Kampung Batik Kampung Laut

<—-Kisah Sebelumnya

Tak lama setelah memasuki kamar bernomor 523 di The Azana Hotel Airport, aku bergegas memasuki kamar mandi, kemudian keluar dengan pakaian santai. Dari raut muka, aku tahu pak Muchlis sudah dilanda kelaparan. Karenanya sedari tadi, dia terus mengemil kacang tanah kemasan yang dibawanya dari tempat rehearsal.

Ayo pak, kita jalan, cari makan!”, sahutku sembari mempersiapkan Canon EOS M10.

Makan kemana kita, mas Donny?”, dia pun nampak belum punya pilihan.

Mau gak pak ke Kampung Laut? Makan seafood yuk!”, ajakku kepadanya. Diam-diam, aku sudah menemukan restoran ini melalui browsing semenjak meninggalkan bandara tadi sore.

Jauh ga, mas Donny?”, tanyanya. Mungkin dia enggan karena setahuku passion dia tak jauh-jauh dari naik gunung, melakukan eksplorasi kota membuatnya tersambar malas duluan.

Engga pak, cuma enam kilometer kok, paling seperempat jam, pak yuk kita cabut! Keburu kemalaman.“, sahutku.

Aku manut ae lah, Mas Donny. Aku sing pesen Grab, yo!”, ayuk lah berangkat.

Tak lama, Honda Jazz hitam menjemput di lobby, kami pun meluncur ke daerah Tawangsari. Yang kufahami, ini adalah jalur yang sama persis ketika aku meninggalkan Ahmad Yani International Airport menuju The Azana Hotel Airport. Kami melewati Jalan Yos Sudarso lalu berbelok ke kiri mengikuti Jalan Puri Anjasmoro ke arah bandara. Hanya saja kami akan berhenti sekitar dua kilometer sebelum benar-benar tiba di bandara.

Sampailah kami di Restoran Kampung Laut.

Bersama Pak Muchlis di Kampung Laut.

Begitu sampai di tujuan, aku menjadi lupa lapar. Pemandangan seisi restoran membuat hasrat eksplorasiku kambuh. Aku minta Pak Muchlis untuk mencari bangku, kulihat sejenak menu di sebuah meja, kemudian aku minta dipesankan nasi putih, cumi asam manis dan es kelapa muda.

Aku keliling bentar ya pak, nanti kabari aku duduk dimananya ya!”, pintaku sedikit bergegas.

Aku duduk di tengah situ aja ya mas, tak tunggu!”, dia menunjuk meja kecil di ruang terbuka di sisi barat saung utama.

Baik pak”, aku menutup percakapan cepat kami.

Aku meninggalkannya untuk menelusuri beberapa spot di restoran yang didesain mengapung diatas danau buatan itu. Aku mulai memasuki bagian pertamanya yang berwujud delapan saung utama, empat di sisi kiri dan sisanya di sisi kanan. Meja-meja memanjang dengan puluhan kursi nampak disusun di bawah saung-saung itu, sebagai tanda bahwa saung tersebut digunakan untuk melayani pengunjung dalam jumlah banyak. Tampaknya pak Muchlis sudah tepat memilih bangku kecil di pelataran luar.

Jajaran saung dengan kolam di hadapannya.
Meja makan panjang di dalam saung….Cocok untuk makan bersama sekantor.

Sementara di bagian ujung barat, tampak anjungan panjang menuju ke sebuah nameboard “Kampung Laut” yang sengaja didesain untuk tempat berfoto para pengunjung seusai makan. Konsep yang menarik anak-anak muda untuk berkunjung ke sini.

Spot foto terbaik di Kampung Laut.

Tak lama kemudian, aku segera bergabung dengan Pak Muchlis untuk bersantap malam setelah dia mengirimkan pesan singkat “Makanan sudah siap, mas Donny. Ayo kesini!”.

Yuk mari, makan duyuuu….

Meja makan outdoor.
Menu kami: Kangkung, cumi, ikan, es kelapa muda dan jus alpukat….Standard….Hahahaha.

