Menuju Busan Central Bus Terminal: Mundur ke Belakang Tiga Stasiun

<—-Kisah Sebelumnya

Tatapanku hanya melakukan repetisi sedari tadi. Jam tangan-route board-jam tangan….begitu seterusnya. Kecemasan menghukumku dengan tak mampunya diri menikmati gerbong nyaman Humetro. Aku masih tak memilih duduk, kakiku tegak menopang badan di tiang gerbong dekat pintu keluar. Aku bersiap untuk turun di Stasiun Seomyeon untuk mengakhiri perjalanan di Humetro Line 2 (Green Line) demi berpindah ke Humetro Line 1 (Orange Line). Aku harus menggapai Stasiun Beomnaegol secepat mungkin demi mengambil backpack yang tertitip di meja resepsionis Kimchee Busan Guesthouse.

Akhirnya aku tiba. Melangkah cepat keluar gerbong, menaiki beberapa escalator, aku menggapai permukaan dengan cepat. Kemudian mulai berlari ringan menyusuri Hwangnyeong-daero Avenue menuju guesthouse.

Sedasa menit kemudian aku tersengal, mengatur nafas di halaman depan guesthouse, baru kemudian menuju ke meja resepsionis dengan nafas teratur.

Aku: “Sir, can I take my backpack which I entrusted to the receptionist this morning?”.

Resepsionis: “Can you show the label card which give to you?”.

Aku: “This, Sir

Resepsionis: “OK, follow me!

Setelah memeriksa label card itu, dia beranjak dari tempat duduk dan menuju ke halaman luar. Aku menguntitnya dari belakang hingga tiba di sisi container box besar. Rupanya backpack yang dititip setiap tamu guesthouse ditaruh di sini. Kini aku telah mendapatkan backpack biru ku.

Aku: “Thank you, Sir

Resepsionis: “You are welcome. Be carrefull on your way”.

Aku berpamitan dan melambaikan tangan sebelum balik badan meninggalkan guesthouse.

See you Kimchee Busan Guesthouse!….

Aku kembali turun di jalanan, menuju stasiun. Hari sudah mulai gelap. Waktu keberangkatan bus menuju Seoul semakin dekat. Berderap langkah selama 10 menit membuatku tiba di platform Stasiun Beomnaegol, menunggu Humetro Line1 (Orange Line). Pancaran cahaya itu semakin menerang menghantam sekat pembatas platform dan jalur Humetro. Rangkaian gerbong yang kutunggu telah tiba, aku memasuki gerbong belakang, menaruh backpack di sela kedua kaki dan berdiri menempel dinding gerbong persis disebelah pintu Humtero.

Kali ini aku sedikit tenang, karena tak perlu berpindah jalur untuk menuju Stasiun Nopo. Kereta perlahan meninggalkan Distrik Busanjin. Setiap stasiun yang terlewat membuatku semakin lega, membuatku semakin dekat dengan tujuan.

Empat puluh lima menit kemudian aku tiba di Stasiun Nopo. Tetapi sesuatu terjadi dengan perutku, tetiba melilit tak terbendung. Aku berinisiatif untuk mencari tengara menuju toilet di seantero Stasiun Nopo. Tapi dua titik toilet berbeda yang kutemukan ternyata jauh dari kata ideal….Pesing, becek dan penuh lalu lalang manusia. Ah….Parah.

Bagaimana bisa aku membiarkan keadaan ini, jika perjalanan ke Seoul akan memakan waktu empat jam, maka aku akan tersiksa dalam kondisi sakit perut seperti ini. Kulihat kembali jam tangan, masih ada waktu empat puluh lima menit sebelum bus berangkat. Aku kini berfikir sedikit gila….Aku akan mundur ke belakang sejauh dua atau tiga stasiun, mencari toilet yang lebih sepi dan ideal. Aku kembali melompat ke gerbong Humetro dan mengikuti lajunya. Kemudian turun di pemberhentian ketiga, Stasun Dusil.

