Haedong Yonggungsa Temple: Tak Pernah Sampai….

<—-Kisah Sebelumnya

Belum genap langkahku mencapai Stasiun Toseong, nada perut mengirim pertanda. “Oh iya, aku belum makan siang”, respon cepat dalam fikirku. Terakhir aku menyantap snack jalanan Bungeoppang dua jam lalu di jalan yang sama dengan tempat berdiriku sekarang, Kkachigogae-ro Avenue.

Menuju Haedong Yonggungsa Temple perlu waktu yang tak sebentar. Aku berhenti sejenak di satu sisi trotoar. Perlahan menyapukan pandangan ke deretan ruko di sepanjang jangkauan mata. Di seberang jauh jalan, aku melihat rumah makan yang tak begitu besar, beberapa warga lokal keluar dari rumah makan mungil itu dengan membawa kantong plastik berisi makanan. Cepat memutuskan, “lebih baik aku makan disana saja, waktuku tak banyak”. Sewaktu kemudian aku sudah terduduk di salah satu bangku rumah makan mungil itu.

Annyeonghasimnika”…….

Good afternoon, Sir. This is the menu. Enjoy your time here

Thank you sir, give me time to choose the menu!”.

Pemuda berpotongan khas poni Korea itu tersenyum mengangguk dan kembali sibuk menyiapkan makanan untuk beberapa pelanggan yang masih mengantri di pintu. Sedangkan aku mulai sibuk memilih makanan yang akan kusantap di daftar menu. Filter pertamaku tentulah harga, mengingat amunisi yang makin menipis pada hari keduaku di Korea.

Hello, Sir”, aku memanggil pemuda itu setelah memilih menu termurah.

Yes, Sir”, dia berkesiap menuju mejaku.

This, Sir

Oh, Kimbap….OK…OK. Oh ya, Where are you come from, Sir”, Dia memahami cepat pesananku sembari membuka topik pembicaraan lain.

“Indonesia, Sir”

Wooow, Indonesia. I ever worked there for 3 years. Selamat siang, Pak

Aku tertawa tak terbendung melihatnya melafalkan bahasa tanah air beta….Hahaha.

Tidak makan babi?”, dia kembali berkelakar.

Tidak…Tidak…..Hahahaha. Bahasa Indonesia Anda bagus”, aku merasa bahagia, seolah sedang berada di negeri sendiri.

Moslem ya?

“Yups. Saya senang bisa mendengar bahasa Indonesia di Busan, Pak”

Ya….Ya….Ya….. Saya bisa sedikit Bahasa Indonesia. Tunggu ya, saya buatkan Kimbap. Hanya 10 menit, Tunggu!

“Ok Pak”

Dia sibuk meramu Kimbap pesananku dengan tekun dan tepat sepuluh menit kemudian, Kimbap itu diangkatnya dan dibawa menujuku. Kini Kimbap telah siap kusantap. Tetapi aku menyantapnya dengan mimik datar. Damn…Aku kangen Nasi Padang.

Kenyangkah anda jika makan siang dengan porsi segitu?

Membayar setelah menyantapnya, aku berbincang sebentar hingga akhirnya tahu dia adalah pemilik rumah makan mungil ini.

—-****——

Aku terduduk tak kenyang dalam gerbong Humetro Line 1 (Orange Line), kemudian berpindah di Humetro Line 2 (Green Line) di Stasiun Seomyeon. Selanjutnya aku menuju ke Stasiun Haeundae demi melanjutkan petualangan.

Destinasi yang membuatku pucat pasi….Entahlah, apakah waktunya akan cukup hingga aku mengejar keberangkatan bus menuju Seoul pada jam setengah sembilan malam nanti. Atau apakah aku akan tertinggal oleh bus itu.

Kekhawatiranku yang berlangsung di sepanjang lorong bawah tanah Busan terhenti ketika voice announcer mengabarkan bahwa Humetro akan segera merapat di Stasiun Haeundae. Bersamaan dengan itu maka keputusanku menuju destinasi terakhir telah bulat…..Aku akan mengunjunginya. Dengan cepat aku bergegas menuju station gate di permukaan, sesampainya di atas, aku melangkah gesit menuju sebuah halte bus yang berlokasi tak jauh dari station gate. Nama halte bus itu sama dengan nama stasiun di sebelahnya, yaitu Halte Bus Haeundae, terletak di tepian Haeun-daero Avenue

Kuperhatikan dengan seksama angka-angka yang merupakan identitas beberapa bus kota yang melewati halte itu. Yes….Ada angka 181 terselip diantaranya, itulah nomor bus yang kusasar. Kuperhatikan lekat-lekat muka setiap bus yang akan berhenti di halte itu. Aku tangkas mencari keberadaan letak angka di bagian depan bus. Cukup lama, bus bernomor lain melewatiku di halte itu hingga datang bus keenam dengan angka yang kucari sedari tadi. Kini aku bersiap diri menyambut bus tersebut yang dari kejauhan mulai menyalakan lampu sein sebagai penanda bahwa bus itu akan mengambil penumpangnya di Halte Haeundae.

