LRT Sumatera Selatan: Serasa di Luar Negeri

<—-Kisah Sebelumnya

Aku telah usai mengabadikan beberapa sudut cantik Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport.

Bibirku tersinyum simpul karena leluasanya diriku menikmati suasana di pelataran bandara kebanggan Kota Palembang tersebut.

Bagaimana tidak, pagi itu tak ada yang mengganggu aktivitasku dalam mengambil gambar di area parkir bandara. Para sopir taksi enggan mendekat, tentu akan lebih baik jika mereka menyasar beberapa penumpang yang telah mendarat dari beberapa penerbangan lain.

Usai puas, aku memutuskan pergi….

Menghindari beberapa genangan kecil air pasca hujan yang mengguyur area bandar udara, aku melangkah pasti ke sebuah koridor panjang.

Memang sedari beberapa waktu sebelumnya aku memperhatikan koridor itu, banyak pengunjung terminal yang menggeret travel bag di sepanjang koridor itu.

Itu pasti koridor menuju stasiun LRT”, aku menduga-duga.

Koridor itu berada di sisi timur bangunan terminal bandara, tepat berada di Zona E area parkir.

Aku memotong jalur koridor melalui sebuah tangga di ujung utara koridor. Mengindahkan keberadaan lift menuju lantai atas. Aku memilih menggunakan jalur tangga manual, sabar menapaki setiap anak tangganya.

Benar adanya, tiba di lantai atas, sebuah signboard meyakinkan langkah yang telah kumulai.

Koridor menuju Stasiun Bandara.
Nah, ini dia wujud koridornya.
Konter penjualan tiket LRT Sumatera Selatan.
Tak sabar menunggu kedatangan LRT Sumatera Selatan.

Stasiun LRT”, aku melafalnya, “Yeaa, saatnya mencoba”, kerianganku tak terbendung.

Aku melanjutkan langkah….

Oh, di sini toh test PCR dilakukan”, aku berguman sembari lekat mengamati beberapa calon penumpang pesawat yang duduk mengantri untuk melakukan test PCR. Memang pada saat kedatanganku, kondisi penyebaran COVID-19 masih cukup dipantau oleh pemerintah melalui program PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) Tingkat 2.

Lalu jika ditanya, kenapa aku memberanikan diri untuk mulai berpetualang di saat pandemi masih pada level waspada?

Sudahlah, aku sudah tidak tahan berada di rumah…..”, begitulah kira-kira aku akan menjawab…. 😊😊

Langkahku akhirnya tiba di pintu masuk peron. Seorang petugas keamanan menyapaku ramah dan langsung mengarahkanku untuk melakukan check-in melalui aplikasi Peduli Lindungi.

Lantas, seorang petugas customer service wanita dengan menggunakan pakaian batik khas Palembang menghampiriku, menyapa dengan sopan dan menanyakan tujuan akhirku.

Jembatan Ampera, Kak”, aku melontar jawab.

Oh baik, itu berjarak 10 stasiun dari stasiun ini. Kakak bisa menggunakan kartu uang elektronik atau membeli tiket di konter sebelah sana”, dia menunjuk salah satu sisi peron.

Terimakasih, Kak”, aku melempar senyum walau ada rasa sebal pada diri sendiri kenapa harus meninggalkan kartu uang elektronik di rumah.

Membayar dengan Rp. 10.000, akhirnya aku mendapatkan selembar tiket dan mengambil duduk di salah satu sisi peron untuk menunggu kedatangan LRT.

Akhirnya datang juga.
Yuk, naik !
Menunggu penumpang lain masuk.
Kerennya gerbong buatan anak negeri.
Perjalanan menuju Stasiun Ampera.

Bersyukur….Tak perlu lama menunggu, lima menit kemudian deretan gerbong LRT merapat pelan di jalurnya.

Aku melompat melalui gerbong pertama dan mengambil tempat duduk di gerbong tersebut. Tampak security dengan tegas mengarahkan setiap penumpang untuk tidak menduduki bangku yang diberi tanda silang demi menjaga jarak antar penumpang.

Tak berapa lama kemudian, aku terhanyut dalam laju kereta yang melaju dengan cepat demi menuju pusat kota.

Di dalam gerbong, secara tak sadar, aku bisa ikut serta merasakan kebanggaan atas keberadaan LRT Sumatera Selatan di Bumi Sriwijaya tersebut. Aku seakan seperti berada di kota-kota besar di luar negeri yang memiliki transportasi massal model LRT dan MRT.

Sementara itu, di luar gerbong, langit masih saja menumpahkan jutaan tetes gerimis ke bumi. Menciptakan nuansa dingin di sepanjang jalur layang MRT menuju Stasiun Ampera.

Di stasiun itulah nantinya aku akan turun.

Kisah Selanjutnya—->