Seusai makan, aku berbincang perihal rehearsal siang tadi yang dilakukan Pak Muchlis tanpa bantuanku. Apakah ada yang kurang, apa yang bisa dipersiapkan lagi sebelum pelatihan esok hari. “Wes beres kabeh mas Donny, ndak perlu khawatir. Yang penting besok kita datang setengah jam sebelum acara yo!”, ucapnya singakat dan meyakinkan.

Sebelum menutup makan malam di Restoran Kampung Laut, kami berdiri di depan stage mungil dan menikmati beberapa lagu yang dibawakan oleh seorang biduan cantik. Wah kalau ada waktu banyak, pasti aku ikut nyayi tuh bersamanya, sayang dia sedang menyanyikan beberapa lagu request dari pengunjung restoran.

Lagu apa ya enaknya kalau duet sama si mbak…..”Yellow” atau “Tiwas Tresno”.

Tepat pukul 21:30, kami undur diri dan segera menuju ke hotel untuk beristirahat. Dengan sigap Pak Muchlis mendatangkan taksi online berwujud Wuling Confero berwarna putih. Inilah pertama kalinya aku merasakan sensasi menunggang kuda besi buatan Tiongkok itu. Hmmhhh….Cukup lega. “Ini pakai mesin Chevrolet lho mas”, ungkap si pengemudi membanggakan mobilnya. Woow…..Kalau mendengar kata “Chevrolet”, bayangan pertama yang muncul di pikirankau adalah si kuning “Bumblebee”.

Eittt  lupa, sebelum benar-benar meninggalkan restoran, buat kamu yang ingin berbelanja batik, disediakan gerai “Kampung Batik” yang menjual batik khas Semarang.

Buat penggemar batik….Silahkan mampir.

Saatnya tidur dan mimpi indah, kawan…….

Spot Menarik di The Azana Hotel Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir Isya’…..

Aku memasuki gerbang The Azana Hotel Airport yang berlokasi di tepian Jalan Jenderal Sudirman tepat di bawah jembatan layang Kalibanteng. Hotel yang tiga hari sebelumnya dianggarkan oleh kantor tempatku bekerja seharga Rp. 445.000/malam.

The Azana Hotel Airport.

Yang kutahu, rekan kerjaku, Pak Muchlis yang berasal dari Gresik sudah membuka kamar itu sejak siang. Dia memang mendahuluiku, karena lebih dahulu berangkat menggunakan Argo Bromo Anggrek dari Surabaya pagi tadi. Bahkan dialah yang menyelesaikan semua jenis rehearsal untuk pelatihan dua hari ke depan. Memudahkanku, karena aku cukup menerima konsep matangnya saja setiba di Semarang….Terimakasih Pak Muchlis.

Reception desk.
Mini bar di lobby.

Aku mendapat info bahwa pesanan kamar atas nama kantor bernomor 523, jadi kuputuskan untuk naik langsung ke atas saja untuk segera jeda dan membersihkan diri, aku merasa sangat kusut setelah setengah hari terpapar debu jalanan ibu kota.

Aku memiliki rencana untuk berburu seafood bersama Pak Muchlis setelah mandi, biasa memang, kalau ada tugas kantor begini aku selalu memanfaatkannya untuk perbaikan gizi….Foya-foya….Hahahaha. Tapi aku belum tahu kemana tujuannya, nanti sajalah aku berembug dengannya.

Koridor kamar.
Guest room.
Bathroom.

Senang juga bertemu kawan satu perusahaan yang berasal dari cabang berbeda. Aku bekerja di kantor pusat dan Pak Muchlis di cabang Surabaya. Biasa kita bertemu setahun sekali saja saat Year End Party, momen dimana penghargaan diberikan kepada beberapa karyawan berprestasi.

Malam itu, kami memutuskan berangkat ke Kampung Laut di daerah Tawangsari. Selama satu setengah jam, kami menikmati sajian kuliner laut di atas danau. Nikmat rasanya, duduk bersantai, menikmati jus buah, menyantap sea food sambil diiringi band lokal di tengah siraman lampu-lampu syahdu. Melepaskan lelah setelah melakukan perjalanan jauh.

