Indra Chowk sebelum Kathmandu Durbar Square

Bersiap sarapan.

Tak seperti biasanya, santapan pagi sedikit mewah telah disiapkan di lantai teratas Shangrila Boutique Hotel. Nasi goreng bertabur potongan dadu daging kerbau, dua potong sosis dan selembar telur mata sapi. Masih pula disiapkan dua lapis toast berselai selembar keju. Kemudian ditutup dengan secangkir kopi hitam panas.

Perut kenyang dan aku siap memasuki kejayaan Nepal masa lalu yang akan tersirat pada tiap jengkal area di Kathmandu Durbar Square, satu diantara tiga Durbar Square terkenal di Nepal. “Durbar” sendiri berarti “istana”, sementara “square” berarti “alun-alun”. Jadi sebenarnya Durbar Square adalah alun-alun istana pada umumnya.

Membilang di Amrit Marg, hangatnya mentari pagi meringankan langkah ketika harus menembus suhu 9 derajat yang masih saja enggan beranjak naik. Sementara batuk telah menghuni tenggorokan sejak sehari lalu akibat debu yang terus terhisap tak terkendali. “Tak apa, besok aku terbang menuju New Delhi, pasti udara akan lebih bersih disana”, batinku menenangkan diri. Keyakinan itu membuat Ambroxol yang kubawa dari Jakarta masih saja utuh.

Kini aku mulai memasuki sejumlah tikungan rumit sempit. Jalanan berlapis andesit dengan deret ruko penghadang surya dan bertabur signboard tak beraturan. Bahkan di bilangan Jyatha Marg diperparah dengan untaian kabel listrik yang bersimpul sangat kusut.

Petugas PLN Nepal pasti mahir menangani kerusakan listrik.
Penjual bunga Gemitir di tepian Chandraman Singh Marg.

Tiba saatnya melangkah di perempatan terakhir sebelum memasuki area terkenal Indra Chowk. Waktu sudah jam 10 pagi tetapi pertokoan di sepanjang Chandraman Singh Marg masih saja tutup. Sementara itu, sepeda motor yang berlalu-lalang tercacah dalam hitungan jari..

Pengayuh becak yang beranjak mengais rezeqi.
Mencicip kacang rebus.

Beberapa dasa langkah, area yang kusasar ada di depan mata, simpang lima dengan kesibukan sangat tinggi. Gemuruh perniagaan pagi yang membuatku tertegun mengamatinya di suatu sisi. Inilah Indra Chowk, area yang selama berabad-abad telah menjadi sentra perdagangan tersohor di distrik Kathmandu. Siapa saja yang ingin berburu pakaian khas Nepal, souvenir untuk dibawa pulang ataupun merasakan aneka makanan lokal, maka datanglah kesini!

Pangkalan becak di Indra Chowk.

Memasuki area simpang lima dari sisi utara melalui Chandraman Singh Marg, aku bisa melihat keempat jalan lain sebagai penyusun simpang yaitu Siddhidas Marg (dari Timur Laut), Watu Marg, Sukra Path, dan Siddhidas Marg (dari Barat Daya). Kelimanya bermuara pada lingkaran luas dengan pemandangan ikonik kuil Aakash Bhairav.

Aakash Bhairav yang bersejarah menjadi istana raja pertama Nepal.

Melangkah kembali, menjauhi kebisingan Indra Chowk sembari mencangking Dhaka Topi yang kubeli ketengan, jalanan yang tak begitu ramai kembali menyambut.

Abege di  Siddhidas Marg….Manis ya?….Hahaha.

Di jalan inilah terdapat satu spot menarik. Khalayak mengenalnya sebagai Makhan Tole. Spot kesenian terkenal di Kathmandu. Karya seni rupa banyak dijumpai disini dan tentu banyak pelancong yang memburunya.

Gerbang Makhan Tole.

Dari Makhan Tole, hanya memerlukan 5 menit berjalan kaki menuju Kathmandu Durbar Square.

Akhirnya aku sampai juga.

Yuk kita eksplore apa saja yang ada di Kathmandu Durbar Square ini…….

Salah Bangku di Tourist Bus Pokhara-Kathmandu.

Mr. Tirtha masih saja menemaniku berbincang, kami berdua berdiri bersandar di taksi mungilnya sembari mengamati kesibukan di sekitar Tourist Bus Park. Beberapa pedagang asongan silih berganti naik turun di seluruh bus berukuran tiga perempat menawarkan dagangannya.

Sewaktu kemudian, Mr. Tirtha  merentangkan tangannya lebar dan kami berpeluk ringan sebagai pengganti ucapan “terimakasih dan sampai jumpa”. Aku sengaja memasuki bus setengah jam sebelum keberangkatan. Akan lebih baik karena Mr. Tirtha bisa dengan segera melanjutkan mencari nafkah dengan taksinya.

Si kondektur menunjukkanku tempat dimana aku harus duduk. Baris kedua dibelakang sopir yang dibatasi sekat kaca. Kini pemandangan menjadi tegang, ketika sepasang suami istri India beradu mulut dengan si kondektur. Sejoli itu merasa dirugikan karena agen tiket di Kathmandu menjanjikan bangku paling depan buat mereka. Si kondektur dengan santainya balik menggertak, “This is Pokhara, Not Kathmandu”. Seketika suasana hening. Aku baru sadar, sejoli itu mengincar bangkuku….Hahaha, padahal jika disuruh tuker aku juga tak menolak. Ada-ada saja.

Europeans di depan itu seru bermain kartu sepanjang perjalanan.

Tiga setengah jam setelah keberangkatan pukul 7 pagi, bus berhenti untuk breakfast break selama 20 menit setelah sejam sebelumnya bus sudah sekali melakukan 15 menit toilet break. Sarapan yang diberikan Mr. Raj di pagi hari nampaknya cukup efektif bagiku untuk tak mengeluarkan budget konsumsi apapun kali ini. Yuk, kuperlihatkan bagaimana restoran tempatku berhenti:

Makan prasmanan aja ya!
Itu tarifnya.
Kopyah yang dipakai kasir itu bernama Dhaka Topi.
Ah masih kenyang….Ngopi aja lah.

Aku baru merasa kelaparan pada lunch break pukul 13:30,  menikmati se-thali (piring lebar khas India) makanan yang kuambil dari meja prasmanan seharga  Rp. 52.000 dan sebuah free-orange juice yang diberikan pada semua penumpang sejak pemberangkatan di Pokhara.

Lumayan free….  
Aku naik yang warna putih.

Jarum jam menunjuk pukul 15:34. Toilet break terakhir kali ini menjadi bagian paling berkesan.  Kumanfaatkan waktu dengan menelusuri area di sekitar tempat peristirahatan. Aku bergerak menuju tepian jalan dan menikmati panorama lembah dan jurang dibawahnya.

Kebanyakan truk di Nepal adalah Tata Motor.

Tergeletik dengan kehidupan di pinggiran jalan, aku memasuki sebuah gang kecil dan melihat sekelumit aktivitas warga lokal yang hidup di pinggiran jalan. Mengamati sebuah spanduk yang tertempel di sebuah sisi tembok beton, aku mencoba sedikit membuka kulit luar perpolitikan di Nepal.

Nepal adalah negara berbentuk republik parlementer yang memiliki empat partai politik utama. Communist Party of Nepal (CPN) menjadi partai pemenang di Nepal yang menempatkan dua tokoh pentingnya yaitu Khadga Prasad Sharma Oli sebagai Perdana Menteri dan Bidhya Devi Bhandari sebagai  Presiden negara tersebut.

Itu dia lambang CPN.

Kembali berada di bangku bus, perjalanan kali ini mengalami kemacetan luar biasa ketika menuruni bukit terakhir menjelang perbatasan Kathmandu. Layaknya kemacetan di Cianjur saat weekend tiba.

Bus merapat di Kanti Path pada pukul 17:08. Kelelahan yang teramat sangat membujukku untuk segera menemukan Shangrila Boutique Hotel di area Thamel. Aku menelusuri banyak gang-gang sempit dan menanyakan kepada penduduk lokal untuk menemukan lokasinya. Hanya berjalan selama 20 menit, akhirnya penginapan itu kutemukan.

Kuserahkan Rp. 280.000 sebagai tarif menginap per malam. Kali ini aku akan bermalam 2 petang di Kathmandu untuk menikmati wisata kota.