Menikmati Akihabara dari Kanda River

<—-Kisah Sebelumnya

Electronic Town South Exit

Makan malah sudah selesai. Aku bergegas meninggalkan Ameyoko Market dan kembali berjalan kaki menuju Hirokoji Exit milikStasiun Ueno. Langkahku semakin cepat dan mudah karena Tokunai Pass masih aktif dalam genggaman. Aku bak punya kuasa untuk keluar masuk setiap stasiun sedari siang tadi.

Beberapa menit lagi menginjak pukul 18:00, ketika kereta Yamanote Line menjemputku di sebuah platform Stasiun Ueno. Aku menaiki kereta yang sangat padat dan berbaur dengan para pekerja kota. Keadaan dalam gerbong telah mirip dengan gerbong KRL Commuter Line Jabodetabek, berimpit dan berdesakan rapat.

Kali ini aku akan bergerak menuju selatan, sejauh dua kilometer untuk mengunjungi pusat elektronik terkemuka di kota Tokyo, yaitu kawasan Akihabara, orang Jepang lazim menyebutnya dengan panggilan Akiba.

Tak sampai sedasa menit, akupun tiba. Dengan mengunjungi Akiba berarti aku resmi meninggalkan Distrik Kota Istimewa Taitō dan memasuki distrik yang lain, yaitu Chiyoda. Sebuah distrik yang tenar dengan keberadaan Imperial Palace yang tak lain adalahkediaman Kaisar Jepang.

Aku melangkah keluar meninggalkan Stasiun Akihabara melalui Electronic Town South Exit. Keluar dari gate itu, aku sekejap berdiri di sebuah jalanan yang tak begitu lebar, hanya berkisar enam meter dan langsung terintimidasi dengan bangunan tinggi milik LABI Akihabara yang terpampang jelas menawarkan barang-barang elektronik berstatus duty-free.

Gedung itu bersebelahan dengan Akihabara Radio Kaikan, bangunan komersial sepuluh lantai di sebelah kanannya yang hanya menyisakan selarik gang sempit. Sementara peringatan larangan merokok di serukan di setiap tiang dalam wujud No Smoking Sign yang mudah ditemukan dimana-mana. Kemudian di ujung jalan sana, terdengar suara yang keluar dari speaker luar milik Maidreamin Akihabara.

Kiri: Akihabara Radio Kaikan Building.
Sky Hop Bus itu bertarif 2.000 Yen (Rp. 280.000).
Diatas itu adalah kereta Sobu Line.
Maidreamin Akihabara, sebuah maid cafe terkenal di Jepang yang pelayannya menggunakan kostum maid.

Aku terus menyusuri arah timur hingga menemukan jalanan utama, Chuo-dori Avenue dan sangat terasa bahwa suhu semakin dingin ketika aku tiba di tepi Kanda River. Kuputuskan untuk menikmati keramaian Akiba dari atas sungai itu, karena sejak tadi aku tak begitu tertarik memasuki beragam toko elektronik di setiap jengkal Akiba. Bagaimana aku tertarik jika untuk membeli benda elektronik mungil macam adapter stopcontact saja, harus merogoh kecek hingga 1.000 Yen (Rp. 135.000).

Di jalanan Akiba, hilir mudik warga lokal begitu cepat, mereka seolah mengejar waktu untuk segera pulang ke rumah masing-masing selepas bekerja seharian atau beberapa karyawan malam yang masih terlihat segar bugar menyongsong waktu kerja di kantor mereka masing-masing.

Tak genap satu jam aku berada di Akiba, suhu dingin membuatku menyerah dan memutuskan untuk undur diri lebih cepat. Aku bergegas menuju Electronic Town South Exit milik Stasiun Akihabara.

Semakin malam, petualanganku akan semakin berat karena harus melawan suhu musim dingin di Jepang. Tapi aku akan berusaha sekuat mungkin menahannya, karena aku tak mau dengan mudahnya melepas begitu saja waktu-waktu eksplorasiku disana.

Kini aku akan kembali bergerak menuju ke Distrik Shibuya.

Kisah Selanjutnya—->

Makan Malam di Ameya Yokocho, Taitō

<—-Kisah Sebelumnya

Platform Stasiun Shibuya.

Aku sudah berdiri lagi di platform kereta, tepatnya di Stasiun Shibuya, dalam ruas Yamanote Line, tepat pada pukul 15:48. Matahari telah undur diri di cakrawala kota dan membuat suhu terdegradasi ke titik 3o C. Lantas udara yang telah menjelang beku itu dengan mudah menembus tebalnya gloves hitam di kedua telapak tanganku. Tapi akan menjadi preseden memalukan apabila aku harus menyerah dan memilih meringkuk di peraduan Yadoya Guesthouse.

Aku sudah bersiap diri menjelajah Distrik Kota Istimewa Taitō. Dua belas kilometer di timur laut Distrik Khusus Shibuya, berjarak tempuh tiga puluh menit.

Ameya Yokocho adalah alasan utamaku singgah menuju Stasiun Ueno. Adalah pasar serba ada, serba murah dan serba discount. Konon jika hendak makan malam murah, maka para traveler berbondong menuju ke exs-pasar gelap yang sudah ada sejak Perang Dunia II itu.

