Menuju Busan Central Bus Terminal: Mundur ke Belakang Tiga Stasiun

<—-Kisah Sebelumnya

Tatapanku hanya melakukan repetisi sedari tadi. Jam tangan-route board-jam tangan….begitu seterusnya. Kecemasan menghukumku dengan tak mampunya diri menikmati gerbong nyaman Humetro. Aku masih tak memilih duduk, kakiku tegak menopang badan di tiang gerbong dekat pintu keluar. Aku bersiap untuk turun di Stasiun Seomyeon untuk mengakhiri perjalanan di Humetro Line 2 (Green Line) demi berpindah ke Humetro Line 1 (Orange Line). Aku harus menggapai Stasiun Beomnaegol secepat mungkin demi mengambil backpack yang tertitip di meja resepsionis Kimchee Busan Guesthouse.

Akhirnya aku tiba. Melangkah cepat keluar gerbong, menaiki beberapa escalator, aku menggapai permukaan dengan cepat. Kemudian mulai berlari ringan menyusuri Hwangnyeong-daero Avenue menuju guesthouse.

Sedasa menit kemudian aku tersengal, mengatur nafas di halaman depan guesthouse, baru kemudian menuju ke meja resepsionis dengan nafas teratur.

Aku: “Sir, can I take my backpack which I entrusted to the receptionist this morning?”.

Resepsionis: “Can you show the label card which give to you?”.

Aku: “This, Sir

Resepsionis: “OK, follow me!

Setelah memeriksa label card itu, dia beranjak dari tempat duduk dan menuju ke halaman luar. Aku menguntitnya dari belakang hingga tiba di sisi container box besar. Rupanya backpack yang dititip setiap tamu guesthouse ditaruh di sini. Kini aku telah mendapatkan backpack biru ku.

Aku: “Thank you, Sir

Resepsionis: “You are welcome. Be carrefull on your way”.

Aku berpamitan dan melambaikan tangan sebelum balik badan meninggalkan guesthouse.

See you Kimchee Busan Guesthouse!….

Aku kembali turun di jalanan, menuju stasiun. Hari sudah mulai gelap. Waktu keberangkatan bus menuju Seoul semakin dekat. Berderap langkah selama 10 menit membuatku tiba di platform Stasiun Beomnaegol, menunggu Humetro Line1 (Orange Line). Pancaran cahaya itu semakin menerang menghantam sekat pembatas platform dan jalur Humetro. Rangkaian gerbong yang kutunggu telah tiba, aku memasuki gerbong belakang, menaruh backpack di sela kedua kaki dan berdiri menempel dinding gerbong persis disebelah pintu Humtero.

Kali ini aku sedikit tenang, karena tak perlu berpindah jalur untuk menuju Stasiun Nopo. Kereta perlahan meninggalkan Distrik Busanjin. Setiap stasiun yang terlewat membuatku semakin lega, membuatku semakin dekat dengan tujuan.

Empat puluh lima menit kemudian aku tiba di Stasiun Nopo. Tetapi sesuatu terjadi dengan perutku, tetiba melilit tak terbendung. Aku berinisiatif untuk mencari tengara menuju toilet di seantero Stasiun Nopo. Tapi dua titik toilet berbeda yang kutemukan ternyata jauh dari kata ideal….Pesing, becek dan penuh lalu lalang manusia. Ah….Parah.

Bagaimana bisa aku membiarkan keadaan ini, jika perjalanan ke Seoul akan memakan waktu empat jam, maka aku akan tersiksa dalam kondisi sakit perut seperti ini. Kulihat kembali jam tangan, masih ada waktu empat puluh lima menit sebelum bus berangkat. Aku kini berfikir sedikit gila….Aku akan mundur ke belakang sejauh dua atau tiga stasiun, mencari toilet yang lebih sepi dan ideal. Aku kembali melompat ke gerbong Humetro dan mengikuti lajunya. Kemudian turun di pemberhentian ketiga, Stasun Dusil.

Secepat kilat melangkah, aku melakukan pencarian toilet dan akhirnya aku menemukan toilet yang bersih, harum dan sepi. Ah….Ada-ada saja yang terjadi pada petualangan hari keduaaku di Korea.

Waktuku kini tersisa dua puluh menit. Aku sudah duduk lagi di gerbong Humetro, mengulang jalan menuju Stasiun Nopo. Sepuluh menit kemudian aku tiba dan segera berlari menuju Busan Central Bus Terminal yang terintegrasi dengan Stasiun Nopo.

Yes…”, aku tiba di di platform bus yang dimaksud sepuluh menit sebelum keberangkatan.

Puufffttt….”, Perjalanan menegangkan dan melelahkan.

Bye BusanLove u.

