Kisah Heroik dibalik RTH Putri Kaca Mayang

<—-Kisah Sebelumnya

Tugu Bambu Runcing.

Bundaran di tenggara Masjid Agung An-Nur itu berhiaskan tugu bambu runcing berwarna kuning berlatar Universitas Riau tepat sejejar dibelakangnya. Aku terus mengarahkan Canon EOS M10 ku ke arah tugu hingga pengemudi ojek online datang memanggilku.

Sepertinya aku akan menghabiskan sore itu bersama warga lokal untuk menimati suasana kota di sebuah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di tepian jalan protokol. Dari Masjid Agung An-Nur aku menuju selatan sejauh 4 kilometer dengan waktu tempuh 15 menit berkendara.

Jam empat kurang sepuluh menit aku tiba. Puluhan orang telah hanyut dalam suasana taman yang tenang walaupun raungan knalpot kendaraan menghiasi warna suara di sekelilingnya.

Taman dengan background The Premiere Hotel.

Unik, taman ini di belah oleh sebuah jalan pintas yang menghubungkan Jalan Jenderal Sudirman di timur taman dan Jalan Sumatera baratnya. Disematkan nama Jalan RTH Kaca Mayang, jalan ini membelah pendek sepanjang seratus meter saja.

Tempat duduk beton berkaki tiga, tempat sampah modern tiga kategori, Kanopi beton berbentuk jamur dengan atap hijau, sepasang area bermain pasir berwahana up-down stairs yang mengapit sebidang area peruntukan teater, pohon-pohon berdiameter kecil sebagai pertanda belum lama tertanam, jogging track dengan pola bersambung dari dua belahan taman serta dua jembatan kecil diatas aliran air yang cukup bersih adalah jenis fasilitas yang didudukkan pada taman seluas kurang lebih satu hektar ini. Itulah gambaran singkat RTH Putri Kaca Mayang yang bisa kutangkap.

Putri Kacang Mayang adalah satu dari delapan Ruang Terbuka Hijau di Pekanbaru yang dikenal sebagai taman paling ramah anak. Pemerintah daerah harus menggelontorkan dana sebesar enam milyar rupiah untuk membangun taman ini.

Penamaan taman sendiri diambil dari sebuah dongeng lokal yang dipercaya sebagai asal muasal Kota Pekanbaru. Putri Kaca Mayang konon digambarkan sebagai seorang putri nan cantik jelita yang dikemudian hari diculik oleh seorang raja Atjeh yang sakit hati karena pinangannya tertolak.

Panglima Gimpam yang merupakan tokoh terkuat di Kerajaan Gisab merasa harga dirinya diinjak-injak dengan peristiwa penculikan itu, karena Raja Atjeh dengan bantuan seorang penghianat berhasil mengelabuhi Sang Panglima yang telah bersiap menunggu pertempuran di batas kota, sedangkan musuh berhasil memasuki kerajaan melalui jalan lain yang sangat rahasia.

Tanpa pikir panjang, dikejarlah Raja Atjeh ini sendirian. Dengan kesaktiannya, Panglima Gimpam memporak porandakan seisi kerajaan musuh sendirian dan akhirnya dikembalikanlah Sang Putri kepadanya. Namun sayang, Sang Putri tak selamat pulang ke Kerajaan Gisab karena jatuh sakit di tengah perjalanan.

Itulah sepenggal kisah dari penamaan RTH Putri Kaca Mayang. Ternyata ada cerita klasik dibalik keindahan taman kota ini.

Kisah Selanjutnya—->

7 Destinasi Wisata Pekanbaru

<—-Kisah Sebelumnya

Memasuki Pekanbaru, semua penumpang Bus INTRA diturunkan di sebuah bangunan warung non-permanen berbahan kayu warna hijau. Memasuki bagian belakang warung makan, deretan panjang kamar mandi sederhana memudahkanku untuk berbasuh muka dan besiap diri untuk mengeksplorasi “Kota Madani”.

