24 Wisata Kuala Lumpur Dalam 3 Hari 2 Malam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang hampir tak tertangkap karena beradu cepat dengan waktu di sepanjang tol Jakarta-Serang, dibumbui dengan pucat pasinya wajah akibat interogasi staff imigrasi yang judes karena penampilanku yang tak meyakinkan, membuat hati dan asaku malambung tinggi bersamaan dengan langkah pertamu meninggalkan konter imigrasi KLIA2.

Gaes….Perjalananku di Kuala Lumpur untuk pertama kalinya dimulai. Seneeenggg banget waktu itu. Magnet kulkas ku akan bertambah menjadi tiga. Begitulah adanya, jumlah magnet kulkas di rumahku menunjukkan berapa banyak negara yang sudah kukunjungi…..Nanti kalau sudah mengunjungi 100 negara, aku akan beli kulkas setinggi langit-langit rumah. Biar muat nempelin magnet-magnet itu….Hahaha.

—-****—-

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak 9 bulan sebelum keberangkatan ini akhirnya terwujud. Masih tak percaya ketika diriku benar-benar memasuki negeri jiran itu. Rencana perjalanan yang kutuangkan secara detail di tiga lembar itinerary telah mengantarku menuju 24 destinasi berikut:

1. KL Sentral

KL Sentral adalah persinggahan pertama yang sering digunakan para petualang sebelum menjelajah Kuala Lumpur. Ya iyalah, kebanyakan transportasi umum dari KLIA akan berujung di sini.

KL Sentral memang dibangun pemerintah Malaysia sebagai bangunan transportasi berorientasi transit. Tak khayal, pusat transportasi ini tak pernah sepi pengunjung.

Awas mas….Resleting.

Untuk pertama kalinya, tiba disini di hari pertama kelayapanku, tepat pukul 11:23. Aku menyempatkan diri untuk sejenak mengeksplorasi Nu Sentral yang merupakan shopping mall yang terintegrasi dengan bangunan modern ini.

2. Batu Caves

Waktu yang terlalu siang untuk memulai perjalanan ke Genting Highlands membuatku memilih kuil umat Hindu ini sebagai persinggahanku berikutnya. Berlokasi di daerah Gombak yang berjarak 15 km di utara KL Sentral dengan jarak tempuh 40 menit menjadikan patung kuning “Dewa Murugan” menjadi ikon terfavorit di Kuala Lumpur setelah Petronas Twin Tower.

Makanya, kalau ga bisa main tripod….Minta orang lain fotoin aja….Huh.

90 menit menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa penasaranku akan gua yang terletak di sebuah perbukitan kapur  berusia 400 juta tahun itu.

3. Suria KLCC

Sekembali dari Batu Caves dan seusai berburu hotel di daerah Pasar Seni yang berakhir dengan hinggapnya langkah di Agosto Inn, dalam gerimis ringan aku bergegas menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC). KLCC adalah pusat kota Kuala Lumpur yang menawarkan shopping mall modern yaitu Suria KLCC, deretan hotel bintang lima, pemandangan ikonik Petronas Twin Tower dan taman kota yang luas (KLCC Park).

Walau tak gemar berbelanja, aku hanya penasaran ingin melihat langsung mall yang memiliki 350 tenant ini. Arsitektur Suria KLCC konon berbentuk bintang sabit jika dilihat dari atas….Keren ya. Dan perlu kamu tahu bahwa pembangunan Suria KLCC adalah proyek terintegrasi dengan Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Sebelum keluar dari Suria KLCC, aku sempatkan untuk mengunjungi Petrosains di lantai 4. Petrosains adalah tempat edukasi perminyakan milik Petronas, raksasa minyak milik Malaysia. Cukup menyisihkan Rp. 35.000 untuk belajar di dalam Petrosains.

Ngapain siiih….

5. Petronas Twin Tower

Tepat di sebelah kiri pintu keluar Suria KLCC, aku akhirnya menemukan bangunan kembar fenomenal itu. Gerimis lembut yang menemaniku menikmati Petronas Twin Tower tak mampu mengusirku segera dari halaman depan gedung kembar tertinggi di dunia itu.

Security: “Turuuuuuuunnnn…..”

Petronas  Twin Tower adalah destinasi terakhir di hari pertama kelayapan. Lebih cepat beristirahat di Agosto Inn untuk mempersiapkan diri menuju Genting Highland di keesokan harinya.

6. Genting Skyway

Jam 6:30, Melihat kehadiranku di meja makan membuat staff hotel itu terkesan tergesa-gesa menyiapkan sarapan pagi yang hanya berupa oatmeal, jeruk sunkist dan toast serta minuman hangat yang bisa kuambil sepuasnya dari tea and coffee pots.

Pagi yang masih sangat sepi kulalui menuju KL Sentral untuk menangkap bus pertama menuju Genting Highlands yang akan berangkat pukul 08:00. Dengan membayar tiket pulang pergi dari KL Sentral ke Genting sebesar Rp. 73.000 (harga pada tahun 2014, tahun 2019 harga sudah naik menjadi Rp. 85.000) aku tiba di Genting Highlands 1 jam 15 menit kemudian.

Pertama kalinya naik cable car….Clingak-clinguk, ndeso!

Harga segitu sudah termasuk naik Genting Skyway. Sementara harga sekali jalan untuk moda transportasi ini adalah Rp. 28.000 (Tahun 2019). Lower station gondola ini berada di Gohtong Jaya dan Upper Stationnya berada di Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Dua puluh menit kemudian, aku tiba di Genting Highlands setelah bergelantungan di dalam gondola berpenumpang delapan orang itu

Tujuan utama hari kedua yang harus merelakan waktu sehariku dirampas begitu saja. Perampasan yang membuatku girang bukan kepalang. Berharap ada repetisi seperti ini di lain waktu.

