Malam Penutup di Kuala Terengganu

<—-Kisah Sebelumnya

Sore hari….Jam enam kurang seperempat….

Aku duduk di kursi paling depan sisi kiri ketika Bas KITē perlahan meninggalkan kompleks Taman Tamadun Islam. Melalui jembatan penghubung satu-satunya, Bas KITē menyudahi putaran roda di atas Pulau Wan Man.

Only me….
Bapak pengemudi yang budiman.

Kini Bas KITē akan menuntaskan setengah perjalanan tersisa menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu, sesampainya di sana nanti, bus akan beristirahat untuk beroperasi kembali esok hari pada pukul setengah sepuluh pagi.

Dalam perjalanan pulang itu, aku lebih santai dan leluasa untuk berbincang-bincang dengan si pengemudi. Dalam perjalanan sisa itulah dia bercerita tentang aktivitas hariannya bersama empat pengemudi Bas KITē lain dalam mengoperasikan bus kota istimewa tersebut.  Dia juga bercerita mengenai anaknya yang begitu susah mencari pekerjaan di Kuala Terengganu, banyak sektor pekerjaan memilih menggunakan tenaga kerja asing yang menyebabkan susahnya warga lokal mencari mata pencaharian. Aku hanya mendengarkannya sebagai bentuk empati, walau aku sebenarnya tak tahu fakta aslinya.

Dalam perjalanan pulang itu, pengemudi bus hanya menaikkan satu penumpang perempuan setengah baya yang tampaknya sudah sangat dikenal akrab olehnya. Mungkin perempuan itu adalah langganan Bas KITēnya, sehingga begitu dia naik, si pengemudi langsung bertanya akrab tentang aktivitas si perempuan sepanjang hari. Selebihnya setelah naiknya penumpang perempuan tersebut, hanya percakapan mereka berdua saja yang mendominasi hingga perjalanan usai. Percakapan berlogat kental Terengganu itu mencoba kufahami walau aku hanya bisa meyerapnya sedikit saja.

Jam enam lebih seperempat aku tiba di Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu….

Melompat turun dari bus dan mengucapkan sekali lagi rasa terimakasih kepada sang pengemudi Bas KITē yang telah memberikan lima menit berharganya untukku supaya bisa menikmati keindahan Masjid Kristal, aku berusaha secepat mungkin meninggalkan terminal. Aku tak mau terjebak gelap di dalam terminal.

Aku melangkah gesit melalui Jalan Masjid Abidin untuk tiba di perempatan dimana Menara PERMINT berdiri. “Itu suara apa ya?…”, langkahku terhenti ketika mendengar suara berisik dari sebuah ketinggian. Akibat suara itu, aku mengurungkan langkah menuju penginapan. Aku kini melangkah menyusuri Jalan Sultan Ismail menuju sumber suara. “Oalah….Itu sekumpulan burung gereja”, aku kini mengetahuinya. Di seluruh luasan muka gedung Wisma PERMINT, bertengger buanyakkk sekali burung gereja yang bersahutan suara satu sama lain, menjadikan suara itu bak sebuah harmoni yang enak terdengar di saat menjelang maghrib.

Begitu lama aku tertegun, mengabadikan dan memvideokan pemandangan itu hingga dua orang turis lain tiba-tiba datang di sebelahku dan melakukan hal yang sama. Setelah beberapa saat menikmati harmoni suara burung gereja, serentak pelita-pelita jalanan mulai hidup, lampu-lampu gedung mulai dinyalakan, menjadikan jalur di sepanjang Jalan Sultan Ismail memamerkan keindahan lampu warna-warninya.

Sepertinya aku harus menikmati malam penutup di Kuala Terengganu dengan berada di jalanan walau hanya sesaat”, aku memutuskan.

Langkah eksplorasi malamku dimulai dari KT Walk yang merupakan area lapang yang biasanya menyajikan pemandangan pasar malam untuk warga lokal. Hanya saja malam baru saja memulai masanya, deretan kedai makanan baru bersiap diri untuk menjamu calon tamu-tamunya yang akan tiba sebentar lagi. Karena belum ada aktivitas yang berarti, aku pun hanya menikmati sejenak suasana KT Walk dari sebuah pojok tanah lapang itu.

Menikmati paduan suara burung gereja di Wisma PERMINT.
Sisi depan KT Walk.
Sisi dalam KT Walk yang masih sepi.