Setelah puas dan kenyang, sekitar pukul 21:30, kami meninggalkan Restoran Kampung Laut, menaiki taksi online berjenis Wuling Confero, kami menuju kembali ke hotel.

Dan bukan seorang Donny rasanya jika berhenti melakukan eksplorasi….Sesampai di hotel, aku tak langsung menuju kamar untuk beristirahat. Menurut informasi dari staff resepsionis, di lantai tujuh atau lantai teratas, aku bisa menikmati keindahan kota Semarang dari ketinggian. Segeralah aku menuju ke Sky Lounge itu. Berikut gambar-gambar terbaik yang kudapatkan:

Sky Lounge. Kamu bisa pesan kopi panas lho disini….Keren kan?.
Jalan Layang Kalibanteng kaya warna.
Pemandangan ke arah pantai dan bandara.

Tak sampai disitu, aku juga keluar menuju jalanan di depan hotel. Meriahnya warna-warni cahaya di Jalan Bunderan Kalibanteng ternyata menarik beberapa muda mudi untuk menghabiskan malam di bundaran. Sementara di pertemuan Jalan Yos Sudarso dan Jalan Jenderal Sudirman, terdapat patung Ir. Soekarno yang sedang membaca naskah proklamasi.

Adalah patung Ir. Soekarno yang ketiga di Kota Atlas.

Nah di hari kedua di Semarang, aku kembali naik ke atas untuk mendapatkan sesuatu, ini dia:

Coba tebak!….fajar atau senja?

Oh ya, secara harfiah, Azana memiliki arti “Yang Termewah”. Mungkin itu mencerminkan visi dari hotel ini. Lalu secara umum, The Azana Hotel Airport menyediakan ruangan kamar di lantai tiga, lima dan enam. Sedangkan restoran dan meeting room ditempatkan di lantai dua. Tempat karaoke dan lobby berada di lantai Ground. Barulah kolam renang diletakkan di lantai Basement.

Yuk makan pagi di restoran hotel. Setelahnya mari bekerja dan lanjut melakukan eksplorasi Kota Semarang di sore hari!

Kisah Selanjutnya—->

Taksi dari Ahmad Yani International Airport ke Pusat Kota

<—-Kisah Sebelumnya

Perdebatan pilihan itu selesai dengan cepat oleh otoritasku sendiri. “Tak usah taat dalam seni backpacker, Donny. Ini tugas kantor, manfaatkan saja fasilitasnya, naiklah taksi!”, batinku tegas mengalahkan beberapa opsi bodoh yang kadang sporadis muncul dalam sikap dan pilihan.

Dasar, si anak pengiritan”, candaan para kolega kepadaku, begitulah brand yang tersemat. Bagaimana tidak, setiap keluar bandara aku selalu berfikir otomatis bahwa biaya naik bus itu cuma seperempat biaya naik taksi. Jadi aku selalu rela berlama-lama menunggu kedatangan kotak raksasa beroda empat atau enam itu.

Konter Taxi Service di Ahmad Yani International Airport.

Sudah lewat Maghrib….

Telepon terus berdering dari kolegaku yang sedang melakukan sesi rehearsel training di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB). Tanpa ragu aku mengangkat smartphone, ternyata dia hanya ingin mengabarkan bahwa aku lebih baik langsung menuju penginapan saja, karena rehearsel akan paripurna dalam lima belas menit lagi.

Lima menit mengantri untuk mendapatkan tiket taxi service seharga Rp. 50.000, aku segera di arahkan menuju sebuah taksi. Seorang pengemudi paruh baya nan sederhana berlari kecil menjemputku. “Assalamu’alaikum, mas. Mandap pundi?”, tanyanya penuh senyum sembari membantu mengangkat kardus di pundak kiri dan dua buah roll up banner ditentengnya di tangan kanan.

Jasa taksi bandara ini dikelola oleh Primkopad (Primer Koperasi Taksi Angkatan Darat) S-16.

Seperti biasa, backpack kesayanganku tetap tak pernah lepas dariku, bersamaku masuk dari pintu depan. Kubaca papan ID Card yang tertempel di dashboard.