Memasuki jalanan kota untuk pertama kalinya diatas jok ojek online, aku mulai menyimpan rasa penasaran tentang apa saja yang bisa kukunjungi di kota. Hingga akhirnya aku tiba di lobby Hotel Sri Indrayani lebih cepat dari jadwal check-in. Setelah mengisi daya kamera dan smartphone hingga beberapa cell bar di restoran hotel, aku segera mengayun langkah ke beberapa spot terdekat.

  1. RTH Tunjuk Ajar Integritas

Tak jauh, setengah kilometer di barat laut hotel ada sebuah taman yang cukup terkenal di Pekanbaru. Adalah Ruang Terbuka Hijau Tunjuk Ajar Integritas yang menjadi play ground favorit bagi warga kota yang pembangunannya didedikasikan untuk program perlawanan korupsi dalam pemerintahan daerah.

Tugu Integritas dalam taman.

Belum juga tengah hari, udara panas mulai terasa. Memaksaku untuk berteduh di tepian taman. Masih sepi pengunjung, mengingat aku tak berkunjung saat weekend.

2. Sungai Siak

Melanjutkan langkah, aku turun ke Jalan Wakaf sebelum akhirnya dituntun oleh seorang polantas untuk berbelok ke kanan melewati Jalan Jembatan Siak I dan mencapai tepian Sungai Siak.

Mengunjungi Sungai Siak dan membayangkan kejayaan serta kemakmuran Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berdiri di tepian sungai adalah hal yang menarik minatku untuk menjadikannya sebagai salah satu destinasi kali ini

Panorama dari Jembatan Siak I

3. Rumah Singgah Tuan Kadi

Masih berkelana di sepanjang sungai, kini aku menuju ke Jembatan Siak II. Khalayak menyebutnya sebagai Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, diambil dari nama Sultan ke-5 Kesultanan Siak.

Tertegun memandangi bangunan di bawah jembatan, rumah asli sejak era keemasan Kesultanan Siak.  Situs pariwisata ini dikenal dengan nama Rumah Singgah Tuan Kadi. Kadi atau Qadhi sendiri adalah gelar tersohor pada masa kesultanan. Pemilik awal rumah ini adalah Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah menjabat sebagai Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak.

Pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-12.

4. Masjid Raya Nur Alam

Matahari mulai tergelincir dari posisi tertingginya, artinya aku sudah bisa memasuki kamar Hotel Sri Indrayani. Mengambil arah tenggara, aku berniat mampir untuk bershalat Dzuhur di Masjid Raya Nur Alam sebelum tiba di penginapan.

Masjid tertua di Pekanbaru.

Masjid peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura ini masih berdiri kokoh dengan kubah kuningnya sebagai simbol kebesaran Melayu. Rasa-rasanya, rakyat Pekanbaru pantas berterimakasih kepada Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan Siak keempat yang mendirikan masjid megah ini.

5. Masjid Agung An-Nur

Panas kota mulai mereda apalagi aku sudah selesai berbasuh badan di hotel. Selesai menyantap makan siang maka aku melanjutkan eksplorasi. Setelah mengunjungi masjid tertua, kini aku menuju ke masjid termegah di Provinsi Riau.

Kelelahan telah berjalan hampir 4 km, aku memilih menggunakan ojek online saja menuju Masjid Agung An-Nur, dua kilomoter ke tenggara.

Taj Mahalnya Indonesia.

Masjid Agung An-Nur sendiri telah menjadi icon religi Provinsi Riau sejak tahun pertama dibangun, yaitu tahun 1963. Pastikan kamu tak terlewat mengunjunginya jika berada di Pekanbaru.

6. RTH Putri Kaca Mayang

Berikutnya, aku bergegas menuju ke pusat kota. Pilihanku berikutnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang. Terletak di sebuah sisi jalan protokol kota Pekanbaru, taman ini terlihat lebih rapi dari taman pertama yang ku kunjungi.