Malam semakin merayap naik dan lampu-lampu mulai tampak lebih mempesona seiring dengan menggelapnya langit. Aku terus menyisir sepanjang Jalan Sultan Ismail untuk kemudian tertegun pada sebuah toko buku yang tampaknya menjadi toko buku favorit di kota itu, SMO Bookstores namanya. “Tak ada salahnya jika aku masuk…”, aku mulai iseng.

Aku bergegas memasuki toko buku itu. Begitu memasuki toko, aku hanya memperhatikan sekitar serta menyambangi beberapa rak buku yang banyak didatangi pengunjung. “Sekumpulan novel yang telah disadur dalam Bahasa Melayu”, aku sedikit mengernyitkan dahi sebagai penanda aku tak meminatinya.

SMO Bookstores itu tak sebesar brand toko buku kenamaan di Indonesia, koleksinya tak seberapa, tetapi banyak warga yang berkunjung di dalamnya. Mungkin tingkat literasi warga Malaysia yang baik membuatnya demikian.

Aku akhirnya keluar dari SMO Bookstores dan kembali melanjutkan perjalan menikmati suasana malam Kuala Terengganu. Walaupun tak terlalu ramai, malam itu mampu membuatku sedikit takjub karena selama dua hari di Kuala Terengganu, aku lebih dominan menikmati suasana siangnya saja. Walau saja gemerlap pelita malam itu tak seindah di Kuala Lumpur, tetap saja menyimpan pesona tersendiri. Sebuah kota yang tak begitu padat sedang menampilkan keelokan malamnya.

Aku menikung di pangkal utara Jalan Air Jernih yang masih saja bergeliat perniagaan. Berjalan di sepanjang jalan itu, langkahku kembali terhenti pada sebuah 7-Eleven, aku sengaja memasukinya untuk mencari makanan cepat saji sebagai menu makan malamku. Rasanya aku telah enggan kembali melangkah sedikit jauh untuk mengunjungi Kedai Kak Na yang siang tadi kusambangi. Lebih baik mencari makanan ala kadarnya saja di minimarket itu.

Aku keluar dari 7-Eleven dengan menenteng nasi goreng kemasan yang sudah dipanaskan dalam microwave untuk beberapa saat. Aku segera meninggalkan minimarket itu menuju penginapan sembari menikmati pemandangan tersisa. Menyambung langkah sedikit di Jalan Kota Lama aku berbelok ke kiri di Jalan Engku Pangeran Anom 2 untuk kemudian tiba di penginapan, The Space Inn. .

Engku Pangeran Anom, siapakah gerangan?

Engku Pangeran Anom adalah seorang bangsawan Terengganu dengan nama lengkap Pengiran Anum Engku Abdul Kadir bin Engku Besar. Beliau adalah seorang yang sangat memahami sejarah Terengganu dan sering menjadi rujukan kesultanan yang pada waktu itu dipimpin oleh Sultan Ahmad.

Aku tiba di penginapan tepat pukul setengah delapan….

Saatnya aku berbasuh, makan malam, melipat jemuran dan merapikan backpack karena esok hari aku akan meninggalkan Kuala Terengganu tepat pukul setengah sepuluh pagi.

Wisma Maidam yang tinggi menjulang di Jalan Sultan Ismail yang digunakan untuk kantor Bank Islam Kuala Terengganu.
Perempatan yang sering kulalui tiap hari selama di Kuala Terengganu.
Umobile Centre (Kedai Peralatan Telekomunikasi) di Jalan Engku Sar. Engku Sar mengacu pada nama ayahanda dari Engku Pengiran Anom yang bernama lengkap Syed Abdullah Al-Idrus. “Sar”adalah sebutan lain dari “Sir”.
Gedung Aneka KAMDAR di Jalan Kota Lama yang digunakan sebagai ASC (Arena Sports Centre) yang merupaka bisnis Sport Venue di Kuala Terengganu.
Tidur wooeey….Sudah jam 11 malam….Besok jalan lageee.

Kisah Selanjutnya—->

Masjid Tengku Tengah Zaharah….Hiasan Ruhani di Muara Sungai Ibai

<—-Kisah Sebelumnya

Gagal turun di Pantai Batu Burok akibat terlalu menyerahkan perjalanan kepada pengemudi Bas KITē, aku diturunkan di destinasi incaran kedua. Adalah Masjid Tengku Tengah Zaharah, masjid terapung pertama di Negeri Jiran.

