Bersitatap Kagum: Air Busan BX 123 dari Osaka (KIX) ke Busan (PUS)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Air Busan BX 123 (sumber: https://flightaware.com/).

Air Busan adalah maskapai ke-16 dari 28 maskapai berbeda yang pernah kucicipi. Low Cost Carrier (LCC) dari Negeri Ginseng ini memiliki main hub di Gimhae International Airport. Bukan niatan mengunjungi Busan, tetapi karena harga tiket murah yang ditawarkan Air Busan lah yang membuatku memutuskan untuk singgah di Busan sebelum mencapai tujuan utama, yaitu Seoul, ibu kota Korea Selatan.

Aku sendiri mendapatkan tiket murah ini tujuh bulan sebelum keberangkatan dengan harga tak sampai Rp. 800.000.

Inilah kisahku menunggang maskapai dengan tiga warna branding, putih-biru-kuning…

—-****—-

 “Sorry, Sir….We don’t receive coin”, petugas KIX Currency Exchange berseru dengan senyum.

Oh, Okay…It’s no problem”, aku menarik kembali uang koin sembari menunggu hasil penukaran uang kertas.

Dia dengan gesit memencet beberapa tombol kalkulator kemudian menunjukkan angka di LCDnya kepadaku.

Yes, Sir….”, aku mengiyakan cepat.

Sukses menukar Yen dengan USD, kini misiku adalah menghabiskan uang koin untuk membeli bekal apapun yang bisa kujadikan sebagai makan siang, kalau perlu hingga makan malam….Parah kan?, bagaimana caraku berhemat.

Aku berhasil menemukan FamilyMart di sebuah selasar, memasukinya, berburu onigiri dan permen, menyudahinya dengan uang koin di kasir lalu membenamkannya dalam-dalam di backpack. Aku tak pernah meremehkan permen, dua butir permen bisa memenuhi 10% kalori seporsi makan orang dewasa, itu berarti bisa menahan lapar perut beberapa saat hingga menemukan warung makan yang murah. Kali ini aku tak berbasa-basi dengan berkeliling bandara, waktuku sempit, kuputuskan segera menuju konter check-in untuk bertukar e-ticket dengan boarding pass. Standar utama maskapai terhadap penumpang yang akan melintas negara berbeda adalah mengecek visa serta return ticket dari negara yang dituju. Tapi tak perlu khawatir, visaku sudah menempel sempurna di passport dan e-ticket Air Asia untuk pulang dari Korea Selatan juga telah kupesan.

Can you speak English, Sir”, petugas wanita konter check-in bertanya ringan.

Yes, sure Ms. I can

Do you want to sit in emergency exit row?”, dia meminta.

Oh, yes, with pleasure”, aku menjawabnya dengan gembira, kapan lagi bayar murah tapi dapat deretan kursi yang lebih lega.

Ok, thank you Sir

“You are welcome”.

Boarding pass dengan cepat kudapat. Menuju konter imigrasi, aku menyerahkan passport begitu tiba. Tahapan keluar dari sebuah negara adalah hal yang paling kusuka, karena cepat dan tanpa interogasi. Tentu petugas imigrasi akan senang dan terbantu jika tamu negaranya berdisiplin untuk keluar negaranya tepat waktu. Setelah mendapatkan stempel departure di passport, aku segera menuju gate untuk menunggu Air Busan yang sebentar lagi akan datang bahkan mungkin telah bersiap. Tiba tepat waktu, benar adanya, pesawat Airbus itu telah berdiri gagah di apron bersiap memasukkan segenap muatan.

Baording passku.
Nah, dikasih kupun 10.000 Won buat berjudi….”Judiii….Teeeeet….Menjanjikan Kemenangan”.

Menjelang pukul setengah sebelas, panggilan boarding memenuhi langit-langit bandara, Jalur antrian mulai dibuka dan beberapa ground staff mulai berbaris di gate untuk melakukan final checking kepada setiap penumpang. Aku melewatinya dengan mantap, menunjukkan boarding pass dan passport, kemudian diizinkan menuju ke pesawat. Aku merangsek melalui aerobridge lalu disambut dua pramugari berwajah khas Negeri Ginseng.

Annyeonghasimnika”, salah satu dari mereka bersalam senyum dengan sedikit membungkuk, meminta boarding pass, mengecek sebentar lalu mempersilahkanku mencari tempat duduk.

Gamsahamnida”, ahhh, hanya sedikit kosakata Korea yang kufaham. Aku mulai mencari bangku.

