Wisata Dragon-Tiger Pagodas, Kaohsiung.

Perjalananku kembali dari Fo Guang Shan berakhir di Kaohsiung Main Station dan disambut dengan gerimis kecil yang mulai turun.

Waktuku mulai dihitung mundur 2 jam dari saat itu karena destinasi berikutnya akan ditutup tepat pukul 5 sore.

Kukeluarkan KPP Taiwan Pass yang kudapatkan di Kaohsiung International Airport MRT Station sehari sebelumnya. Aku segera bergerak menuju Ecological District Station.

KPP Pass adalah kartu pass berbasis cloud yg digunakan didaerah Kaohsiung, Pingtung, Penghu (Tiga kota besar di selatan Taiwan)

Menemukan halte dan menunggu bus bernomor R35A untuk mendapatkan akses menuju Lotus Lake menjadi tahapan berikutnya. Kulambaikan tangan ketika bus itu berjalan lumayan kencang di Bo’ai 3rd Road menuju kearahku. Mungkin si sopir mengira di halte tak ada penumpang. Menepi dengan gesit, akhirnya bus berhenti sedikit melewatiku.

Ternyata sopir itu perempuan, menanyakan tujuanku dalam bahasa Taiwan membuatku menjadi speechless.

Aku: “Dragon-Tiger Pagodas, Mam”

Doi: geleng-geleng kepala, matanya terpejam dan sembari mengangkat tangah pertanda menyerah tak mengerti dengan ucapanku.

Aku: “hahahaha…….”

Doi : terlihat sedikit sebal ketika Aku tertawa.

Aku : “Wait….wait”

Kukeluarkan smartphone, kucari gambar pagoda yang kumaksud dan kutunjukkan ke doi.

Doi : “Sedikit teriak girang…..ya…ya..ya…sambil mengacungkan jempol.

Setelah membayar TWD 15 (Rp. 6.000) dengan memasukkan koinku ke fare box, Aku berdiri di belakang.

Hanya perlu waktu 10 menit untuk sampai di Lotus Lake dan akhirnya pagoda kembar itu terlihat dengan jelasnya.

Kaohsiung bear seperti yang ada dalam gambar KKP Taiwan Pass ku

Panda adalah hewan ikonik di Taiwan, jadi Kamu akan sering menemui profilnya di tempat-tempat umum. Aku menemukannya di pagoda ini.

Jika Kamu mau membeli kenang-kenangan masuklah ke bangunan itu:

Visitor Souvenir Center

Memasuki area pagoda, terlihat sangat jelas si Naga dan Si Harimau:

Katanya Aku harus masuk dari mulut Naga dan keluar dari mulut Harimau….biar lucky.

Pagoda tujuh lantai berwarna kuning dan berpilar merah ini memang memancarkan aura kekhusyukan tersendiri di tengah luasnya Lotus Lake.

Lotus Lake sejauh mata memandang.

Diseberang depan Pagoda berdiri megah Istana Tzu Chi

Jam 16:45 Aku meninggalkan Lotus Lake untuk mencari makan malam di Kaisyuan Night Market.

Disinilah kebingungan dimulai, Aku tak tahu harus naik bus nomor berapa dan menuju kemana. Zaman itu, Aku keliling hanya bermodalkan peta dan kompas, paling anti menggunakan google maps. Apalagi kalau tidak untuk berhemat. Jadi selama tak mendapatkan WiFi, maka keberadaanku di sebuah negara tak akan terdeteksi…..Keren kan kaya agen CIA.

Jika sudah bingung begitu, Aku biasanya akan sembarang naik bus kota….kemanapun. Lalu akan berhenti di dekat spot-spot terkenal yang sudah kupelajari sebelum berangkat ke negara itu. Nah kebetulan Aku naik bus secara acak sore itu dan dalam kebingungan akhirnya Aku melihat Kaohsiung Arena (stadion sepakbola terbesar di Kaohsiung). Aku pun berhenti di halte terdekat dan entah waktu itu memang gratis atau sopir yang tidak tahu, Aku tak pernah menempelkan KPP pass-ku di automatic fare machine.

Nah didekat stadium ini terdapat Stasiun MRT Kaohsiung Arena.