Awas, bang jangan di tengah jalan !….Kasian orang lain mau lewat.

Dua jam aku menapaki resort di pucuk gunung Titiwangsa sebelah timur laut Kuala Lumpur. Kalau kamu punya uang berlebih bisalah bermalam di Genting. Tapi melewati setiap mall tanpa berbelanja, restoran tanpa menyempatkan makan siang dan casino tanpa berjudi, pastinya itu adalah aku yang tak pernah memiliki uang cukup untuk berhura suka macam itu.

8. Bukit Bintang

Tinggal membalik cara berangkat maka aku bisa pulang kembali ke KL Sentral.

15:30….”Wuih, masih bisa ngelayap”, batinku bersorak. Bus, sudah….LRT, sudah….Komuter, sudah….MRT, belum jadi bang, mereka masih terlihat mengeruk tanah di sebelah Pasar Seni. Naik apa lagi dong?…..

Kuputuskan mencoba satu-satunya jalur monorail di Kuala Lumpur. Kapan lagi aku bisa menaikinya. Ini juga menjadi yang pertama kali aku menaiki monorail yang tiga tahun kemudian aku menaiki moda yang sama secara gratisan di Sentosa Island, Singapura….Yup, itu Sentosa Express.

Jangan lama-lama, belakang nungguin mau foto juga tuh.

Tujuan terkenal di Laluan Monorel KL adalah Kawasan Bukit Bintang. Menyandang predikat sebagai tempat perbelanjaan dan hiburan paling terkenal di Kuala Lumpur menjadikan Bukit Bintang sebagai pusat retail terpopuler yang selalu diburu para penggemar belanja, dari ibu rumah tangga, pegawai kantoran hingga pemudi pemuda bahkan para wisatawan.

Bukannya kamu wisatawan, Donny?….Bukan, bang. Aku cuma tukang kelayapan yang beruntung diberi kesempatan keliling dunia hingga 20 negara…..Geplaaakk-Geplaaakk-Geplaaakk.

9. Taman Tasik Titiwangsa

Killing time di sebuah taman kota di utara pusat kota adalah penutup petualangku di hari kedua. Didirikan di bekas pertambangan timah semasa kolonialisme Inggris menjadikannya maklum dengan keberadaan danau besar bekas galian pertambangan itu.

Maap pemirsa….Aku kehabisan batre pas ditaman….Itu aja ya.

Pukul empat sore, aku sudah hadir di taman itu dalam keramaian aktivitas warga yang luar biasa. Sampai-sampai adzan maghrib mengingatkanku bahwa aku sedang tidak berada di “Taman Bluntas”(nama taman terlayak yang dekat dengan tempat tinggalku). Artinya, waktu mulai mengusirku untuk segera meninggalkan Taman Tasik Titiwangsa dan lebih baik menyambut rasa aman di hotel tempatku menginap saja.

10. Hop On Hop Off Bus

Waktu memang tak bersahabat ketika dihadapkan dengan rasa penasaran. Mendadak aku di dorongnya memasuki hari terakhir petualangan. Waktu yang tak sedikit berhasil berkompromi dengan urat betis dalam mempengaruhi otak. Lalu otak berbisik, “Santai saja menghabiskan hari terakhir di Kuala Lumpur, Don”.

Rp. 157.500 terpaksa kuserahkan kepada pemandu wisata bus tingkat macam Routemaster milik negeri ratu Elizabeth itu. Bukan Routemaster ….Itu namanya HOHO….Atau kerennya Hop On Hop Off.

Buruan naik….Keburu soreeee.

HOHO Bus Stop No. 09 yang terletak di Central Market memudahkanku untuk menangkapnya….Tak sampai 5 menit untuk mencapainya dari Agosto Inn. Tak terima merugi, aku bersikeras mengunjungi beberapa destinasi wisata sepanjang jalur bus HOHO.

11. Istana Negara

Cukup 15 menit saje, setelahnya tuan-tuan dan puan-puan bise kembali ke bus atau ikut bus berikutnye”, suara itu semakin jelas dengan keberadaan mic di bawah bibir sang pemandu. Duh cantiknya wajah melayu berhijab itu. Membuatku luluh.

Awas jangan nempel-nempel….Bikin kotor tembok.

Aku bergegas melarikan diri secepat mungkin mendekat gerbang istana. Berfoto dengan penjaga istana yang berdiri bak patung dan kuda istana yang sangat jinak walau berpuluh-puluh wajah berbeda silih berganti berfoto dengannya.

12. Dataran Merdeka

Lapangan luas dihiasi gedung ikonik bergaya Mughal-Moor menjadi persinggahan berikutnya. Sultan Abdul Samad adalah nama bangunan itu. Sultan Abdul Samad sendiri adalah pemimpin negara Selangor yang terkenal karena memindahkan ibu kota Selangor dari Klang ke Kuala Lumpur.

Ya….Mayan lah posenya.

Dataran itu dikenal sebagai Dataran Merdeka, tempat dimana kemerdekaan Malaysia dari pemerintah kolonial Britania Raya di deklarasikan.

13. KL Tower

HOHO yang tak begitu lama berhenti di menara komunikasi itu, lantas tak membuatku menyerah. Aku melompat dengan gesit keluar dari bus dan sedetik kemudian HOHO meninggalkanku di pelataran KL Tower.

