Bersitatap Kagum: Air Busan BX 123 dari Osaka (KIX) ke Busan (PUS)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Air Busan BX 123 (sumber: https://flightaware.com/).

Air Busan adalah maskapai ke-16 dari 28 maskapai berbeda yang pernah kucicipi. Low Cost Carrier (LCC) dari Negeri Ginseng ini memiliki main hub di Gimhae International Airport. Bukan niatan mengunjungi Busan, tetapi karena harga tiket murah yang ditawarkan Air Busan lah yang membuatku memutuskan untuk singgah di Busan sebelum mencapai tujuan utama, yaitu Seoul, ibu kota Korea Selatan.

Aku sendiri mendapatkan tiket murah ini tujuh bulan sebelum keberangkatan dengan harga tak sampai Rp. 800.000.

Inilah kisahku menunggang maskapai dengan tiga warna branding, putih-biru-kuning…

—-****—-

 “Sorry, Sir….We don’t receive coin”, petugas KIX Currency Exchange berseru dengan senyum.

Oh, Okay…It’s no problem”, aku menarik kembali uang koin sembari menunggu hasil penukaran uang kertas.

Dia dengan gesit memencet beberapa tombol kalkulator kemudian menunjukkan angka di LCDnya kepadaku.

Yes, Sir….”, aku mengiyakan cepat.

Sukses menukar Yen dengan USD, kini misiku adalah menghabiskan uang koin untuk membeli bekal apapun yang bisa kujadikan sebagai makan siang, kalau perlu hingga makan malam….Parah kan?, bagaimana caraku berhemat.

Aku berhasil menemukan FamilyMart di sebuah selasar, memasukinya, berburu onigiri dan permen, menyudahinya dengan uang koin di kasir lalu membenamkannya dalam-dalam di backpack. Aku tak pernah meremehkan permen, dua butir permen bisa memenuhi 10% kalori seporsi makan orang dewasa, itu berarti bisa menahan lapar perut beberapa saat hingga menemukan warung makan yang murah. Kali ini aku tak berbasa-basi dengan berkeliling bandara, waktuku sempit, kuputuskan segera menuju konter check-in untuk bertukar e-ticket dengan boarding pass. Standar utama maskapai terhadap penumpang yang akan melintas negara berbeda adalah mengecek visa serta return ticket dari negara yang dituju. Tapi tak perlu khawatir, visaku sudah menempel sempurna di passport dan e-ticket Air Asia untuk pulang dari Korea Selatan juga telah kupesan.

Can you speak English, Sir”, petugas wanita konter check-in bertanya ringan.

Yes, sure Ms. I can

Do you want to sit in emergency exit row?”, dia meminta.

Oh, yes, with pleasure”, aku menjawabnya dengan gembira, kapan lagi bayar murah tapi dapat deretan kursi yang lebih lega.

Ok, thank you Sir

“You are welcome”.

Boarding pass dengan cepat kudapat. Menuju konter imigrasi, aku menyerahkan passport begitu tiba. Tahapan keluar dari sebuah negara adalah hal yang paling kusuka, karena cepat dan tanpa interogasi. Tentu petugas imigrasi akan senang dan terbantu jika tamu negaranya berdisiplin untuk keluar negaranya tepat waktu. Setelah mendapatkan stempel departure di passport, aku segera menuju gate untuk menunggu Air Busan yang sebentar lagi akan datang bahkan mungkin telah bersiap. Tiba tepat waktu, benar adanya, pesawat Airbus itu telah berdiri gagah di apron bersiap memasukkan segenap muatan.

Baording passku.
Nah, dikasih kupun 10.000 Won buat berjudi….”Judiii….Teeeeet….Menjanjikan Kemenangan”.

