24 Wisata Kuala Lumpur Dalam 3 Hari 2 Malam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang hampir tak tertangkap karena beradu cepat dengan waktu di sepanjang tol Jakarta-Serang, dibumbui dengan pucat pasinya wajah akibat interogasi staff imigrasi yang judes karena penampilanku yang tak meyakinkan, membuat hati dan asaku malambung tinggi bersamaan dengan langkah pertamu meninggalkan konter imigrasi KLIA2.

Gaes….Perjalananku di Kuala Lumpur untuk pertama kalinya dimulai. Seneeenggg banget waktu itu. Magnet kulkas ku akan bertambah menjadi tiga. Begitulah adanya, jumlah magnet kulkas di rumahku menunjukkan berapa banyak negara yang sudah kukunjungi…..Nanti kalau sudah mengunjungi 100 negara, aku akan beli kulkas setinggi langit-langit rumah. Biar muat nempelin magnet-magnet itu….Hahaha.

—-****—-

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak 9 bulan sebelum keberangkatan ini akhirnya terwujud. Masih tak percaya ketika diriku benar-benar memasuki negeri jiran itu. Rencana perjalanan yang kutuangkan secara detail di tiga lembar itinerary telah mengantarku menuju 24 destinasi berikut:

1. KL Sentral

KL Sentral adalah persinggahan pertama yang sering digunakan para petualang sebelum menjelajah Kuala Lumpur. Ya iyalah, kebanyakan transportasi umum dari KLIA akan berujung di sini.

KL Sentral memang dibangun pemerintah Malaysia sebagai bangunan transportasi berorientasi transit. Tak khayal, pusat transportasi ini tak pernah sepi pengunjung.

Awas mas….Resleting.

Untuk pertama kalinya, tiba disini di hari pertama kelayapanku, tepat pukul 11:23. Aku menyempatkan diri untuk sejenak mengeksplorasi Nu Sentral yang merupakan shopping mall yang terintegrasi dengan bangunan modern ini.

2. Batu Caves

Waktu yang terlalu siang untuk memulai perjalanan ke Genting Highlands membuatku memilih kuil umat Hindu ini sebagai persinggahanku berikutnya. Berlokasi di daerah Gombak yang berjarak 15 km di utara KL Sentral dengan jarak tempuh 40 menit menjadikan patung kuning “Dewa Murugan” menjadi ikon terfavorit di Kuala Lumpur setelah Petronas Twin Tower.

Makanya, kalau ga bisa main tripod….Minta orang lain fotoin aja….Huh.

90 menit menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa penasaranku akan gua yang terletak di sebuah perbukitan kapur  berusia 400 juta tahun itu.

3. Suria KLCC

Sekembali dari Batu Caves dan seusai berburu hotel di daerah Pasar Seni yang berakhir dengan hinggapnya langkah di Agosto Inn, dalam gerimis ringan aku bergegas menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC). KLCC adalah pusat kota Kuala Lumpur yang menawarkan shopping mall modern yaitu Suria KLCC, deretan hotel bintang lima, pemandangan ikonik Petronas Twin Tower dan taman kota yang luas (KLCC Park).

Walau tak gemar berbelanja, aku hanya penasaran ingin melihat langsung mall yang memiliki 350 tenant ini. Arsitektur Suria KLCC konon berbentuk bintang sabit jika dilihat dari atas….Keren ya. Dan perlu kamu tahu bahwa pembangunan Suria KLCC adalah proyek terintegrasi dengan Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Sebelum keluar dari Suria KLCC, aku sempatkan untuk mengunjungi Petrosains di lantai 4. Petrosains adalah tempat edukasi perminyakan milik Petronas, raksasa minyak milik Malaysia. Cukup menyisihkan Rp. 35.000 untuk belajar di dalam Petrosains.

Ngapain siiih….

5. Petronas Twin Tower

Tepat di sebelah kiri pintu keluar Suria KLCC, aku akhirnya menemukan bangunan kembar fenomenal itu. Gerimis lembut yang menemaniku menikmati Petronas Twin Tower tak mampu mengusirku segera dari halaman depan gedung kembar tertinggi di dunia itu.

Security: “Turuuuuuuunnnn…..”

Petronas  Twin Tower adalah destinasi terakhir di hari pertama kelayapan. Lebih cepat beristirahat di Agosto Inn untuk mempersiapkan diri menuju Genting Highland di keesokan harinya.

6. Genting Skyway

Jam 6:30, Melihat kehadiranku di meja makan membuat staff hotel itu terkesan tergesa-gesa menyiapkan sarapan pagi yang hanya berupa oatmeal, jeruk sunkist dan toast serta minuman hangat yang bisa kuambil sepuasnya dari tea and coffee pots.

Pagi yang masih sangat sepi kulalui menuju KL Sentral untuk menangkap bus pertama menuju Genting Highlands yang akan berangkat pukul 08:00. Dengan membayar tiket pulang pergi dari KL Sentral ke Genting sebesar Rp. 73.000 (harga pada tahun 2014, tahun 2019 harga sudah naik menjadi Rp. 85.000) aku tiba di Genting Highlands 1 jam 15 menit kemudian.

Pertama kalinya naik cable car….Clingak-clinguk, ndeso!

Harga segitu sudah termasuk naik Genting Skyway. Sementara harga sekali jalan untuk moda transportasi ini adalah Rp. 28.000 (Tahun 2019). Lower station gondola ini berada di Gohtong Jaya dan Upper Stationnya berada di Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Dua puluh menit kemudian, aku tiba di Genting Highlands setelah bergelantungan di dalam gondola berpenumpang delapan orang itu

Tujuan utama hari kedua yang harus merelakan waktu sehariku dirampas begitu saja. Perampasan yang membuatku girang bukan kepalang. Berharap ada repetisi seperti ini di lain waktu.

Awas, bang jangan di tengah jalan !….Kasian orang lain mau lewat.

Dua jam aku menapaki resort di pucuk gunung Titiwangsa sebelah timur laut Kuala Lumpur. Kalau kamu punya uang berlebih bisalah bermalam di Genting. Tapi melewati setiap mall tanpa berbelanja, restoran tanpa menyempatkan makan siang dan casino tanpa berjudi, pastinya itu adalah aku yang tak pernah memiliki uang cukup untuk berhura suka macam itu.

8. Bukit Bintang

Tinggal membalik cara berangkat maka aku bisa pulang kembali ke KL Sentral.

