Survey Solo Bermula dari Grand Amira Hotel by Azana

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir tengah malam….

Percakapan berbumbu secangkir latte tambahan dengan Pak Arman di lobby Solo Paragon Hotel & Residences masih saja hangat. Sedangkan Rihsan, anak keduanya yang berumur delapan tahun sudah terlelap di salah satu sisi sofa. Aku yakin jika tak menyudahi, pasti kongkow ini akan berakhir saat fajar. Maka akulah yang bertanggung jawab menutup percakapan ini.

Baiklah Pak Arman, sudah saatnya saya undur diri dan beristirahat di hotel”, kuucapkan sesopan mungkin setelah meneguk sisa latteku.

Oh, udah hampir tengah malam ya?. Oh iya, Pak Donny menginap dimana?”.

Di Grand Amira Hotel, Pak Arman”.

Oh, baiklah. Hati-hati pak di jalan. Sampai jumpa lagi kapan-kapan”.

Jalanan sudah sepi. Untuk mengurangi resiko keamanan, kuputuskan untuk memesan taksi online saja. Tak lama aku dijemputnya. Lalu, taksi melaju melalui Jalan Honggowongso menuju ke daerah Pasar Kliwon. Dalam perjalanan, aku mencoba melacak keberadaan Rahadian dalam perjalanannya dari Bandung menuju Solo. Tapi panggilanku tak berjawab, pesanku tak berbalas,mungkin dia pulas di kereta.

Solo aman ngga pak, kalau malam-malam gini naik ojek motor?” tanyaku kepada sopir untuk membuka pembicaraan.

Aman, Insyaallah mas. Disini ojek online jalan 24 jam. Ga usah khawatir”.

Wah berarti besok malam saya bisa begadang di kota nih pak….Hahahaha

Kulineran malam saja mas Donny. Solo jagonya kuliner. Di sini kuliner ada waktunya masing-masing. Ada kuliner pagi, ada juga yang buka siang, nah malam begini juga ada yang mulai buka mas”, jelasnya singkat.

Wah unik ya Solo. Pedagang kuliner seperti punya slot waktu jualan masing-masing. Kaya kesepakatan saja….hahaha” aku mulai mengagumi keunikan kota ini.

Sang sopir taksi memang tak pernah tahu bahwa tujuanku ke Solo ini untuk melakukan survey kuliner terbaik yang akan dijadikan destinasi pada acara Marketing Conference perusahaanku. Besok pagi aku akan mulai mecicipi setiap hidangan kuliner ternama Kota Batik bersama Rahadian.

Dalam 15 menit, aku tiba di pelataran Grand Amira Hotel by Azana. Hotel modern minimalis yang telah dipesan oleh kantorku. Bagiku hotel seharga 335.000 per malam ini menjadi hotel mewah karena aku terbiasa memanfaatkan dormitory ketika melakukan backpacking. Langkahku di lobby disambut dengan senyum manis resepsionis yang tampak bergegas berdiri ketika melihat kedatanganku.

Datangnya malam sekali, Bapak Donny”, sapanya singkat.

Oh iya mbak. Saya harus ketemu teman lama dahulu di daerah Mangkubumen. Keasyikan ngobrol mbak”, sambil kuserahkan booking confirmation letter dan KTP kepadanya.

Oh begitu, tapi Bapak ga perlu khawatir, resepsionis kita melayani 24 jam, Bapak”. Senyumnya terlihat aduhai sembari memberikan kunci kamar dan kwitansi bayar.

Setelahnya aku bergegas menaiki kamar dengan lift di sebelah kanan belakang meja resepsionis.

—-****—-

Tok…Tok….Tok”, bunyi itu sepertinya sudah berlangsung dari beberapa menit yang lalu.

Astagaaaa……

Aku tertidur pulas dan kesiangan.

Tok…Tok…Tok, Pak Donny buka, Pak. Ini Rahadian”, suara itu lirih terdengar dari luar.

