Riyam Park….”Biar Kunikmati Sejenak Taman Ini”

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir satu jam lamanya waktu telah berlalu, aku memutuskan untuk segera mengusaikan diri dalam bermain air laut di tepian pantai yang lokasinya berada tepat di teras depan Kalboos Park.

Mengenakan kembali sepatu yang kutinggalkan pada tempat kering di salah satu sisi pantai, aku bersay hello kepada keluarga kecil asal Roma yang sedari tadi menemani diriku di pinggiran pantai.

Langkah eksplorasiku berlanjut semakin jauh menuju barat. Kali ini aku tak mengambil sisi selatan Al Bahri Road, melainkan melangkah di sepanjang corniche. Maklum, kali ini jalan utama di area Mutrah itu tepat bersisian dengan pantai. Hanya saja pantai di sepanjang Teluk Oman itu telah mengalami reklamasi, “Mungkin untuk menghindari abrasi jalanan utama”, aku menebak-nebak saja. Tampak tetrapod disebar di sepanjang pantai untuk menghindari sruktur jalanan dari hantaman keras ombak pantai.

Mataku terus menatap satu obyek yang sedari kunjungan di Kalboos Park pada beberapa waktu lalu telah merenggut perhatianku. Tak lain lagi, obyek itu adalah Riyam Censer yang gagah berdiri di puncak bukit berbatu.

Riyam Censer sendiri adalah struktur bangunan yang digunakan sebagai tempat pembakaran sehingga akan menimbulkan efek cahaya yang indah di malam hari. Riyam Censer ini sengaja dibangun sang Sultan untuk memperingati Hari Nasional ke-20 Negara Oman.

Satu kilometer jauhnya aku terengah hingga akhirnya bisa berdiri tepat di bawahnya. Bangunan pembentuk cahaya saat malam itu sempurna berbentuk layaknya cawan, berbahankan marmer putih susu, di bagian atas cawan ditutup dengan sebuah bentukan mahkota dengan ukiran-ukiran indah di permukaannya.

Lama aku tertegun melihat rupa arsitekur itu pada jarak tak lebih dari lima puluh meter. Karena memang tempat itu tak terbuka untuk umum.

Tentu itu tak mengecewakanku, karena di belakang tempatku berdiri tersuguhkan sebuah luasan taman yang cukup indah dengan pemandangan laut lepas di salah satu sisinya.

Memiliki luasan tak kurang dari sepuluh hektar menjadikan taman ini sebagai ruang terbuka hijau terbesar di area Mutrah. Jika Kalboos Park berada di hamparan kaki perbukitan yang dibatasi perairan pantai, maka Riyam Park berada di puncak perbukitan yang tepiannya berwujud tebing yang berbatasan langsung dengan jalanan utama di kawasan Mutrah, Al Bahri Road.

Bahkan taman ini pada masa dahulu pernah tersohor sebagai jalur pendakian antara dua area utama, yaitu Mutrah dan Muscat. Karena letaknya yang berada di ketinggian maka Riyam Park bisa dikatakan sebagai salah satu tempat terbaik untuk melihat area Mutrah dari ketinggian, juga menjadi titik paling tepat untuk menikmati sunset.

Taman yang landmarknyaberwujud Riyam Censer ini memiliki fauna utama penghuni yang berupa sekawanan burung gagak.

Riyam Censer.
Gazebonya aja segede gituh….
Sudah berlokasi di puncak bukit….Tapi masih berada di bawah bukit yang lain….keren ya?
Playground zone.
Kontur taman yang bertingkat-tingkat….Mengagumkan.
Duduk di sini damai banget rasanya….

Lalu apa pentingnya taman ini dalam sejarah perjalanan Kesultanan Oman?

Ternyata taman ini pernah menjadi tempat bagi sejarah ditandatanganinya perjanjian damai antara Kesultanan Oman dan Portugis pada pertengahan Abad ke-17.

Taman ini sepertinya sengaja diciptakan untuk bisa dikunjung oleh penduduk segala umur. Tampak di salah satu sisi tersedia playground zone yang bisa membuat anak-anak senang berkunjung ke Riyam Park. Restoran dan coffee shop milik Maher Enterprises tampak berdiri di sisi yang lain.

Sementara di banyak hamparan rumput, sprinkler bertugas otomatis dalam menyirami setiap jengkal taman. Sebuah kolam buatan pun tampak semakin mempercantik taman. Dan karena berada di puncak perbukitan, taman ini terkesan menjadi taman bertingkat karena ketinggian permukaan tanah yang berbeda-beda.

Untuk sejenak aku bisa duduk dan menikmati keindahan pantai dari ketinggian bersama dengan beberapa warga lokal yang sudah tiba.