Bas KITē berhenti di area parkir sisi utara yang juga terkenal sebagai area Bazar Ramadhan Masjid Terapung. Begitu turun, aku tak langsung memasuki masjid. Aku mengambil posisi berdiri di sisi utara muara Sungai Ibai demi menikmati tampilan utuh Masjid Tengku Tengah Zaharah bermenara tiga puluh meter itu dari kejauhan.

Zaharah….Adalah kata yang diambil dari nama ibunda Sultan Mahmud yaitu Tengku Intan Zaharah. Masjid berusia tiga puluh tahun itu sungguh mempesona dipandang dengan mata telanjang dari posisi berdiriku, pantas saja bangku-bangku dari lembaran panjang kayu disediakan di sisi utara muara, memberikan kesempatan kepada pengunjung manapun untuk duduk di fajar ataupun senja demi menikmati keindahan masjid berkapasitas seribu jama’ah itu.

Tak hanya bangunannya, aku juga tertegun pada air di bawahnya. Air muara itu dipenuhi ikan-ikan jinak yang bergerombol indah ketika diberi makan oleh para pengunjung dari jembatan penghubung di sisi utara. Pengunjung mendapatkan makanan ikan dari seorang penjual pelet ikan di area parkir dengan harga satu Ringgit saja per bungkusnya.

Aku mulai memasuki masjid dari jembatan utara yang sengaja diberikan kanopi di sepanjangnya, membuat para pengunjung nyaman berlama-lama untuk memberi makan ikan. Di sepanjang kanopi, papan-papan bertuliskan sabda Rasulullah berhasil menjadi peneduh hati sebelum benar-benar memasuki masjid.

Hal pertama yang kulakukan ketika tiba di depan pintu masjid adalah mengelilingi masjid dan melihat pemandangan dari seluruh sisi. Beberapa pemandangan luar biasa ke arah sekitar mudah sekali kutemukan ketika aku berdiri pada spot-spot terbaik di teras masjid. Mau lihat pemandangan indah itu?….Ini dia:

Pengunjung yang menikmati kegiatan mengumpan ikan.
Tanaman kaktus di beranda masjid.
Jembatan penghubung di sisi selatan yang tanpa kanopi.
Jernih kehijauan….Inilah wujud muara Sungai Ibai dimana masjid berdiri.
Paviliun elegan yang menyediakan tempat duduk bagi pengunjung untuk menikmati keindahan sekitar.

Usai tuntas merekam dalam kepala segenap keindahan di sekitar masjid, aku bergegas menuju ke ruang bersuci. Waktu Dzuhur belumlah tiba, tetapi aku sangat bersemangat untuk melakukan shalat tahiyatul masjid.

Memasuki ruang bersuci, aku benar-benar membasuh muka dengan khusyu’, mempersiapkan diri untuk beribadah di masjid yang kedudukannya sungguh tenar sebagai landmark penting Negara Bagian Terengganu.

Kini aku akan menikmati sisi dalam masjid yang merupakan bagian inti dari bangunan itu, tentu juga menjadi bagian inti dari kunjungan kali ini. Bentangan karpet lembut warna merah di shaf depan dipadu dengan karpet biru muda di shaf belakang membuat ruangan  menjadi hidup. Dua belas pilar besar menyanggga keseluruhan badan masjid dan tiang-tiang sisi mimbar berhiaskan lampu-lampu indah bertengadah ke atas. Sedangkan di tengah bangunan bertengger kubah dengan dasar struktur segi enam. Lalu jendela-jendela yang dominan hijau semakin memperkaya warna saja. Sayang, aku tak sempat melongok lantai bagian atas.

Aku selesai menjalankan shalat di saat beberapa pengurus masjid masih sibuk membersihkan teras. Aku kembali keluar dari tempat ibadah itu melalui jembatan sisi utara dan berjalan mengelilingi muara sungai menuju taman sisi selatan. Aku harus menggenapkan sisi pandang. Setelah menikmati sisi utara, kini aku terduduk di taman selatan dan menikmati keindahan masjid Tengku Tengah Zaharah dari sisi muara yang lain.

Kunjungan itu disempurnakan dengan menikmati pantai di timur Taman Awam Lagun Kuala Ibai. Itulah pantai pengganti destinasi Pantai Batu Burok yang tak bisa kugapai karena aku terlarut dalam laju Bas KITē.

