Salah Tanggal di Ninoy Aquino International Airport

Melayani 47 juta penumpang setiap tahun.

Philippine Airlines bernomor terbang PR 685 mendarat dengan mulus di salah satu runway Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Pesawat berbadan besar itu dengan gagahnya melakukan taxiing menuju apron di Terminal 1. Seharusnya pesawat ini mendarat di Terminal 2, karena sedang proses renovasi maka terminal pun dialihkan. Terminal 1 sendiri adalah mainhub dari maskapai Cebu Pacific, sedangkan mainhub Philippine Airlines berada di Terminal 2.

Ini bukan pendaratan pertamaku di Philippines karena aku telah menjajah negeri itu empat tahun silam. Kini aku kembali mendarat di NAIA, bukan untuk berkunjung tetapi hanya untuk transit saja sebelum benar-benar tiba di Jakarta. Bukan Donny namanya kalau transit hanya digunakan untuk berdiam diri di bandara….Yes, aku akan menuju pusat kota dalam rentang waktu 7 jam masa transit.

Pemberian nama Ninoy Aquino International Airport sendiri didedikasikan untul Almarhum Ninoy Aquino Jr yang terbunuh di Terminal 1 selepas pulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983.

Aroma perayaan natal masih terasa @conveyor belt.
Tourist Information Center.
Arrival Hall.

PR 685 perlahan melewati hanggar milik Lufthansa Technik Philippines, Inc. yang merupakan perusahaan jasa maintenance pesawat di bandara itu, berpapasan dengan deretan maskapai kuning “Cebu Pacific” yang merupakan Low Cost Carrier (LCC) kebanggaan Negeri Duterte, melalui Terminal 2 Domestic Departure dan akhirnya berhenti di Terminal 1.

Staff cantik Philippine Airlines membawa papan kecil bertulis “transfer” dan berdiri di tengah koridor untuk mengumpulkan para penumpang yang akan meneruskan penerbangan ke destinasi berikutnya. Mereka akan dibawa oleh Airport Shuttle Transfer Service menuju ke Terminal 2. Aku yang menyatakan hendak menuju ke pusat kota semasa transit diberikan secarik kertas yang harus diisi dan akan dilampirkan bersama tiket menuju Jakarta untuk diserahkan ke konter imigrasi.

Staff Imigrasi : “Where will you go in transit time?”.

Aku : “Manila Baywalk, Sir

Staff Imigrasi : “What for?

Aku : “Just sightseeing, Sir”.

Percakapan singkat di konter imigrasi yang meloloskanku dengan stempel imigrasi Philippines di paspor hijauku. Aku harus bertanya kepada petugas Aviation Security demi menemukan lokasi penitipan bagasi untuk menaruh backpack supaya membuat langkahku menjadi lebih ringan menuju pusat kota. Aku menyerahkan Rp. 60.000 kepada petugas Baggage Assistance Counter dan dia menaruh backpackku pada sebuah rak.

Berburu Peso di money changer.
Baggage Assistance Counter.
Rak-rak penyimpanan bagasi milik Orbit Air Systems (Perusahaan ground handling di NAIA).

Melewari exit gate, aku menuju ke sebuah konter milik PLTD Enterprise yang menawarkan free SIM Card dengan brand “Smart 5G” untuk para traveler. Paket data yang mereka tawarkan kutolak dengan halus karena aku hanya membutuhkan layanan GPS saja dari prepaid SIM Card itu.

Departure

Setelah selesai dalam jelajah singkat kota, aku diturunkan sopir bus kota di Terminal 1. Menghemat waktu, aku menuju ke tempat penitipan bagasi dan mengambil backpack. Lalu menuju ruang tunggu Airport Shuttle Transfer Service untuk berpindah ke Terminal 2, terminal dimana aku akan terbang menuju Jakarta.

Terminal 2 sendiri selesai dibangun pada tahun 1998 dan dijuluki Terminal Centennial karena penyelesaiannya bertepatan dengan peringatan seratus tahun deklarasi kemerdekaan Philippines dari penjajahan Spanyol. Terminal ini awalnya dirancang oleh Aéroports de Paris.

Di depan Terminal 2, aku diturunkan. Banyak titik lokasi tertutup oleh papan proyek, menunjukkan bahwa terminal ini sedang direnovasi. Peso tersisa yang gagal tertukar di money changer Terminal 1 dengan alasan uang yang kutukar adalah adalah pecahan kecil, akhirnya bisa kutukarkan di sebuah money changer di luar bangunan Terminal 2. Kini Peso sudah berubah menjadi Dolar Amerika.

Sedikit insiden terjadi di konter imigrasi, seorang petugas imigrasi keturunan Spanyol sedikit bingung dan bertanya kepada staf imigrasi lainnya. Ternyata tanggal yang yang terstempel di pasporku saat memasuki Manila tadi pagi adalah masih tanggal esok hari.

Arah ke Airport Shuttle Transfer Service Terminal 1.
Airport Shuttle Transfer Service @Terminal 1.
Drop off zone Terminal 2.

Staff Imigrasi     :     “When do you entering Manila? “.

Aku                        :     “Last morning, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “Why don’t you check  the date?

Aku                        :     “What’s wrong, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “The date in your free visa is tomorrow”.

