Menuju Zain East Hotel: Berjibaku Mengambil Bacpack

Setidaknya aku bisa menepati waktu kepada diriku sendiri. Tepat dua jam lamanya aku menikmati area Umm Suqeim dengan pemandangan taman dan pantai terbaik.

Tepat pukul empat sore aku sudah mengemasi kamera mirrorlessku ke dalam folding bag. Aku melangkah pergi meninggalkan Umm Suqeim Beach.

Aku melangkah cepat menyusuri jalanan di sisi barat Umm Suqeim Park yang merupakan jalan tembus menuju jalanan utama. Dengan cepat aku tiba di perempatan yang terbentuk dari Jumeirah Beach Street dan Al Thanya Street. Menyeberangi perempatan itu, aku menyasar halte bus Umm Suqeim, Park 2. Itulah sisi yang tepat untuk mencegat Dubai Bus No. 8 untuk kembali lagi menuju area Al Fahidi di pinggiran Dubai Creek.

Hanya perlu menunggu lima menit untuk menunggu bus itu tiba di halte tempatku menunggu. Dengan wajah sumringah aku menaiki bus itu.

Aku akan tiba di bandara tepat waktu malam ini”, aku mengepalkan tangan di bangku belakang.

Bus melaju perlahan meninggalkan area Umm Suqeim.

Perjalanan sedikit melambat di perjalanan karena seorang ibu dengan anak kecilnya yang menaiki bus mendapatkan masalah karena Nol Card yang dimilikinya kehabisan saldo. Pengemudi bus berpeawakan Asia Selatan itu tampak cukup bersabar membantu ibu tersebut. Tetap dibawanya sang ibu lalu pada sebuah halte bus yang berukuran besar, sang pengemudi turun untuk membantu ibu tersebut men-top up saldo Nol Cardnya di RTA Bus Ticket Machine.

Usai kejadian itu, bus pun berfokus menuju Al Ghubaiba Bus Station.

Setelah menempuh perjalanan sejauh hampir dua puluh kilometer dan waktu tempuh hampir satu jam lamanya, akhirnya Dubai Bus No. 8 mulai merangsek mendekati area Al Fahidi yang arus lalu lintasnya semakin padat.

Aku bersiap diri untuk turun di Al Ghubaiba Metro Station sebelum bus benar-benar tiba di depot terakhirnya, Al Ghubaiba Bus Station.

Aku berhasil turun di Al Ghubaiba Metro Bus Stop yang berlokasi di sisi barat Al Falah Street, tepat berseberangan dengan Al Shindagha Museum.

Sebelum menyeberangi jalanan, mataku cukup awas melihat keberadaan stasiun Dubai Metro di seberang timur jalan. Itulah Al Ghubaiba Metro Station yang menjadi tujuanku.

Umm Suqeim, Park 2 Bus Stop.
Dubai Bus No. 8 akhirnya tiba juga.
Pemandangan taman bunga yang indah di sepanjang perjalanan.
Al Ghubaiba Metro Bus Stop di tepian Al Falah Street.

Kini perjalananku menuju penginapan akan berpindah moda menggunakan kereta.

Aku bergegas memasuki stasiun dan menuju ke ruangan bawah tanah untuk menangkap keberangkatan Dubai Metro Green Line terdekat. Aku akan menuju tujuan akhir di Baniyas Square Station yang terletak di Distrik Deira.

Tahapan perjalanan terakhir itu akan melalui terowongan bawah air milik Dubai Metro yang berada tepat di bawah aliran air Dubai Creek.

Perjalanan menggunakan kereta ini menempuh jarak sejauh tiga kilometer dan waktu tempuh sekitar seperempat jam.

Menjelang pukul setengah enam sore akhirnya aku tiba di Baniyas Square Station.

Tiba di stasiun Dubai Metro.
Area parkir sepeda di depan stasiun.
Gerbang Al Ghubaiba Metro Station.
Ruangan bagian dalam Al Ghubaiba Metro Station.

Secara keseluruhan perjalanan, aku membayar tarif sebesar 12,5 Dirham. 5 Dirham untuk membayar tarif bus dari Umm Suqeim Park menuju Al Ghabaiba Metro Station, sedangkan 7,5 Dirham untuk membayar tarif Dubai Metro dari Al Ghubaiba Metro Station menuju Baniyas Square Station.