15:30….”Wuih, masih bisa ngelayap”, batinku bersorak. Bus, sudah….LRT, sudah….Komuter, sudah….MRT, belum jadi bang, mereka masih terlihat mengeruk tanah di sebelah Pasar Seni. Naik apa lagi dong?…..

Kuputuskan mencoba satu-satunya jalur monorail di Kuala Lumpur. Kapan lagi aku bisa menaikinya. Ini juga menjadi yang pertama kali aku menaiki monorail yang tiga tahun kemudian aku menaiki moda yang sama secara gratisan di Sentosa Island, Singapura….Yup, itu Sentosa Express.

Jangan lama-lama, belakang nungguin mau foto juga tuh.

Tujuan terkenal di Laluan Monorel KL adalah Kawasan Bukit Bintang. Menyandang predikat sebagai tempat perbelanjaan dan hiburan paling terkenal di Kuala Lumpur menjadikan Bukit Bintang sebagai pusat retail terpopuler yang selalu diburu para penggemar belanja, dari ibu rumah tangga, pegawai kantoran hingga pemudi pemuda bahkan para wisatawan.

Bukannya kamu wisatawan, Donny?….Bukan, bang. Aku cuma tukang kelayapan yang beruntung diberi kesempatan keliling dunia hingga 20 negara…..Geplaaakk-Geplaaakk-Geplaaakk.

9. Taman Tasik Titiwangsa

Killing time di sebuah taman kota di utara pusat kota adalah penutup petualangku di hari kedua. Didirikan di bekas pertambangan timah semasa kolonialisme Inggris menjadikannya maklum dengan keberadaan danau besar bekas galian pertambangan itu.

Maap pemirsa….Aku kehabisan batre pas ditaman….Itu aja ya.

Pukul empat sore, aku sudah hadir di taman itu dalam keramaian aktivitas warga yang luar biasa. Sampai-sampai adzan maghrib mengingatkanku bahwa aku sedang tidak berada di “Taman Bluntas”(nama taman terlayak yang dekat dengan tempat tinggalku). Artinya, waktu mulai mengusirku untuk segera meninggalkan Taman Tasik Titiwangsa dan lebih baik menyambut rasa aman di hotel tempatku menginap saja.

10. Hop On Hop Off Bus

Waktu memang tak bersahabat ketika dihadapkan dengan rasa penasaran. Mendadak aku di dorongnya memasuki hari terakhir petualangan. Waktu yang tak sedikit berhasil berkompromi dengan urat betis dalam mempengaruhi otak. Lalu otak berbisik, “Santai saja menghabiskan hari terakhir di Kuala Lumpur, Don”.

Rp. 157.500 terpaksa kuserahkan kepada pemandu wisata bus tingkat macam Routemaster milik negeri ratu Elizabeth itu. Bukan Routemaster ….Itu namanya HOHO….Atau kerennya Hop On Hop Off.

Buruan naik….Keburu soreeee.

HOHO Bus Stop No. 09 yang terletak di Central Market memudahkanku untuk menangkapnya….Tak sampai 5 menit untuk mencapainya dari Agosto Inn. Tak terima merugi, aku bersikeras mengunjungi beberapa destinasi wisata sepanjang jalur bus HOHO.

11. Istana Negara

Cukup 15 menit saje, setelahnya tuan-tuan dan puan-puan bise kembali ke bus atau ikut bus berikutnye”, suara itu semakin jelas dengan keberadaan mic di bawah bibir sang pemandu. Duh cantiknya wajah melayu berhijab itu. Membuatku luluh.

Awas jangan nempel-nempel….Bikin kotor tembok.

Aku bergegas melarikan diri secepat mungkin mendekat gerbang istana. Berfoto dengan penjaga istana yang berdiri bak patung dan kuda istana yang sangat jinak walau berpuluh-puluh wajah berbeda silih berganti berfoto dengannya.

12. Dataran Merdeka

Lapangan luas dihiasi gedung ikonik bergaya Mughal-Moor menjadi persinggahan berikutnya. Sultan Abdul Samad adalah nama bangunan itu. Sultan Abdul Samad sendiri adalah pemimpin negara Selangor yang terkenal karena memindahkan ibu kota Selangor dari Klang ke Kuala Lumpur.

Ya….Mayan lah posenya.

Dataran itu dikenal sebagai Dataran Merdeka, tempat dimana kemerdekaan Malaysia dari pemerintah kolonial Britania Raya di deklarasikan.

13. KL Tower

HOHO yang tak begitu lama berhenti di menara komunikasi itu, lantas tak membuatku menyerah. Aku melompat dengan gesit keluar dari bus dan sedetik kemudian HOHO meninggalkanku di pelataran KL Tower.

Sonoh naeekkk….Jangan lama-lama.

Aku akan mengeksplorasi KL Tower sebelum menuju Muzium Negara.

Kalau kamu punya nyali, masuklah ke Sky Box, kalau mau makan siang dengan cara elegan maka cobalah revolving restaurant lalu pergilah ke observation deck untuk menangkap pemandangan kota Kuala Lumpur lebih dekat di pelupuk mata.

Aku?….Dua bagian pertama kulewatkan. Dompet hanya sanggup memasukkanku ke bagian terakhir….Lumayan lah daripada tidak sama sekali.

14. Muzium Negara

Mau mengenal budaya suatu bangsa dengan cepat?….Datanglah ke museum nasionalnya.

Untuk itulah aku hadir di Muzium Negara Malaysia. Perjalanan bangsa Malaysia dari waktu ke waktu terpampang jelas di museum ini. Mulai dari kehidupan prasejarah….Kehidupan berkerajaan….Bahkan cerita tentang Majapahit pun ada disini.

Kayak ga pernah liat kreta aja….Huh.

Nuansa kerajaan Kuala Terengganu nampak kuat terasa mempengaruhi arsitektur museum ini yang tampak begitu megah.

Sesi perjuangan bangsa Malaysia dari kolonialisme Britania Raya pun menutup sesi belajar sejarah di bangunan yang terletak di Jalan Damansara itu.

15. Taman Tasik Perdana

Perlahan Hop On Hop Off memasuki kawasan hijau Kuala Lumpur….Warbiasah, ini Taman Tasik Perdana yang tersohor itu.

Terkenal dengan sebutan Lake Garden, taman ini adalah solusi terbaikku untuk menjauhi hiruk pikuk kota Kuala Lumpur yang lama-kelamaan membuat bising telinga.

