16 Destinasi Wisata di Bukittinggi

Berjalan kaki menyusuri Jalan Veteran, aku perlahan mendekati Hotel De Kock untuk melalukan check-in. Sejuk dan damai itulah gambaran awal di kepalaku mengenai Bukittinggi  ketika pertama kali tiba.

1. Jembatan Limpapeh

Setengah perjalanan menuju penginapan, aku sudah terpesona dengan sebuah jembatan gantung. Adalah Jembatan Limpapeh yang membentang diatas Jalan Ahmad Yani. Didirikan pada tahun 1992 dan berfungsi sebagai penghubung antara Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan kawasan Benteng Fort De Kock. Membentang sepanjang sembilan puluh meter dengan lebar kurang lebih tiga meter, menjadikan jembataan ini begitu gagah terlihat dari jalanan.

2. Jam Gadang

Sebotol coca cola menutup sesi check-in ku sekaligus sebagai penanda mula untuk penelusuranku sore itu di sekitaran Pasar Atas. Menelusuri Jalan Yos Sudarso yang naik turun, langkahku tiba di sebuah landmark fenomenal yang terkenal di seantero Indonesia.

Jam Gadang, landmark pemberian Ratu Wilhelmina itu tampak gagah menjulang. Lama untuk sekedar menunggu lampu aneka warna muncul dan menyirami seluruh bangunan jam raksasa itu sebagai penanda bergantinya sore ke malam.Karena ketersohorannya, Jam Gadang  telah ditetapkan sebagai Titik Nol Kilometer Kota Bukittinggi. Atapnya yang berbentuk gonjong atau atap yang biasa dipakai pada Rumah Gadang menjadikan karya arsitektur Eropa itu memiliki kekayaan adat lokal.

3. Plaza Bukittinggi

Renovasi besar pada Taman Sabai Nan Aluih, menjadikanku hanya mampu menikmati keindahan Jam Gadang dari pelataran sebuah mall yang letaknya berseberangan dengan jam besar itu.

Plaza Bukittinggi dalam beberapa kurun waktu terakhir telah menjadi mall terbaik di Bukittinggi. Brand Ramayana menjadi pemain utama yang menempati tujuh puluh persen dari kapasitas keseluruhan mall ini.

4. Masjid Raya Bukittinggi

Keasyikan menikmati keelokan Jam Gadang hampir saja membuatku kehilangan Shalat Maghrib. Aku mencoba menelusuri asal adzan beberapa puluh menit sebelumnya. Menuju ke utara, akhirnya aku tiba di Masjid Raya Bukittinggi.

Masjid yang pada saat terjadinya gempa bumi tahun 2007 menjadi tempat perlindungan bagi warga yang mengungsi karena kerusakan yang diakibatkan oleh gempa besar itu.

5. Pasar Atas Bukittinggi

Jalan Cindua Mato menuju Pasar Atas

Masjid raya yang terletak tepat di pusat Pasar Atas inilah yang membuatku tertarik untuk sekalian menelusuri jalanan menuju ke Pasar Atas. Gelap yang terus melahap hari, membuat pemilik deretan ruko mulai menutup tokonya satu-persatu.

Pasar Atas adalah pasar yang menempatkan beberapa penjual Nasi Kapau, Es Ampiang Dadiah dan Kerupuk Sanjai yang menjadi kerupuk favorit untuk oleh-oleh bagi para pengunjung kota Bukittinggi.

Laparnya perut telah memaksa diriku untuk segera mencari menu santap malam. Makan malam di bawah Jembatan Limpapeh akhirnya menutup dua jam penjelajahan pada malam pertamaku di Bukittinggi

6. Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Hari keduaku dimulai dengan beranjaknya diriku dari hotel pada pagi sepi. Bahkan aktivitas warga belum tampak. Sepi nan dingin tak menyurutkan langkah untuk mengunjungi Tugu Pahlawan Tak Dikenal.

Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tahun 1905. Tugu dengan ornamen berbentuk lingkar ular naga besar dan diatasnya berdiri patung seorang pemuda memegang bendera.

7. Taman Monumen Proklamator Bung Hatta

Sementara di seberang depan tugu,  tampak sebuah taman dengan patung hitam Bung Hatta. Dikenal dengan nama Taman Proklamator Bung Hatta, taman ini didedikasikan untuk Mohammad Hatta, putera asli Bukittinggi yang memproklamirkan kemerdekaan Indonesia bersama Ir. Soekarno.