Menuju Stasiun Centum City: Memecahkan Peta Buta

<—Kisah Sebelumnya

Pukul 16:30, terduduk khawatir di bawah naungan halte bus mungil di bilangan Gijang-daero Avenue yang lengang, tatapanku terus menoleh ke kiri, menantikan kedatangan bus bernomor 181. Beberapa menit lalu aku telah tervonis tersesat. Berpetualang amatiran demi sekedar menemukan Haedong Yonggungsa Temple yang terletak di tepian Selat Korea.

Dua setengah jam waktuku terbuang sia-sia di jalanan timur luar Kota Busan. Sementara itu, ancaman lain datang, yaitu keterlambatan mengejar bus menuju Seoul yang akan berangkat malam nanti. Di tengah kepucat pasian mimik muka, bus itu akhirnya datang. Aku sudah melambai tangan ketika bus itu masih tampak lamat dari kejauhan. “Aku tak boleh terlewat dari bus itu, inilah kesempatan terbaikku untuk mengejar bus menuju Seoul”.

Kerlipan lampu sein bus itu mengisyaratkan bahwa sang pengemudi memahami bahwa aku adalah calon penumpangnya. Bus berhenti tepat di hadapan, aku melompat gesit dari pintu depan dan menyerahkan 1.200 Won (Rp. 15.000) di fare box. Lalu mengakuisisi salah satu bangku tengah yang tak bertuan.

Kini pendanganku menyapu seisi interior bus, mencari markah tujuan atau petunjuk apapun yang bisa memantau keberadaan bus. Mataku jeli meilhat sebuah manual route board di salah satu sisi kompartemen atas, sedangkan tepat di belakang sopir tertampil jelas sebaris layar LCD yang terus bergantian aksara Hangeul ketika bus melewati halte-halte di sepanjang Gijang-daero Avenue. “Yes….”, aku menemukannya tetapi aku tak bisa membacanya karena itu adalah aksara Hangeul secara keseluruhan. Aku terus menahan nafas, berusaha tenang. “Sekali lagi tersesat, aku akan lebih jauh, peluangku menangkap bus menuju Seoul akan sirna”, aku menunduk memejamkan mata. Membayangkan kengerian itu.

Kini aku memutuskan berdiri tepat di bawah manual route board, segenap penumpang terheran karena aku berdiri ketika bus tak pernah penuh. Aku tak memperdulikan tatapan-tatapan itu, aku sedang sibuk menyelamatkan nasibku sendiri.

Kutatap lekat-lekat peta jalur itu. Aksara Hangeul yang begitu kecil dan aku tak benar faham. “Yes, aku menemukannya”, batinku bersorak girang. Ada logo Humetro di salah satu markah peta. Itu berarti halte yang dimaksud terintegrasi dengan stasiun Humetro. Sedangkan peta Humetro selalu kupegang sepanjang perjalanan. Terlipat rapi di kantong belakang celanaku.

Berarti aku tinggal menghafal urutan alphabet Hangeul yang menyusun nama halte itu lalu mencocokkannya dengan  rangkaian alphabet yang sama yang akan tertampil di layar baris LCD di belakang pengemudi. Jika rangkaian nama itu muncul, maka aku akan turun di halte yang dimaksud. Ah, ternyata sisa-sisa kecerdasan di otakku masih ada.

Aku terus mengamati layar LCD dan terus mencocokkan setiap huruf dengan manual route board di kompartemen atas bus. Dengan begitu aku akan tahu, berapa halte lagi aku harus turun. Tekun dan teliti melakukan itu, membuatku berhasil turun di salah satu halte yang terletak di dekat stasiun Humetro, Stasiun Centum City tepatnya.

Turun di halte itu, aku segera menuju ruang bawah tanah Stasiun Centum City demi mencegat keberangkatan Humetro terdekat. Aku harus bergegas menuju Kimchee Busan Guesthouse untuk mengambil backpack yang kutitipkan di meja resepsionis semenjak check-out pagi tadi.

Aku berlari menuruni escalator berjalan mengejar Humetro yang telah berhenti beberapa detik lalu dan bersiap menutup pintu untuk pergi. “Yes….”, aku berhasil memasuki gerbong sebelum pintu Humetro itu benar-benar menutup. Kini aku sedikit tenang, tentu aku akan tiba di tujuan dengan cepat. “Ambil backpackmu dan bergegaslah menuju Busan Central Bus Terminal, Donny!”, batinku menegaskan sebuah perintah untuk diriku sendiri.

Kisah Selanjutnya—->

Bertaruh Resiko di Busan Central Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Drama kamar mandi memang sering mewarnai cerita perjalanan, mengingat aku sering memilih dormitory sebagai tempat singgah selama berpetualang.