Secepat kilat melangkah, aku melakukan pencarian toilet dan akhirnya aku menemukan toilet yang bersih, harum dan sepi. Ah….Ada-ada saja yang terjadi pada petualangan hari keduaaku di Korea.

Waktuku kini tersisa dua puluh menit. Aku sudah duduk lagi di gerbong Humetro, mengulang jalan menuju Stasiun Nopo. Sepuluh menit kemudian aku tiba dan segera berlari menuju Busan Central Bus Terminal yang terintegrasi dengan Stasiun Nopo.

Yes…”, aku tiba di di platform bus yang dimaksud sepuluh menit sebelum keberangkatan.

Puufffttt….”, Perjalanan menegangkan dan melelahkan.

Bye BusanLove u.

Haedong Yonggungsa Temple: Tak Pernah Sampai….

<—-Kisah Sebelumnya

Belum genap langkahku mencapai Stasiun Toseong, nada perut mengirim pertanda. “Oh iya, aku belum makan siang”, respon cepat dalam fikirku. Terakhir aku menyantap snack jalanan Bungeoppang dua jam lalu di jalan yang sama dengan tempat berdiriku sekarang, Kkachigogae-ro Avenue.

Menuju Haedong Yonggungsa Temple perlu waktu yang tak sebentar. Aku berhenti sejenak di satu sisi trotoar. Perlahan menyapukan pandangan ke deretan ruko di sepanjang jangkauan mata. Di seberang jauh jalan, aku melihat rumah makan yang tak begitu besar, beberapa warga lokal keluar dari rumah makan mungil itu dengan membawa kantong plastik berisi makanan. Cepat memutuskan, “lebih baik aku makan disana saja, waktuku tak banyak”. Sewaktu kemudian aku sudah terduduk di salah satu bangku rumah makan mungil itu.

Annyeonghasimnika”…….

Good afternoon, Sir. This is the menu. Enjoy your time here

Thank you sir, give me time to choose the menu!”.

Pemuda berpotongan khas poni Korea itu tersenyum mengangguk dan kembali sibuk menyiapkan makanan untuk beberapa pelanggan yang masih mengantri di pintu. Sedangkan aku mulai sibuk memilih makanan yang akan kusantap di daftar menu. Filter pertamaku tentulah harga, mengingat amunisi yang makin menipis pada hari keduaku di Korea.

Hello, Sir”, aku memanggil pemuda itu setelah memilih menu termurah.

Yes, Sir”, dia berkesiap menuju mejaku.

This, Sir

Oh, Kimbap….OK…OK. Oh ya, Where are you come from, Sir”, Dia memahami cepat pesananku sembari membuka topik pembicaraan lain.

“Indonesia, Sir”

Wooow, Indonesia. I ever worked there for 3 years. Selamat siang, Pak

Aku tertawa tak terbendung melihatnya melafalkan bahasa tanah air beta….Hahaha.

Tidak makan babi?”, dia kembali berkelakar.

Tidak…Tidak…..Hahahaha. Bahasa Indonesia Anda bagus”, aku merasa bahagia, seolah sedang berada di negeri sendiri.

Moslem ya?

“Yups. Saya senang bisa mendengar bahasa Indonesia di Busan, Pak”

Ya….Ya….Ya….. Saya bisa sedikit Bahasa Indonesia. Tunggu ya, saya buatkan Kimbap. Hanya 10 menit, Tunggu!

“Ok Pak”

Dia sibuk meramu Kimbap pesananku dengan tekun dan tepat sepuluh menit kemudian, Kimbap itu diangkatnya dan dibawa menujuku. Kini Kimbap telah siap kusantap. Tetapi aku menyantapnya dengan mimik datar. Damn…Aku kangen Nasi Padang.

Kenyangkah anda jika makan siang dengan porsi segitu?

Membayar setelah menyantapnya, aku berbincang sebentar hingga akhirnya tahu dia adalah pemilik rumah makan mungil ini.

