Himalayan Coffee dan Nepali Thali

Sebelum benar-benar tuntas menuruni Bukit Anadu, aku terhenti pada sebuah kedai.  Kedai kelontong yang menjual beberapa snack, air mineral, juga minuman beralkohol ringan. Kedai mungil beraroma harum kopi  yang dihasilkan dari tungku roasting di sebelah kanannya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_181723470.jpg
Somersby berkadar 5%….Terkenal di Pokhara. Aku mah air putih aja….murahhhhh.

Himalayan coffee bean”, tutur si penjual ketika aku memperhatikan caranya me-roasting kopi. Buat beberapa orang, passion memang segalanya. Seperti pria ini, dia rela melepas kewarganegaraan Jepang dan memilih berganti menjadi Nepalese demi cintanya pada kopi Himalaya.

I take it”, aku menunjuk kemasan 250 gram untuk kuseduh di Jakarta.

—-****—-

Mr. Tirtha, your country is unique. Some Nepalese faces are like Indians, sometimes I find them similar to Chinese”, ucapku ketika Mr. Tirtha mulai menginjak pedal gas taksinya menjauhi bukit.

Yess….Nepal is flanked by India in south and China in north. So some Nepalese have mixed marriages”, tutur beserta senyum ramahnya menjawab pertanyaan.

Kami bergerak ke timur laut dengan memutari Phewa Lake untuk kembali ke hotel yang berjarak 6 km. Setiba di New Pokhara Lodge, aku mengucapkan terimakasih kepada Mr. Tirtha yang sejak jam 4 pagi menemaniku dalam eksplorasi Pokhara. Kuserahkan Rp. 600.000 sebagai biaya jasanya, itu artinya aku hanya perlu mengeluarkan budget transportasi sebesar Rp. 150.000 karena aku memborongnya bersama trio backpacker sehotel.

Belum hilang juga nuansa perayaan tahun baru di Lakeside Road, aku kembali menjelajah pinggiran Phewa Lake setelah berbasuh dan meluruskan kaki. Kali ini, aku kelaparan dan harus makan besar. Masih ada janji pada diri pasca percakapan sepanjang hari dengan Mr. Tirtha. Ya….Aku akan mencicipi Nepali Thali.

Jajanan kaki lima sepertinya tak akan mampu meredam kelaparanku, aku bergegas memasuki sebuah resto. Terduduklah diriku di bagian dalam untuk mendapatkan udara hangat, lalu disambut oleh pelayan perempun berparas manis. Tak perlu lama memilih. “Nepali Vegetarian Thali and orange juice”, pintaku setelah melihat menu yang kubaca. Makanan khas Nepal seharga Rp. 40.000 dan juice seharga Rp. 23.000 menjadi penutup hariku malam itu.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\16. India\WA\IMG-20180102-WA0004.jpg
@Bellas Garden Restaurant.

—-****—-

Malam berganti pagi, aku menyeruput teh panas dan menghabiskan menu sarapan di pelataran hotel. Kemudian kembali ke kamar dan memanggul backpack biruku untuk bersiap pamit pada Mr. Raj. Kujabat tangan keriputnya dan kutepuk berulang kali lengan atasnya.

Aku:  “Thank you Mr. Raj for your kindness and hope to see you again next time”.

Mr. Raj: “Be careful, Donny. Thank you for stopping by in New Pokhara Lodge”.

Aku tahu Mr. Raj masih memaksakan dirinya bekerja karena anak terakhirnya masih berkuliah di Kathmandu University. Karena perkerjaannya pula, dia masih terlihat bugar.

Kali ini Mr. Tirtha datang untuk terakhir kalinya memberikan jasa taksi kepadaku. Kami berdua menuju Tourist Bus Park, mengantarkanku menuju Kathmandu.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\16. India\WA\IMG-20171231-WA0017.jpg
Bisa ga sih bertampang parlente dikit….Hadeuh, Donny!

