SriLankan Airlines UL 166 dari Kochi (COK) ke Colombo (CMB): Mampir Lagi

Rute penerbangan SriLankan Airlines UL 166 (sumber: flightaware)

Lewat beberapa menit dari pukul sembilan pagi, aku mulai memasuki kabin pesawat Airbus berjenis A330-300 dari gate 4. Penerbanganku baru saja dipindahkan oleh otoritas bandara dari gate 1 yang awalnya direncanakan.

Di pintu pesawat aku disapa oleh barisan pramugari berbusana sari warna hijau dengan motif bulu merak yang merupakan seragam khas awak kabin Srilankan Airlines, flight carrier milik “Negara Permata Samudera Hindia”.

Begitu memasuki kabin, aku segera menelusuri cabin aisle untuk mencari keberadaan bangku bernomor 50G. Ternyata aku menemukannya di deretan bangku kolom tengah yang sejejar dengan emergency exit. Hal ini tentu menjadi sebuah keuntungan tersendiri karena aku akan mendapatkan ruang duduk yang cukup lega untuk menyelonjorkan kaki. Hanya satu kekurangannya, yaitu aku tidak akan mendapatkan fasilitas LCD screen untuk menonton film sepanjang penerbangan….Impas berarti….Hihihi.

Penerbangan ini akan menempuh jarak tak kurang dari lima ratus kilometer dengan waktu tempuh berkisar satu jam. Penerbangan ini sendiri akan menuju mainhub dari SriLankan Airlines yaitu Bandaranaike International Airport yang terletak di kota Colombo, ibu kota Sri Lanka.

Penerbangan ini adalah penerbangan keduaku bersama SriLankan Airlines dimana penerbangan pertama pernah kulakukan bersamanya ketika melakukan perjalanan udara dari Colombo (CMB) ke Male (MLE) pada awal tahun 2019 menggunakan penerbangan bernomor UL 103.

Pagi itu, entah kenapa ketika pesawat sedang berproses taxiing dan take-off, aku mendengar suara berisik di bagian bawah pesawat, suara yang tak seperti biasanya membuatku sedikit khawatir. Tetapi yang namanya penerbangan, tak bisa yang banyak dilakukan, ketika sudah mengudara makan langkah terbaik adalah berdo’a dan menyerahkan segalanya kepada Allah.

Dan Alhamdulillah penerbangan kali ini ternyata berjalan dengan sangat mulus dan lancar.

—-****—-

Aku sendiri mendapatkan tiket penerbangan ini di kantor perwakilan SriLankan Airlines yang berlokasi di bilangan Jalan HR Said, tepatnya di Menara Kuningan. Aku terpaksa berburu tiket ke menara tersebut disebabkan tak kunjung berhassilnya aku ketika mengeksekusi proses terakhir pemesanan online di payment gate pada laman SriLankan Airlines. Mau tidak mau, untuk segera mengamankan tiket murah tersebut, aku harus rela memburunya di kantor perwakilan SriLankan Airlines. Harga tiketnya sendiri aku tebus dengan harga Rp. 1.300.000 untuk dua kali penerbangan, yaitu penerbangan dari Kochi ke Colombo lalu dilanjutkan dengan penerbangan dari Colombo ke Dubai.

Seorang ticketing staff keturunan Arab pun sempat heran kenapa aku membeli connecting flight dari Kochi ke Dubai. Dia bahkan mengingatkanku bahwa resiko refund atas pembatalan tidak bisa dilakukan karena penerbangan ini bukan berasal dari Jakarta.

Aku hanya menegaskan bahwa aku bersiap atas resiko apapun jika gagal terbang karena memang aku terbiasa mengambil resiko demikian untuk sebuah tiket murah.

Akhirnya di akhir pembicaraan malah aku yang banyak bercerita kepadanya tentang berbagai fragmen cerita petualanganku yang menurutnya seru untuk didengarkan.

—-****—-

Hanya ada sebuah kejadian lucu dari penerbangan ini yang masih teringat hingga kiki. Yaitu ketika seorang bocah perempuan nan lucu berparas Asia Selatan tiba-tiba berlari menuju pintu darurat pesawat yang sedang mengudara dan berusaha meraih handle pintu itu. Mungkin dia tertarik dengan warnanya yang menyala. Beruntung si mbak pramugari dengan sigap menangkap dan memeluk anak itu lalu menyerahka ke mama papanya yang duduk tepat di belakangku.

Boarding time.
Yuk mencari bangku!.
Di sinilah tempatku duduk.
Uhhhh….Leganya….
Pintu darurat di sisi kananku.
Cruising phase saat mengudara.
Alhamdulillah, akhirnya mendarat juga di Colombo.

Di dalam pesawat aku sendiri tidak merasa nervous sama sekali, juga sama sekali tak risau memikirkan bagaimana nanti mendarat di Bandaranaike International Airport. Semua perasaan itu bisa dengan mudah aku kuasai karena aku sendiri sudah pernah tidur di bandara tersebut seusai mendarat dari Mumbai pada awal tahun 2019. Pada waktu itu, aku berkesempatan mengeksplorasi Sri Lanka.