Menjelang pukul setengah sebelas, panggilan boarding memenuhi langit-langit bandara, Jalur antrian mulai dibuka dan beberapa ground staff mulai berbaris di gate untuk melakukan final checking kepada setiap penumpang. Aku melewatinya dengan mantap, menunjukkan boarding pass dan passport, kemudian diizinkan menuju ke pesawat. Aku merangsek melalui aerobridge lalu disambut dua pramugari berwajah khas Negeri Ginseng.

Annyeonghasimnika”, salah satu dari mereka bersalam senyum dengan sedikit membungkuk, meminta boarding pass, mengecek sebentar lalu mempersilahkanku mencari tempat duduk.

Gamsahamnida”, ahhh, hanya sedikit kosakata Korea yang kufaham. Aku mulai mencari bangku.

Aku duduk di aisle seat pada emergency exit row. Tak lama setelah tiga kolom bangku terisi, seorang pramugari datang menyapa. Pramugari itu menjelaskan dalam Bahsa Korea tentang peraturan di emergency exit row, maklum dua penumpang di sebelahku asli berkebangsaan Korea. Usai menjelaskan ke mereka berdua, kemudian pramugari itu kembali menjelaskan, kali ini dalam Bahasa Inggris, jelas itu untukku. Saat menjelaskan itu, kita berdua saling bersitatap. Sebab kejahilan hatiku saja, aku tak pernah mendengarkan peraturan yang diucapkannya, justru aku lebih fokus menikmati keayuan khas wajah Koreanya yang putih bersih. Aku faham, dia merasa kuperhatikan sehingga dia sesekali menjelaskan peraturan itu dengan senyum, dia semakin keki ketika aku membalasnya dengan seyuman dengan tetap bersitatap muka….Parah habis ya guwe.

I’m in the cabin.
Nah ntuh pintu daruratnya.

Setengah jam menyelesaikan boarding process, akhirnya juluran aerobridge mulai ditarik dari pintu pesawat, pramugari mulai menutup pintu rapat-rapat, penumpang mulai mengenakan sabuk pengaman, pesawat mulai meninggalkan apron sembari memamerkan demo keselamatan penerbangan oleh beberapa awak kabin. Demo itu usai ketika pesawat sudah di runaway dan bersiap take-off meninggalkan Kansai International Airport.

Flight attendants, please prepare for take off”, begitu kata terakhir dari kapten penerbangan yang memecah sunyi ruangan di kabin.

Pesawat itupun melakukan brake release, mesin berotasi dengan tenaga penuh, dan akhirnya airborne berlangsung dengan mulus, pesawat melaju dengan cepat meninggalkan Osaka. Aku cukup terkesima dengan pesawat ini karena inilah pertama kalinya bisa melihat keberadaan pesawat di atas peta bumi dalam sebidang LCD….Guwe kampungan emang.

Ketika tiba waktunya menyajikan in-flight meal, aku lebih memilih memasukkan makanan dan minuman kemasan itu ke dalam folding bag. “Buat makan siang saja lah”, gumamku dalam hati. Aku lebih memilih membaca dengan seksama inflight magazine untuk mencari informasi yang mungkin aja berguna untuk petualanganku di Korea Selatan.

Nih dia….Pengganti menu makan siang.

Tak terasa aku telah terbang selama 1 jam 30 menit dan pilot memberikan pengumunan kepada penumpang bahwa pesawat bersiap mendarat di Gimhae International Airport serta menginformasikan kondisi cuaca di Busan yang cerah. Tak berselang lama setelah pengumuman selesai, awak kabin segera memeriksa setiap sisi kabin dan penumpang untuk memastikan pendaratan berlangsung aman. Akhirnya pesawat mendarat mulus di landas pacu. Betapa bahagianya aku ketika untuk pertama kalinya tiba di Korea Selatan

Hmmhh….Aku sudah tak sabar mengeksplorasi Busan. Aku masih saja tak mampu membendung semburat senyum di wajah.

Aku masih saja tak menduga bahwa di dalam bangunan terminal bandara nanti, akan ada insiden serius yang menimpaku.

Alhamdulillah….