Biarkan aku sejenak menikmati taman ini ya, gaes…..

Kisah Selanjutnya—->

Kalboos Park: “Don’t Worry, He is a Swimmer”

<—-Kisah Sebelumnya

Landmark berikutnya yang kutemukan setelah singgah beberapa saat di Muscat Gate Museum adalah Kalboos Park.

Kalboos Park itu sendiri memiliki luasan tak kurang dari tiga hektar. Lokasinya memanfaatkan keberadaan kaki bukit berbatu dan langsung menghadap pantai di sisi baratnya. Memiliki bentuk memanjang dari utara ke selatan mengikuti kontur pantai. Tepat ditengahnya difasilitasi dengan panggung teater setengah lingkaran yang tepat menghadap ke Teluk Oman. Jika ditarik ditarik garis lurus  dari area teater, maka di kejauhan tampak jelas keberadaan landmark penting lain milik Oman, yaitu Riyam Censer. Riyam Censer merupakan sebuah monumen di puncak bukit berbatu, terbuat dari marmer putih dan memiliki ketinggian sekitar dua puluh lima meter. Berfungsi seperti tempat pembakaran dupa.

Di beberapa titik taman juga tersedia umbrella shade yang memungkinkan pengunjung untuk berteduh menghindari panasnya matahari. Keberadaan lampu-lampu taman mengisyaratkan bahwa taman tepi pantai itu bisa dikunjungi warga saat malam tiba.

Di dominasi dengan porsi corniche daripada lahan hijau, telah menjadikan taman ini sebagai satu spot terbaik di Oman untuk menikmati keindahan sunset. Tetap saja tanaman palem berukuran besar menjadi vegetasi yang tak pernah ditinggalkan dari setiap landmark yang ada di tanah Oman.

Sementara di punggung bukit tampak berdiri sebuah benteng kecil sisa peninggalan sejarah masa lalu yang membuat sepanjang taman terpercik oleh aura sejarah.

Kembali pada langkahku kembali…..

Aku yang sedari sebelumnya berjalan di bawah teriknya surya untuk menikmati Bait Al Zubair, Bait Muzna dan Muscat Museum Gate, maka rasa hauslah yang menyiksaku ketika memasuki Kalboos Park.

Kusempatkan diriku untuk mengunjungi sebuah kios kecil yang menjual makanan dan minuman kemasan. Aku menebus satu botol air mineral dengan 200 Baisa. Untuk kemudian, aku duduk menikmati taman di bawah salah satu umbrella shade dan menikmati biru mengkilatnya pantai yang memantulkan terpaan matahari.

Satu keunikan dari pantai ini adalah keberadaan burung camar yang jumlahnya tidak sedikit dan berlalu lalang di sekitar taman. Dan ketika aku baru saja terduduk, baru kusadari ada seekor camar yang datang mendekatiku.

Oh kasihan, camar ini sedang mengalamai cedera kaki”, aku membatin sembari menghampiri camar itu dan menaruhnya di tempat yang teduh.

Meninggalkan Muscat Gate Museum.
Gerbang Kalboos Park.
Pantai berbentuk memanjang mengikuti kontur pantai.
Theater.
Burung camar yang dominan di sepanjang pantai.
Yuk masuk air bentar!

Usai menikmati beberapa tegukan air mineral yang kubeli, aku menyempatkan diri untuk mengeksplorasi segenap isi taman dari ujung utaranya hingga selatan. Beberapa turis tampak mulai berdatangan untuk menikmati taman mungil tepi pantai tersebut.

Aku yang tak puas hanya berada di atas taman, berusaha untuk mencari akses jalan menuju ke pantai yang berada di bawah permukaan taman. Begitu gembiranya ketika aku menemukan akses kecil itu di sisi selatan.

Tanpa ragu aku pun menuruni akses jalan itu untuk tiba di tepian pantai. Kulepaskan segera alas kaki dan mulai turun menuju air.

Tak kusangka apa yang kulakukan, ternyata diperhatikan oleh sebuah keluarga muda dengan satu anak laki-laki.

Kontan. mereka bertiga mengikuti caraku dan bergabung di sisi pantai. Setelah bercakap-cakap sebentar, aku pun mengetahui bahwa keluarga kecil itu datang dari Roma.

Satu hal yang masih terkesan lagi adalah sang suami asal Roma itu nekat melepas baju dan celananya hingga menyisakan celana dalam saja dan kemudian berenang menjauhi pantai.

“Don’t worry….He is swimmer”, ungkap istrinya dengan santai ketika aku memintanya untuk berhati-hati berenang tanpa pelampung di pantai yang asing bagi pendatang.

Kisah Selanjutnya—->