Pasti sejak pagi gelap tadi, Rahadian sudah tiba di hotel. Dugaanku, dia pasti menuggu lama di lobby. Kulihat di gawai pintarku banyak sekali panggilan tak terjawab darinya. Pesan whatsapp pun tak terbaca. 

Kubuka pintu itu dan muka Rahadian tampak bercanda seolah menggerutu. “Gimana sih pak, kalau guwe  kagak naik ke kamar, pasti lo bangunnya tengah hari nih. Parah Pak Donny”.

Sorry, Rahadian. Semalam aku ketemu teman lama di Solo Paragon. Jadi kemalaman pulang….Hahaha. Sana kamu mandi duluan, kita segera sarapan dan melakukan survey”, selorohku sambil mengucek-ucek mata dan melompat kembali ke tempat tidur.

Pagi ini aku akan check-out dan berpindah ke Amaris Hotel di daerah Sriwedari. Aku dan Rahadian sengaja membawa backpack kecil dan ringan, sehingga setelah check-out kami bisa leluasa bergerak tanpa harus menaruh sesuatu di Amaris Hotel terlebih dahulu.

Mau ikut survey kulinerku? ….hahaha.

Yukksss….

Latte Solo Paragon: DAMRI Adi Soemarmo International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

“Pak Donny, lama kita tidak bertemu. Sebelum Bapak menuju hotel, mampir sebentar ya ke Solo Paragon. Kita berbincang dan minum kopi bersama!”, pesan singkat pak Arman ketika aku masih berada di waiting room Halim Perdanakusuma International Airport, Jakarta.

Pak Arman….Dia adalah suami dari klien saya, seorang Bangladesh yang menjadi WNI beberapa tahun silam.

Bapak bersama siapa di Solo Paragon?”, aku membalas singkat pesannya.

“Saya berdua dengan anak saya kedua, pak. Saya tunggu kedatangan Bapak ya!”, pintanya sedikit memaksa.

“Baik pak Arman”.

Pukul 17:30, akhirnya Citilink QG 126 mendarat sempurna di Adi Soemarmo International Airport, Solo. Pada akhirnya, aku memang mengurungkan niat untuk langsung menuju Grand Amira Hotel by Azana di daerah Pasar Kliwon. Kuputuskan memenuhi undangan minum kopi Pak Arman.

Konter penjualan tiket taksi dan bus DAMRI.
Koridor menuju area parkir dan shelter bus DAMRI.
Bus DAMRI menungguku.

Oh ya….

Beberapa tahun lalu, sebelum aktif menulis di blog ini, aku pernah mendarat di bandara yang sama. Hanya saja, kala itu aku dijemput seorang teman dekat menuju pusat kota. Tapi kali ini, aku akan mencoba moda transportasi umum menuju pusat kota.

Lamat kuperhatikan di sebelah timur bangunan terminal bandara, terdapat sebuah proyek pengerjaan stasiun kereta bandara yang masih setengah jadi. “Akhirnya Solo akan memiliki kereta bandara juga”, gumamku. Salut dengan perkembangan Kota Batik itu.

Gelap cepat mengakuisisi waktu, aku membatalkan eksplorasi bandara. Aku lebih memilih untuk segera mencari konter yang menjual tiket bus DAMRI. Konter itu kutemukan di selasar arrival hall sebelah timur, bersebelahan dengan konter penjualan tiket taksi.

Bersiap menuju pusat kota.
Tiket.
Sampai nanti Adi Soemarmo International Airport.

Sore itu konter terasa sepi, bahkan aku hanya berselang satu antrian dengan seorang ibu. Dibelakangku sudah tak ada penumpang yang mengantri lagi. Berdasar informasi dari staff penjaga loket, bus DAMRI akan berhenti di tujuan akhir Terminal Tirtonadi. Menuju Solo Paragon di daerah Mangkubumen, aku dianjurkan untuk berhenti di Solo Square, pusat perbelanjaan di daerah Laweyan. Membayar Rp. 25.000 aku mendapatkan selembar tiket menuju pusat kota. “Bus sudah menunggu di shelter ya, pak”, selorohnya memberitahuku.

