Menembus Rinai: Suria KLCC, Petronas Twin Tower dan Petrosains

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menurunkan backpack di kamar, aku menuruni anak tangga Agosto Inn untuk melanjutkan eksplorasi.

Hi, Sir. Where are you going this afternoon?”, tanya resepsionis sekaligus si empunya penginapan.

Petronas Twin Tower, Sir

Oh, you better take LRT to get there. Don’t take bus because Kuala Lumpur is surely to get stuck this afternoon”, nasehatnya cukup membantuku.

Di luar fakta itu, sedari tadi aku telah memutuskan akan menggunakan Light Rail Transit. Karena sejatinya aku belum mengetahui bahwa ada layanan gratis Go KL City Bus yang jalurnya terintegrasi menuju kesana. Maklum, itulah kali pertama aku menjejak ibu kota Malaysia.

Aku menyusuri jalanan Tun H S Lee ke arah selatan kemudian berbelok ke kanan di perempatan berlanjut ke Jalan Sultan menuju Stasiun Pasar Seni. Jalanan masih basah dan menyisakan beberapa genangan tipis disana-sini. Memaksaku sedikit berhati-hati demi menghindari cipratan air dari hempasan laju kendaraan yang berlalu-lalang. Sore itu adalah jam pulang kantor, menjadikan jalanan semakin padat saja.

Agosto Inn termasuk penginapan yang murah nan strategis, jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari Stasiun Pasar Seni, hanya diperlukan lima menit berjalan kaki menujunya. Setiba di stasiun, aku membeli token seharga 1,5 Ringgit di ticketing vending machine untuk kemudian bergegas menuju platform di lantai atas. Stasiun Pasar Seni adalah jenis stasiun layang dan berselang tiga stasiun dengan Stasiun KLCC (Kuala Lumpur City Centre) dimana Petronas Twin Tower berdiri.

tren tiba dalam 3 minit’….‘tren 3 koc’…‘koc ke Gombak’….begitulah tulisan yang terpampang bergantian di layar LCD pada platformku berdiri. Aku begitu antusias, mengingat Jakarta belumlah memiliki MRT dan LRT kala itu.

LRT Laluan Kelana Jaya berwarna putih dengan kelir biru-merah tiba. Aku memasuki gerbong tengah, berdiri berdesakan dengan para pekerja kantoran yang hendak menuju rumah masing-masing. Desingan laju LRT memamerkan bentangan bangunan beton, taman-taman kota dan jalanan di bawah dengan beberapa pelita jalan yang mulai menyala otomatis. Menjadikan panorama sore terlihat elok.

Lima belas menit kemudian, aku tiba di Stasiun KLCC. Stasiun KLCC sendiri adalah stasiun LRT yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan terbaik di Kuala Lumpur, yaitu Suria KLCC. Jadi untuk menuju Petronas Twin Tower, penumpang akan diarahkan melalui bagian dalam pusat perbelanjaan. Strategi yang jamak diterapkan untuk menaikkan pendapatan kawasan.

Aku terus melangkah ke lantai atas melalui escalator demi menemukan pintu keluar menuju Petronas Twin Tower. Sepemahamanku, aku harus keluar di pintu mall di sisi Jalan Ampang. Jadi sepanjang pusat perbelanjaan, aku hanya menengara kata “Petronas Twin Tower”atau “Ampang”. Alhasil, kutemukan sebuah papan petunjuk menuju Jalan Ampang….Yes, aku berhasil keluar dari mall di jalur yang tepat.

Dari Jalan Ampang, keperkasanaan menara kembar mulai terpamerkan, menjulang setengah badan ke puncak. Aku terus mendekatinya, menyeberang Jalan Ampang dan tiba di pelataran utama Suria KLCC. Kusegerakan melangkah menuju sisi depan menara. Tepat di depannya, hiasan memanjang air mancur memperindah suasana.

This was my first time there….Petronas Twin Tower.

