Mengunjungi Istana Gyeongbok

<—-Kisah Sebelumnya

Aku meninggalkan Distrik Jung menggunakan Seoul Metro Line 4 menuju Stasiun Hongik University yang berjarak sepuluh kilometer. Aku harus menaruh tentengan plastik di Kimchee Guesthouse Sinchon. Melakukan eksplorasi dengan menenteng plastik hitam hanya akan membuat wajahku semakin kampungan saja.

Keindahan Istana Gyeongbok (sumber: http://www.agoda.com)

Dalam tiga puluh menit aku tiba.

Tanpa sempat duduk sejenak, aku langsung saja meninggalkan kembali penginapan. Kali ini aku akan menuju ke istana terbesar di Korea.

—***—

Kini aku dibawa Seoul Metro Line 2. Kembali berdiri karena gerbong penuh dengan penumpang, mengharuskan tangan kananku merengkuh hand strap di atas supaya tidak terjatuh karena kereta sering melakukan pengereman di setiap stasiun yang disinggahi.

Hanya saja, situasi menjadi aneh. Seorang gadis berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya dan sesekali melihat ke arahku. Aku memang tak menatapnya tetapi setidaknya aku bisa meliriknya samar. “Duh, ada yang memperhatikanku”, aku membatin.

Aku sesekali melirik gadis itu yang terus tertawa pelan. Ketawaan itu membuatku melakukan instropeksi. “Apakah ada yang salah denganku?“. Aku mencoba memperhatikan diri sendiri, tetapi tetap saja tak segera menemukan kejanggalan itu.

Hingga akhirnya, aku terjungkal dalam rasa malu ketika menemukan sumber masalah itu. Ternyata terdapat jahitan benang besar di pangkal tangan sebelah kanan. “Aduh, kenapa pula aku tak memeriksa jaket bekas ini ketika membelinya di Pasar Baru”, Aku perlahan menurunkan tangan kanan, lalu memeriksa pangkal tangan sebelah kiri. Mengetahui jahitannya dalam kondisi bagus maka aku bergantian memegang hand strap dengan tangan kiri. Perlahan aku menoleh ke kedua gadis itu dan mengangguk penuh malu. Ternyata kedua gadis itu merespon dengan cara yang sama.

Damn, sepanjang sepuluh hari perjalanan, aku baru tahu bahwa di pangkal tangan kanan winter jacket bekasku terdapat jahitan besar penutup sobekan”, aku menggerutu sambil menggelengkan kepala.

Kejadian itu menyematkan rasa malu hingga aku turun di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga untuk berpindah ke Seoul Metro Line 3. Kini aku kembali mengikuti laju Seoul Metro ke Stasiun Gyeongbokgung di utara kota. Kali ini aku terduduk hingga tiba di stasiun itu.

Untuk menggapai Istana Gyeongbok, hanya diperlukan berjalan kaki sejauh tiga ratus meter dari Stasiun Gyeongbokgung. Memasuki pelataran gerbang Istana Gyeongbok, banyak turis yang mengenakan pakaian hanbok. Pakaian itu memang efektif menciptakan aura bangsawan bagi siapapun yang mengenakannya.

Sementara itu, di setiap sudut pelataran dijaga ketat oleh aparat kepolisian setempat. Tampak jelas Istana Gyeongbok ditutup sore itu, tak ada seorang turis pun yang diperbolehkan masuk. Entah sedang ada momen apakah sore itu?. Praktis aku hanya bisa menikmati kunjungan dengan memasuki National Palace Museum of Korea yang terletak di pelataran yang sama dengan Istana Gyeongbok.

National Palace Museum of Korea (sumber: http://www.theseoulguide.com)

Mengunjunginya cuma-cuma, aku dituntut memahami kisah dan seluk beluk Istana Gyeongbok dari berbagai peninggalan yang dipamerkan di museum. Museum berusia 113 tahun tersebut tampak bersih dan terawat. Walaupun aku tak faham sepenuhnya, setidaknya aku bisa menikmati benda-benda bersejarah seperti beberapa helai pakaian adat, catatan kuno, stempel dan beberapa lukisan era Dinasti Joseon.

Dengan selesainya eksplorasi di tempat penyimpan sejarah Korea Selatan yang berjuluk Deoksugung Museum tersebut maka petualanganku sore itu hanya menyisakan satu destinasi lagi….Distrik Gangnam.

Kisah Selanjutnya—->

Menyerah di Myeong-dong

<—-Kisah Sebelumnya

Salah satu sisi di Myeongdong 8-gil.

