Writing Prayers and Wishes in Meiji Jingū

 
Get ready for second day of adventure in Tokyo @ Nakano Station platform.

The tragedy of losing my wallet at Nakano Station made me gulp in fear, it turned out that there was still a coward side behind my courage to explore the world. I calmed down for a moment by sipping drinking water from free water station at one of Nakano Station platforms.

The silver and yellow colored commuter of Chūō Line arrived, I took a step into a middle carriage and sat at long bench on left. I deliberately chose to sit right above a console grill heater. That was my habit while riding Japann’s trains which was slipping into the winter.

I continued to follow the Chūō Line towards east and then turned into south after changing to Yamanote Line at Shinjuku Station. Within twenty minutes, I arrived at Harajuku Station after traveling for about seven kilometers. I only had to pay 170 Yen for this trip.

Crossing the long corridor of Harajuku Station, I came out from West Exit directly opposite Meiji Jingū First Torii Gate on the right. But gosh……

Now that I’ve lost my right glove, how could I resist cold air if my equipment disappeared? I retraced my path when I exited the station platform and finally I found one of those gloves in the middle of corridor after automatic fare collection gates. I didn’t know why?, since this morning, I’ve been stuck losing things even though it were found again. Could this be the start of all surprising things ahead of my adventure?

Alright…Focused back to my steps…..

Now I was posing in front of Meiji Shrine gate. The Torii was so distinctive, the inspiration for a famous automotive company logo in “the Land of Samurai”. I walked through smooth gravel as the entrance to the temple. The path had a width of one meter on left side, combined with a one meter wide paving block path bordered by rope for exit route on the right. Meanwhile, in some parts, the path was bordered by bamboo fences which were neatly arranged as high as the waist of an adult.

In front of the gates of Meiji-jingumae Station “Harajuku” (Chiyoda Line) as part of Tokyo Metro Subway Network. But I didn’t take the Tokyo Metro.
In front of the Meiji Jingū Torii.
Sake drums (kazaridaru).
Wooden wine drums.

Meanwhile, an old officer removed leaves from road using a backpack-leaf blower. Leaves just needed to be pushed aside to road side and allowed to become natural compost, so environmentally friendly.

Within four hundred meters, on the right, I was blown away by neat arrangement of kazaridaru dedicated to Meiji-tennō and Shōken-kōgō. While right on the left side was an arrangement of wine drums made of wood.

Arriving at the main Torii of shrine, every visitor must wash their hands at Temizuya with water using a long-stemmed dipper. This ritual of self-washing or misogi aimed to purify the body and mind before standing in front of a deity to pray.

Temizuya (shinto shrine pavilion for purification) in Meiji Jingū.
In the middle of temple.

For a moment I stopped after passing through main gate, I was amazed by the size of the Meiji Jingū . This was a shrine dedicated to the spirit of Meiji-tennō , the ancient ruler of Japan.

Meanwhile in some parts of the temple was being renovated. Workers in white carpenter uniforms, complete with various carpentry equipments on their waists and wearing safety helmets, were seen standing on the step ladder, busy making repairs.

While at the end of the shrine, tourists could be seen queuing up at a shop which sells ema and omamori boards. The shop seemed to be guarded by beautiful women dressed in white and red kimonos, they looked polite and graceful to serve the visitors.

While I was busy writing a prayer on a piece of paper, then I put it in a box. While some tourists wrote prayers and hopes on the ema board they bought, then hang it on the spot provided.

The carpenters were on duty.
Shops selling omamori were amulets that were believed by the Japanese to bring good luck and safety.
What was I praying about?
An ema board, a small wooden plaque decorated with handwritten art which expressed hope.

It didn’t feel like an hour and a half walked until I finally finished exploring all parts of the temple. This was my last destination in Tokyo, because I would soon be heading to Narita International Airport to catch Peach Aviation flight number MM6320 which would depart at 21:35 hours.

I finally decided to head straight to Harajuku Station and rushed to Tokyo Station, because I was planning to take JR Bus Kanto to the airport.

Let’s go……..

Get ready at Harajuku Station….To Tokyo Station.