Nama taman diambil dari nama seorang putri dalam dongeng yang melegenda di masyarakat.

Waktu yang sudah menggelincir ke arah sore, satu persatu warga terlihat mendatangi taman untuk sekedar melepas penat atau mengajak anak-anak untuk menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar taman.

7. Jalan Jenderal Sudirman.

Seperti nama jalan yang sama di Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman di Pekanbaru juga memainkan peran sebagai jalan protokol di kota Pekanbaru.

Sebagai jalan utama tentu banyak hal yang bisa dinikmati di sepanjangnya. lebarnya ruas jalan dengan sibuknya lalu lalang kendaraan dihiasi oleh arsitektur bangunan-bangunan mentereng di kedua sisinya menjadikan Jalan Jenderal Sudirman menjadi spot fotografi yang layak dikunjungi.

Perpustakaan Soeman HS, Menara Lancang Kuning, Kantor Gubernur Riau dan Menara Dang Merdu adalah arsitektur yang tampak mencolok dan berbeda dari bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Jalan berhiaskan asmaul husna di sepanjang tepinya.

Yuk, berlibur ke Pekanbaru.

Kisah Selanjutnya—->

Heroic Story behind Putri Kaca Mayang Park

Bambu Runcing Monument.

A roundabout in southeast of An-Nur Great Mosque is decorated with a yellow pointed bamboo monument with background of University of Riau right behind it. I continued to direct my Canon EOS M10 towards the monument until an online motorcycle taxi driver came to call me.

Looked like I would spend the afternoon with local residents to enjoy city atmosphere in a Green Open Space on edge of the protocol road. From An-Nur Great Mosque, I headed south for 4 kilometers with a 15-minute motor driving.

Ten minutes to four I arrived. Dozens of people have drifted into quiet atmosphere of park even though roar of vehicle exhausts adorned sound color around it.

A park with background of The Premiere Hotel.

Unique, this park is divided by a shortcut which connects Jenderal Sudirman Street in east of park and Sumatera Street in its west. It is pinned a name as RTH Kaca Mayang Steet, it is short splitting along a hundred meter.

Three-legged concrete seating, three categories of modern trash can, mushroom shaped concrete canopy with green roof, a pair of sand playful area with up-down stairs which flank a theater area, small diameter trees as a sign that they are recently embedded, jogging track with continuous pattern of two halves of park and two small bridges over a fairly clean water flow are types of facility which are seated in this one hectare park. That is a brief description of Putri Kaca Mayang park that I can catch.

Putri Kacang Mayang park is one of eight Green Open Spaces in Pekanbaru which is known as the most child-friendly park. Regional government has to spend USD 45,000 to build this park.

Park naming itself is taken from a local fairytale which is believed to be the origin of Pekanbaru city. Putri Kaca Mayang is said to be described as a beautiful princess who was later kidnapped by a king from Atjeh who was hurt because his marriage proposal was rejected.

Commander Gimpam who is the strongest figure in Gisab Kingdom feels his pride was trampled by princess kidnapping, because King from Atjeh with a help from a traitor had managed to fool him who was preparing to wait for battle at city borderline, while his enemy managed to enter the kingdom through another very path secret.

Without long thinking, King Atjeh was chased alone by him. With his power, Commander Gimpam destroyed the entire enemy kingdom alone and finally princess was returned to him. But unfortunately, Princess didn’t survive returning to Gisab Kingdom because of falling ill on the way.

That is a story piece of Putri Kaca Mayang Park naming. Apparently, there is a classic story behind beauty of this city park.

7 Tourist Attractions in Pekanbaru

Entering Pekanbaru, all INTRA Bus passengers were unloaded in a non-permanent restaurant building which is made from green colour wood. Entering in back of restaurant, long row of simple bathrooms made me easy to washing my face and preparing myself to explore “Madani City“.

