Menengok Kakek Tua di Gamcheon Culture Village

<—-Kisah sebelumnya.

Pukul sebelas siang, daerah Nopo-dong, Distrik Geumjeong….

Akhirnya aku mendapatkan tiket bus menuju Seoul. Karena bus baru berangkat malam nanti, aku memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi di Busan hingga sore nanti. Kini aku mulai meninggalkan Busan Central Bus Terminal, menyusuri koridor integrasi menuju Stasiun Nopo.

Setiba di stasiun, tak lama menunggu, Humetro Line 1 (Orange Line) membawaku menuju Stasiun Toesong. Jaraknya berselang dua puluh empat stasiun. Aku tiba di stasiun tujuan dalam rentang waktu hampir satu jam.

Turun di Stasiun Toesong, mencari petunjuk menuju Gamcheon Culture Village.

Keluar dari pintu barat Stasiun Toesong, aku kemudian menyusuri Kkachigogae-ro Avenue. Tetapi sebelum jauh melangkah, aku menemukan street food yang sudah kuincar untuk dicicipi sebelum berangkat ke Korea Selatan. Apalagi kalau bukan Bungeoppang, street food berbahan dasar tepung dan berisikan cokelat, keunikan snack ini adalah penampakannya yang berbentuk ikan yang sangat lucu. Aku membelanjakan 1.000 Won (Rp. 12.000) untuk menikmatinya.

Aku menikmati sajian Bungeoppang di depan penjual wanita setengah baya. Mengunyah dalam kondisi makanan yang masih panas membuat dia menertawakanku yang kerepotan mengunyah. Momen seperti inilah yang membuatku selalu bahagia ketika bertraveling, bersenda gurau dengan pengais rezeqi jalanan yang menunjukkan kesahajaannya, apa adanya.

Dari Kkachigogae-ro Avenue, aku berganti haluan di Haedoji-ro Avenue menuju ke selatan. Jalanan masih saja datar, membuatku melintasnya dengan sumringah. Tapi hanya dua ratus meter dari bagian Haedoji-ro Avenue yang kulalui, karena untuk selanjutnya aku mulai menanjak sempurna di Ami-ro Avenue.

Pos polisi di bilangan Kkachigogae-ro.

Aku mulai menanjaki bukit dengan topografi jalanan yang khas, meliak-liuk,  menyebabkan rentang jalan menjadi lebih panjang. Hanya saja aku tak mau dipermalukan dengan beberapa warga lanjut usia yang menanjaki jalan itu dengan gesit. Bahkan tak sedikit warga setengah baya berjogging ria menanjaki bukit. Luar biasa. Aku harus tersengal menanjaki Ami-ro Avenue untuk mengimbangi mereka.

Satu setengah kilometer sudah aku melangkah hingga akhirnya tiba di gerbang depan Gamcheon Culture Village. Sementara waktu telah menunjukkan pukul setengah satu siang. Sebetulnya ada kendaraan umum bernomor 2 yang bisa mengantarku dari Stasiun Toesong menuju Gamcheon Culture Village, tapi aku enggan menggunakannya, karena berjalan kaki adalah sesuatu yang menyenangkan dan memungkinkan berinteraksi dengan warga lokal.

Gerbang depan Gamcheon Culture Village.
Gerbang depan Gamcheon Culture Village.

Usai menikmati suasana gerbang depan Gamcheon Culture Village yang penuh seni, aku mulai memasuki desa budaya yang telah intens diberikan sentuhan seni sejak sebelas tahun lalu itu. Konon desa ini bisa dikunjungi lebih dari satu juta pelancong setiap tahunnya. Wahhh, bisa dibayangkan besarnya putaran ekonomi di bekas desa kumuh ini. Desa yang dulu hanyalah desa kumuh, tempat tinggal kaum miskin kota, kini desa itu telah berubah menjadi desa wisata dengan pendapatan yang luar biasa.

Tingkat seni yang unggul, menjadikan Gamcheon Culture Village diidentikkan dengan “Santorininya Korea”. Menjadikan kebanggaan Distrik Saha yang mencakupi wilayah desa wisata ini.

