Mencicipi Nasi Goreng Campur di Incheon International Airport

Pukul 12:15 aku tiba di Pulau Yeongjong, sebuah pulau di pantai barat Korea Selatan dimana Incheon International Airport dibangun dengan gagahnya.

Aku melangkah gontai keluar gerbong Seoul Metro Line I, seakan tak rela meninggalkan Seoul yang baru saja kunikmati sedari lima hari lalu. Tapi toh, aku tetap sadar diri akan amunisi yang tak digdaya lagi. Tanpa kartu kredit maupun debit aku tak akan bisa kemanapun dengan Won tersisa. Bahkan beberapa lembar Won yang terselip di dompet keritingku mungkin hanya cukup untuk membeli sarapan sekedarnya di bandara nanti.

Keluar dari Airport Station, tatapku awas mencari Flight Information Display System (FIDS) untuk melacak check-in desk yang harus kutuju. Tentunya sangat mudah menemukan informasi penerbangan di bandara terbesar nan canggih kebanggaan Korea Selatan itu. Petunjuk mengarahkanku untuk menuju Check-in Desk D sebagai konter untuk menukarkan e-ticket dengan boarding pass menuju Kuala Lumpur.

Berderap langkah, aku harus menuju ke Lantai 3 untuk mencari keberadaan Check-in Desk D dimana penerbangan Air Asia D7 505 akan dibuka. Mungkin karena kurang fokus membaca informasi yang terpampang pada FIDS maka aku tiba di depan check-in desk yang masih sunyi. “Hoo iyaaa, status penerbangannya belum open”, aku membatin sambil tersenyum membodohkan kekurangtelitianku. “Lebih baik aku cari sarapan dulu”, ungkapan diri yang salah lagi karena sejatinya aku tiba di bandara sudah tengah hari.

Aku bergegas menuju Basement 1 Level untuk mencari sarapan sekaligus makan siang. Dengan Won tersisa akhirnya aku mendapatkan seporsi stir fried rice yang menjadi menu termewahku selama berkelana di Korea Selatan….Njirrr. Sedangkan urusan minum, aku tetap mengandalkan keberadaan free water station….Yuhuuu.

Aku sengaja mengulur waktu saat menikmati makanan di salah satu bangku food court. Toh aku bisa melihat dengan leluasa status penerbanganku dari FIDS ukuran medium yang terpampang di salah satu sisi.

Hampir satu jam aku menguasai bangku itu, bersantai melahap seporsi sedang stir fried rice, menghisap paparan aroma sedap yang menyeruak di setiap sudut ruangan, menikmati keriuhan para pejalan dari berbagai bangsa dalam berburu kuliner dan senantiasa menaruh kewaspadaan mata pada layar FIDS yang terus menggusur larik-larik informasi penerbangan ke atas halaman.

Aku terkesiap saat lamat melihat nomor penerbangan Air Asia D7 505 menampakkan diri di barisan bawah FIDS. Usai mendekat memastikan, akhirnya aku meninggalkan bangku dan kembali menuju ke lantai 3 demi menuju ke Check-in Desk D.

Check-in Desk D.

Mengingat ini adalah return-ticket yang menuju titik awal perjalanan maka petugas wanita di konter check-in tak terlalu banyak bertanya hal rumit. Begitu pula dengan petugas pria di konter imigrasi, dia pun tak perlu waktu lama untuk membubuhkan departure stamp di paspor hijau milikku. Proses ini tentu tak serumit kisahku ketika memasuki Korea Selatan melalui konter imigrasi Gimhae International Airport di kota Busan.

Selepas area imigrasi, aku fikir akan mudah menemukan gate dimana pesawat Air Asia yang akan kutunggangi melakukan loading. Ternyata tak demikian. Untuk menemukan gate 112, aku harus menuju ke Satellite Concourse Building yang hanya bisa ditempuh dengan shuttle train milik Incheon International Airport melalui jalur bawah tanah.

Mengikuti signboard yang ada, aku diarahkan menuju platform shuttle train yang akan membawa segenap penumpang menuju Satellite Concourse Building di sebelah barat Terminal 1. Satellite Concourse Building sendiri adalah bangunan membujur di tengah-tengah Terminal 1 dan 2 Incheon International Airport. Memiliki 30 gate, 6 lounges dan berjarak hampir 1 km dari Terminal 1.

Shuttle train dua gerbong tanpa tempat duduk itu selama tujuh menit menjelajah jalur ganda kereta bawah tanah di Incheon International Airport untuk kemudian memindahkanku ke Satellite Concourse Building. Sesampai di bangunan itu, tentu tak sulit lagi bagiku untuk menemukan Gate 112, yaitu gerbang dimana aku akan diterbangkan menuju Kuala Lumpur International Airport untuk transit selama sembilan jam sebelum menuju tanah air.

Seoul Metro dari Pusat Kota ke Incheon International Airport

Suasana di dalam Seoul Metro menuju Incheon International Airport.