Kuncir Kuda di Shanti Stupa

 “Prepare your leg to climb Anadu Hill !”, tutur Mr. Tirtha sambil mengepalkan tangan kanannya ke depan.

Ya, aku tahu. Di bagian akhir kali ini, aku harus menaklukkan ratusan anak tangga untuk menikmati keindahan pagoda berusia 47 tahun, satu dari delapan puluh pagoda perdamaian yang tersebar di seluruh penjuru bumi.

Menanjak ke barat laut, mesin taksi mungil itu menggerung hampir 20 menit untuk menuntaskan perjalanan sejauh 3,5 km. Tiba di area parkir, Mr. Tirtha menunjukkan darimana aku harus mulai menanjak.

Perlu waktu lama untuk menaklukkan seluruh anak tangga. Terengah….Aku sejenak menyandari pagar tangga di tengah perjalanan. Pelan menenggak air mineral tersisa, aku beristirahat sejenak sembari menikmati wajah-wajah ayu gadis Nepal yang terus melintas. Para gadis Nepal berperawakan langsing yang gemar memiliki rambut hitam panjang teurai, berkulit cokelat dan berwajah khas Asia Selatan. Akan beruntung jika kamu menemukan yang bermata sipit….cantik otentik….Aduhai.

Seperti kilat, aku tergagap ketika seorang gadis Nipon melewatiku dan melempar senyum sembari berucap singkat “Hi”. Otomatis bibirku menyungging senyum kepadanya sambil mengawasinya lekat. Aku masih terbengong ketika dia menanjak semakin jauh. “Siapa dan Kenapa?”, batinku terus bertanya.

Oh, astaga…..Itu si cantik berkuncir kuda bermarga Kawaguchi yang duduk di sisi kiriku dalam penerbangan Thai Airways TG 319”, ingatanku menyadarkan lamunan. Dia sudah menghilang di tikungan. Aku bertekad mencarinya di atas nanti.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_175219546.jpg
Patung buatan 5 November 2001.

Mulai memasuki  pelataran nan luas dan disambut oleh patung Mr. Meen Bahadur Gurung, Deputi Menteri Pertahanan Nepal yang telah berjasa dalam pengembangan stupa.

Jalan setapak menuju stupa.

World Peace Pagoda dikenal dengan nama lain Shanti Stupa. Shanti adalah bahasa Sansekerta yang berarti perdamaian. Jadi pada dasarnya ini adalah monumen perdamaian yang didirikan berwujud stupa. Stupa ini dibagun oleh sebuah ordo Buddhist dari Jepang bernama Nipponzan-Myohoji.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_175609084.jpg
Berdiri di ketinggian 1.110 m dpl.
Ruangan di belakang stupa.

Pelataran depan begitu hening, hanya terdengar satu jenis dengung yang dibunyikan oleh seorang biksu dalam sebuah ruangan. Hening dan sakral. Sementara di sisi jauh tertampil tepian selatan dari Phewa Lake dan lekukan Himalaya yang luar biasa memikat.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174802127.jpg
Pokhara dari atas bukit.
Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174751420.jpg
Phewa Lake dan Himalaya….Aset Pokhara.

Jantung terasa berhenti ketika helikopter berwarana merah mendadak menukik tajam jatuh ke danau. Baru kali ini melihat helikopter jatuh menghujam dengan tajamnya.

Nafasku yang mendadak berhenti, akhirnya mampu menarik udara kembali dengan cepat ketika helikopter itu mampu mensejajarkan moncongnya dengan permukaan danau. Astaga….Itu hanya permainan adrenalin berbayar, pastas saja pengunjung di sekitarku mengacuhkannya….Ndeso kamu, Donny.

Helikopter pembohong.

Mataku menyusuri segenap arah mencari keberadaan Kawaguchi. Berdebar berharap menemukannya. 15 menit sudah…..Tak kunjung pula aku melihat batang hidungnya. Mungkin dia sudah keburu pulang, hilang sudah kesempatan untuk meminta maaf karena aku tak mengingatnya dengan baik….Sudahlah.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_174943517.jpg
Senyum palsu dibalik kekecewaan.