Menjelang tengah hari, sang pilot memberikan pengumuman untuk bersiap melakukan pendaratan di Colombo. Serentak setiap awak kabin mulai melakukan inspeksi supaya semua penumpang bersiap diri sesuai dengan prosedur pendaratan. Setelah semua dirasa aman, maka pesawat mulai menurunkan elevasi dan menyentuh runway Bandaranaike International Airport.

Aku sampai di Colombo, dan telah melakukan setengah perjalanan menuju Dubai.

Hatiku terasa girang sekali siang itu

Airport Bus from Bandaranaike International Airport to Colombo Central Bus Stand

My arrival in Colombo, Sri Lanka began with a strange toilet activity. Airport cleaning service-man greeted me, “Indonesia?”, He pressed a flush button on my urinal and gave three sheets of tissue in front of bathroom sink and finally at the toilet door he asked me some money for eat. I didn’t have Sri Lankan Rupee (LKR) that morning because I hadn’t exchanged my USD to local money. I apologized and left him.

There wasn’t problem when passing the immigration counter because I have an e-Visa, a return ticket to exit from Sri Lanka and a dormitory reservation voucher.

I immediately exchanged my USD … I got a little problem. The money changer staff said that I must exchanged minimum USD 100/transaction. I didn’t gave up for asking one by one to all money changer, and finally I could exchange just USD 50 at the Sampath Bank’s money changer.

Left: Sampath Bank money changer at Bandaranaike International Airport.

Right: Sri Lanka Telecom’s Kiosk Mobitel

I was actually little crazy, that local money that I got from money changer would still remaining about USD 25 at the end of my adventure in Colombo. I exchanged the remaining LKR to USD at the money changer in downtown.

With LKR 8,830, my first spending was the 4 GB SimCard Mobitel from Sri Lanka Telecom for LKR 960.

After waiting almost 2 hours until bright morning, I decided to head to downtown. I left the arrival hall to catch the first airport bus. Coming out along the corridor, I was a little nervous in my loneliness, but I just said to myself “hi man, you have arrived … so if you want to do more, you must explore”.

My muttering was stopped when I faced an airport guard soldier and I asked to him where the airport bus shelter was. Actually, I already knew the answer, surely I have to turned left from the exit door and the bus was at the end of the corridor. Yes… True, He said like that. (I knew because I have been googling before came to Colombo, so I asked only for affirmations). So I walked to the left of exit door.

Yess, I was at the end of corridor….but, “where is the bus?”. There are lots of Toyota Hiace parked. Someone approached me. “Where are you going, sir” … I said I wanted to go to Galle Face Beach (My hostel is near there). In essence, he said there wasn’t airport bus here and he offered services for 6,000 Rupees to Galle Face with His Toyota Hiace. Well, surely I couldn’t afford to pay it. I said that I was a backpacker and didn’t have much money. I just asked him for helping me to showed where was the location of airport bus shelter … He was so kind and finally told me … actually, the bus was at the right of exit door.

Top left: Sign to airportbus shelter. Top right: Airport bus shelter

Bottom right: Airport bus ticket for LKR 150.

Lower Left: Situation of airport bus inside

I immediately got in bus. 15 minutes later the bus left the airport. My eyes couldn’t close because I was stunned by the view of Colombo’s morning street. Then the bus pushed onto highway, the morning sun warmly penetrated the bus windows, Keeping me from cold temperature of the bus. The medium-sized bus drove slowly and showing off the originality of Colombo … Ahhh, I couldn’t wait to get to downtown.

40 minutes later, the bus arrived at Colombo Central Bus Stand. I didn’t want to linger in this central terminal. If I was long here, it means that I would be surrounded by taxi and tuk-tuk drivers. Got information from Sri Lanka tourism site. As soon as I got off the bus, I immediately avoided their intention to gathering around me. I just said: “I’m sorry, I’m looking for bus no 100”. I crossed the arterial road in front of the terminal then turned right around 500 meters. And sure enough, I saw the bus. Running to catch it and hupp … I jumped through the back door

Left Top: City bus no. 100 to Galle Face. Top Right: Bus inside

Bottom Right: The closest bus stop from Hostel at Galle Face

Lower Left: Arterial road situation around Colombo Central Bus Stand

I began to feel strange, my southeast asia face was surrounded by their south asia face. Crammed standing into Colombo bus wasn’t different with Kopaja (name of Jakarta’s city bus). It only took 14 minutes to arrive at Galle Face and then walked 200 meters from the bus stop, I found my hostel.

Okay … I would bring you to see Colombo… let’s go!