Aku tiba di Stasiun Ueno tepat pukul 17:35. Keluar di Hirokoji Exit, pintu keluar terbesar di selatan bangunan stasiun. Pintu keluar ini memiliki halaman luas dan tepat menghadap Chuo-dori Avenue, berseberangan dengan Ueno Marui Department Store (OIOI), pusat fashion kenamaan  di Distrik Kota Istimewa Taitō yang menjulang tinggi dengan sembilan lantai.

Gelap mulai mengakuisisi hari ketika aku memulai langkah menuju ke Ameya Yokocho. Lebih ringkas dipanggil Ameyoko atau Ameyoko Market. Belum tiba pun aku membayangkan bahwa pasar itu sudah mulai ramai dan bertebar aroma masakan. Menjadikan perut keroncongan sepanjang jalan.

Aku menyusuri jalanan di bawah jalur layang kereta, mengarah ke selatan. Jarak pasar itu berkisar dua ratus meter, hanya lima menit dari Hirokoji Exit.

Tibalah langkahku di sebuah pertigaan yang di salah satu jalannya berdiri gerbang Ameyoko Market. Aku menghadap ke dua buah percabangan jalan yang keduanya adalah bagian dari jalur pasar itu. Tapi aku salah mengira. Bukan aroma harum makanan yang kucium, tetapi justru bau amis ikan laut yang pertama kali menusuk hidung dalam-dalam. Sudah barang tentu aku menghiraukannya karena perhatianku tertuju ke keramaian di dalam sana.

Gerbang Ameya Yokocho.
Gerbang Ameya Yokocho.
Bagian dalam Ameya Yokocho.

Tak kusangka, akan keberadaan beberapa restoran khas Turki dan beberapa gerai kebab di sana. Kufikir tak kan susah menemukan makanan halal untuk para traveler muslim di sini. Sementara di sepanjang jalan berikutnya, beberapa gerai yang menjual ikan laut diselingi oleh gerai fashion, souvenir, minimarket, peralatan olahraga serta beranekaragam gerai –gerai lain.

Kufikir aku tak akan menganggarkan untuk membeli barang apapun yang diperjualbelikan di pasar ini, kecuali makan malam.  Aku terus menyisir setiap jengkal Ameyoko Market hingga akhirnya tertarik pada tampilan gambar semangkuk chicken ramen. Bukan isi di dalam mangkuknya, tetapi harga yang tercantum di bawahnya, 399 Yen, itu berkisar Rp. 50.000.

Tak faham akan namanya, aku tak kurang akal. Kuambil telepon pintar dan kutangkap gambarnya. Bergegaslah aku menuju ke dalam rumah makan itu. Aku mulai mengamati sekitar, desain meja memanjang dan melingkar oval di tengahnya dengan beberapa meja di setiap sisi dinding yang sudah dipenuhi warga lokal. Mereka begitu berisik menyeruput mie di mejanya. Aku menuju ke pelayan wanita dan menunjukkan gambar di telepon pintar. Berteriaklan pelayan itu ke bagian dapur sembari menyebut nama menu yang kutunjukkan lalu dia menunjuk pada sebuah bangku kosong. Aku faham, itulah meja makanku. Aku duduk di sebuah meja di sisi dinding dan menunggu menu dihidangkan.

Salah satu rumah makan di Ameya Yokocho.

Sementara teko berisi air putih dengan es batu di dalamnya mulai kutuang.  Aku terus memperhatikan perilaku pengunjung rumah makan itu. Begitu mereka memasuki ruangan, maka mereka akan melepaskan jaket pada hanger di pojok ruangan, lalu duduk di meja makan, memesan dan menyantap makanannya dengan cepat. Semua serba teratur.

Tak lama pelayan menyajikan menu yang kupesan dan aku mulai menyantapnya. Menurut referensi yang kubaca, orang jepang akan meyeruput mie yang dipesannya dengan bunyi yang cukup untuk di dengar demi menunjukkan bahwa mie itu enak dan sebagai isyarat untuk menghormati sang koki. Maka akupun beradegan sama walau sedikit kerepotan dan membuat kuah mie ku berlepotan ke meja makan. Itu belum cukup membuatku malu, karena air teko di meja benar-benar habis tak bersisa, entah berapa kali aku menuangnya di gelas kecilku. Pelayan perempuan yang sedari tadi memperhatikanku pun menutup senyum dengan tangannya sambil sebentar-sebentar berbisik dengan pelayan yang lain. Dia tentu tahu bahwa aku seorang pengelana yang berbeda kulit dengan bangsanya.

Walhasil, aku pun membayar makanan itu dengan senyum lebar kepadanya, karena dia tak kunjung menutup senyumnya ketika menatapku.

Hirokoji Exit Stasiun Ueno.
Bagian dalam Stasiun Ueno.
Platform Stasiun Ueno.

Aku selesai bersantap malam pada jam 17:45, dan bergegas meninggalkan Distrik Kota Istimewa Taitō.

Kisah Selanjutnya—->