Company House: Awal Mula Kejayaan Ekonomi Qatar

Kompleks Msheireb Downtown Doha.

Ternyata tak hanya aku, semua turis dibuat kebingungan untuk menemukan pintu masuk. Kata itulah yang diucapkan seorang staff pria yang keluar memanggilku dan mengarahkanku memasuki museum.

Welcome to Msheireb Museum, you should know that this museum consists of four parts. They are Company House which you are currently visiting. In west of this building is Bin Jelmood House, while in east there is Radwani House. Another one, across that street (pointing at Bin Jalmood Street), is Mohammed Bin Jassim House. To make it easier for understanding all stories inside the museum, please install Msheireb Museums application. You can be guided by this application. Please write your identity in guest book, and welcome to Msheireb Museums“, hafalannya tersampaikan dengan lancar.

Yes, Sir. Thank you, Sir. Where are you come from, Sir?”, singkat aku menjawab dan bertanya.

Bangladesh”, jawabnya dengan penuh senyum.

Yes, belajar dimulai…..

Jika kamu ingin mengetahui perihal….

Bagaimana ekonomi Qatar bangkit dari keterpurukan……dan bagaimana perjuangan mereka menemukan minyak bumi……

Disinilah tempatnya.

—-****—-

Jadi di episode akhir petualanganku di Qatar, isi tulisan ini akan sangat serius. Tak ada majas….Tak ada sastra….Tak ada puisi….yuk, balik ke bangku sekolahan.

The history is begin……

Pertama kali, di pintu masuk museum terdapat logo perusahaan minyak terkenal yang menunjukkan bahwa pendirian dan pembiayaan museum ini disponsori oleh Qatar Shell.

Setelah melewati reception desk dijelaskan dalam sebuah tulisan bahwa bangunan ini adalah rumah dari Hussain Al-Naama, manager Doha Port, dibangun pada tahun 1920, lalu di sewa oleh Anglo-Persian Oil Company (Perusahaan Inggris pemegang kontrak eksklusif untuk eksplorasi minyak di Qatar) pada tahun 1935 dan digunakan sebagai kantor pusatnya selama  dua dekade. Alkisah, pencarian dan eksplorasi minyak Qatar dimulai dari rumah ini.

Inilah truk yang digunakan untuk mengangkut pekerja ke ladang minyak di sebelah barat Qatar.

Diceritakan para pekerja ini akan pulang dalam satu bulan untuk mengambil gaji, lalu diizinkan pulang ke rumah mereka dalam sehari saja untuk bertemu keluarga, setelah itu mereka harus kembali ke ladang minyak kembali untuk bekerja. Museum ini didedikasikan untuk para pioneer tersebut yang memaknai endurance, pengorbanan dan komitmen untuk membangun Qatar….#airmatamulaimeleleh

Perjalanan industri minyak Qatar disusun dengan bekas pipa-pipa minyak.

Kembali ke tahun 1920-an, saat itu Qatar adalah negara yang bergantung pada perdagangan, perikanan dan hasil tangkap mutiara. Dan negara ini sudah diambang kehancuran ekonomi karena Perang Dunia Pertama, Great Depression 1929 dan semenjak mutiara bisa dibudidayakan di Jepang.

Original banget ya pipanya….Aku terpesona.

Perlu kamu ketahui bahwa penangkapan mutiara adalah pekerjaan penuh resiko. Pada tahun 1929, pernah terjadi badai yang menenggelamkan 80% kapal di Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia, Oman dan Qatar. Badai ini menewaskan lima ribu jiwa.

Masuk ke tahun 1940-an, terjadi Perang Dunia Kedua, usaha eksplorasi minyak Qatar sempat terhenti. Hal ini membuat seluruh warga Qatar kembali tidak memiliki harapan, karenanya mereka telah berfikir untuk kembali melaut mencari mutiara.

Beruntung pada tahun 1946, setahun setelah selesainya Perang Dunia Kedua, Inggris kembali ke Qatar untuk melanjutkan eksplorasi. Saat mereka tiba, kapan tanker tidak bisa  berlabuh di Perairan Zikrit karena dangkal. Maka dibuatlah terminal ekspor baru di Umm Said, selatan Doha. Lalu berlanjut dengan dibangunnya pipa-pipa minyak dari Umm Said ke Dukhan. Usaha yang tak kenal menyerah, pada akhirnya membuat Qatar berhasil melakukan ekspor minyak bumi pertamanya pada 31 Desember 1949. Dalam perkembangan selanjutnya, produksi minyak di Qatar meningkat tajam dari yang semula dibawah 50.000 Barrel/hari pada tahun 1949 menjadi lebih dari 2.000.000 Barrel/hari pada tahun 2010….Wah keren yaaaa.