Seni di sepanjang Gamcheon Culture Village.
Suasana Gamcheon Culture Village.
Suasana Gamcheon Culture Village.

Di sepanjang jalan utama desa, mudah ditemukan restoran dan cafe yang memanjakan pengunjung. Sejauh mata memandang,  tampak lautan di ujung desa ketika aku menikmati keindahannya dari sebuah sky rooftop. Sementara toko seni dan souvenir tampak bertebaran dan mudah ditemukan.

Pada sebuah langkah, aku tertarik dengan salah seorang pemilik rumah yang mengenakan kruk di kedua lengannya. Dia bercerita bahwa dia bangga rumahnya berada di tepian jalan utama desa dan menjadi spot menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Aku bersama seorang turis keturunan Tionghoa asal Malaysia dipersilahkan masuk untuk melongok interior rumah si kakek pemilik. Wah inilah bonus dari perjalanan itu.

Tetapi waktu yang begitu sempit, membuatku hanya satu jam berkeliling desa dan memutuskan untuk segera meninggalkan daerah  Gamcheon-dong  untuk menuju ke destinasi lainnya……

Kisah Selanjutnya—->

Bertaruh Resiko di Busan Central Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Drama kamar mandi memang sering mewarnai cerita perjalanan, mengingat aku sering memilih dormitory sebagai tempat singgah selama berpetualang.

Malam pertama di Busan. Aku sedang sebal sekali, kloset duduk yang tertutup itu baru saja ku-flush, maksud hati yang tak ingin melihat “zonk” saat membukanya…..Eh, malah air itu tumpah mbeleber kemana-mana bersama muatannya.

Brengsek….Ini pasti  kelakuan lelaki asal Tiongkok yang beberapa menit lalu berpapasan denganku di pintu kamar mandi bersama.

Sontak aku menuju ke kamar mandi lain yang berada dua lantai di atasku. Aku sudah tak bernafsu mandi di kamar mandi itu walaupun masih tersedia beberapa shower room lagi. Di kamar mandi atas, kondisi lebih bersih, mungkin para tamu enggan bersusah payah naik ke atas. Gegara peristiwa tadi, sakit perutku mendadak hilang. Aku lebih memilih langsung menuju shower room untuk menyiram badan dengan air hangat.

Olala….Ternyata aku sama brengseknya…..

Seusai mandi, aku berlama-lama di depan wastafel untuk mengeringkan t-shirt dan kaos kaki dengan hair dryer, hingga betul-betul kering. “Ah, bodo amat. Ndak ada orang. Guwe kan juga bayar”, suara setan di batinku membisik. Maklum dalam petualangan kali ini, aku mulai menerapkan taktik membawa dua pasang kaos kaki. Aku akan membasuh dan mengeringkan kaos kaki yang tak terpakai untuk persiapan penggunaan berikutnya.

—-****—-

Pagi itu aku bangun tepat waktu. Seusai Shalat Subuh , aku tak lagi tertidur. Aku lebih memilih membuka lembaran itinerary sembari menunggu hari terang. Ketika matahari mulai hadir, aku mulai meninggalkan Kimchee Busan Guesthouse seusai mandi, mengingat penginapan ini tak menyediakan sarapan seala kadar untuk kelas dormitory.

Aku keluar dari gang penginapan, dan menyusur Jalan Hwangnyeong-daero menuju ke barat, ke Stasiun Beomnaegol untuk melanjutkan perjalanan. Tapi tentu aku harus bersarapan dulu sebelum menaiki Humetro. Aku berhenti pada CU minimarket untuk kemudian memasukinya dan berburu sarapan di dalamnya. Aku menemukan segenggam nasi berisikan jagung di sebuah rak khusus makanan, menuju kasir, membayarnya dan kemudian menyantapnya di sebuah bangku di sisi dalam minimarket.

Tak lama aku menyantapnya. AKu segera memasuki ruangan stasiun dan mencari keberadaan ticketing vending machine untuk membeli one day pass, lalu menuju platform usai menggenggam selembar one day pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Kali ini aku akan menuju ke Busan Central Bus Terminal demi mencari tiket bus menuju ke Seoul malam nanti. Humetro Line 1 (Orange Line) berdecit lembut menghentikan laju di platform. Aku segera duduk di salah satu bangku di gerbong setengah kosong untuk kemudian mengikuti arus kereta menuju Stasiun Nopo, yaitu stasiun dimana Busan Central Bus Terminal diintegrasikan. Aku tiba dalam 45 menit.