Kini perjalananku menuju penginapan hanya berjarak tak lebih dari satu kilometer. Aku akan berjalan menujunya lalu mengambil backpack yang kutitipkan di resepsionis Zain East Hotel. Dan untuk kemudian aku akan bergegas menuju Dubai International Airport demi menuju ke Muscat.

Umm Suqeim Park, Salah Satu yang Terbaik di Dubai

Waktu telah menunjukkan pukul dua siang ketika aku melangkah melewati sisi barat Stasiun Pengisian Bahan Bakar Emarat. Emarat sendiri adalah perusahaan minyak milik pemerintah Uni Emirat Arab. Tepat di ujung sisi barat SPBU itu terdapat gerbang untuk memasuki Umm Suqeim Park.

Perutku berbunyi tepat ketika aku melangkah memasuki taman. “Saatnya makan siang”, aku membatin.

Oleh karenanya, aku memutuskan untuk langsung menuju ke toilet demi mencuci tangan. Toilet itu mudah ditemukan di sisi timur. Memasuki toilet aku sungguh takjub karena toilet itu berpenampakan layaknya toilet bandara….Modern, bersih dan wangi.

Selepas itu, aku segera menuju ke tengah taman, mencari tempat yang nyaman dan teduh untuk duduk, mengeluarkan foldable lunch box yang berisi beberapa kerat roti tawar, lalu aku mulai menyantapnya sebagai menu makan siang. Cara bersantap demikian masih saja menjadi caraku untuk menghemat anggaran selama mengeksplorasi kota-kota besar di kawasan Timur Tengah.

Hanya perlu waktu lima belas menit untuk menghabiskan beberapa kerat roti tawar tersebut. Aku pun segera beranjak dari tempat duduk yang berposisi tepat di bawah pohon rindang dan mulau menelusuri taman.

Karena terletak tepat di pinggiran Umm Suqeim Beach maka sudah pasti bahwa dasar dari taman ini adalah pasir. Pasir putih itu membentang menjadi alas utama yang membuat taman tepi pantai itu terlihat sangat unik dan istimewa.

Sedangkan bunga warna-warni yang tumbuh di segenap penjuru taman menjadikan taman itu terlihat sangat asri dan menyenangkan. Bunga-bunga itu dirawat dengan menggunakan metode drip irrigation. Dengan metode ini, air kan dialirkan melalui selang di atas atau dibawah tanah dan dijatuhkan tepat di akar tanaman dengan cara menetes sehingga akan menghemat sumberdaya air di sekitar lokasi taman.

Untuk pepohonan, tentu pohon palem masih menjadi pohon yang paling dominan ditanam karena memang palem adalah salah satu tumbuhan khas Jazirah Arab.

Kuperhatikan dengan seksama bahwa selain tempat duduk di area terbuka, Umm Suqeim Park juga menyediakan bangku-bangku dengan berpelindung umbrella shade ataupun naungan yang tebuat dari kayu dengan atap polycarbonate bening dan tebal.

Lalu fasilitas apa yang terinstall di Umm Suqeim Park?

Terlihat jelas bahwa taman seluas sekitar tiga hektar ini juga dilengkapi dengan jogging track beraspal. Bahkan di sepanjang jogging track tersebut dilengkapi dengan deretan tiang lampu. Tentu hal itu memberikan jaminan kepada masyarakat lokal dan wisatawan bahwa Umm Suqeim Park bisa digunakan untuk beolahraga di malam hari.

Sedangkan children’s play area juga disediakan dengan perlengkapan bermain seperti ayunan, see-saws and monkey bar yang membuat anak-anak bisa ikut beraktivitas ketika sebuah keluarga berkunjung.

Umm Suqeim Park juga menyediakan area parkir bagi mereka yang hendak bermain ke taman bersama keluarga dengan cara berkendara.

Sementara bagi pengunjung yang hendak menikmati taman dengan cara bersantai sembari menyeruput kopi maka pengelola Umm Suqeim Park juga menyediakan beberapa cafe dan restoran.

Misalnya saja di pintu taman sisi utara terdapat outlet Wide Range, sebuah fish and grill restaurant. Tak hanya itu, tepat di tengah taman pun terdapat cafe dan restoran untuk bersantai, outlet kuliner itu bernama Hot Fish.

