Muscat Gate Museum….Pertahanan Kota Tua Muscat yang Menawan

<—-Kisah Sebelumnya

Khatam menghubungkan potongan-potongan sejarah yang ditampilkan dengan apik di Bait Al Zubair, serta meresapi glamournya karya seni kontemporer di Bait Muzna, maka aku segera memastikan diri untuk bersiap menuju ke landmark lain yang akan tersaji di sepanjang kawasan Mutrah.

Menjauhi area Kalbuh, aku melangkah melalui rindangnya dan suburnya jalur hijau di selatan trotoar menuju barat. Jalur hijau itu dinaungi pohon-pohon palem berukuran besar. Sementara di tengahnya disediakan jalur pejalan kaki dengan dasar pavling block bewarna cerah.

Rindangnya jalur itu secara otomatis membuat langkahku melambat, hal itu mungkin dikarenakan oleh keenggananku untuk terpapar menyengatnya surya lebih lama. Sayangnya, jalur hijau itu hanya membentang sejauh dua ratus meter. Sebagai konsekuensi, aku harus kembali melangkah melawan teriknya surya. Toh, tetap saja aku menerima itu dengan suka cita. Itulah resiko menjadi seorang backpacker dengan anggaran terbatas. Tak perlu iri dengan mereka-mereka yang berwisata dengan diantar oleh shuttle bus yang mewah dan nyaman.

Keluar dari jalur hijau tersebut, tatapku dihadapkan oleh sebuah gerbang raksasa yang mengangkangi Al Bahri Road yang mengalirkan arus kendaraan di bawahnya.

Gerbang itu berwarna coklat muda, panjangnya lebih dari lima puluh meter dari ujung utara ke ujung selatannya. Sebelah utaranya dihiasi dengan pemandangan laut dan di selatannya disuguhkan pemandangan perbukitan berbatu yang menawan. Sementara di sepanjang trotoar menujunya disuguhkan tanaman bunga dominan merah yang dihidupkan dengan teknik drip irrigation.

Aku semakin dekat dengan gerbang agung yang menjadi salah satu landmark menarik di kawasan Mutrah.

Aku pun tepat berada di bawahnya sewaktu kemudian.

Aku tertegun pada ukiran-ukiran batu yang tersemat di sepanjang dinding lorongnya, lampu-lampu dengan desain unik terpajang di bagian atas lorong dalam interval teratur dan lekukan-lekukan berukir di langit-langit lorong tak kalah mempesona.

Ruangan memanjang di bagian atas gerbang dimanfaatkan sebagai museum. Koleksi-koleksi sejarah Oman dari zaman Neolitik hingga era modern disuguhkan dengan apik. Ruangan tersebut memamerkan sejarah mata air Muscat, sumur-sumur kuno, terowongan bawah tanah, pasar, rumah khas, pelabuhan masa lalu dan bangunan-bangunan pertahanan tempo dulu.

Jalur hijau di tepian Al Bahri Road.
Muscat Gate Museum dari kejauhan.
Ini dia gerbangnya.
Sematan berukir di dinding terowongan.
Ukiran di sisi lainnya.
Bunga yang hidup dari drip irrigation.

Dahulunya, bangunan ini dimanfaatkan sebagai pertahanan anti perampok yang berbahaya dan berpotensi menembus batas kota. Dibangun di atas singkapan gunung berbatu yang merupakan batas kota tua Muscat. Tetapi batas itu telah dihapuskan semenjak kebangkitan Kesutanan Oman modern.

Tentu keberadaan museum di atas gerbang ini bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda Oman dalam menghargai warisan kota kuno mereka.Tentu tempat ini juga bermanfaat bagi para pendatang dan wisatawan yang mengunjungi Oman untuk memahami sejarah Oman dengan lebih baik dan jelas.

Di buka untuk umum dari hari Minngu hingga Kamis, mulai dari pukul delapan pagi hingga pukul dua siang. Jaraknya yang hanya berjarak setengah kilometer dari Bait Al Zubair dan hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki, bisa menjadikannya sebagai destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi.