Scoot Air TR 457 from Kuala Lumpur to Singapore (KUL-SIN)

SCOOT AIR….Low Cost Carrier (LCC) from Singapore, which its stocks are owned by Singapore Airlines.

Scoot Air TR457 flight path. Source from https://flightaware.com

Scoot is 22nd airlines which I have ever used. Through flight number TR 457 on regular route Kuala Lumpur (KUL) to Singapore (SIN), I firstly used Scoot Air service on March 31st, 2018. On that time, I boarded an Airbus A320 aircraft with 168 passengers in capacity.

Even though I ever used Tiger Mandala Airlines on November 26th, 2013 while heading to Bangkok and Tiger Air on January 11st, 2015 when I returned from Vietnam. Now the two airlines have merged into Scoot Air.

Look that ! Tiger Air identity in Scoot Air TR 457 plane.

Ambiguity of terminal where I would depart (whether from KLIA terminal 1 or KLIA terminal 2) made me a little nervous because departure list usually publishes 2 hours before flight. And of course, it takes time to move from KLIA2 to KLIA.

For international flights, I always start towards airport on 4 hours before flight time. So I left Westree Hotel on 05:30 and rushed to Skybus/Aerobus shelter which located in KL Sentral. Because distance from hotel to shelter is only 40 m, I only needed to walk for 3 minutes towards shelter.

Indian descent hotel security sharply watched me in inner door of lobby….Because I stood for a long time in middle of lobby door….I was seriously watching around….So quiet, I had to make sure that there wasn’t suspicious thing along road which I would pass towards KL Sentral.

Yesss….There aren’t any people on road….Fast walking. Like an racewalking athlete, I started to stay away from hotel. I arrived in shelter when bus was ready to leave.

With USD 3.1, I arrived at KLIA2 on 6:30. I immediately headed to information center to ask about terminal where TR457 would take off. On early morning, I disturbed information center officer with some questions because departure board didn’t display yet an information about TR457, so She had to pull keyboard and searching information for me….very kindly officer.

God…..my eyes glared while chewing Nasi Lemak (original food from Malaysia) with fried egg in corner of NZ Curry House….Look like a goat which was ruminating. It was a sign that I wasn’t ready to get early breakfast.

Yes, there wasn’t other choice, it was better to have breakfast in Indian restaurant with cheapest price before heading to 3rd floor for check-in, immigration and departure processes.

Departure Board in Departure Hall
Information Centre in Departure Hall
Departure Hall Area
Check-in counter no Z2-Z3 for Scoot Air TR457.
After passing immigration counter, I headed to waiting room at gate L3.

I entered waiting room on 08:05. In boredom of waiting, Vietnamese came to me and ask something:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (while showing a pack of cigarettes which have been smoked two stumps). Can I bring it when entering Singapore?

Me : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.

Me: “You are welcome”.

Waiting room in front of gate L3.
After waiting for 20 minutes, finally boarding process begins.
Where was seat 14D?

Scoot Air is identical with yellow. The charm of young air crews was very fresh when their appeaybrance is clad in yeloow t-shirt and shallow.

Fly over Malacca Strait
The sky is really clear, very comfort to fly without turbulence.

After fllying about 1 hour and 15 minutes, I landed at Changi International Airport Terminal 2. Trying to leave Changi as soon as possible to go to Greendili Backpackers Hostel in Race Course Road and then ready to explore Singapore for 7th time.

Searching MRT map before entering Changi International Airport immigration counter.
Catch the MRT ! towards downtown.

Let’s go to Mustafa Center for lunch before exploring.

Dibalik Penerbangan Air Asia QZ 206 Jakarta-Kuala Lumpur

Baru juga pulang dari ekspedisi ke Garut-Tasikmalaya-Sumedang , lelahnya berkelana seminggu di tiga kabupaten itu tak lantas membuat tubuh lelah. Boro-boro istirahat, Aku lebih memilih menuntaskan misiku menyelesaikan eksplorasi Asia Selatan dengan mengunjungi tiga negara tersisa….Bangladesh, Sri Lanka dan Maldives.

Tiket Air Asia yang kubeli seharga Rp 349.000 sejak 7 April 2018 mampu menjaga asaku dan dompetku untuk terus berkeliling dunia. Yes, Aku harus menjemput Malindo Air rute Kuala Lumpur-Dhaka di KLIA.