—-****——

Aku terduduk tak kenyang dalam gerbong Humetro Line 1 (Orange Line), kemudian berpindah di Humetro Line 2 (Green Line) di Stasiun Seomyeon. Selanjutnya aku menuju ke Stasiun Haeundae demi melanjutkan petualangan.

Destinasi yang membuatku pucat pasi….Entahlah, apakah waktunya akan cukup hingga aku mengejar keberangkatan bus menuju Seoul pada jam setengah sembilan malam nanti. Atau apakah aku akan tertinggal oleh bus itu.

Kekhawatiranku yang berlangsung di sepanjang lorong bawah tanah Busan terhenti ketika voice announcer mengabarkan bahwa Humetro akan segera merapat di Stasiun Haeundae. Bersamaan dengan itu maka keputusanku menuju destinasi terakhir telah bulat…..Aku akan mengunjunginya. Dengan cepat aku bergegas menuju station gate di permukaan, sesampainya di atas, aku melangkah gesit menuju sebuah halte bus yang berlokasi tak jauh dari station gate. Nama halte bus itu sama dengan nama stasiun di sebelahnya, yaitu Halte Bus Haeundae, terletak di tepian Haeun-daero Avenue

Kuperhatikan dengan seksama angka-angka yang merupakan identitas beberapa bus kota yang melewati halte itu. Yes….Ada angka 181 terselip diantaranya, itulah nomor bus yang kusasar. Kuperhatikan lekat-lekat muka setiap bus yang akan berhenti di halte itu. Aku tangkas mencari keberadaan letak angka di bagian depan bus. Cukup lama, bus bernomor lain melewatiku di halte itu hingga datang bus keenam dengan angka yang kucari sedari tadi. Kini aku bersiap diri menyambut bus tersebut yang dari kejauhan mulai menyalakan lampu sein sebagai penanda bahwa bus itu akan mengambil penumpangnya di Halte Haeundae.

Bus berdecit lembut di hadapan, aku segera melompat masuk melalui pintu depan, memasukkan ongkos sebesar 1.200 Won (Rp. 15.000) pada fare box di sebelah sopir sembari menunjukkan sebuah gambar kepadanya. “Haedong Yonggungsa Temple, Sir. Please drop me here…!.”.

Hoohhh….hoooohh”, selorohnya kuanggap bahwa dia telah faham.

Seluruh bangku yang telah penuh, membuatku berdiri sendirian dibawa laju bus kota itu. Wajah-wajah lokal yang heran menatapku sepanjang perjalanan, tentu karena aku berbeda warna kulit dari mereka.

Sementara di dalam bus, tak ada petunjuk apapun yang bisa membantu memantau dimana keberadaanku di setiap saat. Aku mencoba menenangkan diri diluar fakta bahwa kepanikan kecil mulai mengganggu konsentrasi. Tiga puluh menit berlalu, sudah tak terhitung bus itu berhenti menaik turunkan penumpang, tetapi pak sopir tampak terus fokus mengemudikan busnya.

Akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya dan menanyakan kembali perihal gambar kuil yang kutunjukkan sedari awal perjalanan. “Sir, is this temple still far?”, aku bertanya singkat. Lalu bagaimanakah reaksi dia?….Ruarrrr Biasaaahhhh.

Hooohhhh….Hooohhhh”, sembari melambai-lambaikan tangan pertanda tidak tahu. Entah tak tahu tempatnya atau tak tahu bercakap English. “ Ah alamat, pantesan aku dicuekin sedari tadi”. Kini tak ada pilihan, aku harus turun dari bus walaupun aku tak tahu sedang berada dimana. “Sir. Drop me here now!”. Dan perlahan, bus mulai melambat menuju ke sebuah halte kecil di depan sana.

Firasat sedari awal perjalanan itu jelas, aku kini benar-benar tersesat di sebuah tempat nan sepi. Sementara waktu sudah lewat dari jam setengah lima sore. Aku akan berusaha mencari informasi apakah Haedong Yonggungsa Temple masih layak untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Sepuluh menit dalam kebingunan dan kepanikan dalam sebuah halte, akhirnya tampak seorang lelaki muda sedang berjogging mendekat ke arahku. Kuberanikan diri untuk menghentikannya dan menanyakan tempat tujuan itu kepadanya.

