Dhammasala Vihara, I slowly approached second main section of monastery. This was what Titan meant earlier. The seven-story pagoda was with its nicknamed as Avalokitesvara Pagoda. Avalokitesvara itself comes from Sanskrit word “Avalokita” which means to hear down and “Isvara” which means sound. Meanwhile, Avalokitesvara in Chinese language is called by two words, namely “Kwan Im”. Meanwhile “Kwan Im” itself is a manifestation of compassion from Buddha.

Therefore, this temple is also known as Goddess Kwan Im Pagoda. Some people call it as Metakaruna Pagoda or Love Pagoda because of its existence to honor Kwan Sie Im Po Sat figure, Goddess of Love.

Sidharta Gautama statue under Bodhi Tree, a 65 year old Bodhi Tree.
Avalokitesvara Pagoda rises 45 meters in high.
Me dan Titan.
The 5 meter high statue of Goddess Kwan Im is located inside Avalokitesvara Pagoda.

Having finished walking around Avalokitesvara Pagoda which was guarded by God statues which arranged around each side on ground floor, I started exploring its courtyard and garden. There were twin gazebos with two layers of roofs which were used by visitors to sit and rest because they were tired after exploring vast monastery area.

Meanwhile, on other side of its courtyard was Sleeping Buddha Statue (Buddha Parinibbana), which reminded me when visiting Pha That Luang in Vientiane exactly five months before my visitation to this monastery. Next to Sleeping Buddha Statue, lined Ariya Atthangika Magga Monument, which represented eightfold main path as a practice for attaining highest happiness (Nibbana).

Gazebo around pagoda.
Buddha Parinibbana which describes passing of Buddha between two Sala Trees.

I slowly started to leave Buddhagaya Vihara. 7 meters tall Ashoka Monument was also visible. A monument made from solid stone and had lion head. A meaning which is contained in this lion head is that no matter how wild a lion is, when we know its character, it will be easy to conquer.

And at the end, I passed Sanchi Gate and Watugong Monument. This gate is a replica of a gate in front of Sanchi Stupa at India. The gate was built as a symbol of respect when entering temple building.

Meanwhile, Watugong Monument was built to show origin of area name, i.e “Watugong”. The name was taken from an original natural stone in the form of a gong (Javanese musical instrument).

Almost finished in visiting.
Ashoka Monument to commemorate King Ashoka from India who obey in practicing Buddhism.
Watugong Monument and Sanchi Gate.

My visitation in Semarang had really ended. Titan would take me to Sleep & Sleep Capsule to pick up my backpack and supplies. After that I would go to Ahmad Yani International Airport and returned to Jakarta.

Thank you Semarang.

Eating Mangut at Kampung Pelangi

Kampung Pelangi Kalisari (Kalisari Rainbow Village) is three kilometers at south of Sleep & Sleep Capsule, which was a place to stay during my extended period in Semarang. At ten o’clock in the morning, I had driven through Imam Bonjol Street then continued to Pemuda Street, riding an online motorcycle taxi, I wanted to finish my curiosity about the beauty of a tourist village. By visiting “Kampung Pelangi Kalisari“, I don’t have to insist on going to Malang to enjoy the same beauty in “Kampung Jodipan” and “Kampung Tridi“, “Kali Code” in Yogyakarta or “Kampung Teluk Seribu” in Balikpapan.

Last night, I also contacted an old friend who life in Semarang, his name is Titan. It so happened that he took the time to meet up. We agreed to meet in Kampung Pelangi. He would take me around Semarang on his motorbike. Just see in next article, where I would be brought by him.

Arriving at destination, I took time to look for breakfast in a stall complex which was located along the contour of Semarang River which separated Dr. Sutomo Street with houses in Kampung Pelangi. I ate Rice with Mangut (processed smoked stingray, typical from Pati City) very heartily.

A row of stalls at Kampung Pelangi Kalisari front gate.
Pati’s typical “Mangut” cuisine.

I started to enter Kampung Pelangi through a small arch patterned bridge. On this bridge, existence of Flower Market and Kasmaran Park had been informed to tourists through a signpost. Meanwhile, Semarang River looked neat with presence of colorful painted river wall, complete with sidewalk right on river side.

I started to enter Kampung Wonosari (the real name of Kampung Pelangi) through a sloping alley with colored pavling blocks, decorated with colorful umbrellas which provided shade from the sun, rows of flower pots made every aisle looked beautiful and information boards were placed at consistent distance. At some points of climb, a break point was provided in the form of a concrete seat, allowing some climbers who were tired to rest temporarily.

The bridge before entering Kampung Pelangi.
Semarang river.
Pedestrian path.
Information board with location map.