Selamat Datang Busan….Selamat Datang Korea Selatan.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Osaka ke Busan bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

JR Kansai Airport Rapid Service: Stasiun Shin-imamiya ke Kansai Airport Station

<—-Kisah Sebelumnya

Lelapan hari pertama tahun baru, masih membalut erat kedua mata. Membalas dendam kebekuan badan tadi malam saat perayaan malam pergantian tahun di Dōtonbori Canal dengan kehangatan selimut Hotel Kaga menjadi sesuatu yang kuanggap impas. Namun akhirnya, hanya satu hal yang mampu memaksa mata untuk tak lagi terpejam, yaitu penerbangan Air Busan BX 123 tepat pukul 11:00, karena seperti biasa, untuk penerbangan internasional, empat jam sebelum waktu terbang aku akan memulai perjalanan menuju bandara.

Hampir pukul tujuh, aku melompat bangun, menyambar handuk putih milik hotel, bathroom amenities dan segera beranjak keluar kamar menuju shared bathroom di ujung lorong. Kamar mandi Hotel Kaga cukuplah luas untuk ukuran backpacker. Berwujud ruang dua sekat, yaitu sekat dengan kaca dan wastafel serta kapsul mandi dengan shower air hangat. Berlama-lama di bawah shower air hangat adalah kebiasaan burukku, karena air hangat sangat efektif mengusir keletihan otot kaki yang merupakan aset utamaku dalam setiap perjalanan….Yups, apalagi kalau bukan untuk berjalan berpuluh-puluh kilometer sepanjang petualangan.

Usai mandi, aku dengan cueknya melintasi koridor hotel hanya dengan berbalut handuk dan sandal jepit. Menjadikan beberapa tamu hotel yang lewat melihat heran. “Ah, ketemu cuma sekali ini….Biarin saja”, batinku mulai iseng.

Di dalam kamar aku segera berbenah, memakai t-shirt berangkap long john hitam, celana panjang katun penyimpan suhu tubuh, sepasang sepatu boots dan mulai mengepak semua barang ke dalam backpack Eiger 45L berwarna biru yang kupinjam dari teman sekantor (parah, backpack aja pinjem).

Aku turun ke lobby menggunakan lift dan segera menyerahkan kunci kamar di meja resepsinonis.

Thank you for staying at our hotel. Have a nice trip, Sir”, resepsionis yang masih sama, bertugas dari semalam, melempar senyum sembari menyerahkan uang deposit padaku.

You’re welcome. Very happy to stay at Hotel Kaga …. A good hotel“, Aku menjawab sekenanya. “See you, Sir“”.

See you”, dia melambaikan tangan dan masih tersenyum.

Aku kembali turun ke jalanan menuju Stasiun Shin-imamiya, stasiun yang menjadi tempat hinggap pertama kali ketika aku memasuki pusat kota Osaka. Hanya stasiun itulah yang terdekat dari hotel dan dilewati kereta Nankai-Kuko Line menuju Kansai International Airport (KIX).

Gang-gang selebar lima meter mulai bergeliat, menyisakan sisa peryaan tahun baru semalam. Aku menyusur beberapa gang dengan cepat tanpa menikmati suasana, toh aku sudah beberapa kali melewatnya. Mengambil tembusan ke Abiko-suji Avenue, aku tiba di Stasiun Shin-imamiya dalam lima menit semenjak meninggalkan hotel.

Memasuki gerbang stasiun, mataku langsung menyisir keberadaan ticketing vending machine. Aku mendapatkannya dengan mudah. Tiket senilai 1.060 Yen (Rp. 145.000) akhirnya berada dalam genggaman dan aku segera merapat ke plafform JR Kansai Airport Rapid Service.

Tiket JR Kansai Airport Rapid Service.