Sonoh naeekkk….Jangan lama-lama.

Aku akan mengeksplorasi KL Tower sebelum menuju Muzium Negara.

Kalau kamu punya nyali, masuklah ke Sky Box, kalau mau makan siang dengan cara elegan maka cobalah revolving restaurant lalu pergilah ke observation deck untuk menangkap pemandangan kota Kuala Lumpur lebih dekat di pelupuk mata.

Aku?….Dua bagian pertama kulewatkan. Dompet hanya sanggup memasukkanku ke bagian terakhir….Lumayan lah daripada tidak sama sekali.

14. Muzium Negara

Mau mengenal budaya suatu bangsa dengan cepat?….Datanglah ke museum nasionalnya.

Untuk itulah aku hadir di Muzium Negara Malaysia. Perjalanan bangsa Malaysia dari waktu ke waktu terpampang jelas di museum ini. Mulai dari kehidupan prasejarah….Kehidupan berkerajaan….Bahkan cerita tentang Majapahit pun ada disini.

Kayak ga pernah liat kreta aja….Huh.

Nuansa kerajaan Kuala Terengganu nampak kuat terasa mempengaruhi arsitektur museum ini yang tampak begitu megah.

Sesi perjuangan bangsa Malaysia dari kolonialisme Britania Raya pun menutup sesi belajar sejarah di bangunan yang terletak di Jalan Damansara itu.

15. Taman Tasik Perdana

Perlahan Hop On Hop Off memasuki kawasan hijau Kuala Lumpur….Warbiasah, ini Taman Tasik Perdana yang tersohor itu.

Terkenal dengan sebutan Lake Garden, taman ini adalah solusi terbaikku untuk menjauhi hiruk pikuk kota Kuala Lumpur yang lama-kelamaan membuat bising telinga.

Nempel….Denda.

Kulihat betapa bahagia warga Kuala Lumpur berpiknik sekeluarga, mengayun kaki di sepanjang jogging track, mendayung perahu di danau nan cantik dan aku pun larut bersama langkahku menikmati hijaunya pepohonan yang mendinginkan udara sekitar.

16. Taman Orkid Kuala Lumpur

Warna-warni bunga itu bagai magnet yang menarikku mendekat. Riang tak berkira ketika papan nama itu membisikkan informasi bahwa aku tak perlu membayar satu sen pun untuk memasukinya.

Dilarang menginjak rumput!….Wah, ngajak berantem.

Seorang ibu dengan caping lebar menyapaku dengan senyum karena bahagia. Karyanya menata taman itu akhirnya dikunjungi seorang pengelana berkantong tipis….Tanpa malu pula si pengelana berpose di depan kamera yang dipegang Sang Ibu….Udah masuk gratisan, nyuruh-nyuruh pulak….Beuh, plaaaaaakkkk.

17. Taman Rusa dan Kancil

Bu….Ada sesuatu yang tak memerlukan tiket masuk untuk berwisata di Taman Tasik Perdana?”, pertanyaanku yang tak berkemaluan.

Ada, Dik….Ada kancil di seberang. Di hujung jalan tu belok kanan”, ucapnya bercampur senyum.

Beuh, kalau gratisan jangan ditanya….Donny jagonya cari dan paling cepat hadir. Secepat kilat, aku sudah berada di dalam Taman Rusa dan Kancil.

Mirip….

Para pengunjung yang semuanya begitu cepat memasuki taman itu lalu dengan cepat pula meninggalkannya. Berbeda denganku yang begitu menikmati tingkah para kancil yang saudara-saudaranya suka mencuri timun di Indonesia.

Beuh….Bau kotoran kancil itu mengalahkan kebiasaan burukku….Pemburu wisata gratisan.

18. Taman Burung Kuala Lumpur

Sarang burung terbesar di dunia katanya. Rumah bagi tiga ribu ekor burung. Kali ini tak ada ampun buat dompetku. Rp. 138.000 melayang hanya untuk sekedar melihat para burung bebas terbang berkeliaran di dalam taman ini.

Jangan pegang-pegang plang….Awas rubuh….Huh

Kalau kamu kesana coba kau cari  bebek mandarin yang baru pertama kali juga aku melihatnya. Jangan lupa ikuti juga acara pemberian makan bagi para penghuni KL Bird Park.

19. National Mosque

Keluar Taman Tasik Perdana, HOHO mengantarkanku untuk menjalankan ibadah shalat Ashar di National Mosque.

Sok sopan…..

Masjid Negara yang mampu menampung 15.000 jama’ah ini, didirikan untuk mensyukuri kemerdekaan negara dari pemerintah kolonial tanpa pertumpahan darah.

Rasakan kesejukan ruangan utama dengan karpet lembut saat beribadah di masjid ini. Dijamin damai dan bikin ngantuk.

20. Kuala Lumpur City Gallery

Perlahan aku menjauh dari kawasan Taman Tasik Perdana untuk kembali ke pusat kota. Rupanya aku sudah mengitari kota 360 derajat, karena aku sudah mendarat kembali di Dataran Merdeka. Kali ini aku menyasar Kuala Lumpur City Gallery.

Kek orang kampung….

Pengen tahu rencana pengembangan kota Kuala Lumpur?

Pengen tahu juga berapa pendapatan Malaysia dari pariwisata?….Fantastis.

Pengen tahu juga, mereka mau bikin gedung apa lagi untuk mengalahkan Petronas Twin Tower yang sebetulnya juga sudah menjadi satu yang terhebat di seantero jagad?

