Terkesan pada The Space Inn

Berpetualang ke Negeri Jiran adalah hal mudah nan menyenangkan. Selain kuliner yang familiar dengan lidah Indonesia, wisata mereka juga jamak menyediakan penginapan super murah yang memberikan kemungkinan bagi siapapun untuk menjelajah negeri itu.

Pagi itu, baru saja aku melompat turun dari myBAS yang telah membawaku dari Bandar Udara Sultan Mahmud, kini aku sudah saja membalikkan badan kembali ketika baru saja menjauh ke utara meninggalkan Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Sejenak  kusempatkan menatap dari kejauhan, menikmati lagi kesederhanaan terminal bus andalan “Negeri Keropok Lekor” itu.   

Sebentar kemudian aku menuju Kedai Alat Telekomunikasi WIN DOTCOM, kedai teramai di ruas Jalan Syed Hussein demi berburu SIM Card lokal dan layanan internet yang akan kugunakan selama empat hari berpetualang di Malaysia.

Di dalam kedai, aku ditawarkan berbagai jenis SIM Card oleh si empunya toko yang berketurunan Tionghoa. Sedangkan seorang gadis muda berjilbab hitam berwajah otentik Melayu dengan sabar menjelaskan ketidakfahamanku atas penjelasan cepat si empunya toko. Di akhir perniagaan itu, aku mendapatkan SIM Card dengan kuota 2 GB seharga 25 Ringgit. Harga yang sangat terjangkau, paling tidak aku telah dijamin oleh Hotlink selama 10 hari untuk memiliki akses berselencar di dunia maya.

Kini aku mulai menuju selatan, memasuki jalanan di dalam blok, melintasi Menara Kembar PB (Paya Bunga) Square, milik Perbadanan Memajukan Iktisad Negeri Terengganu (PMINT) yang menjadi Pusat Transformasi Bandar Terengganu atau khalayak lebih mengenalnya dengan nama UTC (The Urban Transformation Centre). Suasana mulai bergairah pagi itu, aktivitas rutin warga Terengganu baru saja dimulai.

Paya Bunga Square di pagi hari.
Perempatan di Masjid Jalan Abidin.
Menara PMINT di sisi perempatan.

Melihat arsitektur Menara Kembar PB Square, aku mulai faham bahwa ukiran khas Kuala Terengganu selalu diejawantahkan ke setiap bangunan kota. Apik dan elegan.

Meninggalkan Menara Kembar PB Square, aku kini mengarah ke selatan melalui Jalan Masjid Abidin hingga tiba di sebuah perempatan besar berhiaskan Slogan Sign Board Visit Beautiful Terengganu”. Menara PMINT yang difungsikan sebagai Majlis Bandaraya Kuala Terengganu tampak kokoh menempati salah satu pojok perempatan dan memamerkan slogan utama kota “Bandaraya Warisan Pesisir Air”.

Selesai menunggu pergiliran warna hijau traffic light, aku menyeberangi perempatan, melanjutkan menuju ke selatan. Memasuki Jalan Air Jernih, seratus meter di depan, aku berbelok ke kanan pada sebuah pertigaan. Letak The Space Inn tak jauh dari pertigaan itu. Penginapan yang kupilih itu adalah sebuah dormitory yang memanfaatkan kompleks ruko di sepanjang Jalan Engku Pengiran Anom 2.

Langkahku akhirnya sampai di depan pintu penginapan, tetapi aku diselimuti kebingungan karena pintu bertralisnya terkunci rapat. Untuk beberapa saat aku hanya terdiam berdiri di depan pintu penginapan tanpa satu ide apapun. Bahkan trotoar di sekitar tampak sepi, tak memungkinkan bagiku untuk bertanya kepada siapapun. Beruntung, selang sepuluh menit kemudian, ada seorang tamu penginapan menuruni tangga dan hendak keluar dari penginapan. Momen inilah yang kemudian kumanfaatkan untuk menyelinap masuk.

Aku menaiki tangga dan akhirnya tiba di meja resepsionis lantai 2 yang dijaga oleh si empunya penginapan, laki-laki setengah baya keturunan Tionghoa. Dia menyapaku ramah dan tentu menanyakan bagaimana aku bisa masuk karena tak memiliki access card. Aku menceritakan “teknik curang”ku dan dia terbahak mendengarnya.

Walhasil dia memberikanku access card untuk keluar masuk hotel setelah menyerahkan paspor untuk discan dan biaya menginap senilai 41 Ringgit per malam. Ihwal administrasi telah rampung, aku pun naik ke lantai 3 demi mencari bunk bed sesuai dengan nomornya yang tertera pada bagian belakang access card.

The Space Inn.
Ruang resepsionis.
Tempat tidurku.