Sudah sore, saatnya pulang ke hotel.

Lihat suasana Shanti Stupa di sini: https://youtu.be/wSOfTsqJjX8

Sayatan Hati di International Mountain Museum.

Mr. Raj dengan baiknya menyuguhkan hidangan spesial untukku. Telur dengan dua mata sapi disajikan bebarengan dengan satu buah pisang, dua lapis toast berselai manga dan secangkir teh panas khas Nepal. Sementara Mr. Tirtha tampak pamit dan beranjak pulang demi menikmati sarapan buatan istri di kediamannya sendiri untuk kemudian dia akan kembali lagi menjemputku dan berkeliling Pokhara hingga sore.

Jam 11 tepat, dia datang. Kemudian dengan segarnya kami bercanda sejenak di lobby sembari menunggu trio backpacker lain muncul. Satu hal yang kusimpan dari percakapan kami berdua bahwa aku harus menjajal makanan khas Nepal berjuluk Nepali Thali.

Yups, waktunya berangkat….

Perjalanan 3 km menuju tenggara kali ini hanya terinterupsi satu kali ketika Mr. Tirtha berhenti menungguiku untuk menukar dolar di sebuah money changer kecil di tepian Phewa Lake.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_151846723_HDR.jpg
15 menit kemudian tiba.

Aku mulai memasuki pelataran dengan alas tanah berpasir. Debu menyeruak ke segala arah ketika kendaraan melaluinya. Kemudian di sebuah ticket counter yang berwujud bangunan kecil bermotif batu kali, aku mendapatkan tiket masuk seharga Rp 55.000.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_152021714_HDR.jpg
Ambil antrian….

Perlu melewati jalur khusus pejalan kaki untuk mencapai bangunan utama musium. Jalur yang dibatasi oleh deretan pepohonan yang menjulang tinggi tapi tak begitu rindang.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_152013349_HDR.jpg
Yuk jalan kaki.

Tiba di pelataran depan, sebuah monumen kecil menyambut. Monumen yang didedikasikan untuk para pendaki Himalaya yang tak pernah turun lagi karena telah merelakan jiwanya bersemayam dalam selimut salju Himalaya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_140118842_HDR.jpg
Mereka disebut mountaineers.
Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_140412276_HDR.jpg
Minggir….ngehalangin jalan lo….

Menaiki tangga untuk mencapai gerbang depan museum, kemudian aku disambut dengan x-ray gate sederhana. Di selasar awal, museum menampilkan foto-foto puncak pegunungan berlapis es di dunia. Ditampilkan pula pakaian khas negara-negara yang bersangkutan.

Slovenia dengan beberapa gunung ber-esnya yaitu Triglav (2.864 m dpl), Stol (2.236 m dpl), Prisojnik (2.547 m dpl) dan Porezen (1.630 m dpl) beserta pakaian Gorenjska.

Memasuki koridor berikutnya, museum memperkenalkan keanekaragaman etnis di seantero Nepal. Nama suku beserta pakaian khasnya ditampilkan dengan apik.  Perlu diketahui bahwa negara yang luasnya tak lebih dari 8% luas daratan NKRI ini memiliki 126 etnis didalamnya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_144106128_HDR.jpg
Etnis Thakali dari Distrik Mustang, Zona Dhaulagiri.

Masuk ke selasar tengah, museum menampilkan nama-nama puncak pegunungan Himalaya. Pegunungan Himalaya sendiri menyediakan 18 puncak utama yang menantang para pendaki dari seluruh dunia untuk menanjakinya.

Description: D:\BC Reports\Foto and Video\Go Abroad\15. Nepal\IMG_20180101_144414344_HDR.jpg
Puncak Makalu (8.464 m dpl) dan Lhotse (8.516 m dpl).