Kereta layanan bandara itu tiba tepat waktu, aku memasuki salah satu gerbongnya dan tak lama setela terduduk, kereta itu melaju. Aku kembali menikmati ulang perjalanan seperti saat pertama menumpang kereta yang sama setiba di Osaka. Pemandangan pertama yang tersaji adalah suasana daerah urban padat bangunan di Distrik Kota Nishinari, Sumiyoshi dan Suminoe. Setalah melintas Yamoto River suasana berganti menjadi daerah lahan pertanian di daerah Kishiwada dan Izumisano. Kemudian kereta melintas lautan di Osaka Bay setelah sedikit mendaki jalur layang di Rinku Town. Setelah melintas jembatan laut sepanjang lima kilometer maka kereta tiba di Kansai-Airport Station.

Daerah urban di Osaka.

Begitu kereta merapat di platform, aku segera melompat keluar gerbong menuju departure hall Kansai International Airport, si pemenang Best Low Cost Airline Terminal in the World versi Skytrax.

Satu tujuan pertama setiba di bandara….Yes, money changer.

Kisah Selanjutnya—->

Channel No 63 Hotel Kaga

<—-Kisah Sebelumya

Malam nanti adalah malam tahun baru. Ini pertama kalinya aku akan menikmati pergantian tahun di luar negeri, Osaka tepatnya. Tak pelak aku telah meniatkan untuk menikmati bagaimana meriahnya malam Osaka saat New Year’s Eve Countdown.

Tapi ini baru pukul 17:00 ketika aku menyudahi menu makan siang yang sangat terlambat.  Aku meninggalkan restoran rumahan yang berdiri pada sebuah gang di Amerikamura, setelah menikmati sajian chicken ramennya.

Kini aku punya satu niatan yang harus kutunaikan….Yupz, TIDUR.

Aku tak bisa menyembunyikan lunglai badan setelah semalaman hanya tertidur di Kansai International Airport selama empat jam. Aku sendiri tak mau menghadiri hitung mundur Tahun Baru dalam keadaan tak segar nanti malam.

Sampai jumpa Amerikamura”,  batinku berseloroh ketika menapak keluar dari sebuah gang dan mulai menyisir Mido-suji Avenue menuju Stasiun Shinsaibashi. Hampir setengah enam sore ketika aku mulai menaiki gerbong Osaka Metro menuju Stasiun Dobutsuen-mae melalui Midosuji Line.

Dari Stasiun Dobutsuen-mae, aku melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri Saka-suji Avenue untuk mencapai penginapan. Aku perlahan memasuki daerah Haginochaya dan tak lama kemudian tiba di Hotel Kaga.

Hello, Mr. Donny. So afternoon you arrive”, resepsionis laki-laki berkacamata itu menyapaku ringan lalu berdiri dari kursinya dan sigap mengambil backpack biruku.

Yes, Sir. Osaka is very interesting, so I will regret it if I come back to hotel too early”, aku menangkap backpack yang dia sodorkan.

I think I should sleep to prepare myself for New Year’s Eve tonight”

Yes, that’s a great idea, Sir”.

Aku meminta izin untuk segera memasuki kamar setelah dia memberikan kunci. Aku sudah membayar biaya penginapan tadi pagi saat menitipkan backpack. Kuayunkan langkah dengan cepat mengejar lift yang pintunya sudah terbuka karena ada orang yang menggunakannya, kemudian meluncur ke lantai tiga. Begitu tiba di kamar, aku segera menggantung winter jacket, melepas sepatu boots, menurunkan backpack, menarik kasur lipat dan menghempaskan tubuh ke atas kasur.

Kamar tunggal yang kupesan sebulan sebelum keberangkatan.
Kamar seharga 1.800 Yen (Rp. 256.000) per malam.

Zzzzz……..Zzzzz…..Zzzzz….Dengan cepat aku terlelap saking lelah badan dan mengantuknya mata.