Sepanjang masa tunggu keberangkatan, banyak pertanyaan muncul dari teman-teman sekantor atau teman-teman lain diluar pekerjaan.

“Yeeee, jalan-jalan kok ke Bangladesh. Ga elit bingit”

“Lo mau liat apa sih Don di Bangladesh?”

“Tar lo pulang sakit loh, Don”

“Kurang kerjaan….mending ke Ancol guwe daripada ke Bangladesh”.

“Kenapa sih Don harus ke Bangladesh?”

Jawabku: “Ya suka-suka guwelah….duit-duit guwe…kaki juga kaki guwe”.

Eh gak gitu dink….kasar beud.

Hahaha….”Ya gimana pren, duitnya hanya mampu buat jalan dimari”….wkwkwk….Itu jawaban guwe ke mereka yeee.

Kan orang lain ga tau sih isi kepala guwe about traveling…..makin gila makin aseeeekkk…..makan aneh makin nagih…..hihihi.

—-****—-

Biasaaa….Nyegat DAMRI di Terminal Kampung Rambutan aja yang murah. Selain murah juga deket rumah bingit. Kupersiapkan Rp. 40.000 untuk membayar tarifnya dengan jam keberangkatan pukul 15:00. Perjalanan 1 jam 15 menit itu mengantarkanku tepat di Terminal 2F.

Melalui gate 5, Aku mulai memasuki pemeriksaan X-ray tahap pertama. Tak begitu mulus, backpack yang menjadi temanku satu-satunya terlihat dibolak-balik petugas AVSEC, dioles-oles menggunakan tissue basah lalu mengamatinya dengan seksama. Tak perlu khawatir….yang penting tak ada narkoba didadalamnya….hahaha. Kalaupun di tolak masuk, tenang brur….ini masih di kota sendiri. Tinggal balik lagi naik DAMRI….ya toh.

“Mbak, window seat donk !”, seruan memelasku kepada petugas check-in di konter Air Asia. Aduh, udah cantik baik pula, murah senyum…..eh emang tugasnye begonoh dink. “Ini mas”, sahutnya…..2D, yes gagal…..hahaha.

Yuk ngecap passport….geblek, padahal itu kan e-passport, tapi kebiasaannku mengecap passport menjadi tak peduli dengan adanya konter autogate.

Petugas Imigrasi  :  “Kemana?”

Aku                           : Sebutin aja detail satu-satu, supaya ga curiga kek waktu itu, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives pak. Transit Mumbai dan Singapore”. Njir perjalanan macam apa ituh….gile

Petugas Imigrasi  : “Backpacker?”

Aku                           : “Yoi pak”….eh salah, bukan begitu….”Betul pak”.

Petugas Imigrasi  : Lihat muka guwe, bolak-balik passport baru dan bekas guwe. Then….cekrek “hati-hati mas sendirian”.

Aku                           : “makasih pak….tentu saya akan hati-hati”.

Petugas                  : “Hebat nih si Mas”.

Cieeee….Guwe dipuji laki-laki….Alhamdulillah…..hahahaha. Pasti mikir guwe yang engga-engga….GUWE NORMAL KOK.

Kusempatkan shalat di ujung koridor sebelum masuk ke gate. Setelahnya, Aku memasuki pemeriksaan X-ray tahap kedua di depan gate D5….yesss, mulus.

Sedang asyik-asyiknya duduk membaca di sebelah charging station, datang sepasang perawakan Korea. Mengoprak-oprek lubang stop kontak yang sepertinya rusak.

Aku     :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

Dia       : “Oh yea….Why put it here if broken” pura-pura menendang pelan charging station sembari tersenyum.

Aku     : “Do you want go to South Korea?”.

Dia       : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Aku     :  “Oh Nice”.

Dia       : “What are you doing here? “.

Aku     :  “My profession, your mean?”.

Dia       :  “yeaaa”

Aku     :  “Sales”.

Dia       :  “Good money?”

Aku     :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

Dia       :  “yea…yea…yea”, manggut-manggut sambil tersenyum menatapku.

Sepertinya pacarnya seorang travel vlogger. Ngoceh melulu dengan pedenya….hebat. Aku mana bisa kayak gitu. Lebih baik menulis daripada ngoceh terus macam Dia.

