Inspirasi Menulis dari Tribhuvan International Airport.

Waktu begitu cepat. Sore kemarin aku masih mengeksplore area Basantapur. Tetapi kini sudah pukul empat pagi. Aku sudah saja mengguyur diri di bawah hangatnya shower Shangrila Butique Hotel. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, aku segera menuju resepsionis untuk check-out dan selangkah kemudian aku sudah turun di jalanan Thamel. Gelap, kosong dan penuh kekhawatiran.

Aku terus menyusuri jalanan dan berharap segera menemukan taksi, sementara dari arah belakang yang gelap terdengar suara derap langkah beberapa orang diiringi nyanyian Nepal yang membuat jantungku berdegup lebih kencang.  Kuberanikan diri menoleh ke belakang, lima pemuda tanggung melangkah cepat menyusulku. Sepertinya aku tak bisa lebih cepat lagi karena backpack membebaniku di punggung. Aku seakan pasrah jika terjadi sesuatu saat mereka benar-banar telah menyusulku.

Plakk”, tangan salah satu dari mereka menepuk pundak kananku kencang. “Ah, alamat”, batinku cepat merespon.

Good morning, Brother. Are you happy in Nepal?”, dia berucap sambil mengiringi langkahku yang terlanjur melambat ketakutan.

Hi….Yeaaa, nice country”, aku berkata lebih keras dari biasanya untuk menunjukkan keberanian saja.

Good….Be careful, bro”, dia melewatiku dengan cepat sementara keempat teman lainnya menatapku dengan senyum ringan dan serempak berucap “Hi”.

Oh, Tuhan terimakasih engkau masih mengirimkan orang-orang baik untuk menyapaku di gelapnya pagi.

Sampai pada sebuah perempatan, tampak deretan taksi mengantri untuk mengangkut penumpang. Taksi terdepan memancarkan lampu tembak ke arahku dan aku mengangkat tangan sebagai jawaban bahwa aku akan menggunakan jasanya.

Airport, Sir….How much?”, aku bertanya singkat.

Seven hundreds Rupee”, jawabnya sambil meraih backpackku yang menutup niatku untuk menawar.

“Ok”, tak ada jawaban lain yang bisa kulontarkan.

Taksi dengan cepat melaju kencang tanpa penghalang di Pashupati Road yang tentu masih senyap. Tak sampai 20 menit, taksi perlahan merapat ke Tribhuvan International Airport.

Pukul setengah enam pagi, airport masih tutup dan senyap.

Tak banyak yang bisa kulakukan, aku hanya menunggu di meja milik polisi bandara yang tampak kosong sambil terus menatap international gate dan berharap pintu itu segera dibuka karena udara sangat dingin diluar.

Perlahan penumpang berdatangan.

Orang Indonesia, mas?”, celetukan itu berasal dari arah belakang.  Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada siapapun di sampingku. Suara itu jelas menanyakanku. Aku menoleh kebelakang dan terlihat seorang perempuan berusia 30 an tersenyum ke arahku.

Loh, kok ibu tahu saya dari Indonesia?”, sahutku membalas senyumnya.

Itu mas”, Si ibu menunjuk salah satu kantong backpack yang tak tertutup sempurna dan sedikit menyingkap bendera merah putih yang sempat kukenakan  empat hari lalu di Sarangkot.

Alhasil kami saling bercakap sembari menunggu gate dibuka. Ternyata beliau ini adalah lulusan kampus ternama di Indonesia dan pekerja senior pada perusahaan eksplorasi minyak di Bangladesh. Setelah berwisata ke Nepal, dia akan kembali ke tanah air melalui New Delhi.

Sepesawat denganku ke New Delhi, dia bersambung terbang bersama Singapore Airlines yang transit di Singapura. Sementara aku akan mengeksplorasi New Delhi dan Agra terlebih dahulu.

Gate sudah dibuka, aku segera menuju konter check-in. Sedikit agak lama berproses, aku menguping bisikan antar mereka dan terucap kata internet connection.  Pantas proses online check-in ku gagal semalam.

Pertama kali terbang bersama Jet Airways.

Kemudian di deret lain konter imigrasi, kulihat Si Ibu berbincang hangat dengan petugas imigrasi. Bahasa Inggrisnya sangat fasih. Dia sempat menjelaskan kepadaku di waiting room bahwa petugas imigrasi di Asia cenderung lebih luwes daripada petugas di Eropa dan Amerika. Tentu aku mengamini itu.

Waiting Room Tribhuvan International Airport.
Si ibu mentraktirku secangkir chiya hingga pesawat tiba.