Mulai memasuki taman.
Toilet di dalam taman.
Dominan beralaskan pasir putih.
Bunga yang hidup dengan metode drip irrigation. Terlihat jogging track yang cukup lebar di sebelahnya.
Tempat duduk beratapkan pelindung.
children’s play area.
Wide Range Fish and Grill Restaurant

Pemandangan lain yang kudapatkan selama berkunjung di taman tersebut adalah masifnya promosi Dubai Dolphinarium yang dilakukan di beberapa bagian taman, baik menggunakan standing banner maupun flyer yang disediakan dibeberapa titik masuk.

Dubai Dolphinarium sendiri adalah destinasi wisata indoor dengan pertunjukan lumba-lumba dan anjing laut di dalamnya.  Wisata tersebut terletak di sebuah kawasan yang bernama Umm Hurair 2,  tepat di sisi barat Dubai Creek.

Berkeliling taman selama hampir satu jam, selalu saja mudah menemukan pemandangan nan memukau. Pemandangan itu tak lain karena Umm Suqeim Park memiliki latar berupa arsitektur ikonik Burj Al Arab. Tak pelak Umm Suqeim Park telah menjadi salah satu taman terbaik di Dubai.

Grand Souq-Bur Dubai: “You Broke My Heart”

Aku melompat turun dari perahu yang difungsikan sebagai taksi air di Dubai Creek. Aku tiba di Bur Dubai Water Taxi Station yang terletak di seberang selatan sungai.

Ketibaanku disambut dengan hamparan plaza yang terlindung oleh pepohonan nan rindang dan aktivitas warga yang duduk bersantai di dalamnya.

Tampak keramaian di booth dominan merah yang menjual tiket Dubai Hop-on Hop-off Bus Tour. Sementara gerai Tropical Sno di tepian sungai yang menjual berbagai minuman dingin dan air kelapa muda tampak dipenuhi para pengunjungnya.

Aku segera meninggalkan plaza yang di sisi timurnya dimarkahi oleh satu menara pengawas klasik bak benteng mungil. Aku berjalan menuju gerbang pasar yang tepat berada di sisi 34th Street.

Tiba di bawah gerbang, langkahku terhenti oleh sepasang turis asal Jepang yang meminta tolong kepadaku untuk mengambilkan foto mereka berlatarkan gerbang pasar. Aku menuntaskan permintaan mereka dengan baik dan aku mendapatkan balasan yang sama, difotokan tepat di bawah gerbang pasar.

Pasar itu Bernama Grand Souq-Bur Dubai…..Sebuah pasar tua di Dubai yang memiliki koridor utama dengan atap kayu berukiran khas.

Aku baru tersadar karena mengunjungi pasar ini di hari Minggu. Padahal pasar ini biasa mencapai puncak keramaian di setiap Jumat, hari yang biasanya akan dimeriahkan oleh karnaval yang dihadiri oleh warga lokal, wisatawan dan para ekspatriat yang mengenakan pakaian serba meriah.

“Tak apalah….Lebih baik menikmati pasar apa adanya”, aku membatin dengan senyum.

Aku mulai berjalan menelusuri koridor utama. Sejauh mata memandang, pasar itu banyak menjual berbagai jenis kain, seperti sutra, katun, satin, dan beludru. Aku begitu menikmati atmosfer perdagangan di pasar tersebut.

Tetiba langkahku terhenti….


Aku tertegun ketika mendapati sebuah bangunan kios bertajuk “Indonesia”, tentu itu adalah nama tanah air tercintaku. Pada detik itu aku tak segera paham kenapa “Indonesia” menjadi nama sebuah kios.

Gerbang Grand Souq-Bur Dubai.
Koridor utama pasar.
Banyak penjual kain kan?
Yuk masuk lebih dalam.
Bangunan tempo dulu.
Kios Indonesia.
Menjelang koridor akhir.
TIba di bagian akhir pasar.

“Apakah untuk menarik wisatawan atau tenaga kerja asal Indonesia?”, aku menerka-nerka karena biasanya warga asal Indonesia memang suka berbelanja….Ah, entahlah.

Aku pun segera mengambil beberapa photo bangunan itu. Dan ketika hendak meninggalkan sisi itu, seorang pedagang yang kuduga berkebangsaan Pakistan menghampiri.


“Halo brother, do you need help?….I can take your photo”, dia menawarkan bantuan.