Akhirnya di bagian akhir, museum mempersembahkan kisah-kisah heroik penaklukan Himalaya oleh para pendaki kelas wahid. Di bagian ini juga, dipaparkan sejumlah tragedi yang dialami mereka dengan berbagai misi pendakiannya masing-masing. Sangat mengharukan dan menyayat hati.

Kunjugan di museum kuakhiri dengan menyusuri lantai dua menuju exit gate museum. Inilah destinasi di Pokhara yang membuka mata tentang Nepal dan Himalaya.

Silahkan mampir ya kalau berkunjung ke Pokhara.

7 Destinasi Wisata di Pokhara

Mengunjungi Nepal identik dengan mengunjungi Himalaya. Dan seluruh pelancong tahu bahwa gerbang Himalaya itu ada di Pokhara. Sudah lama kota berjuluk “Permata Himalaya” ini membuka diri untuk mempertontonkan keelokannya ke penjuru dunia.

Hal inilah yang menempatkan Pokhara menjadi top list dalam kunjunganku di kawasan Asia Selatan. Bukan Kathmandu, tapi kota terbesar kedua Nepal yang terletak di barat laut lembah Pokhara inilah yang membuatku bergegas sejenak meninggalkan ibukota Nepal walaupun baru sehari tiba.

Berikut tujuh destinasi wisata yang kukunjungi di Pokhara:

1 Sarangkot.

Menjadi titik pandang terdekat untuk menikmati pegunungan Himalaya menempatkan Sarangkot sebagai gtempat istimewa untuk dikunjungi para pelancong yang tak memiliki banyak waktu untuk mendaki pegunungan tersohor itu.

Datanglah di awal pagi  dan duduklah di viewpoint mendahului fajar. Nikmati gradasi warna yang menyiram lapisan es di puncak Machhapuchhare. Niscaya warna keemasannya akan membuatmu terpesona.

2. Bindhyabasini Temple

Menuruni Sarangkot berlatar Phewa Lake yang ikonik, aku segera menuju ke sebuah kuil Hindu tempat pemujaan Dewi Bhagwati yang terletak 7 km di sebelah timur Sarangkot. Tepat jam 08:14 kuil sudah begitu ramai dengan lalu lalang pelawat dan juga jemaat yang datang untuk bersembahyang.

Letak kuil yang berada di sebuah bukit membuatku dengan leluasa memandangi rapatnya perumahan penduduk yang berlatar pegunungan Himalaya yang membiru dengan warna putih di puncaknya.

3. Old Bazaar/Purano Bazaar

Kini aku bergerak 2 km ke arah selatan menuruni jalanan menuju sebuah tempat perniagaan yang sudah ada sejak abad ke-18. Pasar dengan dominasi arsitekur Newar bermotif bata merah dengan belahan jalur yang hanya cukup bagi dua kendaraan yang saling berpapasan.

Pukul 09:15…Masih terlalu pagi buat masyarakat Pokhara untuk berdagang. Sejauh mata memandang, memoriku dimanjakan dengan pemandangan jalanan pasar yang dihapit oleh bangunan klasik di kiri- kanan kemudia di ujung jalan sana dibendung dengan wajah Himalaya yang keelokannya abadi.

Saking lengangnya pasar, menikmati Jalebi di tengah jalanan pasar pun tak ada yang mengganggu.

4. International Mountain Museum

Sekembali dari hotel untuk menyantap sarapan. Kemudian, aku melanjutkan bertamu ke sebuah museum yang didedikasikan bagi para pendaki Himalaya yang tak pernah lagi turun dengan selamat.

Dengan membayar Rp. 55.000, aku disuguhi galeri yang menampilkan sederet foto puncak bersalju di seantero dunia disusul dengan kekhasan berbagai etnis penghuni Nepal, kemudian ditutup dengan beberapa kisah heroik para pendaki Himalaya.