Aku duduk di aisle seat pada emergency exit row. Tak lama setelah tiga kolom bangku terisi, seorang pramugari datang menyapa. Pramugari itu menjelaskan dalam Bahsa Korea tentang peraturan di emergency exit row, maklum dua penumpang di sebelahku asli berkebangsaan Korea. Usai menjelaskan ke mereka berdua, kemudian pramugari itu kembali menjelaskan, kali ini dalam Bahasa Inggris, jelas itu untukku. Saat menjelaskan itu, kita berdua saling bersitatap. Sebab kejahilan hatiku saja, aku tak pernah mendengarkan peraturan yang diucapkannya, justru aku lebih fokus menikmati keayuan khas wajah Koreanya yang putih bersih. Aku faham, dia merasa kuperhatikan sehingga dia sesekali menjelaskan peraturan itu dengan senyum, dia semakin keki ketika aku membalasnya dengan seyuman dengan tetap bersitatap muka….Parah habis ya guwe.

I’m in the cabin.
Nah ntuh pintu daruratnya.

Setengah jam menyelesaikan boarding process, akhirnya juluran aerobridge mulai ditarik dari pintu pesawat, pramugari mulai menutup pintu rapat-rapat, penumpang mulai mengenakan sabuk pengaman, pesawat mulai meninggalkan apron sembari memamerkan demo keselamatan penerbangan oleh beberapa awak kabin. Demo itu usai ketika pesawat sudah di runaway dan bersiap take-off meninggalkan Kansai International Airport.

Flight attendants, please prepare for take off”, begitu kata terakhir dari kapten penerbangan yang memecah sunyi ruangan di kabin.

Pesawat itupun melakukan brake release, mesin berotasi dengan tenaga penuh, dan akhirnya airborne berlangsung dengan mulus, pesawat melaju dengan cepat meninggalkan Osaka. Aku cukup terkesima dengan pesawat ini karena inilah pertama kalinya bisa melihat keberadaan pesawat di atas peta bumi dalam sebidang LCD….Guwe kampungan emang.

Ketika tiba waktunya menyajikan in-flight meal, aku lebih memilih memasukkan makanan dan minuman kemasan itu ke dalam folding bag. “Buat makan siang saja lah”, gumamku dalam hati. Aku lebih memilih membaca dengan seksama inflight magazine untuk mencari informasi yang mungkin aja berguna untuk petualanganku di Korea Selatan.

Nih dia….Pengganti menu makan siang.

Tak terasa aku telah terbang selama 1 jam 30 menit dan pilot memberikan pengumunan kepada penumpang bahwa pesawat bersiap mendarat di Gimhae International Airport serta menginformasikan kondisi cuaca di Busan yang cerah. Tak berselang lama setelah pengumuman selesai, awak kabin segera memeriksa setiap sisi kabin dan penumpang untuk memastikan pendaratan berlangsung aman. Akhirnya pesawat mendarat mulus di landas pacu. Betapa bahagianya aku ketika untuk pertama kalinya tiba di Korea Selatan

Hmmhh….Aku sudah tak sabar mengeksplorasi Busan. Aku masih saja tak mampu membendung semburat senyum di wajah.

Aku masih saja tak menduga bahwa di dalam bangunan terminal bandara nanti, akan ada insiden serius yang menimpaku.

Alhamdulillah….

Selamat Datang Busan….Selamat Datang Korea Selatan.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Osaka ke Busan bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Bermalam di Kansai International Airport (KIX)

<—-Kisah Sebelumnya

Tiba di Kansai International Airport (KIX), Osaka.

Aku menuruni Peach Aviation bernomor terbang MM6320 melalui tangga manual. Kemudian dibawa menggunakan Narita apron shuttle bus menuju bangunan Terminal 2. Akhirnya, aku tiba di Osaka dan menapaki bandara yang pernah memenangi Best Low Cost Airline Terminal in the World versi Skytrax.

Karena ini adalah penerbangan domestik tentu aku tak perlu sibuk berurusan dengan pihak imigrasi. Aku menginjak lantai bangunan Terminal 2 tepat tengah malam. Kiranya akan lebih baik jika aku segera mencari tempat peraduan untuk memejamkan mata sejenak hingga 5 jam ke depan. Aku juga sudah merasa sangat letih karena sedari pagi saat check-out hingga sore berkeliling Tokyo dengan memanggul backpack seberat 6 Kg. Biaya transportasi yang mahal tak memungkinkanku untuk menaruh backpack di dormitory dahulu. Karena sudah barang tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk sekedar bolak-balik ke dormitory hanya untuk kegiatan remeh temeh, yaitu mengambil backpack saat ingin meninggalkan Tokyo. Alhasil, aku harus memanggul backpack kemanapun kaki melangkah higga aku tiba di Osaka.

