Satu Jam di Bahrain Gold Souq

<—-Kisah Sebelumnya

Menjelang pukul sembilan malam, aku memutuskan pulang ke penginapan setelah puas mengeksplorasi Andalus Garden. Kunjungan di taman kota itu menjadi pengalaman eksplorasi perdanaku di Bahrain. Sesuatu yang mengesankan karena aku baru tiba pada sore hari, tepatnya dua jam sebelum mengunjungi taman kota tersebut.

Melangkahkan kaki di sepanjang Shaikh Isa Avenue menuju utara, dalam jarak kurang lebih tiga ratus meter, aku tiba di Plaza Hotel tempatku menginap.

Aku memutuskan untuk secepatnya berbasuh di bawah air shower hangat, lalu beranjak tidur lebih cepat.

Aku harus segera memulihkan stamina, masih ada petualangan panjang di beberapa hari ke depan”, aku membatin.

Dengan cepatnya aku terlelap di atas ranjang. Itu semua karena Lelah badan usai menempuh perjalanan panjang dari Muscat sejak pagi hari hingga tiba di Manama pada kesorean harinya. Aku melewati malam perdanaku di Manama dengan terlelap sempurna.

—-****—-

Pagi telah tiba…..

Aku terbangun tepat di saat kumandang adzan Subuh lirih terdengar dari balik jendela. Usai melaksanakan shalat, aku tak lagi tidur. Aku menyempatkan untuk mengisi daya baterai segenap peralatan elektronikku mulai dari baterai kamera, smartphone dan power bank.

Menyelesaikan berbasuh, maka aku pun bersiap melakukan eksplorasi di hari keduaku di Manama. Aku memulainya dengan bersarapan di kedai makan kecil khas India yang sejak malam sebelumnya telah kuputuskan menjadi kedai makan langgananku selama di Manama. Hal itu tentu karena harga menunya yang bersahabat dengan kantongku sebagai seorang backpacker.

Sarapan telah usai, untuk kemudian aku memutuskan menuju pusat kota. Kali ini aku menetapkan Bab Al Bahrain sebagai destinasi berikutnya yang akan kukunjungi.

Jaraknya yang tak jauh dari hotel, membuatku untuk memutuskan berjalan kaki saja menujunya.

Paling tidak aku membutuhkan waktu 30 menit berjalan kaki untuk tiba di tujuan”, aku bergumam.

Bergeraklah aku menuju utara melalui Shaikh Isa Avenue. Jalanan pagi itu masih lengang, sesekali titik air hujan jatuh dari langit, menandakan langit Bahrain berpeluang menumpahkan air hujan kapanpun sesukanya.

Tiba di Shaikh Abdulla Avenue, aku memutuskan menuju barat. Konsistensi langkah, akhirnya mengantarkanku untuk tiba di sebuah perempatan dimana Bab Al Bahrain Avenue berada.

Tetiba pandanganku tertuju pada sebuah bangunan unik di perempatan tersebut. Banyak pengunjung berlalu lalang dari pintu utama di lantai pertamanya.

Bahrain Gold Souq”, aku melihat sebuah nameboard yang terpampang di sisi atas gerbang utama bangunan itu.

Oh, pasar emas”, aku menyimpulkan.

Bab Al Bahrain Avenue.
Bahrain Gold Souq tampak depan.
Lantai Ground tampak dari Lantai 1.
Etalase toko emas di dalamnya.
Cari berlian juga ada kok….

Pasar emas itu bernama Bahrain Gold Souq. Aku akhirnya masuk ke dalamnya juga. Ketika berada di salah satu escalator, aku bisa mengamati bahwa BahrainGold Souq memiliki tiga lantai. Deretan bendera Bahrain tampak menjadi penghias langit-langit pasar.

Beberapa kios emas di setiap lantai tampak memamerkan koleksi yang membuat etalase toko menjadi kelihatan elegan. Sedangkan sebuah tempat penukaran uang berada di sis barat pasar. Adalah Travelex yang menjadi tempat penukaran uang ternama di pasar emas tersebut.