Lewat sedikit dari jam setengah sembilan malam ketika aku otomatis terbangun. Seperti itulah aku, jika ada niatan bangun pada jam tertentu maka tanpa menyalakan alarm pun maka aku akan terbangun dengan sendirinya pada jam yang dimaksud. Jarang sekali meleset, mungkin ini sisa kebiasaanku di waktu kecil ketika sering bangun jauh sebelum shubuh untuk belajar. #sokdisiplin

Aku masih merasa malas untuk beranjak dari kasur dan terus ternyamankan dengan hangat ruang kamar. Terus membayangkan begitu tak nyamannya jika bepergian di luar sana yang suhunya hampir menginjak nol derajat Celcius. Kusambar remote TV di sampingku, aku baru sadar kalau sebelum tidur tadi aku telah menyalakan TV. Praktis TV lah yang menontonku di saat tidur, bukan aku yang menontonnya.

Mau nonton acara TV Jepang….Waspadalah….Waspadalah!

Tentu aku tak tahu apa yang diperbincangkan pada setiap acara Televisi Jepang. Yang kutahu itu hanya reality show tentang percintaan, kuis berhadiah atau menebak-nebak beberapa kasus dan kejadian dalam acara berita malam. Aku terus menjelajah lebih jauh hingga ke channel bernomor di atas 40. Beberapa  acara olahraga serta flora dan fauna mulai hadir. Kini channel menginjak angka 60. Aku terus menjelajah….

61….62….

Tiba-tiba aku terperanjat ketika memasuki CHANNEL NO. 63. Bagaimana tidak, itu adalah channel film dewasa tanpa sensor. Wuannnjiiirrrr, apalagi ini…..Aku mencoba untuk melewatkannya saja, berpindah ke channel berikutnya. Belum juga lama berpindah, entah kenapa tangan ini selalu penasaran memencet pintas ke CHANNEL NO. 63, lalu mencoba melawan berpindah ke channel lain lagi. Geblek….Kemudian berpindah lagi ke CHANNEL NO. 63…..Pertempuran “Hitam-Putih” tampak sengit di benakku. Hingga akhirnya tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.

Sudah saatnya aku pergi ke perayaan Tahun Baru bersama warga Osaka dan turis lainnya di luar sana. Aku telah membaca pengumuman di banyak stasiun siang tadi bahwa jam operasional Osaka Metro akan diperpanjang hingga lewat dini hari. Itu berita yang menggembirakan dan membuatku tak perlu membobol kantong untuk mencari taksi saat pulang nanti.

Kupakai kembali sepatu boots dan kukenakan kedua jaketku untuk melawan dingin. Masih ingat ketika aku tak sengaja menenggak alkohol di Narita International Airport?. Yups, minuman beralkohol itu masih ada dan hanya berkurang satu tenggakan saja kala itu. Aku memasukkan ke kantong winter jacket dan kufungsikan sebagai langkah antisipasi. Aku harus bersiap apabila suhu diluar nanti menjadi terlalu ekstrim di tengah malam….WHO KNOWS?….Tapi mudah-mudahan saja aku tak perlu menenggaknya lagi hingga petualangan di Osaka berakhir.

Kisah Selanjutnya—->

Bermalam di Kansai International Airport (KIX)

<—-Kisah Sebelumnya

Tiba di Kansai International Airport (KIX), Osaka.

Aku menuruni Peach Aviation bernomor terbang MM6320 melalui tangga manual. Kemudian dibawa menggunakan Narita apron shuttle bus menuju bangunan Terminal 2. Akhirnya, aku tiba di Osaka dan menapaki bandara yang pernah memenangi Best Low Cost Airline Terminal in the World versi Skytrax.

Karena ini adalah penerbangan domestik tentu aku tak perlu sibuk berurusan dengan pihak imigrasi. Aku menginjak lantai bangunan Terminal 2 tepat tengah malam. Kiranya akan lebih baik jika aku segera mencari tempat peraduan untuk memejamkan mata sejenak hingga 5 jam ke depan. Aku juga sudah merasa sangat letih karena sedari pagi saat check-out hingga sore berkeliling Tokyo dengan memanggul backpack seberat 6 Kg. Biaya transportasi yang mahal tak memungkinkanku untuk menaruh backpack di dormitory dahulu. Karena sudah barang tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit untuk sekedar bolak-balik ke dormitory hanya untuk kegiatan remeh temeh, yaitu mengambil backpack saat ingin meninggalkan Tokyo. Alhasil, aku harus memanggul backpack kemanapun kaki melangkah higga aku tiba di Osaka.

