Khalaf House: Tampilan Rumah Masa Lalu Manama

<—-Kisah Sebelumnya

Keluar dari Bahrain Gold Souq aku kembali turun di jalanan Manama. Aku kembali berada di salah satu ruas Shaikh Abdulla Avenue.

Tetiba langkahku terhenti, tatapanku terkesiap pada sebuah signboard yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam diri. Signboard itu menunjuk pada sebuah venue sejarah yang bisa menghantarkan pelancong menuju kenangan Manama masa lampau. “Memory of Manama”, begitu bunyi signboard terebut.

Tanpa pikir panjang aku mengikuti arah dari signboard tersebut. Kini aku berubah haluan ke selatan, menjauhi tujuan awalku yaitu Bab Al Bahrain. Aku masuk ke ruas Ammar bin Yasser Avenue. Nama Ammar bin Yasser pada jalan ini merujuk pada seorang sahabat Nabi Muhammad pada masa awal penyebaran Islam di Makkah.

Tekun berjalan hingga lima blok jauhnya, aku menemukan “Memory of Manama” yang dimaksud. Venue itu adalah sebuah rumah tradisional yang bernama Khalaf House. Rumah tersebut memiliki bentuk yang klasik dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Di masa lalu, Khalaf House adalah milik seorang pedagang mutiara bernama Muhammad Salman Khalaf yang pada masanya berperan besar dalam mengembangkan perekonomian Bahrain.

Rumah ini telah berusia 101 tahun. Merupakan landmark budaya yang dimiliki Bahrain setelah keluarga Khalaf menyerahkan rumah tersebut kepada pemerintah Bahrain.

Dari informasi yang kudapat dari papan pengumuman sekitar, Khalaf House memiliki jam operasional dari Sabtu hingga Kamis dan menerima pengunjung dari pukul 8 pagi hingga pukul 7 sore.

Saat ini rumah tersebut menjadi kantor cabang dari Shaikh Ebrahim Bin Mohammed Al Khalifa Centre for Culture & Research. Shaikh Ebrahim Bin Mohammed Al Khalifa sendiri adalah putra dari Raja Bahrain keempat. Peperangan yang menyisakan duka di keluarganya membuatnya tak memilih politik sebagai jalan hidup, melainkan menjadi ilmuwan dan sastrawan sebagai pilihan hidupnya.

Tapi beribu sayang, venue wisata itu tertutup rapat pagi itu. Sedang ada proyek renovasi di dalamnya sehingga kondisi tersebut tak mengizinkan bagi turis untuk masuk ke dalamnya. Dari salah satu sisi rumah, aku berdiri dan memandang lekat-lekat rupa arsitektur tersebut.

Rumah dengan ketebalan dinding yang tertampil di pandangan menunjukkan bahwa rumah asli masyarakat Manama ini dimiliki oleh seorang yang kaya. Pintu-pintu berukir khas dan deretan jendela kayu berkualitas semakin mengamini pradugaku itu.

Sekilas rumah itu tampak eksklusif dengan serambi menjorok ke arah jalan di lantai keduanya. Bisa kubayangkan betapa prestisiusnya jika aku bisa menikmati senja di serambi itu sembari menyeruput secangkir kopi.

Khalaf House.
Serambi lantai 2.
Tampak belakang.
Zanjeel Al Haj Abbas.
Al Khawaja Mosque (kiri).

Tak mendapatkan banyak pemandangan lagi di sisi rumah itu, aku pergi. Aku melanjutkan perjalanan.

Untuk kemudian, aku melintasi bangunan bartajuk Zanjeel Al Haj Abbas, sebuah bangunan religius dengan tujuh bendera perkumpulan berwarna merah hitam berkibar ringan di deretan tiang di salah satu sisi bangunan. Entah bangunan untuk apakah itu?, aku tak paham.

Aku lalu bergerak ke arah barat untuk meninggalkannya, tujuanku adalah Bab Al Bahrain Avenue sisi selatan demi menuju landmark terkemuka Manama, apalagi kalau bukan Bab Al Bahrain.

Dalam beberapa menit, aku tiba di Masjid Al Khawaja, sebuah tempat ibadah dengan warna dominan ungu. Tempat ibadah yang menjadi penanda bahwa aku telah tiba di jalanan utama yang kutuju.