Entering city’s roads for the first time on an online motorcycle taxi seat, I began to save my curiosity about destinations which I could visit in the city. Until I finally arrived at Sri Indrayani Hotel lobby before check-in schedule. After charging my camera and smartphone to several cell bars in the hotel restaurant, I immediately swung my steps to nearest spots.

  1. Tunjuk Ajar Integritas Park

Not far away, half a kilometer to northwest of hotel, there is a fairly well-known park in Pekanbaru. It is Tunjuk Ajar Integritas Park which has became a favorite play ground for city residents whice its development is dedicated to corruption resistance program in local government.

Integrity Monument in the park.

Not yet midday, hot air began to feel. Forcing me to took a shelter on park edge. Visitors was still quiet, considering I didn’t visit on weekend.

2. Siak River

Continuing my steps, I went down to Wakaf Street before finally being led by a traffic policeman to turn right and passing Jembatan Siak I street then reached edge of Siak River.

Visiting Siak River and imagining the glory and prosperity of Siak Sri Indrapura Sultanate who once stood on this river edge was a thing that was interested me to made it as one of my destinations this time.

Panorama of Siak I Bridge.

3. Tuan Kadi’s Halfway House

Still wandering along the river, now I headed to Siak II Bridge. People call it as Bridge of Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, taken from name of the 5th Sultan of Siak Sultanate.

Stunned to stare at a building under the bridge, an original house since golden era of Siak Sultanate. This tourism site is known in the name Tuan Kadi’s Halfway House. Kadi or Qadhi itself is a famous title during the sultanate. The first owner of this house is Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib who had served as Chairperson of Siak Sultanate’s Shariah Deliberative Board.

It was once be a stopover for Sultan Syarif Kasim II, the 12th Sultan.

4. Nur Alam Grand Mosque

The sun began to slip from its highest position, meaning that I was able to entering Sri Indrayani Hotel’s room. Taking southeast direction, I intended to stop by and praying Dzuhur at Nur Alam Grand Mosque before arriving at hotel.

The oldest mosque in Pekanbaru.

The relic mosque of Siak Sri Indrapura Sultanate still firmly stands with its yellow dome as a symbol of Malay greatness. It feels, Pekanbaru residents worth give a thank to Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, the fourth Sultan who had built this magnificent mosque.

5. An-Nur Great Mosque

The heat of city began to subside, especially after I finished to bathing in hotel. Finishing lunch then I continued my exploration. After visiting the oldest mosque, now I headed to the grandest mosque in Riau Province.

Exhausted after walking almost 4 km, I chose to use an online motorcycle taxi towards An-Nur Great Mosque, two kilometers to southeast.

Indonesia’s Taj Mahal.

An-Nur Great Mosque itself has been a religious icon of Riau Province since the first year it was built, in 1963. Make sure that you don’t miss to visiting it when you are in Pekanbaru.

6. Putri Kaca Mayang Park

Next, I hurried to downtown. My next choice was Putri Kaca Mayang Park. Located on a side of Pekanbaru’s protocol street, this park looked more presentable than the first park which I visited.

The park name is taken from a princess name in a legendary tale in society.

Time that had slipped towards afternoon, one by one residents were seen coming to the park to just releasing fatigue or bringing their children to spending time by playing around the park.

7. Jenderal Sudirman Street

Like the same street name in Jakarta, Jenderal Sudirman Street in Pekanbaru also plays a role as a protocol road in the city.

As a main road, of course there are many things which can be enjoyed along the way. Road width with busy passing of vehicles is decorated by classy buildings architecture on both sides made Jenderal Sudirman street as a photography spot which worth to visiting.

The Soeman HS Library, Lancang Kuning Tower, Riau Governor’s Office and Dang Merdu Tower are architectures which look striking and different from other buildings along Jenderal Sudirman Street.

The road is decorated with Asmaul Husna along its edge.

Come on, vacation to Pekanbaru!