Mengunjungi sesuatu yang fenomenal untuk kali pertama memang mendatangkan impresi. Girang, syukur, takjub memenuhi isi hati sore itu. Hingga rinai lembut tak mampu mengusirku, untuk beberapa saat, hanya aku dan sedikit turis yang mau bertahan. Sebagian besar diantaranya telah angkat kaki.

Beberapa lama kemudian rinai berganti hujan, ketika aku tertegun pada fotografer profesional yang terus membidik menara tertinggi kesebelas sejagat itu menggunakan kamera berlensa panjang dengan plastic protector. Kini hujan memaksaku segera beranjak, pelataran menara kembar menyisakan lengang.

Memasuki kembali Suria KLCC melalui pintu berbeda, aku berniat menuju lantai empat, mencari keberadaan Petrosains, si peraga teknologi industi perminyakan Malaysia. Tak sulit menemukannya, begitu tiba di lantai empat, logo Petrosains menyambut dan mengarahkanku ke ruang utama. Hanya saja sore itu sudah hampir pukul enam, Petrosains telah tutup sejak dua jam lalu. Aku hanya memandangi seisi Petrosains dari bagian luar dinding kaca, kemudian bergegas pergi meninggalkannya untuk kembali menuju hotel.

Pintu utama Suria KLCC.
Jam operasional dan harga tiket masuk Petrosains.

Dari Stasiun KLCC, aku menumpang kembali LRT Laluan Kelana Jaya menuju Stasiun Pasar Seni. Dari sana, aku berniat mengakhiri petualangan hari pertama di Kuala Lumpur dengan menikmati makan malam. Aku menemukan kedai kecil penjaja makanan India di pinggiran Jalan Tun H S Lee.

Kerja di sini?, sapa si empunya kedai sembari menyiapkan makanan

Tidak, Pak. Saya hanya melawat”,

Dari mana kamu datang?

Indonesia

“Oh , Indonesia….Jakarta, Surabaya, Bandung?”, sambil tersenyum menyebutkan nama-nama kota itu.

Jakarta, Pak

“Ok, sudah siap. Sila makan”, dia mulai menyodorkan seporsi Biryani dengan ayam dan dua butir telur rebus.

Mari makan!

Buseettt, seginikah porsi makan orang India”, aku membatin. Kiranya aku memakai jurus lain, aku membungkus sebagian dari menu itu untuk makan malam sesi dua nanti malam….Gile emang.

Seporsi Biryani menjadi penutup yang sempurna malam itu.

Kisah Selanjutnya—->

7 Jam Menikmati Keindahan Kuala Lumpur

Jika bertemu turis Eropa dan Amerika tuh ya bikin ngiler, karena mereka rata-rata memiliki jadwal cuti yang panjang hingga berminggu-minggu bahkan lebih dari sebulan. Nah ketika mereka nanya ke Gw berapa lama lo cuti….yes tepat 12 hari…..sedihhhh….hahaha.

Tapi Gw ga nyerah….dengan waktu yang sedikit ini Gw akan berkeliling dunia.

Kembali ke masalah waktu….Setiap Gw transit pendek atau liburan 3-4 hari saat weekend plus tanggal merah ke negeri orang selalu Gw manfaatkan untuk explore kota yang Gw singgahin.

Artikel ini pun bercerita bagaimana Gw menghabiskan waktu selama 7 jam di tengah kota Kuala Lumpur antara jam 10:00 – 17:00

1. Batu Caves.

Perjalanan dimulai dari jam 10:30 dari KL Sentral. Menggunakan kombinasi bus gratis KTM 1 dan kereta komuter Sentul – Batu Caves.

KTM KOMUTER

Kiri: Bus gratis KTM1 (KL Sentral-Stasiun Sentul)

Kanan: Kereta komuter (Stasiun Sentul – Stasiun Batu Caves) 

Jam 12:06 Gw tiba di Batu Caves. Ini adalah kali kedua Gw berkunjung ke tempat ini. Tidak ada yang berubah sejak 4 tahun lalu, hanya ada beberapa renovasi di beberapa bagian kuil.

