Philippine Airlines PR 685 dari Doha (DOH) ke Manila (MNL)

Jalur penerbangan PR 685 (sumber: https://www.radarbox.com).

Jika ingin merasakan sensasi menunggang airline komersial pertama di Asia maka naiklah Philippine Airlines, maka secara otomatis kamu akan tertasbih telah menaiki maskapai tertua di Benua Asia. Dan Philippine Airlines menjadi maskapai ke-28 yang kunaiki sepanjang perjalananku menjadi seorang backpacker.

Dimulai dengan insiden kecil  yang cukup membuat malu. Sore itu area depan konter check-in tampak melompong, kontan setelah nomor pernerbangan PR 685 berstatus “open”, aku melenggang kangkung menelusuri liukan alur yang dibentuk oleh boarder tape.

Dan tiba-tiba terdengar suara lantang….

Hi, please queue, Sir!” tegur ground staff yang otomatis mengerem langkahku. Dia menunjuk antrian penumpang asal Philippines yang bermula dari sebuah tiang bangunan. Mereka semua menertawakanku dan menyungkurkan mukaku dalam rasa malu. Berusaha tersenyum tetapi tetap saja tak bisa menyembunyikan kecut muka, aku melewati para penumpang itu yang hampir sepanjang antrian tertawa memandangiku. Hingga akhirnya, aku sudah berdiri di antrian, jauh di belakang.

Check-in counter.
Tiket ke-11 dalam petualangan akhir tahunku.

Meninggalkan area check-in dan menyelesaikan urusan di konter imigrasi, langkahku tertahan sekejap.

Asal mana pak?“, sapaku pada dua lelaki paruh baya yang sedari tadi memegangi paspor hijau bergambar garuda. “Loh, ada orang Indonesia nih, cak“, tegas seorang darinya kepada teman sebelahnya. Aku hanya tersenyum untuk menghangatkan suasana.

Naik Qatar Airways juga ya mas?“, pertanyaan yang mungkin berharap kita bertiga bisa terbang sepesawat. “Saya mampir Manila dulu pak, naik Philippine Airlines, tujuan akhir saya Jakarta. Bapak berdua mau kemana? “, tanyaku singkat sebelum berpisah. Kedua lelaki itu tampak berbenah memasukkan setiap berkas imigrasi, paspor dan tiketnya ke dalam tas. “Kami dari Surabaya, mas“, senyumnya hangatnya membuatku merasa tak jauh dari rumah.

Menurut tuturnya, kedua lelaki itu sedang ada tugas dari perusahaannya di Doha. Sedangkan aku menjawab dengan percaya diri bahwa aku baru saja selesai backpackeran sendirian di Timur Tengah. “Wah hebat si mas, keliling sendirian“, ucapan penutupnya sebelum kami berpisah menuju gate masing-masing.

Kemudian aku menuruni escalator dan melewati duty free zone di sekitar maskot “Lamp Bear”. Berlanjut lagi dengan menaiki escalator untuk menaiki skytrain menuju concourse D. Menemukan gate yang kumaksud, maka terduduklah aku sembari mengunyah paratha tersisa untuk makan malam sambil menunggu Philippine Airlines tiba menjemput.

Tepat pukul 20:45, aku mulai boarding melalui aerobridge. Aku memasuki pesawat dari koridor kabin sebelah kiri. Begitu terduduk di window seat berbilangan 39K, impian kemegahan kabin yang sedari semula saat membeli tiket akhirnya sirna.  Ternyata pesawat ini tak dilengkapi LCD screen di setiap bangkunya. Terbayang sudah, penerbangan panjang sejauh 7.277 Km ini pasti akan membosankan.

Airbus 330-300.
Sayap yang memamerkan kegagahan.
Mulai mencari tempat duduk.
Nah ini dia, tempat dudukku selama 9 jam 35 menit.

Aku duduk bersebelahan dengan wanita tambun di sisi kiri sedangkan di ujung baris terduduk lelaki paruh baya berpostur sebaliknya, jangkung dan kurus. Sembilan puluh persen penumpang tentu berkebangsaan Philippines. Karena ini pesawat negara mereka.

Aku terus memperhatikan pramugari berpotongan rambut bob, berlipstik ungu dan berpostur semampai. Siapa yang meragukan kecantikan para pinay, Philippines memang penghasil para wanita cantik di dunia….Hahaha.

Setelah mendemokan prosedur keselamatan terbang, pramugari dan pramugara itu membagikan amenities berupa selimut, handuk, sikat dan pasta gigi. Aku mulai membaca beberapa prosedur keamanan pesawat Airbus ini. Membaca infight magazinenya dan bersiap untuk santap malam kedua kali setelah take-off.