Pukul satu siang aku mengusaikan diri bersantai di tepian pantai. Aku harus segera mengambil tempat duduk di area Bazar Ramadhan Masjid Terapung  yang membentang luas di sisi utara masjid untuk menunggu kedatangan Bas KITē yang akan tiba satu jam lagi. Aku tak mau tertinggal karena harus segera kembali ke Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Aku tetap ingin mencari peluang untuk pergi ke Masjid Kristal yang tadi pagi telah kuputuskan untuk tercoret dari bucket list.

Shalat yuk!
Desain pintu dan jendelanya keren.
Jendela masjid di setiap sisinya..
Taman sisi selatan.
Pemandangan dari sisi selatan muara.

Kali ini aku sengaja tak mengikuti Shalat Dzuhur berjama’ah yang sebentar lagi akan diselenggarakan, aku memutuskan untuk menjama’nya saja nanti. Aku harus menangkap busnya kali ini karena bisa saja Bas KITē akan datang lebih cepat.

Kuputuskan untuk duduk di salah satu hamparan rumput di bawah pokok Rhu untuk menghindari terpaan langsung matahari. Pokok Rhu itu tentu membuat badan lebih nyaman dalam menunggu kedatangan Bas KITe Laluan C01 A.

Kini aku bersiap meninggalkan Distrik Kuala Ibai.

Kisah Selanjutnya—->

Lengah Melintas Pantai Batu Burok

<—-Kisah Sebelumnya

Kutempelkan access card untuk membuka gerbang penginapan yang tak berpenjaga.  Suasana jalanan telah ramai dengan kendaraan, senin pagi di Kuala Terengganu telah menggeliat.

Aku melangkah cepat tanpa menikmati keadaan sekitar, Ini kali keempat aku melewati jalanan yang sama selama dua hari di Kuala Terengganu. Beberapa waktu setelahnya, tanpa terasa aku sudah tenggelam di bawah kaki-kaki raksasa Paya Bunga Square.

Paya Bunga Square tampak tengah berbenah, petugas-petugas taman kota tampak sibuk di sekitar kendaraan bak terbuka yang terparkir dan mengangkut dahan-dahan pohon dari sekitar. Tampak beberapa dari petugas sibuk memotong dahan-dahan pokok yang bisa membahayakan para pengguna jalanan.

Aku menyelinap pada sebuah gang untuk menembus ke Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Sesampainya di terminal, aku bergegas menemui salah satu pengemudi Bas KITē yang tampak bersantai pada sebuah kedai kopi pojok terminal dengan sisa separuh batang sigaret di tangan kanannya.

Bas ke Pantai Batu Burok berangkat jam berapa, Pak Cik?”, aku melontarkan pertanyaan  setelah berada di dekatnya.

Pukul 11, bas sebelah kanan, bang”, dia menunjuk salah satu Bas KITē yang sedang terparkir.

Terimakasih, Pak Cik”, aku pergi dan tak mau mengganggu waktu mengopinya.

Masih ada waktu seperempat jam lagi sebelum Bas KITē berangkat. Aku memilih duduk di sebuah bangku beton di sisi utara terminal. Aku kembali mengatur ulang rencana perjalanan karena aku telah tertinggal trip pertama Bas KITē akibat kemalasanku untuk keluar dari penginapan lebih pagi.

Harus ada satu destinasi yang dikorbankan”, aku menghela nafas panjang. “Masjid Kristal”, aku menyebut destinasi yang dimaksud.

Selamat pagi, bang….Mau cobē tèksi”, seorang pengemudi taksi tiba-tiba sudah duduk di kananku. “Mau melawat kemanē, bang?”, percakapan yang lebih serius pun dimulai.

Pantai Batu Burok, Pak Cik….Tapi saya naik Bas KITē saja….Hari ini saya akan mencoba naik Bas KITē berkeliling Terengganu”, aku menjawab gamblang tanpa basa-basi.

Mungkin besok sayē  bisa antar abang pusing-pusing Terengganu….Tak mahal lah”, dia tak menyerah begitu saja.

Besok saya sudah balik ke KL, Pak Cik”, aku kembali menutup peluang.

Oh, Ok….Tak apē lah, bang”, akhirnya dia memilih mengeluarkan sigaretnya, menyulut dan menghisapnya serta memulai percakapan lain.