Malam pertama di Busan. Aku sedang sebal sekali, kloset duduk yang tertutup itu baru saja ku-flush, maksud hati yang tak ingin melihat “zonk” saat membukanya…..Eh, malah air itu tumpah mbeleber kemana-mana bersama muatannya.

Brengsek….Ini pasti  kelakuan lelaki asal Tiongkok yang beberapa menit lalu berpapasan denganku di pintu kamar mandi bersama.

Sontak aku menuju ke kamar mandi lain yang berada dua lantai di atasku. Aku sudah tak bernafsu mandi di kamar mandi itu walaupun masih tersedia beberapa shower room lagi. Di kamar mandi atas, kondisi lebih bersih, mungkin para tamu enggan bersusah payah naik ke atas. Gegara peristiwa tadi, sakit perutku mendadak hilang. Aku lebih memilih langsung menuju shower room untuk menyiram badan dengan air hangat.

Olala….Ternyata aku sama brengseknya…..

Seusai mandi, aku berlama-lama di depan wastafel untuk mengeringkan t-shirt dan kaos kaki dengan hair dryer, hingga betul-betul kering. “Ah, bodo amat. Ndak ada orang. Guwe kan juga bayar”, suara setan di batinku membisik. Maklum dalam petualangan kali ini, aku mulai menerapkan taktik membawa dua pasang kaos kaki. Aku akan membasuh dan mengeringkan kaos kaki yang tak terpakai untuk persiapan penggunaan berikutnya.

—-****—-

Pagi itu aku bangun tepat waktu. Seusai Shalat Subuh , aku tak lagi tertidur. Aku lebih memilih membuka lembaran itinerary sembari menunggu hari terang. Ketika matahari mulai hadir, aku mulai meninggalkan Kimchee Busan Guesthouse seusai mandi, mengingat penginapan ini tak menyediakan sarapan seala kadar untuk kelas dormitory.

Aku keluar dari gang penginapan, dan menyusur Jalan Hwangnyeong-daero menuju ke barat, ke Stasiun Beomnaegol untuk melanjutkan perjalanan. Tapi tentu aku harus bersarapan dulu sebelum menaiki Humetro. Aku berhenti pada CU minimarket untuk kemudian memasukinya dan berburu sarapan di dalamnya. Aku menemukan segenggam nasi berisikan jagung di sebuah rak khusus makanan, menuju kasir, membayarnya dan kemudian menyantapnya di sebuah bangku di sisi dalam minimarket.

Tak lama aku menyantapnya. AKu segera memasuki ruangan stasiun dan mencari keberadaan ticketing vending machine untuk membeli one day pass, lalu menuju platform usai menggenggam selembar one day pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Kali ini aku akan menuju ke Busan Central Bus Terminal demi mencari tiket bus menuju ke Seoul malam nanti. Humetro Line 1 (Orange Line) berdecit lembut menghentikan laju di platform. Aku segera duduk di salah satu bangku di gerbong setengah kosong untuk kemudian mengikuti arus kereta menuju Stasiun Nopo, yaitu stasiun dimana Busan Central Bus Terminal diintegrasikan. Aku tiba dalam 45 menit.

Keluar dari gerbong aku mencari petunjuk yang bisa mengarahkanku menuju terminal itu. Tak sulit menemukannya. Sebuah petunjuk yang kemudian menyambung dengan petunjuk selanjutnya mengarahkanku hingga tiba di Busan Central Bus Terminal.

Konter penjualan tiket Busan Central Bus Terminal.

Hello, Miss. How much is a ticket to Seoul? “Aku bertanya kepada staff penjualan tiket di deretan memanjang ticketing counter.

32,000 Won, Sir. The bus will depart on around 16:00 hours”.

Miss, What is the cheapest price and what time does the bus depart?”, aku blak-blakan mengingat kantongku mulai menipis.

23,000 won and bus will depart on 20:30, Sir”.

Okay, Wait Miss“.

Aku meninggalkannya dan duduk di kursi tunggu. Aku mulai berhitung, kalau aku berangkat cepat maka aku akan relatif aman karena akan tiba di Seoul sebelum malam. Tapi artinya aku harus menambah biaya untuk menyewa dormitory lebih cepat. Tentu akan mahal.

Kalau aku mengambil tiket malam, maka mau tidak mau, aku akan bermalam di terminal bus kota Seoul, sedikit beresiko, tetapi itu paling memungkinkan dengan keberadaan uangku yang semakin tergerus habis.

Bismillah…..aku beranjak dari tempat duduk dan kembali menghadap staff wanita tadi.

Yes, Ms. I take the night one”.

Ok, Sir

Aku menyerahkan uang kepadanya dan dia memberikan selembar tiket kepadaku untuk menuju Seoul.

Tiket bus Busan-Seoul seharga 23.000 Won (Rp. 290.000).