Aku                        :     “Oh I’m sorry, I don’t aware about it

Staff Imigrasi     :     “Can you show you arrival and departure boarding pass?

Aku                        :     “These are, Sir

Staff Imigrasi     :     “Okay, It’s no problem. You can go”.

Akhirnya aku diizinkan keluar Manila dan bersiap pulang ke tanah air. Aku merasa sangat tenang, karena telah tiba tiga jam sebelum boarding time. Tapi berjam-jam duduk di ruang tunggu, aku tak segera menenukan nomor penerbanganku PR 535 di layar informasi LCD. Aku memberanikan diri memasuki Mabuhay Lounge untuk menanyakan jadwal resmi penerbanganganku kepada staf Philippine Airlines yang bertugas di lounge reception. Dia mengatakan bahwa penerbangan mengalamai delay yang belum bisa diinformasikan hingga kapan, tetapi aku ditunjukkan nomor gate dimana aku harus menunggu yaitu Gate 11.

Baru sebentar aku duduk di Gate 11, terdengarlah pengumuman bahwa penerbangan ditunda hingga pukul 23:00 dikarenakan gangguan lalu lintas penerbangan sebagai dampak meletusnya gunung Taal di daerah Tagaytay.

Check-in counter.
Departure Hall.
Laptop station.
Mabuhay Lounge.
Waiting room di depan Gate 11.

Tepat pukul 23:00, aku mulai boarding dan meninggalkan banyak kesan di Ninoy Aquino International Airport.  Terimakasih NAIA, sampai jumpa lagi.

Philippine Airlines PR 685 dari Doha (DOH) ke Manila (MNL)

Jalur penerbangan PR 685 (sumber: https://www.radarbox.com).

Jika ingin merasakan sensasi menunggang airline komersial pertama di Asia maka naiklah Philippine Airlines, maka secara otomatis kamu akan tertasbih telah menaiki maskapai tertua di Benua Asia. Dan Philippine Airlines menjadi maskapai ke-28 yang kunaiki sepanjang perjalananku menjadi seorang backpacker.

Dimulai dengan insiden kecil  yang cukup membuat malu. Sore itu area depan konter check-in tampak melompong, kontan setelah nomor pernerbangan PR 685 berstatus “open”, aku melenggang kangkung menelusuri liukan alur yang dibentuk oleh boarder tape.

Dan tiba-tiba terdengar suara lantang….

Hi, please queue, Sir!” tegur ground staff yang otomatis mengerem langkahku. Dia menunjuk antrian penumpang asal Philippines yang bermula dari sebuah tiang bangunan. Mereka semua menertawakanku dan menyungkurkan mukaku dalam rasa malu. Berusaha tersenyum tetapi tetap saja tak bisa menyembunyikan kecut muka, aku melewati para penumpang itu yang hampir sepanjang antrian tertawa memandangiku. Hingga akhirnya, aku sudah berdiri di antrian, jauh di belakang.

Check-in counter.
Tiket ke-11 dalam petualangan akhir tahunku.

Meninggalkan area check-in dan menyelesaikan urusan di konter imigrasi, langkahku tertahan sekejap.

Asal mana pak?“, sapaku pada dua lelaki paruh baya yang sedari tadi memegangi paspor hijau bergambar garuda. “Loh, ada orang Indonesia nih, cak“, tegas seorang darinya kepada teman sebelahnya. Aku hanya tersenyum untuk menghangatkan suasana.

Naik Qatar Airways juga ya mas?“, pertanyaan yang mungkin berharap kita bertiga bisa terbang sepesawat. “Saya mampir Manila dulu pak, naik Philippine Airlines, tujuan akhir saya Jakarta. Bapak berdua mau kemana? “, tanyaku singkat sebelum berpisah. Kedua lelaki itu tampak berbenah memasukkan setiap berkas imigrasi, paspor dan tiketnya ke dalam tas. “Kami dari Surabaya, mas“, senyumnya hangatnya membuatku merasa tak jauh dari rumah.

Menurut tuturnya, kedua lelaki itu sedang ada tugas dari perusahaannya di Doha. Sedangkan aku menjawab dengan percaya diri bahwa aku baru saja selesai backpackeran sendirian di Timur Tengah. “Wah hebat si mas, keliling sendirian“, ucapan penutupnya sebelum kami berpisah menuju gate masing-masing.

Kemudian aku menuruni escalator dan melewati duty free zone di sekitar maskot “Lamp Bear”. Berlanjut lagi dengan menaiki escalator untuk menaiki skytrain menuju concourse D. Menemukan gate yang kumaksud, maka terduduklah aku sembari mengunyah paratha tersisa untuk makan malam sambil menunggu Philippine Airlines tiba menjemput.

Tepat pukul 20:45, aku mulai boarding melalui aerobridge. Aku memasuki pesawat dari koridor kabin sebelah kiri. Begitu terduduk di window seat berbilangan 39K, impian kemegahan kabin yang sedari semula saat membeli tiket akhirnya sirna.  Ternyata pesawat ini tak dilengkapi LCD screen di setiap bangkunya. Terbayang sudah, penerbangan panjang sejauh 7.277 Km ini pasti akan membosankan.

Airbus 330-300.
Sayap yang memamerkan kegagahan.
Mulai mencari tempat duduk.
Nah ini dia, tempat dudukku selama 9 jam 35 menit.