Sayangnya bangunan seluas 300 meter persegi itu tidak memiliki tempat parkir, sehingga mengurangi nilai strategis dari pasar emas tersebut. Tentu pengunjung akan sedikit kerepotan jika ingin berbelanja emas karena akan berjibaku untuk memarkir kendaraannya.

Aku hanya meluangkan waktu tak lebih dari satu jam untuk menikmati perniagaan di pasar emas tersebut, untuk kemudian aku bersiap melanjutkan perjalanan ke Bab Al Bahrain.

Kisah Selanjutnya—->

Andalus Garden Menyambut Malam Perdana

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menikmati santap malam di sebuah kedai makan kecil yang menjual makanan khas India, alih-alih pulang ke penginapan, aku justru melangkahkan kaki untuk mengeksplorasi area di sekitar Distrik Qudaibiya.

Dalam gelap aku melangkah ke selatan, blok demi blok aku lewati dengan sedikit perasaan was-was, mengingat suasana di jalanan tampak sepi.

Kecepatan langkah membuatku tak terasa bahwa sudah empat blok jauhnya aku berjalan, selanjutnya tibalah aku di sebuah pertigaan. Tanpa berpikir panjang aku berbelok ke arah timur dan mulai menapaki Khalid bin Waleed Avenue.

Khalid bin Waleed Avenue tampak lebih ramai dari jalanan sebelumnya. Mulai tampak kehadiran kendaraan pribadi yang berlalu-lalang di sepanjang jalan. Beberapa warga lokal juga tampak berjalan di sepanjang trotoar. Kondisi demikian yang membuat kekhawatiranku sirna seketika.

Melangkah dengan nyaman, aku berganti arah ke selatan setelah melahap trotoar sepanjang 200 meter. Al Ma’arif Avenue menjadi ruas baru yang kususuri. Sama seperti Khalid bin Waleed Avenue, Al Ma’arif Avenue tampak hidup malam itu. Membuatku kian bersemangat melangkah demi menemukan keramaian warga lokal.

Jalanan menuju Andalus Garden.
Jogging track.
Koridor tempat duduk pengunjung.
Area teater.
Bermain futsal.
Area parkir.

Tiga puluh menit sudah aku mengayunkan langkah semenjak keluar dari hotel hingga akhirnyab aku tiba di ujung timur sebuah taman kota nan luas dan penuh cahaya. Keramain warga lokal tercermin sebagai nadi kehidupan kota yang masih berdenyut malam itu. Andalus Garden adalah nama taman kota tersebut.

Ini dia yang kucari dari tadi”, aku bergumam girang.

Dalam sesaat, aku mulai memasuki taman.Mataku awas menatap sekitar. Dari panjang dan lebar yang kuamati, taman tersebut memiliki luasan tak kurang dari 3 hektar. Sedangkan secara tata letak, Andalus Garden diapit oleh tiga jalan besar yaitu Shaikh Isa Avenue di barat, Shaikh Daij Avenue di utara, dan Salmaniya Avenue di selatan.

Cahaya tampak menerangi setiap penjuru taman, jogging track selebar tiga meter menjadi fasilitas dasar taman. Sementara itu tempat duduk beton berkanopi disusun berjejer membentuk sebuah koridor dan mengindikasikan bahwa taman tampak ramah terhadap pengunjung.

Beberapa gazebo beton dibangun di beberapa sudut taman, dan area teater melingkar menjadi focal point dengan tempat duduk yang di desain ala dinding monumen. Malam itu area teater digunakan warga sebagai arena permainan bulu tangkis.

Dan yang menjadi pusat keramaian taman adalah sebidang lapangan futsal berpagar yang tampak dipenuhi para pemuda untuk bermain sepak bola di dalamnya.

Untuk beberapa saat aku bisa menikmati keberadaan ruang terbuka hijau tersebut dari sebuah tempat duduk. Aku merasakan sambutan hangat dari kota Manama di malam perdana kehadiranku. Tentu aku tak perlu khawatir jika aku pulang sedikit larut karena taman ini hanya berjarak tak lebih dari setengah kilometer dari penginapan yang kudiami.

Pulang menuju penginapan.

Selamat malam Manama !

Selamat malam Bahrain !

