Kuwait International Airport Lebih Dekat

Kuwait International Airport menjadi bandara di luar Indonesia ke-30 yang ku kunjungi . Tepatnya di Terminal 4, aku mulai mengenalkan diri dengan salah satu sisi bandara apik ini. Terminal 4 sendiri merupakan mainhub resmi milik Kuwait Airways yang kali ini kupilih sebagai moda trasportasi untuk meninggalkan Bahrain.

Arrival Hall

Kuwait Airways KU 614 merapat di parking lot.

Mendarat dengan mulus di salah satu runway pada pukul 13:35, aku sudah tak sabar ingin menjejak langkah di lantai bandara.

Layaknya bandara modern, keluar pesawat melalui aerobridge.
Tampak bangunan Terminal 4 dengan tiga lantai.

Berbelok ke kanan dari aerobridge, koridor tak berkarpet itu dengan seringnya menampilkan wajah Emir Kuwait Sabah IV Al-Ahmad Al-Jaber Al-Sabah yang tampak melambaikan tangan seakan mengucap “Selamat Datang di Kuwait”.

Koridor berkutnya menuju Arrival Hall.

Aku sudah siap memasuki screening gate menuju Transfer Hall. Kebiasaanku bertraveling tanpa ikat pinggang dan meletakkan passport, uang, jam tangan, kamera, handphone dan sebotol air mineral pada folding bag kecil, membuatku tak sesibuk penumpang lain yang selalu gelagapan ketika memasuki area screening dengan tempo cepat.

Aku tak melawan penyitaan botol air mineralku, karena aku yakin akan mudah menemukan free water station di bandara berusia hampir seabad ini.

Aku mulai memasuki duty free zone dengan kamera di tangan. Tentu tak ada pelayan yang menyapaku yang berpenampilan dengan satu backpack di punggung. Ya, itu saja. Aku tak membawa apapun untuk 21 hari petualanganku kecuali  5 t-shirt, 2 celana panjang, 1 celana pendek bahkan aku menggunakan dispossable panties untuk urusan dalaman, praktis sekali pakai langsung buang. I’m very light backpacker. Orang inggris menyebutku “Wong Edan”.

Duty free zone.

Departure Hall

Masih di lantai 1, selepas duty free zone, aku dihadapkan langsung pada departure area dengan 5 gerbang pemberangkatan berkode B1 hingga B5.

Departure gate lantai 1.

Di lantai ini disediakan Al Mubarakiya Lounge bagi siapa saja yang ingin bersantai menunggu penerbangan. Aku sendiri hanya menggunakan gate B1 ketika menunggu airline van untuk menuju Safir Aiport Hotel yang dihadiahkan gratis oleh Kuwait Airways kepadaku semasa transit.

Gate B1.
Cafe Coco di dekat gate B1.

Sementara di dini hari berikutnya ketika hendak terbang bersama Kuwait Airways KU 621 menuju Doha, aku menggunakan fasilitas di sepanjang departure gate D1-D8 di lantai 2. Masih teringat ketika sehari sebelumnya tidur di sofa hijau panjang dan didatangi seorang polisi bergamis putih bak malaikat yang mengantarkanku pada keberuntungan mendapatkan free staying di Safir Airport Hotel.

Sofa di lantai 2.
Terbang ke Qatar melalui gate D8.

Parking Lot dan Area Kargo

Yuk, sekarang kita intip bagian luar bandara. Aku berhasil melihatnya dengan leluasa ketika menaiki airline van menuju Safir Airport Hotel. Hanya berdurasi 10 menit, aku perlahan melintasi area kargo. Baru kali ini melihat proses loading kargo secara langsung ketika melewati beberapa kaki pesawat kargo.

Turkish Airlines Cargo.
Area kargo.

Sebagai hasil dari pengembangan sebuah pangkalan Angkatan Udara, maka Kuwait International Airport masih berbagi tempat dengan Abdullah Al-Mubarak Air Base. Pangkalan ini sendiri berada di timur bandara, bersebelahan dengan Safir Airport Hotel tempatku menginap.

Pesawat angkut militer Alenia C-27J Spartan.

Lounge

Sebagai bandara yang memiliki kapastitas penumpang lebih dari sembilan juta penumpang per tahun maka selain menyediakan 5 area terminal maka fasilitas lounge menjadi bisnis yang menggiurkan. Selain Al Mubarakiya Lounge, Kuwait International Airport juga menyediakan Bayan Lounge di lantai 2.

Bayan Lounge dekat gate D8.

Toilet

Nah, dibagian terakhir mari kita lihat bagaimana penampakan toilet bandara. Ini dia:

Bersih dan wangi.
Toilet di lantai 2.

Itulah gambaran singkat dari Kuwait International Airport, khususnya Terminal 4.