Aku duduk bersebelahan dengan wanita tambun di sisi kiri sedangkan di ujung baris terduduk lelaki paruh baya berpostur sebaliknya, jangkung dan kurus. Sembilan puluh persen penumpang tentu berkebangsaan Philippines. Karena ini pesawat negara mereka.

Aku terus memperhatikan pramugari berpotongan rambut bob, berlipstik ungu dan berpostur semampai. Siapa yang meragukan kecantikan para pinay, Philippines memang penghasil para wanita cantik di dunia….Hahaha.

Setelah mendemokan prosedur keselamatan terbang, pramugari dan pramugara itu membagikan amenities berupa selimut, handuk, sikat dan pasta gigi. Aku mulai membaca beberapa prosedur keamanan pesawat Airbus ini. Membaca infight magazinenya dan bersiap untuk santap malam kedua kali setelah take-off.

Thanks 12Go.
Selamat tinggal Hamad International Airport.
Selimut untuk setiap penumpang.
Mabuhay….Inflight magazine milik Philippine Airlines.

Sir, I have ordered the menu. My menu should  a Jain Meal, not Seafood Meal, Sir”, tanyaku pada seorang pramugara. “Dinner menu must be ordered 3 hours before flight, Have you order it?”, jawabnya sedikit tegas. Daripada menimbulkan keributan yang tak mengenakkan, aku mengalah saja. Begitulah aku, selalu menghindari gesekan dan cenderung mengalah pada setiap perselisihan….Hebat ya guwe, mulia banget….Hahaha.

Menu makan malam: nasi dan ikan laut.
Ternyata Jean Meal pesananku keluar di pagi hari bersama kopi…Oalah, ndeso tenan.
Indah sekali bukan, rentangan garis-garis emas bentukan pelita bumi Doha?. Lihat perairan Teluk Persia itu!.

Setelah semua penumpang selesai dengan dinnernya masing-masing, awak kabin mulai meminta setiap penumpang yang duduk di window seat untuk menutup jendela. Ah, aku tak mendengarkan perintah, malahan memperhatikan wajah ayu pramugari yang kukagumi sedari tadi. Aku baru tersadar akan perintah ketika pramugari itu tersenyum terus dan menunjuk jendelaku sembari menaik turunkan telunjuknya sebagai isyarat bagiku untuk segera menutupnya….”Iya mbak, aku ngerti kok, cuma sedang terpesona denganmu saja”, batinku menjawab senyumannya. Kejadian itu membuat penumpang di sebelahku tertawa….Kacau kan guwe?.

Malam itu penerbanganku sangat mulus tanpa turbulensi. Pilot menginformasikan bahwa aku sedang melaju di dalam selongsong terbang dengan kecepatan 800 Km per jam. Luar biasa. Malam itu aku tak tidur nyenyak, terus gelisah menunggu tiba di Manila. Entah sampai dimana, pramugari itu kembali berkeliling di koridor kabin dan meminta setiap penumpang di window seat untuk membuka kembali jendelanya.

Inilah drama alam yang baru pertama kali ku alami. Aku menutup jendela dalam gulita dan tiba-tiba membukanya dalam kondisi terang benderang. Bak permianan sulap di angkasa, matahari sepertinya lebih cepat muncul dari waktu normalnya.

Selamat pagi….Entah aku berada dimana?.
Gunung yang menyembul di kerumunan awan….Menakjubkan.

Antrian di setiap toilet begitu panjang. Dengan gagapnya, aku pun mulai mengantri. Aku harus bergosok gigi dan menyeka  muka dengan air hangat sebelum mendarat.  Inilah kegiatan sikat gigi di pesawat terbang untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Tak lama setelah duduk kembali, pilot memberitahukan bahwa flag carrier milik Philippines ini akan segera mendarat di mainhubnya, yaitu Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Maskapai berlogo dua layar biru dan merah yang melambangkan bendera kebesaran negara dan sunburst kuning delapan sinar ini akan mendarat di Terminal 1 sesuai rencana.

Bersiap mendarat di Manila.

Pesawat mendarat dengan mulusnya di runway dan kemudian taxiing dengan menampilkan pemandangan cepat tentang hiruk pikuknya suasana bandara. Aku pantas berterimakasih pada jasa maskapain berusia 79 tahun ini.

Rindu Cebu Pacific….Teringat menunggangnya empat tahun silam.
Thank you Philippine Airlines “The Heart of the Filipino”.

Saatnya transit dan menjelajah Manila dalam waktu singkat.

Yuksss…..Berkelana lagi!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Doha ke Manila bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

5 Macao’s Tourist Attractions in 24 hours

Macao is 10th country that I visited. Starting from getting for Cebu Pacific Airlines’ promo ticket worth USD 38 which accidentally drove me to Manila. And instead of buying return ticket from Manila which was very expensive, it was better to go home from Shenzhen (China) because Tiger Air offered cheaper return ticket.

In Manila to Shenzhen trip, I was stranded in Hong Kong and Macau. Fortunately didn’t for long time….Only 48 hours in Hong Kong and 24 hours in Macau.

After writing 48 hours story in Hong Kong. So now, I will tell about what did I visited for 24 hours in Macao.

