Mengejar Backpack Dibalik Interogasi Polisi Dubai

Aku tak berpikir panjang lagi, waktuku sangatlah pendek kali ini. Sore semakin tergelincir menuju jam setengah enam di Baniyas Square Station. Sementara aku masih harus berjalan lagi sejauh satu kilometer menuju Zain East Hotel untuk mengambil backpack.

Setelah itu, aku akan kembali lagi menuju Baniyas Square dimana aku berdiri saat itu. Itu karena halte Airport Bus No. 77 berada di salah satu titik alun-alun besar Distrik Deira tersebut.

Kembali ke cerita sehari sebelumnya,

Jika pada pagi sehari lalu, aku menyeberangi Al Musalla Road dengan tertib melewati 3 ruas zebra cross maka sore itu aku memakai cara lain. Entah kenapa tanpa berpikir panjang, aku mengikuti beberapa masyarakat lokal yang menyeberangi Jalan Al Maktoum Hospital Road yang jelas-jelas tak memiliki zebra cross. Kekonyolan itu juga didorong oleh keinginan diri untuk berhemat watu demi menuju ke penginapan.

Aku pun dengan awas, mengengok ke kiri dan ke kanan, mencari sela kosong untuk menyeberang. Aksi itu berhasil dengan mulus hingga aku tiba di sisi jalan di seberangnya.

Tetapi tiba-tiba langkahku terhadang oleh seorang lelaki muda yang mengenakan celana jeans dan t-shirt berk rah warna hijau…..

Hallo, Sir. Plis prepare your ID Card!….I’m police”, ternyata dia seorang opsir polisi yang menyamar.

Aku yang kaget karena hadangan itu bisa merasakan perubahan kecepatan degup di jantung….Pasrah tanpa perlawanan.

Aku merogoh bagian dalam folding bag, mengeluarkan paspor lalu menyerahkan kepadanya, “This is, Sir”.

Do you have local ID Card?”, polisi itu kembali menanyaiku, sementara warga sekitar banyak berdiri melihatku.

Sial, aku sudah mirip penjahat saja”, batinku berontak.

No, Sir. I’m tourist”, aku menjawab singkat.

Follow me !” dia membalik badan menuju ke sedan polisi warna putih polos yang terparkir di sisi selatan Al Musalla Road.

Di samping pintu mobil sudah ada seorang lelaki warga lokal menunggu. Lelaki berbaju oranye itu berdebat dengan polisi tersebut. Untuk kemudian polisi itu mengeluarkan semacam mesin EDC lalu memberikan denda sebesar 260 Dirham untuk perilaku lelaki berbaju oranye itu yang menyeberang sembarangan.

Ah….Sial”, wajahku mulai pias.

Are you working in Dubai?”, pertanyaan polisi itu untukku

No Sir. I’m just tourist and for first time in Dubai”, jawabku singkat jelas.

Why don’t you cross in the right place”, dia memarahiku

Yesterday morning, I pass this area and I crossed it through that zebra cross. This afternoon, I apologize because I cross the road in the wrong place because I must go to hotel to take my backpack and I’m chasing airport bus for my flight to Muscat tonight. Very sorry, I’m in a hurry now, Sir”, aku menjelaskan lengkap bahwa aku sungguh sedang terburu-buru.

Polisi itu pun diam sejenak memeriksa passporku lembar demi lembar.

Okay, I forgive you today. But for your fault, I still record your violation in our system….Be carefully”, dia menyerahkan passporku

Thank you very much, Sir. You are very kind”, aku membungkuk takzim kepadanya.

Mobil warna putih itu adalah mobil polisi yang menangkapku.

Aku pun melangkah pergi menuju ke hotel.

How much fine do you have to pay to him?”, seorang wanita lokal keturunan Afrika tiba-tiba melangkah menyejajari langkahku.

No fines at all. He forgives me”, aku menjawab penuh senyum bahagia

You are lucky. I once got fine 300 Dirham when a policeman caught carelessly crossing”, dia bercerita penuh semangat.

Oh ya…”, aku menjawab basa basi sambal mempercepat langkah dan mulai meninggalkannya jauh di belakang.

Aku harus cepat menggapai penginapan.

Traveler Bed Space For Male: “Nepalese….Nepalese?”

Baniyas Square….Tampak Dubai Bus bernomor 77 dan Mahboubi Medical Centre yang tinggi menjulang.