Thanks 12Go.
Selamat tinggal Hamad International Airport.
Selimut untuk setiap penumpang.
Mabuhay….Inflight magazine milik Philippine Airlines.

Sir, I have ordered the menu. My menu should  a Jain Meal, not Seafood Meal, Sir”, tanyaku pada seorang pramugara. “Dinner menu must be ordered 3 hours before flight, Have you order it?”, jawabnya sedikit tegas. Daripada menimbulkan keributan yang tak mengenakkan, aku mengalah saja. Begitulah aku, selalu menghindari gesekan dan cenderung mengalah pada setiap perselisihan….Hebat ya guwe, mulia banget….Hahaha.

Menu makan malam: nasi dan ikan laut.
Ternyata Jean Meal pesananku keluar di pagi hari bersama kopi…Oalah, ndeso tenan.
Indah sekali bukan, rentangan garis-garis emas bentukan pelita bumi Doha?. Lihat perairan Teluk Persia itu!.

Setelah semua penumpang selesai dengan dinnernya masing-masing, awak kabin mulai meminta setiap penumpang yang duduk di window seat untuk menutup jendela. Ah, aku tak mendengarkan perintah, malahan memperhatikan wajah ayu pramugari yang kukagumi sedari tadi. Aku baru tersadar akan perintah ketika pramugari itu tersenyum terus dan menunjuk jendelaku sembari menaik turunkan telunjuknya sebagai isyarat bagiku untuk segera menutupnya….”Iya mbak, aku ngerti kok, cuma sedang terpesona denganmu saja”, batinku menjawab senyumannya. Kejadian itu membuat penumpang di sebelahku tertawa….Kacau kan guwe?.

Malam itu penerbanganku sangat mulus tanpa turbulensi. Pilot menginformasikan bahwa aku sedang melaju di dalam selongsong terbang dengan kecepatan 800 Km per jam. Luar biasa. Malam itu aku tak tidur nyenyak, terus gelisah menunggu tiba di Manila. Entah sampai dimana, pramugari itu kembali berkeliling di koridor kabin dan meminta setiap penumpang di window seat untuk membuka kembali jendelanya.

Inilah drama alam yang baru pertama kali ku alami. Aku menutup jendela dalam gulita dan tiba-tiba membukanya dalam kondisi terang benderang. Bak permianan sulap di angkasa, matahari sepertinya lebih cepat muncul dari waktu normalnya.

Selamat pagi….Entah aku berada dimana?.
Gunung yang menyembul di kerumunan awan….Menakjubkan.

Antrian di setiap toilet begitu panjang. Dengan gagapnya, aku pun mulai mengantri. Aku harus bergosok gigi dan menyeka  muka dengan air hangat sebelum mendarat.  Inilah kegiatan sikat gigi di pesawat terbang untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Tak lama setelah duduk kembali, pilot memberitahukan bahwa flag carrier milik Philippines ini akan segera mendarat di mainhubnya, yaitu Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Maskapai berlogo dua layar biru dan merah yang melambangkan bendera kebesaran negara dan sunburst kuning delapan sinar ini akan mendarat di Terminal 1 sesuai rencana.

Bersiap mendarat di Manila.

Pesawat mendarat dengan mulusnya di runway dan kemudian taxiing dengan menampilkan pemandangan cepat tentang hiruk pikuknya suasana bandara. Aku pantas berterimakasih pada jasa maskapain berusia 79 tahun ini.

Rindu Cebu Pacific….Teringat menunggangnya empat tahun silam.
Thank you Philippine Airlines “The Heart of the Filipino”.

Saatnya transit dan menjelajah Manila dalam waktu singkat.

Yuksss…..Berkelana lagi!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Doha ke Manila bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Hamad International Airport….Terbaik di Timur Tengah.

Tepat pukul 5:16 pagi, apron shuttle bus putih milik Qatar Aviation Services (QAS) menyelesaikan tugasnya dalam mengangkut semua penumpang Kuwait Airways bernomor terbang KU 621. Qatar Aviatin Services sendiri adalah perusahaan utama yang berfokus pada ground handling di Hamad International Airport (HIA).

Menuju konter imigrasi.

Dari ketibaan, perlu waktu tiga puluh menit hingga menyelesaikan proses imigrasi, lalu melintasi exit gate dan menikmati segarnya suasana Arrivals Meet and Greet Hall.

Baggage conveyor belt.

Arrivals Meet and Greet Hall

Tampak bawah.
Tampak atas.