Dengan cepat aku menyusuri koridor menuju ke area parkir bandara. Terlihat di ujung koridor telah menunggu bus warna biru berukuran sedang. Kulihat ibu yang mengantri di depanku tadi sudah masuk melalui pintu tengahnya. Sementara sang sopir tampak melambaikan tangan kepadaku untuk segera bergegas karena bus akan segera berangkat. Walaupun kursi belum penuh, bus itu lebih mengutamakan ketepatan waktu untuk segera beranjak menuju ke kota yang berjarak sekitar 15 Km.

Sopir itu memeriksa tiketku sebelum aku masuk. Aku terduduk di bangku tengah dan tak lama kemudian bus perlahan meninggalkan bandara. Menyusuri jalan Adi Sumarmo, berlanjut di Jalan Adi Sucipto dan masuk ke Jalan Slamet Riyadi. Melewati beberapa bangunan ternama seperti De Tjolomadoe, Javenir dan Stasiun Purwosari.

Dalam waktu 20 menit, bus mulai merapat di Pusat perbelanjaan Solo Square dan aku pun turun di tepian Jalan Slamet Riyadi yang menjadi jalan protokol kota. Kufikir akan lebih baik melakukan santap malam sebelum minum kopi bersama Pak Arman. Akhirnya aku berhenti di kuliner jalanan, Aku duduk meleseh di sebuah “angkringan” dan menyantap beberapa nasi kucing dan sejumlah sate telur, sate kulit dan kerupuk. Menikmati wedang jahe di “angkringan” adalah sesuatu yang lama sekali tak kulakukan lagi. Kebiasaan ini bukan masalah murahnya harga, tetapi lebih kepada cita rasa dan cara menghabiskan malam Kota Batik.

Angkringan dan nasi kucing.
Tiba di Solo Paragon Hotel & Residences.

Pak Donny, sudah mendarat?”, Pak Arman kembali mengirimkan pesan singkat.

Sudah pak, saya hanya berjarak 4 Km dari tempat Bapak. Sebentar lagi saya kesitu pak. Tunggu ya!”, balasku singkat.

Aku segera membayar menuku dan memesan ojek online menuju Solo Paragon Hotel & Residences. Dalam waktu 10 menit, aku tiba dan langsung menuju ke lobby.

Memasuki lobby, tampak Pak Arman dan Rishan menunggu di depan pintu. Kujabat tangannya dan berpeluk ringan kemudian kami menghabiskan waktu hingga tengah malam untuk sekedar berbincang, berbagi kabar dan menikmati latte.

Thank you Mr Arman.

Thank you Solo.

Kisah Selanjutnya—->

Citilink QG 126 dari Jakarta (HLP) ke Solo (SOC)

Rute penerbangan QG 126 (sumber: https://flightaware.com/).

Menjadi seorang Ketua Kepanitiaan semasa kuliah….Sudah biasa.

Lalu berlanjut menjadi Ketua Kepanitiaan untuk acara kantor….Juga sudah biasa.

Dua-duanya sama-sama pusing dan melelahkan.

Nah, ini beda….

Kalau kamu disuruh jadi Ketua Kepanitiaan di kantor, tapi isi acaranya adalah jalan-jalan dan makan-makan. Apakah kamu pernah?…..Hahaha.

Yiiyyyy, inilah kisahku…..Aku mengalaminya….Sungguh nyata dan meyenangkan. Ini kisahku kala bersepak terjang menjadi Ketua Kepanitiaan Marketing Conference di kantor. So….Mari jalan-jalan, mari senang-senang!.

Sebagai Ketua Panitia, maka aku berkewajiban melakukan survey lapangan sebelum acara sesungguhnya digelar. Aku melakukannya tiga bulan sebelum acara itu dimulai. Kini, aku akan melakukan survey bersama Wakil Ketua Panitia menuju kota  tujuan acara….Solo.