Boleh dibilang, Si Ibu yang tak mau disebutkan namanya inilah yang menginspirasiku untuk menulis dan membagikan setiap pengalaman perjalanan yang kulakukan sehingga bisa mensupport setiap traveler dengan informasi. Si Ibu sendiri tak pernah kesampaian menulis karena kesibukannya yang teramat sangat, padahal dia memiliki kisah-kisah yang luar biasa. Salah satunya ketika dia bisa selamat dari badai gurun yang menghantamnya di Kuwait.

Jet Airways bernomor terbang 9W 0263 telah siap. Aku keluar dari waiting room menuju parking lot. Ada satu keunikan yang tak pernah kualami sebelumnya, yaitu ketika ada pemerikasaan cabin baggage setiap penumpang di area extension tepat di depan pintu pesawat. Pengalaman yang menggelikan dan menyenangkan.

OK, saatnya terbang.

Sampai jumpa lagi Nepal. Selamat datang India.

Selamat Tinggal Basantapur

Melangkah meninggalkan Kumari Ghar, aku masih berfikir. Apabila Sang Kumar nanti telah pensiun, bagaimana dia bermasyarakat setelah selama belasan tahun hanya sekali setiap tahun keluar dari tempat tinggalnya, bagaimana dia bekerja hingga lelaki mana yang beruntung memiliki Sang Kumari itu….Ah sudahlah.

Langkahku sampai pada sebuah plaza nan luas. Bangunan putih memanjang berarsitektur Eropa mengapit pelataran luas itu di kiri dan kanan, sementara ditengahnya para pedagang souvenir meletakkan lapak-lapaknya.

Basantapur Dabali adalah landmark bersejarah yang wajib dikunjungi.

Memainkan peran sebagai  jantungnya Kathmandu, Basantapur memang menjadi tempat bertemunya khalayak dari berbagai penjuru untuk berpolitik dan berdagang sejak zaman Nepal masih berbentuk kerajaan. Oleh karenanya Basantapur selalu ramai hingga kini.

Untuk kamu millennial, Basantapur menyediakan banyak cafe modern untuk sekedar berhang out. Teh khas Himalaya pun mudah ditemukan di area ini. Kamu bisa merasakan nikmatnya Chiya (teh bercampur susu) di dinginnya udara Kathmandu.

Berburu Himalayan Tea di salah satu kedai.

Freak Street menjadi jalur yang terlihat cukup sibuk dengan keberadaan plaza ikonik ini. Pesona Basantapur Dabali menghinoptis siapa saja untuk bertahan berlama-lama menikmatinya. Tapi surya sudah jauh tergelincir, sudah saatnya aku meninggalkan Basantapur untuk kembali menuju Thamel.

Sinha Swan Khala, lembaga keagamaan yang cukup ramai di Freak Street.

Menikmati Kathmandu tak bisa dilakukan dengan menunggang taksi, pastikan kamu terus melangkah dan menikmati keotentikan budaya dan arsitekur Newar yang ada di setiap sisi kota.

Kini aku sudah kembali di jalanan Layaku Marg. “Layaku” adalah kata lain untuk “Durbar Square”, sedangkan “Durbar Square” sendiri berarti “Alun-alun Istana”. Memang benar apa adanya, Layaku Marg ini membelah Basantapur dan menempatkan istana Kerajaan Malla di salah satu sisinya.

Layaku Marg menuju ke area Bishal Bazaar.

Bishal Bazaar atau Vishal Bazaar merupakan area berbelanja yang dahulu cukup terkenal di Kathmandu. Ditandai dengan keberadaan mall tua dan China Market . Bishal Bazaar mungkin menjadi tempat yang tepat bagi para penggemar pernak-pernik perhiasan.

Area Basantapur dan Bishal Bazaar dibatasi oleh Jalan Sukra Path yang berawal dari Juddha Statue, sebuah patung di bundaran perempatan untuk menghormati Raja Nepal Juddha Shamsher Jang Bahadur Rana yang berperan besar dalam membangun negerinya dari kerusakan cukup parah akibat gempa Nepal pada tahun 1934.

Juddha Statue.
Salah satu sisi Sukra Path.

Sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan hingga ke Thamel, aku berusaha menikmati sibuknya aktivitas penduduk lokal dengan  memasuki sebuah resto di bilangan Sukra Path

Vegetable Chow mien seharga Rp. 15.000.

Sore itu adalah petang terakhirku menikmati kota Kathmandu karena keesokan harinya aku akan terbang menggunakan Jet Airways 9W 0263 menuju ibukota India. Mungkin malam nanti aku tak akan banyak keluyuran karena harus bersiap diri untuk berangkat ke Tribhuvan International Airport di gelapnya pagi.

Aku sampai di Thamel dan segera melakukan check-in online, malam nanti aku hanya keluar sebentar untuk menikmati santap malam saja.

Duh…cantiknya perempuan dalam iklan shampoo itu.