Keluar dari gerbong aku mencari petunjuk yang bisa mengarahkanku menuju terminal itu. Tak sulit menemukannya. Sebuah petunjuk yang kemudian menyambung dengan petunjuk selanjutnya mengarahkanku hingga tiba di Busan Central Bus Terminal.

Konter penjualan tiket Busan Central Bus Terminal.

Hello, Miss. How much is a ticket to Seoul? “Aku bertanya kepada staff penjualan tiket di deretan memanjang ticketing counter.

32,000 Won, Sir. The bus will depart on around 16:00 hours”.

Miss, What is the cheapest price and what time does the bus depart?”, aku blak-blakan mengingat kantongku mulai menipis.

23,000 won and bus will depart on 20:30, Sir”.

Okay, Wait Miss“.

Aku meninggalkannya dan duduk di kursi tunggu. Aku mulai berhitung, kalau aku berangkat cepat maka aku akan relatif aman karena akan tiba di Seoul sebelum malam. Tapi artinya aku harus menambah biaya untuk menyewa dormitory lebih cepat. Tentu akan mahal.

Kalau aku mengambil tiket malam, maka mau tidak mau, aku akan bermalam di terminal bus kota Seoul, sedikit beresiko, tetapi itu paling memungkinkan dengan keberadaan uangku yang semakin tergerus habis.

Bismillah…..aku beranjak dari tempat duduk dan kembali menghadap staff wanita tadi.

Yes, Ms. I take the night one”.

Ok, Sir

Aku menyerahkan uang kepadanya dan dia memberikan selembar tiket kepadaku untuk menuju Seoul.

Tiket bus Busan-Seoul seharga 23.000 Won (Rp. 290.000).

Okay, satu bagian penting telah kuselesaikan dengan cepat. Aku akan menghabiskan waktu tersisa di Busan hari ini.

Kisah Selanjutnya—->

The Little One.…Busan Gimhae Light Rail Transit

Yes….Okay….

Yes….Okay…..

Only that 2 kinds of word which came out of my mouth, I didn’t really listen flight attendant explained security procedures at emergency exit. I exactly fascinated to her Korean beauty face. I still stunned to enjoy her beauty until he ended her explanation with a smile … Certainly, I gave her my smile as sweet as possible … hahaha.

1 hour 30 minutes flight became a thrilling journey because I had bad feeling for Busan immigration checking later.

And it finally true.… I was interrogated by immigration officer for 1 hour.

Scary interrogation at immigration counter made my tongue feel bitter when tasting piece by piece a pie which I got from Busan Air flight.

Later, this story would make me change 180 degrees when I prepared my documents for traveling. I became a very perfectionist person in preparation.

I got out from Gimhae International Airport with a disheveled face but that happiness was unable to deeply hidden. This was my first time in visiting South Korea.

2 degree Celcius weather made me rush to look for existence of LRT station. I quickly found it on right side of airport exit gate.

I touched all buttons in automatic machine to get Busan Gimhae Light Rail Transit token.

Waiting for LRT arrival with big curiosity about what will happen next in every second of my adventure in Busan.

Shortly waiting, LRT arrived.

Surely, My first destination was dormitory where I stayed in Busan. I would go to Kimchee Busan Guesthouse on Hwangnyeong-daero Street.

Stopped at Sasang station as LRT last station, I switched to using Humetro(the name for Busan Subway) green line.

In this Humetro. I saw a Indonesian face. Occasionally he saw me, so did I. Sometime he smiled, so did I.

I decided to approache him.

Conversation was unavoidable. It’s true, he is an Indonesian professionalis who working in Busan. From him, I got information that citizens of Busan isn’t open as Seoul. So I would understand what will occur with my interaction with local people in Busan.