Batu Caves

Kiri Atas: Patung Hanuman

Kanan Atas: Gw ga tahu itu kuil apa….yang jelas ini berada tepat dibelakang patung Hanuman

Kanan Bawah: Venkatachalapathi Temple

Kiri Bawah: Patung Murugan

Wisata di Batu Caves ini Gw tutup dengan makan siang di Dhivya’s Café – sebuah warung makan India di halaman depan Batu Caves -. Cukup makan nasi goreng dengan harga 4 Ringgit.

Dhivya's cafe

2. Petronas Twin Tower

Jam 14:42 Gw tiba kembali di KL Sentral menggunakan jalur dan moda transportasi yang sama ketika menuju Batu Caves. Dari KL Sentral Gw berpindah menggunakan LRT Kelana Jaya Line seharga 2,4 Ringgit dan akhirnya Gw sampai di KLCC (Kuala Lumpur City Centre). Keluar melalui KLCC Exit Jalan Ampang akhirnya Gw menemukan Petronas Twin Tower.

Panas menyengat mengharuskan Gw mengambil foto gedung kembar ini tepat saat ada awan menghalangi sinar matahari. Ketika awan sudah bergerak membuka kembali sinar matahari ke bumi maka Gw kembali berteduh di bawah pohon di halaman gedung kembar itu. Begitu seterusnya hingga banyak turis memperhatikan keanehan Gw….hahaha

Suria KLCC

Kiri Atas: Exit gate KLCC menuju Jalan Ampang

Kanan Atas: Jalan Ampang

Kanan Bawah: Suria KLCC mall bersebelahan dengan Petronas Twin Tower

Kiri Bawah: Petronas Twin Tower.

Setelah mengabadikan Twin Tower dan beberapa landmark disekitarnya,  Gw segera beranjak menuju Pavillion di Bukit Bintang menggunakan GOKL City Bus.

3. Pavillion Bukit Bintang

Menggunakan bus gratis GOKL, Gw berkesempatan untuk kembali singgah di Pavillion, Bukit Bintang sekitar pukul 16:18. Tema Easter membuat dekorasi di pelataran Pavillion terlihat sangat menarik mata.

Pavillion2

Kiri Atas: Air mancur di depan Pavillion

Kiri Bawah: Sephora Mall….Pusat Kosmestik dan perawatan kulit di Bukit Bintang

Tengah: Hotel bintang lima JW Marriot Bukit Bintang

Kanan: Tema Easter di halaman depan Pavillion

Gw hanya 20 menit berada di Pavillion dan segera menuju Petaling Street di Pasar Seni.

4. Petaling Street

Menuju Petaling Street, Pasar Seni, Gw kembali menggunakan bus gratis GOKL dan pukul 16:53 Gw tiba di terminal Pasar Seni.

Gw hanya bertanya kepada orang lokal di sekitar Pasar Seni untuk menunjukkan arah Petaling Street. Bapak setengah baya dengan baik menujukkan ke Gw arah menuju kesana. Dengan berjalan kaki menuju Petaling Street, gw menyapu suasana Pasar Seni yang sudah berubah lebih maju daripada 2014 silam. Dalam 7 menit Gw sampai di Petaling Street.

petaling street

Kiri Atas: Stasiun MRT Pasar Seni

Kanan Atas: Gerbang depan Petaling Street

Kanan Bawah: Bagian dalam Petaling Street

Kiri Bawah: Suasanan jalanan di depan gerbang Petaling Street

Petaling Street masih belum begitu ramai pengunjung karena Gw datang kesana sekitar jam 5 sore, para pedagang sedang bersiap-siap dengan barang dagangannya. Gw hanya membeli gantungan kunci disini.

Dan Petaling Street menjadi destinasi terkahir pada trip kali ini. Karena Gw harus bersiap menuju Singapura.