Okay, satu bagian penting telah kuselesaikan dengan cepat. Aku akan menghabiskan waktu tersisa di Busan hari ini.

Kisah Selanjutnya—->

Permainan Lampion di Gwangalli Beach

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir jam sembilan malam ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Busan International Film Festival (BIFF) Square di daerah Nampo-dong. Aku mulai melangkah meninggalkan konter resmi UNIQLO di bilangan BIFF Gwangjang-ro dan kemudia berlanjut di jalan utama, Gudeok-ro. Seratus lima puluh meter di depan sana adalah Gate 7 Stasiun Jagalchi yang menjadi target langkahku untuk segera meninggalkan Distrik Jung.

Aku sudah menuju bawah tanah sepuluh menit kemudian. Di ruangan bawah tanah yang hangat, aku tak perlu bersusah payah untuk mencari ticketing vending machine karena aku masih menggenggam potongan kecil One Day Pass yang sudah kubeli sore tadi setiba di Busan. Melenggang melewati automatic fare collection gate aku menunggu kedatangan  Humetro Line 1 (Orange Line) di patform stasiun.

One Day Pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Humetro itu cepat sekali tiba, membuka pintu otomatisnya dan aku segera memasuki gerbong tengah. Terduduk di sebuah bangku, aku terus memperhatikan kesibukan seusai kerja warga Busan. Humetro perlahan merayap melalui jalur bawah tanah, menurunkanku di Stasiun Seomyeon setelah melewati sembilan stasiun, untuk kemudian aku berganti menggunakan Humetro Line 2 (Green Line). Dan serupa, setelah melewati sembilan stasiun aku tiba di Stasiun Gwangan di Distrik Suyeong. Tak terasa perjalanan menuju stasiun ini memakan waktu yang cukup lama, empat puluh lima menit.

Aku bergegas menuruni gerbong dan kembali merangsek ke permukaan menggunakan escalator. Kemudian mengambil arah keluar di Gate 5 Stasiun Gwangan yang dihadapkan langsung pada Gwangan-ro Avenue. Suhu udara jalanan sudah berada di level satu derajat Celcius.  Aku terpaksa berjalan dengan tubuh sesekali bergetar sepanjang tujuh ratus meter ke arah pantai. Keberadaan beberapa rombongan turis yang menuju ke arah yang sama, membuatku sedikit tenang, mengingat malam sudah hampir mendekati jam sepuluh.

Aku tiba di pantai dua puluh menit kemudian setelah berjalan kaki hampir tujuh ratus meter. Berdiri di tepi pantai sejauh mata memandang, bentangan bercahaya jembatan terpanjang kedua di Negeri Ginseng itu sungguh mempesona….Yups, itulah Gwangandaegyo Bridge, suspension bridge sepanjang tujuh setengah kilometer yang menghubungkan Distrik Haeundae dan Distrik Suyeong.

Gwangandaegyo Bridge.
Lampu hias yang meriah.

Kini aku telah berbaur dengan turis dan warga lokal lainnya menikmati suasana malam nan meriah di Gwangalli Beach. Aku terus mengamati pertunjukan warga mengudarakan lampion-lampion berukuran mini. Orang tua, kaum muda dan anak kecil hampir semuanya terhanyut dalam kemeriahan permainan itu.

Sementara sebagian yang lain tampak menikmati hiasan lampu berwujud berbagai macam fauna yang enak dipandang mata. Disisi lain pantai tampak berjejal bangunan bertingkat yang memberikan kesan bahwa area pantai telah tersentuh teknologi. Tetapi semua tampak bersih dengan lingkungan yang terjaga dan tertata.

Beberapa bangunan hotel di tepian pantai.
Hotel Aqua Palace.

Aku hanya mampu menahan dingin udara selama empat puluh lima menit. Pasti udara akan mendekat ke titik beku ketika malam mencapai puncaknya. Aku bergegas meninggalkan bibir pantai dan menuju ke stasiun kembali. Melangkah dengan cepat demi menghindari hawa dingin yang semakin menjadi, aku tiba di stasiun dengan nafas tersengal, lalu bergegas menuju platform dan beberapa menit kemudian Humetro membawaku, untuk kemudian menurunkanku di Stasiun Seomyeon. Humetro lantas mentransferku di Line 1 menuju Stasiun Beomnaegol, stasiun dimana hotel tempatku menginap berada….Yups, Kimchee Busan Guesthouse.

Kini tiba saatnya untuk beristirahat demi petualangan lanjutan esok hari.

Busan International Film Festival Square … Origin of BIFF

IF….

Uncle Sam country has Sundance Film Festival

Great White North country has Toronto Film Festival

l’Hexagone Country has Cannes Film Festival

Then “The Land of the Morning Calm” also has same thing….i.e Busan International Film Festival.