1. Outer Harbour Ferry Terminal

That moment arrived when I chose to use TurboJet Ferry to leaving Hong Kong. On exactly 8:55 hours and in distance about 70 km from Hong Kong, I arrived at ferry terminal located in east of Macao island.

At outside building, this port has a name in Portuguese, namely Terminal Maritimo de Passageiros do Porto Exterior. Portuguese scripts are very commonly seen throughout Macao. This was happen because for 4 centuries, China rented Macao to Portuguese to be used as a trading port.

If on Google maps, there are terms i.e Macao Maritime Ferry Terminal, Macao Ferry Terminal or Hong Kong Macao Ferry Pier then thar are different names for a same place, i.e Outer Harbor Ferry Terminal.

So if you are docked at this ferry terminal then just enjoy being there.

2. Senado Square

I deliberately chose a dormitory near Ruins of St. Paul complex. Because in this complex, there are two leading tourist destinations namely Ruins of St. Paul and Senado Square. So that, I could freely explore both of them by walking.

Immediately putting my backpack in Villa Ka Meng Hotel after getting down bus on Avenue de Almeida Ribeiro street closed to Ponte Cais No. 16. And after enjoying breakfast at Loulan Islam restaurant, I rushed to Senado Square

Senado Square itself is a square which was built since 1918. It is shopping tourism for branded goods hunters to street food ones. Being one of UNESCO’s heritage, Senado Square offers great views of classic buildings which were built from Chinese and Portuguese culture aculturation along its sides.

3. Ruins St. Paul

Leaving Senado Square, the next closest destination which I visited was ruins of a cathedral called Ruins of St Paul. If you go to Macao and haven’t take a picture in front of Ruins St. Paul, then your trip would feel like it isn’t “legal”. Therefore this place was the busiest destination which visited by tourists during my journey to Macao.

Ruis St. Paul was originally a Portuguese cathedral which built in 16th century. It is also a UNESCO’s world heritage site when it became a historical conservation after a great fire in 1959. The iconic part which is often be a photo object by tourists is remaining front gate of cathedral.

4. Macao Tower

Ruis St. Paul to Macao Tower was a route which made me stucked for some time in Avenue Da Praia Grande street. Focus and fast understanding of complex and massive Macao bus route, I finally found a bus stop which passed by city bus no. 9A towards Macao Tower.

“A 338 meters in high” tower offers observation deck tours, restaurants, theaters, malls and bungee jumping activities. While in tower park, there is a plaza and a pool for sport activities or just for spending time in afternoon for Macao residents.

5. The Venetian

Perception of The Venetian’s grandeur made my visitation in Macao Tower wasn’t focus. I seemed to be in a hurry to immediately enjoy The Venetian. Curiosity to entering the biggest casino in Macao and even one of the biggest in the world, made me to want to immediately go there. Besides casino, one thing which I always remembered about The Venetian is gondola rides which would take us to the tourism nuances in Venice, Italy.

It is an integration of two functions, namely luxury hotel and casino. This 39-storey building is located on reclaimed island of Cotai and is affiliated with The Venetian Las Vegas.

And then….I completely visited those five destinations within 14 hours of exploration in Macao. I spent remaining time to took a rest and sleeping in a hotel to recover my body condition after a few days before exploring Manila and Hong Kong.

It is very crazy….

10 Hong Kong’s Tourist Attractions in 48 Hours

Hong Kong is special administrative region of People’s Republic of China which was first region in East Asia I visited. I visited it in 2016.

How is my feeling at that time?…. Unspeakable, first time I go out of Southeast Asia and be special achievement at that time.

Why is that? … Flying to Hong Kong as soon as possible since becoming a traveler in 2011 is an easy matter. But that isn’t the essence, I am a combing traveler who visit one by one of region in a sequence and detail (so, you know my other strange habits now….crazy, don’t imitate!….Hahaha). So, here is it:

Before completing Southeast Asia exploration, I will make sure that I willn’t travel to East Asia.

Before completing East Asia exploration then I willn’t go to South Asia.

Similarly….Before completing South Asia exploration, I won’t step on Middle East region.

Already….enough, because I am on mission for completing Middle East exploration…. Do not ask me to write about Europe!….I don’t have experience yet about Europe exploration….Hahaha.

—-****—-

Back about Hong Kong. Oh yes, my last post about Hong Kong on this blog is at following link:

https://travelingpersecond.com/2018/03/11/big-buddha-tian-tan-buddha-and-disneyland-hong-kong/

Well, In this article I will tell you what I visited while in Hong Kong. All unique incidents, I will tell you its details one by one after this article yes.…

Here are ten main destinations where I visited:

  1. Hong Kong International Airport.

First day on 7:13 hours

Do you know?. Last August 2019, Hong Kong International Airport was totally paralyzed because it was occupied by pro-democracy masses who rejected The Hong Kong Extradition Bill.

When I watched TV, I remembered when I landed at this airport on January 4, 2016. My memory was still strong, at that time without bathing for 24 hours, I boarded Cebu Pacific flight number 5J 108 from Ninoy Aquino International Airport, Manila.

Look at my face…. Can you believe that I don’t take a bath for 24 hours?

Do you trust me more? that small backpack was the only backpack which I brought in traveling to Manila-Hong Kong-Macao-Shenzhen for 10 days. Look like playing to near cities, right?….Hahaha.