Melepas sepatu di bagian depan luar, aku mulai memasuki kamar sepi dengan sejuk pendingin ruangan. Tidak semua bunk bed terisi sehingga memungkinkan bagiku untuk berpindah menempati kasur yang kusuka, bersebelahan sekat dengan pejalan asal Iran dan Jepang.

Tuan Okamoto

Pejalan asal Negeri Matahari Terbit itu berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di ibu kota, Okamoto namanya. Aku berkenalan dengannya ketika dia sibuk mengotak-atik gembok kecil yang disangkutkan pada locker handle penginapan.

There’s no key in my locker, did you get that padlock from the reception desk?”, aku memberanikan diri bertanya.

Oh, of course not. I bought it by myself”, dia menjawab penuh senyum.

Oh, Okay. I’ll better put my backpack on the bunk bed”, aku menimpali dengan mengernyitkan dahi.

Dari percakapan itulah, kami berdua berkenalan dan menjadi teman karib di penginapan.

Akhirnya sudah menjadi kebiasaan, saat pagi dan menjelang malam tiba, sebelum dan sesudah berpetualang, selalu saja Tuan Okamoto menjadi yang pertama menyapaku di meja shared-khitchen. Membuatku tak kuasa menolak ajakannya untuk sekedar berbincang ihwal apa saja sembari menyeruput kopi bersama. Racikan kopi tubruk buatan Tuan Okamoto selalu saja bercitarasa spesial. Entah kopi jenis apa yang dibawanya dari Tokyo.

Dapur bersama.
Tuan Okamoto yang Bahasa Inggrisnya jago….Tetapi tetap saja English aksen Jepang.

Pertemanan dengannya membuatku lebih mengenal budaya Jepang dan beberapa lokasi menarik di Jepang yang disarankannya untuk kukunjungi, Okinawa salah satunya. Dia pun merasa terhormat karena aku pernah mengunjungi negerinya tiga tahun silam. Begitupun aku, merasa terhormat karena dia sudah berpetualang hingga Aceh hanya demi menikmati kopi asli dari daerah di ujung barat Indonesia itu.

Mencuci

Keunggulan penginapan mungil ini adalah tersedianya sebuah ruang yang menghubungkan share-bathroom dan ruang tidur. Di ruangan kecil itulah, pengelola penginapan menyediakan hanger dan kipas angin. Selama menginap, kuperhatikan tak ada satupun pengunjung yang memanfaatkan ruangan penghubung itu.

Kecuali aku yang dengan santainya menggunakan ruangan ini untuk menjemur t-shirt yang setiap sore kucuci di shared-bathroom. Mencuci bukanlah hal yang rumit bagiku ketika berkenala, cukup mengucek t-shirt, celana panjang dan kaos kaki menggunakan sabun mandi, kemudian membilasnya di bawah kran, memerasnya kuat-kuat kemudian menggantungnya dengan hanger di ruang penghubung, tunggu saja esok pagi sampai kering..Beres kan?. Itulah mengapa lima potong t-shirt cukup untuk menemani perjalanan panjangku yang bahkan bisa berlangsung selama tiga minggu.

T-shirtku tuh lagi dijemur.
Kamar mandi bersama.

Air Kran

Adalah buah dari percakapan ringan dengan staff The Space Inn yang bertugas siang itu, akhirnya aku mendapatkan informasi bahwa air kran di Kuala Terengganu sangat aman untuk dikonsumsi secara langsung. Bahkan dia memperagakan di depanku bagaimana dia menadahkan gelas di bawah kran dapur, mengalirkan air kran dan kemudian menenggaknya dengan santai. “Tentulah aman….Lihat sajè, tiap hari sayè minum air nih”, selorohnya ringan sambil tersenyum tipis.

Tiga hari di Kuala Terengganu, bahkan aku tak mengeluarkan seringgit pun untuk berbelanja air minum. Harga air minum ukuran 1,5 liter di Kuala Terengganu berkisar 3 Ringgit, jika kamu berada tiga hari saja di kota itu, berarti kamu harus menganggarkan 18 Ringgit hanya untuk berbelanja air minum.

Bagaimana?….Bermanfaat kan air kran Kuala Terengganu?

Jadi, kalau kamu pergi ke Kuala Terengganu, mau nginep dimana???….

Agosto Inn: Mencari Penginapan Dadakan

<—-Kisah Sebelumnya

Sebentar lagi pukul dua siang, kondisi awan semakin tebal di atas sana, aku pun telah merangsek turun dari kuil utama Batu Caves, menuruni 272 anak tangga dan kemudian bergegas menuju Stasiun Batu Caves.

Sesampai di stasiun aku langsung membeli tiket Kereta Komuter KTM Laluan Seremban seharga 2 Ringgit (Rp. 6.800) demi menuju KL Sentral. Sepanjang perjalanan pulang-pergi, aku tak tahu kenapa jalur ini selalu sunyi. Gerbong kereta yang masih tampak bersih dan baru, stasiun-stasiun yang dilewati pun masih terlihat bagus.  