Nempel….Denda.

Kulihat betapa bahagia warga Kuala Lumpur berpiknik sekeluarga, mengayun kaki di sepanjang jogging track, mendayung perahu di danau nan cantik dan aku pun larut bersama langkahku menikmati hijaunya pepohonan yang mendinginkan udara sekitar.

16. Taman Orkid Kuala Lumpur

Warna-warni bunga itu bagai magnet yang menarikku mendekat. Riang tak berkira ketika papan nama itu membisikkan informasi bahwa aku tak perlu membayar satu sen pun untuk memasukinya.

Dilarang menginjak rumput!….Wah, ngajak berantem.

Seorang ibu dengan caping lebar menyapaku dengan senyum karena bahagia. Karyanya menata taman itu akhirnya dikunjungi seorang pengelana berkantong tipis….Tanpa malu pula si pengelana berpose di depan kamera yang dipegang Sang Ibu….Udah masuk gratisan, nyuruh-nyuruh pulak….Beuh, plaaaaaakkkk.

17. Taman Rusa dan Kancil

Bu….Ada sesuatu yang tak memerlukan tiket masuk untuk berwisata di Taman Tasik Perdana?”, pertanyaanku yang tak berkemaluan.

Ada, Dik….Ada kancil di seberang. Di hujung jalan tu belok kanan”, ucapnya bercampur senyum.

Beuh, kalau gratisan jangan ditanya….Donny jagonya cari dan paling cepat hadir. Secepat kilat, aku sudah berada di dalam Taman Rusa dan Kancil.

Mirip….

Para pengunjung yang semuanya begitu cepat memasuki taman itu lalu dengan cepat pula meninggalkannya. Berbeda denganku yang begitu menikmati tingkah para kancil yang saudara-saudaranya suka mencuri timun di Indonesia.

Beuh….Bau kotoran kancil itu mengalahkan kebiasaan burukku….Pemburu wisata gratisan.

18. Taman Burung Kuala Lumpur

Sarang burung terbesar di dunia katanya. Rumah bagi tiga ribu ekor burung. Kali ini tak ada ampun buat dompetku. Rp. 138.000 melayang hanya untuk sekedar melihat para burung bebas terbang berkeliaran di dalam taman ini.

Jangan pegang-pegang plang….Awas rubuh….Huh

Kalau kamu kesana coba kau cari  bebek mandarin yang baru pertama kali juga aku melihatnya. Jangan lupa ikuti juga acara pemberian makan bagi para penghuni KL Bird Park.

19. National Mosque

Keluar Taman Tasik Perdana, HOHO mengantarkanku untuk menjalankan ibadah shalat Ashar di National Mosque.

Sok sopan…..

Masjid Negara yang mampu menampung 15.000 jama’ah ini, didirikan untuk mensyukuri kemerdekaan negara dari pemerintah kolonial tanpa pertumpahan darah.

Rasakan kesejukan ruangan utama dengan karpet lembut saat beribadah di masjid ini. Dijamin damai dan bikin ngantuk.

20. Kuala Lumpur City Gallery

Perlahan aku menjauh dari kawasan Taman Tasik Perdana untuk kembali ke pusat kota. Rupanya aku sudah mengitari kota 360 derajat, karena aku sudah mendarat kembali di Dataran Merdeka. Kali ini aku menyasar Kuala Lumpur City Gallery.

Kek orang kampung….

Pengen tahu rencana pengembangan kota Kuala Lumpur?

Pengen tahu juga berapa pendapatan Malaysia dari pariwisata?….Fantastis.

Pengen tahu juga, mereka mau bikin gedung apa lagi untuk mengalahkan Petronas Twin Tower yang sebetulnya juga sudah menjadi satu yang terhebat di seantero jagad?

Bayar aja deh Rp. 17.500 dan masuk ke dalamnya….Kagak rugi, kujamin.

21. Muzium Tekstil Negara

Yup, masih ada waktu sedikit lageeeee…..

Menyeberangi jalan di Dataran Merdeka, aku tertelisik dengan keberadaan Muzium Tekstil Negara. Tak perlu merogoh kocek untuk mengunjunginya.

Diliatin Satpam dari dalem…..

Muzium yang ditaruh di dalam bangunan berusia  lebih dari se-dekade ini menawarkan perjalanan sejarah dan budaya melaui sederetan kain khas Melayu yang dipajang didalamnya. Juga beberapa peninggalan beberapa benda kerajaan Kuala Terengganu yang artistik dan pasti menjadi barang mewah di zamannya

22. Petaling Street

Selamat tinggal Hop On Hop Off, terimakasih sudah mengantarkanku mengenal Kuala Lumpur.

Aku segera menuju ke hotel untuk mengambil backpack yang sudah kutitipkan sejak pagi karena memang masa inapku sudah selesai jam 12 siang.

Tapi ya kembali ke sifat dasar….Tak mau merugi melawan waktu yang terus bergulir, aku merangsek menuju Petaling Street yang dekat dengan hotel.

Sok mau belanja….Emang punya duit, Don?

Petaling Street adalah pusat pecinan di Kuala Lumpur. Cukup ramai ketika aku memasuki dan menelusuri setiap selasar yang menawarkan berbagai souvenir dan makanan.

Kamu harus cobain kenari atau chestnut bean yang di sangrai dalam pasir panas….Beuh itu enak, sumpah!

23. Pasar Seni (Central Market)

Semakin gelap….Tak perlu khawatir, penerbanganku masih esok hari. Yang membatasiku hanyalah jam operasional terakhir LRT, yaitu pukul 23:00.

Aku hanya perlu waktu beberapa menit untuk berpindah dari Petaling Street menuju Pasar Seni. Duduk menikmati kuliner di Petaling tak menyadarkanku bahwa gelap mulai mengakuisisi hari. Mungkin juga karena kelelahanku yang sudah bersekongkol  dengan gelap untuk membuatku khilaf.

Minjam gambar orang yak (gambar tahun 2019).

Bu, uang segini dapat apa saja ya?….Bungkusin aja sedapatnya, Bu. Souvenir aja ya, Bu….Jangan bungkus makanan. Saya mau pulang ke Jakarta”, perkataan yang menandakan aku lelah dan tak bisa berfikir lagi untuk memilih oleh-oleh.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Hanya beberapa menit sebelum jam 21:00, aku menutup tirai petualangaku di Kuala lumpur. Sudah saatnya menuju ke bandara yang akan menjadi tempat tidurku di malam terakhir. Kombinasi perjalanan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan Skybus membuatku tiba di KLIA2 jam sepuluh lebih sedikit.