Bayar aja deh Rp. 17.500 dan masuk ke dalamnya….Kagak rugi, kujamin.

21. Muzium Tekstil Negara

Yup, masih ada waktu sedikit lageeeee…..

Menyeberangi jalan di Dataran Merdeka, aku tertelisik dengan keberadaan Muzium Tekstil Negara. Tak perlu merogoh kocek untuk mengunjunginya.

Diliatin Satpam dari dalem…..

Muzium yang ditaruh di dalam bangunan berusia  lebih dari se-dekade ini menawarkan perjalanan sejarah dan budaya melaui sederetan kain khas Melayu yang dipajang didalamnya. Juga beberapa peninggalan beberapa benda kerajaan Kuala Terengganu yang artistik dan pasti menjadi barang mewah di zamannya

22. Petaling Street

Selamat tinggal Hop On Hop Off, terimakasih sudah mengantarkanku mengenal Kuala Lumpur.

Aku segera menuju ke hotel untuk mengambil backpack yang sudah kutitipkan sejak pagi karena memang masa inapku sudah selesai jam 12 siang.

Tapi ya kembali ke sifat dasar….Tak mau merugi melawan waktu yang terus bergulir, aku merangsek menuju Petaling Street yang dekat dengan hotel.

Sok mau belanja….Emang punya duit, Don?

Petaling Street adalah pusat pecinan di Kuala Lumpur. Cukup ramai ketika aku memasuki dan menelusuri setiap selasar yang menawarkan berbagai souvenir dan makanan.

Kamu harus cobain kenari atau chestnut bean yang di sangrai dalam pasir panas….Beuh itu enak, sumpah!

23. Pasar Seni (Central Market)

Semakin gelap….Tak perlu khawatir, penerbanganku masih esok hari. Yang membatasiku hanyalah jam operasional terakhir LRT, yaitu pukul 23:00.

Aku hanya perlu waktu beberapa menit untuk berpindah dari Petaling Street menuju Pasar Seni. Duduk menikmati kuliner di Petaling tak menyadarkanku bahwa gelap mulai mengakuisisi hari. Mungkin juga karena kelelahanku yang sudah bersekongkol  dengan gelap untuk membuatku khilaf.

Minjam gambar orang yak (gambar tahun 2019).

Bu, uang segini dapat apa saja ya?….Bungkusin aja sedapatnya, Bu. Souvenir aja ya, Bu….Jangan bungkus makanan. Saya mau pulang ke Jakarta”, perkataan yang menandakan aku lelah dan tak bisa berfikir lagi untuk memilih oleh-oleh.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Hanya beberapa menit sebelum jam 21:00, aku menutup tirai petualangaku di Kuala lumpur. Sudah saatnya menuju ke bandara yang akan menjadi tempat tidurku di malam terakhir. Kombinasi perjalanan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan Skybus membuatku tiba di KLIA2 jam sepuluh lebih sedikit.

Tuh yang punya gambar Central Market….Itu kan guwe dari masa depan….Wah!

Hi, man….bandara bukanlah destinasi wisata….Yakss, buatmu mungkin bukan….Buatku iya, karena aku sering menginvestasikan waktu untuk menjelajah bandara-bandara yang baru pertama kali kukunjungi.

Buatku KLIA2 adalah tempat eksotik bak hotel bintang tujuh yang berjasa mengantarkanku berkeliling dunia.

Udah yeee….Tiga hari guwe bikin tulisan ini. Tulisan terpanjang yang pernah kutulis. Ma’ap, kuketik. 2.333 kata, mamen. Njirrrr.

Coba lo itung sendiri dah….

7 Hours Enjoy Beauty of Kuala Lumpur, Malaysia

It was sad If I met European tourists, because they had long leave schedule. When they asked to me about my leave duration…. yes, exactly just 12 days ….. I sad…. hahaha.

But I never give up …. with my little time I will be around the world.

Back to time matter …. Every I had short transit when abroad, I often spent time to short exploration to the city that I had transit.

This article also tells how I spent 7 hours in Kuala Lumpur down town between 10:00 – 17:00

1. Batu Caves.

The journey started from 10:30 am from KL Sentral. Using the combination of KTM 1 free bus and Sentul – Batu Caves commuter train.

KTM KOMUTER

Left: Free bus KTM1 (KL Sentral-Sentul Station)

Right: Commuter train (Sentul Station – Batu Caves Station)
on 12:06 I arrived at Batu Caves. It was second time I visited it. Nothing had changed since 4 years ago, there were only some renovations in some parts of temples.

Batu Caves

Top Left: Hanuman Statue

Top Right: I didn’t know what is the temple name…. it was precisely behind Hanuman statue

Bottom Right: Venkatachalapathi Temple

Lower Left: Murugan Statue

My trip in Batu Caves Gw was closed by lunch time at Dhivya’s Café – an Indian food stall on the front yard of Batu Caves -. I ate fried rice for 4 Ringgit.Dhivya's cafe

2. Petronas Twin Tower

At 14:42 I arrived at KL Sentral, I was using the same lane and mode of transportation when I was heading for Batu Caves. From KL Sentral I moved with LRT Kelana Jaya Line for 2.4 Ringgit and finally I arrived at KLCC (Kuala Lumpur City Centre). I was out through Ampang Street KLCC Exit Gate. And finally I found Petronas Twin Tower.