8. Janjang Ampek Puluah

Kembali menelusuri Jalan Cindua Mato yang kulewati semalam, aku menuju sebuah tangga penghubung antara Pasar Atas dan Pasar Bawah serta Pasar Banto. Sebuah tangga beton curam dengan empat puluh anak tangga berusia 112 tahun. Inilah perwujudan integrasi fasilitas publik versi tempoe doele. Pada waktu itu, Pemerintah Hindia Belanda dengan satuan kekuasaan setempat sepakat menghubungkan setiap pasar yang ada di Bukittinggi, salah satunya dengan pembuatan janjang atau anak tangga.

9 Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Keluar dari gapura bawah dan melewati Banto Trade Centre yang tampak tak terawat, aku menuju ke kediaman Bung Hatta semasa kecil. Walaupun sesungguhnya rumah ini hanya berupa bangunan rekonstruksi, akan tetapi penataan interior dan penampilan eksterior dibuat semirip mungkin dengan kondisi rumah aslinya yang telah runtuh. Jika kamu ingin mengetahui sejarah hidup di balik kegemilangan Bung Hatta dalam karir politiknya, maka datanglah ke tempat ini.

10. Fort De Kock

Selesai berkunjung di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta, aku niatkan berjalan kaki menuju Benteng Fort de Kock melalui Jalan Pemuda yang lumayan panjang mendaki dan berkelok dari selatan ke utara. Tapi ternyata aku tak mampu lagi di pertengahan jalan, kupanggil tranportasi online untuk mengantarkanku tepat di gerbang depan Fort de Kock.

Benteng Fort de Kock ini didirikan oleh Kapten Bauer pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek sebagai kubah pertahanan Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Paderi yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

11. Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK)

Dari Fort de Kock, aku hanya perlu menyeberangi Jembatan Gantung Limpapeh menuju sebuah kebun binatang terkenal di Bukittinggi.

Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) merupakan salah satu kebun binatang tertua yang ada di Indonesia dan satu-satunya di Sumatra Barat dengan koleksi hewan terlengkap di pulau Sumatra.

12. Museum Rumah Adat Baanjuang

Semakin berkembangnya kebun binatang ini, maka pada tahun 1935 dibangunlah Rumah Adat Baanjuang di dalamnya.

Difungsikan sebagai museum, rumah adat ini didedikasikan untuk mengangkat kebudayaan tradisional masyarakat Minangkabau. Di dalamnya dipertunjukkan berbagai pakaian, perhiasan dan alat-alat kesenian khas Minang.

13. Museum Zoologi

Tak jauh….Di timur laut kebun binatang, terdapatlah Museum Zoologi berwarna hijau sengan harimau sumatera dan ikan mas sebagai ikon museum. Museum yang didirikan bersamaan dengan Museum sejenis di Bogor pada 1894. Dua ribu jenis binatang diawetkan dan dipamerkan di dalam museum ini.

14. Ngarai Sianok

Aku meninggalkan Fort de Kock dari pintu masuknya. Niatan berikutnya adalah bermain ke Ngarai Sianok. Sebuah lembah yang terbentuk dari patahan alami, memiliki dinding tegak lurus dengan sungai Sianok mengalir di tengahnya.Tetapi sangat disayangkan hujan turun begitu lebatnya. Selepas turun dari ojek online, aku serasa tak bardaya dan menunggu hujan reda. Dibawah pohon aku terus mengamati lembah siku-siku pada topografi area ini.

Cekungan dereta tebing itu seakin diperindah dengan alira air sungai tepat d bawah jurang-jurang tinggi.

15. Lobang Jepang

Hujan mulai menipis tapi tetap tak kunjung reda, mengakibatkan asa menikmati  ngarai lebih lama harus kuakhiri. Aku mendapatkan ojek online dengan pengendara wanita berjilban berumur setengah baya. Di bawah hujan yang mulai mengerimis aku menuju Taman Panorama.

Sebelum mengeksplore Taman Panorama aku sempatkan untuk menelusuri sebuah lobang pertahanan terpanjang di Asia. Lobang Jepang yang dibuat atas perintah Letnan Jenderal Moritake Tanabe, Panglima Divisi ke-25 Angkatan Darat Balatentara Jepang. Sangat dalam, panjang dan mengagumkan.

16. Taman Panorama

Akhirnya kunjungan penutup jatuh di Taman Panorama, sebuah taman besar dengan dua buah pintu masuk di tepian Jalan Panorama. Dengan tiket seharga Rp. 15.000, aku bisa berusaha menikmati taman rindang ini pada detik-detik terakhirku di Bukittinggi.

Meninggalkan taman dan kembali ke hotel, aku bersiap menuju kantor travel untuk menuju Padang. Pukul 13:00 aku akhirnya benar-benar meninggalkan Kota Bukittinggi. Selamat tinggal Bukittinggi.

Jadi bagi kalian yang berniat ke Sumatera Barat….Berkunjunglah Ke Bukittinggi dan nikmati sejuknya udara kota.