5. Tashiling Tibetan Refugee Camp.

Bagi yang belum sempat mengunjugi Tibet, maka rasakan nuansanya dengan mengunjungi para Tibetan di Tashiling. Perkampungan ini ditinggali oleh pengungsi Tibet yang bermigrasi karena intrik politik.

Mereka menyambung hidup dengan cara berdagang di tempat tinggalnya yang baru. Banyak para pelancong yang berbelanja souvenir di tempat ini. Aku sendiri menyempatkan menyantap makan siang dengan menu semangkuk mie seharga Rp. 20.000 di salah satu kedai makan milik mereka.

6. Gupteshwor Mahadev Cave.

Berjarak selemparan batu dari Tashi Ling, goa yang terletak persis di tepian jalan Siddhartha Rajmarg ini berbiaya masuk Rp. 14.000. Melingkar menuruni tangga dengan bangunan utama berwarna merah, aku sampai pada mulut goa. Berlanjut menyusuri liukan lorong-lorong sempit nan lembab yang berujung pada ruangan utama gua dengan pemandangan derasnya air terjun yang terintip dari guratan celah memanjang di salah satu sisi….Indah sekali.

7. World Peace Pagoda

Menjelang sore, aku tiba di destinasi terakhirku. Dengan nama lain Shanti Stupa, pagoda putih bersih ini harus ditanjaki dengan susah payah di Bukit Anadu. Sebuag situs peribadatan peninggalan jepang perlambang perdamaian yang menjunjung kesunyian. Tak diperkenankan berisik sedikitpun adalah norma yang harus ditaati selama berkunjung.

Hiasan alam berupa Pegunungan Himalaya beralas Phewa Lake dalam satu sisi pandang menjadi semakin sempurna dengan penampakan kota Pokhara bak maket terlihat dari atas.

Jadi, jika kamu berkunjung ke Pokhara pastikan mengunjungi tempat-tempat keren ini ya.

Berganti Tahun di Tepian Phewa Lake

Mengakhiri transaksi dan menggenggam tiket bus Pokhara-Kathmandu, aku berniat cepat menuju penginapan. Jarum jam serasa bergerak cepat dan gelap perlahan pasti menyelimuti kota, hingga kemudian aku menyatakan setuju pada sopir taksi untuk mengantarkanku ke New Pokhara Lodge.

Taksi putih mungil lincah membelah patahan-patahan gang kecil. Sekali dia tampak kebingungan hingga memaksanya turun dan bertanya kepada sosok muda yang sedang terlena pada secangkir kopi dan sebungkus sigaret. Kemudian tunjukan tangan sang pemuda membuat si sopir mengangguk faham.

—-****—-

Aku terduduk dan mengamati pecahan uang kertas berbagai bangsa yang tersusun rapi  menjadi galeri lobby. Salah satunya adalah pecahan bergambar Tuanku Imam Bonjol.

Lobby New Pokhara Lodge

Selang beberapa waktu, muncul pria setengah baya yang tampak telah melambat gerakannya tetapi berusaha untuk tetap tersenyum. Selanjutnya aku mengenalnya sebagai Mr. Raj, penanggung jawab hotel yang sangat baik dalam memberikan pelayanan untuk para tamunya di New Pokhara Lodge.

Aku ditempatkan di lantai dua di hotel berbentuk letter-U, berlantai tiga dan berwarna oranye itu. Ruang inap yang kutebus dengan harga sebesar Rp.108.000 kini menjadi basecampku selama berkelana di Pokhara.

—-****—-

Mr. Raj menasehatiku singkat,  “Don’t worry about your security in New Year Celebration!. Don’t drink too much and back soon!….Enjoy your night and Happy New Year”.

Suasana Lakeside Road.

Berjalan kaki sejauh 650 meter menuju tepian Phewa Lake , aku menelusuri jalur kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Hanya dua menit hingga tiba di keramaian Lakeside Road. Tampak panggung yang tak lebih baik dari panggung Kelurahan Ciracas telah disiapkan di tepian danau.