When I reached at hill top, precisely below at a giant signboard “Kampung Pelangi“, there was a burial complex called “Taman Bahagia Wirawati Catur Panca“. This public cemetery was history of Kampung Pelangi origin. It was said, initially, Kampung Pelangi area was designated as a public burial area. But then some residents came and established settlements around this cemetery until it became crowded today.

I didn’t know where the end of road, some tourists got off their vehicles in a parking area. Meanwhile, some residents were lightly chatting at a coffee shop, showing me where the best vantage point to see the city from a height. Show the hands of coffee connoisseurs, located in an open attic belonging to a resident, which when I climbed it made my gaze was brightened by city view without any obstacles.

“Taman Bahagia” cemetery.
Kampung Pelangi” giant signboard

When I was enjoying a nice view of city without sun’s rays, came to the same attic, Mr. Asep from Bogor City. Similarly, he was also currently extending in Semarang after his out-of-town assignment as a Civil Servant. Suddenly I got a traveling companion and a warm conversation was inevitable. I admired him as a person who was young at heart, had same habits as me, it turned out that his hobby was traveling by taking advantage from every moment of his duty at out of town.

Titan finally called me using his smartphone. He was waiting at front gate, where I first entered Kampung Pelangi an hour ago. Immediately, I finished our conversation that was having fun. The surprise was, Mr. Asep preferred to come down with me and continued our conversation while we descended from Kampung Pelangi.

Towards the highest attic in Kampung Pelangi.
Amazing view from top of Kampung Pelangi.
Come on, Donny!. I can take your photo, for your travel memories!” Pak Asep volunteered.

I was at bottom of Kampung Pelangi. Saying goodbye to Mr. Asep, my gaze began to sweep across sides to find Titan. “Over here, Donny!“, Titan called me. Oh, he was sitting at a coffee shop. Meeting with my second old friend in Semarang after last night I also met Ezra.

I left Kampung Pelangi in back seat of Titan’s motorbike. I was ready to go to next destination.

Exploration Stuck in Pahlawan Street Fountain

After dinner at Ayam Pak Supar Semarang food stall, Ezra said goodbye to go home. He said, it took thirty minutes to reach his home. While, the night showed on 22:30 hours. Our conversation material had also ran out. He offered to take me back to Sleep & Sleep Capsule. Thinking troublesome, I subtly refuse it. Finally I just asked to be dropped off at a place where was still busy on his way to home, so I wouldn’t troublesome him.

I quickly took a ride on his blue manual motorcycle. A few moments later, the motorbike started to slow down and he lowered me on a side of sidewalk which was wide enough, full of young people who sitting together at several points, interspersed with roving coffee sellers along the sidewalk.

Here, Donny, the busiest place on my way to go home. Do you want to get off here? ”Ezra said after stopping his motorbike.

OK, just here. I’ll have a coffee first before going back to hotel, Ezra”, I assured him so he could go home. Then I sat on a concrete dividing, then ordered a glass of instant coffee. How does it feel, if you are an original coffee connoisseur, and then you have to hang out with drinking instant coffee… .Hahaha. Never mind, the important thing was I could enjoy the night.

Semarang Telkomsel office in Mugassari area.
A side of Pahlawan Street.

Having not finished yet drinking coffee in a glass and enjoying youth people activities in front of Semarang Telkomsel Office, one or two drops of water began to fall from the sky. A sign that the city would soon be pouring by rain.

I looked around for shelter in case it really rained. I saw in north, there was a stage where several people seemed to be crowded around it. Without thinking I immediately rushed there.

It was true, drops of sky water had risen to next level be a gentle drizzle. It took time to order a taxi online, before getting soaked, I better took shelter. I quickly climbed the stage to save myself from heavy rain.

It turned out that this stage would be used to welcome Governor of Central Java in a Healthy Walk event to commemorate the Anniversary of KORPRI (Indonesian Civil Servants Corps). Finally, rain poured down very hard, even though I was on roofed stage, still some parts of my body was wet because rainwater was swept away by strong winds in all directions.

Even 45 minutes I waited for the rain without being able to fulfill my initial intention to explore along this protocol road. The main street in Semarang which was very famous for routine Car Free Day agenda. I only got bonus for enjoying color show at a fountain at an intersection between Pahlawan Street and Imam Bardjo SH Street.

Celebration stage.
Roundabout at Pahlawan Street.
Fountain at Pahlawan Street.
Fountain at Pahlawan Street.

By midnight, Pahlawan Street was helpless in the rain. All sides were deserted. Finally I decided to immediately return to hotel for rest. This was my last night in Semarang before returning to Jakarta on tomorrow afternoon. But I still have time to explore Semarang until noon on next day.