The stinging heat of sun required me to took some photos of twin building when clouds were blocking the sun. When clouds have moved avoid the sun then I took shelter under the trees in front yard of twin building. Many tourists saw my oddity…. hahaha

 

Suria KLCC

Top Left: KLCC Exit gate to Ampang Street

Top Right: Ampang Street

Bottom Right: Suria KLCC mall is adjacent to Petronas Twin Tower

Bottom Left: Petronas Twin Tower.

After took some photos of Twin Tower and surrounding landmarks, I immediately moved to Pavillion in Bukit Bintang using GOKL City Bus.

3. Pavillion Bukit Bintang

Using the free GOKL bus, I had opportunity to revisited Pavillion, Bukit Bintang at 16:18. Easter theme made decorations in Pavilion courtyard was very eye-catching.

Pavillion2

Top Left: Fountain in front of Pavillion

Lower Left: Sephora Mall …. Cosmestic and skincare centre at Bukit Bintang

Central: Five star hotel JW Marriot Bukit Bintang

Right: Easter theme in the front of Pavilion

I was only 20 minutes in Pavilion and I wanted to went to Petaling Street at Pasar Seni soon. 

4. Petaling Street

Going to Petaling Street, Pasar Seni, I used again GOKL free bus. On 16:53 I arrived at Pasar Seni terminal.

I just asked to local people around Pasar Seni to showed Petaling Street directions. A middle-aged nicely man pointed to me the way to got there. By walking towards Petaling Street, My eyes swept Pasar Seni situation that had changed better than 2014. In 7 minutes I reached Petaling Street.

petaling street

Top Left: Pasar Seni MRT Station

Top Right: Petaling Street front gate

Bottom Right: Petaling Street inside

Bottom Left: Street situation in front of Petaling Street gate

Petaling Street didn’t crowded yet because I came there around 5 pm, traders were getting ready with their wares. I just bought keychains here.

And Petaling Street became last destination on this trip. Because I must prepare to flied to Singapore.

 

 

 

 

 

 

 

 

New Route to Batu Caves, Malaysia

In 2014, I had visited Batu Caves. At that moment I went from KL Sentral to Batu Caves used Seremban Line Commuter Train with ticket fare 2 Ringgit.

March 30th, 2018, I visited Kuala Lumpur and I wanted to visited Batu Caves again. But when I bought ticket at KL Sentral commuter ticket counter, the commuter train to Batu Caves currently unserved passengers from KL Sentral. I knew it because I notice a tourist who talk to ticket counter staff. Finally I decided to got out from queue before actually reached in front of ticket counter staff.

I finally headed to KL Sentral information counter to ask how to reached Batu Caves. According to information staff, to reached Batu Caves, I must use KTM 1 free bus from KL Sentral to Sentul Station. Well from Sentul Station then continued using commuter train to Batu Caves. I ask where did the free bus located, actually KTM 1 bus shelter was in front of Airport Coach / Sky Bus Shelter in KL Sentral.

KTM1 path

Top Left: Direction board was in front of Skybus shelter that directed tourists to KTM 1 bus to Sentul Station

Right: Direction on the floor directed me towards KTM Bus 1 shelter.

Bottom Left: KTM 1 Bus parked at Sentul Station.

Free bus KTM would go if passengers was full, I didn’t wait to got a seat. When bus had available space then I immediately got in. The journey from KL Sentral to Sentul Station took approximately 25 minutes on the fluently road.

Once arrived at Sentul Station, I immediately headed into station to bought commuter train tickets. I immediately bought a round-trip ticket because it was cheaper 1 Ringgit than one-way ticket. Once I paid 5 Ringgit then I got a ticket pass to got in the train line. This card would bring me back to Sentul Station again after finishing Batu Cave visitation.

 Sentul Station

 

Top Left: Sentul Station inside

Top Right: Sentul Station ticket counter

Bottom Right: Ticket pass (Sentul station to Batu Caves station round trip)

Lower Left: Commuter Train that carried passengers from Sentul Station to Batu Caves station

 

Once got in to train line,  a commuter train was waiting. This Chinese-made train stopped long enough to waited for passengers until all seats were full.

It was clear that KL Sentral point still exist on the route map above the train door, it indicated that initially this train passed KL Sentral when it ran towards Batu Caves, but the line had been changed and shortened into Sentul Station-Batu Caves Station.

I noticed that the flow of passengers up and down along the way to Batu Caves was very quiet, it also seen from some station buildings along trip that poorly maintained in cleanliness so the building seen dull and some escalator didn’t work. The line was arguably quiet.

After 20 minutes finally I arrived at Batu Caves.
Some interesting views in Batu Caves that I got:

Batu Caves2

Top Left: The corridor that was used to sold souvenirs after exit from Batu Caves Station

Top Right: The Murugan Statue that became the icon of Batu Caves tourism.

Bottom Right: Took off the shoes before entering Venkatachalapathi temple

Bottom Left:  Food stalls around Batu Caves.

And before moved to Petronas Twin Tower, I decided to lunch at a food stall around Batu Caves. Most of food stalls were managed by Malaysian Indians because Batu Caves was their worship place

Cheap Hotel Nearest to KL Sentral, Malaysia

When Airport Coach arrived in KL Sentral at 10:03. My first destination was Batu Caves. But to lighten my backpack, I would leave my bacpak at hotel although it wasn’t time to checked in and I would only bring folding bags that I filled with drinking bottle, wallet, passport, mobile phone and camera.

The hotel that I chose was Westree Hotel on Jalan Tun Sambanthan precisely at south-east of KL Sentral.