Pagi itu jalanan masih lengang. Namun kondisi itu tak serta merta mencuatkan takut dalam hati . Aku diturunkan oleh Dubai Bus Nomor 77 di sebuah alun-alun, Baniyas Square namanya, alun-alun yang terbentuk dari persilangan dua jalan protokol yaitu Al Maktoum Hospital Road dan Al Musalla Road. Dengan berdiri di tempat itu, berarti aku sudah berada di tepian barat Distrik Deira. Dan ketika menginjakkan kaki di Baniyas Square, tengara penting yang menarik perhatianku adalah Mahboubi Medical Centre yang tertampil dalam warna coklat dengan kelir hijau.

Langkah kaki mulai kuayun dengan mengitari zebra cross yang terlukis melingkari perempatan besar. Walaupun jalanan terlihat kosong, aku tak cukup nyali untuk mengompas jalur. Khawatir dihakimi peraturan lalu lintas yang kerap kali menyuguhkan denda, apalagi kuperhatikan ada beberapa unit CCTV yang mengintai ke arah perempatan. Menjadikanku harus sering berhenti menunggu nyala lampu hijau walaupun sebetulnya jalanan kosong melompong.

Usai menaklukkan perempatan, aku menyusuri tepian Al Musalla Road yang sunyi. Al Musalla Road sendiri merupakaan jalan dengan trotoar pembatas kecil di kedua ruasnya. Dalam langkah, sesekali aku berpapasan dengan warga lokal berumur yang sedang menikmati jogging pagi. Tak ragu mereka melemparkan senyum kepadaku, membuatku semakin berani melawan kelengangan kota.

Selanjutnya aku tiba di sebuah taman yang cukup lebar, kondisinya juga masih sunyi, Naif Park namanya. Aku terduduk di bangku beton tepat di depan taman itu. Menaruh backpack dan menyempatkan diri untuk menghirup panjang kesegaran udara pagi dan sejenak melepas pegal badan di bangku itu. Hanya saja rehatku terganggu oleh serakan poster mini seukuran kartu nama yang menawarkan jasa pijat dengan foto-foto seksi wanita Kerala….”Jangan-jangan pijat plus-plus ini mah”, batinku berprasangka buruk sembari melihat tajam foto-foto itu….Astagfirullah.

Tenaga telah terisi ulang, langkahku berlanjut dengan merubah haluan menuju timur, menyisir jalanan lain, yaitu Naif Road yang tak kalah lebar dengan Al Musalla Road. Hanya saja pembatas kedua ruas kini berganti menjadi jalur tanaman hias yang menghias sepanjang jalan.

Aku sengaja mengompas jalan supaya tiba lebih cepat di penginapan. Oleh karenanya usai melangkah sejauh tiga ratus meter di Naif Road maka aku memotong jalur dengan memasuki sebuah gang kecil demi menuju ke utara. Maka menyeliplah aku diantara bangunan-bangunan ruko dan rukan sekian lantai di salah satu sentra ekonomi milik Distrik Deira.

Melintas di Al Musalla Road.
Masih di Al Musalla Road.
Kacau…..Banyak nemu beginian di trotoar dan bangku taman.
Suasanan Naif Park.
Memasuki Naif Street.

Strategiku untuk mencapai penginapan sangatlah mudah. Aku hanya perlu mencocokkan titik penginapan yang dijelaskan pada cetakan surat konfirmasi pemesanan kamar dengan titik biru yang terus bergerak pada layar GPS telepon pintar yang terus kuamati sedari awal.

Singkat cerita, setelah meliak-liuk di beberapa jalan tembus, akhirnya aku tiba tepat di titik yang dimaksud. Di salah satu titik perempatan berukuran sedang, aku berdiri termangu, mengamati lekat-lekat sebuah toko peralatan elektronik dengan dinding kaca yang masih tertutup rapat, tidak ada pertanda adanya penginapan sama sekali.

Aku yang memiliki waktu bicara gratis tiga menit dari SIM Card Du Mobile akhirnya mencoba menelpon nomor penginapan yang tertera di surat konfimasi pemesanan.

“tut tut tut tut….”, begitulah bunyinya…..

Instingku mengatakan bahwa aku telah kehilangan jejak….Aku sedang tidak dalam kondisi yang baik-baik saja…..

“Plaaakkkk….”, sebuah tepukan keras mendarat di pundak kananku.

“Nepalese….Nepalese?”, lelaki muda bertubuh kurus tinggi dan berbadan gelap menengadahkan  telapak tangan yang kelima jarinya menunjuk ke mukaku.

