Muttrah Fish Market: Tengara Baru di Sepanjang Corniche

<—-Kisah Sebelumnya

Sebuah bangunan kecil nan unik menarik perhatianku ketika berada di lantai teratas beranda utara Muttrah Souq. Bangunan itu berada di sisi timur pasar. Maka tanpa berpikir panjang, aku pun menuruni tangga dan melangkahkan kaki menujunya.

Hanya perlu bergerak sejauh seratus meter, maka aku pun tiba di depan bangunan mungil itu.

“Omani Heritage Gallery….”, aku membaca sebuah signboard yang terpajang di bagian depan bangunan.

Tanpa pikir panjang aku pun memasukinya….

Di ruangan bagian dalam aku meliat etalase yang memajang dan menjual kerajinan tangan dan buah tangan khas Oman. Beberapa turis asal Eropa tampak khusyu’ menawar beberapa produk asli masyarakat Muttrah itu.

Berdasar informasi yang kudapatkan, outlet ini memang didirikan untuk memfasilitasi para pengrajin lokal dalam memasarkan karyanya. Kerena berfungsi sebagai fasilitator maka Omani Heritage Gallery menyerahkan semua keuntungan penjualannya kepada para pengrajin. Salah satu hasil kerajinan yang kulihat di salah satu etalasenya adalah Frankincense Essential Oil yang merupakan minyak olahan khas Timur Tengah.

Untuk beberapa saat, aku bisa menikmati karya-karya otentik tersebut, untuk kemudian aku pun keluar dari ruangan dan berniat untuk melanjutkan eksplorasi.

Aku kembali berjalan menuju ke arah barat. Tujuanku adalah ujung barat Al Bahri Road.

Aku akan mengakhiri petualanganku di titik itu”, aku telah memutuskan.

Kali ini aku berjalan mengikuti kontur depan pertokoan yang kebanyakan menjual kain-kain sutra. Beberapa diantaranya menjual perhiasan yang terbuat dari perak. Beberapa saat kemudian berganti melintasi Masjid Nabawi-Muttrah yang didesain dengan warna dominan biru.

Dalam setengah kilometer akhirnya aku benar-benar tiba di ujung barat Al Bahri Road yang ditengarai dengan keberadaan Al Saidia School.

Al Saidia School yang berada di Muttrah merupakan sekolah cabang ketiga yang sudah berusia 63 tahun. Sedangkan Al Saidia School sendiri adalah sekolah pertama yang berdiri di Negara Oman pada masa modern. Keberadaan sekolah berusia tua di sini menunjukkan bahwa area Muttrah telah lama memegang peranan penting dalam perkembangan Kesultanan Oman.

Dari titik itulah aku melihat dengan jelas bangunan besar modern dan futuristik, letaknya tepat di sisi seberang Al Saidia School sedikit ke barat.

Aku pun bergegas mendekatinya….

Begitu tiba tepat di hadapan bangunan raksasa itu, aku membaca signboard di depannya.

Mutrah Market For Fish, Fruits & Vegetables….Oh, pasar ikan”, aku bergumam pelan.

Pasar ikan itu berwarna putih dengan atap yang dibuat bergelombang bak permukaan lautan. Area parkir yang luas tampak dipenuhi oleh mobil-mobil warga yang terparkir dengan rapi. Sementara di bagian belakang pasar adalah Sultan Qaboos Port yang berdampingan dengan dermaga beton yang menyandarkan perahu-perahu mungil nelayan.

Sore itu pasar tak begitu ramai, mungkin aku tidak datang di puncak keramaiannya. Biasaya pasar ikan memang ramai pada dini hari hingga menjelang fajar. Tetapi toh aku masih bisa menemukan beberapa pedagang yang menjajakan ikan di lapak-lapaknya.

Omani Heritage Gallery.
Pertokoan di sisi selatan Al Bahri Road.
Al Saidia School.
Muttrah Fish Market.
Dermaga nelayan di belakang Muttrah Fish Market.

Muttrah Fish Market adalah tengara baru di tepian pantai, tepatnya di salah satu titik dari corniche yang ramai. Pasar ini diproyeksikan Kesultanan Oman sebagai pusat industri perikanan Oman yang terus berkembang dengan pesat.

Hal ini tentu sangat selaras dengan semangat Muttrah yang telah melegenda dengan sejarah panjangnya sebagai pusat perdagangan komersial, pelabuhan, dan tradisi perikanan.

Dengan mencapai titik ini, sudah dipastikan petualangan pada hari perdanaku di Oman telah usai.

Sampai jumpa di area lain pada keesokan hari…..

Kisah Selanjutnya—->

Muttrah Souq: Al Dhalam yang Mengesankan

<—-Kisah Sebelumnya

Menjelang pukul setengah tiga sore, aku memutuskan untuk meninggalkan benteng.