Pak Ari, asli mriki pak?”, aku membuka pembicaraan sembari memasang safety belt untuk kemudian meluncur bersama ke hotel.

Wah mboten mas, aku asli pekalongan. Njenengan saking pundi niki wau?”, jawabnya sembari pelan menginjak pedal gas keluar dari area bandara.

Saking Ibu kota pak. Sampun dangu nyambut damel wonten Semarang pak, pripun rame nggih? “, dialog mengalir lancar menghangatkan suasana.

Nembe tigang tahun mas Donny. Sakderengipun, wonten Jakarta, gandeng anak sampun sami mentas, nggih pun, pindah nyambut damel mriki mawon. Caket ngomah”, ucapnya sambil terus ceria mengendalikan taksi putih meninggalkan daerah Tambakharjo.

Tugas kantor nopo pripun niki mas Donny? “, tanyanya menyidik.

Nggih pak, manawi mboten tugas kantor biasanipun pados bus pak. Bandara niki wonten bus ten pusat kuto pak? “, tanyaku mencari referensi.

Oh wonten mas Donny. Wonten BRT (Bus Rapid Transit) Trans Semarang. Mirah kok mas, namung Rp. 3.500, mas”, ungkapnya menjelaskan.

Aku dan Pak Ari.
Jalan Puri Anjasmoro pukul 17:24 WIB.

Lama sekali aku tak merasakan nikmatnya menggunakan jasa taksi bandara. Sehingga waktu 20 menit itu kumanfaatkan sungguh untuk menikmati business trip kali ini….Terimakasih ya kantorku tercinta atas kesempatan ini.

Perlahan taksi berbelok ke kanan, mulai merapat ke Jalan Arteri Yos Sudarso, menuju ke selatan. Aku berpindah dari jalan berpembatas beton yang Nampak masih baru , menuju ke jalan dua jalur di masing-masing ruas, berpembatas setinggi trotoar dan pepohonan rindang di setiap sisi kiri ruasnya.

Dalam dua puluh menit, dengan jarak tempuh enam kilometer aku tiba di The Azana Hotel Airport. Selembar alat tukar bergambar Soekarno dan Hatta kuserahkan kepada pak Ari. Sengaja kulebihkan ongkos perjalanan dan berbagi rezeqi kepadananya….Sadar diri, kalau sedang backpackeran, aku jarang melebihkan ongkos….Hahahaha.

Aku akan menginap dua malam di hotel ini.

Mari kita lihat dalam empat hari kedepan, Semarang punya apa saja….

Kisah Selanjutnya—->

Singgah di De Kock Hotel, Berburu ke Jam Gadang

Pengemudi: “Don, turun di sini saja ya. Mobil mau ambil arah kanan, nanti tambah jauh”.

Aku: “Oh Okay, Uda. Sini aja gapapa”.

Diturunkan Annanta Travel di Jalan Veteran, aku sejenak duduk meregangkan kekakuan otot setelah duduk di jok belakang selama 8 jam.  Patung putih Tuanku Imam Bonjol diatas kudanya menjadi pemandangan pertama yang menjamu kedatanganku di Bukittinggi. Pemimpin Perang Paderi itu menebar berkharisma, gagah tanpa suara.

Pertigaan Jalan Veteran, Jalan Pemuda (kiri) dan Jalan Ahmad Yani (kanan).

Setelah dua hari tersiram panas menyengat di Pekanbaru, kini aku menikmati sejuknya udara Bukittinggi. Kini aku leluasa berlama-lama mengarahkan kameraku kemanapun tanpa sengatan surya. Aku memang harus sesekali berhenti karena kontur jalanan kota yang naik turun, membuatku terengah-engah dengan beban backpack di punggung.

Memasuki Jalan Teuku Umar yang mulai menurun.

Dari kejauhan, aku terus bertatapan dengan gadis muda berambut pirang yang duduk menikmati sore di atas moge. Yang kuprediksi adalah dia tepat berada di depan De Kock Hotel tempatku menginap.