“Oh, sure, Sir. You are very kind”, aku memberikan gawai pintarku kepadanya setelah mengaturnya sehingga menu kamera siap digunakan.


Snap….snap….snap.


“Thanks, Sir”, aku menerima soloran tangannya yang mengembalikan gawai pintarku.


“Sir, We have nice scarfes for you”, pedagang itu menjulurkan tangan ke arah kiosnya demi membujukku.


“I don’t come here for shopping, Sir….Just for sightseeing”, aku halus menolaknya.


Tak menyerah, salah satu temannya datang dari kios menghampiriku dengan membawa beberapa helai syal. Penuh senyum dia mulai memamerkan kain-kain indah itu di depanku.


“Thanks for your offering, I can’t buy your scarfes”, aku untuk terakhir kali menolaknya halus.


“Oh, brother, you broke my heart”, dia tersenyum rela bahwa syalnya tidak laku dijual kepadaku.


Aku berpamitan kepadanya dan melanjutan penelusuranku di Grand Souq-Bur Dubai.

Menelusuri koridor sepanjang tak kurang dari tiga ratus meter, aku menemukan nuansa klasik Dubai di seantero pasar. Bangunan-bangunan tempo dulu yang difungsikan sebagai kios masih sangat terawat dan berdiri dengan anggun.

Akhirnya aku tiba di ujung pasar yang ditandai dengan keberadaan Grand Bur Dubai Mosque.

Menyeberang Dubai Creek Menuju Bur Dubai

Surya mulai sedikit tergelincir menuju ufuk barat, tapi udara masihlah kering dan menyengat. Kuperhatikan kulitku semakin legam saja sejauh petualangan berjalan.

Sangkala bertengger di angka satu waktu setempat, bertepatan dengan rasa gembiraku karena telah menyentuh garis finish dalam mengeksplorasi kawasan heritage Al Ras di Distrik Deira. Tak kurang dari sepuluh spot warisan yang berhasil aku tengok di kawasan tersebut.

Pada akhir tahapan, aku berdiri di Deira Old Souq Water Taxi Station demi menunggu kedatangan perahu tradisional sebagai satu akses terbaik dan terhemat menuju kawasan Bur Dubai yang berlokasidi seberang selatan Dubai Creek.

Tak perlu menunggu lama, perahu penuh penumpang itu tiba. Merapat pelan ke dermaga dan mengantarkan setiap penumpangnya menuju ke tepian sungai.

Beberapa menit merapat, perahu itu telah kosong kembali. Tampak pengemudinya keluar dari lambung perahu dimana mesin ditempatkan. Kemudian mengambil sebuah jerigen bahan bakar yang diberikan oleh rekannya dari tepian sungai. Tampaknya sang pengemudi sedang mengisi bahan bakar untuk operasional perahu tersebut.

Tak lama tentunya….

“Come…Come….”, pengemudi perahu berperawakan khas Asia Selatan itu melambaikan tangannya kepada calon penumpang yang berada di dermaga.

Tanpa keraguan, aku pun melompat ke atas perahu dengan senang hati walaupun itu bukan kali pertama aku menaiki perahu.

Beda, Boy….ini perahu di Dubai. Perahu yang sering kulihat di layar televisi ketika menyaksikan program siaran TV tentang pariwisata Dubai….Bersyukur sekali, aku benar-benar menaikinya sekarang”, hatiku bergumam menang.

Dalam sekejap perahu itu telah penuh penumpang, sang pengemudi pun berkeliling menarik ongkos kepada segenap penumpangnya. Aku menyerahakan koin seharga 1 Dirham kepadanya sebagai biaya menyeberangi Dubai Creek yang memiiki lebar tak kurang dari dua ratus meter.

Deira Old Souq Water Taxi Station.
Menuju ke perahu.
Perahu pun tiba.
Itu tuh pelampungnya.
Gaya banget sih….Wkwkwk.
Dubai Creek yang tenang.
Bur Dubai Water Taxi Station.

Kuperhatikan dengan seksama bahwa taksi air itu memiliki kapasitas 20 penumpang dengan tempat duduk saling berpunggungan . Taksi air itu memilik panjang hampir 12 meter, memiliki naungan di atas bangku penumpang dimana sisi atap bagian dalamnya dimanfaatkan sebagai tempat menyimpan pelampung.