Instingku sangat cepat untuk menemukan tempat tidur terbaik, aku kini berada di sebuah area di sisi barat bangunan Terminal 2 yang cukup tenang. Empat bangku gandeng tanpa sandaran lengan menjadi hadiah sempurna malam itu. Tak berfikir panjang, aku segera mengakuisisi salah satunya, menjadikan backpack sebagai bantal dan dengan cepat aku terlelap diatasnya.

Zzzzzz…..Selebihnya aku tak tahu apa yang terjadi di sekitar.

—-****—-

Greekkk…..praakkk…..Buughhh…..Kraackkk.

Aku tergelegap dan tersontak bangun. Dalam duduk dengan kepala pening, aku melihat jelas rombongan gadis-gadis tinggi cantik asal Tiongkok sudah duduk di depanku. Dua diantaranya memperhatikanku  yang sedang dalam kondisi kusut, kemudian melempar senyum. Sudah tak mungkin aku melanjutkan tidur di depan mereka. Sepertinya mereka baru saja mendarat dan entah dari mana.

Jarum jam masih bertengger di angka empat. Berarti aku sudah terlelap genap empat jam. Aku menenggak air mineral tersisa. Dan dalam sekejap gadis-gadis itu sudah sibuk dengan gawainya masing-masing.

Kukeluarkan segera toiletries pack dan kumasukkan jaket tebalku ke dalam backpack. Aku segera beranjak menuju ke toilet. Masuk ke toilet bandara saat pagi adalah strategi untuk menikmati toilet bersih karena biasanya cleaning service baru usai membersihkannya dan belum ada yang menggunakan.

Benar saja, akulah orang pertama yang memasuki toilet pagi itu. Luar biasa bersih, perihal kebersihan fasilitas umum di Jepang, tidak usah ditanya, mereka jagonya. Pagi itu, sungguh nyata, untuk pertama kalinya aku menggunakan toilet dengan control panel penuh tombol. Aku menaruh backpack di lantai toilet yang bersih dan memulai aktivitas pagi di dalamya. Sepertinya aku kelamaan karena keasyikan mencoba mengoperasikan semua jenis tombol di sebelah kloset toilet. Tak kurang dari sepuluh jenis tombol aku memencet-mencetnya, mulai dari tombol penyamar suara (flushing/sound button) hingga penghangat kloset (warm seat button). Tak kerasa, hampir 40 menit aku menguasai toilet itu.

Oalah, Donny….Jauh-jauh ke Jepang cuman buat nyobain toilet….Kasihan……

Menggunakan free shuttle bus menuju Terminal 1.

Usai menggosok gigi di depan wastafel. Aku mulai mempersiapkan diri untuk menuju kota. Aku segera mencari keberadaan stasiun kereta. Mengikuti petunjuk yang ada aku diarahkan pada sebuah free shuttle bus untuk berpindah ke Terminal 1, karena kereta ke tengah kota berada disana.

Aku menaiki free shuttle bus itu. Menempuh jarak sekitar 2 km dan tak sampai sepuluh menit aku tiba di Terminal 1 tepat pukul enam pagi. Aku mulai berburu tiket kereta.

Which train must I take to get the cheapest price to Shin-Imamiya Station, Ms?”, aku bertanya kepada petugas wanita yang duduk di bagian penjualan tiket.

JR Kansai Airport Rapid for 1.060 Yen (Rp. 145.000), Sir

Okay, I take that

Bersiap menuju Osaka.