Kisah Selanjutnya—->

Menginap di Plaza Hotel: Menikmati Dua Lembar Paratha

<—-Kisah Sebelumnya

Seturun dari bus bandara bernomor A1, maka aku meninggalkan Halte Ministry of Education. Aku berbelok di sebuah pertigaan yang terbentuk karena persilangan Shaikh Isa Avenue dan Qudaibiya Avenue. Langkahku bersambung dengan menyusuri Qudaibiya Avenue. Pada saat itulah pandanganku mencari keberadaan minimarket. Kehausan yang kutahan semenjak berada di Sharjah-Uni Emirates Arab membuatku begitu berhasrat untuk berburu air mineral.

Aku dengan mudah medapatkan Aroy Dee Minimarket. Tanpa ragu aku pun memasukinya demi membeli dua botol air mineral berukuran 1,5 liter dengan harga 200 Fils.

Aquafina”, aku  membaca nama brand yang menempel di kemasan air mineral tersebut.

Tak kuasa menahan haus, maka tanpa malu, aku menenggaknya di depan kasir wanita yang bertugas. Kasir itupun hanya bisa tersenyum menatap kelakuan kampunganku itu.

Very very very thirsty….”, tak lupa aku membalas senyumnya untuk kemudian pergi meninggalkan minimarket tersebut.

Langkah selanjutnya adalah menemukan hotel yang telah kupesan.

Beruntung sekali aku menemukan hotel itu dalam jarak yang tak terlalu jauh. Dalam jarak tak lebih dari 100 meter maka aku menemukan Plaza Hotel yang akan menjadi tempat menginapku selama di Bahrain.

Plaza Hotel merupakan penginapan yang kupesan melalui aplikasi e-commerce penginapan ternama sejak satu setengah bulan sebelum keberangkatan. Aku memesan sebuah kamar dengan durasi menginap tiga malam. Plaza Hotel menjadi salah satu hotel yang terletak di Distrik Qudaibiya

Secara geografis, Plaza Hotel terletak di sisi selatan Qudaibiya Avenue dan terletak tak jauh dari Manama Cemetery, sebuah pemakaman umum dengan luasan tak kurang dari 16 hektar.

Memasuki hotel maka kedatanganku disambut oleh seorang resepsionis berkebangsaan Philippina. Menunjukkan e-booking confirmation dan passport kepadanya, maka aku menunggu bukti pembayaran yang sedang dipersiapkan oleh staff wanita tersebut, mengingat jenis pemesanan kamar ini diarahkan oleh aplikasi untuk melunasi pembayaran di penginapan.

Usai menunggu beberapa menit, akhirnya staff wanita itu angkat bicara.

Sir, here’s your room bill for three nights. We have a policy that you can cancel your room for the third night with a full refund. And you can confirm on the second day for this policy. Thank you, Sir”, dia menyerahkan bukti pembayaran kepadaku dengan penuh senyum

Ok, Ms. I think I will stay for three night”, aku merogoh travel walletku lalu menyerahkan uang senilai 31,5 Dinar kepadanya.

Pintu depan Plaza Hotel.
Lobby.
Koridor kamar Lantai 3.
Queen bed.
AC jadoel.

Usai menyelesaikan urusan administrasi maka aku melangkah menuju kamar. Tepat di ujung kiri ruangan, tersedia ruangan bermain bilyard di lantai pertama, tampak ruangan bilyard itu dijaga oleh wanita-wanita muda asal India, Kerala mungkin tebakanku. Hal itulah yang selalu mengurungkan niatku untuk masuk ke dalamnya selama menginap di hotel tersebut karena aku merasa kurang nyaman.

Aku pun langsung menuju ke lantai 3 melalui lift demi menemukan keberadaanku kamarku yang bernomor 320. Tak susah, aku akhirnya mendapatkan kamar tersebut.

Usai menemukan kamar maka tujuanku berikutnya adalah mencari tempat makan demi mendapatkan makan malam. Beruntung dengan mudah aku menemukan sebuah kedai makan milik pendatang asal Kerala, India.

Malam itu, aku hanya memilih menu sederhana untuk makan malam….Yupz, dual lembar Parata seharga 100 Fils.

Kisah Selanjutnya—->