Kampung Batik Kampung Laut

<—-Kisah Sebelumnya

Tak lama setelah memasuki kamar bernomor 523 di The Azana Hotel Airport, aku bergegas memasuki kamar mandi, kemudian keluar dengan pakaian santai. Dari raut muka, aku tahu pak Muchlis sudah dilanda kelaparan. Karenanya sedari tadi, dia terus mengemil kacang tanah kemasan yang dibawanya dari tempat rehearsal.

Ayo pak, kita jalan, cari makan!”, sahutku sembari mempersiapkan Canon EOS M10.

Makan kemana kita, mas Donny?”, dia pun nampak belum punya pilihan.

Mau gak pak ke Kampung Laut? Makan seafood yuk!”, ajakku kepadanya. Diam-diam, aku sudah menemukan restoran ini melalui browsing semenjak meninggalkan bandara tadi sore.

Jauh ga, mas Donny?”, tanyanya. Mungkin dia enggan karena setahuku passion dia tak jauh-jauh dari naik gunung, melakukan eksplorasi kota membuatnya tersambar malas duluan.

Engga pak, cuma enam kilometer kok, paling seperempat jam, pak yuk kita cabut! Keburu kemalaman.“, sahutku.

Aku manut ae lah, Mas Donny. Aku sing pesen Grab, yo!”, ayuk lah berangkat.

Tak lama, Honda Jazz hitam menjemput di lobby, kami pun meluncur ke daerah Tawangsari. Yang kufahami, ini adalah jalur yang sama persis ketika aku meninggalkan Ahmad Yani International Airport menuju The Azana Hotel Airport. Kami melewati Jalan Yos Sudarso lalu berbelok ke kiri mengikuti Jalan Puri Anjasmoro ke arah bandara. Hanya saja kami akan berhenti sekitar dua kilometer sebelum benar-benar tiba di bandara.

Sampailah kami di Restoran Kampung Laut.

Bersama Pak Muchlis di Kampung Laut.

Begitu sampai di tujuan, aku menjadi lupa lapar. Pemandangan seisi restoran membuat hasrat eksplorasiku kambuh. Aku minta Pak Muchlis untuk mencari bangku, kulihat sejenak menu di sebuah meja, kemudian aku minta dipesankan nasi putih, cumi asam manis dan es kelapa muda.

Aku keliling bentar ya pak, nanti kabari aku duduk dimananya ya!”, pintaku sedikit bergegas.

Aku duduk di tengah situ aja ya mas, tak tunggu!”, dia menunjuk meja kecil di ruang terbuka di sisi barat saung utama.

Baik pak”, aku menutup percakapan cepat kami.

Aku meninggalkannya untuk menelusuri beberapa spot di restoran yang didesain mengapung diatas danau buatan itu. Aku mulai memasuki bagian pertamanya yang berwujud delapan saung utama, empat di sisi kiri dan sisanya di sisi kanan. Meja-meja memanjang dengan puluhan kursi nampak disusun di bawah saung-saung itu, sebagai tanda bahwa saung tersebut digunakan untuk melayani pengunjung dalam jumlah banyak. Tampaknya pak Muchlis sudah tepat memilih bangku kecil di pelataran luar.

Jajaran saung dengan kolam di hadapannya.
Meja makan panjang di dalam saung….Cocok untuk makan bersama sekantor.

Sementara di bagian ujung barat, tampak anjungan panjang menuju ke sebuah nameboard “Kampung Laut” yang sengaja didesain untuk tempat berfoto para pengunjung seusai makan. Konsep yang menarik anak-anak muda untuk berkunjung ke sini.

Spot foto terbaik di Kampung Laut.

Tak lama kemudian, aku segera bergabung dengan Pak Muchlis untuk bersantap malam setelah dia mengirimkan pesan singkat “Makanan sudah siap, mas Donny. Ayo kesini!”.

Yuk mari, makan duyuuu….

Meja makan outdoor.
Menu kami: Kangkung, cumi, ikan, es kelapa muda dan jus alpukat….Standard….Hahahaha.

Seusai makan, aku berbincang perihal rehearsal siang tadi yang dilakukan Pak Muchlis tanpa bantuanku. Apakah ada yang kurang, apa yang bisa dipersiapkan lagi sebelum pelatihan esok hari. “Wes beres kabeh mas Donny, ndak perlu khawatir. Yang penting besok kita datang setengah jam sebelum acara yo!”, ucapnya singakat dan meyakinkan.

Sebelum menutup makan malam di Restoran Kampung Laut, kami berdiri di depan stage mungil dan menikmati beberapa lagu yang dibawakan oleh seorang biduan cantik. Wah kalau ada waktu banyak, pasti aku ikut nyayi tuh bersamanya, sayang dia sedang menyanyikan beberapa lagu request dari pengunjung restoran.

Lagu apa ya enaknya kalau duet sama si mbak…..”Yellow” atau “Tiwas Tresno”.