Tuh yang punya gambar Central Market….Itu kan guwe dari masa depan….Wah!

Hi, man….bandara bukanlah destinasi wisata….Yakss, buatmu mungkin bukan….Buatku iya, karena aku sering menginvestasikan waktu untuk menjelajah bandara-bandara yang baru pertama kali kukunjungi.

Buatku KLIA2 adalah tempat eksotik bak hotel bintang tujuh yang berjasa mengantarkanku berkeliling dunia.

Udah yeee….Tiga hari guwe bikin tulisan ini. Tulisan terpanjang yang pernah kutulis. Ma’ap, kuketik. 2.333 kata, mamen. Njirrrr.

Coba lo itung sendiri dah….

Behind of Air Asia QZ 206 Flight from Jakarta to Kuala Lumpur

Just after returning from expedition to Garut-Tasikmalaya-Sumedang, my fatigue after a week traveling in that three districts didn’t make me tired. Didn’t take a break, I prefer to complete my mission for complete South Asia exploration by visiting the remaining three countries.…Bangladesh, Sri Lanka and Maldives.

Air Asia ticket which I bought for USD 25,8 since April 7, 2018 was able to keep my mission and my wallet to continue to travel the world. Yes, I had to caught Malindo Air on Kuala Lumpur-Dhaka route in KLIA.

During waiting period of my departure, many questions arise from work colleagues or other friends outside of work.

“Yeeee, why are you traveling to Bangladesh?. It’s not elite”

“Donny, what do you want to see in Bangladesh?”

“You will go home and sick, Donny”

“Wasting time….Better you go to Ancol (a beach in Jakarta) than go to Bangladesh”.

“Donny, Why does have to go to Bangladesh?”

I answered: “Yes, up to me … it’s my money … It’s my steps“.

Ups, I didn’t answer like that….That’s impolite.

Hahaha …. “Yes, guys, my money is only enough to travel there“….Hahaha….That’s my answer to them.

Other people don’t know about my mind about traveling….more crazy, more better….more weird, more amazing…Hahaha.

—-****—-

As usual…Using DAMRI bus at Kampung Rambutan Terminal. Besides being cheap, it is also close from my home. I prepared USD 2,9 to pay the fare with departure time on 15:00 hours. 1 hour and 15 minutes trip drove me in Terminal 2F, Soekarno Hatta International Airport.

Through gate 5, I started entering first X-ray screening. Not so smooth, my backpack which became my only friend was seen flipped by AVSEC (Aviation Security) officer, smeared with wet tissue and then watched closely. No need to worry…. the important thing is no drugs in it….Hahaha. Even if denied entry, it’s calm…. this is still in my city. Just go back to home with DAMRI again….If I denied to boarding.

Hi Ms, can me get window seat, please!“, My seduction to check-in staff at Air Asia counter. God, She is very pretty and kind, always smile …Hahaha, It’s be her duty to smile to everyone. “Hello, It’s your boarding pass“, She said….I got seat 2D, yes I failed….Hahaha.

Let’s stamped a passport! …. Even though it’s an e-passport, but my habit of stamping a passport make me didn’t care about existace of autogate counter.

Immigration Officer: “Where do you go?

Me : Just mention in detail one by one of my destination, so he wasn’t be suspicious, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives, sir. Transit in Mumbai and Singapore“. What kind of trip trip is it? … crazy.

Immigration Officer : “Backpacker?”

Me                           : “Yes sir”

Immigration Officer : He saw my face, checking my new passport and old one. Then….He stamped it, “be careful, sir“.

Me                            : “thank you, sir….surely I will be careful”.

Immigration Officer : “You are great“.

Yuhuuu…..I’m great like he said

Then I prayed at end of corridor before entering gate. After that, I entered second X-ray screening in front gate D5….Yess, very smooth.

While I was sitting reading near charging station, came a couple of Korean. They tried very hard to use it too.

Me      :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

He       : “Oh yea….Why put it here if broken” ostensibly kicking charging station while smiling.

Me      : “Do you want go to South Korea?”.

He        : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Me     :  “Oh Nice”.

He       : “What are you doing here? “.

Me     :  “My profession, your mean?”.

He       :  “yeaaa”

Me     :  “Sales”.

He       :  “Good money?”

Me      :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

He       :  “yea…yea…yea”, nodding while smiling at me.

Looked like his girlfriend was a travel vlogger. Always speak with her confidence….Great. I thought I could not be like that? It’s better to write than to talk like her.

QZ 206 finally leaned to gate. Yup ….my adventure started immediately. Thirsty made me out from gate to buy mineral water. And a little warning from gate officer to immediately back to gate. Ok, sir, instead of buying it on the plane, it’s expensive.

Airbus A320-200 with a capacity about 186 passengers.

Exactly on 19:17 hours, I started boarding.

Behind korean-american girl.

Turbulence night flights on end of December. Seen middle-aged man next to me was so tense and held tight to the armrest chair throughout flight while me and a young woman who flanked him only wryly smiled while hiding misgivings.

Cabin.

Because my latest knowledge about Ipoh and Penang was so minimal, I decided to explore Travel360 inflight magazine. Hoping to find valuable information about Ipoh and Penang tourism. And …. thanks …. I really got it.

Ipoh in Travel360 inflight magazine.
Basic information about Penang.

QZ 206 was preparing to landing. Could not sleep during the trip because focus in reading inflight magazine to find information. This time, my 5 days transit adventure in Malaysia was foolish. Traveling without enough information.

Getting ready to landing.
What is the baggage for? It maybe a flight safety equipment.

Once arrived at KLIA2, a thoughts which immediately occurred to me were looking for a free water station, dinner, prayer, bought bus ticket to Penang and then sleeping.

You have to go to Transportation Hub on 1st floor to find cheap food. Oh yeah….Bus ticket sales counter is also there.

Come on…Got ready to go to Penang tomorrow.

For several transportation mode from Jakarta to Kuala Lumpur, you can get the ticket in 12Go Asia or in link: https://12go.asia/?z=

Scoot Air TR 457 from Kuala Lumpur to Singapore (KUL-SIN)

SCOOT AIR….Low Cost Carrier (LCC) from Singapore, which its stocks are owned by Singapore Airlines.