Tak lama kemudian, JR Kansai Airport Rapid Train itu tiba. Aku segera memasuki salah satu gerbongnnya yang dominan silver dengan kelir biru, kemudian duduk di salah satu bangku tunggalnya. Tak sampai lima menit, kereta itu berangkat. Begitulah kereta Jepang, tak pernah telat dan selalu tepat waktu.

15 menit kemudian…..

Teluk Osaka (Osaka Bay).

Begitu terkejutnya diriku karena kereta itu melewati jembatan besi raksasa yang gagah mengangkangi laut. Seumur hidup, aku baru tahu kalau Kansai Internatioanl Airport (KIX) berlokasi di tengah laut, berjarak 5 Km dari daratan terdekat di kota Osaka. Bukankah ini pengalaman yang luar biasa?……

Kisah Selanjutnya—->

Peach Aviation MM6320 dari Tokyo ke Osaka: Maskapai ke-15

<—-Kisah Sebelumnya

Waktu keberangkatanku menuju tur Asia Timur Jilid-2 tinggal sehari lagi. Masih ada satu tahapan itinerary yang masih tercecer dan belum tuntas, yaitu buntunya mekanisme perpindahanku dari Tokyo ke Osaka. Tiga bulan lalu, aku telah menyia-nyiakan tiket bus murah dari Tokyo ke Osaka seharga 5.700 Yen (Rp. 775.000) hanya karena terus berfikir dan banyak mencari pilihan lain. Beberapa waktu kemudian Saat akhir pekan tiba, harga tariff bus itu meningkat hingga 9.700 Yen (1,2 juta). Sedangkan harga tiket Shinkansen  mencapai 14.000 Yen (Rp. 1,9 Juta).                                                                                                                   

Berarti selain bus, Shinkansen juga tak mungkin kupilih. Kereta peluru itu terlalu mahal untuk ukuran kantongku. Mau tak mau, aku harus kembali mengobrak-abrik informasi tentang transportasi Jepang.

Aku mulai melacak perihal seberapa banyak maskapai komersial yang dimiliki oleh Negeri Matahari Terbit. Sebelumnya, aku sudah memesan salah satu maskapai mereka untuk berpindah dari Kaohsiung (Taiwan) ke Tokyo, maskapai itu adalah Vanilla Air. Tetapi maskapai ini nyatanya mematok harga lumayan mahal untuk rute Tokyo ke Osaka, berkisar 10.130 Yen (Rp. 1,4 juta).

Dari persistensiku menjelajah dunia maya, sentuhan mouseku menemukan satu maskapai LCC (Low Cost Carrier) lain milik Jepang, yaitu Peach Aviation. Atrbut maskapai ini mengandalkan perpaduan warna orange dan pink, membentuk warna jingga pucat atau dikenal dengan nama peach. Aku mulai mencari rute. Akhirnya aku menemukan rute Tokyo-Osaka seharga 7.150 Yen (Rp. 970.000), harga yang sedikit lebih hemat daripada menggunakan bus, Shinkansen atau Vanilla Air.

—-****—-

Bersiap take-off bersama Peach Aviation MM6320.

Insiden delay dan tenggakan alkohol secara tak sengaja memang menjadi memori tak mengenakkan sebelum aku meninggalkan Tokyo. Tetapi, aku mulai sumringah ketika nomor penerbanganku disebut dalam pengumuman bandara. Aku mulai mengantri dalam barisan. Mulai terbayang keindahan Osaka Castle dalam setiap detik antrianku. Hingga tiba, boarding pass dan pasporku diperiksa oleh ground staff wanita yang masih sangat muda dan berbadan mungil.

I’m sorry, this is not your flight. Your flight will be depart 30 minutes later”.

Are you sure?”, jawabku separuh bertanya.

Yes, Sir. This flight is MM320 and your flight is MM6320, almost similar”.

Oh God, I’m sorry. This is my wrong”, aku menepok jidat sambil berusaha menyembunyikan rasa malu.