Benar adanya, tiba tepat dimana moge itu terparkir, aku dihadapkan pada lobby hotel yang berwujud sebuah cafe, perempuan muda itu menyusul dan bergegas menuju meja resepsionis. Sepertinya dia adalah staff hotel yang bertugas sore itu.

Aku akan tidur lantai dua dormitory sederhana itu.

Aku: “Hi. Were you in Samosir four days ago?, I think that we stayed at a similar hotel, Bagus Bay Homestay”.

Noah: “Oh really? Yes, I was in Samosir four days ago”.

Aku: “I’m Donny. I am an Indonesian traveler. What is your name?”.

Noah: “I’m Noah form California”.

Aku: “Are you on vacation, No? What do you do in America?”.

Noah: “Yes, I’m on vacation. I am an engineer at oil company. What is your job in Indonesia? “.

Aku: “Marketing”.

Noah: “What marketing?”.

Aku: “I work in field, meet customers, and sell products”.

Noah: “Oh, you aren’t marketing. You are a sales. How about your income? Good income? I work with good income but with high risk in America … hahahaha”.

Aku:” Yes, of course, I’m a salesman. I got a lot of money from my work”.

Itulah Noah, kenalan baruku di Bukittinggi. Kebetulan kita hanya berdua yang menghuni ruang dormitory dengan lima tempat tidur tunggal itu.

—-****—-

Aku duduk di lobby, sebotol Coca Cola berukuran sedang berhasil membekukan keringat setelah berjalan sejauh satu kilometer. Sore itu aku berniat menyambangi Jam Gadang yang hanya berjarak setengah kilometer di barat laut hotel.

Sekitar pukul 17:30, aku mulai beranjak dengan mejinjing kamera menuju kesana. Aku memilih berjalan kaki melewati Jalan Yos Sudarso yang cenderung datar dan menurun di Jalan Istana.

Bangunan tua Novotel.

Tepat di seberang Novotel adalah Plaza Bukittinggi. Aku hanya berdiri terdiam di pelataran plaza untuk menikmati keelokan Jam Gadang. Taman Sabai Nun Aluih yang berada di bawah menara jam itu tertutup lembarang seng proyek dengan rapat. Sedang ada renovasi taman rupanya.

Jam berusia 96 tahun yang didedikasikan untuk sekretaris Fort de Kock (Nama lama Bukittinggi).

Sesuai namanya “Gadang” yang dalam bahasa Minang berarti besar, menara jam ini berketinggian dua puluh enam meter dengan empat jam kembar berusia 128 tahun yang didatangkan langsung dari Rotterdam melalui Teluk Bayur.

Digerakkan mesin Brixlion yang kembarannya ada di Big Ben, London.

Di arsiteki oleh Radjo Mangkuto, Jam Gadang dibuat dengan 4 tingkatan. Tingkat bawah merupakan ruangan petugas, tingkat kedua berisi bandul pemberat jam. Mesin jam ditempatkan di tingkat ketiga dan tingkat paling atas sebagai puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan.

Bahagia rasanya, bisa melihat Jam Gadang yang sedari kecil, aku hanya mengenalnya lewat buku pelajaran Sekolah Dasar.

Kisah Selanjutnya—->

16 Destinasi Wisata di Bukittinggi

Berjalan kaki menyusuri Jalan Veteran, aku perlahan mendekati Hotel De Kock untuk melalukan check-in. Sejuk dan damai itulah gambaran awal di kepalaku mengenai Bukittinggi  ketika pertama kali tiba.

1. Jembatan Limpapeh

Setengah perjalanan menuju penginapan, aku sudah terpesona dengan sebuah jembatan gantung. Adalah Jembatan Limpapeh yang membentang diatas Jalan Ahmad Yani. Didirikan pada tahun 1992 dan berfungsi sebagai penghubung antara Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan kawasan Benteng Fort De Kock. Membentang sepanjang sembilan puluh meter dengan lebar kurang lebih tiga meter, menjadikan jembataan ini begitu gagah terlihat dari jalanan.

2. Jam Gadang

Sebotol coca cola menutup sesi check-in ku sekaligus sebagai penanda mula untuk penelusuranku sore itu di sekitaran Pasar Atas. Menelusuri Jalan Yos Sudarso yang naik turun, langkahku tiba di sebuah landmark fenomenal yang terkenal di seantero Indonesia.