Perahu pun mulai melintasi Dubai Creek . Saat itu, permukaan sungai memiliki riak yang cukup tenang sehingga membuat hati sedikit tenang ketika melakukan penyeberangan. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit untuk menyeberangi Dubai Creek.

Kuperhatikan dengan seksama bahwa perahu itu tidak berlayar dengan jalur pelayaran yang tegak lurus dengan badan sungai melainkan memiliki jalur pelayaran sedikit menyerong ke arah barat.

Setiba di bagian seberang sungai, aku diturunkan di Bur Dubai Water Taxi Station. Yang kuingat hanyalah dua nama distrik yang mengapit dermaga tempatku diturunkan, yaitu Historical Shindagha District yang berada di utara dari tempatku berdiri dan Al Fahidi Historical District di sisi selatannya.

Lalu….Kemanakah aku harus melangkah?

Dubai Creek: Pemisah Deira dan Bur Dubai

Meninggalkan Utensil Souq dan Herbs Souq, aku perlahan melangkah di Old Baladiya Street menuju selatan. Arah langkahku jelas bahwa aku sedang menuju ke Dubai Creek.

Dubai Creek sendiri adalah sungai kecil yang memisahkan dua distrik utama di Dubai, yaitu Deira dimana aku berdiri siang itu dan Bur Dubai yang terletak di seberang selatan aliran air asin sungai tersebut.

Berdiri pada salah satu titik di Baniyas Road, aku terus memandangi segenap aktivitas yang sedang terjadi di sepanjang Dubai Creek. Baniyas Road menjadi jalan utama yang melekuk mengikuti kontur Dubai Creek di sisi Distrik Deira.

Sedangkan tepat di belakangku berdiri gagah bangunan klasik Dubai Municipality Museum. Entah kenapa museum itu menutup diri rapat-rapat, membuatku enggan untuk melongoknya walau sekejap. Konon tersimpanlah berbagai artefak, barang antik, peta lama kota, perangko lama dan segala dokumen yang bisa menggambarkan aktivitas pemerintahan masa lalu di Emirat Dubai.

Aku memutuskan menyisir tepian Dubai Creek dari sisi timur, tampak keberadaan kapal-kapal kayu berukuran besar tertambat tenang di pinggiran sungai. Sementara stock logistik tersusun menumpuk rapi di tepian sungai tepat di sebelah posisi parkir kapal-kapal tersebut. Beberapa anak buah kapal tampak duduk santai di pinggiran sungai atau di atas tumpukan logistik menunggu pekerjaan dimulai. Suasana siang itu mengingatkanku pada Pelabuhan Sunda Kelapa di ibu kota yang beratmosfer sama.

Sementara papan besar ditempatkan di sisi sungai menampilkan delapan larangan utama yang diterapkan di sepanjang bantaran sungai. Kedelapannya adalah dog walking, kegiatan barbeque, membuang sampah sembarangan, berkemah, memberi makan ikan, merokok dengan sisha, memancing dan kegiatan menggunakan caravan.

Dubai Municipality Museum.
Baniyas Road.
Baniyas Road.
Kapal-kapal besar pengangkut logistik.
Logistik tersusun rapi di tepian Dubai Creek.
Menunggu aktivitas dimulai.
Terminal taksi air (ferry).

Sedangkan sebuah bangunan permanen yang berfungsi sebagai Customer Service Center milik Bea Cukai Dubai ditempatkan di satu titik bersebelahan dengan stasiun taksi air (local ferry).

Sementara itu bagi para wisatawan yang hendak menikmati wisata berkeliling kota menggunakan bus tingkat maka sebuah konter penjualan tiket Dubai Big Bus Tour tersedia pula di sisi sungai. Tiket paling murah untuk tur menggunakan bus ini adalah 145 Dirham. Jika kamu memilih dengan paket khusus yang lain tentu harus merogoh kocek lebih dalam.

Sedangkan untuk mengatur alur lalu lintas dalam menyeberangi Baniyas Road maka selain disediakan zebra cross di permukaan, pemerintah setempat juga menyediakan penyeberangan bawah tanah dari tepian sungai hingga tepat di depan Grand Souq Deira di sisi yang lain.