Held every end of year i.e September or October, BIFF always introduces Asian newcomer directors with their first film. The festival which was first held 23 years ago has moved to Centum City in Haeundae-gu area.

This time, I wasn’t going to new BIFF homebase, but I would go along an area where became origin of BIFF, Nampo-dong. For remembering it then headed to BIFF Square.

My journey started from nearest station of Kimchee Busan Guesthouse i.e Beomnaegol MRT station using MRT Line 1 (Orange Line). After passed through 8 stations, I got off at Jagalchi MRT station. Other destination which can be visited near this station is Jagalchi Market (It selling a variety of seafood ) which is open from 5am to 10pm.

Out from exit gate, I’ve been greeted by street food stall. Because cold weather pierced bones, smoke which came out from furnace burning made MRT passengers stopped to eat hot food which sale by buyer.

I experienced a bit of disorientation. I confused in looking for BIFF Square Street, because all streets looked crowded. Finally I braved myself to approach a police officer who was on guard at police post. Patiently, He explained to me while pointing his finger left and right and spoke Korean….Even though I didn’t understand Korean, I though it was easy to understand his explanation.

BIFF street divides that place along 150 m. And when I visited it at night, it was easy to find street food stalls. These stalls form which liked mini house might aim to protect buyers from cold weather at night. It was arranged in a row in middle of road, making BIFF street became a culinary market at night.

Turned a bit to Gwangbok-ro street

I just tried a little bit of eating seafood in a stall, then I proceeded to find a portion of dinner food.

Because it was so hard to find food which suited with my tastes, finally I stopped by at a small food stall in a row of shops around BIFF Street. “Ahangeya” is name of that restaurant. I prefered to eat a beef rice bowl for USD 3,5.

Beside dining stalls, I also found many sellers of souvenirs, t-shirts and some electronic equipments. But my attention wasn’t fixed on that, I prefered to look for a winter jacket at UNIQLO shop.

For spare jacket….It was crazy, 12 days journey and just brought a jacket
for USD 35,5

Cold weather made me freeze.…I couldn’t stay there long and I decided to go back to guesthouse because tomorrow I would walk long and uphill to visit Gamcheon Culture Village.

So.…let’s sleep!

Clean and Modern.…Style of Kimchee Busan Guesthouse

Surely I never knew why this guesthouse was named Kimchee. All I know, kimchee or kimchi are Korean food made from fermented vegetables with various kinds of seasoning and ultimately its taste are spicy and sour. Perhaps this guesthouse will be a gathering place for travelers from various nations with same goal i.e enjoying uniqueness of South Korea.…It only my personal statement….hahaha

Dorm or dormitory have became general choice of backpackers in their journey. Apart offering minimum budget, dorm also offers an option to build network among backpackers who diverse in citizenship. This is very possible because in every dorm room will be filled 12-16 backpackers to sleep together.

This time, my choice was Kimchee Busan Guesthouse as my dorm during my adventure in Busan. The three things that be important concerns in choosing it are price, location and a good feedback rate.

I ordered it 4 months before departure, so I surely got best price. Guesthouse for USD 12,5 per night is located on Hwangnyeong-daero street. It’s about 270 meters from Beomnaegol MRT Station, so guesthouse can be reached by walk.

My arrival at guesthouse was warmly welcomed by a beautiful receptionist. After submitting passport and Won, I get access card to dorm room .

Beautiful receptionist
Receptionist room

For general guesthouse, it’s certainly an extraordinary thing because of elevator availability in it. As I know, a lot of dormes that I have stayed in required me to prepare my leg muscles to climb dozens of stair before reach the room.

Lift access to dorm room

Entering room, my fatigue paid off with spacious dorm room which consisting 10 beds with each locker provided near bed.

Dorm room

In this guesthouse, I firstly breathed fresh aroma of sojuoriginally Korean drink-. Even though I didn’t drink it, at least I knew its aroma, its form and how to drink it from my roommates.

My other funny activity was using hair dryer which provided in shared bathroom to dried my wet socks. It’s become a habit, I only carry 2 pairs of socks, no matter how long is my trip. Every two days, I will wash my socks which I use and dry them in any way.

Another good thing about this guesthouse is providing container to store guests backpacks and their other things. Usually, guests will save their backpack when they arrive earlier than check-in time or when their departure time to leave city is still far from check out time.

I left my backpack because my departure to Seoul was on a scheduled bus on 8pm while I checked out on 12pm.

Guesthouse also provides shelves and refrigerators to store guests foods…. Don’t take people’s food !….hahaha. Usually guests who stay a little longer in guesthouse will store their food here. Surely, I never use this facility because I just stay 2 nights in Busan.

Kimchee snack and Bar

Of course, you have your own taste in choosing hotel.…the important thing is our goals are same, guys.…i.e traveling. That’s it.