QZ 206 akhirnya merapat ke gate. Beuh….petualangan segera dimulai. Kehabisan air membuatku lari keluar untuk membeli mineral water. Dan sedikit mendapat peringatan dari petugas untuk segera kembali ke gate. Ok dah pak, daripada beli didalam pesawat, kan mahal.

Airbus A320-200 berkapasitas 186 penumpang.

Tepat jam 19:17, Aku mulai boarding.

Dibelakang cewek korean-american itu.

Penerbangan malam yang penuh turbulensi mengingat saat itu akhir Desember. Terlihat bapak setengah baya di sebelahku begitu tegang dan berpegangan erat pada armrest chair sepanjang perjalanan sementara Aku dan seorang perempuan muda yang mengapitnya hanya tersenyum kecut sambil menyembunyikan rasa was-was.

Kabin.

Karena pengetahuan terkiniku mengenai Ipoh dan Penang begitu minim, kuputuskan untuk menjelajah inflight magazine Travel360. Berharap menemukan informasi berharga mengenai pariwisata Ipoh dan Penang. Dan….yesss….Aku sungguh mendapatkannya.

Ipoh di inflight magazine Travel360.
Informasi mendasar tentang Penang.

QZ 206 bersiap mendarat. Tak bisa tidur selama perjalanan karena keasyikan membaca inflight magazine untuk mencari informasi. Kali ini petualangan transitku selama 5 hari di Malaysia bak bonek. Ngelayap tanpa bekal informasi yang cukup.

Bersiap-siap mendarat.

Itu bagasi buat apa ya? Perlengkapan keselamatan pernerbangan kali ya.

Begitu tiba di KLIA2 tentu fikiran yang langsung terbesit di benakku adalah cari free water station, makan malam, sembahyang, tiket bus ke Penang dan kemudian molorrrrrr.

Kamu harus menuju ke Transportation Hub di lantai 1 untuk mencari tempat makan murah. Oh ya…konter penjualan tiket bus juga ada disana

Yuks….siap-siap menuju Penang esok hari.

Traveling to Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan.

My curiosity was paid off precisely when my first step down the bus in one of Bandar Seri Begawan Bus Terminal platforms. Unexpectedly, my journey around Southeast Asia took me to Hassanal Bolkiah’s land.

Unique….Terminal is on ground floor of Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

A step later, I was already in “Afmal Restaurant” near bus terminal to enjoy a portion of “bakso” (Indonesian name of meatballs). Needed something fresh in my mouth to relieve tangling after an overnight stay without bathing in Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Freshness of “bakso” which I ordered became more meaningful when there was a little conversation with restaurant owner who come from Purworejo, Central Java, Indonesia….It means that He is from similar province with me in Indonesia.

After being full, I rushed to get out of terminal area through “Bebatik” alley to main road (the road name is Mc Arthur Street). Right on other side of Mc Arthur Street, you will find Brunei River which is very clean. And right in the middle of Brunei River, standing a famous village throughout Brunei. It’s called Kampung Ayer.

Every direction sign is always accompanied by an Arabic script.
Precisely on edge of Brunei River.

I always observed every motorboat which splitting Brunei River wide. There was no other way to get to Kampung Ayer, I had to ride that motorboats.

Rushing toward Brunei River edge, I waited a motorboat arrival which heading to small port in front of me. After leaning, that motorboat was immediately filled with 2 other tourists. This boat was very fast in moving and never waited long for get passengers in river edge.

A thing that you need to know is every Singapore Dollar can be used as payment tool in Brunei Darussalam with similar value with Brunei Dollar. So, 1 Brunei Dollar is same with 1 Singapore Dollar in value. But in many transactions, Brunei residents only accept payments in Singapore’s paper money and refusing Singapore Dollar coins. But in several transactions also, this coin can function….I hope you are lucky in using Singapore Dollar coins there….hahaha.

With a 1 coin of Singapore Dollar, I finally arrived in Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. This gallery is located in front of village. Free entrance made me so happy when filling a guest book in reception desk. Warm greeting from a Malay-speaking receptionist made me feel like I was in my home.

That is Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
I got a Free Tourism Guiding Book.

Kampung Ayer itself was the center of Brunei’s government until end of 19th century. Therefore, The Brunei Sultan established his palace here. Another role as an important port in Brunei makes Kampung Ayer as the administrative center for commercial activities in Brunei. Every signing of important government agreements with other parties is done here.