Air Arabia G9 105 dari Sharjah (SHJ) ke Bahrain (BAH)

<—-Kisah Sebelumnya

Demi melawan rasa haus yang tak tertahankan, aku memejamkan mata pada bangku tengah di waiting room Gate 20. Dan tanpa kuduga aku bisa terlelap selama hampir dua jam dalam posisi terduduk sambil memeluk backpack.

Aku terbangun dengan sendirinya di saat waiting room benar-benar penuh oleh penumpang. Mataku perlahan terbuka dan bibirku benar-benar kering saking hausnya.

Beruntung jeda waktu antara bangun dan pengumuman boarding tidaklah lama. Langit-langit bandara pun dipenuhi pengumuman tersebut dalam sekejap. Aku pun berdiri dan bersiap untuk memasuki kabin pesawat.

Melalui  aerobridge aku melangkah gontai, berjejal dengan segenap penumpang dalam antrian panjang. Tak berapa lama, aku tiba di pintu depan kabin. Setelah memastikan ke pramugari yang berdiri di pintu bahwa aku telah memasuki pesawat yang tepat, maka aku pun mulai mencari tempat duduk.

Tetapi begitu tiba di pertengahan kabin, seorang India menunjuk ke arah kamera yang kukalungkan di leher.

Where is your lens cap?”, dia menunjuk ke kameraku

“What…….”, aku melihat ke arah Canon EOS M10 ku

You wright….It loss”, aku berbalik bada dan menyapukan pandangan ke arah belakang

“Oh thank you, Ms….”, aku menarik nafas lega ketika seorang pramugari menghampiriku sembari mengulurkan tangannya yang membawa penutup lensa kameraku yang jatuh.

“Be careful, brother”, Pria muda India itu tersenyum kepadaku.

Sure, thank you….”, aku membalas senyumnya

Dengan cepat aku menemukan bangku, aku segera menyimpan backpack di bagasi atas dan segera membawa folding bagku untuk duduk di bangku bernomor 8D yang merupakan aisle seat di bagian depan.

Tetapi sungguh beruntung bahwa kedua bangku di sebelah kananku kosong sehingga aku bisa berpindah duduk di window seat. Aku pun bersiap untuk melakukan penerbangan menuju Manama-Bahrain.

Penumpang telah siap di bangkunya masing-masing, taxiing menuju runway pun dilakukan, usai meminta izin kepada ATC, pesawat pun melaju di atas runway dan akhirnya airborne di ujung landasan.

Bersiap meninggalkan Sharjah International Airport di Uni Emirat Arab.
Air Arabia, LCC milik Uni Emirat Arab.
Bersiap taxiing.
Terbang di atas Teluk Persia.
Manama tampak dari ketinggian.
Runway Bahrain International Airport.
Suasana apron Bahrain International Airport.

Karena Muscat International Airport terletak di tepian Teluk Persia, maka pemandangan utama pertama yang kulihat adalah birunya perairan lautan Persia. Aku yang terduduk tepat di sisi mesin sebelah kanan Airbus A320 begitu menikmati penerbangan menembus langit yang biru nan cerah.

Penerbangan selama lima puluh menit itu berlangsung mulus tanpa turbulensi. Sebagian besar porsi waktu penerbangan, aku gunakan untuk membaca inflight magazine Nawras. Air Arabia G9 105 sendiri merupakan penerbangan berbiaya rendah sejauh 500 kilometer dengan kecepatan 600 km/jam.

Penerbangan yang nyaman membuat waktu penerbangan yang kutempuh serasa pendek. Setelah mengudara selama empat puluh lima menit, pesawat mulai merendah. Garis pantai mulai tampak dari ketinggian. Hamparan pesisir berwarna kecoklatan dipadu dengan gedung-gedung pencakar langit di sisi jauh jalur penerbangan menjadi penghias sempurna pada beberapa waktu sebelum mendarat. Salah satu pencakar langit yang paling kukenal adalah The World Trade Center yang memiliki bentuk bak piramida terbelah. Gedung itu tampak jelas dari ketinggian. Membuatku tak sabar untuk segera menujunya setelah mendarat.

Ketidaksabaranku untuk segera tiba di Bahrain akhirnya usai. Air Arabia G9 105 akhirnya mendarat dengan sempurna.

Selamat Datang Manama…..Selamar Datang Bahrain.

Alternatif untuk mencari tiket pesawat dari Sharjah ke Bahrain bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->