Jam Gadang, landmark pemberian Ratu Wilhelmina itu tampak gagah menjulang. Lama untuk sekedar menunggu lampu aneka warna muncul dan menyirami seluruh bangunan jam raksasa itu sebagai penanda bergantinya sore ke malam.Karena ketersohorannya, Jam Gadang  telah ditetapkan sebagai Titik Nol Kilometer Kota Bukittinggi. Atapnya yang berbentuk gonjong atau atap yang biasa dipakai pada Rumah Gadang menjadikan karya arsitektur Eropa itu memiliki kekayaan adat lokal.

3. Plaza Bukittinggi

Renovasi besar pada Taman Sabai Nan Aluih, menjadikanku hanya mampu menikmati keindahan Jam Gadang dari pelataran sebuah mall yang letaknya berseberangan dengan jam besar itu.

Plaza Bukittinggi dalam beberapa kurun waktu terakhir telah menjadi mall terbaik di Bukittinggi. Brand Ramayana menjadi pemain utama yang menempati tujuh puluh persen dari kapasitas keseluruhan mall ini.

4. Masjid Raya Bukittinggi

Keasyikan menikmati keelokan Jam Gadang hampir saja membuatku kehilangan Shalat Maghrib. Aku mencoba menelusuri asal adzan beberapa puluh menit sebelumnya. Menuju ke utara, akhirnya aku tiba di Masjid Raya Bukittinggi.

Masjid yang pada saat terjadinya gempa bumi tahun 2007 menjadi tempat perlindungan bagi warga yang mengungsi karena kerusakan yang diakibatkan oleh gempa besar itu.

5. Pasar Atas Bukittinggi

Jalan Cindua Mato menuju Pasar Atas

Masjid raya yang terletak tepat di pusat Pasar Atas inilah yang membuatku tertarik untuk sekalian menelusuri jalanan menuju ke Pasar Atas. Gelap yang terus melahap hari, membuat pemilik deretan ruko mulai menutup tokonya satu-persatu.

Pasar Atas adalah pasar yang menempatkan beberapa penjual Nasi Kapau, Es Ampiang Dadiah dan Kerupuk Sanjai yang menjadi kerupuk favorit untuk oleh-oleh bagi para pengunjung kota Bukittinggi.

Laparnya perut telah memaksa diriku untuk segera mencari menu santap malam. Makan malam di bawah Jembatan Limpapeh akhirnya menutup dua jam penjelajahan pada malam pertamaku di Bukittinggi

6. Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Hari keduaku dimulai dengan beranjaknya diriku dari hotel pada pagi sepi. Bahkan aktivitas warga belum tampak. Sepi nan dingin tak menyurutkan langkah untuk mengunjungi Tugu Pahlawan Tak Dikenal.

Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tahun 1905. Tugu dengan ornamen berbentuk lingkar ular naga besar dan diatasnya berdiri patung seorang pemuda memegang bendera.

7. Taman Monumen Proklamator Bung Hatta

Sementara di seberang depan tugu,  tampak sebuah taman dengan patung hitam Bung Hatta. Dikenal dengan nama Taman Proklamator Bung Hatta, taman ini didedikasikan untuk Mohammad Hatta, putera asli Bukittinggi yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia bersama Ir. Soekarno.

8. Janjang Ampek Puluah

Kembali menelusuri Jalan Cindua Mato yang kulewati semalam, aku menuju sebuah tangga penghubung antara Pasar Atas dan Pasar Bawah serta Pasar Banto. Sebuah tangga beton curam dengan empat puluh anak tangga berusia 112 tahun. Inilah perwujudan integrasi fasilitas publik versi tempoe doele. Pada waktu itu, Pemerintah Hindia Belanda dengan satuan kekuasaan setempat sepakat menghubungkan setiap pasar yang ada di Bukittinggi, salah satunya dengan pembuatan janjang atau anak tangga.