The appeal of Kampung Ayer as government centre made 50% of Brunei’s residents live there in the 1900s.

Brunei “Keris” with 9 curves as a symbol of power.

At exit door, I began to be stunned with neat ranks of houses in Kampung Ayer. I didn’t waste my time then visiting the village. Residents friendliness made me reluctant to quickly leave Kampung Ayer.

Come on !….Go into that village !
Very kindly and funny student, they were in Malay school uniforms.
How can the water very clean like that?

But soonly, I realized that I should immediately look for lodging to stay that night. Online searching for lodging that I did was never got a result. It maybe happen because Brunei Darussalam tourism isn’t been famous in Southeast Asia region.

I decided to pull over by waiting for a motorboat in boat shelter. Didn’t wait a long time until a motorboat was picked me up. Together with a man and his son who are Kampung Ayer residents, I headed to edge of river. Looked like that man had an important agenda, it could be seen from his way in a very neat and smooth dressing.

He: “Where are you come from?” He firstly greeted me with a smile.

Me: “I’m from Indonesia, sir”. I gave a smile and I shook his hand.

He: “Which part of Indonesia?”

Me : “Jakarta, Sir”.

He: “What profession are you doing here?”

Me: “Oh I don’t work in Brunei, sir. I am just traveling now”.

He: “Brunei is very quiet. Why do you visit Brunei? “

Me: “Oh, Brunei is very religious, sir. I deliberately go to Brunei because I intend to travel around Southeast Asia. Glad to be in your country “.

He: “Wow, it’s good to go around Southeast Asia. You don’t need to pay the boat. I paid for you”, He gave 3 Brunei Dollars to motorboat driver.

Me: “Thank you, sir, nice to meet you,” I felt shy, even though I was very happy to ride a free boat.

A little conversation with a local before I finally leaned in river edge.

Boat shelter near Pasar Tamu Kianggeh.

Let’s….Looking for dormitory!

Scoot Air TR457 dari Kuala Lumpur ke Singapura (KUL-SIN)

SCOOT AIR….maskapai Low Cost Carrier (LCC) milik Negeri Singa yang kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Singapore Airlines.

Lintasan terbang Scoot Air TR457. Sumber dari https://flightaware.com

Scoot sendiri masuk list ke-22 dari seluruh maskapai yang pernah kunaiki. Melalui nomor penerbangan TR457 dengan rute regular Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN), Aku pertama kali menggunakan jasa Scoot Air  tertanggal 31 Maret 2018. Kali ini Aku menaiki pesawat berjenis Airbus A320 dengan kapasitas 168 penumpang.

Walaupun sebenarnya Aku pernah menggunakan Maskapai  Tiger Mandala pada 26 November 2013 saat menuju ke Bangkok dan Tiger Air pada 11 Januari 2015 saat kembali dari Vietnam. Kini kedua maskapai tersebut sudah merger ke dalam Maskapai Scoot Air.

Tuh kan sudah merger, masih ada identitas Tiger Air di badan pesawat Scoot Air TR457

Ketidakjelasan terminal asal keberangkatan (apakah dari KLIA terminal 1 atau KLIA terminal 2) membuatku sedikit gelisah karena biasanya Departure List baru keluar 2 jam sebelum penerbangan. Dan tentu perlu waktu untuk berpindah dari KLIA2 ke KLIA.

Untuk penerbangan internasional, Aku selalu memulai perjalanan menuju bandara 4 jam sebelum waktu penerbangan. Jadi Aku meninggalkan Westree Hotel pada pukul 05:30 dan bergegas menuju ke Skybus/Aerobus Shelter yang terletak di KL Sentral. Karena jaraknya cuma 40 m, Aku hanya perlu berjalan kaki selama 3 menit menuju shelter.

Security hotel keturunan India tajam memerhatikanku di pintu lobby bagian dalam….Lha iya, Aku berdiri lama ditengah pintu….clingak-clinguk kiri kanan kaya ayam mau nyebrang….Saking sepinya, Aku harus memastikan tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan yang akan kulewati menuju KL Sentral.

Yesss….Sepi, ndak ada orang….Kabuuurrrrrr. Bak atlit jalan cepat, Aku mulai menjauhi hostel. Aku tiba saat bus siap berangkat.

