Pakistani White Pulao dan Al Kort Fort

Aku meninggalkan Doha Sports City menjelang maghrib. Keluar dari Villaggio Mall, menuju Stasiun Al Aziziyah yang hanya berjarak 100 meter dari pintu nomor empat shopping mall kenamaan itu.

Di pintu masuk stasiun…..terjadilah insiden tipis antar pengelana….

Hello, do you want go with metro?”, ucap pemuda ikal, berkulit putih dan berwajah khas Arab tetapi lebih pendek sedikit dariku.

Yes, brother”, ucapku singkat.

Use this ticket!, I will go back with bus, You can use it”, dia menyodorkan tiketnya kepadaku.

Oh, No, thanks. I will buy a single journey ticket at downstair”, kutolak halus karena salah duga, kukira dia menjual tiket kepadaku. Aku tahu itu Standard Day Pass ticket seharga Rp. 16.000

Brother, just take it. I don’t need more because I will use bus”, Dia tampak bergegas dan menyelipkan tiket itu ke tangan kananku.

Ya ampun….Ternyata dia memberikan dengan cuma-cuma. “Thank you very much, brother”, ucapku singkat.

I’m Donny from Indonesia, what is your name, brother?”, tanyaku sebelum berpisah.

Said from Algeria….”, senyumnya sembari membenarkan tas punggung hijaunya lalu bergegas meninggalkanku.

Thank you, Said”, aku mulai menuruni escalator menuju platform Doha Metro.

Mengejar MRT yang sudah mengambil ancang-ancang, diperintahkanlah aku oleh petugas berkebangsaan Philippines untuk memasuki metro melalui gerbong kelas Goldclub yang mewah lalu berpindah ke gerbong kelas Standard di belakangnya. Wahhhh…..gerbang Goldclub itu menawarkan tempat duduk tunggal mewah bak business seat pesawat terbang, kursi bersandaran lengan yang terpisah satu sama lain dalam baris memanjang berhadapan. Terduduk di gerbong standard, aku dibawa menyusuri jalur Gold Line menuju Stasiun Souq Waqif yang lokasinya cukup berdekatan dengan Al Ghanim Bus Station. Aku akan menaiki Karwa Bus langganan bernomor 12 menuju penginapan.

Aku masih mengingat pesan salah satu staff hotel asal Islamabad bahwa malam ini mereka mengajakku memasak bersama dan menyantap masakan khas negeri mereka yaitu Pakistani White Pulao-hidangan nasi yang dicampur dengan cacahan wortel, sayur dan kacang-kacangan-.

Seusai mandi, benar adanya, mereka ke kamar membajakku dan digelandang e dapur untuk bergabung bersama para chef dadakan Casper Hotel.

Pakistani White Pulao…..Nyammm.

—-****—-

Fajar ke empat yang kurasakan di Qatar. Aku sedikit bermalas-malasan karena kelelahan dan kejenuhan menjadi musuh baru. Menjelang pukul sepuluh pagi, aku mulai berangkat menuju Al Ghanim Bus Station. Awalnya berencana menuju ke Museum Islamic of Art. Eh, tetapi….Begitu tiba di terminal, aku berfikir ulang. Dompetku mengkhianati niat, dituntunnya aku mencari destinasi gratisan untuk menghemat amunisi yang mulai menipis.

Mencoba berselancar maya dengan duduk santai di terminal, akhirnya aku tahu harus melangkah kemana. Msheireb….Ya, Msheireb!

Ada Msheireb Museum yang dibuka gratis untuk wisatawan disana. Aku berfikir lanjut….Setelah mengunjungi museum itu, aku bisa berkeliling di area Msheireb Downtown Doha untuk melihat konsep kota terencana itu.

Perlu kamu tahu….MDD (Msheireb Downtown Doha) adalah sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan sangat detail.

Aku menjelajah sepanjang Ali Bin Abdullah Street, melewati Gold Souq -bangunan sepuluh jendela kaca lengkung sentra jual beli emas-, melintas kantor kas Qatar National Bank (QNB) Souq Waqif kemudian belok kanan di sebuah perempatan.

Gold Souq.

Sebelum benar-benar tiba di Msheireb Museum, langkahku tertahan di bawah sebuah bangunan ikonik, yang dari bentuknya aku sendiri faham bahwa itu adalah bangunan pertahanan atau benteng. Sewaktu kemudian, aku mengenalnya sebagai Al Kort Fort.

Dikenal juga sebagai Doha Fort, bangunan berusia 140 tahun ini dibangun pada masa Kesultanan Utsmaniyah sebagai kantor kepolisian. Tiga puluh lima tahun dihitung dari masa berdirinya, benteng ini berubah fungsi menjadi penjara di masa akhir kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. 

Lalu sejarah kembali berubah ketika Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani, Emir ketiga Qatar, membangun kembali benteng ini seiring melonjaknya angka kejahatan di sekitar Souq Waqif. Konon, muncul sekelompok pencuri terkenal yang merajalela di area pasar. Nah benteng inilah menjadi pusat keamanan Souq Waqif pada masa rawan itu.

Sesuai ciri khas benteng gurun pasir, bangunan ini berbentuk persegi dengan satu menara persegi panjang di salah satu sudut dan tiga menara bundar di ketiga sudut lainnya.

Sayang , benteng ini masih dalam proses renovasi sehingga aku tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi tnetu tak mengapa, karena aku bisa lekas berkunjung ke Msheireb Museum.

Mau tau ga Msheireb Museum kayak apa?….Panjang lho kisah yang tersampaikan di dalamnya….Siap-siap membaca penuh kesabaran ya!.