Instingku sangat cepat untuk menemukan tempat tidur terbaik, aku kini berada di sebuah area di sisi barat bangunan Terminal 2 yang cukup tenang. Empat bangku gandeng tanpa sandaran lengan menjadi hadiah sempurna malam itu. Tak berfikir panjang, aku segera mengakuisisi salah satunya, menjadikan backpack sebagai bantal dan dengan cepat aku terlelap diatasnya.

Zzzzzz…..Selebihnya aku tak tahu apa yang terjadi di sekitar.

—-****—-

Greekkk…..praakkk…..Buughhh…..Kraackkk.

Aku tergelegap dan tersontak bangun. Dalam duduk dengan kepala pening, aku melihat jelas rombongan gadis-gadis tinggi cantik asal Tiongkok sudah duduk di depanku. Dua diantaranya memperhatikanku  yang sedang dalam kondisi kusut, kemudian melempar senyum. Sudah tak mungkin aku melanjutkan tidur di depan mereka. Sepertinya mereka baru saja mendarat dan entah dari mana.

Jarum jam masih bertengger di angka empat. Berarti aku sudah terlelap genap empat jam. Aku menenggak air mineral tersisa. Dan dalam sekejap gadis-gadis itu sudah sibuk dengan gawainya masing-masing.

Kukeluarkan segera toiletries pack dan kumasukkan jaket tebalku ke dalam backpack. Aku segera beranjak menuju ke toilet. Masuk ke toilet bandara saat pagi adalah strategi untuk menikmati toilet bersih karena biasanya cleaning service baru usai membersihkannya dan belum ada yang menggunakan.

Benar saja, akulah orang pertama yang memasuki toilet pagi itu. Luar biasa bersih, perihal kebersihan fasilitas umum di Jepang, tidak usah ditanya, mereka jagonya. Pagi itu, sungguh nyata, untuk pertama kalinya aku menggunakan toilet dengan control panel penuh tombol. Aku menaruh backpack di lantai toilet yang bersih dan memulai aktivitas pagi di dalamya. Sepertinya aku kelamaan karena keasyikan mencoba mengoperasikan semua jenis tombol di sebelah kloset toilet. Tak kurang dari sepuluh jenis tombol aku memencet-mencetnya, mulai dari tombol penyamar suara (flushing/sound button) hingga penghangat kloset (warm seat button). Tak kerasa, hampir 40 menit aku menguasai toilet itu.

Oalah, Donny….Jauh-jauh ke Jepang cuman buat nyobain toilet….Kasihan……

Menggunakan free shuttle bus menuju Terminal 1.

Usai menggosok gigi di depan wastafel. Aku mulai mempersiapkan diri untuk menuju kota. Aku segera mencari keberadaan stasiun kereta. Mengikuti petunjuk yang ada aku diarahkan pada sebuah free shuttle bus untuk berpindah ke Terminal 1, karena kereta ke tengah kota berada disana.

Aku menaiki free shuttle bus itu. Menempuh jarak sekitar 2 km dan tak sampai sepuluh menit aku tiba di Terminal 1 tepat pukul enam pagi. Aku mulai berburu tiket kereta.

Which train must I take to get the cheapest price to Shin-Imamiya Station, Ms?”, aku bertanya kepada petugas wanita yang duduk di bagian penjualan tiket.

JR Kansai Airport Rapid for 1.060 Yen (Rp. 145.000), Sir

Okay, I take that

Bersiap menuju Osaka.

Tak lama kemudian, JR Kansai Airport Rapid Train itu tiba. Aku segera memasuki salah satu gerbongnnya yang dominan silver dengan kelir biru, kemudian duduk di salah satu bangku tunggalnya. Tak sampai lima menit, kereta itu berangkat. Begitulah kereta Jepang, tak pernah telat dan selalu tepat waktu.

15 menit kemudian…..

Teluk Osaka (Osaka Bay).

Begitu terkejutnya diriku karena kereta itu melewati jembatan besi raksasa yang gagah mengangkangi laut. Seumur hidup, aku baru tahu kalau Kansai Internatioanl Airport (KIX) berlokasi di tengah laut, berjarak 5 Km dari daratan terdekat di kota Osaka. Bukankah ini pengalaman yang luar biasa?……

Kisah Selanjutnya—->