“Nup….Nup…Indonesia”, aku menjawab tidak antusias.

“You like Nepalese, bro”, dia melempar senyum sembari menggelengkan kepalanya.

“Oh, thanks….”, aku menjawab sekenanya.

Lelaki muda itu pun angkat kaki dari hadapan dan aku kembali masuk dalam kebingungan…..

Do something, Donny….Do something!”, aku memarahi diriku sendiri

Dubai Bus No 77: Menjemput Masalah di Baniyas Square

Tetiba terbangun….

Aku tetiba terbangun dari tidur, jam biologisku mengatakan bahwa sudah saatnya untuk melaksanakan Shalat Subuh. Masih mengucek mata, aku memperhatikan sekitar, mencari tengara yang bisa mengarahkanku menuju musholla.

Aku mendapatkan tengara itu di dekat escalator, maka dengan sigap aku menujunya. Dengan mudah aku menemukan Prayer Room itu di lantai atas.

Entah kenapa, Shalat Subuh itu berlangsung sangat khusyu’. Entah karena imamnya memang seorang Arab dengan lafal Al Qur’an yang bagus atau karena rasa bersyukurku kepada Sang Kuasa yang telah mengantarkan pada titik petualangan hinga sejauh ini.

Usai shalat, tanpa membuang waktu, aku keluar dari Terminal 1 dan menuju halte bus yang berlokasi tepat di depan pintu masuk bangunan bandara. Halte itu sudah penuh dengan calon penumpang ketika aku tiba. Membuatku mengalah untuk berdiri sembari menunggu kedatangan bus. Kali ini aku menyasar bus bernomor 77.

Mencari bus menuju pusat kota.
Suasana pagi di depan bangunan bandara.

Tak lama menunggu, bus itu pun datang. Tapi ada sesuatu yang mengganjal ketika aku hendak menaiki bus itu. “Apa iya, kota semodern Dubai akan menerima pembayaran cash di atas bus?”, aku bertanya kepada diriku sendiri.

Untuk mengusir keraguan itu maka aku bertanya kepada seseorang di halte bus.

“You must buy Nol Card at Dubai Metro station. Go to the top floor, Sir!”, dia menunjukkan jarinya ke lantai atas bangunan terminal bandara.

Mengucapkan terimakasih atas petunjuknya, maka aku segera beranjak dari halte bus demi menuju Airport T1 Station di lantai atas.

Menemukannya dengan mudah maka aku segera mengantri di loket Dubai Metro. Tak berselang lama, akhirnya aku mendapatkan Nol Card seharga 25 Dirham. Kini aku bersiap menuju ke pusat kota menggunakan kartu transportasi itu.

Kembali ke halte, aku akhirnya mendapatkan kembali Dubai Bus Nomor 77. Aku memasuki melalui pintu tunggal di bagian tengah dan mentap Nol Card di fare machine. Aku melihat kartuku berkurang 3 Dirham dan tujuanku adalah Baniyas Square Station yang berlokasi di Distrik Deira.

Sangkala sudah tergelincir jauh dari pukul enam pagi ketika bus yang kunaiki mulai merangsek melalui Airport Road, lalu berlanjut ke Al Maktoum Road untuk menuju tujuan akhir.

Sepanjang perjalanan, suasana masih gelap, tak sedikit pertokoan yang masih menyalakan lampu, begitu pula dengan kendaraan-kendaraan yang melintasi jalanan kota masih menyorotkan lampu di sepanjang jalan.

Perjalananku memasuki pusat kota Dubai boleh dibilang tak terlalu jauh, hanya berjarak tak lebih dari enam kilometer dan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar dua puluh menit.

Berburu Nol Card.
Interior Dubai Bus Nomor 77.
Penampakan Mall Al Ghurair Centre (merah) dan  Al Masraf Building (menjulang di kejauhan) dari Al Rigga Road.
Dubai Bus Nomor 77.
Gerbang Baniyas Square Station.
Salah satu sisi Baniyas Square.

Lewat pukul tujuh pagi, akhirnya bus tiba di Baniyas Square. Baniyas Square sendiri adalah alun-alun utama di Distrik Deira yang merupakan salah satu pusat sejarah kota megapolitan Dubai.

Aku harus segera menemukan penginapan yang sudah kupesan melalu e-commerce penginapan ternama secara daring.

Tak pernah kusangka, di sinilah masalah besar akan datang menderaku……