Berburu informasi tentang pariwisata Qatar  di information desk, aku terdiam memperhatikan tampilan di neon box. Dipaparkan pola yang menunjukkan bahwa HIA telah mendapatkan Airport Carbon Accreditation Level 3. Ini menunjukkan bahwa bandara ini mampu merespon perubahan iklim melalui program optimasi energi dan berhasil dalam kolaborasi bersama stakeholders dalam mengelola emisi pihak ketiga.

Information desk.

Waktu yang terlalu pagi mampu menidurkanku si sebuah kursi bercover kulit warna cokelat dan terletak di bawah pohon kurma yang menjulang tinggi di ruangan.

Kursi tunggu itu….

Satu setengah jam kemudian, aku terperanjat. Matahari mengintip ruangan dan pengunjung bandara sudah ramai berlalu-lalang. Pergilah aku ke sayap timur untuk berbasuh dan mempersiapkan diri untuk meninggalkan bandara.

Toilet.
Sangat bersih.

Dua botol minum yang mengering sejak semalam kini terisi.  Aku meninggalkan area depan toilet yang dihiasi sekawanan kijang bertanduk panjang yang disebar di sebuah sisi hall. Cokelat mengkilat bak kijang petarung.

Free water station.
Seni kontemporer ala Belanda, “8 oryxes” merepresentasikan kawanan kijang khas Jazirah Arab.

Di sayap barat, aku berburu money changer. Sedikit tricky untuk menemukannya, sedikit masuk ke kanan dari hall utama. 144 Dollar Amerika berganti menjadi 479 Riyal Qatar, lalu tersisih 70 Riyal untuk membeli SIM Card berkuota 2,5 GB dengan masa berlaku 30 hari.

Travelex Qatar Money Changer.
Booth Oredoo.

Aku menemukan lagi karya seni kontemporer setelah menukar Dollar. Karya tanpa nama sebagai bentuk penghormatan kepada para pekerja pembangun HIA. Tampak tanda tangan mereka tertoreh pada karya seni ini.

Seni rasa Italia.

Masih di sayap barat, selesai melengkapi diri dengan air minum, SIM Card dan beberpa lembar Riyal, tiba saatnya menuju ke kota menggunkan airport bus bernomor 727. Untuk menaikinya diperlukan KARWA Smart Card yang bisa dibeli di automatic ticketing machine di ruang tunggu airport bus terminal.

Ruang tunggu airport bus terminal.

Departure Hall

Jika empat hari sebelumnya aku menuju kota menggunakan airport bus, maka saat meninggalkan Doha, aku menggunakan Doha Metro menuju HIA. Ingin merasakan perbedaan saja. Dari Casper Hotel, aku menaiki Free Doha Metrolink Shuttle Service. Bus warna cokelat berkelir pink itu menurunkanku di Stasiun Oqba Ibn Nafie. Meluncur bersama Doha Metro, berselang satu stasiun, aku sampai di Stasiun Hamad International Airport T1.

Interior stasiun bandara.

Sebelum melewati airport car park, menara HIA Mosque menjadi pemandangan terbaik pada lintasan skybridge yang menghubungkan Stasiun Doha Metro dan Terminal 1. Kemudian, travelator menyelematkan otot betisku yang kelelahan setelah lima hari menelusuri jalanan panas Doha.

Menara HIA Mosque.
Lahan parkir Terminal 1.
Travelator menuju Terminal 1

Kini aku terduduk di check-in counter zone menunggu nomor penerbangan milik Philippines Airlines muncul di salah satu dari 12 layar LCD yang terpajang di tembok etalase. Bak menunggu nomor lotre, aku girang ketika nomor itu benar-benar muncul. Bergegaslah aku menuju konter check-in PR 685 yang tampak senyap.

Konter check-in baris ketujuh.

Hi, please queue, Sir!” tegur ground staff yang otomatis mengerem langkahku. Dia menunjuk antrian warga Philippina yang bermula dari sebuah tiang bandara. Mereka semua menertawakanku dan menyungkurkan mukaku dalam rasa malu.

Konter check-in.

Selesai mengecap passport, aku menuruni tangga dan menemukan impian lama. Tampak jelas lucunya Lamp Bear yang duduk tak berdaya tertancap pada sebuah tiang lampu berwarna hitam. Setiap yang melintas berebut mengabadikan dirinya dengan si beruang naas itu. Seorang Bangladesh akhirnya membantu mengabadikan diri dengan si beruang.

Duty free zone bermascot Lamp Bear di tengahnya.
Yihaaaa….

Aku mulai mencari keberadaan gate D3, gerbang dimana aku terbang ke Manila. Menaiki sebuah escalator dan bersambung dengan skytrain menuju concourse D.  Dalam 2 menit, skytrain menurunkanku di hall baru dengan banyak percabangan menuju ke seluruh gate di councourse D dan E. Percabangan itu ditandai dengan seni kontemporer bertajuk “Cosmos” di tengahnya.

