Menuju Stasiun Centum City: Memecahkan Peta Buta

<—Kisah Sebelumnya

Pukul 16:30, terduduk khawatir di bawah naungan halte bus mungil di bilangan Gijang-daero Avenue yang lengang, tatapanku terus menoleh ke kiri, menantikan kedatangan bus bernomor 181. Beberapa menit lalu aku telah tervonis tersesat. Berpetualang amatiran demi sekedar menemukan Haedong Yonggungsa Temple yang terletak di tepian Selat Korea.

Dua setengah jam waktuku terbuang sia-sia di jalanan timur luar Kota Busan. Sementara itu, ancaman lain datang, yaitu keterlambatan mengejar bus menuju Seoul yang akan berangkat malam nanti. Di tengah kepucat pasian mimik muka, bus itu akhirnya datang. Aku sudah melambai tangan ketika bus itu masih tampak lamat dari kejauhan. “Aku tak boleh terlewat dari bus itu, inilah kesempatan terbaikku untuk mengejar bus menuju Seoul”.

Kerlipan lampu sein bus itu mengisyaratkan bahwa sang pengemudi memahami bahwa aku adalah calon penumpangnya. Bus berhenti tepat di hadapan, aku melompat gesit dari pintu depan dan menyerahkan 1.200 Won (Rp. 15.000) di fare box. Lalu mengakuisisi salah satu bangku tengah yang tak bertuan.

Kini pendanganku menyapu seisi interior bus, mencari markah tujuan atau petunjuk apapun yang bisa memantau keberadaan bus. Mataku jeli meilhat sebuah manual route board di salah satu sisi kompartemen atas, sedangkan tepat di belakang sopir tertampil jelas sebaris layar LCD yang terus bergantian aksara Hangeul ketika bus melewati halte-halte di sepanjang Gijang-daero Avenue. “Yes….”, aku menemukannya tetapi aku tak bisa membacanya karena itu adalah aksara Hangeul secara keseluruhan. Aku terus menahan nafas, berusaha tenang. “Sekali lagi tersesat, aku akan lebih jauh, peluangku menangkap bus menuju Seoul akan sirna”, aku menunduk memejamkan mata. Membayangkan kengerian itu.

Kini aku memutuskan berdiri tepat di bawah manual route board, segenap penumpang terheran karena aku berdiri ketika bus tak pernah penuh. Aku tak memperdulikan tatapan-tatapan itu, aku sedang sibuk menyelamatkan nasibku sendiri.

Kutatap lekat-lekat peta jalur itu. Aksara Hangeul yang begitu kecil dan aku tak benar faham. “Yes, aku menemukannya”, batinku bersorak girang. Ada logo Humetro di salah satu markah peta. Itu berarti halte yang dimaksud terintegrasi dengan stasiun Humetro. Sedangkan peta Humetro selalu kupegang sepanjang perjalanan. Terlipat rapi di kantong belakang celanaku.

Berarti aku tinggal menghafal urutan alphabet Hangeul yang menyusun nama halte itu lalu mencocokkannya dengan  rangkaian alphabet yang sama yang akan tertampil di layar baris LCD di belakang pengemudi. Jika rangkaian nama itu muncul, maka aku akan turun di halte yang dimaksud. Ah, ternyata sisa-sisa kecerdasan di otakku masih ada.

Aku terus mengamati layar LCD dan terus mencocokkan setiap huruf dengan manual route board di kompartemen atas bus. Dengan begitu aku akan tahu, berapa halte lagi aku harus turun. Tekun dan teliti melakukan itu, membuatku berhasil turun di salah satu halte yang terletak di dekat stasiun Humetro, Stasiun Centum City tepatnya.

Turun di halte itu, aku segera menuju ruang bawah tanah Stasiun Centum City demi mencegat keberangkatan Humetro terdekat. Aku harus bergegas menuju Kimchee Busan Guesthouse untuk mengambil backpack yang kutitipkan di meja resepsionis semenjak check-out pagi tadi.

Aku berlari menuruni escalator berjalan mengejar Humetro yang telah berhenti beberapa detik lalu dan bersiap menutup pintu untuk pergi. “Yes….”, aku berhasil memasuki gerbong sebelum pintu Humetro itu benar-benar menutup. Kini aku sedikit tenang, tentu aku akan tiba di tujuan dengan cepat. “Ambil backpackmu dan bergegaslah menuju Busan Central Bus Terminal, Donny!”, batinku menegaskan sebuah perintah untuk diriku sendiri.

Kisah Selanjutnya—->