Aku kembali mundur dari antrian dan duduk di salah satu deretan kursi kosong yang sudah ditinggalkan para calon penumpang untuk memasuki pesawat. Aku masih saja mengamati antrian itu hingga orang terakhir memasuki pesawat. Kini aku kembali menunggu….

30 menit kemudian…..

Tak salah lagi, inilah penerbanganku, aku pastikan informasi nomor penerbangan di layar LCD baik-baik, lalu kucocokkan dengan nomor yang sama di boarding pass….Yup, benar ini MM6320. Aku segera memasuki antrian. Lalu di gerbang antrian, aku memberikan bording pass dan paspor untuk diperiksa oleh salah satu ground staff. Akhirnya, aku diizinkan untuk memasuki pesawat.

Dominasi kabin dengan warna peach menjadikan ruangan itu begitu ceria, sedikit mengurangi penatku dalam berjibaku menghadapi delay. Setiap awak kabin begitu sigap membantu penumpang memasukkan barang bawaan ke kompartemen bagasi. Beberapa kali, seorang pramugari tak ragu melepas sepatunya dan menaiki kursi untuk mendorong beberapa bagasi besar dan merapikan letaknya di kompartemen bagasi.

Seusai persiapan, Peach Aviation MM6320 mulai merayap menuju runway diiringi demonstrasi prosedur keamanan penerbangan oleh awak kabin. Beberapa saat kemudian Kapten Penerbangan meminta izin untuk melakukan take-off. Tak lama setelahnya, Airbus A320-100 itu melaju sekencang-kencangnya meninggalkan Narita International Airport dari Terminal 1.

Langit Tokyo sepertinya cerah malam itu. Aku tak merasakan turbulensi apapun selama 1 jam 35 menit penerbangan. Osaka adalah kota terbesar ketiga Jepang yang berjarak 500km di sebelah barat Tokyo. Sepanjang penerbangan sebagian besar penumpang lebih memilih memejamkan mata, tetapi aku tetap saja menyalakan lampu baca karena tertarik dengan banyaknya informasi pariwisata yang tertuang dalam inflight magazine Peach Aviation. Aku memotret satu demi satu lembar informasi pariwisata yang kubutuhkan selama di Osaka nanti. Rupanya aktivitasku itu diperhatikan oleh seorang pramugari dari belakang. Bahkan pada suatu waktu dia datang menghampiriku.

Berburu informasi di dalam pesawat.

Do you still reading, Sir?” .

Yes, Ms. I need some information from this magazine”.

Oh Ok, Sir. It doesn’t matter. I just make sure”.

Dia tersenyum dan kembali menduduki bangku pramugarinya di belakang. Bahkan setelahnya, kupastikan bahwa sepanjang penerbangan aku tak pernah memadamkan lampu baca itu. Pukul 23: 53, Kapten penerbangan mulai bicara dengan microphonenya untuk sekedar mengumumkan bahwa pesawat akan segera mendarat di Kansai International Airport Terminal 2. Semua penumpang bergegas bangun, bersiap diri dan merapikan setiap tempat duduknya. Para awak kabin terus mondar-mandir memeriksa sesuai prosedur keamanan untuk proses landing.

Aku masih tak menahu perihal kondisi sesungguhnya di bawah sana karena aku duduk di aisle seat. Aku mampu merasakan ketika pesawat mulai merendah dan sesekali bergoyang untuk menstabilkan posisi. Hingga akhirnya hentakan halus roda pesawat memberitahukanku bahwa Peach Aviation sudah menyentuh runway Kansai International Airport, di Terminal 2 tepatnya.

Tidak ada aerobridge yang menyambut, semua penumpang harus menuruni tangga dan dijemput oleh Narita apron shuttle bus menuju bangunan terminal.

Tiba di Kansai International Airport Terminal 2 tepat tengah malam.

Malam itu, aku memtuskan untuk bermalam di Kansai International Airport Terminal 2 dan akan berangkat menuju ke tengah kota di keesokan hari.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Tokyo ke Osaka bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->