The Little One.…Busan Gimhae Light Rail Transit

Yes….Okay….

Yes….Okay…..

Only that 2 kinds of word which came out of my mouth, I didn’t really listen flight attendant explained security procedures at emergency exit. I exactly fascinated to her Korean beauty face. I still stunned to enjoy her beauty until he ended her explanation with a smile … Certainly, I gave her my smile as sweet as possible … hahaha.

1 hour 30 minutes flight became a thrilling journey because I had bad feeling for Busan immigration checking later.

And it finally true.… I was interrogated by immigration officer for 1 hour.

Scary interrogation at immigration counter made my tongue feel bitter when tasting piece by piece a pie which I got from Busan Air flight.

Later, this story would make me change 180 degrees when I prepared my documents for traveling. I became a very perfectionist person in preparation.

I got out from Gimhae International Airport with a disheveled face but that happiness was unable to deeply hidden. This was my first time in visiting South Korea.

2 degree Celcius weather made me rush to look for existence of LRT station. I quickly found it on right side of airport exit gate.

I touched all buttons in automatic machine to get Busan Gimhae Light Rail Transit token.

Waiting for LRT arrival with big curiosity about what will happen next in every second of my adventure in Busan.

Shortly waiting, LRT arrived.

Surely, My first destination was dormitory where I stayed in Busan. I would go to Kimchee Busan Guesthouse on Hwangnyeong-daero Street.

Stopped at Sasang station as LRT last station, I switched to using Humetro(the name for Busan Subway) green line.

In this Humetro. I saw a Indonesian face. Occasionally he saw me, so did I. Sometime he smiled, so did I.

I decided to approache him.

Conversation was unavoidable. It’s true, he is an Indonesian professionalis who working in Busan. From him, I got information that citizens of Busan isn’t open as Seoul. So I would understand what will occur with my interaction with local people in Busan.

Conversation stopped when I had to get off at Seomyeon Station for change to Humetro orange lane. It only took one station in distance then I got down at Beomnaegol station – station where my guesthouse located -.

It wasn’t easy to find this guesthouse location, I had strayed more than half an hour in midst of very cold temperature and it almost made me panic before finally I found it after ask to GS25 minimarket staff.

Finally I check-ed in to Kimchee Busan Guesthouse.

Busan International Film Festival Square…Asal Muasal BIFF

<—-Kisah Sebelumnya

Jika….

Negara Paman Sam memiliki Sundance Film Festival

Negeri Pecahan Es mempunyai Toronto Film Festival

Atau Negara Kota Mode tersohor dengan Cannes Film Festivalnya

Maka Negeri Ginseng juga memiliki hal yang sama….Busan International Film Festival.

Diselenggarakan di sekitar akhir tahun yaitu September atau Oktober, BIFF selalu memperkenalkan sutradara-sutradara pendatang baru Asia dengan karya pertamanya. Festival yang dibuka pertama kali pada 23 tahun lalu, kini telah berpindah tempat ke Centum City di daerah Haeundae-gu.

Kali ini Aku tak menuju ke new homebase nya  BIFF, tetapi Aku akan menyusuri sebuah daerah yang menjadi cikal bakal BIFF yaitu Nampo-dong. Kemudian, untuk menapak tilas asal muasal BIFF maka Aku menuju ke BIFF Square.

Perjalanan dimulai dari stasiun terdekat dari Kimchee Busan Guesthouse  yaitu stasiun MRT Beomnaegol menggunakan MRT Line 1 (Orange Line). Setelah melawati 8 stasiun, Aku turun di stasiun MRT Jagalchi. Satu destinasi lain yang bisa dikunjungi di dekat stasiun ini adalah Jagalchi Market (menjual beragam seafood) yang buka dari jam 5 pagi hingga 10 malam.

Keluar dari exit gate, Aku sudah disambut oleh pedangang street food  tepat di pintu keluar stasiun. Karena udara dingin menusuk tulang, asap yang keluar dari pembakaran tungku itu membuat para penumpang MRT rela berhenti sejenak untuk sekedar memakan makanan hangat yang dijual pembeli itu.

Aku sedikit mengalamai disorientasi kali ini, bingung mencari jalan BIFF Square, karena semua jalan terlihat ramai. Akhirnya kuberanikan diri untuk menghampiri pak polisi yang sedang berjaga di pos polisi lalu lintas. Dengan sabar, Dia menjelaskan arah kepadaku sembari menunjukkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan bahasa Korea…..Walau tak mengerti bahasa Korea, Aku rasa cukup mudah memahami penjelasannya.