Minggu sore, hanya dengan menenteng ransel kecil, sekitar pukul 13:30,  aku menggunakan jasa taksi online menuju Halim Perdanakusuma International Airport untuk mengejar “maskapai hijau”. Pesawatku akan terbang pukul 16:00, jadi aku sudah memiliki jeda waktu yang cukup, berkisar dua jam sebelum boarding.

Sore itu adalah awal dari hari kejepit nasional, Minggu sore adalah keberangkatanku, senin masihlah hari kerja tetapi aku diizinkan untuk tak masuk kantor dan lusa adalah hari libur nasional. Tiga hari ke depan tak akan kusia-siakan waktu untuk melakukan survey demi keperluan acara, sekaligus melakukan eksplorasi kota.

Tiba di Halim Perdanakusuma International Airport.
Boarding pass menuju Solo telah siap.
Duduk manis sambil membaca inflight magazine “Linkers”.

Tugasku mudah sekali kali ini. Tak akan jauh-jauh dari:  survey ruangan dan food test di Swiss-Belinn Saripetojo Solo, survey kereta wisata Jaladara, bertemu Artcoustic Band, surey beberapa tempat bersejarah, menentukan tempat berburu oleh-oleh terbaik dan tentu saja mencari dan mencicipi kuliner terbaik “Kota Batik” untuk ditetapkan sebagai tujuan wisata kuliner….Widih, keren.

Tak terbayangkan sudah sungguh nikmatnya trip ini, karena aku tak perlu keluar uang sepeserpun, semua biaya akan ditanggung oleh kantorku bekerja. Hanya saja kali ini sang Wakil Ketua yang orang Bandung, bernama Rahadian, adalah seorang aerophobia, sehingga dia bersikeras memilih menggunakan kereta api dari Bandung menuju Solo. Jadi, skenerionya adalah, aku akan tiba di Solo di sore ini, sedangkan Rahadian akan menyusulku esok hari ke hotel.

Aku sendiri tiba di Halim Perdanakusuma International Airport pukul  dua siang lebih lima belas menit, menyempatkan diri berkeliling untuk mengenal bandara itu. Aku baru melakukan check-in setengah jam kemudian.

Berjalan di apron Halim Perdanakusuma International Airport selalu menjadi hal yang mengesankan bagiku. Aku bisa menikmati dengan begitu dekatnya pesawat yang akan kunaiki tepat dari sepasang kaki besi raksasanya. Tak jarang, pesawat berbadan besar lain melintas tepat di sebelah ekor pesawat dengan begitu elegan tapi tetap saja meninggalkan aroma bising yang dihasilkan oleh kedua mesin jetnya.

Tepat pukul 16:00, aku terduduk di window seat bernomor 18F. Momen duduk di window seat, bagiku adalah aktivitas terencana yang kupersiapkan sebelum terbang. Sehingga bangku itu pasti akan kukuasai. Pemandangan indah di angkasa adalah alasannya.

Penerbangan sore itu  berlangsung dengan baik, tak ada turbulensi berarti. Saking jernihnya langit, dua muka gunung berapi di tanah jawa terlihat dengan sangat jelas. Sementara Alto Cumulus banyak ditemui sepanjang rute penerbangan ini.

Indahnya gunung itu.
Bak kapas di angkasa.
Apakah itu gunung Merapi?
Touchdown Solo.
Merapat di apron milik Adi Sumarmo International Airport.

Airbus A320 twin jet itu melaju dengan kecepatan 305 mph menempuh jarak 371 mil hanya dalam waktu 55 menit. Penerbangan cepat yang cukup indah.

Pukul 17:12 roda “Si Hijau”menyentuh run-off Adi Sumarmo International Airport dengan sangat mulus.

Terimakasih Citilink. Saatnya mengeksplorasi Solo.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Jakarta ke Solo bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Solo Paragon’s Latte: Adi Soemarmo International Airport’s DAMRI Bus

<—-Previous Story

Mr. Donny, it’s been a long time since we met. Before you go to hotel, please, stop by for a moment at Solo Paragon. We can talk and drink coffee together!”, Mr. Arman short message while I was still in waiting room at Halim Perdanakusuma International Airport, Jakarta.