Aroma kuliner kaki lima ditengah riuhnya rombongan muda mudi Nepal menjadi paduan sempurna di dinginnya Pokhara. Suhu 8o C perlahan mengintimidasi  lambung. Dan rasanya tak sanggup jika harus makan dan duduk berlama-lama di trotoar, suhu dingin malam telah membuat tangan dan mukaku yang tak berpelindung menjadi kaku. Pada akhirnya, langkah kaki mengantarkanku memasuki AM/PM Organic Cafe. Secangkir Masala tea beserta vegetarian fried race menjadi penghangat tubuh menjelang tengah malam yang sedang ditunggu manusia sejagat.

Menunggu pesanan datang.

Makanan yang sudah habis tak bersisa, cangkir teh yang telah mengering dan pelayan yang terus memperhatikan, membuatku tak enak hati. Firasatku mengatakan untuk segera keluar dari cafe karena tentu si empunya berharap meja yang kini kutempati bisa segera dijualnya ke pengunjung lain.

Kini aku berusaha menyelinap ke kerumunan untuk menghindari hembusan angin dingin dari arah danau. Perawakan dan gurat muka yang mirip Nepali membuatku terlihat seperti penduduk lokal yang semuanya berdiri mengelilingi panggung.

Artis lokal silih berganti memberikan performance terbaiknya, anak-anak usia sekolah dasar tak mau kalah dengan tariannya, kesemuanya dipandu oleh MC berperawakan ideal, berambut klimis tanpa kumis dan berparas layak aktor Bollywood.

Panggung sekecil itu ditengah banyaknya penonton.

Malam itu, warga Pokhara serasa menjadi manusia paling bahagia di dunia sedangkan aku merasa kembali ke era 1986 dimana aku masih menjadi siswa kelas satu SD di Semarang kala itu.

Aku tak yakin akan ada riuh gempita pesta kembang api. Keyakinan itu membuatku perlahan mengundurkan diri dari kerumunan. Berjalan pelan dan terngiang petuah Mr. Raj yang memperingatkanku akan kemungkinan yang bisa terjadi karena memang banyak pemuda yang terlalu banyak minum di jalanan.

Belum juga menikung menuju sebuah gang, kerumunan mulai keras berhitung mundur bersambung luncuran kembang api ke udara dan meledak tepat di pusat Phewa Lake. Momen yang kutunggu hingga hampir diputus-asakan oleh dingin. Aku berbalik badan dan menikmati suasana itu. Danau yang semula gelap dan tampak hitam saja, kini airnya memantulkan spektrum cahaya kembang api yang bergantian meledak di atasnya.

Kekaguman yang bahkan tak kudapatkan pada momen yang sama setahun lalu di Osaka. Keindahan yang membuatku lupa mengabadikan momen itu sendiri. Tapi tak apa lah, otakku masih merekamnya dengan baik hingga kini.

Lihat situasi menjelang tahun baru di tepi Phewa Lake:

https://www.youtube.com/watch?v=0K87N2E0imk

Malam yang sempurna.

Passing a Morning and Getting a Sunrise in Sarangkot, Nepal

SARANGKOT …. is name of a village with an altitude of 1,400 meters above sea level in Kaski District, Gandaki Zone. Located in Pokhara which is a centre of tourism in Nepal, it makes Sarangkot as one of favorite destinations. Why ?….Because Sarangkot is the best viewpoint for observing Himalayan Mountains.

Eight Himalayan peaks which can be seen from this village pushed me to put this village name in my itinerary.

First day in 2018….Happy New Year, Donny!

Sarangkot as if close in my eyelids. I ordered a daily rental taxi for USD 10,1 at Pokhara Lodge Hotel where I was staying. The good news was I would pay it jointly with 3 other tourists.

It was still dark when Mr. Raj -the hotel staff- woke me up, “the driver is ready at downstairs,” He said. Brushing my teeth and washing my face only, I immediately descended hotel stairs to meet the driver.