It’s about 10 kilometers from here, you get off from the bus but it’s too far from that place

Ok thanks, Sir

Itu berarti aku tak bisa berjalan kaki dan juga tak mungkin menunggu bus menuju kesana….Akan terlalu lama dan menghabiskan banyak waktu. Kuputuskan untuk membatalkan segera dan bersiap menuju tengah kota kembali. Lebih baik aku mengamankan jadwal keberangkatan bus menuju Seoul. Jika aku terlambat maka aku harus bersiap dengan kompensasi menambah biaya akomodasi untuk menginap semalam lebih lama di Busan.

Dengan rasa penuh panik, sebal dan kecewa….Ditambah sedikit takut karena berada di tempat yang sangat sepi di tepian Gijang-daero Avenue, akhirnya aku menunggu kembali kedatangan bus bernomor 181.

I’m so sorry…. Haedong Yonggungsa Temple….Bak kasih yang tak sampai.

Kisah Selanjutnya—->

Menengok Kakek Tua di Gamcheon Culture Village

<—-Kisah sebelumnya.

Pukul sebelas siang, daerah Nopo-dong, Distrik Geumjeong….

Akhirnya aku mendapatkan tiket bus menuju Seoul. Karena bus baru berangkat malam nanti, aku memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi di Busan hingga sore nanti. Kini aku mulai meninggalkan Busan Central Bus Terminal, menyusuri koridor integrasi menuju Stasiun Nopo.

Setiba di stasiun, tak lama menunggu, Humetro Line 1 (Orange Line) membawaku menuju Stasiun Toesong. Jaraknya berselang dua puluh empat stasiun. Aku tiba di stasiun tujuan dalam rentang waktu hampir satu jam.

Turun di Stasiun Toesong, mencari petunjuk menuju Gamcheon Culture Village.

Keluar dari pintu barat Stasiun Toesong, aku kemudian menyusuri Kkachigogae-ro Avenue. Tetapi sebelum jauh melangkah, aku menemukan street food yang sudah kuincar untuk dicicipi sebelum berangkat ke Korea Selatan. Apalagi kalau bukan Bungeoppang, street food berbahan dasar tepung dan berisikan cokelat, keunikan snack ini adalah penampakannya yang berbentuk ikan yang sangat lucu. Aku membelanjakan 1.000 Won (Rp. 12.000) untuk menikmatinya.

Aku menikmati sajian Bungeoppang di depan penjual wanita setengah baya. Mengunyah dalam kondisi makanan yang masih panas membuat dia menertawakanku yang kerepotan mengunyah. Momen seperti inilah yang membuatku selalu bahagia ketika bertraveling, bersenda gurau dengan pengais rezeqi jalanan yang menunjukkan kesahajaannya, apa adanya.

Dari Kkachigogae-ro Avenue, aku berganti haluan di Haedoji-ro Avenue menuju ke selatan. Jalanan masih saja datar, membuatku melintasnya dengan sumringah. Tapi hanya dua ratus meter dari bagian Haedoji-ro Avenue yang kulalui, karena untuk selanjutnya aku mulai menanjak sempurna di Ami-ro Avenue.

Pos polisi di bilangan Kkachigogae-ro.

Aku mulai menanjaki bukit dengan topografi jalanan yang khas, meliak-liuk,  menyebabkan rentang jalan menjadi lebih panjang. Hanya saja aku tak mau dipermalukan dengan beberapa warga lanjut usia yang menanjaki jalan itu dengan gesit. Bahkan tak sedikit warga setengah baya berjogging ria menanjaki bukit. Luar biasa. Aku harus tersengal menanjaki Ami-ro Avenue untuk mengimbangi mereka.