Scoot Air TR457 flight path. Source from https://flightaware.com

Scoot is 22nd airlines which I have ever used. Through flight number TR 457 on regular route Kuala Lumpur (KUL) to Singapore (SIN), I firstly used Scoot Air service on March 31st, 2018. On that time, I boarded an Airbus A320 aircraft with 168 passengers in capacity.

Even though I ever used Tiger Mandala Airlines on November 26th, 2013 while heading to Bangkok and Tiger Air on January 11st, 2015 when I returned from Vietnam. Now the two airlines have merged into Scoot Air.

Look that ! Tiger Air identity in Scoot Air TR 457 plane.

Ambiguity of terminal where I would depart (whether from KLIA terminal 1 or KLIA terminal 2) made me a little nervous because departure list usually publishes 2 hours before flight. And of course, it takes time to move from KLIA2 to KLIA.

For international flights, I always start towards airport on 4 hours before flight time. So I left Westree Hotel on 05:30 and rushed to Skybus/Aerobus shelter which located in KL Sentral. Because distance from hotel to shelter is only 40 m, I only needed to walk for 3 minutes towards shelter.

Indian descent hotel security sharply watched me in inner door of lobby….Because I stood for a long time in middle of lobby door….I was seriously watching around….So quiet, I had to make sure that there wasn’t suspicious thing along road which I would pass towards KL Sentral.

Yesss….There aren’t any people on road….Fast walking. Like an racewalking athlete, I started to stay away from hotel. I arrived in shelter when bus was ready to leave.

With USD 3.1, I arrived at KLIA2 on 6:30. I immediately headed to information center to ask about terminal where TR457 would take off. On early morning, I disturbed information center officer with some questions because departure board didn’t display yet an information about TR457, so She had to pull keyboard and searching information for me….very kindly officer.

God…..my eyes glared while chewing Nasi Lemak (original food from Malaysia) with fried egg in corner of NZ Curry House….Look like a goat which was ruminating. It was a sign that I wasn’t ready to get early breakfast.

Yes, there wasn’t other choice, it was better to have breakfast in Indian restaurant with cheapest price before heading to 3rd floor for check-in, immigration and departure processes.

Departure Board in Departure Hall
Information Centre in Departure Hall
Departure Hall Area
Check-in counter no Z2-Z3 for Scoot Air TR457.
After passing immigration counter, I headed to waiting room at gate L3.

I entered waiting room on 08:05. In boredom of waiting, Vietnamese came to me and ask something:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (while showing a pack of cigarettes which have been smoked two stumps). Can I bring it when entering Singapore?

Me : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.

Me: “You are welcome”.

Waiting room in front of gate L3.
After waiting for 20 minutes, finally boarding process begins.
Where was seat 14D?

Scoot Air is identical with yellow. The charm of young air crews was very fresh when their appeaybrance is clad in yeloow t-shirt and shallow.

Fly over Malacca Strait
The sky is really clear, very comfort to fly without turbulence.

After fllying about 1 hour and 15 minutes, I landed at Changi International Airport Terminal 2. Trying to leave Changi as soon as possible to go to Greendili Backpackers Hostel in Race Course Road and then ready to explore Singapore for 7th time.

Searching MRT map before entering Changi International Airport immigration counter.
Catch the MRT ! towards downtown.

Let’s go to Mustafa Center for lunch before exploring.

Dibalik Penerbangan Air Asia QZ 206 Jakarta-Kuala Lumpur

Baru juga pulang dari ekspedisi ke Garut-Tasikmalaya-Sumedang , lelahnya berkelana seminggu di tiga kabupaten itu tak lantas membuat tubuh lelah. Boro-boro istirahat, Aku lebih memilih menuntaskan misiku menyelesaikan eksplorasi Asia Selatan dengan mengunjungi tiga negara tersisa….Bangladesh, Sri Lanka dan Maldives.

Tiket Air Asia yang kubeli seharga Rp 349.000 sejak 7 April 2018 mampu menjaga asaku dan dompetku untuk terus berkeliling dunia. Yes, Aku harus menjemput Malindo Air rute Kuala Lumpur-Dhaka di KLIA.

Sepanjang masa tunggu keberangkatan, banyak pertanyaan muncul dari teman-teman sekantor atau teman-teman lain diluar pekerjaan.

“Yeeee, jalan-jalan kok ke Bangladesh. Ga elit bingit”

“Lo mau liat apa sih Don di Bangladesh?”

“Tar lo pulang sakit loh, Don”

“Kurang kerjaan….mending ke Ancol guwe daripada ke Bangladesh”.

“Kenapa sih Don harus ke Bangladesh?”

Jawabku: “Ya suka-suka guwelah….duit-duit guwe…kaki juga kaki guwe”.

Eh gak gitu dink….kasar beud.

Hahaha….”Ya gimana pren, duitnya hanya mampu buat jalan dimari”….wkwkwk….Itu jawaban guwe ke mereka yeee.

Kan orang lain ga tau sih isi kepala guwe about traveling…..makin gila makin aseeeekkk…..makan aneh makin nagih…..hihihi.

—-****—-

Biasaaa….Nyegat DAMRI di Terminal Kampung Rambutan aja yang murah. Selain murah juga deket rumah bingit. Kupersiapkan Rp. 40.000 untuk membayar tarifnya dengan jam keberangkatan pukul 15:00. Perjalanan 1 jam 15 menit itu mengantarkanku tepat di Terminal 2F.

Melalui gate 5, Aku mulai memasuki pemeriksaan X-ray tahap pertama. Tak begitu mulus, backpack yang menjadi temanku satu-satunya terlihat dibolak-balik petugas AVSEC, dioles-oles menggunakan tissue basah lalu mengamatinya dengan seksama. Tak perlu khawatir….yang penting tak ada narkoba didadalamnya….hahaha. Kalaupun di tolak masuk, tenang brur….ini masih di kota sendiri. Tinggal balik lagi naik DAMRI….ya toh.

“Mbak, window seat donk !”, seruan memelasku kepada petugas check-in di konter Air Asia. Aduh, udah cantik baik pula, murah senyum…..eh emang tugasnye begonoh dink. “Ini mas”, sahutnya…..2D, yes gagal…..hahaha.

Yuk ngecap passport….geblek, padahal itu kan e-passport, tapi kebiasaannku mengecap passport menjadi tak peduli dengan adanya konter autogate.

Petugas Imigrasi  :  “Kemana?”

Aku                           : Sebutin aja detail satu-satu, supaya ga curiga kek waktu itu, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives pak. Transit Mumbai dan Singapore”. Njir perjalanan macam apa ituh….gile

Petugas Imigrasi  : “Backpacker?”

Aku                           : “Yoi pak”….eh salah, bukan begitu….”Betul pak”.

Petugas Imigrasi  : Lihat muka guwe, bolak-balik passport baru dan bekas guwe. Then….cekrek “hati-hati mas sendirian”.

Aku                           : “makasih pak….tentu saya akan hati-hati”.

Petugas                  : “Hebat nih si Mas”.

Cieeee….Guwe dipuji laki-laki….Alhamdulillah…..hahahaha. Pasti mikir guwe yang engga-engga….GUWE NORMAL KOK.

Kusempatkan shalat di ujung koridor sebelum masuk ke gate. Setelahnya, Aku memasuki pemeriksaan X-ray tahap kedua di depan gate D5….yesss, mulus.

Sedang asyik-asyiknya duduk membaca di sebelah charging station, datang sepasang perawakan Korea. Mengoprak-oprek lubang stop kontak yang sepertinya rusak.

Aku     :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

Dia       : “Oh yea….Why put it here if broken” pura-pura menendang pelan charging station sembari tersenyum.

Aku     : “Do you want go to South Korea?”.

Dia       : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Aku     :  “Oh Nice”.

Dia       : “What are you doing here? “.

Aku     :  “My profession, your mean?”.

Dia       :  “yeaaa”

Aku     :  “Sales”.

Dia       :  “Good money?”

Aku     :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

Dia       :  “yea…yea…yea”, manggut-manggut sambil tersenyum menatapku.

Sepertinya pacarnya seorang travel vlogger. Ngoceh melulu dengan pedenya….hebat. Aku mana bisa kayak gitu. Lebih baik menulis daripada ngoceh terus macam Dia.

QZ 206 akhirnya merapat ke gate. Beuh….petualangan segera dimulai. Kehabisan air membuatku lari keluar untuk membeli mineral water. Dan sedikit mendapat peringatan dari petugas untuk segera kembali ke gate. Ok dah pak, daripada beli didalam pesawat, kan mahal.

Airbus A320-200 berkapasitas 186 penumpang.

Tepat jam 19:17, Aku mulai boarding.

Dibelakang cewek korean-american itu.

Penerbangan malam yang penuh turbulensi mengingat saat itu akhir Desember. Terlihat bapak setengah baya di sebelahku begitu tegang dan berpegangan erat pada armrest chair sepanjang perjalanan sementara Aku dan seorang perempuan muda yang mengapitnya hanya tersenyum kecut sambil menyembunyikan rasa was-was.

Kabin.

Karena pengetahuan terkiniku mengenai Ipoh dan Penang begitu minim, kuputuskan untuk menjelajah inflight magazine Travel360. Berharap menemukan informasi berharga mengenai pariwisata Ipoh dan Penang. Dan….yesss….Aku sungguh mendapatkannya.

Ipoh di inflight magazine Travel360.
Informasi mendasar tentang Penang.

QZ 206 bersiap mendarat. Tak bisa tidur selama perjalanan karena keasyikan membaca inflight magazine untuk mencari informasi. Kali ini petualangan transitku selama 5 hari di Malaysia bak bonek. Ngelayap tanpa bekal informasi yang cukup.

Bersiap-siap mendarat.

Itu bagasi buat apa ya? Perlengkapan keselamatan pernerbangan kali ya.

Begitu tiba di KLIA2 tentu fikiran yang langsung terbesit di benakku adalah cari free water station, makan malam, sembahyang, tiket bus ke Penang dan kemudian molorrrrrr.

Kamu harus menuju ke Transportation Hub di lantai 1 untuk mencari tempat makan murah. Oh ya…konter penjualan tiket bus juga ada disana

Yuks….siap-siap menuju Penang esok hari.

Sudah pernah coba beli tiket di 12Go ndak?. Sekali-kali boleh kamu coba deh. Berikut linknya: https://12go.asia/?z=3283832

Traveling to Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan.

My curiosity was paid off precisely when my first step down the bus in one of Bandar Seri Begawan Bus Terminal platforms. Unexpectedly, my journey around Southeast Asia took me to Hassanal Bolkiah’s land.

Unique….Terminal is on ground floor of Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

A step later, I was already in “Afmal Restaurant” near bus terminal to enjoy a portion of “bakso” (Indonesian name of meatballs). Needed something fresh in my mouth to relieve tangling after an overnight stay without bathing in Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Freshness of “bakso” which I ordered became more meaningful when there was a little conversation with restaurant owner who come from Purworejo, Central Java, Indonesia….It means that He is from similar province with me in Indonesia.

After being full, I rushed to get out of terminal area through “Bebatik” alley to main road (the road name is Mc Arthur Street). Right on other side of Mc Arthur Street, you will find Brunei River which is very clean. And right in the middle of Brunei River, standing a famous village throughout Brunei. It’s called Kampung Ayer.

Every direction sign is always accompanied by an Arabic script.
Precisely on edge of Brunei River.

I always observed every motorboat which splitting Brunei River wide. There was no other way to get to Kampung Ayer, I had to ride that motorboats.

Rushing toward Brunei River edge, I waited a motorboat arrival which heading to small port in front of me. After leaning, that motorboat was immediately filled with 2 other tourists. This boat was very fast in moving and never waited long for get passengers in river edge.

A thing that you need to know is every Singapore Dollar can be used as payment tool in Brunei Darussalam with similar value with Brunei Dollar. So, 1 Brunei Dollar is same with 1 Singapore Dollar in value. But in many transactions, Brunei residents only accept payments in Singapore’s paper money and refusing Singapore Dollar coins. But in several transactions also, this coin can function….I hope you are lucky in using Singapore Dollar coins there….hahaha.

With a 1 coin of Singapore Dollar, I finally arrived in Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. This gallery is located in front of village. Free entrance made me so happy when filling a guest book in reception desk. Warm greeting from a Malay-speaking receptionist made me feel like I was in my home.

That is Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
I got a Free Tourism Guiding Book.

Kampung Ayer itself was the center of Brunei’s government until end of 19th century. Therefore, The Brunei Sultan established his palace here. Another role as an important port in Brunei makes Kampung Ayer as the administrative center for commercial activities in Brunei. Every signing of important government agreements with other parties is done here.