2. Tian Tan Buddha

First day on 10:13 hours

From airport, I didn’t directly go to hotel….It wasn’t luxury traveling. I moved towards Lantau Island (you need to know that Hong Kong consists of 3 main islands namely Lantau, Kowloon and Hong Kong).

Using S56 double-decker bus to Tung Chung Station and continue with bus no 23 to Tian Tan Buddha.`

If you go to Hong Kong, you must come here. Because this is the largest bronze statue in the world with a height of 34 meters and tangible as Sitting Buddha. It was built 26 years ago as a center for Buddhism activities in Hong Kong.

Not taking a shower for 24 hours….Still handsome….Hahaha, I am very confident.

3. Hong Kong Disneyland

First day on 13:37 hours

Don’t rush to move from Lantau Island, within 33 km range and 35 minutes travel time, you can visit Hong Kong Disneyland.

Likewise me, I left Tian Tan Buddha for Tung Chung Station again then took Tung Chung Line MTR (Mass Transit Railway) and changed to MTR Disneyland Resort Line at Sunny Bay Station to reached this destination.

Opened in 2005, Hong Kong Disneyland is the largest theme park in Hong Kong. Just prepare USD 74 to enter into it.

Upss….Belly button.

4. Kowloon Walled City Park

First day on 18:37 hours

Leaving Hong Kong Disneyland, I completed check-in process at Hong Kong Taiwan Hotel which located in 3rd floor Chungking Mansions Building. Hotel which costs USD 19,5 per night, is located on Nathan Road 36-44.

Finally found a halal food stall owned by Indian descent residents of on 1st floor. After a very late lunch, I headed for Kowloon Walled City Park which was built in a former of densely populated residential area with crime that was hard to eradicate by Hong Kong police.

Departed from Tsim Sha Tsui Station towards Lok Fu Station. From this station, you only need to walk about 1 km to Kowloon Walled City Park along Junction Road with 15 minutes travel time.

The park is quite dark at night.

5. Ladies Market

Fisrt day on 20:15 hours

From Lok Fu Station, I headed to Mong Kok Station for USD 0,7.

Ladies Market, located on Tung Choi Street, is a famous souvenir market in Hong Kong. You who are good at bargaining for goods must shop here. Me?….No, I was just sightseeing.

Ladies Market operating hours: 11:00 – 23:30.

6. Avenue of the Stars

Second day on 09:45 hours

Avenue of the stars is a 400-meter-long bridge plaza on north side of Victoria Harbor, made to resemble Hollywood’s “Walk of Fame,” built to celebrate the success of Hong Kong Film Industry. Decorated by statues of famous Hong Kong artists and film directors, their handprints and several sculptures which depicting filmmaking activities in Hong Kong.

When I arrived in Hong Kong, Avenue of Stars was undergoing renovation so that all statues were transported and exhibited in a park called Garden of Stars at Salisbury Road.

Since renovation have been completed at this time, all statues and handprints have been moved back to edge of Victoria Harbor. And of course, its location had better appearance.

Just need to walk from hotel where I stayed to go to Garden of Stars.

Ciaaaaaatttt……

7. The Hong Kong Observation Wheel dan AIA Vitality Park.

Second day on 11:20 hours

Located in front of Central Ferry Pier on Hong Kong Island. This 60 meter high ferris wheel has 42 gondolas as a medium of Hong Kong observation from a height. Just need to spend USD 3 to ride it

While AIA Vitality Park is directly below it. This park is commonly used for sports, concerts and festivals. When I was there, there was a festival to celebrating Christmas and New Year 2018 in this park.

8. Bank of China Tower

Second day on 12:45 hours.

Bank of China Tower is a famous landmark on Hong Kong Island. Because of its popularity, it was often made as souvenirs which were sold throughout Hong Kong.

BOC Tower is located on Garden Road and it’s headquarters Bank of China (Hong Kong) Limited. With a height of 367 meters, making it as fourth tallest building in Hong Kong.

On 43rd floor, It has an observation deck which was originally opened for tourists so that they can see whole city from above. But unfortunately, when I arrived there, this facility was closed to public. Upss….I wasn’t lucky.

Then what did I do in the tower for 2 hours?….Read my post after this! ….Hahaha

That’s the tower….has typical triangular frame.

9. Wan Chai District

Second day on 17:30 hours

Upss….this is prostitution area….Oh, What are you doing, Donny!…. Hahaha.

Eittt, don’t get me wrong….Wan Chai is a backpacker area on Hong Kong Island. I am a good man….I wasn’t staying here (my hotel is in Kowloon Island)….I was just sightseeing here….Hohoho.

Yes….I initially mean to go to Victoria Park which is a gathering place for Indonesian migrant workers….Maybe, my face look like a migrant worker, so maybe they will give free food for my dinner….Hahaha.

I was too far from that park when I got off Ding Ding Tram….Because it was heavily raining and I couldn’t find the way to that park, then I stopped by for a moment at center of Wan Chai District where food prices were cheap….I was very hungry.

It was true….there were many pubs with super sexy women….I was very nervous….Hahaha.

