Food Testing di Swiss Belinn Saripetojo Hotel Solo

<—-Kisah Sebelumnya

Hi Donny, jadikan Marketing Conference kita menjadi sangat hebat dan bermakna. Saya sudah memesan hotel yang sangat bagus dan strategis untuk acara kita. Kamu harus mensurveynya dan mendesain acara kita sesuai fasilitas dari hotel yang saya pesan”.

Itulah ucapan singkat dari CEO seminggu sebelum aku melakukan survey ke Solo. Kalimat yang menyimpan harapan dan tentu menjadi beban tersendiri bagiku sebagai Ketua Pelaksana Marketing Conference.

Yang kutahu, hotel ini terletak di daerah Laweyan dan tepat berseberangan dengan Stasiun Purwosari yang merupakan stasiun kereta api tertua kedua di Solo. Dan survey hari pertamaku, memasukkan agenda mengunjungi hotel ini dalam itinerary.

Masih pagi….Waktu menunjukkan pukul 08:38 WIB dan aku sudah menggenggam beberapa informasi memadai tentang penyewaan Kereta Wisata Jaladara untuk keperluan Marketing Conference nanti. Kini aku sudah berada di depan halaman Dinas Perhubungan Kota Solo untuk menunggu jemputan taksi online.

Tak lama taksi itu pun datang dan aku bergegas naik. Rahadian duduk di jok belakang sisi kanan dan aku mengobrol dengan pengemudi di jok depan. Rahadian terus berusaha menghubungi divisi marketing dari hotel yang kita tuju. Pak Bekti namanya. Sepertinya Rahadian sedikit kesal karena tak kunjung berhasil menghubunginya.

Sudahlah, kita tanyakan saja nanti di tempat”, gumamku ringan.

Baik Pak”, jawabnya singkat  lalu tatapannya menghambur ke luar jendela taksi untuk menikmati atmosfer Kota Solo.

Taksi online bergerak ke arah barat daya, sekitar tiga kilometer.  Dan dalam 15 menit tiba di depan lobby hotel. Swiss-Belinn Saripetojo Solo , nama hotel itu. Terletak di sisi selatan jalan protokol, yaitu Jalan Slamet Riyadi, tepat di seberang Tugu Tabanas Purwosari.

Lobby dan reception desk.
Escalalator menuju Robinson Department Store.
Toilet dekat reception desk.

CEO kami memang baik hati. Ia memesan hotel bintang tiga yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan kota, yaitu Robinson Department Store. Namun siapa sangka hotel ini merupakan bekas bangunan pabrik es dari zaman penjajahan Belanda pada tahun 1919.

Begitu turun dari taksi online, kami langsung menuju meja resepsionis dan menanyakan dimana Pak Bekti yang bertugas di bagian pemasaran. Ternyata dia sedang rapat dan kami harus menunggu hingga lima belas menit.

Beberapa lama menunggu, Pak Bekti datang dan sesaat kemudian kami diajak berkeliling ke semua ruangan yang akan ada kaitannya dengan acara Marketing Conference kami. Mulai dari ruang pertemuan kemudian berlanjut ke barelo (bar, restoran, lounge), kolam renang, pusat kebugaran serta spa dan ruang pijat, semua ditampilkan satu per satu.

Koridor menuju ballroom.
Lounge di depan Keraton Balroom.
Keraton Ballroom.
Keraton Ballroom.

Waktu survey terbesar, kami alokasikan untuk melihat Keraton Ballroom, karena lokasi inilah yang akan menjadi tempat utama berlangsungnya acara. Kami harus detail memperhatikan  ballroom layout untuk mendesain bentuk acara terbaik yang bisa dilakukan.

Sedangkan fasilitas kedua yang menjadi tujuan kami adalah barelo. Tempat ini akan kami rencanakan menjadi lokasi gala dinner dengan suguhan grup band lokal, yaitu Artcoustic Band. Kami juga diizinkan melakukan food testing untuk menentukan menu terbaik yang akan kami pilih untuk disajikan saat acara nanti.

Lounge di depan Barelo.
Barelo.
Outdoor Barelo.
Outdoor Barelo.

Hanya sayang, aku tak bisa melihat kamar hotel karena pagi itu kamar masih penuh oleh tamu. Akhirnya survey terakhir kami lakukan untuk melihat kolam renang, fitness centre serta ruangan spa and massage.

