Dōtonbori Canal: Hitung Mundur Tahun Baru yang Gagal

<—-Kisah Sebelumnya

Hi Sir, have fun and enjoy the New Year’s Eve”, resepsionis ramah berkacamata itu berhasil menebak niatku ketika hendak meninggalkan lobby Hotel Kaga.

Hi, you know that….Hahaha….You too, Sir. See you”, aku berseloroh ringan.

See you, Sir”, resepsionis itu masih saja melempar senyum.

Aku mulai melangkah di jalanan dengan suhu sekitar mendekati nol derajat Celcius. Muka terasa beku demi mengikuti ayunan langkah menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Untuk ketiga kalinya aku melewati Saka-suji Avenue.

Malam ini akan banyak orang mabuk di jalanan”, batinku mengingatkan logika untuk terus berhati-hati walaupun Jepang tergolong negara yang aman.

Enjoy Eco Cardku masih ampuh hingga malam itu untuk menelusuri lorong-lorong bawah tanah Kota Osaka. Kini aku sudah melaju bersama gerbong Osaka Metro Midosuji Line menuju Stasiun Namba. Aku sengaja menaruh Dōtonbori Canal sebagai destinasi terakhirku di Kota Osaka dan aku dengan cerdik menempatkannya di saat perayaan malam tahun baru.

Pasti disana bakal meriah”, batinku girang.

Gerbong kereta yang kunaiki tampak penuh. Sebagian diantaranya bukanlah wajah-wajah Jepang. Pasti mereka adalah para pelancong yang berniat sama denganku, menikmati malam pergantian tahun. Perjalananku menuju Stasiun Namba berlangsung sangat cepat karena dari Stasiun Dobutsuen-mae tak berselang satu stasiun pun menujunya. Aku tiba dalam sepuluh menit.

Keluar dari gerbang Stasiun Namba, aku berjalan kaki menelusuri Mido-suji Avenue. Terus mengarah ke utara. Perkiraanku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mencapai Dōtonbori Canal. Tetapi sudah dua puluh menit aku tak kunjung sampai.

Wah….Pasti aku nyasar”, mukaku mulai kecut.

Aku memberanikan diri bertanya kepada seorang polisi lalu lintas yang tampak sedang berjaga di salah satu sisi trotoar.

Sir, do you know where is this place?”, aku membuka gawai dan menunjukkan sebuah papan neon Glico bergambar lelaki berlari yang terkenal itu.

Dia tersenyum ramah dan mengangguk-angguk sambil berseloroh bersemangat “Oh…Thele….Thele”.

Thank you very much, Sir”, aku melambaikan tangan sembari melangkah meninggalkannya.

You ale welcome”, polisi itu kembali memperhatikan sekitar.

Sepuluh menit menelusuri balik jalur yang telah kutempuh tadi, aku melihat beberapa rombongan turis Eropa menuju ke salah satu arah. Aku yakin itulah tempat yang kutuju. Aku mengekor rombongan turis itu. Benar adanya, mereka juga menuju Dōtonbori Canal.

Aku di Dōtonbori Canal.
Papan neon Glico bergambar lelaki berlari.
Tengara terkenal di Osaka.

Dōtonbori Canal pukul sepuluh malam telah meriah. Badan kanal dipenuhi para turis, sementara restoran dan bar tampak penuh. Turis berduit tentu lebih memilih menunggu malam pergantian tahun dari restoran dan bar yang menawarkan udara hangat. Tetapi aku memutuskan menunggunya di tepian kanal, berkeliling kesana kemari, berusaha menikmati suasana walaupun terdistraksi dengan udara beku Osaka.

Satu jam berlalu ketika aku menyusuri setiap sisi di tepian kanal, kemudian aku berdiri mengambil tempat di bawah jembatan, bermaksud menemukan udara hangat . Tapi percuma, udara sudah turun di bawah nol derajat Celcius. Ketika aku tak sanggup menghadapi udara beku itu, aku bergegas menuju ke kedai penjual Takoyaki. Aku sengaja mengantri , menunggu pesanan, dan memakannya berlama-lama di depan kedai itu untuk mendapatkan paparan hawa hangat yang tersembur dari tungku kedai.

Nempel-nempel kompor mencari kehangatan.

Hampir setengah jam aku memanfaatkan situasi itu untuk memanipulasi suhu dingin. Hingga akhirnya aku mengusir diri karena antrian pembeli mulai ramai. Aku kembali ke kanal setengah jam sebelum hitung mundur tahun baru.

Ketika berjibaku kembali melawan dingin pada sebuah sisi kanal, aku mendengar sayup bahasa dan logat yang sangat kukenal.

Ngenteni kene wae cah, ra sah adoh adoh”, seloroh itu samar terdengar.

Aku menoleh ke belakang, empat pria dan dua diantaranya berambut gondrong sedang duduk di sisi kanal, memegang sebotol besar minuman beralkohol. Itu memang cara efektif melawan dingin. Aku jadi teringat dengan minuman beralkohol yang kumiliki karena salah beli di Narita International Airpot sehari lalu. Tapi aku belum menyerah, aku tak akan menenggaknya.

Aku terus menahan dingin yang semakin menjadi. Kedua tanganku mulai kebas. Tapi aku berusaha tetap tenang. Hingga akhirnya lima menit sebelum countdown tiba. Para turis mulai tumpah ruah ke sepanjang sisi kanal, restoran dan bar ditinggalkan. Semua berharap akan ada pertunjukan kembang api yang elegan. Hingga saatnya tiba, hitungan itu benar-benar dimulai.

Tennnn….Nineeee….Eightttt….”, hitungan semakin kencang

Threeee…..Twoooo….Oneeee…..Happyyyy Newwww Yeearrrr”, tapi semua sontak terdiam dalam tiga detik.

Suasana Dotonbori Canal tetap lengang, tak ada yang istimewa. Hingga lima belas menit kemudian tetap sama, lengang.

Ah, gagal total”, aku mulai kesal.

Turis lain pun mulai mengeluh.  Tak akan ada pertunjukan kembang api. Hingga akhirnya sepuluh pemuda Jepang berinisiatif mengakuisisi suasana dengan menaiki pagar jembatan. Mereka melepas pakaian dan menyisakan celana dalam dalam kondisi suhu yang sangat dingin.  Kemudian salah satu mereka mulai berteriak.

Threeee….Twoooo….Oneeee”, sambil melompat meliuk bak atlet lompat indah dengan kepala menghujam ke air terlebih dahulu.

Byurrrr….

Kemudian tingkah yang sama mulai dilakukan oleh temannya yang sudah bersiap dan berdiri di atas pagar jembatan. Berhitung dalam tiga hitungan mundur, meluncurlah dia ke dalam air. Dan pertunjukan itu terhenti hingga orang ke sepuluh. Setidaknya apa yang mereka lakukan bisa mengobati rasa kecewa seluruh pengunjung Dōtonbori Canal.

Pertunjukan loncat indah telah usai.

Menjelang pukul satu dini hari. Udara yang awalnya terasa lebih hangat karena kerumunan ratusan pengunjung akhirnya lindap. Suhu mendingin kembali dengan cepat karena para pengunjung mulai meninggalkan Dōtonbori Canal. Aku mulai pergi dari tempat itu menuju Stasiun Namba.

Beberapa menit kemudian, Osaka Metro mengantarkanku kembali ke Stasiun Dobutsuen-mae. Beruntung sekali Enjoy Eco Cardku (One Day Pass) masih berlaku walau sudah melewati batas masa pakai yaitu pukul 00:00. Mungkin ini menjadi bonus dari Osaka Metro untuk perayaan tahun baru.

Sampai Stasiun Dobutsuen-mae, lalu aku meninggalkannya dengan langkah cepat. Saka-suji Avenue sudah lengang, bahkan perjalananku diwarnai dengan insiden pengemudi mabuk yang menghentikan mobilnya di tengah jalanan hingga beberapa orang berusaha mendorongnya ke tepian. Di sebuah persimpangan aku berbelok bersamaan dengan selorohan “Helloooo….Happyyyy Newwww Yearrrr, Sirrrr”, orang itu mengendarai sepeda dengan tangan kanan menggenggam sebotol minuman beralkohol.

Happy New Year, Sir”, aku membalasnya untuk menunjukkan keramahan.

Hingga akhirnya langkahku tiba di Hotel Kaga. Aku merasa lega karena aku pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Resepsionis itu masih saja setia dengan tugasnya, menunggui mejanya dengan disiplin.

Are you happy, Sir?….Good luck for you in the new year”, dia tersenyum menyambutku.

Sure, Sir…I hope so for you”, aku membalasnya. “It’s time to sleep”.

Yeaa….Heve a good sleep, Sir

Aku meninggalkannya menuju ke lift, lift itu mengantarkanku hingga ke lantai tiga. Aku gontai melangkah menuju kamar. Memasuki kamar, melepas sepatu boots, menarik kasur lipat, dan tanpa mandi, aku langsung menghempaskan badan dan dengan cepat aku terlelap.

Sementara botol minuman beralkohol yang telah tertenggak satu teguk secara tak sengaja dua hari lalu itu berdiri anggun di meja kecil kamar. Yess, aku tak menyentuhnya saat malam tahun baru. Artinya, petualangan botol minuman beralkohol itu tamat dini hari itu. Karena menjelang siang nanti aku akan pergi meninggalkan Osaka dan menuju Busan.

Korea Selatan, Aku datang!

Uang Koin di Amerikamura

<—-Kisah Sebelumnya

Dari Stasiun Namba aku menaiki Osaka Metro di arus Midosuji Line, tak berselang satu stasiun pun, aku turun di Stasiun Shinsaibashi. Kemudian mulai mengambil langkah ke selatan menelusuri Mido-suji Avenue. Mido-suji Avenue sendiri berupa jalanan empat ruas yang diapit oleh jalur lambat di kiri-kanannya. Jalur lambat dan jalur cepatnya dibatasi oleh jajaran pepohonan rindang yang tertata rapi mengikuti kontur jalan.