Situation at Henessy Road, Wan Chai District

10. Symphony of Lights

Second day on 19:55 hours

Symponhy of Lights is a show of light and sound which emitted from 42 skyscraper buildings at Victoria Harbor. Leaving Wan Chai District, I stopped by here before returning to hotel. It was my last night in Hong Kong because on next day I would sail to Macao.

Then….Who has ever been a backpacker to Hong Kong?….Hahaha.

5 Destinasi Wisata Macau dalam 24 jam

Macau adalah negara ke-10 yang kukunjungi. Berawal dari tersangkutnya hasrat pada tiket promo senilai Rp. 512.000 milik Cebu Pacific yang mengantarkanku secara tak sengaja di Manila. Dan daripada membeli tiket balik dari Manila yang sangat mahal maka lebih baik pulang dari Shenzen saja karena Tiger Air menawarkan tiket kelewat murah.

Dalam perjalanan Manila menuju Shenzen itulah, aku terdampar di Hong Kong dan Macau. Untungnya tak lama….Hanya 48 jam di Hong Kong dan 24 Jam di Macau.

Setelah menulis kisah 48 jam selama di Hong Kong maka kali ini Aku akan bercerita tentang apa saja yang kukunjungi selama 24 jam di Macau.

1. Outer Harbour Ferry Terminal

Momen itu tiba seiring pilihanku menggunakan TurboJet Ferry ketika meninggalkan Hong Kong. Tepat pukul 08:55 dengan jarak sekitar 70 km dari Hong Kong, aku tiba di terminal ferry  yang terletak di bagian timur pulau Macau itu.

Dibagian luar bangunan, pelabuhan ini berpapan nama dalam bahasa Portugis yaitu Terminal Maritimo de Passageiros do Porto Exterior. Tulisan berbahasa Portugis sangat biasa terlihat di seluruh Macau. Hal ini dikarenakan selama 4 abad, China menyewakan Macau kepada Portugis untuk digunakan sebagai pelabuhan perdagangan.

Jika di google maps ada istilah Macau Maritime Ferry Terminal, Macau Ferry Terminal atau Hong Kong Macau Ferry Pier maka itu adalah nama yang berbeda untuk satu tempat yang sama yaitu Outer Harbour Ferry Terminal.

Jadi jika kamu berlabuh di terminal ferry ini maka nikmati sajalah keberadaannya.

2. Senado Square

Aku sengaja memilih dormitory di dekat kompleks Ruins St. Paul. Karena di kompleks ini ada dua destinasi wisata terkemuka yaitu Ruins St. Paul itu sendiri dan Senado Square. Sehingga Aku bisa leluasa menjelajah keduanya dengan berjalan kaki.

Segera menitipkan backpack ke Villa Ka Meng Hotel begitu menuruni bus di jalanan Avenue de Almeida Ribeiro dekat dengan  Ponte Cais No 16. Dan setalah menikmati sarapan pagi di rumah makan Loulan Islam, aku bergegas menuju Senado Square

Senado Square sendiri merupakan alun-alun yang dibangun sejak 1918. Adalah shopping tourism untuk para pemburu barang ber merk hingga penikmat jajanan kaki lima. Menjadi salah satu warisan UNESCO, Senado Square menawarkan pemandangan bangunan-bangunan klasik perpaduan budaya Tiongkok dan Portugis si sepanjang sisinya.

3. Ruins St. Paul

Meninggalkan Senado Square maka destinasi terdekat yang kukunjungi berikutnya merupakan reruntuhan sebuah katedral yang bernama Ruins st Paul. Kalau Kamu ke Macau dan belum berfoto didepan Ruin St Paul, maka perjalananmu serasa tidak syah. Karenanya tempat ini menjadi tempat teramai yang dikunjungi turis selama kunjunganku ke Macau

Ruis St. Paul awalnya adalah katedral Portugis yang dibangun pada abd ke-16. Juga menjadi warisan sejarah dunia UNESCO setelah menjadi cagar sejarah pasca kebakaran hebat pada tahun 1959. Bagian ikonik yang sering dijadikan obyek foto para turis adalah bagian pintu depan katedral yang tersisa.

4. Macau Tower

Ruis St. Paul menuju Macau Tower adalah rute yang membuatku tersangkut selama beberapa waktu di jalanan Avenue Da Praia Grande. Mensiasati rute bus Macau yang begitu rumit dan masif, akhirnya aku berhasil menemukan halte bus yang disinggahi oleh bus kota no 9A menuju Macau Tower.

Menara setinggi 338 meter ini menawarkan wisata observation deck, restoran, teater, mall dan kegiatan bungee jumping. Sementara dibagian taman tersedia plaza dan kolam untuk kegiatan olahraga atau hanya sekedar menghabiskan waktu di sore hari bagi para warga Macau.

5. Venetian

Bayangan kemegahan Venetian membuat keberadaanku di Macau Tower tak begitu khusyuk. Aku seakan-akan terburu-buru untuk segera menikmati Venetian. Rasa penasaran untuk memasuki ruangan casino terbesar di Macau bahkan salah satu terbesar di dunia, membuatku ingin segera menuju kesana. Selain casino, satu hal yang selalu kuingat tentang Venetian adalah Gondola Rides yang akan membawa kita ke nuansa pariwisata Venice, Italia.

Merupakan integrasi dua fungsi yaitu hotel mewah dan casino. Bangunan 39 lantai ini terletak di pulau reklamasi Cotai dan berafiliasi dengan The Venetian Las Vegas.