9 Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Keluar dari gapura bawah dan melewati Banto Trade Centre yang tampak tak terawat, aku menuju ke kediaman Bung Hatta semasa kecil. Walaupun sesungguhnya rumah ini hanya berupa bangunan rekonstruksi, akan tetapi penataan interior dan penampilan eksterior dibuat semirip mungkin dengan kondisi rumah aslinya yang telah runtuh. Jika kamu ingin mengetahui sejarah hidup di balik kegemilangan Bung Hatta dalam karir politiknya, maka datanglah ke tempat ini.

10. Fort De Kock

Selesai berkunjung di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, aku niatkan berjalan kaki menuju Benteng Fort de Kock melalui Jalan Pemuda yang lumayan panjang mendaki dan berkelok dari selatan ke utara. Tapi ternyata aku tak mampu lagi di pertengahan jalan, kupanggil tranportasi online untuk mengantarkanku tepat di gerbang depan Fort de Kock.

Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek sebagai kubah pertahanan Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

11. Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK)

Dari Fort de Kock, aku hanya perlu menyeberangi Jembatan Gantung Limpapeh menuju sebuah kebun binatang terkenal di Bukittinggi.

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) merupakan salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia dan satu-satunya di Sumatra Barat dengan koleksi hewan terlengkap di pulau Sumatra.

12. Museum Rumah Adat Baanjuang

Semakin berkembangnya kebun binatang ini, maka pada tahun 1935 dibangunlah Rumah Adat Baanjuang di dalamnya.

Difungsikan sebagai museum, rumah adat ini didedikasikan untuk mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Minangkabau. Di dalamnya dipertunjukkan berbagai pakaian, perhiasan dan alat-alat kesenian khas Minang.

13. Museum Zoologi

Tak jauh….Di timur laut kebun binatang, terdapatlah Museum Zoologi berwarna hijau sengan harimau sumatera dan ikan mas sebagai ikon museum. Museum yang didirikan bersamaan dengan Museum sejenis di Bogor pada 1894. Dua ribu jenis binatang diawetkan dan dipamerkan di dalam museum ini.

14. Ngarai Sianok

Aku meninggalkan Fort de Kock dari pintu masuknya. Niatan berikutnya adalah bermain ke Ngarai Sianok. Sebuah lembah yang terbentuk dari patahan alami, memiliki dinding tegak lurus dengan sungai Sianok mengalir di tengahnya.Tetapi sangat disayangkan hujan turun begitu lebatnya. Selepas turun dari ojek online, aku serasa tak bardaya dan menunggu hujan reda. Dibawah pohon aku terus mengamati lembah siku-siku pada topografi area ini.

Cekungan dereta tebing itu seakin diperindah dengan alira air sungai tepat d bawah jurang-jurang tinggi.

15. Lobang Jepang

Hujan mulai menipis tapi tetap tak kunjung reda, mengakibatkan asa menikmati  ngarai lebih lama harus kuakhiri. Aku mendapatkan ojek online dengan pengendara wanita berjilban berumur setengah baya. Di bawah hujan yang mulai mengerimis aku menuju Taman Panorama.

Sebelum mengeksplore Taman Panorama aku sempatkan untuk menelusuri sebuah lobang pertahanan terpanjang di Asia. Lobang Jepang yang dibuat atas perintah Letnan Jenderal Moritake Tanabe, Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Sangat dalam, panjang dan mengagumkan.

16. Taman Panorama

Akhirnya kunjungan penutup jatuh di Taman Panorama, sebuah taman besar dengan dua buah pintu masuk di tepian Jalan Panorama. Dengan tiket seharga Rp. 15.000, aku bisa berusaha menikmati taman rindang ini pada detik-detik terakhirku di Bukittinggi.

Meninggalkan taman dan kembali ke hotel, aku bersiap menuju kantor travel untuk menuju Padang. Pukul 13:00 aku akhirnya benar-benar meninggalkan Kota Bukittinggi. Selamat tinggal Bukittinggi.

Jadi bagi kalian yang berniat ke Sumatera Barat….Berkunjunglah Ke Bukittinggi dan nikmati sejuknya udara kota.

Kisah Selanjutnya—->