Aura Patung Hachiko, Lima Kali Shibuya Crossing

Masih ingat?…..

Ketika mobil hitam milik D.K sedang mengejar Sean Boswell  yang melaju cepat dengan mobil balap warna merahnya dan rombongan balap itu dipimpin oleh Han Lue di depan yang dengan maskulin meliak-liuk dengan mobil balap ceper kuningnya. Dalam aksi kejar-kejaran itu, ada sebuah momen ketika ketiga mobil balap itu terpaksa melintas di sebuah simpang lima yang penuh dengan para penyeberang jalan. Adegan itu begitu mendebarkan tetapi terlihat sangat fantastis dari kamera atas. Tak salah lagi, itulah sepenggal scene dalam film “The Fast and the Furious: Tokyo Drift”. Dan simpang lima yang dimaksud terkenal dengan nama Shibuya Crossing.

Nah, kalau ini kisah yang berbeda lagi…..

Pernahkah kamu menonton sebuah film yang diangkat dari true story dan menceritakan seekor anjing bernama Hachi beserta tuannya Parker Wilson yang diperankan oleh aktor kawakan Richard Gere?.

Dalam film itu dikisahkan Hachi yang begitu setia dan setiap hari mengantar Wilson menuju stasiun untuk berangkat mengajar lalu menunggu kepulangannya di depan stasiun yang sama saat sore tiba. Begitulah kegiatan harian Hachi. Hingga pada suatu saat, Wilson meninggal di kampus karena serangan jantung dan tidak akan pernah bertemu Hachi kembali. Tetapi karena kesetiaannya, Hachi hingga akhir hayat tetap menunggu majikannya yang tak pernah lagi datang di depan stasiun. Anjing yang melegenda ini adalah kisah nyata yang menjadi asal usul Patung Hachiko yang lokasinya berada di dekat Stasiun Shibuya dan hanya berjarak seratus meter di sebelah selatan Shibuya Crossing.

Kedua film itulah yang sebetulnya menjadi dasar dan alasan bagiku untuk menempatkan Shibuya Crossing dan Patung Hachiko sebagai tujuan pertama di Toyo.

Siang itu udara semakin mendingin, perlahan turun dari 4o Celcius, waktu menunjukkan pukul 13:45 saat aku sudah berada di north entrance gate Stasiun Nakano. Tak lama, kereta Chuo-Sobu Line itu tiba. Siang menjelang sore, penumpang masih sepi, mungkin memang belum saatnya jam pulang kantor. Aku mengambil duduk di sisi gerbong sebelah kiri dan merasakan hangatnya udara dalam gerbong.  Aku baru sadar ketika merasakan hawa panas menyembur dari bawah bangku dan menerpa bagian bawah kaki ketika duduk. Rupanya kereta di Jepang menaruh mesin pemanas di bagian bawah bangku.

Sisi dalam Stasiun Shibuya.
Gerbang Stasiun Shibuya yang berhadapan langsung dengan Hachiko Square.

Hanya lima menit menuju tenggara, aku menuruni gerbong Chuo-Sobu Line untuk berganti  ke gerbong Yamanote Line. Kini kereta bergerak ke selatan sejauh empat kilometer dan memerlukan waktu tempuh sepuluh menit serta dalam kondisi penumpang yang semakin padat. Maklum Yamanote Line merupakan jalur kereta tersibuk di pusat kota Tokyo.

Aku tiba di Stasiun Shibuya pada pukul 14:00 dan mengambil arah ke Hachiko Exit Gate di sebelah utara bangunan stasiun. Langkah kakiku saat keluar dari gerbang stasiun seketika disambut oleh penampakan Hachiko Square yang sudah penuh dengan pengunjung. Sebagian duduk di setiap sisi plaza dan sebagian besarnya mengelilingi patung binatang loyal itu untuk mengantri berfoto. Taka da yang spesial dari patungnya, mungkin kisah hidup Hachiko lah yang membuat patung itu serasa hidup dan menjadi pusat perhatian.

Aku tak lama menikmati keramaian di Hachiko Square. Karena tak sabaran ingin merasakan sensasi menyeberang di Shibuya Crossing. Aku melangkah seratus meter  ke utara dan mulai berdiri di simpang lima ternama itu. Aku hanya bisa tersenyum sendiri ketika melihat kelakuan para turis di saat menyeberang. Ada yang berfoto ria di tengah simpang lima itu, ada yang berlari dan memanjat tiang rambu-rambu untuk mengambil foto dari ketinggian dan ada juga yang memuat vlog selama lampu hijau masih menyala. Dan saat bunyi tut-tut-tut berseru nyaring bersusulan sebagai pertanda lampu rambu akan berganti menjadi merah, maka para turis dan pejalan kaki lokal berlarian menuju ke tepian dan sekejap menyisakan hening sesaat, kemudian disusul oleh bunyi klakson dan deru mesin kendaraan yang berebut melintas simpang lima itu menuju ke segala arah.

Chūken Hachikō, andai masih hidup, dia sudah berumur 97 tahun.
Yuhuuu….Shibuya Crossing.
Tsutaya adalah toko buku kenamaan di Jepang. I’m @ Shibuya Crossing.
Simpang Lima yang konon mampu menyeberangkan 50.000 pejalan kaki selama 30 menit.

Aku yang masih tak percaya bisa berada di situ pun tertular keanehan akut mereka. Karena ini simpang lima maka genap lima kali pula, aku menyeberang bolak-balik dari satu sisi ke sisi yang lain di Shibuya Crossing. Oh Tuhan, inikah sebuah siang yang membuatku menjadi gila karena terpapar aroma kehidupan Tokyo?.