Bus berdecit lembut di hadapan, aku segera melompat masuk melalui pintu depan, memasukkan ongkos sebesar 1.200 Won (Rp. 15.000) pada fare box di sebelah sopir sembari menunjukkan sebuah gambar kepadanya. “Haedong Yonggungsa Temple, Sir. Please drop me here…!.”.

Hoohhh….hoooohh”, selorohnya kuanggap bahwa dia telah faham.

Seluruh bangku yang telah penuh, membuatku berdiri sendirian dibawa laju bus kota itu. Wajah-wajah lokal yang heran menatapku sepanjang perjalanan, tentu karena aku berbeda warna kulit dari mereka.

Sementara di dalam bus, tak ada petunjuk apapun yang bisa membantu memantau dimana keberadaanku di setiap saat. Aku mencoba menenangkan diri diluar fakta bahwa kepanikan kecil mulai mengganggu konsentrasi. Tiga puluh menit berlalu, sudah tak terhitung bus itu berhenti menaik turunkan penumpang, tetapi pak sopir tampak terus fokus mengemudikan busnya.

Akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya dan menanyakan kembali perihal gambar kuil yang kutunjukkan sedari awal perjalanan. “Sir, is this temple still far?”, aku bertanya singkat. Lalu bagaimanakah reaksi dia?….Ruarrrr Biasaaahhhh.

Hooohhhh….Hooohhhh”, sembari melambai-lambaikan tangan pertanda tidak tahu. Entah tak tahu tempatnya atau tak tahu bercakap English. “ Ah alamat, pantesan aku dicuekin sedari tadi”. Kini tak ada pilihan, aku harus turun dari bus walaupun aku tak tahu sedang berada dimana. “Sir. Drop me here now!”. Dan perlahan, bus mulai melambat menuju ke sebuah halte kecil di depan sana.

Firasat sedari awal perjalanan itu jelas, aku kini benar-benar tersesat di sebuah tempat nan sepi. Sementara waktu sudah lewat dari jam setengah lima sore. Aku akan berusaha mencari informasi apakah Haedong Yonggungsa Temple masih layak untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Sepuluh menit dalam kebingunan dan kepanikan dalam sebuah halte, akhirnya tampak seorang lelaki muda sedang berjogging mendekat ke arahku. Kuberanikan diri untuk menghentikannya dan menanyakan tempat tujuan itu kepadanya.

It’s about 10 kilometers from here, you get off from the bus but it’s too far from that place

Ok thanks, Sir

Itu berarti aku tak bisa berjalan kaki dan juga tak mungkin menunggu bus menuju kesana….Akan terlalu lama dan menghabiskan banyak waktu. Kuputuskan untuk membatalkan segera dan bersiap menuju tengah kota kembali. Lebih baik aku mengamankan jadwal keberangkatan bus menuju Seoul. Jika aku terlambat maka aku harus bersiap dengan kompensasi menambah biaya akomodasi untuk menginap semalam lebih lama di Busan.

Dengan rasa penuh panik, sebal dan kecewa….Ditambah sedikit takut karena berada di tempat yang sangat sepi di tepian Gijang-daero Avenue, akhirnya aku menunggu kembali kedatangan bus bernomor 181.

I’m so sorry…. Haedong Yonggungsa Temple….Bak kasih yang tak sampai.

Kisah Selanjutnya—->

Menengok Kakek Tua di Gamcheon Culture Village

<—-Kisah sebelumnya.

Pukul sebelas siang, daerah Nopo-dong, Distrik Geumjeong….

Akhirnya aku mendapatkan tiket bus menuju Seoul. Karena bus baru berangkat malam nanti, aku memutuskan untuk melanjutkan eksplorasi di Busan hingga sore nanti. Kini aku mulai meninggalkan Busan Central Bus Terminal, menyusuri koridor integrasi menuju Stasiun Nopo.

Setiba di stasiun, tak lama menunggu, Humetro Line 1 (Orange Line) membawaku menuju Stasiun Toesong. Jaraknya berselang dua puluh empat stasiun. Aku tiba di stasiun tujuan dalam rentang waktu hampir satu jam.