Tak seperti sebelumnya, kini aku begitu ripuh mencari bus dari Namdaemun Market demi menuju destinasi berikutnya, Myeong-dong.

Mencari segenap papan rute di halte sekitaran Namdaemun Market, tetap saja aku tak menemukan petunjuk apapun. Terpaan angin dingin akhirnya menggiringku ke bawah tanah. Yup, aku kini berderap di koridor Stasiun Hoehyeon, mencari platform demi menuju ke Stasiun Myeong-dong. Dengan mudah aku mendapatkannya. Di pinggiran platform, wajahku terus menghadap ke kiri untuk menjemput penampakan Seoul Metro Line 4.

Cahaya yang semakin benderang perlahan mendekati platform, pertanda si ular besi siap merapat. Dalam sekejap aku sudah berdesakan berdiri memegangi tiang gerbong supaya tak terterjang arus penumpang. Tak lama setelah semua penumpang terangkut, Seoul Metro mulai merayap meninggalkan platform.

Tak berselang stasiun manapun, aku kemudian turun di Stasiun Myeong-dong, meninggalkan para penumpang yang tetap berjubal di dalam gerbong. Aku tak sabar menjauhi gerbong ketika turun karena ingin segera melihat wujud keramaian Myeong-dong, pusat perbelanjaan kosmetik populer di Seoul. Tentu bukan untuk membeli lipstik, masker ataupun pemutih wajah, melainkan hanya ingin melihat aura-aura cantik pemudi Negeri Ginseng itu….Duh, keceplosan.

Keluar dari Stasiun Myeong-dong aku terus saja menggerutu, “Kenapa hari ini suhu lebih dingin dari biasanya”. Gloves yang kupakai tak mampu membendung dingin yang meresap hingga lapisan kulit terluar. Alhasil, aku berjalan menikmati Myeong-dong dengan sesekali menggeretakkan gigi karena tak mampu menahan dingin lebih lama.

Benar adanya, para pemudi nan langsing, tinggi dengan wajah putih aduhai menjejali setiap gang di Myeong-dong. Toko-toko kosmetik tampak dipenuhi para pembeli. Sedangkan beberapa pedagang kuliner lokal mulai sibuk menyiapkan lapak di banyak titik. Myeong-dong yang bagiku sudah tampak ramai, rupanya belum juga mencapai titik puncak keramaiannya. Mungkin malam nanti akan menjadi titik kulminasinya.

Karena area ini adalah pusat perbelanjaan kosmetik, maka tak menarik minatku untuk memasuki outlet kosmetik yang berjajar di sepanjang Myeongdong 8-gil. Aku hanya berdiri di tepian koridor pertokoan Myeong-dong, asyik menikmati lalu lalang muda-mudi Seoul dan kesibukan para pedagang kuliner yang sibuk menyiapkan dagangannya. Sementara itu beberapa outlet kosmetik kenamaan seperti Holika Holika, Aritaum, Missha dan The Saem tampak kebanjiran pengunjung.

Kesibukan di Myeong-dong

Dengan hanya berdiri terpaku begitu saja, menjadikanku sebagai  sasaran empuk udara dingin yang berhembus di Myeong-dong. Benar adanya, aku hanya bisa menahan hawa dingin itu dalam setengah jam saja. Selebihnya aku mulai menggigil tak terkendali.

Aku menyerah….

Aku mulai beranjak dan dengan terpaksa memasuki salah satu outlet, seingatku outlet itu bernama innisfree. Karena kebanyakan tamunya adalah kaum hawa, aku hanya berpura-pura mencari oleh-oleh kosmetik supaya bisa dengan leluasa masuk ke dalam outlet. Tentu aku tak akan membeli apapun di outlet tersebut. Aku hanya berkeliling sembari memperhatikan dengan seksama berbagai macam kosmetik yang dijual di outlet tersebut.

Demi tak menimbulkan kecurigaan, lima belas menit kemudian aku memutuskan keluar dari oulet. Kini aku berlanjut menyusuri kembali koridor-koridor di Myeng-dong sembari perlahan menjauhi pusat kosmetik itu untuk menuju ke stasiun.

Saatnya meninggalkan Myeong-dong.

Yup, kali ini aku berniat kembali dahulu ke hotel, menaruh belanjaan yang kubeli dari Namdaemun Market beberapa saat sebelum mengunjungi Myeong-dong. Untuk kemudian aku akan melanjutkan eksplorasi lagi  ke Istana Gyeongbok.

Kisah Selanjutnya—->