Satu setengah kilometer sudah aku melangkah hingga akhirnya tiba di gerbang depan Gamcheon Culture Village. Sementara waktu telah menunjukkan pukul setengah satu siang. Sebetulnya ada kendaraan umum bernomor 2 yang bisa mengantarku dari Stasiun Toesong menuju Gamcheon Culture Village, tapi aku enggan menggunakannya, karena berjalan kaki adalah sesuatu yang menyenangkan dan memungkinkan berinteraksi dengan warga lokal.

Gerbang depan Gamcheon Culture Village.
Gerbang depan Gamcheon Culture Village.

Usai menikmati suasana gerbang depan Gamcheon Culture Village yang penuh seni, aku mulai memasuki desa budaya yang telah intens diberikan sentuhan seni sejak sebelas tahun lalu itu. Konon desa ini bisa dikunjungi lebih dari satu juta pelancong setiap tahunnya. Wahhh, bisa dibayangkan besarnya putaran ekonomi di bekas desa kumuh ini. Desa yang dulu hanyalah desa kumuh, tempat tinggal kaum miskin kota, kini desa itu telah berubah menjadi desa wisata dengan pendapatan yang luar biasa.

Tingkat seni yang unggul, menjadikan Gamcheon Culture Village diidentikkan dengan “Santorininya Korea”. Menjadikan kebanggaan Distrik Saha yang mencakupi wilayah desa wisata ini.

Seni di sepanjang Gamcheon Culture Village.
Suasana Gamcheon Culture Village.
Suasana Gamcheon Culture Village.

Di sepanjang jalan utama desa, mudah ditemukan restoran dan cafe yang memanjakan pengunjung. Sejauh mata memandang,  tampak lautan di ujung desa ketika aku menikmati keindahannya dari sebuah sky rooftop. Sementara toko seni dan souvenir tampak bertebaran dan mudah ditemukan.

Pada sebuah langkah, aku tertarik dengan salah seorang pemilik rumah yang mengenakan kruk di kedua lengannya. Dia bercerita bahwa dia bangga rumahnya berada di tepian jalan utama desa dan menjadi spot menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Aku bersama seorang turis keturunan Tionghoa asal Malaysia dipersilahkan masuk untuk melongok interior rumah si kakek pemilik. Wah inilah bonus dari perjalanan itu.

Tetapi waktu yang begitu sempit, membuatku hanya satu jam berkeliling desa dan memutuskan untuk segera meninggalkan daerah  Gamcheon-dong  untuk menuju ke destinasi lainnya……

Kisah Selanjutnya—->

Bertaruh Resiko di Busan Central Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Drama kamar mandi memang sering mewarnai cerita perjalanan, mengingat aku sering memilih dormitory sebagai tempat singgah selama berpetualang.

Malam pertama di Busan. Aku sedang sebal sekali, kloset duduk yang tertutup itu baru saja ku-flush, maksud hati yang tak ingin melihat “zonk” saat membukanya…..Eh, malah air itu tumpah mbeleber kemana-mana bersama muatannya.

Brengsek….Ini pasti  kelakuan lelaki asal Tiongkok yang beberapa menit lalu berpapasan denganku di pintu kamar mandi bersama.

Sontak aku menuju ke kamar mandi lain yang berada dua lantai di atasku. Aku sudah tak bernafsu mandi di kamar mandi itu walaupun masih tersedia beberapa shower room lagi. Di kamar mandi atas, kondisi lebih bersih, mungkin para tamu enggan bersusah payah naik ke atas. Gegara peristiwa tadi, sakit perutku mendadak hilang. Aku lebih memilih langsung menuju shower room untuk menyiram badan dengan air hangat.

Olala….Ternyata aku sama brengseknya…..

Seusai mandi, aku berlama-lama di depan wastafel untuk mengeringkan t-shirt dan kaos kaki dengan hair dryer, hingga betul-betul kering. “Ah, bodo amat. Ndak ada orang. Guwe kan juga bayar”, suara setan di batinku membisik. Maklum dalam petualangan kali ini, aku mulai menerapkan taktik membawa dua pasang kaos kaki. Aku akan membasuh dan mengeringkan kaos kaki yang tak terpakai untuk persiapan penggunaan berikutnya.