Airport Bus dari Bandaranaike International Airport ke Colombo Central Bus Stand

Kedatanganku di Colombo, Sri Lanka dimulai dengan aktivitas toilet yang aneh. Penjaga toilet itu menyapaku “Indonesii?”, memencetkan tombol flush di urinoirku dan memberikan tiga lembar tissue di depan wastafel dan akhirnya di pintu toilet Dia memintaiku uang untuk makan katanya. Aku tak punya Sri Lankan Rupee (LKR) pagi itu karena Aku belum menukar USD. Aku mohon maaf dan meninggalkannya.

Tak ada masalah berarti melewati konter imigrasi karena Aku memiliki e-Visa, tiket keluar Sri Lanka dan reservasi dormitory.

Aku segera menukarkan USD….sedikit masalah. Kata staff money changer minimal penukaran 100 USD. Tak menyerah menanyakan satu persatu money changer, sampai akhirnya Aku bisa menukarkan 50 USD di money changer milik Sampath Bank .

Kiri: Sampath Bank money changer di Bandaranaike International Airport.

Kanan: Kios Mobitel milik Sri Lanka Telecom

Aku memang sedikit gila, uang segitu nanti masih akan bersisa 25 USD di akhir petualanganku di Colombo. Aku menukar kembali sisa LKR ke USD di money changer di tengah kota.

Berbekal 8.830 LKR, spending pertamaku adalah SimCard Mobitel 4 GB keluaran Sri Lanka Telecom seharga 960 LKR.

Setelah menunggu hampir 2 jam hingga pagi menjelang terang, kuputuskan menuju pusat kota. Aku meninggalkan arrival hall untuk menangkap airport bus pertama. Keluar menyusuri koridor , Aku sedikit nervous dalam kesendirianku, tapi Aku cuma berujar di hati “hi man, Kamu sudah sampai….so mau ngapain lagi kalau ga explore”.

Gumamku terhenti ketika Aku menghadap ke seorang tentara penjaga bandara dan menanyakan letak airport bus shelter. Aku sudah tau jawabannya, pasti suruh belok kiri dari pintu keluar dan bus ada di ujung. Tuh….bener kan doi ngomong begitu. (Aku tahu karena pernah googling, Aku menanya hanya untuk afirmasi). Aku makin PeDe melangkah ke kiri dari pintu keluar.

Yess, sudah diujung nih….bus mana bus ?, kok banyak Toyota Hiace diparkiran. Seseorang menghampiriku. “Where are you going, Sir”…..Kubilang mau ke Pantai Galle Face (Hostelku dekat situ gaes). Intinya dia bilang disini tak ada airport bus dan dia menawarkan jasa seharga 6.000 Rupee menuju Galle Face dengan Hiace nya. Yah pastilah Aku gak mampu bayar….yeeee. Kubilang baik-baik bahwa Aku backpacker dan tak punya uang sebanyak itu.  Aku hanya minta tolong untuk diberitahu dimana letak airpot bus shelter….doi luluh dan akhirnya memberitahuku….ternyata bus itu ada di sebelah kanan pintu keluar #tepokjidatnih

Kiri atas : Sign menuju airportbus shelter . Kanan atas : Airport bus shelter

Kanan bawah: Tiket airport bus seharga 150 LKR.

Kiri Bawah: Suasana di dalam airport bus

Tak menunggu lama, Aku segera naik. 15 menit kemudian bus meninggalkan airport. Mataku tak bisa terpejam karena tertegun menikmati pemandangan jalanan pagi Colombo. Bus kemudian merangsek ke jalan tol, matahari pagi menembus kaca bus dengan hangat, membantuku menahan dinginnya AC bus. Bus berukuran sedang itu melaju pelan seakan memamerkan orisinalitas kota Colombo….Ahhh, Aku tak sabar sampai di tengah kota.

40 menit kemudian, bus mulai masuk ke Colombo Central Bus Stand. Aku tak mau berlama-lama di terminal sentral ini. Kelamaan disini berarti harus siap dikerubuti taxi-er dan tuk tuk-er. Berbekal informasi dari situs pariwisata Srilanka. Begitu turun bus, Aku langsung menghindar dari niat mereka mengerumuniku. Ku bilang aja: ” I’m sorry, I am looking for bus no 100”. Aku menyeberangi jalan arteri di depan terminal lalu belok ke kanan sekitar 500 meter. Dan benar saja, Aku melihatnya. Berlari kecil mengejarnya dan hupp….aku lompat lewat pintu belakang

Kiri Atas :City bus no 100 ke Galle Face. Kanan Atas: Suasanan dalam bus

Kanan Bawah: Halte bus terdekat dari Hostel at Galle Face

Kiri Bawah: Suasana di jalan arteri sekitar Colombo Central Bus Stand

Aku mulai merasa asing, wajah Asia Tenggara berada dikerumunan wajah Asia Selatan. Berdiri berdesakan didalam bus yang tak jauh beda dengan Kopaja Ibu Kota. Hanya butuh 14 menit untuk sampai di Galle Face dan berjalan sejauh 200 meter dari halte bus, Aku menemukan hostelku

Okay…..Akan kuajak Kamu melihat Sri Lanka…yukkks gaes!