Selain terintegrasi dengan terminal ferry, area di sekitar Grand Souq Deira ini juga dikoneksikan dengan jalur bus kota dengan sebuah halte di sisi selatan jalan. Melihat keramaian di sekitar Dubai Creek menunjukkan bahwa Distrik Deira menjadi kekuatan ekonomi tersendiri yang dimiliki oleh Emirat Dubai.

Lalu bagaimana dengan keramaian area Bur Dubai yang berada di seberang Dubai Creek sebelah selatan?

Kalau begitu mari kita menyeberang ke sana…..!

Herbs Souq: Tertegun dengan Warna Warni Rempah Arab

Aku sudah menyusuri setiap sisi koridor Grand Souq Deira, menikmati banyak model pakaian khas Jazirah Arab, melongok berbagai macam souvenir, menghirup wanginya kios-kios parfum, serta tertegun dengan warna-warni herbal dan rempah yang melambangkan kekayaan bumi Timur Tengah.

Begitu tiba di ujung timur Grand Souq Deira, rasa penasaranku kembali muncul. Ketika aku berdiri di Old Baladiya Street, tatapan mata kutujukan ke arah utara jalan dua arah yang tak terlalu lebar tersebut.

Ada sebuah signboard di sisi kiri jalan yang menarik minatku untuk mendekat.

“Herbs Souq….Hmhhh, ternyata ada pasar khusus untuk berjualan herbal dan rempah-rempah”, aku membatin penuh penasaran. “Tak ada salahnya untuk mampir sejenak”, aku membujuk diriku sendiri untuk meluangkan waktu.

Maka tanpa keraguan, aku mulai berjalan menujunya.

Memasuki gerbang Herbs Souq, para pedagang mulai ramai menyambut kedatanganku, melambaikan tangan dan membujukku untuk singgah di kiosnya. Tetapi aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala sebagai jawaban bahwa aku tak akan berbelanja apapun di koridor pasar rempah tersebut.

Aku menyediakan sedikit waktu untuk berdiri di bawah gerbang pasar demi mengamati aktivitas perniagaan yang sedang berlangsung di sepanjang koridor pasar.

Yuk, masuk ke pasar rempah !

Koridor?….Benar bahwa fokus perhatian wisatawan pada Herbs Souq terletak di koridornya yang didesain menjadi jalur pejalan kaki dengan atap pelindung yang membuat nyaman. Sedangkan barang dagangan yang berupa herbal dan rempah-rempah diperdagangkan di kios-kios pada setiap sisi koridor.

Aku memelankan langkah di sepanjang koridor demi mengamati berbagai jenis herbal dan rempah yang diperdagangkan. Ada beberapa bahan yang dengan mudah kukenali seperti kurma, kacang kenari, tumpukan oregano, kayu manis dan bunga rosella. Selebihnya aku hanya menikmati warna-warni rempah yang tak kumengerti namanya.

Aku pun kembali menuju gerbang dimana aku masuk ke Herbs Souq itu ketika khatam menelusuri sepanjang koridornya.

Tiba kembali di Old Baladiya Street maka perhatianku kembali tertuju pada satu jenis pasar lagi yang berlokasi di utara Herbs Souq. Pasar itu adalah Utensil Market. Dari namanya saja tentu aku sudah faham bahwa pasar itu meniagakan peralatan rumah tangga.

Walaupun barang yang diperdagangkan tak menarik minatku, tetapi toh aku tetap saja memiliki niat kuat untuk melongoknya walau sekejap saja.

Kulangkahkan kakiku demi memasuki Utensil Market yang gerbangnya masih berada di jalan yang sama dengan tempatku berdiri….Old Baladiya Street.

Tak kalah ramai dengan Grand Souq Deira dan Herbs Souq, Utensil Souq ini juga banyak dikunjungi oleh masyarakat lokal dan wisatawan.

Ini dia gerbang Utensil Market.

Di sepanjang koridor beratapnya, Utensil Market menawarkan berbagai jenis pakaian khas Timur Tengah, tas, bantal, peralatan makan dan peralatan rumah tangga lainnya.

Aku tak terlalu berlama-lama di Utensil Market karena sedari beberapa waktu sebelumnya aku sudah menahan rasa penasaran yang teramat sangat untuk menikmati suasana di tepian Dubai Creek.

Yuk, kita lihat seperti apa  keindahannya…..

Mencari Souvenir di Grand Souq Deira

Melewati Utensils Market.