Driver’s hospitality was implied from every smile which was thrown in front of me. His amazing English accent shows that he is also a good guide for every guests. According to him, ability to speak English is a must because tourism is heart of Nepal’s economy.

On early morning I started my trip to Sarangkot. A trip as far as 12 km, its large portion of route would pass through Pokhara-Baglung road.

I became a lucky person because the sky was clear since yesterday night. It means that I will see beauty of Himalayas without cloud obstructions.

Entering Sarangkot gate, Bus was stopped and I paid for USD 0,5 to buy a entrance ticket. It only took 30 minutes to arrive in Sarangkot parking lot.

Entrance ticket

Climbing dozens of stair, I was aware that I was at a height. But it was very early morning, making it hard for me to saw the view below me.

A moment later, I arrived in spacious courtyard. This is the viewpoint which I mean. There were already a lot of tourist who sitting on edge of hill and waiting for sunrise. Some professional photographers look busy in preparing cameras and other equipments.

Temperature was 4o Celsius. It was defeated by a shadow of Himalayan charms which filled my imaginative realm.

Time was seem to be going on for a long when we were waiting for a thing which is loved.…Sun in Sarangkot also….as if tease me by delaying its appearance to warm the Himalayas.

The sun was came….

It began to shows its bright ray.

Just choose!.…the nose of the sun or the nose of that charming girl.…
That villagers must be happy, seeing beauty of Himalayas every day.
Look at that Machhapuchhare peak…!

When the sun’s rays hit ice glazes at Himalayas top, golden color would shine and it made my eyes hard to blink. Fear if that luxury view just vanished….Oh my Goddess

The dawn was ended, I could see a real view of that courtyard. This is it:

A courtyard to enjoying beauty of Himalayas.
If you are still unsatisfied and want to see in more height….You can go up to roof in left of courtyard.
Or at top roof in right of courtyard.

Immediately moving to other side of courtyard !. You will see a closing view, namely Phewa Lake which is geographically located in south of Sarangkot village.

Don’t look at the person !….just look at the lake !….focus!….focus!

After staying above for 2.5 hours. I decided to go down. The village view which wasn’t visible when I departed, finally seen clearly and beautifully when I slowly left Sarangkot peak.

Citizens’ housing from above.
Downing dozens of stairs.

Actually, if you don’t want to bother going there in very early morning from Pokhara, you can stay around Sarangkot and come in a day before. There are several inns which provide rooms for tourists who will enjoy Himalayas in Sarangkot.

One of inns there.
Many restaurants too

After downing hill for 15 minutes, I finally arrived back in parking lot..

Visitor’s cars in parking lot.

After met again with our taxi driver, then I visited Purana Bazaar to see trading activities in that Pokhara’s famous market.

Menembus Pagi Mejemput Fajar di Sarangkot, Nepal

SARANGKOT….adalah nama sebuah desa berketinggian 1.400 mdpl di Distrik Kaski, Zona Gandaki. Terletak tepat di kota Pokhara yang merupakan pusat turisme di Nepal menjadikan Sarangkot sebagai salah satu destinasi favorit. Kenapa demikian?….Karena Sarangkot adalah viewpoint terbaik untuk mengamati Pegunungan Himalaya.

Delapan puncak Himalaya yang bisa dilihat dari desa ini mendorongku menaruh nama desa ini dalam itineraryku.

Hari pertama tahun 2018….Happy New Year, Donny!

Sarangkot seakan dekat di pelupuk mata. Taxi sewa harian seharga 1.100 Rupee sudah kupesan di Pokhara Lodge Hotel tempatku menginap. Kabar baiknya Aku akan membayarnya secara patungan dengan 3 turis lain.

Haripun masih gelap ketika Mr. Raj si pengurus hotel membangunkanku, “driver sudah siap di bawah”, sahutnya. Hanya bersikat gigi dan membasuh muka, Aku segera menuruni tangga hotel untuk bertemu sang driver.