Aku belum juga sampai di bagian akhir Muttrah. Aku harus bergegas sebelum gelap menggantikan terang”, gumamku ketika menuruni anak-anak tangga Muttrah Fort.

Beberapa saat kemudian, tibalah aku di gerbang Muttrah Souq yang berada tepat di sisi utara Muttrah High Street.

Kali ini aku tidak kembali ke jalanan utama area Muttrah, yaitu Al Bahri Road. Melainkan aku memutuskan untuk melintasi jalan belakang demi menuju ujung barat Muttrah.

Muttrat High Street adalah jalanan kecil yang terletak di belakang deretan bangunan perkantoran serta barisan pertokoan yang menjejali sisi selatan Al Bahri Road.

Tapi entah kenapa, menjelang pukul tiga sore, pertokoan di sekitaran Muttrah High Road menutup pintunya. Tetapi mobil-mobil pribadi tampak padat berjejer di area-area parkir gedung dan pertokoan. Untuk sementara aku menghiraukan keanehan itu.

Aku terus saja melangkahkan kaki, aku paham bahwa jika meneruskan langkah menuju barat maka aku akan tiba di pasar tradisional terkenal, Muttrah Souq nama tempat perdagangan itu.

Benar adanya….Dalam jarak setengah kilometer, aku akhirnya tiba di pintu selatan Muttrah Souq. Sebelum memasuki bagian dalam pasar, aku mencoba untuk diam dan berdiri sejenak mengawasi sekitar. Mengumpulkan beberapa informasi dari segenap papan-papan pengumuman yang berada di area parkir.

Dari sebuah papan pengumuman lebar berwarna merah, aku akhirnya paham bahwa waktu kerja normal di kawasan pasar adalah dari pukul 08:00 – 13:30 dan dilanjutkan pada pukul 16:00 – 22:00, sedangkan pukul 13:30 -16:00 adalah waktu jeda yang digunakan untuk beristirahat.

Akhirnya aku mulai memasuki gerbang pasar….

Kesan pertama yang menyelimuti bilik pengalamanku adalah gelapnya suasana di dalam pasar. Cahaya lampu yang tak begitu benderang menjadi satu-satunya sumber cahaya yang membantu para pedaganng dan pembeli dalam bertransaksi.

Ciri khas Muttrah Souq yang gelap ini untuk kemudian menjadikan pasar tersebut memiliki julukan lokal Al Dhalam. Hal ini dikarenakan cahaya matahari yang tidak bisa masuk ke dalam pasar karena rapatnya kios-kios di dalamnya. Al Dhalam sendiri berarti kegelapan.

Suasana di dalam Muttrah Souq sendiri tampak begitu ramai ketika aku tiba, padahal aku tiba saat jeda istirahat pasar. Tak sedikit para wisatawan yang berburu souvenir di pasar tersebut. Bukhoor (minyak wangi), peralatan yang terbuat dari perak, barang-barang antik, pakaian tradisional ataupun rempah-rempah menjadi barang dagangan pavorit yang diperjual belikan di dalam pasar

Barang-barang antik yang mengkilap.
Turis-turis Eropa sedang berburu souvenir.
Tetap saja ramai walau sedang jeda istirahat.
Lampu-lampu gantung yang indah.
Kompas-kompas besar nan antik.
Suasana di sekitar gerbang utara Muttrah Souq.

Menurut catatan sejarah, area Muttrah sejak dulu memang sangat cocok menjadi pelabuhan alami yang kemudian otomatis membuat Muttrah bertransformasi menjadi kawasan perdagangan. Aktivitas perdagangan itu untuk kemudian membutuhkan keberadaan sebuah pasar sebagai pusatnya, oleh karena itulah Muttrah Souq didirikan oleh Kesultanan Oman.

Usaha kesultanan dalam menjaga otentiknya Muttrah Souq menjadikan pasar tradisional tersebut tetap menampilkan kekhasan budaya Oman yang kental didalamnya. Memiliki keunggulan dalam kelengkapan barang yang diperdagangkan menjadikan Muttrah Souq sebagai salah satu tujuan wisata terpopuler di Oman. Bahkan mayoritas wisatawan menjadikan Muttrah Souq sebagai lokasi terbaik untuk berburu souvenir.

Kunjunganku ke Muttrah Souq sendiri hanya berlangsung tak lebih dari satu jam, selain tak ada niatan untuk mencari souvenir apapun, waktu juga sudah mendekati pukul empat sore dan aku masih memiliki satu tujuan terakhir di ujung barat area Muttrah pada hari pertamaku di Oman.

Yuk ikut aku…..

Kisah Selanjutnya—->