Kolam renang.
Fitness Centre.
Spa and massage room.

Kami fikir survey kali ini sudah cukup dan saatnya menuju ke tempat berikutnya.

Kisah Selanjutnya—->

Berburu Sewa Kereta Jaladara hingga Taman Balekambang

<—-Kisah Sebelumnya

Menaiki kereta peninggalan Belanda adalah salah agenda penting dalam Marketing Conference pada bulan Oktober nanti. Oleh karenanya, hari pertama surveyku ke Solo menempatkan Kereta Wisata Jaladara sebagai prioritas pertama. Dan pihak yang bisa dikulik informasinya perihal penyewaan kereta wisata ini adalah Dinas Perhubungan Kota Solo.

Maka setelah menikmati sendok terakhir Es Dawet Telasih, aku meninggalkan Pasar Gede menuju Jalan Menteri Supeno. Tujuanku adalah menemui petugas yang mengurusi perizinan sewa Kereta Wisata Jaladara dan menanyakan perihal mekanisme dan biayanya.

Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo.

Tak lama menunggu, taksi online menjemputku dan mengantarku kesana. Tak jauh, hanya berjarak empat kilometer di sebelah barat Pasar Gede, dalam 15 menit aku tiba. Saat tiba di Dinas Perhubungan Kota Solo suasana sudah sangat ramai, mungkin sejak pagi tadi, kendaraan angkut sudah mengantri untuk melakukan KIR kendaraan. Hanya itulah surat sakti kendaraan angkut untuk berburu Rupiah di tanah air.

Aku diarahkan oleh satpam yang bertugas menuju sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai kantor untuk menemui Pak Sandi yang merupakan petugas Jaladara. Hanya saja Pak Sandi ternyata sedang ada rapat antar instansi dan tidak berada di tempat. Akhirnya aku hanya mendapatkan sedikit penjelasan perihal Kereta Wisata Jaladara dari petugas yang berjaga. Informasi itu diantaranya adalah harga sewanya Rp. 3.500.000 per 3 jam, jika ingin menambahkan tour guide, kesenian musik dan kuliner pasar di dalam kereta maka perlu menambah dana sekitar Rp. 2.100.000. Dan informasi terakhir adalah Dinas Perhubungan juga menawarkanku jasa Bus Tingkat Werkudara yang bisa digunakan untuk berkeliling wisata kota Solo.

Menyimpan informasi dan sembari menunggu petugas itu, aku memutuskan berkunjung ke sebuah taman kota di dekat kantor Dinas Perhubungan Kota Solo, hanya berjarak 600 meter, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Taman kota itu adalah Taman Balekambang, sebuah taman kesenian terpadu seluas 10 Ha dan terletak di daerah Manahan. Taman Balekambang merupakan salah satu venue untuk pemetasan seni di Kota Solo, selain itu taman ini juga berfungsi sebagai taman edukasi, taman botani dan taman rekreasi. Setiap bulan sering diadakan pementasan seni di kawasan ini. Sendratari dan Ketoprak adalah pertunjukan yang sering di gelar disana.

Gerbang Taman Balekambang.
Area utama Taman Balekambang.
Informasi tentang pertunjukan seni yang akan tampil.
Ruang Laktasi untuk pengunjung.

Aroma seni taman ini mulai terasa ketika memasuki gerbang, Pintu gerbang yang tinggi dengan eksterior ukiran berkonsep gunungan begitu sarat seni. Sementara beberapa papan tulis bertuliskan jadwal pementasan seni di Bale Kambang terpampang di sekitar taman. Memudahkan pengunjung untuk mendapatkan informasi.

Sementara deretan shipping container di letakkan di salah satu sisi taman dan berfungsi untuk fasilitas pengunjung seperti Ruang Laktasi dan Ruang Medis. Menjadikan taman ini begitu manusiawi untuk menjadi sebuah tempat pertunjukan seni seutuhnya.

Jika diklasifikasikan, bagian timur taman difungsikan sebagai tempat aktivitas outbond dan pembibitan tanaman.Sementara di pusat taman diletakkan gedung kesenian dan taman utama dengan open stage untuk pertunjukan di ruang terbuka. Sementara bagian barat didominasi oleh keberadaan danau dan kolam renang untuk dinikmati oleh para pengunjung.

