7 Destinasi Wisata Pekanbaru

<—-Kisah Sebelumnya

Memasuki Pekanbaru, semua penumpang Bus INTRA diturunkan di sebuah bangunan warung non-permanen berbahan kayu warna hijau. Memasuki bagian belakang warung makan, deretan panjang kamar mandi sederhana memudahkanku untuk berbasuh muka dan besiap diri untuk mengeksplorasi “Kota Madani”.

Memasuki jalanan kota untuk pertama kalinya diatas jok ojek online, aku mulai menyimpan rasa penasaran tentang apa saja yang bisa kukunjungi di kota. Hingga akhirnya aku tiba di lobby Hotel Sri Indrayani lebih cepat dari jadwal check-in. Setelah mengisi daya kamera dan smartphone hingga beberapa cell bar di restoran hotel, aku segera mengayun langkah ke beberapa spot terdekat.

  1. RTH Tunjuk Ajar Integritas

Tak jauh, setengah kilometer di barat laut hotel ada sebuah taman yang cukup terkenal di Pekanbaru. Adalah Ruang Terbuka Hijau Tunjuk Ajar Integritas yang menjadi play ground favorit bagi warga kota yang pembangunannya didedikasikan untuk program perlawanan korupsi dalam pemerintahan daerah.

Tugu Integritas dalam taman.

Belum juga tengah hari, udara panas mulai terasa. Memaksaku untuk berteduh di tepian taman. Masih sepi pengunjung, mengingat aku tak berkunjung saat weekend.

2. Sungai Siak

Melanjutkan langkah, aku turun ke Jalan Wakaf sebelum akhirnya dituntun oleh seorang polantas untuk berbelok ke kanan melewati Jalan Jembatan Siak I dan mencapai tepian Sungai Siak.

Mengunjungi Sungai Siak dan membayangkan kejayaan serta kemakmuran Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berdiri di tepian sungai adalah hal yang menarik minatku untuk menjadikannya sebagai salah satu destinasi kali ini

Panorama dari Jembatan Siak I

3. Rumah Singgah Tuan Kadi

Masih berkelana di sepanjang sungai, kini aku menuju ke Jembatan Siak II. Khalayak menyebutnya sebagai Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, diambil dari nama Sultan ke-5 Kesultanan Siak.

Tertegun memandangi bangunan di bawah jembatan, rumah asli sejak era keemasan Kesultanan Siak.  Situs pariwisata ini dikenal dengan nama Rumah Singgah Tuan Kadi. Kadi atau Qadhi sendiri adalah gelar tersohor pada masa kesultanan. Pemilik awal rumah ini adalah Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah menjabat sebagai Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak.

Pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-12.

4. Masjid Raya Nur Alam

Matahari mulai tergelincir dari posisi tertingginya, artinya aku sudah bisa memasuki kamar Hotel Sri Indrayani. Mengambil arah tenggara, aku berniat mampir untuk bershalat Dzuhur di Masjid Raya Nur Alam sebelum tiba di penginapan.

Masjid tertua di Pekanbaru.

Masjid peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura ini masih berdiri kokoh dengan kubah kuningnya sebagai simbol kebesaran Melayu. Rasa-rasanya, rakyat Pekanbaru pantas berterimakasih kepada Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan Siak keempat yang mendirikan masjid megah ini.

5. Masjid Agung An-Nur

Panas kota mulai mereda apalagi aku sudah selesai berbasuh badan di hotel. Selesai menyantap makan siang maka aku melanjutkan eksplorasi. Setelah mengunjungi masjid tertua, kini aku menuju ke masjid termegah di Provinsi Riau.

Kelelahan telah berjalan hampir 4 km, aku memilih menggunakan ojek online saja menuju Masjid Agung An-Nur, dua kilomoter ke tenggara.

Taj Mahalnya Indonesia.

Masjid Agung An-Nur sendiri telah menjadi icon religi Provinsi Riau sejak tahun pertama dibangun, yaitu tahun 1963. Pastikan kamu tak terlewat mengunjunginya jika berada di Pekanbaru.

6. RTH Putri Kaca Mayang

Berikutnya, aku bergegas menuju ke pusat kota. Pilihanku berikutnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang. Terletak di sebuah sisi jalan protokol kota Pekanbaru, taman ini terlihat lebih rapi dari taman pertama yang ku kunjungi.

Nama taman diambil dari nama seorang putri dalam dongeng yang melegenda di masyarakat.

Waktu yang sudah menggelincir ke arah sore, satu persatu warga terlihat mendatangi taman untuk sekedar melepas penat atau mengajak anak-anak untuk menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar taman.

7. Jalan Jenderal Sudirman.

Seperti nama jalan yang sama di Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman di Pekanbaru juga memainkan peran sebagai jalan protokol di kota Pekanbaru.