I chose it because it was very close to Airport Coach and Skybus Shelter in KL Sentral because on tommorow I had to fly to Singapore by Scoot Airlines. So on tomorrow I must go to KLIA2 around 4:30 am.

I booked it 9 days before by Agoda with price about Rp. 331.772 / night (very cheap to be occupied by 2 adults and 1 child). The price includes tourism tax 10 Ringgit (since September 1, 2017, Malaysia imposed tourist stay tax of 10 Ringgit per night).

Peta Hotel Westree

Very close….. Just 3 minutes walking to Airport Coach and Skybus Shelter

Jl Tumsanbhatan

 

Left: As soon as Airport Coach arrived in KL Sentral, I just needed to got out from a corridor to Tun Sambanthan Street

Right: Tun Sambanthan Street was dedicated to Malaysian Indian leader who be one of Malaysia’s founding fathers. Hotel Westree is precisely located on the edge of this street.

Westree Inside

Top Left: Westree Hotel’s front door which precisely on the edge of Tun Sambanthan Street and just opposite from the street is Airport Coach and Skybus shelters.

Top Right: Lobby Hotel Westree

Bottom Right: When checked-in, hotel receptionist ask about 40 Ringgit for a deposit and can be taken back when checking out

Bottom Left: Hotel cleanliness is usually reflected in the cleanliness of toilet. Westree Hotel’s toilet is very clean.

The majority of Westree Hotel’s employees of are Malaysian Indian because the hotel is located in Brickfields area that was known as Kuala Lumpur’s Little India. Several time ago the area around this hotel are brick producer.

The staffs was generally helpful and friendly. Receptionint staff gave me Kuala Lumpur Tourism Map.

I checked-in to hotel at 5:00 pm after I satisfied got around Kuala Lumpur then checked-out on next day at 04:15 to went to KLIA2.

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

7 Jam Menikmati Keindahan Kuala Lumpur

Jika bertemu turis Eropa dan Amerika tuh ya bikin ngiler, karena mereka rata-rata memiliki jadwal cuti yang panjang hingga berminggu-minggu bahkan lebih dari sebulan. Nah ketika mereka nanya ke Gw berapa lama lo cuti….yes tepat 12 hari…..sedihhhh….hahaha.

Tapi Gw ga nyerah….dengan waktu yang sedikit ini Gw akan berkeliling dunia.

Kembali ke masalah waktu….Setiap Gw transit pendek atau liburan 3-4 hari saat weekend plus tanggal merah ke negeri orang selalu Gw manfaatkan untuk explore kota yang Gw singgahin.

Artikel ini pun bercerita bagaimana Gw menghabiskan waktu selama 7 jam di tengah kota Kuala Lumpur antara jam 10:00 – 17:00

1. Batu Caves.

Perjalanan dimulai dari jam 10:30 dari KL Sentral. Menggunakan kombinasi bus gratis KTM 1 dan kereta komuter Sentul – Batu Caves.

KTM KOMUTER

Kiri: Bus gratis KTM1 (KL Sentral-Stasiun Sentul)

Kanan: Kereta komuter (Stasiun Sentul – Stasiun Batu Caves) 

Jam 12:06 Gw tiba di Batu Caves. Ini adalah kali kedua Gw berkunjung ke tempat ini. Tidak ada yang berubah sejak 4 tahun lalu, hanya ada beberapa renovasi di beberapa bagian kuil.

Batu Caves

Kiri Atas: Patung Hanuman

Kanan Atas: Gw ga tahu itu kuil apa….yang jelas ini berada tepat dibelakang patung Hanuman

Kanan Bawah: Venkatachalapathi Temple

Kiri Bawah: Patung Murugan

Wisata di Batu Caves ini Gw tutup dengan makan siang di Dhivya’s Café – sebuah warung makan India di halaman depan Batu Caves -. Cukup makan nasi goreng dengan harga 4 Ringgit.

Dhivya's cafe

2. Petronas Twin Tower

Jam 14:42 Gw tiba kembali di KL Sentral menggunakan jalur dan moda transportasi yang sama ketika menuju Batu Caves. Dari KL Sentral Gw berpindah menggunakan LRT Kelana Jaya Line seharga 2,4 Ringgit dan akhirnya Gw sampai di KLCC (Kuala Lumpur City Centre). Keluar melalui KLCC Exit Jalan Ampang akhirnya Gw menemukan Petronas Twin Tower.

Panas menyengat mengharuskan Gw mengambil foto gedung kembar ini tepat saat ada awan menghalangi sinar matahari. Ketika awan sudah bergerak membuka kembali sinar matahari ke bumi maka Gw kembali berteduh di bawah pohon di halaman gedung kembar itu. Begitu seterusnya hingga banyak turis memperhatikan keanehan Gw….hahaha

Suria KLCC

Kiri Atas: Exit gate KLCC menuju Jalan Ampang

Kanan Atas: Jalan Ampang

Kanan Bawah: Suria KLCC mall bersebelahan dengan Petronas Twin Tower

Kiri Bawah: Petronas Twin Tower.

Setelah mengabadikan Twin Tower dan beberapa landmark disekitarnya,  Gw segera beranjak menuju Pavillion di Bukit Bintang menggunakan GOKL City Bus.

3. Pavillion Bukit Bintang

Menggunakan bus gratis GOKL, Gw berkesempatan untuk kembali singgah di Pavillion, Bukit Bintang sekitar pukul 16:18. Tema Easter membuat dekorasi di pelataran Pavillion terlihat sangat menarik mata.

