50 Menit Melintas Toba

“Bang, tolong diisi”, senyum ferry crew menyodorkan lembar manifest yg telah terlanjur lembab karena paparan gerimis sepanjang hari. Nama, alamat asal dan umur yang harus kutulis. Mengingatkanku pada tenggelamnya KM Sinar Bangun di daerah Simanando-Toba 4 bulan sebelum aku mengisi manifest itu.

Satu jam Aku menunggu semenjak ketibaanku di Tigaraja Port  hingga manifest itu datang. Kupilih berlabuh di Tomok Port walau aku akan bermalam di sekitar Tuk Tuk Port.

Masuk di deck lantai 1, Si Nenek menyapaku dengan dagangan kacang rebus berasapnya, cocok untuk dinginnya angin kala itu.

Deck lantai 2 adalah spot pilihanku supaya kameraku bisa tampil selama 50 menit perjalanan….Sengaja duduk dekat rak baju pelampung…..hihihi, mudah-mudahan Aku tak harus “loncat “.

Dua perempuan cantik dan tiga pemuda yang lebih ganteng dariku mondar-mandir, naik turun deck berselfie dan berfoto ria, Aku hanya memandanginya dengan kupasan kacang yang kukunyah satu demi satu melawan dingin.

Yang kutunggu adalah lagu daerah Batak, malahan Mas Ariel NOAH yang menyanyi sepanjang perjalanan. Maklum Si Kapten dan crewnya anak anak muda.

Okay whatever….Saatnya beraksi.

Berpindah ke kiri kanan deck mataku terkagum dengan perbukitan dengan awan tipis dipuncaknya….Luar biasa lukisan Tuhan….Mataku mulai berlinang (eh, yang ini bohong).

Di atas deck pula salah satu crew menarik ongkos10 ribu per penumpang….Sekitar jam 15:02 Ferry merapat ke pelabuhan, Aku bergegas turun. Tetapi crew menahanku, ternyata itu bukan Pelabuhan Tomok yang dituju. Pelabuhan tersebut ternyata milik Hotel Lopo Inn….Mungkin mereka yang turun akan menginap dihotel itu.

Hanya 5 menit menurunkan penumpang, ferry kembali bertolak menuju Tomok Port. Dan dalam 3 menit ferry merapat ke pelabuhan Tomok.

Aku sengaja berburu foto disekitarnya ketika semua orang dengan cepat meninggalkan pelabuhan itu. Prinsipku “belum tentu Tuhan akan mengantarkanku kesini kembali”, jadi akan kumanfaatkan setiap momen dalam petualanganku.

Meninggalkan sisi terluar pelabuhan aku mulai masuk ke area wisata Tomok. Pemandangan pertama yang kulewati adalah lorong panjang stand souvenir yang memanjakan mata. Tapi sepertinya itu tak akan mempengaruhi backpacker macam Aku. Backpacker yang tak pernah membeli bagasi pesawat untuk space oleh-oleh dan hanya bermodalkan backpack yg sdh terisi penuh oleh perlengkapan perjalanan.

Sepertinya strategiku tepat untuk berangkat pagi dari Medan dan menuju Tomok terdahulu. Sekarang waktu ditanganku, masih ada 3 jam untuk menghabisi venue Tomok sebelum istirahat ke Bagus Bay Homestay di daerah Tuk Tuk.

Kemanakah harus berburu venue ?