Keramahannya tersirat dari setiap senyum yang terlempar di hadapanku. Aksen Inggrisnya yang menakjubkan menunjukkan bahwa Dia juga seorang pemandu yang baik untuk setiap tamunya. Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris menjadi sebuah kewajiban mengingat pariwisata adalah jantung perekonomian Nepal.

Pagi-pagi buta Aku memulai lawatan ke Sarangkot. Perjalanan sejauh 12 km ini porsi besar jalurnya akan melewati jalan Pokhara-Baglung.

Aku menjadi orang yang beruntung, karena sejak malam langit terlihat cerah. Artinya Aku akan melihat indahnya Himalaya tanpa halangan awan.

Memasuki  gerbang Sarangkot, kendaraan diberhentikan dan Aku harus mengeluarkan 50 rupee untuk ditukar dengan entrance ticket. Total hanya perlu 30 menit untuk tiba tepat di pelataran parkir Sarangkot.

Entrance ticket

Menaiki puluhan anak tangga, tersadar bahwa Aku berada di ketinggian. Tetapi gulitanya pagi, membuatku susah melihat pemandangan di bawah.

Sekejap kemudian, Aku tiba di luasnya pelataran. Sepertinya ini adalah titik pandang Himalaya yang dimaksud. Sudah lumayan banyak turis yang duduk di bibir bukit menunggu datangnya fajar. Beberapa photographer professional terlihat sibuk mempersiapkan kamera dan peralatan lainnya.

Suhu 4o Celcius  terkalahkan dengan bayangan pesona Himalaya yang memenuhi  alam imajinasiku.

Waktu seolah berjalan lama ketika Kita menantikan sesuatu yang dicinta….begitupun Surya di Sarangkot….seakan menggodaku dengan menunda-nunda kemunculannya untuk menghangatkan Himalaya.

Pucuk di cinta ulam pun tiba

Dia mulai menunjukkan batang hidungnya  

Tinggal pilih aja…hidung matahari atau hidung si charming itu….
Penduduk desa itu pasti bahagia, setiap hari melihat indahnya Himalaya.
Lihatlah puncak Machhapuchhare yang lancip itu….

Ketika sinar surya menerpa lapisan es di puncak Himalaya, maka warna keemasan akan memancar dan itu membuat mataku susah berkedip. Takut kemewahan itu sirna begitu saja…….Hadeuh….Bahasamu Don.

Pagi yang sudah tersibak, Aku baru bisa melihat bentuk pelataran sesungguhnya. Ini dia:

Pelataran untuk menikmati indahnya Himalaya
Yang ga puas dan kurang tinggi….boleh naik ke atap di kiri pelataran
Atau atap di kanan pelataran.

Segeralah berpindah ke sisi pelataran lain. Kamu akan melihat pemandangan penutup, yaitu Phewa Lake yang secara geografis terletak  di sebelah selatan desa Sarangkot.

Jangan liat orangnya…liat aja danaunya…fokus!…fokus!.

Setelah berdiam diatas selama 2,5 jam. Kuputuskan untuk turun kembali. Pemandangan desa yang tak tampak ketika Aku berangkat, akhirnya terlihat dengan jelas dan indah ketika Aku perlahan meninggalkan puncak Sarangkot.

Perumahan warga dari atas.
Menuruni puluhan anak tangga

Sebetulnya jika tak mau repot berangkat pagi-pagi dari kota Pokhara, Kamu bisa menginap di sekitar Sarangkot dan datang sehari sebelumnya. Di Sarangkot terdapat beberapa penginapan yang menyediakan kamar untuk turis yang akan menikmati Himalaya.

Salah satu penginapan disana.
Restoran pun banyak

Menuruni punggung bukit selama 15 menit, akhirnya Aku tiba kembali di pelataran parkir.

Mobil pengunjung di tempat parkir.

Menemui driver taxi yang menemaniku, kemudian Aku di ajaknya menuju Purana Bazaar untuk melihat aktivitas perniagaan di pasar yang terkenal di Pokhara.