Bus Umum dari Stasiun LRT EDSA ke NAIA

<—-Kisah Sebelumnya

Jika kamu mengindahkan keberadaan taksi, maka meninggalkan Ninoy Aquino International Airport (NAIA) menuju ke pusat kota bukan perkara yang mudah. Sebaliknya, kembali ke NAIA dari pusat kota ternyata pun demikian. Akan begitu seterusnya jika airport train di NAIA tak segera dibangun.

Aku bertanya kepada pemuda si sebuah gerai 7-Eleven, tak ada bus dan Jeepney menuju NAIA, “Will be better if you use taxi to airport, Sir”, begitu solusi singkat darinya. Begitupun para timer bus, “No…No…No”, jawabnya singkat tanpa melihat mukaku sama sekali, mungkin mereka tak mengerti bahasa Inggris atau aku yang tak tahu diri karena tak faham Tagalog.

Kulihat dua opsir polisi berseragam biru, sedang mengatur lalu lintas di sebuah kolong jalur LRT, tak jauh dari Stasiun LRT EDSA. Aku tergopoh menyeberangi Epifano de los Santos Avenue untuk menghadap ke mereka berdua.

Can you help me, Sir?. I want go to airport. Which bus should I take?”, pertanyaan kulempar sesopan mungkin, aku tak mau membuat masalah di ujung perjalanan balik rumah.

Use that bus, it will stop at that pole”, dia menunjuk sebuah bus yang sedetik lalu melaju di depan kami bertiga. Kemudian menunjuk sebuah tiang di dekat 7-Eleven tempatku bersantap siang tadi.

Thank you, Sir”, ucapku girang karena baru saja menemukan cara pulang.

15 menit kemudian, bus datang dan tanpa ragu aku menaikinya setelah sang kondektur mengkonfirmasi bahwa dia bisa menurunkanku di Terminal 1 NAIA. Suatu kebetulan yang membuatku bahagia, karena aku harus mengambil backpack terlebih dahulu di Terminal 1 sebelum berangkat ke Jakarta dari Terminal 2.

Menaikinya dari pintu depan dan keluar dari pintu tengah.

Membayar ongkos Rp. 9.000 aku menuju NAIA melalui jalanan Manila. Janganlah dibayangkan seperti apa berkendara di Manila. Sudahlah, mirip saja Jakarta. Manila sang penyandang kota termacet di Asia telah membuat bus yang kunaiki saling berimpit merangsek di sepanjang jalan menuju bandara.  “Beruntungnya diriku, tak jadi berkukuh diri menuju Manila Baywalk. Tak terbayang, bisa-bisa aku tiba saat gelap di NAIA”, batinku lega.

Merayap di jalur lurus, merapat memenuhi badan jalan, tertahan di setiap persimpangan, terhenti di setiap lampu merah membuat sore itu begitu membosankan sekaligus mengasyikkan. Bosan karena terbiasa dengan hal seperti itu di Jakarta, Asyik karena apa yang sedang kualami terjadi di negeri orang.

Nempel terusss…..
Honda Click, Yamaha Aerox, Suzuki Raider….Beberapa brand sepeda motor di jalanan Manila.

Bus serba merah yang kunaiki kemudian menukar kejenuhan yang kualami sepanjang jalan dengan memarkirkan diri di sebuah terminal bus raksasa. Bertajuk PITX, berperan sebagai transportation hub untuk setiap bus, jeepney dan transportasi publik apapun yang akan menuju ke selatan Manila. Bangunan pengintegrasi transportasi ini terlihat gagah dan masih tampak baru. Maklum, baru berusia operasional dua tahun.

Paranaque Integrated Terminal Exchange (PITX).
Merapat ke NAIA….Hampir sampai.

Jam hampir menunjuk bilangan lima belas, aku tiba di Terminal 1 NAIA, kondektur menurunkanku tepat di sebuah halte kecil tempatku beranjak meninggalkan NAIA pagi tadi. Mukaku tak bisa menyembunyikan rasa senang karena Jakarta seolah sudah di pelupuk mata. Dua puluh satu hari bukan waktu yang pendek untuk meninggalkan rumah menuju tempat-tempat asing yang terpisahkan samudera.

Kita ambil backpack dan pulaaaaanggggg.

Kisah Selanjutnya—->

Salah Tanggal di Ninoy Aquino International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Melayani 47 juta penumpang setiap tahun.

Philippine Airlines bernomor terbang PR 685 mendarat dengan mulus di salah satu runway Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Pesawat berbadan besar itu dengan gagahnya melakukan taxiing menuju apron di Terminal 1. Seharusnya pesawat ini mendarat di Terminal 2, karena sedang proses renovasi maka terminal pun dialihkan. Terminal 1 sendiri adalah mainhub dari maskapai Cebu Pacific, sedangkan mainhub Philippine Airlines berada di Terminal 2.

Ini bukan pendaratan pertamaku di Philippines karena aku telah menjajah negeri itu empat tahun silam. Kini aku kembali mendarat di NAIA, bukan untuk berkunjung tetapi hanya untuk transit saja sebelum benar-benar tiba di Jakarta. Bukan Donny namanya kalau transit hanya digunakan untuk berdiam diri di bandara….Yes, aku akan menuju pusat kota dalam rentang waktu 7 jam masa transit.

Pemberian nama Ninoy Aquino International Airport sendiri didedikasikan untul Almarhum Ninoy Aquino Jr yang terbunuh di Terminal 1 selepas pulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983.

Aroma perayaan natal masih terasa @conveyor belt.
Tourist Information Center.
Arrival Hall.