Babak penting berikutnya, Qatar mendapatkan kemerdekaan dari Inggris pada 3 September 1971. Tiga tahun setelahnya dibentuklah Qatar General Petroleum Company. Dan pada tahun 1977, Qatar General Petroleum Company dan Shell Qatar Ltd. dinasionalisasi menjadi Qatar Petroleum, sehingga sejak saat itu minyak dan gas bumi di kuasai negara seutuhnya.

Qatar memang negara yang beruntung. Tak lama setelah kemerdekaan, ditemukan ladang Liquid Natural Gass (LNG) di utara wilayahnya. Untuk mengeksplorenya, didirikanlah Perusahaan Gas Qatar pada tahun 1984 dan ekspor LNG pertama mereka terjadi pada tahun 1996 ke Jepang.

Video room….Melihat pengabdian para pionerr dalam membangun minyak negara hingga Qatar mengalami kemajuan ekonomi yang pesat.
Generator listrik Biston dari Inggris….Inilah generator listrik pertama di Qatar.

Di ruangan belakang Company House, disediakan sebuah ruangan bartajuk “Open Storage” yang menampilkan beberapa peralatan para pekerja perusahaan minyak di awal-awal beroperasinya. Tampak raket tenis, stick hoki, bola rugby, radio, velg kendaraan, rantang makanan, mesin ketik, buah nanas kemasan dengan merk “Marvel” dan sofdrink bermerk “Namlite”.

Mesin ketik klasik merk “ROYAL”.
Buah nanas kemasan dengan merk “Marvel

Di ruang paling belakang didesain ruang bertajuk “The Courtyard: Life as a Worker”, di dalamnya dibangun beberapa sculpture putih yang memvisualisasikan para Qataris sedang bekerja di perusahaan minyak Inggris.

Ilustrasi para pekerja minyak kala itu.

Berjalan ke arah pintu keluar, tertampil sebuah ruang “Interview” dimana tim Msheireb Museum mewawancara para pioneer asli Qatar untuk mengumpulkan informasi yang berguna sebagai referensi, bahan penelitian dan bahan pameran di museum ini.

Sofa di ruangan wawancara.
Nah ini, referensi full dalam bahasa Arab….Hahaha.

Terdapat juga juga booth “Share Your Story” yang menampilkan testimoni para anggota keluarga pioneer perihal kerja keras dan kehidupan mereka semasa menjadi karyawan perusahaan minyak itu.

Dalam ruangan yang sama terdapat juga booth “Contemporary Voices”. Layar tiga sisi ini mendeskripsikan kisah-kisah para pioneer dalam sebuah film dokumenter.

Duduk dan dengarkan kisah yang terucap dari keluarga para pioneer….Mengharukan.
Atau tontonlah film dokumenter para pioneer itu sendiri….Merinding menontonnya.

Dan di bagian akhir museum ditampilkan beberapa profil pioneer pekerja minyak dalam ruang “Pioneers’ Stories”. Dikisahkan Muhammad bin Muhammad Muftah yang bekerja sebagai penerima telepon dan pengemudi, Jasim bin Qroun sebagai rigger (Juru Ikat), Bu Abbas yang bertugas mengendarai truk standard internasional untuk membawa para geologist, Thamir Muftah yang bertanggung menangani urusan listrik, Jassim bin Muhammad Jaber Al-Naameh yang bertugas menangani generator, Ibrahim bin Saleh Bu Matar Al-Muhannadi yang bertugas sebagai houseboy, dan terakhir adalah Mansour bin Khalil Al-Hajiri yang menjadi karyawan pertama di perusahaan minyak dan bertugas sebagai guide (pemandu), karena beliau orang yang sangat memahami seluruh wilayah Qatar dan mampu menemukan tempat yang dicari dalam gelap atau kabut sekalipun.

Kubaca pelan setiap kisah kepahlawanan mereka.
Mr. Mohammed bin Hamad Al-Hitmi, pemadam kebakaran di Qatar Petroleum Production Authority.

Selesai menjelajah Company House, aku keluar dari dari pintu belakang. Kusempatkan singgah di Empirecof, sebuah coffee shop mungil yang terletak di pelataran museum ini.

Yuk nge-latte dulu….

Selesai berkopi ria, aku menyempatkan diri memakan bekal makan siangku di halaman Company House. Di taman ini disediakan free water station yang bisa dimanfaatkan untuk minum secara gratis….Wah mantab Qatar.

Where is the museum gate, Sir?”, pertanyaan turis yang sering diutarakan padaku saat istirahat di taman.

Kunjunganku di Company House telah benar-benar usai, saatnya aku pergi menuju bagian Msheireb Museum yang lain.

Yukkk ikut aku lagiii……..