Sudah dulu ya….Saatnya terbang ke Doha.

Kuwait Airways KU 614 dari Bahrain Ke Kuwait

Rute penerbangan KU 614 (sumber: https://www.radarbox.com/)

Tepat jam lima pagi aku mulai mengguyur badan di kamar mandi Bahrain Plaza Hotel. Hari itu juga, aku akan meninggalkan Bahrain dan menuju ke Kuwait. Setelah memastikan segenap perlengkapan tak tertinggal, aku turun ke lantai satu untuk menyerahkan kunci dan menuju ke shelter bus terdekat. Tak jauh, cuma tiga ratus meter di selatan hotel, tepat di depan Manama Cemetery.

Sepuluh menit kemudian Bus asal pabrikan MAN bernomor A1 tiba. Masuk dari pintu depan dan men-tap Go Card untuk membayar tarif senilai Rp 12.000, aku meluncur menuju Bahrain International Airport selama satu jam ke depan.

Tiba di airport pada jam 07:45, aku langsung menuju ke lantai 1. Area check-in yang tak lebih elok dari konter yang sama milik Halim Perdanakusuma Airport. Nomor penerbangan yang tak kunjung muncul di LCD Departure Hall, membuatku memiliki waktu untuk menukar Bahraini Dinar (BHD) tersisa. Rupanya money changer di lantai 1 tak mau menerima Dinar dalam jumlah kecil, beruntung Bahrain Financing Company (BFC) di lantai 0 masih mau menerimanya.

Jam 9:30, konter check-in untuk penerbangan Kuwait Airways KU 614 mulai dibuka. Kujelaskan singkat bahwa aku akan menuju Qatar dengan dua non-connecting flight dan akan transit di Kuwait. Staff pria muda itu hanya sekali bertanya kepadaku perihal Visa Qatar. “Qatar visa is free for Indonesian, Sir”, jawabku mengakhiri percakapan dan dia memberikan dua tiket berlogo burung biru sekaligus. Tiker sendiri aku pesan 9 bulan sebelum keberangkatan.

Kuwait Airways adalah maskapai ke-27 yang kunaiki.

Melewati konter imigrasi dengan mulus, aku segera menuju ke Gate 15 yang berlokasi di pojok ruangan dengan selasar sempit yang terhubung ke jalur aerobridge. Menunggu waktu boarding, aku terus mengamati lalu-lalang Gulf Air, maskapai kenamaan milik Kerajaan Bahrain.

Ruang tunggu keberangkatan.

Sedikit terlambat, aku mulai boarding pada jam 11:51. Rasa tak sabar menggelayuti hati untuk merasakan pertama kalinya penerbangan Kuwait Airways, maskapai milik Kerajaan Kuwait.

Satu jam terlambat.
Business Class.
Economy Class.

Segera mengambil tempat duduk sesuai yang tertera di boarding pass dan mempersiapkan diri untuk penerbangan pendek sejauh 420 km yang akan ditempuh dalam waktu  1 jam 10 menit.

Bangku nomor 17A yang kududuki.
Terima kasih 12Go sudah menjadi Affiliate Parner untuk travelingpersecond.com.
Alburaq inflight magazine.

Tampak bahwa beberapa aircrew maskapai ini berkebangsaan Philippines dan beberapa dari kawasan Afrika. Selama penerbangan, kuperhatikan botol-botol minuman beralkohol tak nampak pada food trolley, sepertinya penerbangan Kuwait Airways adalah penerbangan bebas alkohol….. Keren.

Menonton “The Martian”.
Menu Low Fat Meal (LFML) yang kupesan bebarengan dengan pemesanan tiket.

Siang itu udara di tepian barat daya Teluk Persia tampak cerah. Hal ini menjadikan penerbanganku terasa sangat mulus, tanpa turbulensi sama sekali. Penerbangan yang menyenangkan.

Cuaca cerah di awal Januari.
Berasa gimana gitu, terbang bersama warga Timur Tengah.

Di seperempat terakhir mengudara, pesawat mulai merendah dan menampakkan daratan Kuwait yang tampak gersang dan panas. Aku sendiri tak sabar ingin segera mengenal Kuwait International Airport yang menjadi mainhub Kuwait Airways.

Daratan Timur tengah yang khas coklat berpasir.
Kesibukan di Terminal 2 Expansion Project.
Penampakan kota Kuwait.

Waktu menunjukkan jam 13:35. Selepas pesawat berhenti sempurna, aku segera meninggalkan badan pesawat menuju ke Transit Hall Kuwait International Airport. Aku akan bersabar menunggu hingga pukul empat pagi di keesokan harinya untuk menuju Qatar.

Airbus generasi Neo A320-251N