The appeal of Kampung Ayer as government centre made 50% of Brunei’s residents live there in the 1900s.

Brunei “Keris” with 9 curves as a symbol of power.

At exit door, I began to be stunned with neat ranks of houses in Kampung Ayer. I didn’t waste my time then visiting the village. Residents friendliness made me reluctant to quickly leave Kampung Ayer.

Come on !….Go into that village !
Very kindly and funny student, they were in Malay school uniforms.
How can the water very clean like that?

But soonly, I realized that I should immediately look for lodging to stay that night. Online searching for lodging that I did was never got a result. It maybe happen because Brunei Darussalam tourism isn’t been famous in Southeast Asia region.

I decided to pull over by waiting for a motorboat in boat shelter. Didn’t wait a long time until a motorboat was picked me up. Together with a man and his son who are Kampung Ayer residents, I headed to edge of river. Looked like that man had an important agenda, it could be seen from his way in a very neat and smooth dressing.

He: “Where are you come from?” He firstly greeted me with a smile.

Me: “I’m from Indonesia, sir”. I gave a smile and I shook his hand.

He: “Which part of Indonesia?”

Me : “Jakarta, Sir”.

He: “What profession are you doing here?”

Me: “Oh I don’t work in Brunei, sir. I am just traveling now”.

He: “Brunei is very quiet. Why do you visit Brunei? “

Me: “Oh, Brunei is very religious, sir. I deliberately go to Brunei because I intend to travel around Southeast Asia. Glad to be in your country “.

He: “Wow, it’s good to go around Southeast Asia. You don’t need to pay the boat. I paid for you”, He gave 3 Brunei Dollars to motorboat driver.

Me: “Thank you, sir, nice to meet you,” I felt shy, even though I was very happy to ride a free boat.

A little conversation with a local before I finally leaned in river edge.

Boat shelter near Pasar Tamu Kianggeh.

Let’s….Looking for dormitory!

Scoot Air TR457 dari Kuala Lumpur ke Singapura (KUL-SIN)

SCOOT AIR….maskapai Low Cost Carrier (LCC) milik Negeri Singa yang kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Singapore Airlines.

Lintasan terbang Scoot Air TR457. Sumber dari https://flightaware.com

Scoot sendiri masuk list ke-22 dari seluruh maskapai yang pernah kunaiki. Melalui nomor penerbangan TR457 dengan rute regular Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN), Aku pertama kali menggunakan jasa Scoot Air  tertanggal 31 Maret 2018. Kali ini Aku menaiki pesawat berjenis Airbus A320 dengan kapasitas 168 penumpang.

Walaupun sebenarnya Aku pernah menggunakan Maskapai  Tiger Mandala pada 26 November 2013 saat menuju ke Bangkok dan Tiger Air pada 11 Januari 2015 saat kembali dari Vietnam. Kini kedua maskapai tersebut sudah merger ke dalam Maskapai Scoot Air.

Tuh kan sudah merger, masih ada identitas Tiger Air di badan pesawat Scoot Air TR457

Ketidakjelasan terminal asal keberangkatan (apakah dari KLIA terminal 1 atau KLIA terminal 2) membuatku sedikit gelisah karena biasanya Departure List baru keluar 2 jam sebelum penerbangan. Dan tentu perlu waktu untuk berpindah dari KLIA2 ke KLIA.

Untuk penerbangan internasional, Aku selalu memulai perjalanan menuju bandara 4 jam sebelum waktu penerbangan. Jadi Aku meninggalkan Westree Hotel pada pukul 05:30 dan bergegas menuju ke Skybus/Aerobus Shelter yang terletak di KL Sentral. Karena jaraknya cuma 40 m, Aku hanya perlu berjalan kaki selama 3 menit menuju shelter.

Security hotel keturunan India tajam memerhatikanku di pintu lobby bagian dalam….Lha iya, Aku berdiri lama ditengah pintu….clingak-clinguk kiri kanan kaya ayam mau nyebrang….Saking sepinya, Aku harus memastikan tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan yang akan kulewati menuju KL Sentral.

Yesss….Sepi, ndak ada orang….Kabuuurrrrrr. Bak atlit jalan cepat, Aku mulai menjauhi hostel. Aku tiba saat bus siap berangkat.

Dengan 12 Ringgit aku tiba di KLIA2 pada pukul 6:30. Setiba di KLIA2, Aku segera menuju information centre untuk menanyakan dimana terminal TR457 akan lepas landas. Pagi-pagi Aku sudah ngrepotin Si mbak India petugas information centre, karena Departure Board belum menampilkan informasi tentang TR457 maka Dia harus menarik keyboard dan mencarikan info untukku….Hadeuhhh, sudah manis….baik pulak si teteh….eh, si mbak.

Buseeettt….mataku melotot sambil mengunyah nasi lemak telur ceplok di pojokan NZ Curry House….kek kambing yang sedang memamah biak. Pertanda Aku tak bisa membohongi otak bahwa perutku belum siap bersarapan.

Ya memang tak ada pilihan lain, lebih baik sarapan di kedai makan India dengan harga paling murah sebelum menuju ke lantai 3 untuk proses check-in, proses imigrasi dan keberangkatan.

Departure Board di Departure Hall
Information Centre di Departure Hall
Departure Hall Area
Konter check-in Z2-Z3 untuk Scoot Air TR457
Setelah melewati konter imigrasi, Aku menuju ke ruang tunggu di gate L3.

Aku memasuki ruang tunggu pada pukul 08:05. Dalam kejenuhan menunggu, datang kepadaku wajah Vietnamese dan bertanya:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (sambil menunjukkan sebungkus rokok yang sudah terhisap dua puntung). Can me bring it when entering Singapore?”

Aku : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.”

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.”

Aku: “You are welcome”.

Ruang Tunggu di depan Gate L3
Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya boarding process dimulai.
Mana 14D….manaaaaa?

Scoot Air identik dengan warna kuning. Pesona pramugari-pramugara muda keturunan Tiongkok semakin segar ketika penampilan mereka terlihat berbalut t-shirt dan syall serba kuning.

Terbang diatas selat Malaka
Langit sungguh cerah, nikmat banget terbang tanpa turbulensi.

Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit, Aku mendarat di Terminal 2 Changi International Airport. Berusaha secepat mungkin meninggalkan Changi untuk menuju ke Greendili Backpackers Hostel di bilangan Race Course Road dan selanjutnya siap mengeksplorasi Singapore untuk ke-7 kalinya.

Cari peta MRT sebelum masuk konter imigrasi Changi International Airport.
Catch the MRT ! Menuju pusat kota

Makan siang dulu yuk ke Mustafa Centre sebelum walking-walking.

Sebagai alternatif, tiket pesawat, kereta dan bus dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa dipesan melaui e-commerce perjalanan 12go Asia

Berwisata ke Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan.

Rasa penasaran terbayar tepat saat langkah pertamaku menuruni bus di salah satu platform terminal bus Bandar Seri Begawan. Tak kuduga, petualanganku berkeliling Asia Tenggara mengantarkanku ke negeri Hassanal Bolkiah.

Unik….Terminal berada di lantai bawah Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

Selangkah kemudian, Aku sudah berada di dalam Warung Makan Afmal di sisi terminal untuk menikmati seporsi bakso. Butuh sesuatu yang segar di mulut untuk menghilangkan kekusutan pasca bermalam tanpa mandi pagi di Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Kesegaran bakso yang kupesan semakin bermakna ketika terjadi obrolan ringan dengan si empunya warung makan yang asli Purworejo, Jawa Tengah….Wah tetangga sendiri ternyata.

Selepas kenyang, Aku bergegas untuk keluar dari area terminal melalui  Lorong Bebatik menuju sebuah jalan besar (Jalan Mc Arthur). Tepat disisi lain Jalan Mc Arthur, Kamu akan menemukan Brunei River yang sangat bersih. Dan tepat di tengah Brunei River, berdiri sebuah perkampungan terkenal di seantero Brunei. Namanya Kampung Ayer.

Setiap petunjuk jalan selalu dilengkapi aksara Arab.
Tepat di tepi Brunei River

Aku terus mengamati lalu lalang perahu bermesin yang membelah lebarnya Brunei River. Tidak ada cara lain memang untuk menuju Kampung Ayer, Aku harus menaiki perahu-perahu kecil itu.

Bergegas menuju pinggiran Brunei River, Aku menantikan kedatangan sebuah perahu yang menuju ke tepi. Begitu bersandar, bersamaku perahu itu langsung terisi dengan 2 turis lainnya. Perahu ini sangat cepat bergerak dan tak pernah menunggu lama di tepian sungai.

Yang perlu kamu tahu bahwa setiap dolar Singapura bisa digunakan sebagai alat bayar di Brunei Darussalam dengan nilai yang sama dengan Dolar Brunei. Jadi 1 Dolar Brunei nilainya sama dengan 1 Dolar Singapura. Hanya terkadang di beberapa transaksi, warga Brunei hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang kertas dan menolak menggunakan koin Dolar Singapura. Tetapi ada juga di beberapa transaksi, koin ini bisa berfungsi.

Dengan koin 1 Dolar Singapura, Aku akhirnya tiba di Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. Galeri ini terletak di bagian paling depan perkampungan. Free entrance membuatku begitu sumringah ketika mengisi buku tamu di bagian reception. Sapaan hangat sepasang resepsionis berbahasa Melayu membuatku seakan berada di kampung sendiri….Kampung Rambutan….eeaaaa.

Itu dia Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
Mendapatkan Free Tourism Guiding Book.

Kampung Ayer sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan Brunei hingga akhir abad ke-19. Oleh karenanya, para sultan Brunei mendirikan istananya di sini. Peran lain sebagai pelabuhan penting di Brunei menjadikan Kampung Ayer sebagai pusat administrasi atas aktivitas komersial di Brunei. Setiap penandatanganan perjanjian penting pemerintah dengan  pihak lain dilakukan disini.

Daya tarik Kampung Ayer sebagai pusat pemerintahan menjadikan 50% warga Brunei tinggal didalamnya pada tahun 1900-an.

Keris Brunei dengan 9 lekukan sebagai simbol kekuasaan

Di pintu keluar, Aku mulai tertelisik dengan rapinya jajaran rumah di perkampungan. Aku pun tak menyia-nyiakan waktu dengan memasuki bagian dalam perkampungan. Bersua dengan para penghuni membuatku enggan untuk cepat-cepat meninggalkan Kampung Ayer.

Yuk….Masuk ke dalam kampung itu !
Lucunya anak-anak sekolah itu dengan seragam Melayu.
Airnya bisa jernih begitu ya?

Tapi Aku segera tersadar bahwa Aku harus segera mencari penginapan untuk bermalam nanti. Pencarian penginapan secara online yang kulakukan tak pernah membuahkan hasil. Ini terjadi mungkin karena pariwisata Brunei Darussalam yang belum tersohor di kawasan Asia Tenggara.

Kuputuskan untuk menepi dengan menunggu perahu di boat shelter. Tak menunggu waktu lama sebuah perahu menjemputku. Bersama seorang Bapak dan anaknya yang merupakan warga Kampung Ayer, Aku menuju ke tepi. Sepertinya sang Bapak mempunyai agenda penting, terlihat dari caranya berpakaian khas Melayu yang sangat rapi dan klimis.

Dia: “Asal mana, Adek?”, Dia menyapaku pertama kali dengan senyum.

Aku: “Saya dari Indonesia, Pak”. Kubalas senyum dan kuajak berjabat tangan.

Dia: “Indonesia bagian mana?”

Aku: “Jakarta, pak”.

Dia: “Kerja apa disini?”

Aku: “Oh, Saya melawat (berwisata) Pak di Brunei”.

Dia: “Brunei kan sepi, Adek. Kok melawatnya ke Brunei?”

Aku: “Oh, Brunei religius ya Pak. Saya sengaja ke Brunei Pak karena berniat keliling Asia Tenggara. Senang bisa ke negeri Bapak”.

Dia: “Wah, bagus ya keliling Asia Tenggara. Adek, ga usah bayar ya perahunya. Ini sudah Saya bayar”, Dia memberikan 3 lembar Dolar Brunei ke pengemudi perahu.

Aku: “Terimakasih ya Pak, Senang bertemu dengan Bapak”, sambil pura-pura tersipu malu padahal senang banget naik perahu gratisan.

Sekelumit percakapan dengan warga lokal sebelum akhirnya Aku bersandar di tepi.

Boat shelter dekat Pasar Tamu Kianggeh

Yuk….Cari dormitory !.