Jalan BIFF membelah tempat itu sepanjang 150 m. Dan ketika Aku mengunjunginya di malam hari, sangat mudah menemui tenda-tenda street food. Tenda-tenda berbentuk rumah-rumah mini ini mungkin bertujuan melindungi si pembeli dari dinginnya udara Busan di malam hari. Tersusun berjajar di tengah jalan, menjadikan Jalan BIFF menjadi pasar kuliner dimalam hari.

Mengkol sedikit ke jalan Gwangbok-ro

Aku hanya sedikit mencoba memakan sate seafood di salah satu tenda, lalu Ku lanjutkan untuk mencari makan malam yang lebih sedikit nendang.

Karena begitu susah menemukan makanan berat yang sesuai dengan selera, akhirnya hinggaplah Aku di sebuah warung makan mungil di deretan pertokoan sekitar Jalan BIFF. ”Ahangeya” nama tempat itu. Aku lebih memilih makan beef rice bowl seharga 4.000 Won (Rp. 48.000).

Selain tenda-tenda makan, Aku juga menemukan banyak penjual pernak pernik souvenir, t-shirt dan beberapa peralatan elektronik. Tapi perhatianku tak tertuju pada itu, Aku lebih memilih untuk mencari jaket musim dingin di sebuah konter penjualan Uniqlo di bilangan BIFF Square.

buat ganti jaket…masak iya jalan 12 hari hanya bawa 1 jaket
seharga Rp. 480.000

Hawa dingin membuatku tak kuasa menahan bekunya tubuh….Aku tak bisa berlama-lama disini, dan kuputuskan untuk menuju destinasi berikutnya.

So…..kemanakah?

Bersih dan Modern….Gaya dari Kimchee Busan Guesthouse

<—-Kisah Sebelumnya

Tentu Aku tak pernah tahu kenapa guesthouse ini diberi nama Kimchee. Yang hanya Ku tahu, kimchee atau kimchi adalah makanan khas Korea yang terbuat dari sayuran yang difermentasi dengan aneka macam bumbu yang pada akhirnya berasa pedas dan asam. Mungkin guesthouse ini akan menjadi tempat berkumpulnya para pengelana dari beraneka macam bangsa dengan tujuan sama yaitu menikmati keunikan Korea…..halah, ngawur nih statement.

Dorm atau dormitory sudah menjadi pilihan umum kaum backpacker dalam berkelana. Selain menawarkan keamanan budget, dorm juga menawarkan satu opsi untuk membuat jaringan antar backpacker yang beragam kewarganegaraannya. Hal ini sangat memungkinkan terjadi karena di setiap dorm room akan diisi 12-16 backpacker untuk tidur bersama….hushhh, di ranjangnya masing-masing maksud Saya.

Kali ini pilihanku jatuh pada Kimchee Busan Guesthouse sebagai tempat bernaung selama berpetualang di Busan. Tiga hal yang menjadi concern penting dalam memilihnya adalah harga, lokasi dan feedback ratenya yang bagus.

Aku sudah memesannya 4 bulan sebelum keberangkatan, sehingga kupastikan Aku mendapatkan harga terbaik. Guesthouse seharga Rp. 180.000 (KRW 15.000) terletak di jalan Hwangnyeong-daero. Berjarak sekitar 270 meter dari Stasiun MRT Beomnaegol sehingga guesthouse ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kedatanganku di guesthouse disambut hangat dengan resepsionis cantik. Setelah menyerahkan passport dan Won, Aku mendapatkan access card menuju dorm room.

Si resepsionis cantik
Ruang resepsionis

Untuk ukuran guesthouse tentu menjadi hal yang luar biasa karena ketersediaan lift di dalamnya. Tak seperti banyak dorm yang pernah kusinggahi dimana Aku harus menyiapkan otot kaki untuk menaiki puluhan anak tangga sebelum menuju ke kamar.

akses lift menuju dorm room

Memasuki kamar, kelelahan itu terbayar dengan leganya ruangan dorm yang terdiri dari 10 bed dengan masing-masing loker yang telah disediakan disebelah bed.

Dorm room

Di guesthouse inilah, Aku pertama kalinya menghirup segarnya aroma Soju –minuman khas Korea-. Walaupun Aku tak meminumnya, setidaknya Aku tahu aroma dan wujudnya serta bagaimana cara meminum Soju dari teman-teman sekamarku.

Keisenganku yang lain adalah menggunakan hair dryer yang disediakan di shared bathroom untuk mengeringkan kaos kaki basahku. Sudah menjadi kebiasaan, Aku hanya membawa 2 pasang kaos kaki, tak peduli seberapa panjang perjalananku. Setiap dua hari Aku akan mencuci kaos kaki yang kugunakan dan kukeringkan dengan cara apapun.