Travel Annanta dari Pekanbaru ke Bukittinggi

<—-Kisah Sebelumnya

Begadang dengan sahabat sejati.

Malam paripurna di Pekanbaru menjadi sesi nostalgia dalam aroma durian dan gurihnya seporsi Malon (Manuk Londo) yang tampak montok di atas piring. Inilah pertemuan yang sengaja kupersiapkan bersama seorang pengusaha durian yang entah berapa lama tak bersua, sebelum meninggalkan Pekanbaru esok hari.

—-****—-

Pagi menyambut bebarengan dengan kunyahan toast buatan Toko Roti Ganda yang masih saja tersisa sedari kedatanganku di Kota Madani, tawar tapi masih cukup lezat disantap.

Dering smartphone yang kunanti akhirnya tiba.

Ini Donny ya?”, tegurnya singkat.

Annanta ya, Bang?”, singkat pula sapa balasku.

Iya, Don. Hotelnya ancer-ancernya apa ya?”, tanyanya mulai mendetail.

Bereflek cepat, aku berlari menuju meja resepsionis dan menyerahkan smartphone ke staff yang bertugas. Entah bagaimana staff itu menjelaskan kepada sang sopir. Yang kufaham, mereka bercakap dalam bahasa Minang.

Sepuluh menit kemudian, Toyota Kijang hitam berlabel “ANNANTA” menghentikan raung mesinnya di pelataran Hotel Sri Indrayani. Berucap terimakasih kepada staff resepsionis, aku beranjak meninggalkan lobby dan memasuki mobil travel di jok belakang sebelah kanan.

Snack dan air mineral yang disediakan pihak travel.

Emang ngerti Bahasa Jawa, Uda?”, penasaran karena sang sopir memutar lagu Didi Kempot yang tersimpan di flashdisk birunya.

Ah, ga begitu ngerti, Don. Enak aja didengernya”, katanya terbahak.

Ha ha ha”, tawaku lepas.

Aku menjadi penumpang pertama yang dijemputnya. Kunikmati saja setiap injakan pedal gas memasuki gang-gang sempit dan jalanan di beberapa perumahan untuk menjemput lima penumpang lain. Pada jemputan kedua, akhirnya aku menemukan pasangan sebelah bangku yaitu seorang nenek murah senyum yang hanya bisa berdialek Minang. Sedangkan, penumpang terakhir adalah seorang pemuda gempal yang didudukkan di jok terdepan sebelah pengemudi.

Suasana dalam travel.

Perjalanan sejauh 222 km ini akan ditempuh dalam selang waktu 7 jam dan melewati tepian Sungai Kampar yang tersohor itu. Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang bak trek pacu jalanan ala Sirkuit Monaco. Tavel Annanta ini begitu lincah meliuk-liuk diantara truk-truk barang bermuatan berat nan lambat. Si nenek di sebelah hanya sesekali tersenyum menghadapku menikmati balapan tunggal itu.

Memasuki Kota Payakumbuh, aku terus terjaga. Tak mau kehilangan momen singkat melewati sebuah scenic spot. Tak lain adalah Kelok Sembilan. Begitu terpesonanya aku ketika melintas jembatan layang sepanjang 2,5 km dan setinggi 58 meter itu. Tinggi, gagah dan mempesona siapa saja yang melintasnya.

Terpesona ketika Marshall Sastra dan David John Schaap mengupasnya dalam program TV “My Trip My Adventure”.

Perjalanan darat seharga Rp. 160.000 ini melewati 4 Kabupaten ( Kampar, Rokan Hulu, Lima Puluh Kota dan Tanah Datar) dan 3 Kota (Pekanbaru, Payakumbuh dan Bukittinggi) serta menyisakan keindahan alam yang menggoda mata.

Perjalanan yang hanya menyediakan sekali lunch break.  Toast tadi pagi sudah tak mampu lagi menahan rasa lapar, bahkan angin telah mengakuisisi lambung. Siang itu rendang hitam khas Minang menjadi teman santapku. Baru kali ini merasakan rendang di tanah asalnya.

Travel Annanta Si Kencang dari Sumatera.
Rumah Makan Uwan Labuak Bangku di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Hujan mulai turun ketika perjalanan memasuki Kota Bukittinggi melalui tepiah Kabupaten Tanah Datar. Aku mulai bersiap untuk turun, karena Travel Annanta bertujuan akhir di Padang. Aku diturunkan di Jalan Veteran, tepat di sebuah pertigaan dengan Monumen Tuanku Imam Bonjol yang berada di tengahnya.

Tiba di Bukittinggi.

Menjelang gelap, aku haru menuju ke Hotel De Kock.