Menentang Pajak Kolonial Versi Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Hanya ada Noah yang mendengkur tergelepar karena efek residual dari mabuk semalam di De Kock Cafe lantai 1. Aku berusaha tetap senyap untuk berguyur di shower ujung kamar. Bahkan hingga aku telah siap berkelana pun, dengkurnya tak berubah nada sama sekali.

Cafe bawah tetap terbuka lebar tanpa penjaga saat aku meninggalkan penginapan dengan kondisi setengah gelap, sepi dan dingin yang masih menusuk.

Menyusuri jalanan yang sama ketika petang kemarin berburu pesona Jam Gadang, hanya saja, kali ini hanya aku seorang diri yang terlihat sangat tergesa dalam sunyinya pagi.

Bank Nagari dan Novotel kembali kusalip begitu saja tanpa ekspresi, aku sudah melihatnya sore kemarin. Begitupun, kulewati Jam Gadang tanpa impresi. Sama, mungkin karena aku telah merenggut pesonanya sehari lalu. Aku hanya berfikir untuk segera mendaratkan langkah di sebuah taman kota.

Bank Nagari Cabang Bukittinggi.

Namun, sebelum memasuki taman, aku sedikit tertarik dengan pesona bangunan besar berwarna kuning emas. Adalah Balai Sidang Bung Hatta yang menjadi Convention Center andalan di Kota Bukittinggi.

Balai Sidang Bung Hatta.

Pukul 07:10, aku mulai memasuki taman itu, berada menjorok di bawah permukaan Jalan Istana yang ada di baratnya. Sedangkan gedung tinggi abu-abu milik Bank BNI Bukittinggi membatasi pandangan mata di timurnya.

Foto diambil dari sisi selatan.

Focal point dari taman terletak pada tugu hitam artistik di lingkaran tengahnya. Itulah Tugu Pahlawan Tak Dikenal yang didesain oleh seniman pahat asal Kota Padang Panjang, Hoerijah Adam. Nama Hoerijah Adam sendiri kemudian diabadikan menjadi nama Bengkel Bari di Taman Ismail Marzuki paska kecelakaan pesawat Merpati Nusantara jenis Vickers Viscount yang ditungganginya di Samudra Hindia.

Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1905. Perlawanan itu sendiri terjadi karena penolakan penerapan pajak pendapatan sebesar 2% untuk kaum pribumi atas segala bentuk usaha perdagangan yang dilakukan.

Tugu berbentuk lingkar ular naga.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Jenderal Abdul Haris Nasution pada 15 Juni 1963 yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staff ABRI. Dan dua tahun kemudian tugu ini diresmikan.

Pada satu sisi monumen, diletakkan kutipan lantang seorang sastrawan terkenal yang juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, tak lain adalah Muhammad Yamin:

Mati Luhur Tak Berkubur

Memutuskan Jiwa Meninggalkan Nama

Menjadi Awan Di Angkasa

Menjadi Buih Di Lautan

Semerbak Harumnya Di Udara

Ternyata, Bukittinggi menyimpan banyak sejarah perjuangan bangsa yang baru kuketahui setelah mengunjunginya.

Asyik ya….Jalan-jalan sembari mengenal sejarah bangsa.

Opposing Colonial Tax in Version of Unknown Heroes Monument

There was only Noah who snoring flounder due to residual effects of drunk last night at De Kock Cafe’s 1st floor. I tried to remain quiet to bath under shower at edge of room. Even until I was ready to wander, his snoring didn’t change at all.

Cafe’s 1st floor remained wide open without a guard when I left hotel in half-dark, quiet and still cold.

Down through same road when yesterday afternoon hunting for the charm of Gadang Clock Tower, only this time, I was alone who looked very rushed in the quiet of morning.

Nagari Bank and Novotel were once again overtaken without expression, I had seen them yesterday afternoon. Likewise, I passed Gadang Clock Tower without any impression. Same, maybe because I snatched its charm a day ago. I just thought to immediately landing my step in a city park.

Bukittinggi branch of Nagari Bank.

However, before entering the park, I was a little interested in the charm of a golden yellow large building. It is Balai Sidang Bung Hatta as mainstay Convention Center in Bukittinggi city.

Balai Sidang Bung Hatta.

On 7:10 hours, I began to enter the park which is located under Istana Street surface in west. While a gray high building which is owned by Bank Negara Indonesia (BNI) Bukittinggi limited my eyes to east.

Photo taken from south side.

Park focal point lies in an artistic black monument in its middle circle. That’s the Unknown Heroes Monument which was designed by sculpture artists from Padang Panjang City, i.e Hoerijah Adam. Hoerijah Adam name itself was later enshrined as a name of Dance Workshop in Taman Ismail Marzuki, Jakarta after Merpati Nusantara airplane accident of Vickers Viscount type which she rode in the Indian Ocean.

This monument was built to commemorate heroes resistance who couldn’t be identified with certainty in opposing Dutch Colonialism on June 5th, 1905. The resistance itself was due to application rejection of a 2% income tax for natives over all forms of trade which they undertaken.

The monument which is form of a dragon circle.

Laying of the first stone was carried out by General Abdul Haris Nasution on June 15th, 1963 who was then serving as Chief of Armed Forces Staff. And two years later this monument was inaugurated.

On one side of monument, there is a loud quote from a famous writer who is also an Indonesia National Hero, none other than Muhammad Yamin:

Noble Dead without Tomb

Deciding Soul and Leaving Name

Become Cloud in Space

Becoming Froth in Ocean

Spread Out Its Fragrant in Air

As it turned out, Bukittinggi kept a lot of history of nation struggle which I had only just found out after visiting it.

It was fun….Backpacking while getting to know about nation history.