Turun di Stasiun Toesong, mencari petunjuk menuju Gamcheon Culture Village.

Keluar dari pintu barat Stasiun Toesong, aku kemudian menyusuri Kkachigogae-ro Avenue. Tetapi sebelum jauh melangkah, aku menemukan street food yang sudah kuincar untuk dicicipi sebelum berangkat ke Korea Selatan. Apalagi kalau bukan Bungeoppang, street food berbahan dasar tepung dan berisikan cokelat, keunikan snack ini adalah penampakannya yang berbentuk ikan yang sangat lucu. Aku membelanjakan 1.000 Won (Rp. 12.000) untuk menikmatinya.

Aku menikmati sajian Bungeoppang di depan penjual wanita setengah baya. Mengunyah dalam kondisi makanan yang masih panas membuat dia menertawakanku yang kerepotan mengunyah. Momen seperti inilah yang membuatku selalu bahagia ketika bertraveling, bersenda gurau dengan pengais rezeqi jalanan yang menunjukkan kesahajaannya, apa adanya.

Dari Kkachigogae-ro Avenue, aku berganti haluan di Haedoji-ro Avenue menuju ke selatan. Jalanan masih saja datar, membuatku melintasnya dengan sumringah. Tapi hanya dua ratus meter dari bagian Haedoji-ro Avenue yang kulalui, karena untuk selanjutnya aku mulai menanjak sempurna di Ami-ro Avenue.

Pos polisi di bilangan Kkachigogae-ro.

Aku mulai menanjaki bukit dengan topografi jalanan yang khas, meliak-liuk,  menyebabkan rentang jalan menjadi lebih panjang. Hanya saja aku tak mau dipermalukan dengan beberapa warga lanjut usia yang menanjaki jalan itu dengan gesit. Bahkan tak sedikit warga setengah baya berjogging ria menanjaki bukit. Luar biasa. Aku harus tersengal menanjaki Ami-ro Avenue untuk mengimbangi mereka.

Satu setengah kilometer sudah aku melangkah hingga akhirnya tiba di gerbang depan Gamcheon Culture Village. Sementara waktu telah menunjukkan pukul setengah satu siang. Sebetulnya ada kendaraan umum bernomor 2 yang bisa mengantarku dari Stasiun Toesong menuju Gamcheon Culture Village, tapi aku enggan menggunakannya, karena berjalan kaki adalah sesuatu yang menyenangkan dan memungkinkan berinteraksi dengan warga lokal.

Gerbang depan Gamcheon Culture Village.
Gerbang depan Gamcheon Culture Village.

Usai menikmati suasana gerbang depan Gamcheon Culture Village yang penuh seni, aku mulai memasuki desa budaya yang telah intens diberikan sentuhan seni sejak sebelas tahun lalu itu. Konon desa ini bisa dikunjungi lebih dari satu juta pelancong setiap tahunnya. Wahhh, bisa dibayangkan besarnya putaran ekonomi di bekas desa kumuh ini. Desa yang dulu hanyalah desa kumuh, tempat tinggal kaum miskin kota, kini desa itu telah berubah menjadi desa wisata dengan pendapatan yang luar biasa.

Tingkat seni yang unggul, menjadikan Gamcheon Culture Village diidentikkan dengan “Santorininya Korea”. Menjadikan kebanggaan Distrik Saha yang mencakupi wilayah desa wisata ini.

Seni di sepanjang Gamcheon Culture Village.
Suasana Gamcheon Culture Village.
Suasana Gamcheon Culture Village.

Di sepanjang jalan utama desa, mudah ditemukan restoran dan cafe yang memanjakan pengunjung. Sejauh mata memandang,  tampak lautan di ujung desa ketika aku menikmati keindahannya dari sebuah sky rooftop. Sementara toko seni dan souvenir tampak bertebaran dan mudah ditemukan.

Pada sebuah langkah, aku tertarik dengan salah seorang pemilik rumah yang mengenakan kruk di kedua lengannya. Dia bercerita bahwa dia bangga rumahnya berada di tepian jalan utama desa dan menjadi spot menarik untuk dikunjungi para wisatawan. Aku bersama seorang turis keturunan Tionghoa asal Malaysia dipersilahkan masuk untuk melongok interior rumah si kakek pemilik. Wah inilah bonus dari perjalanan itu.

Tetapi waktu yang begitu sempit, membuatku hanya satu jam berkeliling desa dan memutuskan untuk segera meninggalkan daerah  Gamcheon-dong  untuk menuju ke destinasi lainnya……

Kisah Selanjutnya—->