Pagi itu, tidak banyak yang bisa kulakukan di taman itu karena memang sedang tidak ada acara kesenian sama sekali. Jadi setelah puas berkeliling maka kuputuskan untuk kembali segera ke Dinas Perhubungan untuk menemui Pak Sandi yang mungkin saja sudah kembali dari rapat.

Kisah Selanjutnya—->

Dawet Telasih dan Pasar Gede Hardjonagoro

<—-Kisah Sebelumnya

Pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro.

Walau Rahadian baru tiba di Solo saat pagi buta dan sempat menumpang mandi serta sarapan, maka sesuai jadwal, aku tetap melakukan check-out dari Grand Amira Hotel by Azana. Waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 WIB saat kami keluar ke pelataran hotel.

Aku segera memesan taksi online dan meluncur  menuju daerah Sudiroprajan untuk melakukan survey kuliner pertama. Kuliner istimewa yang kusasar adalah Es Dawet Telasih, yaitu dawet berkomposisi ketan hitam, jenang sunsum, tape ketan, biji telasih, gula cair, santan dan es batu.

Aku diturunkan di pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro tepat di sebelah Tugu Jam Pasar Gede. Bangunan tua dari pasar peninggalan Belanda ini memang mengagumkan. Perpaduan arsitektur Jawa-Kolonial tersirat jelas dari penampakan dinding bergaya Kolonial dan atap bergaya Jawa. Berdinding tebal, langit-langit ruangan yang tinggi dan jendela memanjang ke atas.

Saat aku tiba, area pelataran sudah terasa sibuk pagi itu. Arus pengunjung yang keluar masuk pasar untuk berbelanja, para pedagang yang berbondong untuk memasukkan barang dagangan ke dalam pasar, riuh rendah teriakan tukang becak yang mencari penumpang serta kesibukan para pedagang kuliner ringan di area luar pasar membuat suasana pasar terbesar di kota Solo itu menjadi sangat hidup.

Suasana di luar Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana di luar Pasar Gede Hardjonagoro.
Tugu Jam Pasar Gede.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.

Aku bergegas memasuki area dalam pasar untuk mencari keberadaan Kedai Es Dawet Telasih Bu Dermi yang konon sangat terkenal di seantero Solo. Bagaimana tidak, konon racikan resep Es Dawet Telasih Bu Dermi sudah berusia 90 tahun dan tidak berubah sama sekali sejak pertama dibuat. Bahkan Es Dawet Telasih ini telah menjadi langganan Bapak Joko Widodo (Presiden Republik Indonesia) saat pulang ke Solo.

Menyibak gang-gang sempit di tengah pasar membuatku hanyut dalam rasa perniagaan masyarakat Solo. Dan akhirnya keadaan kurang menguntungkan menimpaku. Ketika tiba di depan Kedai Es Dawet Telasih Bu Dermi, kedai itu masih tutup dan lengang. Aku mencoba bertanya kepada beberapa pedagang di dalam pasar perihal kapan kedai itu akan dibuka.

Mengke jam sedoso, mas”, begitu mereka menjawab.

Oalah, aku terlalu pagi melakukan survey dawet ini.

Dugi jam kalih biasanipun sampun telas, Mas”, mereka menambahkan informasi ketika aku terduduk di salah satu bangku kedai kosong itu.

Bagaimanapun caranya, aku harus menemukan dan merasakan Es Dawet Telasih untuk menguji rasanya, karena para peserta Marketing Conference nantinya akan diarahkan ke Pasar Gede Hardjonagoro untuk mencicipi kuliner itu.

Aku mencoba menelusuri gang-gang lain dalam pasar, hingga menemukan Kedai Es Dawet Telasih Ibu Hj. Sipon. Tanpa fikir panjang aku segera memesan seporsi dengan harga Rp. 8.000. Begitu pelan kunikmati, memang Es Dawet Telasih ini sangat spesial rasanya, perpaduan gurih, manis, tekstur lembut dan sejuk menjadi satu kesatuan yang menggugah selera. Akhirnya kuputuskan, Es Dawet Telasih menjadi destinasi kuliner pertama untuk Marketing Conference nanti.

Salah satu kedai Es Dawet Telasih.
Ibu Hj. Sipon.
Es Dawet Telasih.

Setelah menikmati Es Dawet Telasih, aku dan Rahadian bergegas menuju ke Dinas Perhubungan Kota Solo untuk mencarter Kereta Wisata Jaladara.

Kisah Selanjutnya—->