Dengan 12 Ringgit aku tiba di KLIA2 pada pukul 6:30. Setiba di KLIA2, Aku segera menuju information centre untuk menanyakan dimana terminal TR457 akan lepas landas. Pagi-pagi Aku sudah ngrepotin Si mbak India petugas information centre, karena Departure Board belum menampilkan informasi tentang TR457 maka Dia harus menarik keyboard dan mencarikan info untukku….Hadeuhhh, sudah manis….baik pulak si teteh….eh, si mbak.

Buseeettt….mataku melotot sambil mengunyah nasi lemak telur ceplok di pojokan NZ Curry House….kek kambing yang sedang memamah biak. Pertanda Aku tak bisa membohongi otak bahwa perutku belum siap bersarapan.

Ya memang tak ada pilihan lain, lebih baik sarapan di kedai makan India dengan harga paling murah sebelum menuju ke lantai 3 untuk proses check-in, proses imigrasi dan keberangkatan.

Departure Board di Departure Hall
Information Centre di Departure Hall
Departure Hall Area
Konter check-in Z2-Z3 untuk Scoot Air TR457
Setelah melewati konter imigrasi, Aku menuju ke ruang tunggu di gate L3.

Aku memasuki ruang tunggu pada pukul 08:05. Dalam kejenuhan menunggu, datang kepadaku wajah Vietnamese dan bertanya:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (sambil menunjukkan sebungkus rokok yang sudah terhisap dua puntung). Can me bring it when entering Singapore?”

Aku : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.”

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.”

Aku: “You are welcome”.

Ruang Tunggu di depan Gate L3
Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya boarding process dimulai.
Mana 14D….manaaaaa?

Scoot Air identik dengan warna kuning. Pesona pramugari-pramugara muda keturunan Tiongkok semakin segar ketika penampilan mereka terlihat berbalut t-shirt dan syall serba kuning.

Terbang diatas selat Malaka
Langit sungguh cerah, nikmat banget terbang tanpa turbulensi.

Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit, Aku mendarat di Terminal 2 Changi International Airport. Berusaha secepat mungkin meninggalkan Changi untuk menuju ke Greendili Backpackers Hostel di bilangan Race Course Road dan selanjutnya siap mengeksplorasi Singapore untuk ke-7 kalinya.

Cari peta MRT sebelum masuk konter imigrasi Changi International Airport.
Catch the MRT ! Menuju pusat kota

Makan siang dulu yuk ke Mustafa Centre sebelum walking-walking.

Sebagai alternatif, tiket pesawat, kereta dan bus dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa dipesan melaui e-commerce perjalanan 12go Asia

Berwisata ke Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan.

Rasa penasaran terbayar tepat saat langkah pertamaku menuruni bus di salah satu platform terminal bus Bandar Seri Begawan. Tak kuduga, petualanganku berkeliling Asia Tenggara mengantarkanku ke negeri Hassanal Bolkiah.

Unik….Terminal berada di lantai bawah Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

Selangkah kemudian, Aku sudah berada di dalam Warung Makan Afmal di sisi terminal untuk menikmati seporsi bakso. Butuh sesuatu yang segar di mulut untuk menghilangkan kekusutan pasca bermalam tanpa mandi pagi di Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Kesegaran bakso yang kupesan semakin bermakna ketika terjadi obrolan ringan dengan si empunya warung makan yang asli Purworejo, Jawa Tengah….Wah tetangga sendiri ternyata.

Selepas kenyang, Aku bergegas untuk keluar dari area terminal melalui  Lorong Bebatik menuju sebuah jalan besar (Jalan Mc Arthur). Tepat disisi lain Jalan Mc Arthur, Kamu akan menemukan Brunei River yang sangat bersih. Dan tepat di tengah Brunei River, berdiri sebuah perkampungan terkenal di seantero Brunei. Namanya Kampung Ayer.

Setiap petunjuk jalan selalu dilengkapi aksara Arab.
Tepat di tepi Brunei River

Aku terus mengamati lalu lalang perahu bermesin yang membelah lebarnya Brunei River. Tidak ada cara lain memang untuk menuju Kampung Ayer, Aku harus menaiki perahu-perahu kecil itu.