—-****—-

Pagi itu aku bangun tepat waktu. Seusai Shalat Subuh , aku tak lagi tertidur. Aku lebih memilih membuka lembaran itinerary sembari menunggu hari terang. Ketika matahari mulai hadir, aku mulai meninggalkan Kimchee Busan Guesthouse seusai mandi, mengingat penginapan ini tak menyediakan sarapan seala kadar untuk kelas dormitory.

Aku keluar dari gang penginapan, dan menyusur Jalan Hwangnyeong-daero menuju ke barat, ke Stasiun Beomnaegol untuk melanjutkan perjalanan. Tapi tentu aku harus bersarapan dulu sebelum menaiki Humetro. Aku berhenti pada CU minimarket untuk kemudian memasukinya dan berburu sarapan di dalamnya. Aku menemukan segenggam nasi berisikan jagung di sebuah rak khusus makanan, menuju kasir, membayarnya dan kemudian menyantapnya di sebuah bangku di sisi dalam minimarket.

Tak lama aku menyantapnya. AKu segera memasuki ruangan stasiun dan mencari keberadaan ticketing vending machine untuk membeli one day pass, lalu menuju platform usai menggenggam selembar one day pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Kali ini aku akan menuju ke Busan Central Bus Terminal demi mencari tiket bus menuju ke Seoul malam nanti. Humetro Line 1 (Orange Line) berdecit lembut menghentikan laju di platform. Aku segera duduk di salah satu bangku di gerbong setengah kosong untuk kemudian mengikuti arus kereta menuju Stasiun Nopo, yaitu stasiun dimana Busan Central Bus Terminal diintegrasikan. Aku tiba dalam 45 menit.

Keluar dari gerbong aku mencari petunjuk yang bisa mengarahkanku menuju terminal itu. Tak sulit menemukannya. Sebuah petunjuk yang kemudian menyambung dengan petunjuk selanjutnya mengarahkanku hingga tiba di Busan Central Bus Terminal.

Konter penjualan tiket Busan Central Bus Terminal.

Hello, Miss. How much is a ticket to Seoul? “Aku bertanya kepada staff penjualan tiket di deretan memanjang ticketing counter.

32,000 Won, Sir. The bus will depart on around 16:00 hours”.

Miss, What is the cheapest price and what time does the bus depart?”, aku blak-blakan mengingat kantongku mulai menipis.

23,000 won and bus will depart on 20:30, Sir”.

Okay, Wait Miss“.

Aku meninggalkannya dan duduk di kursi tunggu. Aku mulai berhitung, kalau aku berangkat cepat maka aku akan relatif aman karena akan tiba di Seoul sebelum malam. Tapi artinya aku harus menambah biaya untuk menyewa dormitory lebih cepat. Tentu akan mahal.

Kalau aku mengambil tiket malam, maka mau tidak mau, aku akan bermalam di terminal bus kota Seoul, sedikit beresiko, tetapi itu paling memungkinkan dengan keberadaan uangku yang semakin tergerus habis.

Bismillah…..aku beranjak dari tempat duduk dan kembali menghadap staff wanita tadi.

Yes, Ms. I take the night one”.

Ok, Sir

Aku menyerahkan uang kepadanya dan dia memberikan selembar tiket kepadaku untuk menuju Seoul.

Tiket bus Busan-Seoul seharga 23.000 Won (Rp. 290.000).

Okay, satu bagian penting telah kuselesaikan dengan cepat. Aku akan menghabiskan waktu tersisa di Busan hari ini.

Kisah Selanjutnya—->

Permainan Lampion di Gwangalli Beach

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir jam sembilan malam ketika aku memutuskan untuk meninggalkan Busan International Film Festival (BIFF) Square di daerah Nampo-dong. Aku mulai melangkah meninggalkan konter resmi UNIQLO di bilangan BIFF Gwangjang-ro dan kemudia berlanjut di jalan utama, Gudeok-ro. Seratus lima puluh meter di depan sana adalah Gate 7 Stasiun Jagalchi yang menjadi target langkahku untuk segera meninggalkan Distrik Jung.

