Geliat Pasar Rakyat Penanda Geliat Ekonomi Rakyat

Pasar Gede Hardjonagoro, Solo (dokumen pribadi).

Apakah Anda pernah mengunjungi Pasar Chatuchak di kota Bangkok? Atau Pasar Ben Thanh di kota Ho Chi Minh? Atau Pasar Seni di Kuala Lumpur?. Ya, itulah sedikit dari sekian banyak pasar tradisional di Asia Tenggara yang mendunia. Ketenarannya tak kalah bersaing dengan pusat perbelanjaan modern di kota yang sama yaitu Siam Paragon, Vincom Center dan Kuala Lumpur City Centre (KLCC).

Lebih dari itu, kini Pasar Chatuchak di Thailand terus bertransformasi menuju Market 4.0 sebagai cashless market dan pasar berbasis aplikasi demi menyediakan navigasi terbaik bagi pengunjungnya. Sedangkan Pasar Ben Thanh telah lama mengembangkan wisata gastronomi yang lekat dengan budaya Vietnam. Tak kalah juga, Pasar Seni secara konsisten memamerkan berbagai kekayaan budaya Malaysia .

Daya tarik itulah yang membuat ketiganya menjadi pusat perhatian para wisatawan di seluruh dunia. Hal inilah yang membuat pasar tradisional tersebut tak pernah sepi pengunjung sepanjang tahun.

Terlepas dari beberapa fakta di atas, saya tidak berusaha membandingkan keunggulan ketiga pasar tersebut dengan pasar rakyat yang kita miliki. Tetapi sebuah pertanyaan tetap saja menggelitik, bisakah pasar rakyat kita mendunia?.

Apapun faktanya, saya masih menjadi salah satu pribadi yang paling suka berbelanja di pasar rakyat. Begitu pula ketika saya menjalani passion sebagai seorang traveler, pasar rakyat selalu menjadi salah satu tempat yang kukunjungi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Beberapa hal yang menarik perhatian saya untuk mengunjungi pasar rakyat adalah tersedianya kesempatan tawar menawar di dalamnya. Hal inilah yang menciptakan fairness antara penjual dan pembeli. Jika tidak sepakat dengan harga pada sebuah kios, tentu masih ada kios lain yang bisa ditawar harganya untuk barang yang sama. Pasar rakyat pada akhirnya akan menjadi buffer pertama dalam hal permainan harga pasar.

Pasar rakyat juga memungkinkan bagi saya untuk mengeksplorasi kekayaan kuliner lokal di dalamnya. Sebagai contoh ketika saya berburu kuliner khas Kota Solo di Pasar Gede Hardjonagoro, yaitu Dawet Telasih dan Tahok. Bahkan dalam keseharian, saya sering berburu beberapa jajanan lokal seperti Kue Talam, Kue Cucur dan Kue Cente Manis di Pasar Ciracas, Jakarta Timur. Bagaimanapun juga, pasar rakyat di negeri ini telah berusaha maksimal dalam menjalankan peran pentingnya sebagai pelestari budaya kuliner setempat.

Jika kita tilik ke belakang, sebenarnya gencarnya revitalisasi pasar tradisional yang kemudian secara nomenklatur berubah menjadi pasar rakyat telah merubah wajah pasar menjadi lebih menarik untuk dikunjungi. Pasar rakyat pasca revitalisasi telah jauh dari kesan becek, bau dan kotor. Ditambah lagi dengan satu fakta bahwa dinamika di dalam pasar rakyat telah menjadi “bumbu” yang tidak bisa ditemukan di pusat perbelanjaan modern.

Jika pusat perbelanjaan modern sangat identik dengan peniaga bermodal besar maka pasar rakyat adalah muara utama bagi peniaga bermodal kecil hingga sedang yang mayoritas menjalankan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Meningkatnya transaksi di pasar rakyat tentu akan meninggikan harapan mereka untuk terus tumbuh. Pertumbuhan UMKM ini tentu akan bermuara pada satu output yaitu berkembangnya ekonomi kerakyatan. Perlu diketahui bahwa sebuah negara akan mampu menjalankan ekonomi dengan baik apabila negara tersebut mampu menghidupkan sektor UMKM dengan sama baiknya.

Satu hal lagi yang menarik, pasar rakyat di daerahnya masing-masing tentu akan bertransaksi menggunakan adat istiadat, bahasa hingga cara lokal yang unik. Cobalah datang ke Pasar Bisu di Sumatera Barat atau Pasar 46 di Jambi jika Anda ingin menemukan keunikan itu!. Hal-hal seperti inilah yang menjadikan budaya perniagaan lokal tetap terpelihara dengan baik. Lalu, apakah kelestarian beragam budaya perniagaan tersebut menjadi rawan punah tanpa keberadaan pasar rakyat?. Anda sendiri tentu bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Sebenarnya beragam fakta diatas adalah bentuk adding value yang bisa menjadikan pasar rakyat mempunyai keunggulan tersendiri. Adding value ini bisa dijadikan nilai jual kepada para wisatawan yang pada umumnya adalah para pemburu dan penikmat kebudayaan lokal. Pasar rakyat bisa menjadi sebuah destinasi budaya yang menarik apabila aspek brandingnya diperbaiki.

Satu hal terakhir yang kini menjadi pekerjaan rumah bagi pasar rakyat. Pasar rakyat harus dengan cepat menyesuaikan diri terhadap kebiasaan baru pembeli. Pasar rakyat harus mampu memfasilitasi cara bertransaksi yang sedang berkembang pesat yaitu transaksi secara daring. Penyesuaian ini perlu dilakukan untuk membuat pasar rakyat mampu bertahan di tengah gempuran modernisasi perniagaan.

Dari berbagai sudut pandang itulah, saya memiliki harapan besar bahwa keanekaragaman yang menarik ini bisa terus bertahan dan menjadi sebuah edukasi tersendiri bagi generasi muda Indonesia.

Terus berjaya pasar rakyat Indonesia!

@AdiraFinanceID

#AdiraFinanceID

#FestivalPasarRakyat

#Digitalisasi

#BangkitBersamaSahabat