Peach Aviation MM6320 dari Tokyo ke Osaka: Maskapai ke-15

<—-Kisah Sebelumnya

Waktu keberangkatanku menuju tur Asia Timur Jilid-2 tinggal sehari lagi. Masih ada satu tahapan itinerary yang masih tercecer dan belum tuntas, yaitu buntunya mekanisme perpindahanku dari Tokyo ke Osaka. Tiga bulan lalu, aku telah menyia-nyiakan tiket bus murah dari Tokyo ke Osaka seharga 5.700 Yen (Rp. 775.000) hanya karena terus berfikir dan banyak mencari pilihan lain. Beberapa waktu kemudian Saat akhir pekan tiba, harga tariff bus itu meningkat hingga 9.700 Yen (1,2 juta). Sedangkan harga tiket Shinkansen  mencapai 14.000 Yen (Rp. 1,9 Juta).                                                                                                                   

Berarti selain bus, Shinkansen juga tak mungkin kupilih. Kereta peluru itu terlalu mahal untuk ukuran kantongku. Mau tak mau, aku harus kembali mengobrak-abrik informasi tentang transportasi Jepang.

Aku mulai melacak perihal seberapa banyak maskapai komersial yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit. Sebelumnya, aku sudah memesan salah satu maskapai mereka untuk berpindah dari Kaohsiung (Taiwan) ke Tokyo, maskapai itu adalah Vanilla Air. Tetapi maskapai ini nyatanya mematok harga lumayan mahal untuk rute Tokyo ke Osaka, berkisar 10.130 Yen (Rp. 1,4 juta).

Dari persistensiku menjelajah dunia maya, sentuhan mouseku menemukan satu maskapai LCC (Low Cost Carrier) lain milik Jepang, yaitu Peach Aviation. Atrbut maskapai ini mengandalkan perpaduan warna orange dan pink, membentuk warna jingga pucat atau dikenal dengan nama peach. Aku mulai mencari rute. Akhirnya aku menemukan rute Tokyo-Osaka seharga 7.150 Yen (Rp. 970.000), harga yang sedikit lebih hemat daripada menggunakan bus, Shinkansen atau Vanilla Air.

—-****—-

Bersiap take-off bersama Peach Aviation MM6320.

Insiden delay dan tenggakan alkohol secara tak sengaja memang menjadi memori tak mengenakkan sebelum aku meninggalkan Tokyo. Tetapi, aku mulai sumringah ketika nomor penerbanganku disebut dalam pengumuman bandara. Aku mulai mengantri dalam barisan. Mulai terbayang keindahan Osaka Castle dalam setiap detik antrianku. Hingga tiba, boarding pass dan pasporku diperiksa oleh ground staff wanita yang masih sangat muda dan berbadan mungil.

I’m sorry, this is not your flight. Your flight will be depart 30 minutes later”.

Are you sure?”, jawabku separuh bertanya.

Yes, Sir. This flight is MM320 and your flight is MM6320, almost similar”.

Oh God, I’m sorry. This is my wrong”, aku menepok jidat sambil berusaha menyembunyikan rasa malu.

Aku kembali mundur dari antrian dan duduk di salah satu deretan kursi kosong yang sudah ditinggalkan para calon penumpang untuk memasuki pesawat. Aku masih saja mengamati antrian itu hingga orang terakhir memasuki pesawat. Kini aku kembali menunggu….

30 menit kemudian…..

Tak salah lagi, inilah penerbanganku, aku pastikan informasi nomor penerbangan di layar LCD baik-baik, lalu kucocokkan dengan nomor yang sama di boarding pass….Yup, benar ini MM6320. Aku segera memasuki antrian. Lalu di gerbang antrian, aku memberikan bording pass dan paspor untuk diperiksa oleh salah satu ground staff. Akhirnya, aku diizinkan untuk memasuki pesawat.

Dominasi kabin dengan warna peach menjadikan ruangan itu begitu ceria, sedikit mengurangi penatku dalam berjibaku menghadapi delay. Setiap awak kabin begitu sigap membantu penumpang memasukkan barang bawaan ke kompartemen bagasi. Beberapa kali, seorang pramugari tak ragu melepas sepatunya dan menaiki kursi untuk mendorong beberapa bagasi besar dan merapikan letaknya di kompartemen bagasi.

Seusai persiapan, Peach Aviation MM6320 mulai merayap menuju runway diiringi demonstrasi prosedur keamanan penerbangan oleh awak kabin. Beberapa saat kemudian Kapten Penerbangan meminta izin untuk melakukan take-off. Tak lama setelahnya, Airbus A320-100 itu melaju sekencang-kencangnya meninggalkan Narita International Airport dari Terminal 1.