Mr. Arman….He is the husband of my client, a Bangladeshi who became an Indonesian citizen several years ago.

Who are you with in Solo, Sir?“, I replied to his short message.

I am with my second son, sir. I am waiting for your arrival, ok? ”He asked with a little forcefully.

Okay, Sir Arman”.

On 17:30 hours, finally, Citilink QG 126 perfectly landed at Adi Soemarmo International Airport, Solo. In the end, I really canceled on going straight to Grand Amira Hotel by Azana in Pasar Kliwon area. I decided to fulfill Mr. Arman’s coffee drinking invitation.

DAMRI taxi and bus ticket sales counter.
A corridor leads to parking area and DAMRI bus shelter.
DAMRI bus was waiting for me.

Oh yes….

Several years ago, before actively writing on this blog, I had landed at the same airport. It’s just that, at that time I was picked up by a friend with his car to city center. But this time, I would try a public transportation mode to downtown.

I slowly noticed that in the east of airport terminal building, there was a construction project for airport train station which was still half finished. “Finally Solo will have an airport train too“, I muttered. Salute with the development of Batik City*1.

Dark quickly acquired time, I canceled airport exploration. I prefered to immediately look for a counter which sell DAMRI bus tickets. I found that counter in hallway of eastern arrival hall, next to taxi ticket counter.

Get ready for downtown.
Ticket.
See you later Adi Soemarmo International Airport.

That afternoon the counter was quiet, even I only had one queue with a old woman. Behind me, there weren’t passengers waiting in line anymore. Based on information from counter staff, DAMRI bus would stop at its final destination in Tirtonadi Terminal. Towards Solo Paragon in Mangkubumen area, I was advised to stop at Solo Square, a shopping center in Laweyan area. Paid Rp. 25,000, I got a ticket to downtown. “The bus is waiting at its shelter, Sir” she told me.

I quickly walked down a corridor to airport parking area. Seen at the end of corridor, waiting for me a medium sized blue bus. I saw that old woman who was queuing in front of me had entered through the middle door. While the driver seemed to be waving at me to hurry up because bus was about to leave. Even though its seats weren’t full, the bus prioritized punctuality to immediately head to city which is about 15 km away.

The driver checked my ticket before I entered. I sat in the middle seat and soon bus slowly left airport. Riding along Adi Sumarmo Street, continued on Adi Sucipto Street and entered Slamet Riyadi Street. Passing several famous buildings such as De Tjolomadoe, Javenir and Purwosari Station.

Within 20 minutes, the bus started to stop at Solo Square shopping mall and I got off at the edge of Slamet Riyadi Street which is the city’s protocol road. I thought it would be better to have dinner before drinking coffee with Mr. Arman. Finally I stopped at street food stall, I sat down in an “angkringan*2” and ate some “cat rice*3” and some egg satay, shells satay and crackers. Enjoying ginger drink in angkringan was something I haven’t done for a long time. This habit wasn’t a matter of cheap price, but rather about taste and how to spend the night in Batik City.

Angkringan and cat rice.
Arrived at di Solo Paragon Hotel & Residences.

Mr. Donny, have you landed?“, Mr. Arman sent another short message.

Yes sir, I am only 4 km from your place. I’ll be there soon, sir. Wait yes!”, I briefly replied.

I immediately paid for my menu and ordered an online motorcycle taxi to Solo Paragon Hotel & Residences. Within 10 minutes, I arrived and headed straight to lobby.

Entering the lobby, I could see Mr. Arman and Rishan (her 9 years old son) waiting at the door. I shook his hand and lightly hugged then we spent until midnight just talking, sharing and enjoying a cup of latte.

Thank you Mr Arman.

Thank you Solo.

Note:

*1. Batik City is the other name for Solo City or Surakarta City.

*2. Angkringan is a street food stall typical of solo city.

*3. Cat rice in Indonesia is known as Nasi Kucing. Namely, rice packets which is its size is a fist.

Next Story—->