Kami terasa akrab, berbicara sembarang hal mengenai aktivitasnya sebagai pengemudi taksi di Terengganu hingga dugaan salahnya yang mengira aku adalah seorang TKA asal Indonesia yang bekerja di Kuala Lumpur.

Percakapan sepuluh menit itu usai ketika pengemudi Bas KITē melambaikan tangan kepadaku sebagai penanda bus akan memulai perjalanan.

Aku melompat ke dalam Bas KITē dan dalam sekejap langsung terkagum dengan interior bus kota itu. Cerminan budaya dan corak Terengganu terejawantahkan dalam ukiran pada bangku bus yang membuatnya tampak elegan.

Melompat dari pintu depan, aku bertanya kepada pengemudi perihal ongkos.

Pantai Batu Burok….Berapa, Pak Cik?”, aku mulai membuka dompet yang kusimpan di folding bag.

“3 Ringgit sahajē lah

Usai menyerahkan tiga lembar Ringgit warna biru, aku mengambil tempat duduk di bangku paling depan, aku bermaksud memohon sebuah permintaan kepada pengemudi karena perbincanganku dengannnya saat coffee time belumlah tuntas.

Tolong turunkan saya di Pantai Batu Burok, Pak Cik!”, aku sedari awal menanggulangi kebablasan untuk berhenti. Itu karena aku tak tahu bagaimana aturan naik dan turun ketika menggunakan jasa Bas KITē, bisa saja bus kota ini memperbolehkan penumpangnya turun atau naik di sembarang tempat.

Dekat lah….”, dia menjawab singkat sembari sibuk menerima ongkos dari penumpang lokal yang naik.

Setelah semua siap, Bas KITē mulai melakukan perjalanan. Saatnya menikmati perjalanan keliling kota. Dan saatnya bagiku untuk menangkap pemandangan mengesankan melalui bangku belakang. Yups, aku berpindah posisi duduk.

Setelah kemarin aku menikmati keindahan kota dengan seharian berjalan kaki. Kini mataku akan disuguhkan scene cepat pemandangan Terengganu. Baiklah, mari kusuguhkan pemandangan itu:

TD 1303 perusahaan penyewaan virtual office di Jalan Sultan Zainal Abidin.
Pemeriksaan dokumen kendaraan oleh Jabatan Pengangkutan Jalan (JPJ)/ Departemen Transportasi Jalan Malaysia di Jalan Persinggahan.
Menyusuri tepian pantai di sepanjang Jalan Persinggahan.
Persimpangan tiga jalan, yaitu Jalan Kelab Kerajaan, Jalan Pantai Batu Burok dan Jalan Persinggahan
Kuala Terengganu Hockey Stadium di Jalan Kelab Kerajaan.

Seharusnya aku bersiap diri usai melintas Kuala Terengganu Hockey Stadium karena Pantai Batu Burok berada di sekitar area itu. Tetapi aku masih saja menikmati pemandangan di atas laju Bas KITē karena aku sudah berpesan pada pengemudi untuk menurunkanku di Pantai Batu Burok.

Beberapa menit kemudian aku merasa janggal karena Bas KITē tak lagi berada di sekitar pantai. “Sepertinya pengemudi melupakan pesanku”, aku menyimpulkan.

Benar adanya, tetiba Bas KITē telah merapat di sebuah masjid apung. Aku tahu masjid itu, tak lain lagi itulah Masjid Tengku Tengah Zaharah. “Aku terlewat, aku harus turun di sini”, aku akhirnya memutuskan.

Nasi telah menjadi bubur, aku melewatkan satu destinasi penting. Terbatasnya waktu eksplorasi, kini aku berfokus menikmati keindahan Masjid Tengku Tengah Zaharah saja.

Aku pun mulai melarutkan diri ke dalam keindahan arsitektur masjid unik itu, satu jam lamanya aku menikmati keagungannya hingga aku menyadari sesuatu. “Sepertinya itu suara debur ombak”, aku segera keluar masjid dan mendekati arah suara.

Melangkah menerobos hutan Rhu*1), aku tiba di tepian pantai. “Great….Tuhan memberiku kesempatan lain untuk menikmati pantai di Terengganu”. Ini memang bukan Pantai Batu Burok, tetapi pantai di timur Masjid Tengku Tengah Zaharah ini terlihat lebih alami tanpa unsur sentuhan manusia.