Menuju gate D3.
HIA skytrain.
Seni kontemporer ala Perancis bernama “Cosmos”yang melambangkan budaya traveling dunia.

Akhirnya aku sampai di ruang tunggu gate D3 dan menanti Philippines Airlines tiba untuk menjemputku.

Gate D3.

Gimana Hamad International Airport, Megah sekali kan?

Seribu Lima Ratus Dollar di Imigrasi Qatar

Mengintip Departure Hall.

Aku masih saja berdiri terdiam sambil memegang pagar besi di salah satu sisi Arrival Hall Hamad International Airport. Dipisahkan partisi kaca, aku masih memandangi patung perunggu berjuluk “Lamp Bear” yang menjadi kebanggaan bandara terbaik di kawasan Timur Tengah ini. Sementara penumpang lain bergerak sangat cepat dengan  travel trolleynya masing-masing. Patung beruang kuning itu menjulang setinggi tujuh meter dan menjadikan setiap pelancong yang melintasinya bak sekerumun semut yang sibuk dengan hajatnya masing-masing.

Sebentar lagi aku akan melewati konter imigrasi untuk menambah koleksi stempel di e-passport. Membaca kisah beberapa pelancong tanah air yang tak sedikit tertolak masuk, aku sudah bersiap diri dengan banyak pertanyaan di konter nanti. Maklum aku datang di negara berpendapatan perkapita tertinggi di seantero jagad. Sedangkan penghasilanku dari profesi salesman di ibukota hanyalah seujung kuku dibandingkan pendapatan warga mereka.

Jangan khawatir, Donny. Kamu sudah melakukan persiapan dengan baik”, aku membatin menenangkan diri. Flashback ke sebulan sebelum keberangkatan, kala aku bercakap dengan staff wanita yang bertugas di front office Kedutaan Qatar di Jakarta lewat saluran telepon. “Masuk Qatar tidak perlu visa, mas. Yang penting bawa uang 1.500 Dollar Amerika, tiket pesawat untuk keluar Qatar dan booking confirmation dari hotel tempat mas akan menginap”, ujarnya menjelaskan singkat waktu itu.

Kini aku telah berada di depan konter imigrasi dan diarahkan petugas untuk mengantri di jalur yang masih tertutup dengan tape barrier. Belum ada petugas di konter. Lima menit kemudian petugas imigrasi datang dan memasuki kotak kecil itu. Menambah lagi lima menit untuk mempersiapkan komputer, kamera dan beberapa peralatan pendukung lain. Setelahnya pelancong pertama di antrian maju. Dia disuruh berpindah-pindah posisi untuk diambil paras ayunya dalam sebuah foto. Berulang-ulang….Aku jadi curiga, jangan-jangan dia mengoleksi foto itu buat dirinya sendiri…..Hahahaha.

Tiba giliranku di antrian ketiga untuk menghadap, aku sudah siapkan passport, booking confirmation dari Casper Hotel, e-ticket Philippines Airlines, serta kartu kredit. Tak sampai 1.500 Dollar Amerika, seingatku aku hanya membawanya dengan sisa limit 500 Dollar Amerika saja….Jika ditolak….Ya sudah, aku akan berdiam empat malam di airport dan menunggu jadwal pulang….Perjudian gila.

Senjata terakhir di depan konter imigrasi.

Petugas tampan berjambang tipis dengan gamis dan sorban putih menangkap e-passportku yang hampir jatuh di konternya. Lama dia membolak-balik identitas international itu. Satu persatu diperhatikan rekam jejakku, Seingatku buku hijau tersebut sudah terisi hingga halaman 32.

Which countries did you go to before came here?”, tanyanya sambil menatapku lekat. “I went to Malaysia, India, Dubai, Oman, Kuwait and Bahrain since 29 December, Sir”, jawabku sedikit bergetar diserang was-was. Petugas itu masih saja mengawasiku, bahkan sebelum dia bertanya kembali, aku sedikit proaktif dan berusaha sekuat mungkin menyelamatkan keadaan “This is my return ticket and this is my hotel booking confirmation, Sir”. Dia hanya sedikit mengernyitkan dahi sambil berujar “Oh, No need…No need”. Ah akhirnya, begitu mudah, tak seperti yang kukhawatirkan.

Free Visa berusia satu bulan.

Welcome Qatar !, batinku bersorak girang.

Saatnya berkeliling Hamad International Airport sebelum pergi ke tengah kota. Yukss….!