Dari stasiun inilah akhirnya Aku berhasil menemukan Kaisyuan Night Market.

Seru sedikit gila ini mah….

Mengunjungi Biara Fo Guang Shan, Kaohsiung

Tepat pukul 8:27 pagi itu, Aku sudah bersiap diri untuk mengekplore Kaohsiung lebih dalam. Sekerat toast, sebuah pisang dan teh manis hangat menjadi sarapan gratis yang disediakan hostel pagi itu.


serasa seperti di rumah

Rupanya Vietnamese dan Indo-American backpacker itu masih terlelap di bersih dan empuknya kasur Paper Plane Hostel. Mereka tentu menikmati jalan-jalan dengan cara yang berbeda denganku. Terlihat mereka lebih santai daripada Aku yang selalu lincah kesana kemari berkejaran dengan waktu. Kondisiku dompetku lah yang mengharuskanku untuk mengunjungi berbagai destinasi dalam waktu liburan yang lebih pendek.

Ya, Aku hanya semalam meniduri hostel keren ini karena pagi harinya Aku akan check-out dan menitipkan backpack di resepsionis. Aku akan mengambilnya setelah menyelesaikan misi di hari terakhirku.

MRT perlahan menjauh dari Houyi Station dan menghantarkanku ke Kaohsiung Main Station.

Mataku segera menyadari akan keberadaan terminal bus di dekat stasiun ini.

Yess….Aku memang sedang berburu bus menuju ke biara Buddha terbesar di Taiwan yaitu Fo Guang Shan.

Apa sih Fo Guang Shan?…..

Referensi yang kudapatkan adalah sebuah ordo dalam Buddhisme yang sangat terkenal dalam upayanya memodernisasi Buddhisme di Tiongkok. Oleh karena ordo ini sangat melek teknologi….Begitulah kira-kira.

Celingukan tak pernah menemui bus bernomor 8010 atau 8011, akhirnya Aku bertanya pada seorang yang kufikir dia adalah seorang bus timer.

terminal bus di dekat Kaohsing Main Station

Mungkin karena sering ditanya turis, tak butuh waktu lama baginya untuk memahami pertanyaanku. Dan Aku diminta menunggu bus di ujung terminal.

Bus datang juga akhirnya….menaikinya dari pintu depan Aku menanyakan ke sang sopir apakah benar bus menuju ke sana. Setelah mengiyakan maka Aku segera membayar TWD 80 (sekitar Rp. 30.000) dan dia menukarnya dengan sebuah tiket.

Perjalanan pun dimulai:


keceriaan hari itu dimulai dengan pinky interior.

Perjalanan 35 km dengan 45 menit waktu tempuh tak mampu membuat mataku terpejam melawan keasyikanku mengamati pesona jalanan Kaohsiung. Mengamati aktivitas masyarakat dan melewati berbagai landmark membuatku tertegun sepanjang perjalanan.


bagian paling depan sebelum masuk

Akhirnya Aku tiba….

Tak dipungut biaya untuk memasuki biara Buddha ini. Melewati lobby depan, Aku menemukan beberapa pertokoan yang menjual perhiasan dan  souvenir serta beberapa coffee shop (Starbuck salah satunya).

Aku tak tertarik dengan area ini karena memang tak membawa budget yang memadai…Segera keluar dan Aku menemukan pemandangan yang luar biasa:

Ukuran plaza biara yang sangat luas dan menjadi sasaran kamera siapapun yang mengunjungi tempat ini.

Mendekatlah ke patung Buddha itu ! ….pasti Kamu akan lebih terkesan:

Dibawah patung Buddha itulah terletak Museum Buddha dan terdapat beberapa ruang peribadatan untuk para pengunjung.

Aku pun sempat dipersilahkan memasuki ruangan peribadatan untuk sekedar melihat bagaimana prosesi peribadatan kaum Buddha disana.

1,5 jam menjadi waktu yang sangat berharga karena bisa berkunjung ke tempat ini.

Aku menutup kelaparanku dengan menyantap seporsi dinsum. Aku mendapatkannya dari sebuah kantin yang terletak di parkiran kendaraan  yang terletak di bagian paling depan biara.

Btw, masih jam 13:15…..masih ada waktu banyak nih….Kemana ya enaknya?.