Berbeda dengan Pantai batu Burok yang sejatinya telah terselip aroma bisnis. Berbagai kegiatan pengunjung seperti bermain layang-layang, berkuda, berkendara ATV ataupun berdirinya berbagai kedai-kedai kuliner yang menjual es krim goreng, nasi dagang ataupun menu andalan Terengganu seperti keropok lekor menjadi sesuatu yang sedikit mengurangi kealamian bentangan pantai itu. Pantai Batu Burok memang menjadi destinasi pilihan warga Terengganu saat libur akhir pekan tiba, bahkan tak sedikit warga dari luar Terengganu hadir di tempat itu sekedar untuk bersantai.

Tak khayal pantai paling bersih di Terengganu itu dikelola dengan serius oleh pemerintah kota. Bagi kamu penggemar kuliner, datanglah setiap Jum’at sore untuk menikmati pembukaan kedai-kedai kuliner lokal di pantai itu.

Tapi aku telah melupakan hingar bingar Pantai Batu Burok, di depanku kini terbentang sebuah pantai, letak persisnya adalah di sebelah selatan Pantai Batu Burok. Sebuah pantai nan tenang tanpa pengunjung. Begitu indahnya hamparan air laut berwarna biru kehijauan berpadu dengan bentangan pasir putih dengan batas pokok-pokok Rhu yang tinggi menghijau.

Keren kan?
Duduk dan tenang sejenak.

Sejenak aku akan menikmati sepoi-sepoi angin Laut China Selatan dengan duduk diatas dahan Rhu yang roboh….Terimakasih Tuhan, Engkau telah memberikan gantinya…..

Keterangan kata:

Rhu*1) : Pohon cemara laut atau pepohonan casuarina

Kisah Selanjutnya—->

BAS KITē ….Bus Kota Andalan Kuala Terengganu

<—-Kisah Sebelumnya

Usai mencuci celana jeans, t-shirt dan kaos kaki, aku pun berbasuh. Membuat badan segar dan mengusir lusuh. “Masih terlalu dini untuk tidur, lebih baik aku nongkrong di shared-kitchen saja untuk mengisi botol-botol air minumku yang mulai surut”, ideku tetiba muncul.

Mulai turunlah aku ke lantai dua dimana meja resepsionis dan shared-kitchen berada. Sesampainya di sana, tampak keberadaan Mr. Okamoto yang perlahan menyeduh kopi.

Where was you going today, Mr. Okamoto?”, aku mendahului bertanya ketika dia melempar senyum saat aku mengucurkan air kran ke dalam botol-botol minumanku.

Hi Donny, I didn’t go everywhere today. I was tired. I decided to take a rest all day in my room”, dia terkekeh sembari menyereput kopi seduhannya sendiri.

Ohhhhh…..I think you have found a nice day today….Hahahaha. I see you are very fresh now”, aku menyegerakan duduk di hadapannya dan melanjutkan percakapan.

Entah bagaimana mulanya, Mr. Okamoto mengisahkan banyak hal malam itu….Dari kisah menawannya  budaya Okinawa, kenangan minum kopi bersama warga lokal Aceh, perilaku gadis-gadis Jepang di zaman modern, kelucuan seorang muridnya yang berasal dari Yogyakarta, serta kisah suka dukanya berprofesi menjadi guru Bahasa Inggris di ibu kota.

Sedangkan aku menimpali sedikit cerita mengenai petualanganku mengunjungi Jepang tiga tahun silam, menjelajah Terengganu di hari pertama tadi siang hingga  rencanaku menjelajah Timur Tengah beberapa hari dihadapan.

Keistimewan dari percakapan itu adalah teraciknya secangkir kopi oleh Mr. Okamoto untukku.

Beuh….Kopi Arabica itu masih terbayang nikmatinya hingga kini.

—-****—-

Senin pagi itu, aku sengaja bangun sedikit siang. Usai Shalat Subuh, aku kembali tidur dan baru bangun tepat pukul sembilan pagi. Usai berbasuh, aku bersarapan dengan menyesap bubuk oat yang kubawa dari rumah, kusajikan serbuk itu dalam tuangan air panas dan mencampurnya dengan sesendok gula pasir yang ada di dapur penginapan.

Dua puluh menit kemudian aku rampung bersarapan, aku mulai beranjak turun ke lantai satu dan bersiap melanjutkan eksplorasi. Melihat langit, sepertinya hari keduaku di Kuala Terengganu akan sepanas kemarin. Aku melangkah melewati Jalan Engku Pengiran Anom 2 untuk menggapai Jalan Air Jernih yang apabila ditarik lurus ke utara akan mengantarkanku kepada Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.