Hal baik lain dari guesthouse ini adalah menyediakan container untuk menyimpan backpack dan barang-barang lain yang dititipkan oleh penginap. Biasanya penginap akan meyimpan backpacknya ketika mereka datang lebih awal dari waktu check-in atau akan meninggalkan kota ketika jam keberangkatan mereka masih jauh dari waktu check-out.

Aku pun menitipkan backpackku karena keberangkatanku ke Seoul menggunakan bus terjadwal pukul 8pm sedangkan Aku waktu check-out ku pukul 12pm

Guesthouse juga menyediakan rak dan kulkas untuk menyimpan makanan para penginap….awas, jangan ambil makanan orang ya….hehehe. Biasanya penginap yang sedikit lebih lama tinggal di guesthouse akan menyimpan makanannya disini. Wah kalau Aku dipastikan ga pernah menggunakan fasilitas ini.

Kimchee snack and Bar

Tentu Kamu memiliki selera tersendiri dalam memilih penginapan…..yang penting tujuan kita sama, guys….jalan-jalan. That’s it.

Kisah Selanjutnya—->

Si Mungil….Busan Gimhae Light Rail Transit

<—-Kisah Sebelumnya

Yes….Okay….yes….Okay.

Hanya 2 jenis kata itu yang keluar dari mulutku, Aku tak benar-benar serius mendengarkan pramugari itu menjelaskan prosedur keamanan di pintu darurat. Justru Aku terpesona dengan kecantikan wajah khas Korea si pramugari. Hingga Dia selesai menjelaskan pun, Aku masih terbengong menikmati keelokannya sampai Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman….tentu Kubalas dengan senyuman semanis mungkin….hadeuhhhhhh.

Penerbangan selama 1 jam 30 menit menjadi perjalanan yang mendebarkan karena Aku terus berfirasat kurang baik ketika pemeriksaan imigrasi Busan nanti.

Aku tiba….

Dan benar apa adanya….Aku benar-benar dicuci oleh petugas imigrasi itu. Baca kisah menegangkan itu disini:

https://travelingpersecond.com/2018/02/05/imigrasi-busan/

Kejadian di imigrasi itu membuat lidahku terasa pahit ketika mengecap potong demi potong pie yang kudapatkan dari penerbangan Busan Air itu.

Kisah ini nantinya akan membuatku berubah 180 derajat dalam hal mempersiapkan dokumen ketika bertraveling. Aku di kemudian hari menjadi orang yang sangat perfeksionis dalam hal preparation.

Keluar dari Gimhae International Airport dengan muka kusut tapi kebahagiaan itu tak mampu kusembunyikan dalam-dalam. Inilah pertama kali kakiku menginjak di “negeri ginseng”.

Udara 2 derajat membuatku bergegas mencari keberadaan stasiun LRT. Dengan cepat Aku menemukannya di sisi kanan pintu keluar airport.

Kusentuh tombol-tombol di mesin atomatis itu untuk mendapatkan token Busan Gimhae Light Rail Transit.

Menunggu LRT datang dengan rasa penasaran yang tinggi tentang apa yang akan terjadi berikutnya dalam setiap detik petualanganku di Busan.

Tak lama menunggu LRT itu pun datang.

Tentu tujuan pertamaku adalah dormitory tempatku menginap di Busan. Aku akan menuju Kimchee Busan Guesthouse di bilangan jalan Hwangnyeong-daero.

Berhenti di stasiun Sasang yang merupakan stasiun akhir LRT , Aku beralih menggunakan Humetro (Nama panggilan untuk Busan Subway) jalur hijau.

Di dalam Humetro inilah Aku melihat satu wajah Indonesia, Sesekali dia melihatku, begitupun Aku. Sesekali Dia tersenyum, begitupun Aku….#apaan sih, orang dia laki-laki.

Kupaksakan diriku mendekatinya.

Percakapan pun tak terhindarkan. Ternyata benar, Dia seorang professional Indonesia yang sedang bekerja di Busan. Dari dirinya kuperoleh informasi bahwa warga Busan belumlah seterbuka seperti warga Seoul. Jadi Aku akan memaklumi saja apa yang akan terjadi dengan interaksiku dengan orang lokal selama di Busan nanti.

Percakapan pun terhenti ketika Aku harus turun di Stasiun Seomyeon untuk berganti ke Humetro jalur oranye. Hanya perlu jarak 1 stasiun saja kemudian aku turun di stasiun  Beomnaegol –stasiun dimana guesthouse tempat meninganapku terletak-.

Tak mudah menemukan lokasi guesthouse ini, sempat tersasar lebih dari setengah jam di tengah suhu udara yang sangat dingin hampir membuatku panik sebelum akhirnya Aku menemukannya setelah  bertanya kepada karyawan GS25 minimarket.

Akhirnya check-in juga ke Kimchee Busan Guesthouse.

Kisah Selanjutnya—->