Pavillion2

Kiri Atas: Air mancur di depan Pavillion

Kiri Bawah: Sephora Mall….Pusat Kosmestik dan perawatan kulit di Bukit Bintang

Tengah: Hotel bintang lima JW Marriot Bukit Bintang

Kanan: Tema Easter di halaman depan Pavillion

Gw hanya 20 menit berada di Pavillion dan segera menuju Petaling Street di Pasar Seni.

4. Petaling Street

Menuju Petaling Street, Pasar Seni, Gw kembali menggunakan bus gratis GOKL dan pukul 16:53 Gw tiba di terminal Pasar Seni.

Gw hanya bertanya kepada orang lokal di sekitar Pasar Seni untuk menunjukkan arah Petaling Street. Bapak setengah baya dengan baik menujukkan ke Gw arah menuju kesana. Dengan berjalan kaki menuju Petaling Street, gw menyapu suasana Pasar Seni yang sudah berubah lebih maju daripada 2014 silam. Dalam 7 menit Gw sampai di Petaling Street.

petaling street

Kiri Atas: Stasiun MRT Pasar Seni

Kanan Atas: Gerbang depan Petaling Street

Kanan Bawah: Bagian dalam Petaling Street

Kiri Bawah: Suasanan jalanan di depan gerbang Petaling Street

Petaling Street masih belum begitu ramai pengunjung karena Gw datang kesana sekitar jam 5 sore, para pedagang sedang bersiap-siap dengan barang dagangannya. Gw hanya membeli gantungan kunci disini.

Dan Petaling Street menjadi destinasi terkahir pada trip kali ini. Karena Gw harus bersiap menuju Singapura.

 

 

 

 

 

 

 

 

Rute Baru Menuju Batu Caves, Malaysia

Artikel ini telah diupdate kembali pada 18 Agustus 2019….Silahkan membaca kembali….Salam backpacker.

Pada tahun 2014, Aku pernah mengunjungi Batu Caves. Saat itu Aku bertolak dari KL Sentral menuju Batu Caves menggunakan kereta komuter Laluan Seremban dengan tarif masih 2 Ringgit.

30 Maret 2018, Aku kembali mengunjungi Kuala Lumpur dan maksud hati hendak berkunjung ke Batu Caves kembali. Tetapi ketika ingin membeli tiket di konter tiket komuter KL Sentral ternyata kereta komuter ke Batu Caves saat itu tidak dapat melayani penumpang dari KL Sentral. Aku tahu info ini karena Aku merhatiin bule yang bicara sama petugas konter. Akhirnya kuputuskan keluar dari antrian sebelum benar-benar sampai di depan petugas konter tiket.

Aku akhirnya menuju konter informasi KL Sentral untuk menanyakan cara menuju ke Batu Caves. Menurut petugas informasi, untuk menuju Batu Caves, Aku harus menggunakan Free Bus KTM 1 dari KL Sentral ke Stasiun Sentul. Nah dari Stasiun Sentul baru dilanjutkan menggunakan kereta komuter menuju Batu Caves. Aku bertanya dimanakah letak free bus itu berada, ternyata bus itu berada sejajar dengan Shelter Airport Coach/Aerobus/Sky Bus di KL Sentral.

Papan Petunjuk yang terletak di depan shelter Skybus KL Sentral yang mengarahkan turis menuju bus KTM 1 menuju Stasiun Sentul
Petunjuk di lantai menuju Bus KTM 1
Bus KTM 1 sedang parkir di Stasiun Sentul.

Free bus KTM ini akan jalan jika penumpang sudah penuh, Aku sih ga perlu nunggu untuk dapat tempat duduk. Begitu masih muat maka Aku segera naik. Perjalanan dari KL Sentral menuju Stasiun Sentul menempuh waktu kurang lebih 25 menit di jalanan yang tergolong lancar.

Begitu tiba di Stasiun Sentul, Aku segera menuju ke dalam stasiun untuk membeli tiket kereta komuter. Aku langsung beli tiket pulang-pergi karena lebih murah 1 Ringgit daripada belinya one-way. Begitu menyerahkan uang 5 Ringgit maka Aku mendapatkan pass card untuk masuk ke jalur kereta. Kartu ini lah yang akan membawaku kembali ke Stasiun Sentul lagi ketika pulang.

Bagian dalam Stasiun Sentul
Konter tiket Stasiun Sentul
Pass card (Stasiun Sentul-Batu Caves pp)
Kereta Komuter yang mengangkut penumpang dari Stasiun Sentul ke Batu Caves

Begitu masuk ke jalur kereta ternyata kereta komuter sudah menunggu. Kereta buatan Tiongkok ini berhenti cukup lama untuk menunggu penumpang dan membiarkan semua kursi terisi penuh.

Terlihat  jelas pada route board diatas pintu kereta masih ada KL Sentral point, ini menunjukkan bahwa pada awalnya kereta ini melewati KL Sentral untuk menuju ke batu Caves, tetapi jalur itu sudah dirubah dan diperpendek menjadi Stasiun Sentul-Batu Caves.

Yang kuperhatikan arus penumpang naik dan turun sepanjang perjalanan menuju Batu Caves sangatlah sepi, hal ini terlihat pula dari beberapa bangunan stasiun yang dilewati seperti kurang terawat kebersihannya sehingga bangunan nampak kusam dan beberapa escalator tidak berfungsi. Jalur ini boleh dibilang sepi.

Setelah berjalan selama 20 menit akhirnya Aku tiba di Batu Caves.