Menempuh jalur kereta sejauh 16 kilometer, aku tiba di Lantai 1 KL Sentral’s Transit Concourse hanya dalam waktu setengah jam. Aku segera menaiki escalator menuju KL Sentral’s Main Concourse untuk berburu token menuju Stasiun Pasar Seni, kali ini aku harus menaiki LRT Laluan Kelana Jaya. Perlu mengeluarkan ongkos sebesar 1,3 Ringgit (Rp. 4.500) untuk mendapatkan akses menaiki LRT itu. Inilah pertama kalinya bagiku menggunakan ticket vending machine di Negeri Jiran itu. Tetapi kali ini tak butuh banyak waktu untuk memahaminya.

Geblek….Sandal….

Mendapatkan tiket berwujud token berwarna biru, aku segera melewati automatic fare collection gate menuju lantai dua untuk menaiki LRT Kelana Jaya. Hanya perlu menunggu tiga menit hingga kereta itu tiba lalu aku segera melompat ke dalam gerbongnya.

Tak berjeda satu stasiun pun untuk menuju Stasiun Pasar Seni. Aku tiba dalam sepuluh menit sejak memasuki LRT empat gerbong itu. Stasiun Pasar Seni yang berwujud stasiun layang itu menampilkan pemandangan kawasan Central Market beserta  aliran Sungai Kelang yang mengalir deras karena hujan. Rupanya sungai-sungai di Kuala Lumpur juga belum sepenuhnya lepas dari masalah sampah, terlihat beberapa sampah hanyut dibawa arus sungai itu.

Hujan lebat membuatku harus berdiam beberapa saat di platform Stasiun Pasar Seni. Tak ada pilihan karena aku tak memiliki payung ataupun jas hujan. Aku baru tiba di Kuala Lumpur pagi tadi sebelum memutuskan mengeksplorasi Batu Caves terlebih dahulu sebelum memasuki pusat kota. Kini aku memiliki satu tujuan ketika memasuki daerah Pasar Seni….Yups, mencari penginapan.

Kala itu aku masihlah backpacker amatiran yang tak berhasil menyiapkan satu penginapan sebelum berangkat. Beruntung aku tak ditanya perihal hotel oleh petugas imigrasi, mengingat inilah pertama kalinya aku mengunjungi Kuala Lumpur. Tadi pagi, petugas imigrasi KLIA2 hanya menanyakan tiket kepulangan yang tentu sudah kusiapkan jauh hari.

Menunggu beberapa saat, hujan tak kundung reda, masih menyisakan gerimis lembut. Kiranya aku tak boleh kehilangan banyak waktu hanya untuk menunggu hujan reda. Kupaksakan diri menembus gerimis, menyusuri Jalan Sultan, melewati lokasi proyek pembuatan jalur MRT di sisi kanan dan berbelok ke kiri untuk menyisir Jalan Tun HS Lee untuk mencari penginapan. Setelah beberapa waktu mencari, aku tertarik pada logo Trip Advisor yang terpajang di sebuah pintu kaca penginapan kecil. Agosto Inn namanya. Maka, aku tak ragu memasukinya.

Halo, Pak. Apakah Anda masih memiliki satu kamar untuk dua malam?”, aku bertanya dalam Bahasa Indonesia yang seharusnya dia faham.

Can you speak English, Please?”, resepsionis sekaligus pemilik penginapan itu ternyata tak bisa berbahasa Melayu.

Oh, sorry. Do you still have a room for two nights?”, aku menjelaskan pertanyaan yang sama.

Oh, of course. But I don’t have a bed in the dorm. Would you like to use a single room?”.

Can I see the room?”.

Oh, sure….Follow me, Sir!”, dia beranjak dari meja resepsionis dan memimpin langkah menuju lantai atas.

Aku mengikutinya menuju ke ujung koridor untuk melihat kamar terakhir yang dimaksud. Kemudian bersambung menunjukkan kamar mandi bersama di ujung yang berlawanan.

Hallo, Sir”, seorang staff yang sedang membersihkan kamar mandi bersama menyapaku. Nanti aku akan mengenalnya sebagai sosok asal Bangladesh yang ramah.

Hi…”, aku membalas senyumnya.

Aku tak akan berfikir panjang dan memutuskan mengambil kamar itu. Hari sudah sore, tak ada waktu lagi untuk mencari penginapan. Aku harus segera menuju KLCC untuk mengunjungi menara kembar kenamaan Negeri Jiran.

Yes, Sir….I’ll take your last room….How much?”, aku mengambil keputusan.

Sixty Ringgit, Sir (Rp. 208.000) for two nights….Come on follow me, I’ll give you the room key”.

Kamar single milik Agosto Inn.

Transaksi itu selesai di meja resepsionis. Aku bernafas lega, karena telah menemukan penginapan untuk dua malam ke depan.

Saatnya berburu destinasi.