Tepat pukul 21:30, kami undur diri dan segera menuju ke hotel untuk beristirahat. Dengan sigap Pak Muchlis mendatangkan taksi online berwujud Wuling Confero berwarna putih. Inilah pertama kalinya aku merasakan sensasi menunggang kuda besi buatan Tiongkok itu. Hmmhhh….Cukup lega. “Ini pakai mesin Chevrolet lho mas”, ungkap si pengemudi membanggakan mobilnya. Woow…..Kalau mendengar kata “Chevrolet”, bayangan pertama yang muncul di pikirankau adalah si kuning “Bumblebee”.

Eittt  lupa, sebelum benar-benar meninggalkan restoran, buat kamu yang ingin berbelanja batik, disediakan gerai “Kampung Batik” yang menjual batik khas Semarang.

Buat penggemar batik….Silahkan mampir.

Saatnya tidur dan mimpi indah, kawan…….

Taksi dari Ahmad Yani International Airport ke Pusat Kota

<—-Kisah Sebelumnya

Perdebatan pilihan itu selesai dengan cepat oleh otoritasku sendiri. “Tak usah taat dalam seni backpacker, Donny. Ini tugas kantor, manfaatkan saja fasilitasnya, naiklah taksi!”, batinku tegas mengalahkan beberapa opsi bodoh yang kadang sporadis muncul dalam sikap dan pilihan.

Dasar, si anak pengiritan”, candaan para kolega kepadaku, begitulah brand yang tersemat. Bagaimana tidak, setiap keluar bandara aku selalu berfikir otomatis bahwa biaya naik bus itu cuma seperempat biaya naik taksi. Jadi aku selalu rela berlama-lama menunggu kedatangan kotak raksasa beroda empat atau enam itu.

Konter Taxi Service di Ahmad Yani International Airport.

Sudah lewat Maghrib….

Telepon terus berdering dari kolegaku yang sedang melakukan sesi rehearsel training di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB). Tanpa ragu aku mengangkat smartphone, ternyata dia hanya ingin mengabarkan bahwa aku lebih baik langsung menuju penginapan saja, karena rehearsel akan paripurna dalam lima belas menit lagi.

Lima menit mengantri untuk mendapatkan tiket taxi service seharga Rp. 50.000, aku segera di arahkan menuju sebuah taksi. Seorang pengemudi paruh baya nan sederhana berlari kecil menjemputku. “Assalamu’alaikum, mas. Mandap pundi?”, tanyanya penuh senyum sembari membantu mengangkat kardus di pundak kiri dan dua buah roll up banner ditentengnya di tangan kanan.

Jasa taksi bandara ini dikelola oleh Primkopad (Primer Koperasi Taksi Angkatan Darat) S-16.

Seperti biasa, backpack kesayanganku tetap tak pernah lepas dariku, bersamaku masuk dari pintu depan. Kubaca papan ID Card yang tertempel di dashboard.

Pak Ari, asli mriki pak?”, aku membuka pembicaraan sembari memasang safety belt untuk kemudian meluncur bersama ke hotel.

Wah mboten mas, aku asli pekalongan. Njenengan saking pundi niki wau?”, jawabnya sembari pelan menginjak pedal gas keluar dari area bandara.

Saking Ibu kota pak. Sampun dangu nyambut damel wonten Semarang pak, pripun rame nggih? “, dialog mengalir lancar menghangatkan suasana.

Nembe tigang tahun mas Donny. Sakderengipun, wonten Jakarta, gandeng anak sampun sami mentas, nggih pun, pindah nyambut damel mriki mawon. Caket ngomah”, ucapnya sambil terus ceria mengendalikan taksi putih meninggalkan daerah Tambakharjo.

Tugas kantor nopo pripun niki mas Donny? “, tanyanya menyidik.

Nggih pak, manawi mboten tugas kantor biasanipun pados bus pak. Bandara niki wonten bus ten pusat kuto pak? “, tanyaku mencari referensi.

Oh wonten mas Donny. Wonten BRT (Bus Rapid Transit) Trans Semarang. Mirah kok mas, namung Rp. 3.500, mas”, ungkapnya menjelaskan.

Aku dan Pak Ari.
Jalan Puri Anjasmoro pukul 17:24 WIB.

Lama sekali aku tak merasakan nikmatnya menggunakan jasa taksi bandara. Sehingga waktu 20 menit itu kumanfaatkan sungguh untuk menikmati business trip kali ini….Terimakasih ya kantorku tercinta atas kesempatan ini.

Perlahan taksi berbelok ke kanan, mulai merapat ke Jalan Arteri Yos Sudarso, menuju ke selatan. Aku berpindah dari jalan berpembatas beton yang Nampak masih baru , menuju ke jalan dua jalur di masing-masing ruas, berpembatas setinggi trotoar dan pepohonan rindang di setiap sisi kiri ruasnya.

Dalam dua puluh menit, dengan jarak tempuh enam kilometer aku tiba di The Azana Hotel Airport. Selembar alat tukar bergambar Soekarno dan Hatta kuserahkan kepada pak Ari. Sengaja kulebihkan ongkos perjalanan dan berbagi rezeqi kepadananya….Sadar diri, kalau sedang backpackeran, aku jarang melebihkan ongkos….Hahahaha.

Aku akan menginap dua malam di hotel ini.

Mari kita lihat dalam empat hari kedepan, Semarang punya apa saja….

Kisah Selanjutnya—->