Berikut beberapa view menarik di Batu Caves yang kudapatkan:

Koridor yang dimanfaatkan berjualan souvenir setelah keluar dari Stasiun Batu Caves
Patung Murugan yang menjadi icon dari wisata Batu Caves
Melepas sepatu sebelum masuk ke Venkatachalapathi temple
Warung makan di sekitar Batu Caves.

Dan sebelum berpindah destinasi ke Petronas Twin Tower, Kuputuskan untuk lunch di warung makan sekitar Batu Caves. Warung makan yang tersedia kebanyakan dikelola oleh warga Malaysia keturunan India karena memang Batu Caves adalah tempat peribadatan mereka kebanyakan.

Spending Last Night and Morning In Kuala Lumpur, Malaysia

After 3 hours journey from Melaka Sentral to Hotel Pudu 88, finally I could take a break in hotel room while arranged next possible destination venue for tonight and tomorrow morning, because tomorrow at 12:30 was my last time for adventured before returned to KLIA.

After checked-in and took a bath, at 7:30 pm I ate at a street stall on Pudu Street. With 9 Ringgit I could get a plate of rice, long beans and mackerel fish plus a glass of Tea Tarik.

After leisurely ate while watched local activity and vehicles traffic for an hour, I decided to spent night at Petronas Twin Tower. Indeed in 2014 and 2016 I ever visited it but was at day. I would see Petronas Twin Tower at night now. Just curious.

To got there from Pudu Street, I rode Sri Petaling LRT Line from Plaza Rakyat Station and got off at Masjid Jamek Station. From this station I just needed to changed on Kelana Jaya LRT Line towards KLCC Station. The ticket price was 2.2 Ringgit only.Jl Ampang

Got off at KLCC Station, I went to KLLC Mall exit on Ampang Street that beautifully lamp decorated

From Ampang Road, already seen the left side of Petronas Twin Tower, so I stayed closer and crossed the road toward it.

petronas twin towerIt’s true what people say, lit up beautifully at night.

Taman Twin TowerThe fountain in front of Petronas Twin Tower courtyard was beautifully lighted. 

For 20 minutes I mingled with crowd of tourists to enjoyed beauty of Petronas Twin Tower, finally I must return immediately to Hotel Pudu 88 before last train operated at 23:00.

Back through departure route. I arrived at Hotel Pudu 88 around 22:15. It was time for rest break for preparation to spent last morning journey tomorrow.

On next day, I went out from hotel at 9:30 while checked out. Well, I actually tired because a day before I explored Malacca until afternoon.

This morning my purpose just went to Batu Caves and after that I would go to KLIA.

Towards Batu Caves, I departed from Plaza Rakyat Station to Bandaraya Station on Sri Petaling Line for 1.3 Ringgit. Get off at Bandaraya Station, I went to exit gate towards Seremban Commuter Line, precisely at Bank Negara Station.

But…. I was strayed, I didn’t see a bridge aisle at right side after Bandaraya Station exit gate. I’ve asked local people who was waiting bus but they didn’t know where was commuter line. I also ask to Indian couple but they were tourist also…. hahaha.

Jalan Raja LautTrascended while walked along Raja Laut Street towards Dataran Merdeka

I was already at end of Raja Laut Street, I must save my energy because my backpack was attached on my back, I didn’t decided to returned again towards Bandaraya Station but I would make the end of Raja Laut Street become my tourim venue.

Panggung Bandaraya

Located in Merdeka Square, this art theater performance building sturdy stand since 1904

I didn’t know why street in front of Panggung Bandaraya towards Dataran Merdeka was closed. I didn’t go to Dataran Merdeka which has been seen in front because I had visited it in 2014.

So my next aim was walking to Masjid Jamek where was precisely located under Masjid Jamek Station. I went to this mosque with my intention to repeated my effort towards Batu Caves from Masjid Jamek Jamek Station as starting point.

Masjid Jamek

 

Top left: Masjid Jamek Station
Lower left: Jamek Mosque see from entrance gate (free entrance absolutely….)
Top right: Clothes that must be used into Jamek Mosque if visitors didn’t wear muslim clothes
Lower right: Jamek Mosque was viewed from inner courtyard.

When finished my Jamek Mosque visitation, I immediately climbed into Masjid Jamek Station. I would leave to Bandaraya Station (repeated again to found Bank Negara Commuter Station to went to Batu Caves).

While waiting for LRT,  local man asked to me where was direction toward PWTC station, he wanted to visited travel fare to found tickets to Bali.-Indonesia. It was funny for me when local man asked the destination direction to me…. hahahaha (Malaysia is like my country).

I rode train soon when it came and got off at Bandaraya Station. Well, I didn’t want to strayed twice now. When went out from Bandaraya Station,  I immediately looked for connection bridge to Bank Negara Commuter Station. Finally I found it too.

Jembatan Bandaraya bank negaraTurn right at Bandaraya Station exit gate, walk within 100m then turn right then you will find connection bridge to Bank Negara commuter station.

I bought ticket at automatic ticket machine in Bank Negara Commuter Station, but I couldn’t find Batu Caves destination in screen list. I asked to station staff, She said direct commuter route from KL Sentral to Batu Caves Station wasn’t operating again. Commuter train to Batu Caves was currently departing from Sentul Station. So I must go to there if wanted to Batu Caves. (If I departed from KL Sentral, there was a free bus from KL Sentral to Sentul Station then continued with commuter train from Sentul Station to Batu Caves station ….. this session will tell by me in next article).

Because it was already on 11:30 and my flight to Jakarta was at 16:30, then I decided to canceled my trip to Batu Caves. I would go to KL Sentral then continued to KLIA from there.