Visiting Fo Guang Shan Monastery, Kaohsiung

That morning 8:27 am, I was getting ready to deeply explore Kaohsiung. A sliver of toast, a banana and a cup of tea became a free breakfast which provided by the hostel that morning.


felt like at home

Apparently, That Vietnamese and Indo-American backpackers were still asleep in Paper Plane Hostel’s clean and soft beds. They certainly enjoyed traveling in their ways which were different from mine. They looked more relax than me who is always agile everywhere for chasing time. My minimum budget that required me to visit many destinations in shorter vacation time.

Yes, I only slept in this cool hostel for a night because in next morning I would check out and leave my backpack at reception. I would take back it after completing my visitation on my last day in Kaohsiung.

MRT slowly moved away from Houyi Station and drove me to Kaohsiung Main Station.

My eyes were immediately aware from an existence of bus terminal near this MRT station.

Yess … I was indeed hunting for a bus towards the largest Buddhist monastery in Taiwan i.e Fo Guang Shan.

What is Fo Guang Shan? …..

Based on a reference which I got, It was an order in Buddhism that was very well-known in its efforts to modernize Buddhism in China. Because this order is very technologically literate … That’s about it.

In several minutes, I din’t see yet a bus number 8010 or 8011 which came into terminal, finally I asked someone who I thought he was a bus timer.

Bus station near Kaohsing Main Station

Maybe, because of often ask by tourists, it doesn’t take long time for him to understand my question. And I was asked to wait for the bus at end side of terminal.

Finally, The bus arrived.…got in it from front door, I asked driver whether the bus was really heading there. After saying “yes”, I immediately paid for about USD 2 and he gave me a ticket.

The journey began:


The joy of that day began with a pinky interior.

35 km journey with 45 minutes travel time was unable to make my eyes closed against my preoccupation on observing charms of Kaohsiung streets. Observing local people’s activities and passing various landmarks made me stunned along the way.


The front yard before entering monastery

I finally arrived …

There is no charge for entering this Buddhist monastery. Through front lobby, I found several shops which sell jewelry and souvenirs and several coffee shops (one of them is Starbuck) also.

I wasn’t interested in this area because I didn’t carry an adequate budget….Immediately come out and I found an incredible view:

Size of monastery plaza is very wide and became a camera’s target by anyone who visited this place.

Get close to Buddha statue! … surely you will be more impressed:

Under Buddha statue is location of Buddhist Museum and there are several prayer rooms for visitors.

I was also welcome to entering worship room to just see how worship procession do.

1.5 hours was a very valuable time because I could visit this place.

I closed my hunger by eating a serving of dinsum. I got it from a canteen which located in parking lot in front of monastery.

By the way, it was on 13:15 hrs.… I still had a lot of time … Where was my next destination?

Mengunjungi Biara Fo Guang Shan, Kaohsiung

Tepat pukul 8:27 pagi itu, Aku sudah bersiap diri untuk mengekplore Kaohsiung lebih dalam. Sekerat toast, sebuah pisang dan teh manis hangat menjadi sarapan gratis yang disediakan hostel pagi itu.


serasa seperti di rumah

Rupanya Vietnamese dan Indo-American backpacker itu masih terlelap di bersih dan empuknya kasur Paper Plane Hostel. Mereka tentu menikmati jalan-jalan dengan cara yang berbeda denganku. Terlihat mereka lebih santai daripada Aku yang selalu lincah kesana kemari berkejaran dengan waktu. Kondisiku dompetku lah yang mengharuskanku untuk mengunjungi berbagai destinasi dalam waktu liburan yang lebih pendek.

Ya, Aku hanya semalam meniduri hostel keren ini karena pagi harinya Aku akan check-out dan menitipkan backpack di resepsionis. Aku akan mengambilnya setelah menyelesaikan misi di hari terakhirku.

MRT perlahan menjauh dari Houyi Station dan menghantarkanku ke Kaohsiung Main Station.

Mataku segera menyadari akan keberadaan terminal bus di dekat stasiun ini.

Yess….Aku memang sedang berburu bus menuju ke biara Buddha terbesar di Taiwan yaitu Fo Guang Shan.

Apa sih Fo Guang Shan?…..

Referensi yang kudapatkan adalah sebuah ordo dalam Buddhisme yang sangat terkenal dalam upayanya memodernisasi Buddhisme di Tiongkok. Oleh karena ordo ini sangat melek teknologi….Begitulah kira-kira.

Celingukan tak pernah menemui bus bernomor 8010 atau 8011, akhirnya Aku bertanya pada seorang yang kufikir dia adalah seorang bus timer.

terminal bus di dekat Kaohsing Main Station

Mungkin karena sering ditanya turis, tak butuh waktu lama baginya untuk memahami pertanyaanku. Dan Aku diminta menunggu bus di ujung terminal.

Bus datang juga akhirnya….menaikinya dari pintu depan Aku menanyakan ke sang sopir apakah benar bus menuju ke sana. Setelah mengiyakan maka Aku segera membayar TWD 80 (sekitar Rp. 30.000) dan dia menukarnya dengan sebuah tiket.

Perjalanan pun dimulai:


keceriaan hari itu dimulai dengan pinky interior.

Perjalanan 35 km dengan 45 menit waktu tempuh tak mampu membuat mataku terpejam melawan keasyikanku mengamati pesona jalanan Kaohsiung. Mengamati aktivitas masyarakat dan melewati berbagai landmark membuatku tertegun sepanjang perjalanan.


bagian paling depan sebelum masuk

Akhirnya Aku tiba….

Tak dipungut biaya untuk memasuki biara Buddha ini. Melewati lobby depan, Aku menemukan beberapa pertokoan yang menjual perhiasan dan  souvenir serta beberapa coffee shop (Starbuck salah satunya).

Aku tak tertarik dengan area ini karena memang tak membawa budget yang memadai…Segera keluar dan Aku menemukan pemandangan yang luar biasa:

Ukuran plaza biara yang sangat luas dan menjadi sasaran kamera siapapun yang mengunjungi tempat ini.

Mendekatlah ke patung Buddha itu ! ….pasti Kamu akan lebih terkesan:

Dibawah patung Buddha itulah terletak Museum Buddha dan terdapat beberapa ruang peribadatan untuk para pengunjung.

Aku pun sempat dipersilahkan memasuki ruangan peribadatan untuk sekedar melihat bagaimana prosesi peribadatan kaum Buddha disana.

1,5 jam menjadi waktu yang sangat berharga karena bisa berkunjung ke tempat ini.

Aku menutup kelaparanku dengan menyantap seporsi dinsum. Aku mendapatkannya dari sebuah kantin yang terletak di parkiran kendaraan  yang terletak di bagian paling depan biara.

Btw, masih jam 13:15…..masih ada waktu banyak nih….Kemana ya enaknya?.