PR 685 perlahan melewati hanggar milik Lufthansa Technik Philippines, Inc. yang merupakan perusahaan jasa maintenance pesawat di bandara itu, berpapasan dengan deretan maskapai kuning “Cebu Pacific” yang merupakan Low Cost Carrier (LCC) kebanggaan Negeri Duterte, melalui Terminal 2 Domestic Departure dan akhirnya berhenti di Terminal 1.

Staff cantik Philippine Airlines membawa papan kecil bertulis “transfer” dan berdiri di tengah koridor untuk mengumpulkan para penumpang yang akan meneruskan penerbangan ke destinasi berikutnya. Mereka akan dibawa oleh Airport Shuttle Transfer Service menuju ke Terminal 2. Aku yang menyatakan hendak menuju ke pusat kota semasa transit diberikan secarik kertas yang harus diisi dan akan dilampirkan bersama tiket menuju Jakarta untuk diserahkan ke konter imigrasi.

Staff Imigrasi : “Where will you go in transit time?”.

Aku : “Manila Baywalk, Sir

Staff Imigrasi : “What for?

Aku : “Just sightseeing, Sir”.

Percakapan singkat di konter imigrasi yang meloloskanku dengan stempel imigrasi Philippines di paspor hijauku. Aku harus bertanya kepada petugas Aviation Security demi menemukan lokasi penitipan bagasi untuk menaruh backpack supaya membuat langkahku menjadi lebih ringan menuju pusat kota. Aku menyerahkan Rp. 60.000 kepada petugas Baggage Assistance Counter dan dia menaruh backpackku pada sebuah rak.

Berburu Peso di money changer.
Baggage Assistance Counter.
Rak-rak penyimpanan bagasi milik Orbit Air Systems (Perusahaan ground handling di NAIA).

Melewari exit gate, aku menuju ke sebuah konter milik PLTD Enterprise yang menawarkan free SIM Card dengan brand “Smart 5G” untuk para traveler. Paket data yang mereka tawarkan kutolak dengan halus karena aku hanya membutuhkan layanan GPS saja dari prepaid SIM Card itu.

Departure

Setelah selesai dalam jelajah singkat kota, aku diturunkan sopir bus kota di Terminal 1. Menghemat waktu, aku menuju ke tempat penitipan bagasi dan mengambil backpack. Lalu menuju ruang tunggu Airport Shuttle Transfer Service untuk berpindah ke Terminal 2, terminal dimana aku akan terbang menuju Jakarta.

Terminal 2 sendiri selesai dibangun pada tahun 1998 dan dijuluki Terminal Centennial karena penyelesaiannya bertepatan dengan peringatan seratus tahun deklarasi kemerdekaan Philippines dari penjajahan Spanyol. Terminal ini awalnya dirancang oleh Aéroports de Paris.

Di depan Terminal 2, aku diturunkan. Banyak titik lokasi tertutup oleh papan proyek, menunjukkan bahwa terminal ini sedang direnovasi. Peso tersisa yang gagal tertukar di money changer Terminal 1 dengan alasan uang yang kutukar adalah adalah pecahan kecil, akhirnya bisa kutukarkan di sebuah money changer di luar bangunan Terminal 2. Kini Peso sudah berubah menjadi Dolar Amerika.

Sedikit insiden terjadi di konter imigrasi, seorang petugas imigrasi keturunan Spanyol sedikit bingung dan bertanya kepada staf imigrasi lainnya. Ternyata tanggal yang yang terstempel di pasporku saat memasuki Manila tadi pagi adalah masih tanggal esok hari.

Arah ke Airport Shuttle Transfer Service Terminal 1.
Airport Shuttle Transfer Service @Terminal 1.
Drop off zone Terminal 2.

Staff Imigrasi     :     “When do you entering Manila? “.

Aku                        :     “Last morning, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “Why don’t you check  the date?

Aku                        :     “What’s wrong, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “The date in your free visa is tomorrow”.

Aku                        :     “Oh I’m sorry, I don’t aware about it

Staff Imigrasi     :     “Can you show you arrival and departure boarding pass?

Aku                        :     “These are, Sir

Staff Imigrasi     :     “Okay, It’s no problem. You can go”.

Akhirnya aku diizinkan keluar Manila dan bersiap pulang ke tanah air. Aku merasa sangat tenang, karena telah tiba tiga jam sebelum boarding time. Tapi berjam-jam duduk di ruang tunggu, aku tak segera menenukan nomor penerbanganku PR 535 di layar informasi LCD. Aku memberanikan diri memasuki Mabuhay Lounge untuk menanyakan jadwal resmi penerbanganganku kepada staf Philippine Airlines yang bertugas di lounge reception. Dia mengatakan bahwa penerbangan mengalamai delay yang belum bisa diinformasikan hingga kapan, tetapi aku ditunjukkan nomor gate dimana aku harus menunggu yaitu Gate 11.

Baru sebentar aku duduk di Gate 11, terdengarlah pengumuman bahwa penerbangan ditunda hingga pukul 23:00 dikarenakan gangguan lalu lintas penerbangan sebagai dampak meletusnya gunung Taal di daerah Tagaytay.

Check-in counter.
Departure Hall.
Laptop station.
Mabuhay Lounge.
Waiting room di depan Gate 11.

Tepat pukul 23:00, aku mulai boarding dan meninggalkan banyak kesan di Ninoy Aquino International Airport.  Terimakasih NAIA, sampai jumpa lagi.

Kisah Selanjutnya—->