Sebagai jalan utama tentu banyak hal yang bisa dinikmati di sepanjangnya. lebarnya ruas jalan dengan sibuknya lalu lalang kendaraan dihiasi oleh arsitektur bangunan-bangunan mentereng di kedua sisinya menjadikan Jalan Jenderal Sudirman menjadi spot fotografi yang layak dikunjungi.

Perpustakaan Soeman HS, Menara Lancang Kuning, Kantor Gubernur Riau dan Menara Dang Merdu adalah arsitektur yang tampak mencolok dan berbeda dari bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Jalan berhiaskan asmaul husna di sepanjang tepinya.

Yuk, berlibur ke Pekanbaru.

Kisah Selanjutnya—->

7 Tourist Attractions in Pekanbaru

Entering Pekanbaru, all INTRA Bus passengers were unloaded in a non-permanent restaurant building which is made from green colour wood. Entering in back of restaurant, long row of simple bathrooms made me easy to washing my face and preparing myself to explore “Madani City“.

Entering city’s roads for the first time on an online motorcycle taxi seat, I began to save my curiosity about destinations which I could visit in the city. Until I finally arrived at Sri Indrayani Hotel lobby before check-in schedule. After charging my camera and smartphone to several cell bars in the hotel restaurant, I immediately swung my steps to nearest spots.

  1. Tunjuk Ajar Integritas Park

Not far away, half a kilometer to northwest of hotel, there is a fairly well-known park in Pekanbaru. It is Tunjuk Ajar Integritas Park which has became a favorite play ground for city residents whice its development is dedicated to corruption resistance program in local government.

Integrity Monument in the park.

Not yet midday, hot air began to feel. Forcing me to took a shelter on park edge. Visitors was still quiet, considering I didn’t visit on weekend.

2. Siak River

Continuing my steps, I went down to Wakaf Street before finally being led by a traffic policeman to turn right and passing Jembatan Siak I street then reached edge of Siak River.

Visiting Siak River and imagining the glory and prosperity of Siak Sri Indrapura Sultanate who once stood on this river edge was a thing that was interested me to made it as one of my destinations this time.

Panorama of Siak I Bridge.

3. Tuan Kadi’s Halfway House

Still wandering along the river, now I headed to Siak II Bridge. People call it as Bridge of Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, taken from name of the 5th Sultan of Siak Sultanate.

Stunned to stare at a building under the bridge, an original house since golden era of Siak Sultanate. This tourism site is known in the name Tuan Kadi’s Halfway House. Kadi or Qadhi itself is a famous title during the sultanate. The first owner of this house is Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib who had served as Chairperson of Siak Sultanate’s Shariah Deliberative Board.

It was once be a stopover for Sultan Syarif Kasim II, the 12th Sultan.

4. Nur Alam Grand Mosque

The sun began to slip from its highest position, meaning that I was able to entering Sri Indrayani Hotel’s room. Taking southeast direction, I intended to stop by and praying Dzuhur at Nur Alam Grand Mosque before arriving at hotel.

The oldest mosque in Pekanbaru.

The relic mosque of Siak Sri Indrapura Sultanate still firmly stands with its yellow dome as a symbol of Malay greatness. It feels, Pekanbaru residents worth give a thank to Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, the fourth Sultan who had built this magnificent mosque.

5. An-Nur Great Mosque

The heat of city began to subside, especially after I finished to bathing in hotel. Finishing lunch then I continued my exploration. After visiting the oldest mosque, now I headed to the grandest mosque in Riau Province.

Exhausted after walking almost 4 km, I chose to use an online motorcycle taxi towards An-Nur Great Mosque, two kilometers to southeast.

Indonesia’s Taj Mahal.

An-Nur Great Mosque itself has been a religious icon of Riau Province since the first year it was built, in 1963. Make sure that you don’t miss to visiting it when you are in Pekanbaru.

6. Putri Kaca Mayang Park

Next, I hurried to downtown. My next choice was Putri Kaca Mayang Park. Located on a side of Pekanbaru’s protocol street, this park looked more presentable than the first park which I visited.

The park name is taken from a princess name in a legendary tale in society.

Time that had slipped towards afternoon, one by one residents were seen coming to the park to just releasing fatigue or bringing their children to spending time by playing around the park.

7. Jenderal Sudirman Street

Like the same street name in Jakarta, Jenderal Sudirman Street in Pekanbaru also plays a role as a protocol road in the city.

As a main road, of course there are many things which can be enjoyed along the way. Road width with busy passing of vehicles is decorated by classy buildings architecture on both sides made Jenderal Sudirman street as a photography spot which worth to visiting.

The Soeman HS Library, Lancang Kuning Tower, Riau Governor’s Office and Dang Merdu Tower are architectures which look striking and different from other buildings along Jenderal Sudirman Street.

The road is decorated with Asmaul Husna along its edge.

Come on, vacation to Pekanbaru!