Terminal bus itu masih saja menjadi sekutuku dalam membedah keindahan Kuala Terengganu. Setidaknya aku sudah tahu harus kemana saja di sepanjang Senin itu.

Oh ya, kembali pada kisah sehari sebelumnya, setiba di terminal bus setelah diantar oleh myBAS dari Bandar Udara Sultan Mahmud, aku meluangkan waktu sekejap untuk merapat ke hentian BAS KITē. Aku sengaja mendokumentasikan rute bus kota andalan warga Kuala Terengganu itu. Keberadaan BAS KITē sendiri sudah kupantau dari Jakarta dua bulan sebelum keberangkatan.

Aku aja naik BAS KITē….Masak kamu engga?
Icip-icip BAS KITē lah….
Inilah rute pertama yang kunaiki.
Kagak naik di rute ini guwe mah….
Nah, Laluan C02 adalah rute terakhir yang kunaiki.

Nah, kalau kamu ke Kuala Terengganu dan ingin menghemat ongkos dalam mengeksplorasi kotanya, maka BAS KITē adalah solusi terbaik. Lha daripada naik taksi kemana-mana….Kan mahal….Ya toh.

Yuk kita intip apa itu BAS KITē?

Menurut hasil percakapanku dengan pengemudi BAS KITē ketika menuju Masjid Kristal, jumlah bus ini hanya ada lima unit di Kuala Terengganu, pengemudinya pun hanya lima orang. Tetapi pada papan rute yang berhasil aku foto, BAS KITē ternyata hanya memiliki empat rute….Hhmmmhh, mungkin satu unitnya berupa bus cadangan….Ah, aku mana tahu, lagian ngapain guwe pikirin yak.

Keunikan bus kota ini terletak pada desainnya. Jika dilihat dari luar maka badan bus kota ini menyerupai arsitektur rumah khas Terengganu. Kaca bus didesain bak jendela lengkung, sedangkan atap bus diberikan sentuhan lisplang berukiran khas. Sedangkan di bagian dalam bus, tempat duduk serta area pembatas antara pengemudi dan penumpang di dominasi oleh kombinasi bahan besi dan kayu penuh ukiran khas Terengganu….Ciamik deh pokoknya.

Bus kota berkapasitas 36 penumpang ini, usaha operasionalnya dimiliki oleh Cas Ligas SDN. BHD yang kantornya berada di Menara PERMINT, menara yang setiap hari berkali-kali aku lewati. Cas Ligas SDN. BHD sendiri adalah bisnis pengangkutan darat dan air di Kuala Terengganu. Kalau di Jakarta mungkin semacam PPD kali yak…..

Untuk bisa menaiki bus kota ini menuju berbagai destinasi wisata maka kamu harus mempersiapkan ongkos berkisar antara 1 hingga 5 Ringgit tergantung dengan jarak. Murah kan?…..

Bus kota yang berangkat paling pagi adalah BAS KITē jurusan Kuala Nerus (arah bandara tetapi tak mampir di bandara, jika kamu ingin menuju ke bandara gunakan saja jasa myBAS). BAS KITē jurusan ini berangkat tepat pukul setengah delapan pagi dan berangkat dengan interval waktu 1,5 sebelum tengah hari dan kemudian berangkat dalam interval 2 jam sekali ketika sudah lewat tengah hari. Bus terakhir berangkat jam setengah lima sore dari Hentian Bas Majlis Bandara Kuala Terengganu.

Sedangkan bus kota yang berangkatnya paling siang adalah BAS KITē jurusan Masjid Kristal. BAS KITē jurusan ini berangkat pertama kali pukul 9:30 pagi dan hanya menyediakan empat trip dalam sehari. Trip terakhir berangkat pukul lima sore dari Hentian Bas Majlis Bandara Kuala Terengganu.

Murah tapi terbatas……Tenang bisa di siasati kok.

Dengang jarak rerata dua jam untuk setiap keberangkatan maka setidaknya aku bisa mengunjungi minimal tiga destinasi dalam rute yang berbeda. “Nikmati saja, ga usah buru-buru…….”, begitulah fikirku menyikapi keterbatasan itu.

Supaya suasana hati tetap happy….Ya, kan?

Kisah Selanjutnya—->