Aku sudah menuju bawah tanah sepuluh menit kemudian. Di ruangan bawah tanah yang hangat, aku tak perlu bersusah payah untuk mencari ticketing vending machine karena aku masih menggenggam potongan kecil One Day Pass yang sudah kubeli sore tadi setiba di Busan. Melenggang melewati automatic fare collection gate aku menunggu kedatangan  Humetro Line 1 (Orange Line) di patform stasiun.

One Day Pass seharga 4.500 Won (Rp. 57.000).

Humetro itu cepat sekali tiba, membuka pintu otomatisnya dan aku segera memasuki gerbong tengah. Terduduk di sebuah bangku, aku terus memperhatikan kesibukan seusai kerja warga Busan. Humetro perlahan merayap melalui jalur bawah tanah, menurunkanku di Stasiun Seomyeon setelah melewati sembilan stasiun, untuk kemudian aku berganti menggunakan Humetro Line 2 (Green Line). Dan serupa, setelah melewati sembilan stasiun aku tiba di Stasiun Gwangan di Distrik Suyeong. Tak terasa perjalanan menuju stasiun ini memakan waktu yang cukup lama, empat puluh lima menit.

Aku bergegas menuruni gerbong dan kembali merangsek ke permukaan menggunakan escalator. Kemudian mengambil arah keluar di Gate 5 Stasiun Gwangan yang dihadapkan langsung pada Gwangan-ro Avenue. Suhu udara jalanan sudah berada di level satu derajat Celcius.  Aku terpaksa berjalan dengan tubuh sesekali bergetar sepanjang tujuh ratus meter ke arah pantai. Keberadaan beberapa rombongan turis yang menuju ke arah yang sama, membuatku sedikit tenang, mengingat malam sudah hampir mendekati jam sepuluh.

Aku tiba di pantai dua puluh menit kemudian setelah berjalan kaki hampir tujuh ratus meter. Berdiri di tepi pantai sejauh mata memandang, bentangan bercahaya jembatan terpanjang kedua di Negeri Ginseng itu sungguh mempesona….Yups, itulah Gwangandaegyo Bridge, suspension bridge sepanjang tujuh setengah kilometer yang menghubungkan Distrik Haeundae dan Distrik Suyeong.

Gwangandaegyo Bridge.
Lampu hias yang meriah.

Kini aku telah berbaur dengan turis dan warga lokal lainnya menikmati suasana malam nan meriah di Gwangalli Beach. Aku terus mengamati pertunjukan warga mengudarakan lampion-lampion berukuran mini. Orang tua, kaum muda dan anak kecil hampir semuanya terhanyut dalam kemeriahan permainan itu.

Sementara sebagian yang lain tampak menikmati hiasan lampu berwujud berbagai macam fauna yang enak dipandang mata. Disisi lain pantai tampak berjejal bangunan bertingkat yang memberikan kesan bahwa area pantai telah tersentuh teknologi. Tetapi semua tampak bersih dengan lingkungan yang terjaga dan tertata.

Beberapa bangunan hotel di tepian pantai.
Hotel Aqua Palace.

Aku hanya mampu menahan dingin udara selama empat puluh lima menit. Pasti udara akan mendekat ke titik beku ketika malam mencapai puncaknya. Aku bergegas meninggalkan bibir pantai dan menuju ke stasiun kembali. Melangkah dengan cepat demi menghindari hawa dingin yang semakin menjadi, aku tiba di stasiun dengan nafas tersengal, lalu bergegas menuju platform dan beberapa menit kemudian Humetro membawaku, untuk kemudian menurunkanku di Stasiun Seomyeon. Humetro lantas mentransferku di Line 1 menuju Stasiun Beomnaegol, stasiun dimana hotel tempatku menginap berada….Yups, Kimchee Busan Guesthouse.

Kini tiba saatnya untuk beristirahat demi petualangan lanjutan esok hari.