Suhu udara mulai panas ketika aku keluar dari Museum of the Poet Al-Oqaili. “Pantas saja….Ini hampir tengah hari”, aku membatin kecut sembari menengadahkan muka ke langit. Surya sedang memamerkan terik yang teramat sangat siang itu.

Aku bergegas mencari perlindungan di gang-gang sempit beratap di selatan museum. Aku pun segera tersadar bahwa langkah kaki itu tepat berada di kompleks pasar yang cukup ramai dengan pedagang-pedagang dengan wajah khas Asia Selatan, kebanyakan Pakistan menurutku.

Pada langkah selanjutnya aku telah berada di salah satu koridor “Perfume Market”, kuperhatikan koridor pasar itu terletak bersebelahan dengan “Utensils Market” yang jelas menawarkan barang dagangan berupa perkakas-perkakas rumah tangga.

Melewati dua penjaga yang berbeda kios, aku mulai merasakan atmosfer perniagaan di salah satu sisi Kawasan Al-Ras, tepatnya di tepian Dubai Creek.

Dengan cepat aku melewatkan perniagaan di “Utensils Market” dan mulai melangkah di harumnya koridor “Perfume Market”. Kuperhatikan di beberapa kios, para pedagang menyediakan parfum merek internasional. Selain itu pasar ini menjual beberapa merek lokal yang aku sendiri cukup familiar dengan salah satu nama brandnya, yaitu “Oud” yang merupakan parfum khas Jazirah Arab yang diproduksi dengan cara mengekstraksi kayu Oud. Di Indonesia, mungkin kayu Oud ini masih sebangsa dengan kayu Gaharu.

Aku terus menikmati paparan masif aroma amber, melati atau musk. Hingga akhirnya tak terasa langkahku tiba di Al Abra Steet.

Aku terus saja melangkahkan kaki ke selatan. Benar saja seperti dugaanku, aku menemukan jenis pasar lain tepat di sisi utara Dubai Creek. Grand Souq Deira adalah nama pasar yang tepat berada di depan pandanganku.

Aku tak segera memasuki pasar, melainkan memilih mengamati sekitar pasar terlebih dahulu. Menengok ke arah kanan, langkahku kini telah terbatasi oleh Baniyas Steet. “Aku sudah berada di ujung selatan kawasan Al- Ras”, aku berseru girang pertanda akan segera mencari destinasi baru ketika keluar dari kawasan tersebut nantinya.

Sedangkan sebuah area parkir lebar berhasil memisahkan jalan utama tersebut dengan pasar di sisi utaranya.

Grand Souq Deira nyatanya terletak di dekat Kawasan Pelabuhan. Adapun pasarnya terletak memanjang di sisi utara Baniyas Road, dibatasi Al Abra Street di sisi barat dan Old Baladiya Street di sisi timur. Pasar ini diposisikan tepat di sebuah koridor sepanjang kurang lebih 150 meter.

Berikutnya aku tanpa ragu mulai memasuki ujung koridor sisi barat Grand Souq Deira. Perlahan aku mengamati barang dagangan yang ditawarkan di sepanjang kios. Tampak kios-kios itu menawarkan  barang dagangan seperti mainan, barang-barang rumah tangga, dan berbagai hadiah serta souvenir.

Aku segera beride untuk mencari souvenir buat diri-sendiri. Tanpa kesusahan yang berarti, akhirnya aku masuk ke salah satu kios. Dengan cepat aku mencari sebuah fridge magnet berbahan logam yang dipajang di etalase gantung, mengambilnya satu buah dan membayarnya kepada sang penjual.

Gerbang barat Grand Souq Deira.
Rempah dan obat.
Koridor Grand Souq Deira,
Rempah dan obat.
Gerbang timur Grand Souq Deira.
Bersama Mr. Mousa.

“How much is it, Sir?”

“15 Dirham”

“Can me buy it for 10 Dirham, Sir?”, aku mulai meawar.

“It’s Okay, no matter….Why do you buy one only?”, pertanyaan pembuka sang pemilik toko untuk melakukan  penjualan berantai.

“Oh, it’s just for myself to memorizing my trip, Sir….What is your name, Sir?” jawabku singkat sembari mengajak berkenalan.

“I’m Mousa from Kabul, Sir”. Jawabnya sambil tersenyum.