Langit Tokyo sepertinya cerah malam itu. Aku tak merasakan turbulensi apapun selama 1 jam 35 menit penerbangan. Osaka adalah kota terbesar ketiga Jepang yang berjarak 500km di sebelah barat Tokyo. Sepanjang penerbangan sebagian besar penumpang lebih memilih memejamkan mata, tetapi aku tetap saja menyalakan lampu baca karena tertarik dengan banyaknya informasi pariwisata yang tertuang dalam inflight magazine Peach Aviation. Aku memotret satu demi satu lembar informasi pariwisata yang kubutuhkan selama di Osaka nanti. Rupanya aktivitasku itu diperhatikan oleh seorang pramugari dari belakang. Bahkan pada suatu waktu dia datang menghampiriku.

Berburu informasi di dalam pesawat.

Do you still reading, Sir?” .

Yes, Ms. I need some information from this magazine”.

Oh Ok, Sir. It doesn’t matter. I just make sure”.

Dia tersenyum dan kembali menduduki bangku pramugarinya di belakang. Bahkan setelahnya, kupastikan bahwa sepanjang penerbangan aku tak pernah memadamkan lampu baca itu. Pukul 23: 53, Kapten penerbangan mulai bicara dengan microphonenya untuk sekedar mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di Kansai International Airport Terminal 2. Semua penumpang bergegas bangun, bersiap diri dan merapikan setiap tempat duduknya. Para awak kabin terus mondar-mandir memeriksa sesuai prosedur keamanan untuk proses landing.

Aku masih tak menahu perihal kondisi sesungguhnya di bawah sana karena aku duduk di aisle seat. Aku mampu merasakan ketika pesawat mulai merendah dan sesekali bergoyang untuk menstabilkan posisi. Hingga akhirnya hentakan halus roda pesawat memberitahukanku bahwa Peach Aviation sudah menyentuh runway Kansai International Airport, di Terminal 2 tepatnya.

Tidak ada aerobridge yang menyambut, semua penumpang harus menuruni tangga dan dijemput oleh Narita apron shuttle bus menuju bangunan terminal.

Tiba di Kansai International Airport Terminal 2 tepat tengah malam.

Malam itu, aku memtuskan untuk bermalam di Kansai International Airport Terminal 2 dan akan berangkat menuju ke tengah kota di keesokan hari.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Tokyo ke Osaka bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Menulis Do’a dan Harapan di Meiji Jingū

<—-Kisah Sebelumnya

Besiap untuk petualangan hari kedua di Tokyo. @ platform Stasiun Nakano.

Tragedi kehilangan dompet di Stasiun Nakano membuatku menelan ludah ketakutan, ternyata masih tersisa sisi penakut dibalik keberanianku menjelajah dunia.  Aku sejenak menenangkan diri dengan menyeruput air minum dari free water station di salah satu platform Stasiun Nakano.

Komuter silver berkelir kuning penguasa Chūō Line itupun tiba, kuayunkan langkah memasuki gerbong tengah dan duduk di bangku panjang sisi kiri. Aku sengaja memilih duduk tepat di atas console grill pemanas. Itulah kebiasaanku selama menaiki kereta Negeri Matahari Terbit yang sedang tergelincir ke dalam musim dingin.

Aku terus mengikuti arus Chūō Line menuju timur lalu menukik ke selatan setelah berganti dengan kereta Yamanote Line di Stasiun Shinjuku. Dalam waktu dua puluh menit, aku tiba di Stasiun Harajuku setelah menempuh jarak sejauh tujuh kilometer. Untuk tarif sepanjang itu, aku hanya perlu membayar 170 Yen (Rp. 23.000).

Melintasi koridor panjang Stasiun Harajuku, aku keluar dari West Exit yang langsung berhadapan dengan Meiji Jingū First Torii Gate di sisi kanannya. Tetapi astaga……

Kini aku kehilangan gloves sebelah kanan, bagaimana aku mampu menahan beku jika perlengkapan itu raib?. Dengan terpaksa, aku kembali menelusuri jalurku ketika keluar dari platform stasiun dan akhirnya aku menemukan sebelah gloves itu di tengah koridor setelah automatic fare collection gates. Entah kenapa?, sedari pagi, aku terundung kehilangan barang walaupun kembali tertemukan. Mungkinkah ini permulaan dari segala hal mengejutkan di depan petualanganku?.

Baiklah…Fokus kembali ke langkahku…..

Kini aku sudah berpose di depan gerbang Kuil Meiji. Torii itu begitu khas, pengilham sebuah logo perusahaan otomotif kenamaan Negeri Para Samurai. Kutapaki gravel mulus sebagai jalur masuk menuju kuil. Jalur itu memiliki lebar sedasa meter di sisi kiri, dipadu jalur paving block selebar satu meter berpembatas tambang untuk jalur keluar di sebelah kanan. Sementara di beberapa bagian, jalur itu di batasi oleh pagar-pagar bambu yang tersusun rapi setinggi pinggang orang dewasa.

Di depan gerbang Stasiun Meiji-jingumae “Harajuku” (Chiyoda Line) sebagai bagian dari Tokyo Metro Subway Network. Tetapi aku tak menaiki Tokyo Metro itu….Alias nampang doang….Hohoho.
Di depan Meiji Jingū Torii.
Drum-drum Sake (kazaridaru).
Drum-drum anggur berbahan kayu.

Sementara seorang petugas tua, menyingkirkan dedauanan dari gravel menggunakan backpack leaf blower. Dedauan itu hanya perlu dipinggirkan ke sisi jalan dan dibiarkan menjadi kompos alami, begitu ramah lingkungan.

Dalam empat ratus meter, di sisi kanan, aku terpesona dengan susunan rapi kazaridaru yang didedikasikan untuk Meiji-tennō dan Shōken-kōgō. Sedangkan tepat di sisi kiri adalah susunan drum anggur terbuat dari kayu.

Sampai pada Torii utama kuil, setiap pengunjung wajib membersihkan tangan di Temizuya dengan air menggunakan gayung-gayung bertangkai panjang. Ritual membasuh diri atau misogi ini bertujuan untuk memurnikan tubuh dan pikiran sebelum berdiri di depan dewa untuk berdoa.

Temizuya (paviliun bersuci shinto untuk pemurnian) di Meiji Jingū.
Di tengah kuil.

Sejenak aku terhenti setelah melewati gerbang utama, aku terkagum-kagum karena luas dan besarnya Meiji Jingū . Inilah kuil yang dipersembahkan untuk menghormati roh Meiji-tennō , penguasa Jepang masa lalu.

Sementara itu di beberapa bagian kuil sedang dilakukan renovasi. Para pekerja berseragam carpenter warna putih, lengkap dengan berbagai peralatan pertukangan di pinggang serta mengenakan safety helmet tampak berdiri diatas step ladder, sibuk melakukan perbaikan.

Sementara di ujung kuil, tampak para turis mengantri pada sebuah toko yang menjual papan ema dan omamori. Toko itu tampak dijaga oleh wanita-wanita cantik berbaju kimono putih berpadu merah, mereka tampak sopan dan anggun melayani para pengunjung.

Sementara aku meyibukkan diri untuk menuliskan sebuah do’a pada selembar kertas, lalu kumasukkan ke dalam sebuah kotak. Sedangkan beberapa wisatawan menulis do’a dan harapan pada papan ema yang dibelinya, kemudian menggantungkannya pada spot yang telah disediakan.

Para carpenter sedang bertugas.
Toko penjual omamori yaitu jimat yang diyakini masyarakat Jepang dapat membawa keberuntungan dan keselamatan.
Aku berdo’a apa ya kira-kira?
Papan ema, plakat kayu kecil yang dihiasi dengan seni tulisan tangan yang mengungkapkan harapan

Tak terasa satu setengah jam berjalan hingga akhirnya aku selesai menelusuri seluruh bagian kuil. Inilah destinasi terakhirku di Tokyo, karena aku akan segera menuju Narita International Airport untuk mengejar penerbangan Peach Aviation bernomor MM6320 yang akan berangkat pada pukul 21:35.

Akhirnya kuputuskan untuk segera menuju ke Stasiun Harajuku dan bergegas menuju Stasiun Tokyo, karena aku berencana menggunakan JR Bus Kanto menuju bandara.

Mari……..

Bersiap diri di Stasiun Harajuku….Menuju Stasiun Tokyo.

Kisah Berikutnya—->

Namanya Maeda….Vanilla Air JW 130 dari Kaohsiung (KHH) ke Tokyo (NRT)

Jalur pernerbangan Vanilla Air JW 130 (sumber: https://www.radarbox.com/).

Pramugari ayu berbalut seragam biru dengan bunga di selipan telinga kanannya itu terlihat paling muda….Juga paling cantik.  Senyumnya juga paling ceria.  Berambut pendek  kecoklatan sepanjang bahu tetapi sedikit lebih panjang di potongan sisi kirinya dan sudah barang tentu, paras oriental menjadi penyempurna keelokannya.

Namanya Maeda….

Entah, kalau dirunut, dia terletak di silsilah yang mana dengan Tadashi Maeda, seorang Laksamana Muda yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia.