Conversation stopped when I had to get off at Seomyeon Station for change to Humetro orange lane. It only took one station in distance then I got down at Beomnaegol station – station where my guesthouse located -.

It wasn’t easy to find this guesthouse location, I had strayed more than half an hour in midst of very cold temperature and it almost made me panic before finally I found it after ask to GS25 minimarket staff.

Finally I check-ed in to Kimchee Busan Guesthouse.

Si Mungil….Busan Gimhae Light Rail Transit

<—-Kisah Sebelumnya

Yes….Okay….yes….Okay.

Hanya 2 jenis kata itu yang keluar dari mulutku, Aku tak benar-benar serius mendengarkan pramugari itu menjelaskan prosedur keamanan di pintu darurat. Justru Aku terpesona dengan kecantikan wajah khas Korea si pramugari. Hingga Dia selesai menjelaskan pun, Aku masih terbengong menikmati keelokannya sampai Dia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman….tentu Kubalas dengan senyuman semanis mungkin….hadeuhhhhhh.

Penerbangan selama 1 jam 30 menit menjadi perjalanan yang mendebarkan karena Aku terus berfirasat kurang baik ketika pemeriksaan imigrasi Busan nanti.

Aku tiba….

Dan benar apa adanya….Aku benar-benar dicuci oleh petugas imigrasi itu. Baca kisah menegangkan itu disini:

https://travelingpersecond.com/2018/02/05/imigrasi-busan/

Kejadian di imigrasi itu membuat lidahku terasa pahit ketika mengecap potong demi potong pie yang kudapatkan dari penerbangan Busan Air itu.

Kisah ini nantinya akan membuatku berubah 180 derajat dalam hal mempersiapkan dokumen ketika bertraveling. Aku di kemudian hari menjadi orang yang sangat perfeksionis dalam hal preparation.

Keluar dari Gimhae International Airport dengan muka kusut tapi kebahagiaan itu tak mampu kusembunyikan dalam-dalam. Inilah pertama kali kakiku menginjak di “negeri ginseng”.

Udara 2 derajat membuatku bergegas mencari keberadaan stasiun LRT. Dengan cepat Aku menemukannya di sisi kanan pintu keluar airport.

Kusentuh tombol-tombol di mesin atomatis itu untuk mendapatkan token Busan Gimhae Light Rail Transit.

Menunggu LRT datang dengan rasa penasaran yang tinggi tentang apa yang akan terjadi berikutnya dalam setiap detik petualanganku di Busan.

Tak lama menunggu LRT itu pun datang.

Tentu tujuan pertamaku adalah dormitory tempatku menginap di Busan. Aku akan menuju Kimchee Busan Guesthouse di bilangan jalan Hwangnyeong-daero.

Berhenti di stasiun Sasang yang merupakan stasiun akhir LRT , Aku beralih menggunakan Humetro (Nama panggilan untuk Busan Subway) jalur hijau.

Di dalam Humetro inilah Aku melihat satu wajah Indonesia, Sesekali dia melihatku, begitupun Aku. Sesekali Dia tersenyum, begitupun Aku….#apaan sih, orang dia laki-laki.

Kupaksakan diriku mendekatinya.

Percakapan pun tak terhindarkan. Ternyata benar, Dia seorang professional Indonesia yang sedang bekerja di Busan. Dari dirinya kuperoleh informasi bahwa warga Busan belumlah seterbuka seperti warga Seoul. Jadi Aku akan memaklumi saja apa yang akan terjadi dengan interaksiku dengan orang lokal selama di Busan nanti.

Percakapan pun terhenti ketika Aku harus turun di Stasiun Seomyeon untuk berganti ke Humetro jalur oranye. Hanya perlu jarak 1 stasiun saja kemudian aku turun di stasiun  Beomnaegol –stasiun dimana guesthouse tempat meninganapku terletak-.

Tak mudah menemukan lokasi guesthouse ini, sempat tersasar lebih dari setengah jam di tengah suhu udara yang sangat dingin hampir membuatku panik sebelum akhirnya Aku menemukannya setelah  bertanya kepada karyawan GS25 minimarket.

Akhirnya check-in juga ke Kimchee Busan Guesthouse.

Kisah Selanjutnya—->