Usai shalat Subuh, mataku tak lagi terpejam. Sudah menjadi sifatku yang selalu saja terjaga ketika dihadapkan pada sebuah jadwal penerbangan. Sementara di pojok dormitory, backpack biruku yang berkapasitas 45 liter sudah terpacking rapi sejak semalam, sepulang dari Distrik Gangnam tepatnya. Malam tadi, aku memang memutuskan melakukan packing seusai mandi.

Sekitar pukul setengah tujuh pagi, ditengah nada-nada dengkuran ringan para penghuni Kimchee Guesthouse Sinchon, aku perlahan berjingkat-jingkat menuju shared-bathroom untuk mengguyur diri dibawah shower air hangat. Sehingga, satu jam kemudian aku telah rapi dan terduduk di shared lobby lantai bawah untuk sekedar bersosialisasi.

Di sebuah kursi, perlahan aku menenggak air mineral sisa semalam sembari membuka peta Seoul Metro. Aku harus mencari rute terbaik menuju Incheon International Airport Terminal 1 siang nanti.

Sekitar lima belas menit kemudian, datanglah gadis berjilbab biru dengan wajah cantik khas Melayu duduk di hadapan. Dari penampilannya dia sedang bersiap diri untuk melakukan eksplorasi.

Dari Malaysie kah?”, pertanyaan itu sudah pasti tertuju untukku.

Aku mendongak dan menjawab, “Jakarta, Indonesia”.

Oh, Indonesia. Sudah berape lame di Seoul, Abang?

Tiga hari. Saya Donny, boleh tahu nama kamu?”, jawabku singkat.

Mariya, saya dari Kuala Terengganu”.

Sepagi ini sudah bersiap, mau pergi kemana, Mariya? “, aku terus saja bertanya penuh rasa penasaran.

Oh, saya nak melawat ke Itaewon, tengok sekejap Seoul Central Mosque. Abang mau kemane?

Saya siang ini akan pulang, besok singgah di KL dulu”.

Orang Indonesia dapat free visakah ke Korea, Abang?

Oh, tidak Mariya. Saya harus membayar senilai 150 Ringgit untuk mendapatkan visa Korea. Kalau orang Malaysia bagaimana?

Orang Malaysia free visa ke Korea, Abang”.

Mariya adalah seorang solo-traveler asal negeri jiran yang berbekal dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia bahkan bercerita tentang perjalanannya berkeliling Asia sendirian tanpa menunjukkan sedikitpun rasa takut. Satu jam aku terlibat percakapan yang sangat menarik dengannya.

Mariya sendiri sangat tertarik dengan beberapa kota di Indonesia yang ingin dia kunjungi di waktu mendatang. Dia banyak bertanya perihal Bandung, Malang, Labuan Bajo dan Ambon. Mengimbangi rasa antusiasnya, maka aku tertarik mencari informasi darinya tentang beberapa kota di Malaysia yang hendak pula kukunjungi seperi Kuching, Ipoh, Penang, Kuantan dan Kuala Terengganu.

Percakapan kami berakhir ketika Mariya berpamitan untuk pergi ke Itaewon. Usai percakapan itu, aku pun menuju ke kamar dan bersiap diri untuk check-out.

Pukul setengah sepuluh, aku mulai memanggul backpack, menuju resepsionis untuk menyerahkan kunci loker dan mengambil uang deposit. Kemudian aku melangkah mantap meninggalkan Kimchee Guesthouse Sinchon menuju Stasiun Hongik University.

Seperti pagi-pagi biasanya di Seoul, aku mampir sejenak di CU minimarket yang letaknya tak jauh dari stasiun untuk bersarapan. Usai bersarapan, aku segera berburu gerbong Seoul Metro Line 2 menuju Stasiun Sindorim yang keberadaannya hanya berselang 4 stasiun saja dari Stasiun Hongik University.

Dari Stasiun Sindorim aku berpindah menggunakan Seoul Metro Line 1 menuju Stasiun Bupyeong. Berdiri di bagian tengah dekat pintu gerbong, aku menikmati laju Seoul Metro melewati sebelas stasiun sebelum tiba.

Dari Stasiun Bupyeong aku masih harus berpindah keSeoul Metro Line I menuju  tujuan akhir yaitu Stasiun Incheon International Airport Terminal 1 yang berselang lima belas stasiun ke depan.

Melintas jembatan di atas laut.
Pemandangan Laut Kuning.

Secara keseluruhan perjalanan, dalam waktu satu setengah jam, aku tiba di Stasiun Incheon International Airport Terminal 1 yang bejarak 60 kilometer dari pusat kota. Aku tiba di bandara beberapa menit sebelum tengah hari.  Kini aku menunggu  penerbangan Air Asia D7 505 dari Seoul menuju Kuala Lumpur yang akan mengudara pada pukul 15:55 nanti.

Sebetulnya aku masih sangat berminat untuk menikmati pusat kota Incheon sebelum menuju bandara. Tetapi karena sadar diri bahwa uang di dompet hanyalah berupa beberapa lembaran tersisa, maka daripada bermain resiko dan rawan ketinggalan pesawat, aku akhirnya lebih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk berada di bandara saja. Yang terpenting perjalanan pulangku ke tanah air aman dan lancar.