Nama Maeda disejarahkan sebagai sebuah Klan Samurai di Jepang. Memiliki sifat jujur, berani, setia dan memegang teguh komitmen pada kebenaran.

Berburu Yen di Kaohsiung International Airport.
Bersiap check-in.
Yes, boarding pass ditangan.
Menuju gate setelah diinterogasi cukup lama di imigrasi.

Pagi itu, dia menjadi yang tersibuk di atas Laut China Timur. Seorang keluarga asal Tiongkok terlalu keras kepala mengakuisisi deret bangku demi berkumpulnya satu keluarga kecil dalam penerbangan Vanilla Air kali ini. “Si Ayu” Maeda terus membujuknya untuk duduk sesuai nomor yang tertera dalam boarding pass. Ternyata suara lembutnya tak pernah berhasil membujuk keluarga itu untuk berpisah hingga separuh waktu penerbangan. Bahkan Maeda merayunya hingga berjongkok di depan penumpang itu.

Entah kenapa sampai sekarang pun aku masih teringat dengan si Maeda ini,

Maeda menjadi sebuah bonus dari penetapan pilihan pada maskapai yang sebenarnya aku tak mengenal baik sebelumnya. Pencarianku pada situs penyaring penerbangan berdasarkan beberapa kategori, memilihkanku pada maskapai pengakuisisi Air Asia Jepang ini. Di kemudian hari, tiket seharga Rp. 800.000 itu menerbangkanku dari Kaohsiung di Taiwan menuju Tokyo.

Bahkan waktu-waktuku sebelum bertemu Maeda ini tak seindah yang kubayangkan. Aku memaksakan diri tidur semalaman di Kaohiung International Airport di sebuah selasar Departure Hall.

Bangun pagi….Bahkan masih terkantuk pun, karena terbawa obrolan dengan penumpang lain hingga lewat tengah malam, aku bersungut-sungut menuju meja check-in setelah menukarkan sisa New Taiwan Dollarku dengan Yen.  Konter check-in bernomor D18 dengan LCD bercantum nama maskapai menyelesaikan proses itu dengan cepat.

Gate 30, tempat menunggu Vanilla Air JW 130 datang.
Boarding yang membahagiakan.
Cari bangku bernomor 27D.

Masalah lain muncul,

Di meja imigrasi, terjadi agenda klarifikasi segala yang membuatku dipisahkan dari antrian dan di dudukkan pada sebuah bangku di ujung deretan konter.

Why do your visa look like this”, Visa Waiverku dicurigai.

It’s a new waiver visa for Indonesian e-passport holder,Mam”

Wait, let me check to my boss!”.

Wanita muda itu tergopoh meninggalkanku menuju sebuah ruangan. Aku masih tenang saja menantinya kembali, hingga 15 menit lamanya.

Ahh…Aku pasti lolos”, batinku.

Ok, sir, It’s valid”, celotehnya membuyarkan beku mukaku yang sedang mengamati sebuah pojok bangunan terminal.

Setelahnya, dia melepasku untuk memasuki sebuah koridor berplafon lengkung dangan pohon-pohon artifisial di sisi kiri menuju ke gate nomor tiga puluh.

Itu dia “Si Ayu” Maeda.
Disembarkation Card dan Customs Declaration untuk memasuki Jepang.

Lalu bagaimana dengan keluarga Tiongkok yang sedari tadi dibujuk “Si Ayu” Maeda?

Bersyukur, pimpinan pramugari turun tangan membantunya dan berhasil memisahkan keluarga kecil itu sesuai prosedur penerbangan.

Mengesankan! Vanilla Air menjadi maskapai  nomor empat belas dari dua puluh delapan jenis maskapai yang telah kunaiki. Bersyukur tentunya bisa menikmati jasa penerbangan milik anak perusahaan ANA (All Nippon Airways) ini.

Pagi itu pilot menjelaskan ada sedikit badai yang berasal dari Laut Filipina, tapi syukurlah, turbulensi itu tak berlangsung lama dalam perjalanan. Pernebangan menggunakan Airbus A320, sejauh 2.500 Km, berselang tiga jam dengan ketinggian 37.000 feet ini sungguh menyenangkan. Mungkin saja, karena ini adalah titik kulminasiku dalam menjelajah Asia. Siapa sih yang tak berhasrat mengunjungi Negeri Matahari Terbit itu.

Pukul sebelas lebih beberapa menit akhirnya aku tiba Narita International Airport.

Yuk berpetualang di Tokyo!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Kaohsiung ke Tokyo bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Setelahnya—->