“Call me Donny, I’m Indonesian”, aku menutup pertanyaan.

Usai membayar aku pun bergegas untuk meninggalkan pasar berusia 172 tahun tersebut.

Selamat tinggal Grand Souq Deira…..

Traditional Spices Market: Berburu Kashmir Shawl

Menjelang pukul sepuluh pagi, aku meninggalkan Al Ahmadiya School yang berlokasi di dalam sebuah gang di tepian Al Ahmadiya Street. Aku sudah ikhlas dalam menerima ketidakberuntunganku karena tidak bisa memasuki tiga peninggalan sejarah, yaitu Al Bait Al Qadeem Restaurant and Cafe, Heritage House dan Al Ahmadiya School yang dua dari ketiganya tampak menutup diri dari para pengunjung karena proses perbaikan.

Beberapa waktu kemudian aku sudah melangkah kembali di Al Ahmadiya Street, menuju ke selatan, tepat ke arah Dubai Creek.

Perlu kamu ketahui bahwa Ahmadiya Street adalah jalan sepanjang setengah kilometer yang membelah kawasan Al Ras tepat di tengahnya. Jalan ini membentang dari utara ke selatan dengan jalur satu arah dan berkarakter memiliki arus kendaraan dengan kecepatan rendah, sedangkan jalur pedestrian di kedua tepinya dibuat dengan ukuran yang lebar demi memfasilitasi wisatawan yang mengunjungi kawasan heritage tersebut.

Sementara itu dalam setiap hentakan langkah, niatanku tak ingin terburu waktu dalam menggapai tepian Dubai Creek. Aku masih berharap menemukan peninggalan penting dari masa lalu lainnya di kawasan heritage tersebut.

Memandangi awas setiap sisi jalanan, menatap satu per satu papan petunjuk jalan, maka aku berusaha keras menemukan spot-spot bersejarah lain.

Dan ternyata, keberuntungan kembali berpihak kepadaku, tepat di sisi kiri jalanan yang kulewati, berjarak tak lebih dari tiga ratus meter, aku kembali dihadapkan pada sebuah spot bersejerah.

Adalah sebuah pasar yang dikelilingi tembok tinggi dengan luas hampir seribu meter persegi dengan dindang berwarna coklat tua. “Traditional Spices Market”, nama pasar tradisional tersebut.

Tepat di depan pasar itu, aku berdiri terkagum, memperhatian arsitektur kuno pasar yang sederhana tetapi mencerminkan kekuatan konstruksi yang digdaya, tebal, mengandalkan bentuk persegi dan memiliki ketinggian yang lebih dari cukup untuk mengamankan kondisi di dalam pasar.

Sesaat kemudian, tanpa ragu aku mulai memasuki bagian dalam pasar rempah tradisional tersebut. Satu hal dominan yang kental tertampil di dalam lingkungan pasar tersebut adalah kesibukan para penjual dalam menyiapkan aneka rempah di depan kiosnya masing-masing.

Karena ini adalah pasar rempah maka aroma kuat dari rempah-rempah sangat tercium lekat di hidungku. Justru aku menikmati aroma itu dan membuatku betah untuk berlama-lama berada di pasar itu.

Mengelilingi pasar lebih dalam, aku mulai menemukan kedai-kedai jenis lain, seperti pakaian, sepatu dan souvenir yang penjualnya tampak ramai berbisnis di beberapa titik di dalam bangunan pasar. Sedangkan jenis dagangan yang berupa makanan, seperti berbagai macam permen, manisan khas Timur Tengah, kacang-kacangan dan teh masih bisa ditemukan di beberapa sisi pasar jika para pengunjung bisa mengekplornya dengan cermat.

Sedangkan beberapa toko lainnya lagi tampak menjual Kashmir Shawl (selendang kas khasmir), wewangian, permadani, dupa dan artefa. Aku melihatnya sekilas di salah satu sudut pasar.

Mengelilingi area Traditional Spices Market di bagian dalam dengan barang-barang dagangan yang jarang kulihat, berhasil menumbuhkan rasa antusias sehingga tak terasa bahwa selama satu jam lamanya aku telah berada di dalam pasar itu.

Memang sesuatu yang berhubungan dengan pasar dan berbelanja akan membuat siapapun terlupa jika sedang berkunjung ke tempat baru.