Dannnnn….Kelima destinasi itu hanya kuselesaikan dalam 14 jam eksplorasi di Macau. Selebihnya waktu kugunakan untuk tidur di hotel untuk memulihkan kondisi tubuh pasca beberapa hari sebelumnya mengekplorasi Manila dan Hong Kong.

It is very crazy….

10 Destinasi Wisata Hong Kong dalam 48 Jam

Hong Kong merupakan daerah admistrasi khusus Republik Rakyat China yang menjadi wilayah pertama di Asia Timur yang Kukunjungi. Aku mengunjunginya pada tahun 2016.

Perasaanku waktu itu?….Tak terkatakan, pertama kali keluar Asia Tenggara adalah pencapaian prestisius kala itu.

Kenapa begitu?….Terbang ke Hong Kong sesegera mungkin sejak menjadi traveler pada 2011 adalah perkara mudah. Tapi bukan itu esensinya, Aku ini kan traveler penyisir yang mendatangi satu persatu kawasan dengan urut dan detail (tuh kan, Kamu jadi tahu kebiasaan anehku yang lain….orang gelo guwe mah, jangan ditiru!….Hahaha). Jadi begini….

Sebelum menuntaskan eksplorasi Asia Tenggara maka Kupastikan Aku tak akan menuju Asia Timur.

Sebelum menuntaskan eksplorasi Asia Timur maka Aku tak akan pergi ke Asia Selatan.

Sama….Sebelum tuntas Asia Selatan, Aku tak akan menginjak Timur Tengah.

Udah ye….segini dulu, karena Aku baru akan menuntaskan Timur Tengah….Jangan suruh nulis about Eropa!….Guwe belum punya bahan….Hahaha.

—-****—-

Yuk kembali ke Hong Kong. Oh ya, tulisan terakhirku tentang Hong Kong di blog ini ada di link berikut:

https://travelingpersecond.com/2018/02/19/bigbuddha-dan-disneyland-hong-kong/

Nah, kali ini Aku akan menceritakan apa saja yang Kukunjungi selama di Hong Kong. Sedangkan kejadian-kejadian unik akan Kuceritakan detail satu-persatu setelah artikel ini ya….

Inilah sepuluh destinasi utama yang Kukunjungi:

  1. Hong Kong International Airport.

Hari pertama pukul 07:13

Tahu kan, Agustus lalu Hong Kong International Airport lumpuh total karena di duduki massa pro-demokrasi yang menolak RUU Ektradisi Hong Kong.

Ketika lihat TV, Aku jadi teringat kala mendarat di bandara ini pada 4 Januari 2016. Ingatanku masih kuat, waktu itu tanpa mandi selama 24 jam, Aku menaiki Cebu Pacific bernomor penerbangan 5J 108 dari Ninoy Aquino International Airport, Manila.

Lihat tampangku…Percaya kan ga mandi selama 24 jam?.

Lebih percaya lagi ga? tas seuprit itu adalah satu-satunya backpack yang kubawa klayapan ke Manila-Hong Kong-Macao-Shenzen selama 10 hari. Kayak main ke Depok aja kan?….Hahaha.

2. Tian Tan Buddha

Hari pertama pukul 10:13

Dari airport, Aku tak lantas menuju hostel….emang piknik-ers?. Aku bergerak menuju Lantau Island (Yang perlu Kamu tahu bahwa Hong Kong terdiri dari 3 pulau utama yaitu Lantau, Kowloon dan Hong Kong).

Naik double decker bus S56 menuju Tung Chung Station dan dilanjutkan dengan bus no 23 menuju Tian Tan Buddha. `

Kalau ke Hong Kong, Kamu wajib kesini ya. Karena ini adalah patung perunggu terbesar di dunia dengan tinggi 34 meter dan berwujud Buddha duduk. Dibangun 26 tahun silam sebagai pusat kegiatan Buddhisme di Hong Kong.

Gak mandi….tetep aja guanteng….Njiir, pede beud.

3. Hong Kong Disneyland

Hari pertama pukul 13:37

Jangan buru-buru berpindah dari Lantau Island, dalam jarak 33 km dan waktu tempuh 35 menit, Kamu bisa mengunjungi Hong Kong Disneyland.

Demikian pula diriku, meninggalkan Tian Tan Buddha menuju Tung Chung Station kembali kemudian naik MTR (Mass Transit Railway) Tung Chung Line dan berganti dengan MTR Disneyland Resort Line di Sunny Bay Station untuk mencapai tujuan.

Dibuka pada tahun 2005, Hong Kong Disneyland adalah theme park terbesar di Hong Kong. Siapkan saja Rp. 1.000.000 untuk masuk kedalamnya.

Aduh….udel.

4. Kowloon Walled City Park

Hari Pertama jam 18:37

Sepulang dari Hong Kong Disneyland, Aku menyelesaikan proses check-in di Hong Kong Taiwan Hotel yang terletak di Chungking Mansions Building lantai 3. Hotel seharga Rp 264.000 per malam itu terletak di Nathan Road 36-44.