Dalam tiga ratus meter ke depan, aku akan sampai di Amerikamura. Jaraknya yang cukup dekat dari Namba Parks membuatku tertarik untuk sekalian menyambangi tempat itu.

Amerikamura atau khalayak sana menyebutnya Amemura adalah perkampungan yang didesain ala Amerika sepanjang sembilan blok dan terletak persis di sisi timur Mido-suji Avenue, di Distrik Kota Chūō-ku tepatnya. Sebelah selatan perkampungan ini dibatasi oleh Dōtonbori Canal, sebelah utara dibatasi oleh Nagahori-dori Avenue sedangkan sebelah timur dibatasi oleh jalur Osaka Metro Yotsubashi Line. Amerikamura menempati lahan tak kurang dari enam belas hektar. Luas bukan?

Di depan New American Plaza.

Mengadopsi lifestyle bangsa Amerika, maka daerah ini sangat kental dengan brand Paman Sam. Memasuki sebuah gang, langkahku disambut oleh gerai Starbucks lalu gerai McDonald’s meyusul setelahnya. Toko-toko fashion dengan logo Levi’s, Ralph Lauren, Calvin Klein dan brand ternama lainnya sangat mudah ditemukan.

Gang di kawasan Amerikamura memiliki lebar tak lebih dari lima meter. Jalurnya yang sempit membuat arusnya dibuat satu arah. Tiang lampu jalan didesain bak karakter hidup yang ceking dan tinggi. Seni mural juga mudah ditemukan di setiap sisi Amerikamura. Sepanjang tepi trotoar dipasang bollard untuk melindungi pejalan kaki. Sedangkan persewaan sepeda bertebaran di berbagai titik.

Sepanjang kaki melangkah, Amerikamura memang didesain sebagai tempat berbelanja.  Toko fashion berjajar sangat rapat menjejali setiap sisi jalan berpadu dengan bar, minimarket, restoran dan tentunya penginapan.

Hampir satu jam berkeliling ke setiap sudut Amerikamura, aku mulai merasa lapar. Aroma menggoda makanan khas Asia Timur konsisten mencemari jalanan. Aku memutuskan untuk mulai mencari tempat makan. Beruntungnya, kebanyakan restoran di Amerikamura menampilkan harga menu andalannya di depan pintu. Jadi setiap pengunjung bisa memilih makanan yang sesuai dengan minatnya. Kalau aku, bukan perihal menu, aku menilik setiap menu yang terpampang hanya untuk melihat berapa harga terendahnya. Lama sekali mencari restoran untuk mendapatkan harga yang bersahabat dengan kantong.

Langkahku akhirnya terhenti pada sebuah restoran rumahan yang menawarkan menu hemat. Restoran ini dikelola oleh si empunya rumah dibantu oleh anak laki-lakinya yang tampak masih bersekolah dasar.

Aku duduk di bangku pojok berselang satu meja dengan perempuan kantoran berusia muda yang tampak bersemangat menyantap sajian mie di depannya. Aku memesan chicken ramen dan seperti biasa untuk minum, aku mengandalkan air putih yang disediakan dalam teko di setiap meja restoran. Dalam duduk, aku memperhatikan kelincahan anak itu dalam mengantarkan pesanan setelah bapaknya selesai mengolah menunya.

Tak lama setelah memesan, chicken ramenku pun datang. Aku menyantapnya sambil membunyikan serutupan mie di mangkok, tentu aku ingin menghormati dan menunjukkan bahwa chicken ramen si empunya restoran begitu nikmat. Chicken ramen itu habis tak kurang dari lima belas menit.

Nyammm….

Kini aku menampilkan kekonyolan berikutnya. Aku sengaja  membayar dengan uang koin. Karena  aku memang memiliki banyak uang koin yang terkumpul sedari petualanganku di Tokyo. Ketika si anak memberikan bill di nampan kecil, aku menumpahkan koin senilai 600 Yen (Rp. 81.000) di nampan itu. Si anak terlihat kerepotan dan gugup menghitungnya. Aku hanya tersenyum geli melihatnya ketika dia harus mengulang-ulang dalam menghitung koin itu. Perempuan kantoran di sebelah bangku pun tampak tertawa menutup mulut dengan tangannya.

Merasa menyerah menghitungnya, si anak melarikan nampan itu ke meja kasir dan menyerahkan kepada bapaknya untuk menghitung. Setelah selesai menghitung, si Bapak menuliskan sesuatu pada kertas bill dan si anak kembali menujuku. Oh, si Bapak menuliskan bahwa aku membayar kurang 12 Yen. Aku menggenapi kekurangan itu dan si anak tersenyum lebar menatapku. Aku membalas senyumnya dan mulai berkemas untuk meninggalkan restoran.

Kisah Selanjutnya—->