Bergegas menuju pinggiran Brunei River, Aku menantikan kedatangan sebuah perahu yang menuju ke tepi. Begitu bersandar, bersamaku perahu itu langsung terisi dengan 2 turis lainnya. Perahu ini sangat cepat bergerak dan tak pernah menunggu lama di tepian sungai.

Yang perlu kamu tahu bahwa setiap dolar Singapura bisa digunakan sebagai alat bayar di Brunei Darussalam dengan nilai yang sama dengan Dolar Brunei. Jadi 1 Dolar Brunei nilainya sama dengan 1 Dolar Singapura. Hanya terkadang di beberapa transaksi, warga Brunei hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang kertas dan menolak menggunakan koin Dolar Singapura. Tetapi ada juga di beberapa transaksi, koin ini bisa berfungsi.

Dengan koin 1 Dolar Singapura, Aku akhirnya tiba di Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. Galeri ini terletak di bagian paling depan perkampungan. Free entrance membuatku begitu sumringah ketika mengisi buku tamu di bagian reception. Sapaan hangat sepasang resepsionis berbahasa Melayu membuatku seakan berada di kampung sendiri….Kampung Rambutan….eeaaaa.

Itu dia Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
Mendapatkan Free Tourism Guiding Book.

Kampung Ayer sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan Brunei hingga akhir abad ke-19. Oleh karenanya, para sultan Brunei mendirikan istananya di sini. Peran lain sebagai pelabuhan penting di Brunei menjadikan Kampung Ayer sebagai pusat administrasi atas aktivitas komersial di Brunei. Setiap penandatanganan perjanjian penting pemerintah dengan  pihak lain dilakukan disini.

Daya tarik Kampung Ayer sebagai pusat pemerintahan menjadikan 50% warga Brunei tinggal didalamnya pada tahun 1900-an.

Keris Brunei dengan 9 lekukan sebagai simbol kekuasaan

Di pintu keluar, Aku mulai tertelisik dengan rapinya jajaran rumah di perkampungan. Aku pun tak menyia-nyiakan waktu dengan memasuki bagian dalam perkampungan. Bersua dengan para penghuni membuatku enggan untuk cepat-cepat meninggalkan Kampung Ayer.

Yuk….Masuk ke dalam kampung itu !
Lucunya anak-anak sekolah itu dengan seragam Melayu.
Airnya bisa jernih begitu ya?

Tapi Aku segera tersadar bahwa Aku harus segera mencari penginapan untuk bermalam nanti. Pencarian penginapan secara online yang kulakukan tak pernah membuahkan hasil. Ini terjadi mungkin karena pariwisata Brunei Darussalam yang belum tersohor di kawasan Asia Tenggara.

Kuputuskan untuk menepi dengan menunggu perahu di boat shelter. Tak menunggu waktu lama sebuah perahu menjemputku. Bersama seorang Bapak dan anaknya yang merupakan warga Kampung Ayer, Aku menuju ke tepi. Sepertinya sang Bapak mempunyai agenda penting, terlihat dari caranya berpakaian khas Melayu yang sangat rapi dan klimis.

Dia: “Asal mana, Adek?”, Dia menyapaku pertama kali dengan senyum.

Aku: “Saya dari Indonesia, Pak”. Kubalas senyum dan kuajak berjabat tangan.

Dia: “Indonesia bagian mana?”

Aku: “Jakarta, pak”.

Dia: “Kerja apa disini?”

Aku: “Oh, Saya melawat (berwisata) Pak di Brunei”.

Dia: “Brunei kan sepi, Adek. Kok melawatnya ke Brunei?”

Aku: “Oh, Brunei religius ya Pak. Saya sengaja ke Brunei Pak karena berniat keliling Asia Tenggara. Senang bisa ke negeri Bapak”.

Dia: “Wah, bagus ya keliling Asia Tenggara. Adek, ga usah bayar ya perahunya. Ini sudah Saya bayar”, Dia memberikan 3 lembar Dolar Brunei ke pengemudi perahu.

Aku: “Terimakasih ya Pak, Senang bertemu dengan Bapak”, sambil pura-pura tersipu malu padahal senang banget naik perahu gratisan.

Sekelumit percakapan dengan warga lokal sebelum akhirnya Aku bersandar di tepi.

Boat shelter dekat Pasar Tamu Kianggeh

Yuk….Cari dormitory !.