Akhirnya menemukan kedai makanan halal milik warga Hong Kong keturunan India di lantai 1. Selepas lunch yang sangat terlambat itu, Aku menuju Kowloon Walled City Park yang dibangun di daerah bekas pemukiman padat penduduk dengan kriminalitas yang susah diberantas oleh kepolisian Hong Kong.

Bertolak Tsim Sha Tsui Station menuju Lok Fu Station. Dari stasiun ini, hanya perlu berjalan kaki sejauh 1 km menuju Kowloon Walled City Park menyusuri Junction Road dengan waktu tempuh 15 menit.

Taman cukup gelap di malam hari.

5. Ladies Market

Hari Pertama jam 20:15.

Dari Lok Fu Station, Aku menuju Mong Kok Station dengan tarif Rp. 9.000

Ladies Market yang terletak di Tung Choi Street merupakan tempat berbelanja souvenir terkenal di Hong Kong. Kamu yang jago menawar barang bolehlah berbelanja ke sini. Aku?….kagaklah, cuma lihat-lihat aja.

Jam operasioal Ladies Market: 11:00 – 23:30.

6. Avenue of the Stars

Hari kedua jam 09:45

Avenue of the stars adalah plaza jembatan sepanjang 400 meter di sisi utara Victoria Harbour yang dibuat mirip “Walk of Fame” nya Hollywood, dibangun untuk merayakan suksesnya Industri Perfilman Hong Kong. Dihiasi oleh patung para artis dan direktur film terkenal Hong Kong, cetakan telapak tangan (handprints) mereka serta patung-patung yang menggambarkan aktivitas pembuatan film di Hong Kong.

Saat Aku tiba di Hong Kong, Avenue of the Stars sedang mengalami renovasi sehingga semua patung diangkut dan dipamerkan di sebuah taman yang diberi nama Garden of Stars di bilangan Salisbury Road.

Karena renovasi sudah selesai saat ini, maka semua patung dan handprints sudah dipindahkan kembali ke tepian Victoria Harbour dan tentu penampakan lokasinya sudah lebih baik lagi.

Cukup berjalan kaki untuk dari hotel tempatku menginap untuk menuju Garden of Stars.

Ciaaaaaatttt…..hazedigggg.

7. The Hong Kong Observation Wheel dan AIA Vitality Park.

Hari kedua pukul 11:20

Terletak di depan Central Ferry Pier di Hong Kong Island. Ferris wheel setinggi 60 meter ini memiliki 42 gondola sebagai media observasi Hong Kong dari ketinggian. Cukup merogoh kocek Rp 40.000 untuk menaikinya.

Sedangkan AIA Vitality Park berada tepat di bawahnya. Taman ini biasa digunakan untuk olah raga, konser dan festival. Saat Aku kesana memang sedang ada festival untuk menyambut Natal dan Tahun Baru 2018 di taman ini.

8. Bank of China Tower

Hari kedua pukul 12:45.

Bank of China Tower adalah landmark terkenal di Hong Kong Island. Saking terkenalnya sering dicetak sebagai souvenir yang dijual di seantero Hong Kong.

BOC Tower ini terletak Garden Road dan merupakan kantor pusat Bank of China (Hong Kong) Limited. Dengan tinggi 367 meter menjadikannya sebagai bangunan tertinggi keempat di Hong Kong.

Di lantai 43 memiliki observation deck yang awalnya dibuka untuk turis sehingga bisa melihat seisi kota dari atas. Tetapi sayangnya, saat Aku tiba disana fasilitas ini sudah ditutup untuk umum. Beuh….nasib guwe kagak mujur emang.

Trus apa yang kulakukan di tower itu selama 2 jam an?….Baca tulisan setelah ini ya!….hahaha

Itu tuh towernya….khas berkerangka segitiga.

9. Wan Chai District

Hari kedua pukul 17:30

Hadeuh…..ini mah daerah prostitusi…..dasar keparat kamu, Donny!….Hahaha.

Eittt, jangan salah ya….Wan Chai adalah salah satu backpacker area di Hong Kong Island. Guwe baik kan…. ga nginep dimari (hotelku kan di Kowloon Island)….atut….hohoho.

Ya gimana lagi….maksud hati menuju Victoria Park yang menjadi tempat berkumpulnya para TKI….Tampang guwe kan mirip TKI tuh….siapa tahu ada yang mau kasih makanan gratis buat jatah dinner guwe…..#ngarep

Gue kebablasan pas naik Ding Ding Tram….karena keburu hujan lebat dan gak mungkin nyari ntuh taman, maka mampir lah sebentar di pusat Wan Chai District yang harga makanannya murah-murah….Aku keburu dilanda kelaparan.

Bener ternyata….banyak pub-pub dengan wanita-wanita super sexy yang di gandeng para bule….lah guwe, gandengan ama sape?….hahaha.

Suasana di Henessy Road, Wan Chai District

10. Symphony of Lights

Hari kedua pukul 19:55

Symponhy of Lights adalah pertunjukan cahaya dan suara yang dipancarkan dari 42 gedung pencakar langit di seberang Victoria Harbour. Sepulang dari Wan Chai District, Aku sempatkan mampir disini sebelum balik ke hotel. Saat itu adalah malam terakhirku di Hong Kong karena keesokan harinya Aku akan berlayar ke Macao.

Hayo….Siapa yang sudah pernah backpacker ke Hong Kong….Ngacung!.